2014 I Data Sanitasi On Site
6.4.3.3 Analisis Kebutuhan Pengembangan Drainase
a. Analisa kebutuhan drainase
Melihat permasalahan banjir yang selama ini terjadi di Kota Jayapura, hal itu menunjukkan bahwa tingkat kebutuhan prasarana drainase tersebut masih jauh dari kebutuhan, namun diakui bahwa untuk membebaskan sama sekali dari banjir yang memang kondisi geografinya, khususnya di kawasan perkotaan tentu memerlukan biaya yang sangat mahal. Oleh karena itu untuk menjaga keseimbangan antara
kebutuhan dan kemampuan Pemerintah Daerah dalam membiayai pembangunan drainase, perlu dilakukan sistem prioritas berdasarkan fungsi kawasan/daerah banjir tersebut sekaligus membuat skenario yang sesuai.
Tabel 6.10 Analisis Kebutuhan Pengembangan Drainase Kota Jayapura Distrik Jayapura NO JARINGAN DRAINASE Panjang Drainase (M) Volume (M2) Kebutuhan Ruang (Ha) 1 Drainase Sekunder 4,500 0.275 0.125 2 Drainase Tersiaer 7,000 0.1125 0.079 Jumlah 11,550 0.204
Distrik Jayapura Barat
NO JARINGAN DRAINASE Panjang Drainase (M) Volume (M2) Kebutuhan Ruang (Ha) 1 Drainase Sekunder 4,500 0.275 0.131 2 Drainase Tersiaer 7,000 0.1125 0.079 Jumlah 11,550 0.209 Distrik Wanggar NO JARINGAN DRAINASE Panjang Drainase (M) Volume (M2) Kebutuhan Ruang (Ha) 1 Drainase Sekunder 3,150 0.275 0.087 2 Drainase Tersiaer 7,000 0.1125 0.079 Jumlah 10,150 0.165
Distrik Teluk Kimi
NO JARINGAN DRAINASE Panjang Drainase (M) Volume (M2) Kebutuhan Ruang (Ha) 1 Drainase Sekunder 2,350 0.275 0.065 2 Drainase Tersiaer 7,000 0.1125 0.079 Jumlah 9,350 0.143
Sumber: Hasil Olahan Data Distarkim Kota. Jayapura, Tahun 2013
b. Analisa sistem drainase
Pertumbuhan penduduk dan pembangunan yang begitu cepat telah menyebabkan perubahan tata guna lahan. Banyak lahan yang semula berupa lahan terbuka atau hutan berubah menjadi areal permukiman maupun industri. Hal ini tidak hanya terjadi di kawasan perkotaan namun sudah merambah ke kawasan budidaya dan kawasan lindung yang berfungsi sebagai daerah resapan air. Dampak dari perubahan fungsi
lahan tersebut adalah meningkatnya aliran tanah. Akibatnya setelah distribusi air yang makin timpang antara musim hujan dan musim kemarau, debit banjir meningkat dan ancaman kekeringan semakin besar.
Bertolak dari permasalahan tersebut diatas, maka konsep dasar pengembangan drainase berkelanjutan meningkatkan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki dan konservasi lingkungan. Diperlukan usaha-usaha komprehensif dan integratif yang meliputi seluruh proses, baik yang bersifat struktural maupun non struktural. Analisis sistem drainase di wilayah Kota Jayapura dilakukan dengan menganalisis sistem pola pengaliran dan buangan air yang terdapat khususnya di Kawasan Perkotaan Kota Jayapura agar tidak terjadi banjir atau genangan. Selain itu, juga dilakukan analisis terhadap karakteristik
sistem jaringan drainase yanga ada, dimana selain berfungsi untuk mengalirkan air hujan juga dapat digunakan untuk mengalirkan air buangan yang bersumber dari buangan rumah tangga, sumber buangan dari fasilitas sosial dan ekonomi, serta sumber air buangan lainnya. Sebab kondisi saluran drainase yang ada saat ini di wilayah Kota Jayapura pada umumnya masih belum berfungsi optimal, sehingga diperlukan pelayanan sistem jaringan drainase yang terhirarki dan terpadu.
Selain itu, saluran drainase berfungsi juga sebagai utilitas untuk menyalurkan air hujan serta untuk menanggulangi daerah/kawasan rawan banjir atau air yang terakumulasi dalam wilayah perkotaan/kawasan perencanaan. Selain fungsi tersebut, saluran pembuangan diperuntukkan sebagai saluran/jaringan pembuangan limbah rumah tangga. Dalam perencanaan saluran drainase yang perlu dipertimbangkan adalah adanya pemisahan saluran air hujan dengan air limbah, perletakan saluran utama, sekunder dan tersier, arah pembuangan, pemilihan saluran yang terpakai, daya serap tanah, dan topografi.
c. Analisa jaringan drainase
Agar jaringan drainase yang direncanakan dan dilaksanakan maka setiap perencanaan yang dilakukan harus bersinergi dengan jaringan drainase yang sudah ada baik tersier,
sekunder mapun primer, sehingga tidak ada satupun saluran drainase yang terputus dengan jaringan drainse lainnya. Dari hasil infestigasi yang ada sudah menunjukkan ke arah tersebut. Oleh karena itu maka master plan tentang drainase perlu lebih disempurnakan dan disosialisasikan keberdaanya bagi seluruh lapisan masyarakat. Penanganan sistem jaringan drainase yang telah ada, pada prinsipnya tidak akan dilakukan hanya dengan melihat hasil evaluasi kinerja dari kondisi eksisting jaringan drainase perkotaan Kota Jayapura, tetapi juga dengan melihat seluruh jaringan sistem yang menyesuaikan dengan program yang ditetapkan dalam rencana kota. Sebab dalam rencana kota yang telah disusun dapat dibuat rencana sistem drainase kota.Berdasarkan arahan dari rencana kota berdasarkan program penanganan sistem drainase perkotaan, maka perlu dibuat detail desain dari sistem jaringan drainase yang telah ada. Sebab, dari detail desain tersebut, maka dapat diketahui perlu tidaknya normaliasasi dari sistem jaringan yang ada, rehabilitasi jaringan atau pembersihan dan menghilangkan penyebab terjadinya penyempitan pada saluran drainase yang ada, dimana kondisi tersebut umumnya banyak terjadi di kawasan perkotaan yang padat dengan aktifitas penduduk, seperti kawasan jasa perdagangan, kawasan permukiman padat penduduk dan kawasan perkantoran. Selain itu, dengan detail desain juga akan dapat mengarahkan kemungkinan pembuatan jaringan drainase baru, dengan asumsi saluran yang telah ada sudah tidak mampu lagi menampung debit aliran air yang lewat.
d. Analisa ekonomi
Seluruh tahapan pembangunan sistem drainase, mulai dari studi dan perencanaan rinci sampai pelaksanaan fisik dan siap dioperasikan, direncanakan selesai dalam jangka waktu 4 (empat) tahun. Umur teknis bangunan diperkirakan 50 (lima puluh) tahun terhitung sejak dimulainya operasi.
Biaya pembangunan terdiri dari biaya dasar pembangunan (investasi awal), biaya operasi, pemeliharaan dan penggantian (O/M & R). Sedangkan keuntungan yang diperoleh berasal dari hilangnya kerugian banjir dengan adanya pembangunan sistem drainase.
e. Alternatif penyelesaian masalah
Alternatif penyelesaian masalah dalam penanganan sistem jaringan drainase adalah dengan mengoptimalkan kinerja saluran drainase berdasarkan klasifikasi dan dimensi
dari saluran yang ada. Untuk itu dalam penanganannya klasifikasi dan hirarki saluran harus dioptimalkan untuk dapat membuat sistem jaringan drainase yang memenuhi kriteria dari perencanaan teknis jaringan drainase yang berlaku dan sesuai dengan kebutuhan.
Pembangunan drainase berupa saluran dengan berbagai tipe pada masing-masing kawasan/areal, tergantung dari debit banjir dan luas areal kawasan. Sedang pada daerah hilir di dekat muara dipasang klep otomatis yang bertujuan untuk mengatasi masuknya air laut pada saat pasang. Sedangkan untuk mengendalikan banjir perkotaan akibat genangan air, maka perlu dilakukan pendekatan terhadap pengendalian banjir yang datang dari daerah aliran sungai dan akibat pasang surut air laut, serta pengendalian terhadap banjir lokal. Sistem penanganannya secara umum dilakukan dengan mengelola sumber banjirnya. Banjir yang bersumber dari air hujan perlu dilakukan regulasi aliran permukaan dengan pembuatan sumur resapan, waduk tunggu dan lain sebagainya. Sedangkan untuk banjir yang datang dari aliran sungai atau laut dilakukan dengan cara dihambat aliran airnya, agar tidak masuk ke wilayah yang dilindungi. Sehingga untuk alternatif penanganannya akan memerlukan analisa dan kajian teknis untuk penyelesaiannya, antara lain meliputi:
Meningkatkan kemampuan saluran drainase dengan menguatkan dinding saluran untuk mencegah terjadinya erosi oleh arus air;
Pembuatan saluran tambahan untuk mengurangi daerah tangkapan air permukaan;
Perbaikan dan normalisasi sistem drainase yang mengalami penurunan fungsi pengaliran;
Penataan kembali sistem guna lahan sebagai akibat dari perkembangan kota yang mengakibatkan meningkatnya aliran permukaan dan debit puncak banjir; Mencegah terjadinya penyempitan dan pendangkalan saluran yang dapat
menganggu kelancaran sistem jaringan drainase; dan
Menurunkan kapasitas debit air dengan membuat resapan air dan daerah simpanan di kawasan yang memiliki kemampuan menyerap air yang tinggi.
f. Rekomendasi
Penanganan sistem jaringan drainase perkotaan dapat dilakukan berdasarkan kondisi sistem drainase yang telah ada saat ini di Kota Jayapura dan rencana pengembangan
sistem jaringan drainase baru, dengan menyusun usaha-usaha perbaikan drainase melalui alternatif konsep penanganan seperti normalisasi sistem jaringan drainase yang ada akibat proses sedimentasi, dan melakukan pembersihan saluran dari tumbuhan liar. Selain itu dapat dilakukan pembenahan terhadap saluran drainase yang tidak berfungsi efektif akibat sedimentasi. Sedangkan untuk pembanguan saluran baru, maka penanganan sistem jaringan drainase perkotaan akan direncanakan dengan mengoptimalkan saluran drainase berdasarkan klasifikasi dan dimensi dari saluran yang ada. Sehingga dalam penanganannya berdasarkan klasifikasi dan hirarki saluran direncanakan dengan membuat sistem jaringan drainase yang memenuhi kriteria dari perencanaan teknis jaringan drainase.
Untuk menyelesaikan masalah banjir di Kota Jayapura maka perlu penanganan secara sinergis terutama masyarakat dan Pemerintah dengan memperhatikan segala yang terkait terutama aspek teknis dan berorientasi pembangunan berkelanjutan.