• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum

Kabupaten Bandung, ditinjau dari sumberdaya lahan dan ketersediaan teknologi, memiliki peluang untuk menjadi salah satu pemasok gandum di Jawa Barat. Upaya peningkatan produksi gandum dapat ditempuh melalui perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas. Disamping itu juga memerlukan peningkatan efisiensi produksi, penguatan kelembagaan petani, peningkatan mutu produk, peningkatan nilai tambah, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infrastruktur serta pengaturan tataniaga dan insentif usaha.

Dilihat dari rata - rata hasil per hektar, produktivitas gandum berfluktuasi dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh penanaman gandum di Kabupaten Bandung relatif masih baru dan belum berpengalamannya petani dalam menentukan waktu tanaman yang tepat di daerah Kabupaten Bandung. Namun demikian masih menunjukkan peningkatan produksi. Perkembangan produksi gandum di Jawa Barat menunjukkan bahwa usaha tani gandum di Kabupaten Bandung semakin berkembang dan memberikan prospek yang cerah di masa yang akan datang.

Tabel. 7. Perkembangan Luas tanam, Luas panen, Produksi dan Produktivitas Gandum di Kabupeten Bandung Tahun 2005-2008.

No. Tahun Luas Tanam (Ha) Luas Panen (Ha) Produksi (ton) Produktivitas (Kwintal/Ha) 1 2005 5 5 4.12 8.23 2 2006 10 10 18.32 18.32 3 2007 5 5 8.77 17.54 4 2008 21 21 42.72 21.00 5 2009 16 16 32.59 20.75

Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, 2009

Dari Tabel 7. terlihat bahwa sampai tahun 2006, terjadi peningkatan luas tanam, produksi dan produkstivitas gandum di Kabupaten Bandung. Pada tahun 2007 terjadi penurunan baik luas tanam produksi dan produktivitas. Hal ini di karenakan pada tahun 2007 terjadi kekeringan hebat, sehingga sulit dalam penentuan masa tanam gandum. Pada tahun 2008 terjadi peningkatan luas tanam, luas panen, produksi dan produktivitas gandum yang cukup signifikan di Kabupaten Bandung . Hal ini karena

sampai dengan tahun 2008 kondisi cuaca di Kabupaten Bandung cukup optimal untuk petani dalam melakukan usaha tani gandum. Selain itu juga didukung adanya perolehan bantuan dana dari pemerintah baik dalam bentuk APBD dan APBN untuk usaha tani gandum. Pada tahun 2009, penanaman gandum dilakukan di 2 kecamatan saja yakni Arjasari, Cikancung/Mandalasari. Hal ini dikarenakan petani melakukan penanaman dengan modal sendiri dan hanya mendapatkan bantuan pemerintah berupa bibit yang berasal dari APBD Kabupaten Bandung. Adapun penanaman gandum di Kabupaten Bandung tersebar di beberapa kecamatan, seperti Ciwidey, Sindang Kerta, Arjasari, Cikancung,Pasir Jambu, dan Mandalasari.

Masalah yang banyak dihadapi oleh petani gandum adalah penentuan masa tanam yang tepat. Dalam beberapa tahun terakhir kondisi cuaca di Kabupaten Bandung sulit di prediksi, hal ini karena musim hujan yang bergeser. Selain itu juga petani mengalami masalah dalam penanganan pasca panen dan juga pemasarannya. Selama ini petani menjual gandum dalam bentuk kering kepada pedagang pengumpul.

Pedagang pengumpul memiliki posisi yang cukup kuat untuk menentukan harga sehingga harga di tingkat petani menjadi rendah. Dengan adanya kegiatan pengolahan dan pemasaran hasil seperti yang sudah berjalan di Gapoktan Gandum memberikan kepastian harga dan pasar bagi petani gandum serta memutus rantai tataniaga gandum yang biasanya melalui pengumpul. Keberadaan agroindustri tepung gandum di Gapoktan Gandum, telah membantu petani mengatasi masalah penanganan pasca panen, sehingga dapat diterima pasar (industri makanan) dan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan tepung gandum di daerah tersebut khususnya di Kabupaten Bandung.

4.1.1. Unit Usaha Agroindustri Tepung Gandum

Lokasi unit usaha agroindustri tepung gandum yang dijadikan obyek kajian terletak di Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Unit usaha yang dijadikan obyek kajian adalah Unit Usaha Agroindustri Tepung Gandum di Gapoktan Gandum yang memiliki 1 unit alat perontok , 1 unit alat penyosoh, 1 unit alat penepung kapasitas 55 Kg/jam, 1 unit pengayak tepung.

Penggabungan kelompok tani ke dalam Gapoktan dilakukan agar kelompok tani dapat lebih berdaya dan berhasil guna, dalam penyediaan sarana produksi pertanian, permodalan, peningkatan atau perluasan usahatani ke sektor hulu dan hilir, pemasaran serta kerja sama dalam peningkatan posisi tawar (Peraturan Menteri Pertanian

No.273/Kpts/OT.160/4/2007 tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani).

Lokasi unit usaha agroindustri tepung gandum Gapoktan Gandum berada di Kecamatan Cikancung, memiliki lahan seluas 20 m2 yang terdiri dari bangunan tempat agroindustri tepung dan perlengkapannya. Lokasi usaha ini cukup strategik karena berada di sentra pertanaman gandum di Kabupaten Bandung .

Gapoktan diharapkan mampu melakukan fungsi-fungsi berikut :

a. Satu kesatuan unit produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar

b. Penyediaan sarana produksi pertanian (saprotan) dan menyalurkannya kepada para petani melalui kelompoknya

c. Penyediaan modal usaha dan menyalurkan secara kredit/pinjaman kepada para petani yang memerlukan

d. Melakukan proses pengolahan produk para anggota (penyosohan, penggilingan, pengepakan dan lainnya) yang dapat meningkatkan skor tambah

e. Menyelenggarakan perdagangan, memasarkan/menjual produk petani kepada pedagang/industri hilir.

Gapoktan Gandum merupakan sebuah organisasi petani gandum yang kuat. Petani yang bergabung dalam Gapoktan Gandum berlokasi di Kabupaten Bandung yang terdiri dari 2 kelompok tani dari 3 Desa. Jumlah petani yang tergabung dalam Gapoktan Gandum berjumlah 80 petani , dengan potensi lahan 35 Ha. Struktur organisasi unit usaha Agroindustri Tepung Gandum dapat dilihat pada Gambar 3 sebagai berikut :

Gambar 3. Struktur Organisasi unit usaha Agroindustri Tepung Gandum di Gapoktan Gandum, Kabupaten Bandung, Tahun 2009.

Ketua Gapoktan/ Manager Aep Wahyudin Sekretaris Rohmat Bendahara Asep Seksi Pemasaran Entu

Seksi Pemberdayaan Alat Yayan

Sebagaimana dinyatakan dalam Peraturan Menteri Pertanian No.273/Kpts/OT.160/4/2007 tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani, Gapoktan yang kuat dan mandiri dicirikan sebagai berikut :

a. Adanya pertemuan/rapat anggota/rapat pengurus yang diselenggarakan secara berkala dan berkesinambungan

b. Disusunnya rencana kerja Gapoktan secara bersama dan dilaksanakan oleh para pelaksana sesuai dengan kesepakatan bersama dan setiap akhir pelaksanaan dilakukan evaluasi secara partisipasi.

c. Memiliki aturan/norma tertulis yang disepakati dan ditaati bersama.

d. Memiliki pencatatan/pengadministrasian setiap anggota organisasi yang rapih.

e. Memfasilitasi kegiatan–kegiatan usaha bersama di sektor hulu dan hilir. f. Menfasilitasi usaha tani secara komersial dan berorientasi pasar.

g. Sebagai sumber, serta pelayanan informasi dan teknologi untuk usaha para petani umumnya dan anggota kelompok tani khususnya.

h. Adanya jalinan, kerjasama antara Gapoktan dengan pihak lain.

i. Adanya pemupukan modal usaha baik iuran dari anggota atau penyisihan hasil usaha/kegiatan Gapoktan.

4.2. Analisis Usaha Tani Gandum

Analisis usahatani gandum dilakukan kepada petani anggota Gapoktan Gandum. Analisis ini bertujuan untuk melihat berapa besar keuntungan petani bila melakukan usaha tani gandum, maka dilakukan analisis terhadap petani anggota seperti terlihat dalam Tabel 8 dan Lampiran 13.

Tabel 8.Analisis Pendapatan Rataan Usahatani Gandum Per musim

No Deskripsi Satuan Anggota

Gapoktan Kontribusi thdp biaya (%) A Luas tanam Ha 0,28 B Produksi Kg 536,67 C Produktivitas Kg/Ha 1946,67 Jarak tanam 20 x 40 cm D Harga jual Rp/Kg 4.000,00 E Penerimaan Rp 2.146.667,00 F Biaya Total Rp 1.189.666,67 - Benih Rp 82.500,00 6,9 - Pupuk Rp 212.500,00 17,9 - Sewa lahan Rp 177.500,00 14,9 -Tenaga kerja Rp 663.833,30 55,8 - Biaya lain-lain Rp 53.333,30 4,5 G Pendapatan Rp 957.000,00

H R/C atas biaya total (E/F) 1,80

I Biaya pokok (F/B) Rp 2216,77

Data : diolah

Dari data yang diperoleh (lampiran 14) diketahui bahwa; produktivitas rataan gandum di Kabupaten Bandung yaitu 1,95 (Ton/Ha). berpengaruh terhadap produktivitas gandum. Pola tanam yang dilakukan tani di Kabupaten Bandung ini merupakan pola tanam monokultur yang dilakukan secara khusus. Jarak tanam gandum tersebut 20 x 40 cm. Hasil panen petani anggota Gapoktan dijual kepada ketua kelompok tani dalam bentuk gandum kering (KA maks 12 %) dengan harga Rp 4.000 per Kg. Pembayaran dilakukan secara langsung. Rataan penerimaan petani anggota Gapoktan (Rp 4.000/Kg).

Ukuran efisiensi pengelolaan usahatani dapat dilihat dengan menggunakan koefisien perbandingan penerimaan dan biaya (rasio R/C), Tabel 10 menunjukkan bahwa nilai rasio R/C petani anggota (1,80) ini menunjukkan , usaha tani gandum efisien dan menguntungkan, karena imbalan yang diperoleh masih lebih tinggi dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan.

Harga pembelian gandum kering di tingkat petani Rp. 4000/Kg, Dari perhitungan biaya pokok usaha tani gandum dimana biaya pokok merupakan perbandingan total pengeluaran usaha tani gandum (Rp) dengan jumlah produksi gandum (kg). menunjukkan bahwa petani anggota Gapoktan akan rugi bila menjual gandum kering dibawah Rp 2.216 per kg , seperti dicantumkan dalam Tabel 8.

4.3. Analisis Kelayakan Usaha Agroindustri Tepung Gandum

Untuk melihat prospek atau kelayakan usaha agroindustri tepung gandum diperlukan pembahasan yang mencakup aspek-aspek berikut :

4.3.1. Aspek Teknis Produksi

Untuk melihat prospek atau kelayakan unit usaha agroindustri tepung gandum diperlukan pembahasan yang mencakup aspek-aspek berikut :

1. Fasilitas Produksi dan Peralatan a. Bangunan

Bangunan digunakan untuk tempat menampung bahan baku, melakukan proses produksi dengan penempatan mesin-mesin pengolahan dan penyimpanan produksi sementara. Bangunan seluas 20 m2 diperoleh dari bantuan dari Departemen Pertanian. Dilihat dari kondisi ruangan yang sekaligus tempat produksi dan gudang sementara, maka ruangan tersebut terlalu kecil sebagi tempat alat dan bahan baku.

b. Mesin Perontok dan Pembersih Gandum (Thresher and winnower) Mesin ini digunakan untuk merontokkan gandum dari malainya dengan kapasitas 60 Kg/jam.

c. Mesin Penyosoh

Mesin ini digunakan untuk menyosoh gandum, dengan kapasitas 60 Kg/jam.

d. Mesin Penepung Gandum

Alat penepung gandum yang dimiliki Gapoktan Gandum dengan kapasitas 55 Kg per jam. Untuk 1 kali proses dibutuhkan gandum 220 Kg. Bahan baku dibeli dari petani anggota Gapoktan melalui ketua kelompok dalam bentuk gandum kering petani .

e. Mesin Pengayak.

Mesin Pengayak yang dimiliki Gapoktan Gandum digunakan untuk mengayak tepung gandum agar diperoleh tepung gandum yang halus (ukuran 100 mesh) dengan kapasitas 55 Kg/jam.

2. Bahan Baku

Sumber utama bahan baku dari anggota Gapoktan berupa gandum kering petani yang kemudian diolah di Agroindustri Tepung Gandum menjadi tepung gandum. Jumlah bahan baku gandum kering dibutuhkan kira-kira

3. Tenaga Kerja

Posisi dan jumlah pekerja di Unit Usaha Agroindustri Tepung Gandum seperti tercantum dalam Tabel 9.

Tabel 9. Posisi dan Jumlah Pekerja di Unit Usaha Agroindustri Tepung Gandum

Posisi Jumlah (orang)

Tenaga Kerja tetap

Manager 1

Petugas Lapangan 1

Administrasi 1

Sub Total 3

Tenaga Kerja lepas

Tenaga Operator 2

Kuli 2

Sub Total 4

Total 7

Data: diolah.

Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam operasionalisasi Agroindustri tepung gandum adalah seorang manajer, 1 orang staf administrasi, 1 orang petugas lapangan, 2 orang bagian produksi dan 2 kuli secara rinci dapat dilihat pada Tabel 9.

Kemampuan SDM pengelola masih rendah, dimana setiap bagian belum bekerja sesuai dengan tugas dan fungsinya disamping keterbatasan tenaga kerjanya sendiri. Peran anggota gapoktan terlihat dalam pembelian bahan baku gandum kering petani. Ketua kelompok tani melakukan pembelian gandum langsung kepada petani anggota dan dijual ke unit usaha agroindustri tepung gandum untuk diolah menjadi tepung gandum agar layak dijual ke industri industri makanan.

4. Proses Produksi.

Urutan pekerjaan diawali dengan proses pengumpulan bahan baku gandum. Perontokan dan pembersihan gandum dilakukan dengan alat perontok dan pembersih. gandum yang telah rontok dari malainya, dibersihkan dan dijemur. Selanjutnya gandum kering tersebut disosoh dan kemudian dibawa ke mesin penepung dengan kapasitas 220 Kg per proses. Pada proses ini dilakukan tahap pengkondisian yaitu mancampur gandum dengan air sekitar 3-5 menit untuk memastikan bahwa air telah cukup meresap kedalam bagian kulit luar gandum kemudian digiling dengan alat penepung.

Selanjutnya tepung gandum ini di masukkan ke alat pengayak dengan ukuran 100 mesh agar di peroleh tepung yang ukurannya halus.Kemudian tepung gandum dikemas dalam karung agar mudah ditumpuk secara teratur selama disimpan di ruang penyimpanan dan memudahkan pengangkutan.

Tepung gandum ini terbuat dari seluruh bagian biji gandum, sehingga warna tepung yang dihasilkan berwarna sedikit kecoklatan. Rendemen biji gandum menjadi gandum utuh sekitar 90-95 persen. 5. Kapasitas Produksi dan Mutu Produk

Kapasitas penepung 220 Kg per proses atau 440 Kg gandum kering petani menjadi tepung gandum, dalam 1 kali proses dihasilkan tepung gandum 209 kg atau 418 Kg per hari.

Tepung gandum diperoleh dengan cara menggiling seluruh bagian biji gandum secara utuh, yaitu endosperm, barm dan germ. Teksturnya kasar dan berwarna kecoklatan. Tepung gandum mengandung gluten sekitar 8,3 - 13%. Tepung gandum (whole wheat) merupakan tepung dari wheat pollard dan wheat brand.

Tepung gandum mengandung serat 3-4 kali lebih banyak dibanding tepung terigu dan kandungan gizinya juga lebih unggul. Dengan mengkonsumsi tepung gandum sedikit saja sudah terasa kenyang, dan kandungan serat yang tinggi berfungsi mencegah dari sembelit.

4.3.2. Aspek Pemasaran

Aspek pemasaran meliputi kondisi permintaan, penawaran, persaingan, harga dan proyeksi permintaan pasar.

1. Permintaan

Permintaan tepung gandum mengalami peningkatan tiap tahunnya, mengingat manfaat sebagai bahan makanan pangan dan bahan baku industri makanan sehingga telah menciptakan peluang pasar yang sangat luas, baik untuk dipasarkan dalam negeri maupun luar negeri.

Permintaan gandum secara nasional untuk konsumsi nasional tahun 2008 mencapai 3,8 juta ton/tahun dengan laju kenaikan sekitar 5 % / tahun. Penggunaan gandum hampir 65% diserap oleh industri pangan berskala kecil hingga menengah dan 5% digunakan oleh industri besar dan 30% digunakan skala rumah tangga.

Total kebutuhan tepung terigu/tepung gandum sebesar itu setara dengan 4,5 juta hingga 5 juta ton biji gandum yang seluruhnya masih harus diimpor. Impor gandum jumlahnya cukup besar, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri makanan yang makin berkembang saat ini.

2. Penawaran.

Meskipun Indonesia baru memulai mengembangkan gandum tetapi pasar dalam negeri sangat potensial sejak dulu, karena masyarakat Indonesia sudah terbiasa memakan terigu. kebutuhan terigu akan terus meningkat dan volume impor setiap tahun terus meningkat seiring dengan peningkatan penduduk yang rata-rata 1,7% per tahun.

Tabel 10. Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Gandum Tahun 2009

No. Propinsi Luas Panen

(Ha) Produktivitas (Kw/Ha) Total Produksi (Ton) 1 Jawa Barat 33,25 25 831,25 2 Jawa Tengah 76,00 30 2.280,00 3. Jawa Timur 289,75 30 8.690,00 4. NTT 229,50 30 6.885,00 5. Sulawesi Selatan 25,50 25 637,50 6. Bengkulu 17,00 25 425,00 Jumlah 671,00 28,65 1.975,125

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Departemen Pertanian, 2009. Unit usaha agroindustri tepung gandum ini dapat menghasilkan tepung gandum sekitar 418 Kg per hari. Diharapkan dengan pengembangan produksi bahan baku gandum juga dapat meningkatkan produksi hasil olahan.

3. Harga.

Harga jual gandum kering petani pada saat kajian berkisar Rp. 4000 (KA maksimal 12,5%) sedangkan harga jual tepung gandum di unit usaha Agroindustri tepung Gandum Rp 6.500.

4.3.3. Aspek Keuangan

Untuk melakukan analisis aspek keuangan diperlukan adanya beberapa asumsi sebagai dasar perhitungan dalam kajian aspek keuangan. Dalam hal ini, asumsi yang digunakan ditentukan berdasarkan hasil penilitian terhadap unit usaha agroindustri tepung gandum dan acuan pustaka. Asumsi tersebut disajikan dalam Tabel 11 dan Lampiran 1.

Pada dasarnya, ada dua modal yang diperlukan untuk melakukan usaha , yakni modal tetap dan modal variabel. Modal tetap dalam hal ini adalah modal yang diperlukan untuk mengadakan fasilitas berupa peralatan dan bangunan tempat produksi. Sedangkan modal berjalan atau modal variabel adalah modal yang diperlukan untuk kegiatan operasional proses produksi selama kegiatan usaha tersebut berlangsung hingga periode waktu tertentu. Dasar untuk menilai kelayakan suatu proyek investasi dilakukan dengan menggunakan kriteria yang lazim digunakan dalam mengevaluasi layak dan tidak layaknya suatu proyek dijalankan dengan melihat kriteria-kriteria investasi.

Pada perkiraan biaya unit usaha agroindustri tepung gandum di Gapoktan Gandum, rendemen tepung yang dihasilkan di asumsikan 95% dan proses penepungan yang dilakukan sebanyak 2 kali proses dalam sehari. Jumlah tepung yang dihasilkan pada unit usaha agroindustri gandum di Gapoktan Gandum, Kabupaten Bandung adalah 209 Kg per proses. Unit agroindustri tepung gandum ini berproduksi selama 3 bulan dan setiap bulan memliki hari kerja selama 24 hari dan jam kerja perharinya selama 8 jam.

Adapun perkiraan biaya unit usaha agroindustri tepung gandum dapat dilihat dari tabel 11 dan lampiran 1.

Tabel 11. Perkiraan Biaya Unit Usaha Agroindustri Tepung Gandum

No. Komponen Kelayakan Keterangan

1 Harga Paket Penepung dan Motor Penggerak 90.000.000 Rp/unit

2 Nilai akhir = 10% x harga awal (1) 9.000.000 Rp/unit

3 Kapasitas Alat Penepung (220 kg/4 jam) 55 kg/jam

4 Kapasitas Alat Penepung per hari ( 2 x proses) 2

440 kg/hari

5 Daya Motor Penggerak 6,5 HP

6 Umur Ekonomis Penepung 10 tahun

7 Harga Bangunan

15.000.000 Rp/unit 8 Nilai akhir bangunan = 10% x harga awal (7)

1.500.000 Rp/unit

9 Umur ekonomis bangunan

5 tahun

10 Jam kerja per hari 8 jam/hari

11 Hari kerja per bulan 24 hari/bulan

12 Bulan kerja per tahun 3 bulan

13 Hari kerja per tahun 72 hari/tahun

14 Harga bahan bakar per liter 4.500 Rp/1,5 liter

15 Harga oli/ pelumas per liter 25.000 Rp/liter

16 Harga Kayu bakar/kubik - -

17 karung 9000 Rp/proses

18 Bunga modal per tahun 14 %

19 Bahan Baku Gandum

4.000 Rp / kg

20 Harga Jual tepung gandum

6.500 Rp/ kg

21 Hasil penjualan per proses

1.358.500 Rp/proses 22 Jumlah tepung gandum hasil penepungan per proses

209 kg Data: diolah

Dari hasil Tabel 11 dan lampiran 1. dapat dilihat hasil penjualan tepung gandum per proses adalah Rp 1.358.500,- dengan asumsi rendemen tepung yang

dihasilkan unit agroindustri tepung adalah 95 % dan proses produksi yang dilakukan dua kali proses dalam sehari dengan harga jual per Kg tepung gandum yang dihasilkan Rp. 6.500.

Tabel 12. Perkiraan Biaya Operasional Unit Usaha Agroindustri Tepung Gandum

No Komponen Keterangan Satuan Satuan

I Biaya Tetap

- Penyusutan alat per tahun Rp 15.528.796,8 per tahun

- Penyusutan bangunan per

tahun Rp 3.932.328,9 per tahun

- Biaya gaji/TK Tetap Rp 3.240.000,0 per tahun

- Biaya tetap per tahun Rp 22.701.125,7 per tahun

- Biaya tetap per jam Rp 39.412,7 per jam

Biaya Tetap per jam (a) 39.41,7 per jam

717,6 per kg

II Biaya Variabel

- Biaya Bahan Baku Rp 220.000,0 per jam

126.720.000,0 per tahun

- Biaya bahan bakar Rp 1.687,5 per jam 972.000,0 per tahun

- Biaya kayu bakar Rp - per jam - per tahun

- Biaya Pelumas/ oli Rp 1.250,0 per jam 720.000,0 per tahun

- Biaya Kemasan Rp 2.250,0 per jam 1.296.000,0 per tahun

- Biaya pemeliharaan dan perawatan Rp 520,8 per jam 300.000,0 per tahun

- Biaya TK kerja lepas per jam Rp 3.750,0 per jam 2.160.000,0 per tahun

- Biaya lain-lain Rp 260,4 per jam 150.000,0 per tahun

Biaya Variabel Rp 132.318.000,0 per tahun

Biaya Variabel per jam (b) Rp 229.719,8 per jam

Biaya Variabel per kg (c) Rp 4.396,5 per kg

III Biaya Pokok ( a+b ) Rp 269.130,4 per jam

Biaya Pokok Rp 4.893,3 per kg 1.606,72 220

893,28

Data: diolah

Dari analisis perkiraan biaya operasional unit usaha agroindustri tepung gandum seperti dicantumkan dalam Tabel 12 diperoleh biaya tetap Rp 22.701.125 per tahun atau Rp 717,6 per kg dan biaya variabel Rp 132.318.000 per tahun atau Rp 4.397,- per kg seperti ditunjukkan dalam Tabel 12 dan Lampiran 2.

Dari nilai biaya tetap dan variabel yang diperoleh, maka biaya pokok usaha penepungan gandum Rp. 269.130 tiap jam atau Rp 4.893,3 tiap kg gandum kering. Biaya pokok merupakan penjumlahan biaya tetap dan biaya variabel yang

Tabel 13: Nilai Kriteria Kelayakan Usaha Unit Agroindustri Tepung Gandum

Uraian Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5

Total pendapatan (B) 195.624.000,00 195.624.000,00 195.624.000,00 195.624.000,00 195.624.000,00 Pengeluaran Biaya investasi Harga Paket Penepung dan Motor Penggerak 90.000.000 - - - - Harga Bangunan 15.000.000 - - - - Jumlah biaya investasi 105.000.000,00 - - - - Biaya operasional Biaya Tetap Penyusutan Alat pertahun 15.528.796,81 15.528.796,81 15.528.796,81 15.528.796,81 15.528.796,81 Penyusutan Bangunan pertahun 3.932.327,88 3.932.327,88 3.932.327,88 3.932.327,88 3.932.327,88

Biaya Gaji/TK tetap 3.240.000,00 3.240.000,00 3.240.000,00 3.240.000,00 3.240.000,00

Total Biaya Tetap 22.701.124,69 22.701.124,69

22.701.124,69 22.701.124,69 22.701.124,69 Biaya Variabel

Biaya Bahan Baku 126.720.000,00

126.720.000,00

126.720.000,00 126.720.000,00 126.720.000,00

Biaya Bahan bakar 972.000,00 972.000,00 972.000,00 972.000,00 972.000,00

Biaya Kayu Bakar - - - - -

Biaya Pelumas/Oli 720.000,00 720.000,00 720.000,00 720.000,00 720.000,00 Biaya kemasan 1.296.000,00 1.296.000,00 1.296.000,00 1.296.000,00 1.296.000,00 Biaya pemeliharaan dan Perawatan 300.000,00 300.000,00 300.000,00 300.000,00 300.000,00 Biaya TK Lepas 2.160.000,00 2.160.000,00 2.160.000,00 2.160.000,00 2.160.000,00 Biaya Lain-Lain 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 - - - -

Total Biaya Variabel 132.318.000,00 132.318.000,00 132.318.000,00 132.318.000,00 132.318.000,00 Total Biaya operasional 155.019.124,69 155.019.124,69 155.019.124,69 155.019.124,69 155.019.124,69 Total pengeluaran (C ) 260.019.124,69 155.019.124,69 155.019.124,69 155.019.124,69 155.019.124,69 B – C (64.395.124,69) (23.790.249,37) 16.814.625,94 57.419.501,26 98.024.376,57 DF 14% 0,88 0,77 0,67 0,59 0,52 NPV 14% (56.486.951,48) (18.305.824,39) 11.349.393,57 33.996.954,23 50.910.789,53 NPV 21.464.361,47 NPV positif 77.951.312,94 NPV negative (56.486.951,48) Net B/C 1,38 DF 20% 0,83 0,69 0,58 0,48 0,40 NPV 20% (53.662.603,90) (16.521.006,51) 9.730.686,31 27.690.731,70 39.393.798,45 NPV 14% - NPV 20% 14.832.755,41 IRR 22,68 % PBP 2,17 tahun BEP (Rupiah) 127.713.750,07 Rupiah BEP (unit) 19.648,27 Kg

Dari analisis perhitungan komponen-komponen biaya seperti dicantumkan dalam Tabel 11 dan 12 didapatkan nilai kriteria kelayakan usaha unit agroindustri tepung gandum di Gapoktan Gandum sebagai berikut :

1. NPV

NPV merupakan nilai sekarang dari sejumlah uang di masa yang akan datang dan dikonversikan ke masa sekarang dengan menggunakan tingkat bunga terpilh. Produk yang memberikan nilai sekarang bersih positif layak dikelola. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan DF 14 % (Lampiran 3), maka nilai NPV unit usaha Agroindustri tepung Gandum Rp 21.464.361,47 selama 5 tahun investasi. Nilai NPV positif mengindikasikan bahwa unit usaha Agroindustri Tepung Gandum layak dikelola oleh Gapoktan Gandum.

2. IRR

IRR merupakan alat untuk mengukur tingkat pengembalian hasil internal. Usulan tingkat bunga pengembalian (IRR) yang lebih tinggi dari pada bunga modal yang diminta yang diminta merupakan hasil-hasil yang dapat dipilih. Nilai IRR unit usaha Agroindustri tepung gandum dari perhitungan NPV1; DF 14 % dan nilai NPV2; DF 20 % (Lampiran 3) diperoleh IRR 22,68 % dimana nilai ini lebih besar dari suku bunga bank komersial yang berlaku saat penelitian (14%). IRR lebih besar dari bunga bank komersial mengindikasikan bahwa unit usaha agroindustri tepung gandum Gapoktan Gandum layak dilaksanakan.

3. PBP

PBP merupakan teknik penilaian terhadap jangka waktu (periode) pengembalian investasi suatu proyek atau usaha. Berdasarkan analisis perhitungan, PBP usaha Agroindustri tepung Gandum Gapoktan Gandum 2,17 tahun (Lampiran 3). Total investasi Rp 105.000.000 , dengan umur ekonomis paket agroindustri tepung gandum selama 5 (lima) tahun, maka proyek ini dapat dikembalikan melalui Cash flow selama 2,17 tahun, lebih pendek dari jangka waktu umur ekonomis proyek investasi. Hal ini mengindikasikan bahwa usaha agroindustri tepung gandum layak dikembangkan.

4. B/C Ratio ( BCR)

Perbandingan untung dan biaya dapat ditentukan sebagai perbandingan nilai keuntungan ekuivalen terhadap nilai biaya ekuivalen. Berdasarkan analisis perhitungan BCR (Lampiran 1) diperoleh nilai BCR 1,38 (lebih besar dari 1). Nilai BCR lebih besar dari 1 menunjukkan bahwa unit usaha agroindustri tepung gandum di Gapoktan Gandum layak dilaksanakan bila dilihat dari dampak sosial

sensitif dengan perubahan biaya-biaya tetap maupun variabel. Hal ini disebakan waktu kerja agroindustri tepung gandum yang hanya 3 (tiga) bulan dalam setahun, untuk itu perlu dikaji pemanfaatan penepung untuk komoditi serealia lainnya