2014 I Data Sanitasi On Site
6.4.3.2 Isu strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan dan Tantangan
a. Isu strategis pengembangan drainase
Berikut Isu-Isu Strategis pengelolaan Drainase di Kota Jayapura, antara lain: Topografi dan keadaan alam
Topografi Kota Jayapura sangat bervariasi mulai dari datar, begelombang hingga pegunungan. Wilayah pantai sebagian besar merupakan daratan. Wilayah dengan topografi ini mencapai 47% dari seluruh wilayah Kota Jayapura. Sementara sisanya 57% meruakan wilayah perbukitan, wilayah dengan topografi ini umumnya terletak di wilayah pedalaman;
Zona dataran rendah dengan ketinggian 600 meter diatas permukaan laut; Zona ketinggian sedang, ketinggian 600 - 1.500 meter diatas permukaan laut; dan Zona dataran tinggi, yaitu wilayah edngan ketinggian diatas 1.500 meter diatas
permukaan laut.
Dengan topografi yang rendah di Kawasan Perkotaan Jayapura dan keadaan alamnya yang dilalui oleh sungai-sungai kecil dan besar yang memiliki tingkat kelokan yang ekstrim membuat Kawasan Perkotaan Jayapura sangat rawan banjir. Fakta menunjukan bahwa setiap hujan, beberapa kawasan sudah mulai tergenang. Lama genangan setelah hujan yang memiliki intensitas yang tinggi mencapai 4 jam.
Kondisi sungai yang berkelok membuat air hujan tidak dapat diteruskan dengan cepat oleh badan air sehingga memicu terjadinya genangan.
b. Kondisi eksisting pengembangan drainase
Pengelolaan sistem jaringan drainase perkotaan hingga saat ini belum seoptimal seperti yang diharapkan. Sehingga penanganan sistem drainase perkotaan kaitannya dengan penanganan banjir perkotaan akan memerlukan kajian khusus untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya banjir perkotaan dan kajian karakteristik lingkungan yang diduga berpengaruh terhadap masalah banjir perkotaan. Sebab pada dasarnya sistem drainase perkotaan selain berfungsi untuk mengalirkan air
permukaan, menerima air hujan, dan mengalirkan air buangan rumah tangga, dan industri kecil. Fungsi jaringan drainase digunakan sebagai sarana untuk mengalirkan air hujan (run off) maupun air buangan rumah tangga. Jaringan drainase yang tersedia di Kawasan Perkotaan Jayapura, terdiri dari saluran primer, sekunder, dan tersier dengan kondisi konstruksi permanen, semi permanen, dan tanah. Kondisi eksisting saluran drainase yang ada di Kawasan Perkotaan Jayapura secara umum berupa saluran terbuka, dan belum tertata dalam sebuah sistem jaringan drainase terpadu kota. Dimana sebagian saluran drainase yang terbangun belum memenuhi kriteria teknis, seperti beberapa saluran yang belum jelas arah pengaliran maupun pembuangan akhirnya (outlet). Beberapa saluran lainnya telah tersedimentasi cukup tinggi, serta di tumbuhi oleh tumbuhan liar dalam saluran.
Aspek teknis
Dengan pertumbuhan penduduk dan kebutuhan prasarana dan sarana perkotaan yang semakin berkembang dan meningkat di Kota Jayapura, maka areal yang tadinya merupakan ruang terbuka dan secara tidak langsung menjadi daerah genangan terutama pada musim hujan menyebabkan daya tampung drainase yang ada tidak lagi mampu menyalurkan air buangan berupa air hujan terutama jika kejadiannya bersamaan dengan naiknya air pasang maka akan menimbulkan banjir pada kawasan perkotaan.
Pendanaan
Pembangunan dan pemeliharaan drainase sangat sulit melibatkan masyarakat, karena sifat keterkaitannya dengan masyarakat sangat sederhana bahkan di daerah kota masyarakat cenderung acuh dankurang peduli, sehingga otomatis pembangunan drainase menjadi tugas Pemerintah, namun disisi lain, pemeliharaan bisa saja dilakukan secara patisipasi oleh masyarakat. Pendanaan untuk pembiayaan pembangunan drainase di biayai oleh pemerintah Daerah (APBD) Kabupaten, Provinsi dan APBN.
Kelembagaan
Organisasi atau lembaga pengelola prasarana dan sarana pengendalian banjir diperkotaan harus dibentuk, tidak hanya pada kawasan perkotaan saja, tetapi juga
diseluruh daerah tangkapan air dan kawasan perairan pantai dimana sumber permasalahan berasal. Institusi ini mempunyai tanggung jawab mengendalikan peningkatan debit dari daerah hulu dengan jalan menurunkan aliran permukaan dan meregulasi debit puncak melalui berbagai macam cara dan bertanggung jawab untuk mengendalikan pengambilan air tanah yang berdampak pada amblesan tanah (land subsidence). Disamping itu, lembaga ini juga bertanggung jawab terhadap pengembangan rencana dan program, persiapan dan implementasi sistem pembangunan, melakukan operasi dan pemeliharaan, manajemen keuangan, dan menjaga sistem pendukung pengambilan keputusan (Decision Support System = DSS). DSS adalah sistem yang mengorganisasi proses, analisis, dan pengiriman informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan. Dua aktifitas utama dalam DSS, yaitu mengolah data dan memepelajari alternatif, dan kegiatan mengkonversi data atau informasi menjadi pengetahuan yang sangat bermanfaat dalam pengambilan keputusan.Sehingga peran DSS adalah membawa data dan hasil studi, jika diperlukan dengan menggunakan model, untuk menghasilkan pendukung keputusan. Jika ini berhasil akan memuat mengenai semua kategori informasi yang diperlukan, termasuk data mentah, studi model, pendapat, dan hasil analisis.
Peraturan perundangan
Untuk dapat melaksanakan konsep penanganan banjir seara komprehensif berdasakan paradigma manajemen air, diperlukan seperangkat peraturan. Dalam peraturan tersebut harus meliputi filosofi manajemen air (khususnya air hujan) dan implementasinya kedalam pendekatan teknis, susunan institusi, finansial, perilaku masyarakat yang diharapkan dan sanksi terhadap pihak-pihak yang melanggar peraturan harus disusun sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh pengelola dan masyarakat yang menjadi stakeholder.
Peran serta masyarakat dan swasta
Untuk meningkatkan keterlibatan dan rasa memiliki masyarakat terhadap fasilitas yang akan dikembangkan perlu diperhatikan aspek sosial budaya masyarakat setempat. Hal ini perlu untuk menghindari terjadinya pertentangan tujuan antara kehendak Pemerintah dan masyarakat, juga untuk menghilangkan kesan bahwa fasilitas yang dibangun semata-mata untuk Pemerintah, sehingga masyarakat tidak
peduli dengan keberhasilannya. Oleh karena itu perlu adanya pendekatan dan sosialisasi yang terus-menerus sebelum proyek dilaksanakan. Masyarakat perlu dilibatkan pada setiap tahap kegiatan pembangunan, mulai dari perumusan gagasan, perencanaan, pelaksanaan, sampai operasi dan pemeliharaan.
c. Permasalahan dan tantangan pengembangan drainase Permasalahan dalam pengembangan drainase
Kondisi saluran drainase yang belum semuanya di perkeras sehingga rawan menimbulkan gerusan dinding dan dasar saluran;
Pembangunan perumahan tidak disertai saluran drainase yang memadai; Belum ada kajian system drainase perkotaan; dan
Kesadaran masyarakat dalam pengelolaan drainase.
Tantangan pengembangan drainase
Kawasan perkotaan terletak pada di Distrik Jayapura, pada musim hujan akan menglami genangan, hal ini disebabkan karena air hanya meresap dan jaringan drainase kawasan perkotaan yang kurang;
Kondisi fisik drainase dengan system tertutup kurang cocok untuk kota Jayapura, selain itu duicker yang terlalu rendah sehingga mengakibatkan tersumbat;
Kurangnya saluran drainase tipe saluran sekunder dan tersier di kawasan genangan diatas;
Rehabilitasi drainase yang pernah dilakukan tidak memperbesar dimensi drainase, karena dengan perkembangan kawasan perkotaan banyak fungsi lahan yang berubah; dan
belum adanya system drainase yang terhirarki di Kota Jayapura.