DAN KOMPETENSI PRODUKSI KALIMAT BAHASA INGGRIS (The Relationship between Syntactic Structure Comprehension Competence and English
45 ELECT 1 121 SEE 21 157 VISIT 4
7.3.1 Analisis Kertas Kerja Kompetensi Comprehension
a) Ketidak pahaman tentang preposisi yang digunakan bersama verba intransitif
Dalam kompetensi comprehension, sebagian responden gagal mengidentifikasi perbedaaan verba intransitif dengan verba transitif sehingga menganggap verba yang digunakan secara salah dalam kalimat yang seharusnya menyertakan preposisi sebelum objeknya, merupakan kalimat yang benar secara gramatikal karena menganggap verba tersebut merupakan verba transitif dan dengan demikian bisa langsung diikuti oleh objek nomina (argumen tema). Di sisi lain, responden mungkin saja dipengaruhi oleh sistem bahasa pertama yang memungkinkan kalimat tanpa preposisi sebagai berterima secara sintaksis dan gramatikal. Terkait pengaruh bahasa
pertama, Ringbom
(http://www.jyu.fi/hum/laitokset/solki/afinla/julkaisut/arkisto/48/ringbom) mengatakan:
The L2-learner is constantly seeking to facilitate his task by making use of previous knowledge. The natural procedure for him when he is faced with new material or a new task is to try to establish a relation between the new material or task and what he already knows. In comprehension, then, L1-influence largely depends on what formal similarities the learner can perceive between L1 and L2 and to what extent L1-based procedures are really helpful for L2.
Dalam derajat tertentu, bahasa Indonesia memiliki kesamaan struktur sintaksis dengan bahasa Inggris, sebagai contoh, sama-sama memiliki pola kalimat S-V-O (NP-V-NP). Namun di sini kesamaan struktur sintaksis tidak selalu berlaku bagi makna leksikal verba dan karakteristik uniknya dalam bahasa Inggris. Bahasa Indonesia, di sisi lain, sangat kaya dengan kata berimbuhan yang memengaruhi makna leksikal sebuah kata. Dalam kasus ini, verba jump misalnya, dirujuk dalam pengetahuan sistem bahasa Indonesia oleh responden sebagai bermakna “melompati” bukan “melompat” sehingga
Model Summary .671a .451 .433 13.08041 .451 25.451 1 31 .000 Model 1 R R Square Adjusted R Square St d. Error of the Estimate R Square
Change F Change df 1 df 2 Sig. F Change Change Statistics
Predictors: (Constant), Sy ntactic St ructure Comprehension a.
kalimat The man is jumping the fence* diartikan menjadi “Laki-laki itu melompati pagar” dan tidak mengetahui bahwa kalimat tersebut memerlukan preposisi over sehingga jika diterjemahkan menjadi “melompat melewati pagar”. Hal yang sama terjadi pada kalimat lainnya, yakni The woman is listening music* (seharusnya
listening to), The man is looking the woman* (seharusnya looking at), dan The man is talking the money* (seharusnya talking about). Verba listen dan look mungkin juga
dicari padanannya dalam verba yang lain dalam bahasa Inggris yaitu hear dan see, yang merupakan verba transitif dan langsung bisa diikuti oleh objek nomina. Persentase responden yang memahami secara keliru kalimat seperti itu dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 6. Lack of Preposition Recognition
Ungrammatical sentences Responden yang men-
jawab sebagai benar
% Responden
The woman is listening music. 26 78,8
The man is looking the woman. 16 48,5
The man is talking the money. 12 36,4
The man is jumping the fence. 21 63,6
Rata-rata (mean) 18,75 56,82
b) Ketidak pahaman tentang penggunaan verba bersama objek nomina (obligatory two-place verb)
Ketika kalimat-kalimat yang diujikan kepada responden disusun sedemikian rupa, responden seolah-olah terpengaruh dengan kalimat yang berdekatan dengan kalimat yang mereka amati dan menganggap verba dalam kalimat yang diamati masuk dalam kategori yang sama dengan verba dalam kalimat yang berdekatan itu. 22 dari 33 responden menjawab salah untuk kalimat The girl is cutting* yang seharusnya diikuti oleh objek nomina atau argumen tema. Posisi kalimat tersebut yang berada di antara kalimat The boy is standing dan The dog is sitting di atas dan di bawahnya, membuat responden memutuskan bahwa kalimat The girl is cutting* sebagai kalimat yang berterima seperti kedua kalimat di antaranya. Mereka gagal mengidentifikasi verba transitif cut yang wajib mendapatkan objek nomina (argumen tema) dan menganggap
cut sebagai verba yang berkategori sama dengan verba intransitif stand dan sit.
Kasus yang sama terjadi pada kalimat dengan verba transitif yang diletakkan berdekatan dengan kalimat yang menggunakan verba intransitif seperti berikut:
“The boy is pushing*” versus “The man is swimming”.
“The girl is hitting on the wall*” versus “The girl is dancing in the field”.
“The woman is buying in the market*” versus “The boy is standing against
the wall”.
“The girl is picking*” versus “The girl is dancing”.
“The man is pulling*” versus “The woman is listening”.
Persentase responden yang tidak mengenali atau memahami verba transitif dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:
Tabel 7. Lack of Obligatory Two-place Verb Recognition
Ungrammatical sentences Responden yang men-
jawab sebagai benar
% Respon- den
The girl is cutting. 22 66,6
The boy is pushing. 21 63,6
The girl is hitting on the wall. 26 78,8
The woman is buying in the market. 15 45,5
The girl is picking. 16 48,5
The man is pulling. 17 51,5
Rata-rata (mean)
19,5 59.08
c) Ketidak pahaman tentang penggunaan prepositional phrase dalam kalimat (obligatory three-place verb)
Keterkaitan makna leksikal dengan struktur sintaksis belum dikuasai responden dengan baik. Hal tersebut terbukti dengan tidak dipahaminya verba yang mewajibkan argumen tujuan untuk melengkapi makna utuh kalimat tersebut. Kembali lagi di sini responden menyasar database sistem kognisi mereka yang mengacu pada sistem bahasa pertama dalam memutuskan kalimat yang tersaji sebagai kalimat berterima atau tidak berterima. “The man is putting the book*” dikategorikan sebagai kalimat berterima secara gramatikal oleh 26 dari 33 responden. Dalam bahasa Indonesia, verba
put memiliki pengertian “meletakkan” atau “menaruh”.
Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), verba “meletakkan” dan “menaruh” secara umum menyertakan pelengkap penyerta dalam kalimat agar kalimat tersebut utuh seperti “…. meletakkan/menaruh buku di atas meja”, sama dengan bahasa Inggris yang mensyaratkan argumen tujuan, seperti “… putting the book on the
desk” (obligatory three-place verb). Namun dalam bahasa Indonesia ada kalimat yang
tidak memerlukan pelengkap penyerta untuk verba “meletakkan” dan secara struktural gramatikal berterima seperti dalam “…. meletakkan jabatan” yang artinya “melepaskan” atau “tidak melaksanakan lagi”. Dengan demikian, “meletakkan” memiliki makna yang berbeda dengan “menaruh”. Persoalannya, apakah makna yang berbeda ini disadari oleh responden?
Adjunct yang digunakan bersama dalam kalimat “The woman is giving the present in the morning” bisa saja menjadi distractor bagi responden dengan menganggap frasa
“in the morning” sebagai pelengkap yang membuat kalimat tersebut utuh secara maknawi. Tampaknya responden belum memiliki pengetahuan tentang elemen struktural semantik yang bersifat wajib maupun optional meskipun dalam proses pembelajaran terkait unsur struktur kalimat sederhana atau clause types (David Crystal; Greenbaum, Sidney. 1996; Quirk, Leech, & Svartvik,1997) telah dipelajari sebelum tes comprehension diberikan.
Secara keseluruhan kalimat yang dihilangkan argumen tujuannya beserta jumlah dan persentase responden yang salah dalam menjawab dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 8. Lack of Obligatory Three-place Verb Recognition
Ungrammatical sentences Responden yang men-
jawab sebagai benar %
Responden
The woman is giving the book. 23 69,7
The man is putting the book at night. 20 60,6
The man is putting the book. 26 78,8
The woman is giving the present in the morning.
24 72,7
Rata-rata (mean) 23,25 70,45 Secara keseluruhan, jumlah jawaban responden yang terbagi dalam jawaban yang salah dan benar untuk setiap butir kalimat yang menguji kompetensi pemahaman mereka terhadap struktur gramatika bahasa Inggris dapat dibaca dalam tabel di bawah ini:
NO Grammatical and Ungrammatical Sentences Correct Answer False Answer Total Respond 1 The boy is swimming the girl. 32 1 33