• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KASUS PENGAJARAN MENYIMAK Apriliya Dwi Prihatiningtyas

ORANG CINA DI INDONESIA, BUKAN ORANG CINA CHINESE PEOPLE IN INDONESIA, NOT CHINESE

C. Dewi Hartati Program Studi Sastra Cina,

2. Metodologi Penelitian

Sesuai dengan tujuan penelitian ini, maka penelitian ini bersifat eksploratif dan deskriptif. Penelitian eksploratif bertujuan untuk memperdalam pengetahuan mengenai suatu gejala tertentu atau mendapat ide-ide baru mengenai gejala itu sehingga dapat merumuskan masalah secara lebih terperinci. Penelitian ini juga bersifat deskriptif karena penelitian ini akan memberikan gambaran yang secermat mungkin mengenai suatu keadaan, gejala atau kelompok tertentu.

Data untuk penelitian ini dikumpulkan melalui studi kepustakaan, wawancara, dan observasi.Penelitian kepustakaan dilakukan untuk memperoleh data, yaitu konsep-konsep. Penelitian lapangan akan dilakukan melalui wawancara, penyebaran angket dan observasi.Penelitian lapangan akan dilakukan di suatu organisasi marga.

Sesuai dengan tujuan penelitian ini, maka penelitian ini bersifat eksploratif dan deskriptif. Penelitian eksploratif bertujuan untuk memperdalam pengetahuan mengenai suatu gejala tertentu atau mendapat ide-ide baru mengenai gejala itu sehingga dapat merumuskan masalah secara lebih terperinci. Penelitian ini juga bersifat deskriptif karena penelitian ini akan memberikan gambaran yang secermat mungkin mengenai suatu keadaan, gejala atau kelompok tertentu.

Data untuk penelitian ini dikumpulkan melalui studi kepustakaan dan wawancara.Penelitian kepustakaan dilakukan untuk memperoleh data, yaitu konsep-konsep, teori dan pembahasan dari tema penelitian ini. Kepustakaan mengenai nama keluarga sebagai identitas etnis akan ditinjau berdasarkan tiga bahasa, yaitu Bahasa Inggris, Indonesia, dan Mandarin. Secara sederhana identitas dipahami sebagai konsep pribadi mengenai diri di dalam sebuah konteks sosial, geografis, budaya, dan politik. Wawancara dilakukan untuk mengetahui dan memahami tanggapan orang keturunan Cina mengenai konsep identitas atau jati diri mereka.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Menurut Mathews dalam Samovar dkk, identitas adalah bagaimana diri menyusun dirinya sendiri dan label untuk dirinya sendiri.(Samovar dkk, 2007:11). Dalam identitas budaya

dan sosial terdiri atas identitas gender, identitas usia, identitas ras, identitas etnis, identitas agama, identitas kelas , dan identitas pribadi identitas nasional, identitas regional.

Identitas etnik adalah sebuah cirri yang melekat pada suatu etnik tertentu yang membedakannnya dari kelompok etnik lain.Setiap kelompok etnis memiliki cirri-ciri tersendiri dan akan selalu melekat dan dilestarikan oleh para pemiliknya. (Barth, 1988). Kelompok etnis merupakan suatu tatanan sosial bila para pemiliknya menggunakan identitas social tersebut dalam berinteraksi.

Identitas etnis juga merupakan suatu ikatan masa lampau yang akan terus dipertahankan dan mengikat di antara anggota-anggotanya dan membuat seseorang memiliki suatu harapan yang berkenaan dengan etnisitasnya. Identitas etnis ini ditransfer atau diteruskan dari generasi ke generasi melalui sosialisasi. Di mana identitas tersebut terbentuk melalui sosialisasi dalam keluarga maupun lingkungan di mana ia tinggal. Identitas juga merupakan suatu hasil dari suatu interaksi sosial.

Identitas adalah sesuatu yang dinamis yang senantiasa berubah dari waktu ke waktu, ia bisa saja berubah ketika masyarakat mengalami perubahan ( Thung, Julan, 1998:1). Peneliti berasumsi adanya sebutan istilah bukan Cina bukan Indonesia karena sebagai keturunan etnis Cina dan sebagai salah satu suku yang ada dan diam di Indonesia, mereka sering memunculkan identitas etnis keCinaannya meskipun sudah tidak dapat berbicara bahasa Mandarin lagi. Identitas etnis ini sering dimunculkan manakala berada dalam situasi tertentu. Identitas mutlak dipertahankan dan senantiasi berubah seperti sifat kebudayaan yang dinamis. Penyebutan ini juga timbul karena penulis beranggapan adanya istilah seperti Cina Sukabumi, Cina Medan, Cina Surabaya yang sering menimbulkan kerancuan. Istilah ini akan membawa dampak meskipun ada cirri kedaerahan atau lokalitas seperti Sukabumi, Medan, Surabaya namun masih tetap memunculkan kata Cina sehingga etnis Cina sering dianggap sebagai etnis di luar suku-suku yang ada di Indonesia. Peneliti berasumsi penyebutan istilah untuk mengacu pada etnis Cina menyebabkan terbentuknya identitas etnis itu sendiri.

Orang Tionghoa di Indonesia sangat unik karena keberadaan mereka sangat berbeda dan tidak dapat disamakan dengan orang keturunan Tionghoa di Negara manapun. Menurut Wang Gungwu, dalam The Chinese in Indonesia, skala guncangan politik dan ekonomi yang dialami oleh Indonesia sepanjang sejarah negeri ini tidak dialami orang Cina manapun di negara lain. Cara orang Indonesia Tionghoa menananggapi lingkungan mereka bersifat unik karena lingkungan yang mereka hadapi tidak terdapat di tempat lain.Orang Indonesia Cina hidup dengan kondisi sosial, politik dan sejarah yang rumit selama beberapa generasi. Selama penjajahan, dengan politik devide et impera, dan sistem ras tripartit yang membagi masyarakat dalam tiga golongan, menempatkan etnis ini di bawah orang Belanda, dan di atas kaum pribumi Indonesia.

Pembantaian orang Cina di Jawa pada tahun 1740 oleh pemerintah Belanda untuk menekan perkembangan etnis ini telah menyebabkan etnis ini menjadi korban pemerintah kolonial Belanda. Kaum pribumi pun membenci mereka karena golongan ini secara sosial berada di atas orang pribumi yang merupakan penduduk asli.

Setelah Indonesia merdeka, masalah yang dihadapi etnis ini adalah masalah kewarganegaraan mereka.Mereka dapat memilih untuk menjadi orang Indonesia atau menolak kewarganegaraan Indonesia selama kurun waktu dua tahun

(1949-1951).Keputusan tahun 1949, menyebabkan lahirnya dua golongan yaitu golongan peranakan dan totok.Selama masa pemerintahan Presiden Soeharto dan masa Orde Baru, nyaris etnis Cina tidak memiliki identitas etnis mereka.Segala bentuk penggunaan bahasa, praktik budaya dilarang pemerintah.

Akan tetapi ternyata dengan kebijakan asimilasi yang dipaksakan pemerintah dan segala bentuk larangan pelaksanaan budaya Cina, budaya dan tradisi tetap dipertahankan baik secara individu maupun keluarga. Hal ini dapat terlihat dari adanya film atau lagu Mandarin yang menjadi favorit sebagian besar orang keturunan etnis Cina..Meskipun film Mandarin tidak menggunakan bahasa Mandarin tetapi tetap dapat memperkuat kesadaran identitas etnis. Dengan melihat film-film seperti kungfu yang menggambarkan tradisi dan nilai budaya Cina menumbuhkan kesadaran bahwa mereka adalah keturunan bangsa Cina. Jatuhnya pemerintahan orde Baru pada 1998 yang diiringi dengan terjadinya kerusuhan etnis, di mana etnis Cina menjadi korban penjarahan, perkosaan telah menyebabkan trauma mendalam bagi etnis ini.Setelah masa reformasi, di mana era reformasi dan kebebasan mulai dapat dirasakan oleh etnis Cina. Mereka dapat dengan bebas mempelajari bahasa Mandarin, menyanyikan lagu-lagu Mandarin, terbitnya koran dan majalah-majalah berbahasa Cina, menonton film Mandarin, membuat etnis Cina dapat merasakan bangkitnya kembali identitas etnis mereka. Mereka dapat memunculkan nama Tionghoa, memeluk keyakinan tradisinya dan dapat mengakui identitas etnis baik pribadi maupun sosial sebagai orang Cina.

Di Negara Cina sendiri untuk menyebut orang keturunan etnis Cina adalah Huaqiao atau Huaren (华侨/华人)。Namun apakah istilah ini masih dapat diterima untuk menyebut orang keturunan etnis Cina di Indonesia? Adanya asimilasi mewajibkan masyarakat Cina untuk melepaskan semua kebudayaan dan bahasa Mandarin. Penggunaan aksara Cina, perayaan tahun baru Imlek dan semua bentuk kebudayaan Cina dilarang. Adanya peraturan pada tahun 1968 untuk mengganti nama Cina dengan nama Indonesia untuk menunjukkan komitmen terhadap Negara Indonesia. Seberapa lama pun orang Cina tinggal di Indonesia, orang pribumi masih menyisakan kecurigaan terhadap etnis ini, seperti yang diungkapkan oleh Skinner (1967) sebagai sindrom sekali Cina tetap Cina.

Orang keturunan etnis Cina di Indonesia tetap merupakan masyarakat huaqiao (Tionghoa perantauan) yang menganut nilai budaya yang sama seperti guanxi 关系( memelihara hubungan jejaring dalam kegiatan usaha), adat kekeluargaan, naluri dagang dan bakat dalam mengumpulkan harta ( Ong, 1999)

Bagi sebagian orang keturunan Cina yang lahir setelah tahun 1966, mereka tidak dapat berbahasa Mandarin dan menjalankan tradisi budayanya. Mereka hanya dapat berbicara, menulis dan membaca bahasa Indonesia saja. Walaupun mereka tidak dapat berbahasa Mandarin, mereka menyukai film-film Mandarin biasanya berupa film Kungfu yang diimpor dari Hongkong dan Taiwan seperti The Legend of the Condor Heroes, The Return of the Condor Heroes, Drunken Master, The Shaolin Temple, dan lain-lain. Thompson (1995) menyatakan bahwa media komunikasi dapat digunakan oleh kelompok migran dan kaum minoritas untuk melanjutkan keberadaan kebudayaan mereka. Media komunikasi menyediakan cara bagi kelompok ini untuk menempatkan ulang konteks tradisi dan sejarah. Namun walaupun terdapat peraturan yang tersebut tetap ada orang tua yang diam-diam membayar guru untuk mengajar anak-anaknya berbahasa Mandarin..

Berdasarkan wawancara dan observasi serta penelitian terhadap beberapa keturunan Tionghoa, mereka berasal dari Sukubangsa Ke dan Hokkian. Dari sukubangsa Ke yaitu bermarga Xu (许)dan marga Cai (蔡). Mereka menggunakan nama Indonesia karena mereka adalah generasi muda yang lahir setelah tahun 1966. Akan tetapi mereka mengetahui nama Tionghoa dari orang tua dan kakek (公公)gonggong. Mereka menyatakan mereka masih menggunakan nama dan mempertahankan identitas sebagai etnis Cina jika ada acara berkumpul keluarga besar khususnya dari pihak ayah karena ayah masih mempertahankan tradisi. Ada juga yang digunakan jika sedang les privat karena guru pembimbing hanya memanggil dengan nama Tionghoa. Dalam kehidupan sehari-hari nama Tionghoa tidak pernah dipakai.

Seorang yang bermarga Tan mengaku ia tidak dapat berbahasa Mandarin tapi dengan kecintaannya menonton film Mandarin dan mendengar lagu Mandarin menyebabkan ia kemudian belajar bahasa Mandarin dan budaya Cina. Menurutnya dengan menguasai bahasa Mandarin dan memahami budaya Cina tidak saja dapat memperkuat identitas budaya sebagai orang keturunan Cina akan tetapi juga sebagai alasan praktis untuk dapat melakukan bisnis.

Kebanyakan dari anak muda Tionghoa tidak dapat berbicara menggunakan bahasa dialek daerah Cina. Bahasa dialek biasanya dipahami dan dikuasai oleh orang tuanya. Bagi mereka yang lahir setelah zaman Orde Baru dapat dikatakan tidak lagi dapat berbicara bahasa Mandarin ataupun bahasa Cina dialek daerah masing-masing. Seorang informan yang lahir pada tahun 1970-an mengatakan dia sangat senang menonton film Mandarin walaupun film tersebut sudah dialihsuarakan dalam bahasa Indonesia. Dia tidak membaca koran ataupun majalah bahasa Cina karena memang saat itu sulit didapat.Menurutnya dengan menonton film Kungfu Mandarin dapat membawanya ke dalam suatu pemahaman budaya Cina dan nilai-nilai budaya serta kekeluargaan.

Orang keturunan Tionghoa sangat senang menonton film Mandarin, mendengar lagu Mandarin. Awalnya mereka menonton film Mandarin dengan bahasa Inggris atau yang dialihsuarakan dalam bahasa Indonesia karena adanya larangan mengenai budaya dan penggunaan bahasa Cina. Mereka juga tidak dapat berbicara bahasa Mandarin.Dengan melihat film Mandarin dan mendengarkan lagu-lagu Mandarin menimbulkan kesadaran etnisitas mereka. Walaupun dilahirkan, besar di Indonesia, memakai nama Indonesia, tidak dapat berbicara bahasa Mandarin, dengan melihat dan mendengar film Mandarin, melihat seni budaya ataupun lagu menimbulkan ingatan akan suatu negeri yaitu Cina yang memang sangat tidak ada hubungannnya dengan orang keturunan etnis Cina akan tetapi tetap membawa suatu kenangan.

Keyakinan religi orang keturunan Tionghoa yang menjadi informan saya sebagian besar Buddha ada juga yang Kristen, dan Meskipun mereka beragama Budha namun mereka masih pergi ke Klenteng bukan Wihara karena orangtuanya masih memeluk Konghucu.Kepercayaan orang tua mereka masih Samkauw yaitu gabungan tiga ajaran Budha, Konghucu dan Taoisme. Mereka masih mengikuti perayaan tradisional Tionghoa seperti Imlek, Cap Gomeh, Pehcun, Cengbeng, Cioko, Sembahyang ce it cap go setiap bulannnya.

Mereka masih mengerti makna perayaan-perayaan tersebut. Pemahaman kebudayaan sangat penting sebagai penguat identitas. Film ataupun lagu dapat memperkuat kesadaran identitas etnis mereka.Salah satu hal yang dirasakan oleh para keturunan Tionghoa adalah

menonton film Mandarin, mendengar lagu Mandarin sangat membantu ingatan akan identitas mereka. Media elektronik berperan sebagai penguat rasa jati diri kebangsaan.Interaksi dengan medeia elektronikdapat mempengaruhi pembentukan identitas atau jati diri budaya. Keinginan untuk mempertahankan tradisi dan budaya nampaknya lebih kuat pengaruhnya dari pada kebijakan asimilasi yang dipaksakan.

Kebijakan asimilasi yang berupaya menghapus nilai budaya dan identitas Cina, saya melihat sebagai upaya yang tidak sepenuhnya berhasil karena meskipun orang Tionghoa mengganti nama dengan nama Indonesia, tidak lagi berbahasa Mandarin, namun tetap saja mereka (orang keturunan Cina ) menemukan cara dan jalan untuk menembus berbagai kebijakan ini untuk mencari dan menjalankan berbagai aspek kebudayaan Tionghoa yang sulit mereka peroleh. Dorongan pada orang keturunan Cina untuk mempertahankan jati diri mereka sebagai orang Cina dan kebudayaan Cina dipengaruhi oleh beberapa faktor atau latar belakang, yaitu :

1. Keluarga.

- Keluarga yang masih mempertahankan tradisi dengan diam-diam menjalankan upacara budaya seperti Imlek, Cap Gomeh, Pehcun, Cengbeng, Cioko, Sembahyang ce it cap go setiap bulannnya, menurunkan dan mewarisi budaya turun temurun ke generasi berikutnya untuk mempertahankan identitas budaya. - Para orang tua diam-diam mengajarkan anak atau meminta guru pembimbing

untuk mengajarkan anak-anaknya bahasa Mandarin, menulis aksara Cina dan berbahasa Cina.

2. Daerah asal.

- Daerah asal seperti Kalimantan, Medan di mana para keturunan Cina masih menggunakan bahasa dialek Hakka, Kokian akan terasa kental identitas Cina mereka. Dalam bercakap-cakap dengan sesama etnis Cina mereka tetap menggunakan bahasa dialek mereka.

- Di sekolah mereka menggunakan bahasa Indonesia, bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia dengan orang bukan keturunan Cina.

3. Agama

- Bagi keturunan Cina yang beragama Buddha, biasanya mereka masih memelihara tradisi budaya mereka. Karena ketika pemerintah Orba hanya mengakui lima agama yaitu Islam, Buddha, Hindu, Kristen, dan Katolik dengan demikian para penganut Konghucu atau Samkauw memilih Budha dan beribadah di wihara, namun masih menyembah dewa-dewa secara individu. - Banyak keturunan Tionghoa menganut ajarah tridarma atau gabungan tiga

ajaran yaitu Budha, Konghucu dan taoisme. Ketika ajaran ini dipraktikkan bersama-sama dalam kehidupan sehari-hari dan membaur dalam pranata sosial mereka.

Setelah era reformasi, di mana sudah tidak ada lagi batas dan larangan masyarakat keturunan Cina dapat dengan bebas menjalankan semua tradisi budayanya, bebas mempelajari bahasanya.Penguasaan Bahasa Mandarin sangat penting, media seperti Koran, majalah, buku berbahasa Mandarin, film ataupun lagu dapat dengan bebas dikonsumsi. Bagi masyarakat Cina hal ini adalah suatu yang sangat didambakan karena dapat melestarikan tradisi budayanya, akan tetapi jika hal ini dapat mempengaruhi dan memperkuat identitas atau jati diri budaya sebagai orang Cina tentulah akan menimbulkan benturan bagi kesatuan bangsa. Oleh karena itu meskipun masing-masing kelompok etnis dapat dengan bebas menjalankan tradisi budaya masing-masing diharapkan identitas

bangsa lah yang dimunculkan dalam berinteraksi dengan kelompok lainnya agar tercipta keharmonisan hidup berbangsa.

Sehingga istilah bukan Cina bukan Indonesia sebenarnya melukiskan bagaimana orang keturunan Tionghoa tersebut bukanlah orang Cina karena di Negara Cina pun mereka adalah orang asing, namun karena mereka masih sangat mempertahankan identitas keTionghoaannya maka sering oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, para keturunan etnis Cina tidak dianggap sebagai orang Indonesia. Demikian juga dengan istilah penyebutan Cina Medan, Cina Surabaya, Cina Sukabumi yang sering disebutkan. Adanya penyebutan istilah ini sebenarnya untuk menunjukkan lokalitas dan kedaerahan mereka. Akan tetapi penyebutan ini malah akan lebih menonjolkan sifat ke Cinaan daripada lokalitas atau kedaerahan.