• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isu Strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan dan Tantangan

2014 I Data Sanitasi On Site

6.4.2.2 Isu Strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan dan Tantangan

a. Isu strategis pengembangan persampahan

Berikut ini isu-isu strategis pengelolaan persampahan di Kota Jayapura, antara lain:  Aspek kelembagaan:

 Organisasi belum sesuai dengan kapasitas kewenangan pelayanan yang dibutuhkan;

 Dukungan peraturan belum memadai;

 Terbatasnya SDM yang dimiliki untuk pengoperasian persampahan;

 Fungsi pengolahan masih tercampur antara pengelolaan yang berperan sebagai operator dan regulator;

 Manajemen pelayanan persampahan masih perlu ditingkatkan; dan

 Belum optimalnya pelaksanaan Peraturan Daerah yang ada dan tindakan sanksi yang tegas bagi pelanggaran.

 Aspek operasional/teknik

 Armada alat berat di lokasi TPA belum ada (excavator dan wheel loader) sementara bulldozer yang ada sudah sering rusak;

 Armada angkutan sampah masih kurang dibandingkan jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari;

 Jumlah personil Subdin Kebersihan masih sangat kurang;  Sistem operasional TPA masih open dumping;

 Sarana pengolahan sampah belum ada, untuk mengurangi volume sampah yang akan dibuang ke TPA;

 Jalan masuk kelokasi TPA masih sirtu; dan

 Sarana/prasarana operasional dibutuhkan, yaitu: garasi bulldozer/pos jaga, jalan masuk, pagar, kolam lindi, workshop, dan talud.

 Aspek pembiayaan:

 Belum optimalnya potensi pendanaan masyarakat;

 Terbatasnya dana yang dialokasikan untuk pengeloalaan persampahan; dan  Pendapatan operasi persampahan tidak dapat meliputi biaya operasi dan

pemeliharaan.

 Aspek peran serta masyarakat:

 Rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingya kebersihan;

 Bentuk partisipasi masyarakat belum optimal, terkendala pada retribusi yang rendah;

 Pembangunan di bidang persampahan yang berbasis masyarakat masih sangat terbatas; dan

 Badan usaha swasta tidak tertarik untuk investasi di bidang pengelolaan persampahan.

b. Kondisi Eksisting  Aspek Teknis

Pengolahan persampahan di Kota Jayapura umumnya masih dikelolah secara konvensional yaitu dengan cara dikumpul, timbun dan bakar. Sedangkan pada kawasan perkotaan Jayapura (ibukota kabupaten) telah melalui pengolahan melalui penyediaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS), dan pengangkutan ke Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) dengan sistem open damping. Sampah yang ada di Kota Jayapura adalah sampah domestik (sampah rumah tangga), sampah industri rumah tangga yang tidak mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3), sampah dari pusat-pusat perdagangan (pasar- pertokoan), sampah perkantoran, dan sampah yang berasal dari rumah tangga dan puskesmas. Sampah ini perlu dikelola agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.

Tabel 6.8. Data Pengelolaan Persampahan

NO URAIAN SATUAN BESARAN

2010

Data Pengumpulan Sampah

1 Jumlah Penduduk Jiwa 256.705

2 Asusmsi Produksi Sampah Lt/Org/Hr 55

3 Kapasitas Pengumpulan Sampah M3/hr 60

4 Cakupan Layanan Geografis Ha -

5 Cakupan Layanan Penduduk Jiwa 29.825

Data TPA

1 Nama TPA Nafri

2 Status TPA Milik Pemda

3 Luas TPA Ha 11

4 Kapasitas M3 -

5 Sistem (Open Dumping)

6 Jarak Ke Permukiman Terdekat Km 2

7 Jarak Ke Permukiman Terjauh Km 10

Data Transportasi Persampahan

1 Jumlah Pelayanan Pengangkut M3/hr 36

2 Jumlah Kendaraan

Buldozer Unit 1

3 Jumlah Peralatan

Gerobak Unit 56

Countainer Unit 10

4 Transfer Depo Unit -

5 Jumlah TPS Unit 30

 Pendanaan

Dalam pengelolaan saat ini pendanaan dibiayai oleh Pemerintah Daerah Kota Jayapura melalui APBD Kota Jayapura, dengan dana yang terbatas, penanganan sampah di Kota Jayapura belum maksimal, khususnya pada Kawasan Perkotaan Jayapura tidak syarat. Belum adanya aturan retribusi pengangkutan sampah untuk masyarakat menyebabkan sumber pembiayaan dari masyarakat belum terlaksana dengan baik.

Rendahnya biaya pengelolaan persampahan pada umumnya karena masalah persampahan belum mendapatkan perhatian yang cukup sehingga akan berdampak buruk pada kualitas pengamanan sampah termasuk pencemaran lingkungan di TPA.

 Kelembagaan

Lembaga atau instansi pengelola persampahan merupakan motor penggerak seluruh kegiatan pengelolaan sampah dari sumber sampai TPA. Kondisi kebersihan suatu kota atau wilayah merupakan output dari rangkaian pekerjaan manajemen pengelolaan persampahan yang keberhasilannya juga ditentukan oleh faktor-faktor lain. Kapasitas dan kewenangan instansi pengelola persampahan menjadi sangat penting karena besarnya tanggung jawab yang harus dipikul dalam menjalankan roda pengelolaan yang biasanya tidak sederhana bahkan cenderung cukup rumit sejalan dengan makin besanya kategori kawasan perkotaan. Jumlah tenaga pengelolaan sampah Kota Jayapura hanya terdiri bebrapa orang yang meliputi, Kepala UPTD sampai Tenaga Sekop Sampah.

Tabel 6.9 Tenaga Pengelolaan Persampahan Kota Jayapura

 Peraturan perundangan

Pemerintah Daerah secepatnya memberi instruksi guna mengatasi secara intensif permasalahan persampahan dengan kapasitas dan tanggung jawab yang lebih terfokus pada pengeloaan persampahan. Hal ini juga harus diimbangi dengan legitimasi Peraturan Daerah yang terkait dengan pengelolaan persampahan, misalnya evaluasi/ peninjauan kembali biaya retribusi persampahan yang applicable, sanksi hukum bagi yang melanggar peraturan kebersihan, dll.

 Peran serta masyarakat

Sudah sejak lama masyarakat (individu maupun kelompok) sebenarnya telah mampu melakukan sebagian sistem pengelolaan sampah baik untuk skala individual maupun skala lingkungan terutama di lingkungan permukimannya. Upaya untuk menarik swasta kedalam komponen kegiatan pengelolaan sampah belum dilakukan secara memadai termasuk memberikan insentif, baik berupa pengurangan pajak bea masuk bahan atau instalasi yang berkaitan dengan dengan proses pengolahan sampah.

c. Permasalahan dan tantangan pengembangan persampahan  Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sampah di Kota Jayapura, adalah:  Aspek kelembagaan

- Organisasi belum sesuai dengan kapasitas kewenangan pelayanan yang dibutuhkan;

- Terbatasnya SDM yang dimiliki untuk pengoperasian persampahan;

- Fungsi pengolahan masih tercampur antara pengelolaan yang berperan sebagai operator dan regulator;

- Manajemen pelayanan persampahan masih perlu ditingkatkan; dan

- Belum optimalnya pelaksanaan Peraturan Daerah yang ada dan tindakan sanksi yang tegas bagi pelanggaran.

 Aspek operasional/teknik

- Pengelolaan persampahan masih terbatas;

- Armada alat berat belum ada (excavator dan wheel loader);

- Armada angkutan sampah masih kurang dibandingkan jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari;

- Jumlah personil Subdin Kebersihan masih sangat kurang; - Sistem operasional TPA masih open dumping;

- Sarana pengolahan sampah belum ada, untuk mengurangi volume sampah yang akan dibuang ke TPA;

- Jalan masuk kelokasi TPA masih sirtu; dan

- Sarana dan prasarana operasional yang dibutuhkan meliputi garasi bulldozer/pos jaga, jalan masuk, pagar, kolam lindi, workshop, dan talud.  Aspek pembiayaan

- Belum optimalnya potensi pendanaan masyarakat;

- Terbatasnya dana yang dialokasikan untuk pengeloalaan persampahan; dan - Pendapatan operasi persampahan tidak dapat memenuhi biaya operasi dan

pemeliharaan.

 Aspek peran serta masyarakat

- Rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingya kebersihan;

- Bentuk partisipasi masyarakat belum optimal, terbatasnya dana akibat rendahnya retribusi yang ditarik dari masyarakat;

- Pembangunan di bidang persampahan yang berbasis masyarakat masih sangat terbatas; dan

- Badan usaha swasta tidak tertarik untuk investasi di bidang pengelolaan persampahan.

Tantangan dalam penyelenggaraan sistem pengelolaan persampahan Kota Jayapura, yaitu:

 Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan meningkatnya jumlah timbulan sampah; dan

 Pengembangan TPA Karadiri.