IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Analisis Kelayakan Usaha Agroindustri Tepung Gandum
Untuk melihat prospek atau kelayakan usaha agroindustri tepung gandum diperlukan pembahasan yang mencakup aspek-aspek berikut :
4.3.1. Aspek Teknis Produksi
Untuk melihat prospek atau kelayakan unit usaha agroindustri tepung gandum diperlukan pembahasan yang mencakup aspek-aspek berikut :
1. Fasilitas Produksi dan Peralatan a. Bangunan
Bangunan digunakan untuk tempat menampung bahan baku, melakukan proses produksi dengan penempatan mesin-mesin pengolahan dan penyimpanan produksi sementara. Bangunan seluas 20 m2 diperoleh dari bantuan dari Departemen Pertanian. Dilihat dari kondisi ruangan yang sekaligus tempat produksi dan gudang sementara, maka ruangan tersebut terlalu kecil sebagi tempat alat dan bahan baku.
b. Mesin Perontok dan Pembersih Gandum (Thresher and winnower) Mesin ini digunakan untuk merontokkan gandum dari malainya dengan kapasitas 60 Kg/jam.
c. Mesin Penyosoh
Mesin ini digunakan untuk menyosoh gandum, dengan kapasitas 60 Kg/jam.
d. Mesin Penepung Gandum
Alat penepung gandum yang dimiliki Gapoktan Gandum dengan kapasitas 55 Kg per jam. Untuk 1 kali proses dibutuhkan gandum 220 Kg. Bahan baku dibeli dari petani anggota Gapoktan melalui ketua kelompok dalam bentuk gandum kering petani .
e. Mesin Pengayak.
Mesin Pengayak yang dimiliki Gapoktan Gandum digunakan untuk mengayak tepung gandum agar diperoleh tepung gandum yang halus (ukuran 100 mesh) dengan kapasitas 55 Kg/jam.
2. Bahan Baku
Sumber utama bahan baku dari anggota Gapoktan berupa gandum kering petani yang kemudian diolah di Agroindustri Tepung Gandum menjadi tepung gandum. Jumlah bahan baku gandum kering dibutuhkan kira-kira
3. Tenaga Kerja
Posisi dan jumlah pekerja di Unit Usaha Agroindustri Tepung Gandum seperti tercantum dalam Tabel 9.
Tabel 9. Posisi dan Jumlah Pekerja di Unit Usaha Agroindustri Tepung Gandum
Posisi Jumlah (orang)
Tenaga Kerja tetap
Manager 1
Petugas Lapangan 1
Administrasi 1
Sub Total 3
Tenaga Kerja lepas
Tenaga Operator 2
Kuli 2
Sub Total 4
Total 7
Data: diolah.
Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam operasionalisasi Agroindustri tepung gandum adalah seorang manajer, 1 orang staf administrasi, 1 orang petugas lapangan, 2 orang bagian produksi dan 2 kuli secara rinci dapat dilihat pada Tabel 9.
Kemampuan SDM pengelola masih rendah, dimana setiap bagian belum bekerja sesuai dengan tugas dan fungsinya disamping keterbatasan tenaga kerjanya sendiri. Peran anggota gapoktan terlihat dalam pembelian bahan baku gandum kering petani. Ketua kelompok tani melakukan pembelian gandum langsung kepada petani anggota dan dijual ke unit usaha agroindustri tepung gandum untuk diolah menjadi tepung gandum agar layak dijual ke industri industri makanan.
4. Proses Produksi.
Urutan pekerjaan diawali dengan proses pengumpulan bahan baku gandum. Perontokan dan pembersihan gandum dilakukan dengan alat perontok dan pembersih. gandum yang telah rontok dari malainya, dibersihkan dan dijemur. Selanjutnya gandum kering tersebut disosoh dan kemudian dibawa ke mesin penepung dengan kapasitas 220 Kg per proses. Pada proses ini dilakukan tahap pengkondisian yaitu mancampur gandum dengan air sekitar 3-5 menit untuk memastikan bahwa air telah cukup meresap kedalam bagian kulit luar gandum kemudian digiling dengan alat penepung.
Selanjutnya tepung gandum ini di masukkan ke alat pengayak dengan ukuran 100 mesh agar di peroleh tepung yang ukurannya halus.Kemudian tepung gandum dikemas dalam karung agar mudah ditumpuk secara teratur selama disimpan di ruang penyimpanan dan memudahkan pengangkutan.
Tepung gandum ini terbuat dari seluruh bagian biji gandum, sehingga warna tepung yang dihasilkan berwarna sedikit kecoklatan. Rendemen biji gandum menjadi gandum utuh sekitar 90-95 persen. 5. Kapasitas Produksi dan Mutu Produk
Kapasitas penepung 220 Kg per proses atau 440 Kg gandum kering petani menjadi tepung gandum, dalam 1 kali proses dihasilkan tepung gandum 209 kg atau 418 Kg per hari.
Tepung gandum diperoleh dengan cara menggiling seluruh bagian biji gandum secara utuh, yaitu endosperm, barm dan germ. Teksturnya kasar dan berwarna kecoklatan. Tepung gandum mengandung gluten sekitar 8,3 - 13%. Tepung gandum (whole wheat) merupakan tepung dari wheat pollard dan wheat brand.
Tepung gandum mengandung serat 3-4 kali lebih banyak dibanding tepung terigu dan kandungan gizinya juga lebih unggul. Dengan mengkonsumsi tepung gandum sedikit saja sudah terasa kenyang, dan kandungan serat yang tinggi berfungsi mencegah dari sembelit.
4.3.2. Aspek Pemasaran
Aspek pemasaran meliputi kondisi permintaan, penawaran, persaingan, harga dan proyeksi permintaan pasar.
1. Permintaan
Permintaan tepung gandum mengalami peningkatan tiap tahunnya, mengingat manfaat sebagai bahan makanan pangan dan bahan baku industri makanan sehingga telah menciptakan peluang pasar yang sangat luas, baik untuk dipasarkan dalam negeri maupun luar negeri.
Permintaan gandum secara nasional untuk konsumsi nasional tahun 2008 mencapai 3,8 juta ton/tahun dengan laju kenaikan sekitar 5 % / tahun. Penggunaan gandum hampir 65% diserap oleh industri pangan berskala kecil hingga menengah dan 5% digunakan oleh industri besar dan 30% digunakan skala rumah tangga.
Total kebutuhan tepung terigu/tepung gandum sebesar itu setara dengan 4,5 juta hingga 5 juta ton biji gandum yang seluruhnya masih harus diimpor. Impor gandum jumlahnya cukup besar, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri makanan yang makin berkembang saat ini.
2. Penawaran.
Meskipun Indonesia baru memulai mengembangkan gandum tetapi pasar dalam negeri sangat potensial sejak dulu, karena masyarakat Indonesia sudah terbiasa memakan terigu. kebutuhan terigu akan terus meningkat dan volume impor setiap tahun terus meningkat seiring dengan peningkatan penduduk yang rata-rata 1,7% per tahun.
Tabel 10. Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Gandum Tahun 2009
No. Propinsi Luas Panen
(Ha) Produktivitas (Kw/Ha) Total Produksi (Ton) 1 Jawa Barat 33,25 25 831,25 2 Jawa Tengah 76,00 30 2.280,00 3. Jawa Timur 289,75 30 8.690,00 4. NTT 229,50 30 6.885,00 5. Sulawesi Selatan 25,50 25 637,50 6. Bengkulu 17,00 25 425,00 Jumlah 671,00 28,65 1.975,125
Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Departemen Pertanian, 2009. Unit usaha agroindustri tepung gandum ini dapat menghasilkan tepung gandum sekitar 418 Kg per hari. Diharapkan dengan pengembangan produksi bahan baku gandum juga dapat meningkatkan produksi hasil olahan.
3. Harga.
Harga jual gandum kering petani pada saat kajian berkisar Rp. 4000 (KA maksimal 12,5%) sedangkan harga jual tepung gandum di unit usaha Agroindustri tepung Gandum Rp 6.500.
4.3.3. Aspek Keuangan
Untuk melakukan analisis aspek keuangan diperlukan adanya beberapa asumsi sebagai dasar perhitungan dalam kajian aspek keuangan. Dalam hal ini, asumsi yang digunakan ditentukan berdasarkan hasil penilitian terhadap unit usaha agroindustri tepung gandum dan acuan pustaka. Asumsi tersebut disajikan dalam Tabel 11 dan Lampiran 1.
Pada dasarnya, ada dua modal yang diperlukan untuk melakukan usaha , yakni modal tetap dan modal variabel. Modal tetap dalam hal ini adalah modal yang diperlukan untuk mengadakan fasilitas berupa peralatan dan bangunan tempat produksi. Sedangkan modal berjalan atau modal variabel adalah modal yang diperlukan untuk kegiatan operasional proses produksi selama kegiatan usaha tersebut berlangsung hingga periode waktu tertentu. Dasar untuk menilai kelayakan suatu proyek investasi dilakukan dengan menggunakan kriteria yang lazim digunakan dalam mengevaluasi layak dan tidak layaknya suatu proyek dijalankan dengan melihat kriteria-kriteria investasi.
Pada perkiraan biaya unit usaha agroindustri tepung gandum di Gapoktan Gandum, rendemen tepung yang dihasilkan di asumsikan 95% dan proses penepungan yang dilakukan sebanyak 2 kali proses dalam sehari. Jumlah tepung yang dihasilkan pada unit usaha agroindustri gandum di Gapoktan Gandum, Kabupaten Bandung adalah 209 Kg per proses. Unit agroindustri tepung gandum ini berproduksi selama 3 bulan dan setiap bulan memliki hari kerja selama 24 hari dan jam kerja perharinya selama 8 jam.
Adapun perkiraan biaya unit usaha agroindustri tepung gandum dapat dilihat dari tabel 11 dan lampiran 1.
Tabel 11. Perkiraan Biaya Unit Usaha Agroindustri Tepung Gandum
No. Komponen Kelayakan Keterangan
1 Harga Paket Penepung dan Motor Penggerak 90.000.000 Rp/unit
2 Nilai akhir = 10% x harga awal (1) 9.000.000 Rp/unit
3 Kapasitas Alat Penepung (220 kg/4 jam) 55 kg/jam
4 Kapasitas Alat Penepung per hari ( 2 x proses) 2
440 kg/hari
5 Daya Motor Penggerak 6,5 HP
6 Umur Ekonomis Penepung 10 tahun
7 Harga Bangunan
15.000.000 Rp/unit 8 Nilai akhir bangunan = 10% x harga awal (7)
1.500.000 Rp/unit
9 Umur ekonomis bangunan
5 tahun
10 Jam kerja per hari 8 jam/hari
11 Hari kerja per bulan 24 hari/bulan
12 Bulan kerja per tahun 3 bulan
13 Hari kerja per tahun 72 hari/tahun
14 Harga bahan bakar per liter 4.500 Rp/1,5 liter
15 Harga oli/ pelumas per liter 25.000 Rp/liter
16 Harga Kayu bakar/kubik - -
17 karung 9000 Rp/proses
18 Bunga modal per tahun 14 %
19 Bahan Baku Gandum
4.000 Rp / kg
20 Harga Jual tepung gandum
6.500 Rp/ kg
21 Hasil penjualan per proses
1.358.500 Rp/proses 22 Jumlah tepung gandum hasil penepungan per proses
209 kg Data: diolah
Dari hasil Tabel 11 dan lampiran 1. dapat dilihat hasil penjualan tepung gandum per proses adalah Rp 1.358.500,- dengan asumsi rendemen tepung yang
dihasilkan unit agroindustri tepung adalah 95 % dan proses produksi yang dilakukan dua kali proses dalam sehari dengan harga jual per Kg tepung gandum yang dihasilkan Rp. 6.500.
Tabel 12. Perkiraan Biaya Operasional Unit Usaha Agroindustri Tepung Gandum
No Komponen Keterangan Satuan Satuan
I Biaya Tetap
- Penyusutan alat per tahun Rp 15.528.796,8 per tahun
- Penyusutan bangunan per
tahun Rp 3.932.328,9 per tahun
- Biaya gaji/TK Tetap Rp 3.240.000,0 per tahun
- Biaya tetap per tahun Rp 22.701.125,7 per tahun
- Biaya tetap per jam Rp 39.412,7 per jam
Biaya Tetap per jam (a) 39.41,7 per jam
717,6 per kg
II Biaya Variabel
- Biaya Bahan Baku Rp 220.000,0 per jam
126.720.000,0 per tahun
- Biaya bahan bakar Rp 1.687,5 per jam 972.000,0 per tahun
- Biaya kayu bakar Rp - per jam - per tahun
- Biaya Pelumas/ oli Rp 1.250,0 per jam 720.000,0 per tahun
- Biaya Kemasan Rp 2.250,0 per jam 1.296.000,0 per tahun
- Biaya pemeliharaan dan perawatan Rp 520,8 per jam 300.000,0 per tahun
- Biaya TK kerja lepas per jam Rp 3.750,0 per jam 2.160.000,0 per tahun
- Biaya lain-lain Rp 260,4 per jam 150.000,0 per tahun
Biaya Variabel Rp 132.318.000,0 per tahun
Biaya Variabel per jam (b) Rp 229.719,8 per jam
Biaya Variabel per kg (c) Rp 4.396,5 per kg
III Biaya Pokok ( a+b ) Rp 269.130,4 per jam
Biaya Pokok Rp 4.893,3 per kg 1.606,72 220
893,28
Data: diolah
Dari analisis perkiraan biaya operasional unit usaha agroindustri tepung gandum seperti dicantumkan dalam Tabel 12 diperoleh biaya tetap Rp 22.701.125 per tahun atau Rp 717,6 per kg dan biaya variabel Rp 132.318.000 per tahun atau Rp 4.397,- per kg seperti ditunjukkan dalam Tabel 12 dan Lampiran 2.
Dari nilai biaya tetap dan variabel yang diperoleh, maka biaya pokok usaha penepungan gandum Rp. 269.130 tiap jam atau Rp 4.893,3 tiap kg gandum kering. Biaya pokok merupakan penjumlahan biaya tetap dan biaya variabel yang
Tabel 13: Nilai Kriteria Kelayakan Usaha Unit Agroindustri Tepung Gandum
Uraian Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5
Total pendapatan (B) 195.624.000,00 195.624.000,00 195.624.000,00 195.624.000,00 195.624.000,00 Pengeluaran Biaya investasi Harga Paket Penepung dan Motor Penggerak 90.000.000 - - - - Harga Bangunan 15.000.000 - - - - Jumlah biaya investasi 105.000.000,00 - - - - Biaya operasional Biaya Tetap Penyusutan Alat pertahun 15.528.796,81 15.528.796,81 15.528.796,81 15.528.796,81 15.528.796,81 Penyusutan Bangunan pertahun 3.932.327,88 3.932.327,88 3.932.327,88 3.932.327,88 3.932.327,88
Biaya Gaji/TK tetap 3.240.000,00 3.240.000,00 3.240.000,00 3.240.000,00 3.240.000,00
Total Biaya Tetap 22.701.124,69 22.701.124,69
22.701.124,69 22.701.124,69 22.701.124,69 Biaya Variabel
Biaya Bahan Baku 126.720.000,00
126.720.000,00
126.720.000,00 126.720.000,00 126.720.000,00
Biaya Bahan bakar 972.000,00 972.000,00 972.000,00 972.000,00 972.000,00
Biaya Kayu Bakar - - - - -
Biaya Pelumas/Oli 720.000,00 720.000,00 720.000,00 720.000,00 720.000,00 Biaya kemasan 1.296.000,00 1.296.000,00 1.296.000,00 1.296.000,00 1.296.000,00 Biaya pemeliharaan dan Perawatan 300.000,00 300.000,00 300.000,00 300.000,00 300.000,00 Biaya TK Lepas 2.160.000,00 2.160.000,00 2.160.000,00 2.160.000,00 2.160.000,00 Biaya Lain-Lain 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 - - - -
Total Biaya Variabel 132.318.000,00 132.318.000,00 132.318.000,00 132.318.000,00 132.318.000,00 Total Biaya operasional 155.019.124,69 155.019.124,69 155.019.124,69 155.019.124,69 155.019.124,69 Total pengeluaran (C ) 260.019.124,69 155.019.124,69 155.019.124,69 155.019.124,69 155.019.124,69 B – C (64.395.124,69) (23.790.249,37) 16.814.625,94 57.419.501,26 98.024.376,57 DF 14% 0,88 0,77 0,67 0,59 0,52 NPV 14% (56.486.951,48) (18.305.824,39) 11.349.393,57 33.996.954,23 50.910.789,53 NPV 21.464.361,47 NPV positif 77.951.312,94 NPV negative (56.486.951,48) Net B/C 1,38 DF 20% 0,83 0,69 0,58 0,48 0,40 NPV 20% (53.662.603,90) (16.521.006,51) 9.730.686,31 27.690.731,70 39.393.798,45 NPV 14% - NPV 20% 14.832.755,41 IRR 22,68 % PBP 2,17 tahun BEP (Rupiah) 127.713.750,07 Rupiah BEP (unit) 19.648,27 Kg
Dari analisis perhitungan komponen-komponen biaya seperti dicantumkan dalam Tabel 11 dan 12 didapatkan nilai kriteria kelayakan usaha unit agroindustri tepung gandum di Gapoktan Gandum sebagai berikut :
1. NPV
NPV merupakan nilai sekarang dari sejumlah uang di masa yang akan datang dan dikonversikan ke masa sekarang dengan menggunakan tingkat bunga terpilh. Produk yang memberikan nilai sekarang bersih positif layak dikelola. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan DF 14 % (Lampiran 3), maka nilai NPV unit usaha Agroindustri tepung Gandum Rp 21.464.361,47 selama 5 tahun investasi. Nilai NPV positif mengindikasikan bahwa unit usaha Agroindustri Tepung Gandum layak dikelola oleh Gapoktan Gandum.
2. IRR
IRR merupakan alat untuk mengukur tingkat pengembalian hasil internal. Usulan tingkat bunga pengembalian (IRR) yang lebih tinggi dari pada bunga modal yang diminta yang diminta merupakan hasil-hasil yang dapat dipilih. Nilai IRR unit usaha Agroindustri tepung gandum dari perhitungan NPV1; DF 14 % dan nilai NPV2; DF 20 % (Lampiran 3) diperoleh IRR 22,68 % dimana nilai ini lebih besar dari suku bunga bank komersial yang berlaku saat penelitian (14%). IRR lebih besar dari bunga bank komersial mengindikasikan bahwa unit usaha agroindustri tepung gandum Gapoktan Gandum layak dilaksanakan.
3. PBP
PBP merupakan teknik penilaian terhadap jangka waktu (periode) pengembalian investasi suatu proyek atau usaha. Berdasarkan analisis perhitungan, PBP usaha Agroindustri tepung Gandum Gapoktan Gandum 2,17 tahun (Lampiran 3). Total investasi Rp 105.000.000 , dengan umur ekonomis paket agroindustri tepung gandum selama 5 (lima) tahun, maka proyek ini dapat dikembalikan melalui Cash flow selama 2,17 tahun, lebih pendek dari jangka waktu umur ekonomis proyek investasi. Hal ini mengindikasikan bahwa usaha agroindustri tepung gandum layak dikembangkan.
4. B/C Ratio ( BCR)
Perbandingan untung dan biaya dapat ditentukan sebagai perbandingan nilai keuntungan ekuivalen terhadap nilai biaya ekuivalen. Berdasarkan analisis perhitungan BCR (Lampiran 1) diperoleh nilai BCR 1,38 (lebih besar dari 1). Nilai BCR lebih besar dari 1 menunjukkan bahwa unit usaha agroindustri tepung gandum di Gapoktan Gandum layak dilaksanakan bila dilihat dari dampak sosial
sensitif dengan perubahan biaya-biaya tetap maupun variabel. Hal ini disebakan waktu kerja agroindustri tepung gandum yang hanya 3 (tiga) bulan dalam setahun, untuk itu perlu dikaji pemanfaatan penepung untuk komoditi serealia lainnya dengan mepertimbangkan waktu kerja agroindustri tepung tidak beroperasi sehingga BCR nya lebih besar lagi.
5. Titik Impas (BEP)
Analisis Titik Impas (BEP) merupakan suatu gambaran kondisi produksi yang harus dicapai untuk melampaui titik impas. Proyek dikatakan impas jika jumlah hasil penjualan produknya pada suatu periode tertentu sama dengan jumlah biaya yang ditanggung sehingga proyek tersebut tidak menderita kerugian, tetapi juga tidak memperoleh laba.
Berdasarkan analisis perhitungan BEP (Lampiran 3) dapat diketahui bahwa titik impas untuk usaha Agroindustri tepung Gandum pada penjualan senilai
127.714.414,64 rupiah. Jadi diperlukan produksi sebesar 19.648,37 Kg tepung gandum untuk mendapatkan kondisi seimbang antara biaya dengan keuntungan.