BAB IV DISKUSI HASIL KUNJUNGAN RUMAH
4.3 Analisis Kebutuhan Pasien
1. Kecukupan gizi
Menurut pengakuan pasien, biasanya pasien makan dua hingga tiga kali dalam sehari sehingga nutrisi harian pasien dapat tercukupi dengan baik. Sebelum kondisi pasien drop seperti sekarang dikatakan bahwa biasanya makanan disiapkan oleh pasien sendiri. Sekarang ini suami pasien yang menyiapkan makanan dan terkadang dapat membeli makanan di luar, dengan menu nasi dan lauk pauk seperti tempe, tahu, sayuran dan terkadang mengonsumsi daging kambing, ikan atau ayam. Pasien mengatakan juga mengonsumsi buah-buahan yang cukup sering. Dari data nutrisi harian pasien, dapat diketahui bahwa asupan harian pasien mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan juga mineral. KIE diberikan kepada pasien dan keluarganya untuk menjaga variasi dan jumlah porsi makanan setiap harinya serta membatasi konsumsi garam yang berlebihan. Hal ini bertujuan untuk menjaga kebutuhan harian, stamina dan daya tahan tubuh pasien.
Tabel 4.1 Nutrisi Harian Pasien
Jenis Jumlah Jadwal/hari Jadwal/minggu
Karbohidrat makan pasien tidak selalu sama, namun dapat dibuat gambaran umum menu untuk masing-masing jadwal makan sebagai berikut:
Sarapan : nasi, daging ayam, tempe/tahu atau telur, sayur
Makan siang : nasi dan daging ayam, sayur
Makan malam : nasi, daging ayam atau ikan laut, sayur
Pasien sesekali makan sepotong roti dan buah diantara waktu makan besar.
Buah yang sering dikonsumsi pasien adalah pisang dan pepaya.
Analisis Kebutuhan Kalori
Kebutuhan kalori pasien dapat dihitung dengan menggunakan rumus Brocca dengan pertama-tama menentukan berat badan ideal (BBI).
BBI = ((TB – 100) – 10%) x 1 kg
= ((165 – 100) – 10%) x 1 kg
= 58,5 kg
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan, berat badan pasien saat ini adalah 48 kg dengan BMI = 17,8 kg/m2, atau dengan kata lain 82% dari BBI, pasien termasuk kategori underweight. Selanjutnya dilakukan penghitungan kebutuhan kalori basal dengan Rumus Harris Benedict dan penyesuaian terhadap kebutuhan kalori pasien sesuai kondisi pasien.
1. Kebutuhan kalori basal (jenis kelamin Perempuan)
= 65,5 + (9,6 BB) + (1,8 TB) – (4,7 U)
Untuk memudahkan perhitungan maka dipakai kebutuhan kalori penderita adalah 1300 kalori/hari.
Distribusi Makanan
Jumlah kalori per hari pasien ini dibagi dalam 3 porsi makan utama dan 2 porsi makanan selingan, yaitu:
Tabel 4.2 Distribusi Makanan Berdasarkan Komponen Makanan Waktu Makan Siang 390 kalori 195 kalori 78 kalori 117 kalori Makan Malam 325 kalori 162,5 kalori 65 kalori 97,5 kalori Selingan 1 195 kalori
Selingan 2 130 kalori
Pemilihan Jenis Makanan
Dengan penghitungan tersebut maka dicoba untuk memberikan suatu pola jadwal yang mencakup pilihan jenis makanan dan jumlah makanan.
Berdasarkan data dari bagian gizi RSUP Sanglah maka penulis mencoba menyusun pola makanan yang sudah diubah ke dalam bentuk ukuran yang dapat dimengerti oleh pasien. Pemilihan jenis makanan pun disesuaikan dengan makanan yang tersedia dan terjangkau bagi pasien.
Tabel 4.3 Pemilihan Jenis Makanan Waktu
Makan Karbohidrat Protein Lemak
Makan Pagi Nasi putih 1 ¼
Selingan 2 Roti manis 2 potong
Pepaya 2 potong sedang, Pisang 2 biji Makan
Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga. Namun sebelumnya, pasien dikatakan bekerja sebagai seorang guru di sekolah Muhammadyah di Lombok Tengah. Setelah sakit pasien sudah tidak dapat membantu suaminya untuk menambah penghasilan dan hanya tinggal di rumah.
Aktivitas yang biasa dilakukan di rumah adalah menyapu, memasak dan terkadang membersihkan kamar mandi. Tetapi hal tersebut untuk sekarang tidak dilakukan oleh pasien karena kondisi pasien yang masih dalam pemulihan. Aktivitas di luar rumahpun sekarang tidak dilakukan oleh pasien. Padahal sebelumnya dikatakan, pasien cukup aktif mengikuti berbagai kegiatan.
3. Akses ke tempat pelayanan kesehatan
Rumah pasien yang berada di Lombok Tengah membuat pasien untuk mencari rumah kost sebagai tempat tinggal sementara dalam periode
pengobatan penyakit ini. Jarak dari rumah kost pasien ke RSUP Sanglah kurang lebih 1 km. Jadi, apabila pasien merasakan keluhan dapat dengan mudah menuju ke Rumah Sakit. Transportasi yang biasa digunakan pasien untuk menuju tempat pelayanan kesehatan adalah berjalan kaki atau sewa motor.
4. Lingkungan
Pasien tinggal di rumah kost bersama suaminya, di Jalan Nusa Penida No.1 Denpasar. Di rumah kostan tersebut terdapat 20 kamar kost dan orang-orang yang tinggal disana kebanyakan adalah oran-orang yang sedang dalam pengobatan. Kamar kost pasien terletak di bagian tengah dari keseluruhan area lingkungan tempat tinggal yakni kamar no 11.
Pasien tinggal bersama dengan suami, dan pasien belum memiliki seorang anak setelah menikah kurang lebih 5 tahun yang lalu. Terdapat kursi di depan kamar kost pasien yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan berkumpul dengan orang-orang dalam kostan tersebut. Akses ke kost pasien cukup mudah dengan pemukiman sekitar yang padat. Secara keseluruhan lingkungan di rumah pasien terlihat cukup bersih. Kamar tidur pasien kira-kira berukuran 6 x7 m2. Kamar tidur terlihat tidak tertata dengan baik. Terlihat baju-baju yang menumpuk di sudut ruangan dan menggantung di belakang pintu. Penerangan kamar kurang baik namun cahaya matahari dapat masuk saat pagi dan siang hari karena jendela dan ventilasi yang cukup. Rumah kost pasien ini beratapkan genteng dengan tembok batako semen yang diplester dan dicat. Plafon terbuat dari triplek kayu dan lantai dilapisi keramik. Di dalam kamar kost terdapat dapur dan kamar mandi. Dinding dan lantai kamar mandi terbuat dari keramik dan cat. Kamar mandi tersebut terdiri dari satu kloset duduk yang tampak kurang bersih, satu buah bak yang rutin dikuras dan saluran pembuangan limbah yang lancar. Pasien menggunakan sumber air PDAM untuk mandi, mencuci baju, air minum dan keperluan memasak. Warga di sekitar rumah kost cukup ramah dan hubungan pasien dengan tetangga dikatakan baik.
4.3.2 Kebutuhan bio-psikosoial 1. Lingkungan biologis
Dalam lingkungan biologis/ keluarga pasien, tidak terdapat anggota keluarga yang memiliki penyakit yang sama dengan pasien. Kekebalan tubuh pasien sangat penting untuk mencegah timbulnya penyakit penyerta pada pasien seperti infeksi yang dapat memperburuk kondisi pasien.
Lingkungan tempat tinggal yang padat penduduk dan selokan yang tersumbat dapat menjadi sarang nyamuk dan lalat. Nyamuk dan lalat dapat menjadi vektor dari virus maupun bakteri penyebab infeksi yang dapat memperburuk kondisi pasien apabila kekebalan tubuh pasien menurun.
Akan tetapi pada lingkungan pasien sendiri sangat jauh dari kriteria tersebut, menurut pasien warga masyarakat setempat rutin melakukan pencegahan penyakit menular seperti program 3M dan sanitasi lingkungan lainnya.
Kondisi rumah kost pasien terutama pada ruang tamu dan kamar tidur cukup mendukung untuk menjaga kesehatan pasien karena cukup rapi, bersih, dan sirkulasi udara baik. Ventilasi yang berukuran sedang dan jendela yang sering dibuka ketika pasien berada di rumah menyebabkan sirkulasi udara lancar dimana mengurangi risiko penyebaran penyakit menular seperti infeksi saluran pernafasan.
2. Faktor psikososial
Oleh karena penyakit AML ini merupakan penyakit yang tepat secara perlahan akan menyerang organ vital, gejalanya hilang dan timbul dalam waktu lama maka harus diupayakan agar pasien dapat hidup bahagia dengan penyakitnya dengan cara tidak putus asa dalam menghadapi penyakitnya ini dan tidak putus dalam pengobatan. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan dukungan penuh dari keluarga. Keluarga pasien tampaknya termasuk keluarga yang harmonis sehingga pasien tidak memiliki masalah dalam hal emosi. Pasien memperoleh cukup kasih sayang dan perhatian, dimana interaksi pasien dengan anggota keluarga yang lain sangat baik. Pasien saat ini sudah tidak bekerja. Secara umum, pasien menyatakan tidak terdapat masalah atau hambatan sosial antara
dirinya dan lingkungannya. Pasien juga menyatakan cukup mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitar seperti tetangga di sekitar tempat tinggalnya.