BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.6. Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan secara manual dan bantuan komputer dengan program excel. Analisis data yang dilakukan adalah analisis kelayakan dan SWOT.
Metode analisis yang digunakan untuk menganalisa dan menginterpretasikan data adalah :
1. Metode Deskriptif, yaitu pengumpulan data mengenai informasi potensi bahan baku, prospek pasar dan keuangan yang berkaitan dengan pasokan bahan baku yang telah dikeluarkan oleh unit usaha.
2. Metode analisis yang dilakukan adalah analisis kelayakan usaha dari aspek berupa Matriks Pay Back Period (PBP), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Break Even Point (BEP), Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR), Matriks External Factor Evaluation (EFE), Internal Factor Evaluation (IFE) dan Analisis SWOT.
1). Analisa Kelayakan Usaha Dari Aspek Keuangan
Dalam penelitian ini dilakukan pengkajian analisa kelayakan usaha dari aspek keuangan yang terdiri dari :
a. Komponen dan struktur biaya.
Komponen biaya mencakup pengadaan sarana dan prasarana, biaya operasi dan biaya lain-lain. Biaya pengadaan prasarana adalah meliputi biaya investasi, yaitu biaya perijinan, bangunan dan pembelian peralatan untuk proses produksi. Biaya operasi meliputi biaya pembelian gandum, biaya bahan pembantu, biaya pengemasan, upah pekerja, pembelian bahan pembantu produksi, biaya peralatan, kendaraan dan biaya overhead.
b. Pendapatan
Pendapatan adalah total hasil penjualan unit usaha agroindustri, yang didasarkan pada proyeksi selama berdirinya unit usaha ini . c. Kebutuhan Modal dan Kredit
Dalam menunjang pengembangan perusahaan diperlukan modal kerja dan modal.
d. BEP
BEP atau titik impas adalah suatu keadaan dimana besarnya pendapatan sama dengan besarnya biaya/pengeluaran yang dilakukan oleh proyek.
2). Analisis Matriks Evaluasi Faktor Internal dan Eksternal
Penilaian internal ditujukan untuk mengukur sejauh mana kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan. Langkah yang ringkas dalam melakukan penilaian internal adalah dengan menggunakan matriks Internal factor Evaluation (IFE).
3). Analisis Matriks Internal dan Eksternal
Gabungan kedua matriks tersebut menghasilkan matriks Internal Eksternal (IE) yang berisikan sembilan macam sel yang memperlihatkan kombinasi total nilai terboboti dari matriks-matriks IFE dan EFE.
4). Analisisis Pengembangan Usaha.
Alat yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategik perusahaan adalah matriks SWOT. Matriks ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan untuk disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matriks ini dapat menghasilkan empat kemungkinan alternatif strategi.
Setelah memperoleh gambaran yang jelas mengenai kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan, maka selanjutnya dapat dipilih alternatif strategi yang akan diterapkan perusahaan dalam mengembangkan usahanya.
Dengan pilihan strategi yang tepat, perusahaan diharapkan dapat memanfaatkan kekuatan dan peluangnya untuk mengurangi kelemahan dan menghadapi ancaman yang ada. Melalui matriks SWOT didapatkan alternatif strategi untuk menentukan critical decision, agar perusahaan dapat menerapkan strategi yang tepat.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum
Kabupaten Bandung, ditinjau dari sumberdaya lahan dan ketersediaan teknologi, memiliki peluang untuk menjadi salah satu pemasok gandum di Jawa Barat. Upaya peningkatan produksi gandum dapat ditempuh melalui perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas. Disamping itu juga memerlukan peningkatan efisiensi produksi, penguatan kelembagaan petani, peningkatan mutu produk, peningkatan nilai tambah, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infrastruktur serta pengaturan tataniaga dan insentif usaha.
Dilihat dari rata - rata hasil per hektar, produktivitas gandum berfluktuasi dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh penanaman gandum di Kabupaten Bandung relatif masih baru dan belum berpengalamannya petani dalam menentukan waktu tanaman yang tepat di daerah Kabupaten Bandung. Namun demikian masih menunjukkan peningkatan produksi. Perkembangan produksi gandum di Jawa Barat menunjukkan bahwa usaha tani gandum di Kabupaten Bandung semakin berkembang dan memberikan prospek yang cerah di masa yang akan datang.
Tabel. 7. Perkembangan Luas tanam, Luas panen, Produksi dan Produktivitas Gandum di Kabupeten Bandung Tahun 2005-2008.
No. Tahun Luas Tanam (Ha) Luas Panen (Ha) Produksi (ton) Produktivitas (Kwintal/Ha) 1 2005 5 5 4.12 8.23 2 2006 10 10 18.32 18.32 3 2007 5 5 8.77 17.54 4 2008 21 21 42.72 21.00 5 2009 16 16 32.59 20.75
Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, 2009
Dari Tabel 7. terlihat bahwa sampai tahun 2006, terjadi peningkatan luas tanam, produksi dan produkstivitas gandum di Kabupaten Bandung. Pada tahun 2007 terjadi penurunan baik luas tanam produksi dan produktivitas. Hal ini di karenakan pada tahun 2007 terjadi kekeringan hebat, sehingga sulit dalam penentuan masa tanam gandum. Pada tahun 2008 terjadi peningkatan luas tanam, luas panen, produksi dan produktivitas gandum yang cukup signifikan di Kabupaten Bandung . Hal ini karena
sampai dengan tahun 2008 kondisi cuaca di Kabupaten Bandung cukup optimal untuk petani dalam melakukan usaha tani gandum. Selain itu juga didukung adanya perolehan bantuan dana dari pemerintah baik dalam bentuk APBD dan APBN untuk usaha tani gandum. Pada tahun 2009, penanaman gandum dilakukan di 2 kecamatan saja yakni Arjasari, Cikancung/Mandalasari. Hal ini dikarenakan petani melakukan penanaman dengan modal sendiri dan hanya mendapatkan bantuan pemerintah berupa bibit yang berasal dari APBD Kabupaten Bandung. Adapun penanaman gandum di Kabupaten Bandung tersebar di beberapa kecamatan, seperti Ciwidey, Sindang Kerta, Arjasari, Cikancung,Pasir Jambu, dan Mandalasari.
Masalah yang banyak dihadapi oleh petani gandum adalah penentuan masa tanam yang tepat. Dalam beberapa tahun terakhir kondisi cuaca di Kabupaten Bandung sulit di prediksi, hal ini karena musim hujan yang bergeser. Selain itu juga petani mengalami masalah dalam penanganan pasca panen dan juga pemasarannya. Selama ini petani menjual gandum dalam bentuk kering kepada pedagang pengumpul.
Pedagang pengumpul memiliki posisi yang cukup kuat untuk menentukan harga sehingga harga di tingkat petani menjadi rendah. Dengan adanya kegiatan pengolahan dan pemasaran hasil seperti yang sudah berjalan di Gapoktan Gandum memberikan kepastian harga dan pasar bagi petani gandum serta memutus rantai tataniaga gandum yang biasanya melalui pengumpul. Keberadaan agroindustri tepung gandum di Gapoktan Gandum, telah membantu petani mengatasi masalah penanganan pasca panen, sehingga dapat diterima pasar (industri makanan) dan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan tepung gandum di daerah tersebut khususnya di Kabupaten Bandung.
4.1.1. Unit Usaha Agroindustri Tepung Gandum
Lokasi unit usaha agroindustri tepung gandum yang dijadikan obyek kajian terletak di Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Unit usaha yang dijadikan obyek kajian adalah Unit Usaha Agroindustri Tepung Gandum di Gapoktan Gandum yang memiliki 1 unit alat perontok , 1 unit alat penyosoh, 1 unit alat penepung kapasitas 55 Kg/jam, 1 unit pengayak tepung.
Penggabungan kelompok tani ke dalam Gapoktan dilakukan agar kelompok tani dapat lebih berdaya dan berhasil guna, dalam penyediaan sarana produksi pertanian, permodalan, peningkatan atau perluasan usahatani ke sektor hulu dan hilir, pemasaran serta kerja sama dalam peningkatan posisi tawar (Peraturan Menteri Pertanian
No.273/Kpts/OT.160/4/2007 tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani).
Lokasi unit usaha agroindustri tepung gandum Gapoktan Gandum berada di Kecamatan Cikancung, memiliki lahan seluas 20 m2 yang terdiri dari bangunan tempat agroindustri tepung dan perlengkapannya. Lokasi usaha ini cukup strategik karena berada di sentra pertanaman gandum di Kabupaten Bandung .
Gapoktan diharapkan mampu melakukan fungsi-fungsi berikut :
a. Satu kesatuan unit produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar
b. Penyediaan sarana produksi pertanian (saprotan) dan menyalurkannya kepada para petani melalui kelompoknya
c. Penyediaan modal usaha dan menyalurkan secara kredit/pinjaman kepada para petani yang memerlukan
d. Melakukan proses pengolahan produk para anggota (penyosohan, penggilingan, pengepakan dan lainnya) yang dapat meningkatkan skor tambah
e. Menyelenggarakan perdagangan, memasarkan/menjual produk petani kepada pedagang/industri hilir.
Gapoktan Gandum merupakan sebuah organisasi petani gandum yang kuat. Petani yang bergabung dalam Gapoktan Gandum berlokasi di Kabupaten Bandung yang terdiri dari 2 kelompok tani dari 3 Desa. Jumlah petani yang tergabung dalam Gapoktan Gandum berjumlah 80 petani , dengan potensi lahan 35 Ha. Struktur organisasi unit usaha Agroindustri Tepung Gandum dapat dilihat pada Gambar 3 sebagai berikut :
Gambar 3. Struktur Organisasi unit usaha Agroindustri Tepung Gandum di Gapoktan Gandum, Kabupaten Bandung, Tahun 2009.
Ketua Gapoktan/ Manager Aep Wahyudin Sekretaris Rohmat Bendahara Asep Seksi Pemasaran Entu
Seksi Pemberdayaan Alat Yayan
Sebagaimana dinyatakan dalam Peraturan Menteri Pertanian No.273/Kpts/OT.160/4/2007 tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani, Gapoktan yang kuat dan mandiri dicirikan sebagai berikut :
a. Adanya pertemuan/rapat anggota/rapat pengurus yang diselenggarakan secara berkala dan berkesinambungan
b. Disusunnya rencana kerja Gapoktan secara bersama dan dilaksanakan oleh para pelaksana sesuai dengan kesepakatan bersama dan setiap akhir pelaksanaan dilakukan evaluasi secara partisipasi.
c. Memiliki aturan/norma tertulis yang disepakati dan ditaati bersama.
d. Memiliki pencatatan/pengadministrasian setiap anggota organisasi yang rapih.
e. Memfasilitasi kegiatan–kegiatan usaha bersama di sektor hulu dan hilir. f. Menfasilitasi usaha tani secara komersial dan berorientasi pasar.
g. Sebagai sumber, serta pelayanan informasi dan teknologi untuk usaha para petani umumnya dan anggota kelompok tani khususnya.
h. Adanya jalinan, kerjasama antara Gapoktan dengan pihak lain.
i. Adanya pemupukan modal usaha baik iuran dari anggota atau penyisihan hasil usaha/kegiatan Gapoktan.