• Tidak ada hasil yang ditemukan

dari 1 tahun Jumlah terutang Per 31 Maret 2020

4. ANALISIS KEUANGAN

No Nama Bank Fasilitas Jatuh tempo

dalam 1 tahun Jatuh tempo lebih

dari 1 tahun Jumlah terutang Per 31 Maret 2020 fasilitas pinjaman

transaksi khusus 2

The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd., fasilitas pinjaman berjangka A, fasilitas pinjaman berulang

Rp 250.000 juta Rp 500.000 juta Rp 750.000 juta

3 PT Bank BTPN Tbk. fasilitas pinjaman berulang, fasilitas pinjaman berjangka

- Rp1.500.000 juta Rp1.500.000 juta

4 PT Bank Permata, Tbk.

fasilitas pinjaman berulang

Rp800.381 juta - Rp800.381 juta

5 Bank of China (Hong Kong) Limited

Fasilitas pinjaman berjangka

- Rp875.000juta Rp875.000juta 6 JPMorgan Chase

Bank, N.A. Fasilitas pinjaman bergulir/

revolving loan, fasilitas cerukan

- Rp444.088juta Rp444.088juta

7 PT Bank HSBC fasilitas pinjaman berulang, fasilitas pinjaman berjangka

Rp350.000 juta Rp650.000 juta Rp1.000.000 juta

8 PT Bank Mizuho fasilitas pinjaman berjangka

- Rp500.000 juta Rp500.000 juta 9 PT Bank Central

Asia Tbk. fasilitas pinjaman berulang, fasilitas kredit investasi

Rp1.200.286 juta Rp2.000.810 juta Rp3.201.096 juta

Total - IDR Rp3.170.667 juta Rp10.677.752 juta Rp 13.848.419 juta

Fasilitas Pinjaman JPY

No Nama Bank Fasilitas Jatuh tempo

dalam 1 tahun

Jatuh tempo lebih dari 1 tahun

Jumlah terutang Per 31 Maret 2020 1

The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd.,

Fasilitas pinjaman bergulir

- JPY5.719.500.000 JPY5.719.500.000

Ekuivalen rupiah Rp862.855 juta Rp862.855 juta

Total - JPY - JPY5.719.500.000 JPY5.719.500.000

Dikurangi: Biaya pinjaman yang belum diamortisasi

(Rp2.959 juta) (Rp96.930 juta) (Rp99.889 juta)

Grand total Rp3.167.708 juta Rp 11.443.677 juta Rp14.611.385 juta

Dalam pemenuhan kewajiban terhadap bank atas fasilitas kredit yang diterima, rasio yang dipersyaratkan adalah Rasio Utang Bersih Terhadap EBITDA berjalan dengan rasio yang disyaratkan tidak lebih dari 5,00 dan Rasio Penutupan Pembayaran Utang disyaratkan lebih besar dari 1,30. Per 31 Maret 2020, rasio penutupan pembayaran utang Perseroan sebesar 2,81 dan rasio utang bersih terhadap EBITDA sebesar 5,88.

3. KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING

Tidak terdapat perubahan kebijakan akuntansi dalam jangka waktu 2 (dua) tahun buku terakhir Perseroan.

4. ANALISIS KEUANGAN

Analisa mengenai kondisi keuangan Perseroan diambil dan dihitung berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasian Perseroan dan entitas anaknya tanggal 31 Desember 2019 dan 2018, serta untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, yang disusun oleh manajemen Perseroan sesuai dengan Standar

44

Akuntansi Keuangan di Indonesia dan disajikan dalam mata uang Rupiah, yang seluruhnya tercantum dalam Prospektus ini dan telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja (firma anggota Ernst & Young Global Limited) berdasarkan Standar Audit yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Publik Indonesia (“IAPI”) dan ditandatangani oleh Hanny Widyastuti Sugianto, CPA (Registrasi Akuntan Publik No.AP.1563) dan Feniwati Chendana, CPA (Registrasi Akuntan Publik No.AP.0694) yang masing-masing menyatakan opini wajar tanpa modifikasian dan berisi paragraf “hal lain” yang menyatakan tujuan diterbitkannya laporan auditor independen tersebut, sebagaimana yang tercantum dalam laporan-laporan auditor independen terkait No.01336/2.1032/AU.1/10/1563-1/1/VI/2020 bertanggal 19 Juni 2020 dan No.01335/2.1032/AU.1/10/0694-3/1/VI/2020 bertanggal 19 Juni 2020 yang juga tercantum dalam Prospektus ini.

4.1. Kinerja Keuangan

Tabel berikut ini menyajikan perkembangan pendapatan, beban pokok penjualan, laba sebelum pajak dan laba tahun berjalan Perseroan untuk periode yang disajikan:

(dalam jutaan Rupiah)

Keterangan 31 Desember

2019 2018

Pendapatan 6.454.302 5.867.860

Depresiasi dan Amortisasi (1.349.042) (1.113.789)

Beban Pokok Pendapatan (1.807.370) (1.541.309)

Laba Bruto 4.646.932 4.326.551

Laba Usaha 3.990.440 3.802.723

Laba Sebelum Beban Pajak Final dan Pajak Penghasilan 3.071.141 2.963.719

Laba Sebelum Beban Pajak Penghasilan 2.966.712 2.940.142

Laba Tahun Berjalan 2.417.490 2.210.220

Penghasilan (Rugi) Komprehensif Lain (78.263) 56.455

Total Penghasilan Komprehensif Tahun Berjalan 2.339.227 2.266.675

Berikut ini adalah rincian pendapatan Perseroan:

(dalam jutaan Rupiah)

Keterangan 31 Desember

2019 2018

Pihak ketiga

Sewa menara 5.579.993 5.337.384

Sewa VSAT 345.107 246.898

Sewa MWIFO 413.833 190.843

Sewa pemancar - 64

Sub-total 6.338.933 5.775.189

Pihak berelasi

Sewa menara 2.765 1.301

Sewa VSAT 57.431 46.050

Sewa MWIFO 55.173 45.320

Sub-total 115.369 92.671

Total 6.454.302 5.867.860

Perbandingan Pendapatan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2018

Pendapatan Perseroan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 adalah sebesar Rp6.454.302 juta meningkat sebesar 9,99% atau Rp586.442 juta dibandingkan Pendapatan pada tahun 2018. Peningkatan ini disebabkan oleh portofolio menara kami meningkat sebesar 1.882 menara, atau 10,79%, dari 17.437 menara pada tahun yang berakhir 31 Desember 2018 menjadi 19.319 menara pada tahun yang berakhir 31 Desember 2019. Jumlah sewa lokasi menara kami meningkat sebesar 5.027 sewa lokasi, atau 17,75%, dari 28.319 pada tahun yang berakhir 31 Desember 2018 menjadi 33.346 pada tahun yang berakhir 31 Desember 2019. Peningkatan pendapatan berasal dari sewa lokasi baru, dan tambahan sewa peralatan sehubungan dengan ekspansi dari operator besar telekomunikasi ke luar Jawa termasuk juga meningkatkan kapasitas jaringan di Jawa. Sedangkan peningkatan pendapatan iForte adalah hasil dari adanya peningkatan urbanisasi

45

dan permintaan konsumen layanan data di area dengan tingkat data trafic yang tinggi. Pendapatan dari VSAT dan MWIFO bisnis bertumbuh sebesar Rp342.432 juta, atau 64,72% dari Rp529.111 juta di tahun 2018 menjadi Rp871.543 juta di tahun 2019.

Perbandingan Depresiasi dan Amortisasi untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2018

Depresiasi dan Amortisasi Perseroan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 adalah sebesar Rp1.349.042 juta meningkat sebesar 21,12% atau Rp235.253 juta dibandingkan Depresiasi dan Amortisasi pada tahun 2018. Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan depresiasi aset tetap sebesar Rp14.025 juta atau 2,48% dari Rp564.753 juta di tahun 2018 menjadi Rp578.778 juta di tahun 2019 seiring dengan penambahan aset menara sebesar 1.882 menara (10,8%).

Perbandingan Beban Pokok Pendapatan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2018

Beban Pokok Pendapatan Perseroan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 adalah sebesar Rp1.807.370 juta meningkat sebesar 17,26% atau Rp266.061 juta dibandingkan Beban Pokok Pendapatan pada tahun 2018. Peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan biaya yang berhubungan dengan sewa transponder, yang meningkat sebesar Rp5.176 juta, atau 6,05%, dari Rp85.623 juta pada tahun 2018 menjadi Rp90.799 juta pada tahun 2019, sewa internasional dan local link, yang meningkat sebesar Rp8.093 juta, atau 16,55% dari Rp48.900 juta pada tahun 2018 menjadi Rp56.993 juta pada tahun 2019 dan biaya listrik, yang meningkat sebesar Rp1.788 juta, atau 6,51% dari Rp27.479 juta pada tahun 2018 menjadi Rp29.267 juta pada tahun 2019. Peningkatan ini sehubungan dengan pertumbuhan kabel serat optik dan VSAT dari iForte.

Khususnya, peningkatan biaya ini disebabkan oleh bisnis baru dari Menteri Komunikasi dan Informatika untuk meningkatkan kapasitas sebagai pengguna utama jasa layanan VSAT untuk mendukung layanan internet daerah terpencil di Indonesia.

Perbandingan Laba Bruto untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2018

Laba Bruto Perseroan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 adalah sebesar Rp4.646.932 juta meningkat sebesar 7,40% atau Rp320.381 juta dibandingkan Laba Bruto pada tahun 2018. Peningkatan ini disebabkan oleh konsumsi data melalui perangkat nirkabel yang meningkat sebesar 50% pada tahun 2019, sehingga pendapatan dari pemakaian data menjadi salah satu sumber pertumbuhan pendapatan tertinggi bagi semua operator. Dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi tersebut, operator harus memperluas jangkauan dan memperbanyak perangkat telekomunikasi dalam jaringan mereka dengan memberi order membangun tower-tower baru atau menyewa tower-tower yang sudah ada, hal ini tercermin dalam jumlah penyewa juga bertambah sebanyak 5.027 penyewa sehingga mencapai 33.346 penyewa pada akhir tahun. Kami juga telah berhasil memperpanjang kontrak sewa dengan lebih dari 7.300 penyewa untuk 10 tahun mendatang. Dengan demikian menghasilkan kenaikan rasio jumlah penyewa terhadap tower menjadi 1,73x dari sebelumnya 1,62x di tahun 2018.

Perbandingan Laba Usaha untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2018

Laba Usaha Perseroan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 adalah sebesar Rp3.990.440 juta meningkat sebesar 4,94% atau Rp187.717 juta dibandingkan Laba Usaha pada tahun 2018. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya pendapatan yang di offset oleh depresiasi sesuai dengan yang telah dijelaskan di atas.

46

Perbandingan Laba Sebelum Beban Pajak Final dan Pajak Penghasilan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2018

Laba Sebelum Beban Pajak Final dan Pajak Penghasilan Perseroan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 adalah sebesar Rp3.071.141 juta meningkat sebesar 3,62% atau Rp107.422 juta dibandingkan Laba Sebelum Beban Pajak Final dan Pajak Penghasilan pada tahun 2018. Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan laba usaha sebesar Rp 187.717 juta dan pendapatan bunga sebesar Rp5.311 juta, yang tidak sebanding dengan kenaikan beban keuangan sebesar Rp 85.606 juta.

Perbandingan Laba Sebelum Beban Pajak Penghasilan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2018

Laba Sebelum Beban Pajak Penghasilan Perseroan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 adalah sebesar Rp2.966.712 juta meningkat sebesar 0,90% atau Rp26.570 juta dibandingkan Laba Sebelum Beban Pajak Penghasilan pada tahun 2018. Peningkatan ini lebih kecil dari peningkatan laba sebelum beban pajak final dan pajak penghasilan disebabkan oleh meningkatnya beban pajak final sebesar Rp 80.852 juta.

Perbandingan Laba Tahun Berjalan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2018

Laba Tahun Berjalan Perseroan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 adalah sebesar Rp2.417.490 juta meningkat sebesar 9,38% atau Rp207.270 juta dibandingkan Laba Tahun Berjalan pada tahun 2018. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya laba sebelum pajak penghasilan dan menurunnya beban pajak penghasilan.

Perbandingan Penghasilan (Rugi) Komprehensif Lain untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2018

Penghasilan Komprehensif Lain untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2018 adalah sebesar Rp56.455 juta menjadi Rugi Komprehensif Lain untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 sebesar Rp78.263 juta yang diakibatkan oleh penurunan keuntungan neto dari lindung nilai arus kas yaitu sebesar Rp 99.863 juta atau 352,81% dari keuntungan Rp28.305 juta pada tahun 2018 menjadi kerugian sebesar Rp71.558 juta pada tahun 2019. Penurunan juga disebabkan oleh penurunan keuntungan aktuarial pada tahun 2019 sebesar Rp 27.041 juta atau sebesar 135,01% dari keuntungan Rp20.029 juta pada tahun 2018 menjadi kerugian sebesar Rp7.012 juta pada tahun 2019.

Perbandingan Total penghasilan komprehensif tahun berjalan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2018

Total penghasilan komprehensif tahun berjalan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 adalah sebesar Rp 2.339.227 juta meningkat sebesar Rp 72.552 juta atau 3,20% dibandingkan total penghasilan komprehensif tahun berjalan 2018. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya laba tahun berjalan.

4.2. Pertumbuhan aset, liabilitas dan ekuitas

Pertumbuhan aset, liabilitas, dan ekuitas Perseroan pada tanggal 31 Desember 2019 dan 2018 adalah sebagai berikut:

(dalam jutaan Rupiah)

Keterangan 31 Desember

2019 2018

Aset Lancar 2.667.127 2.207.337

Aset Tidak Lancar 25.189.479 20.677.912

Total Aset 27.856.606 22.885.249

Liabilitas Jangka Pendek 4.535.479 4.721.736

Liabilitas Jangka Panjang 14.339.970 10.174.537

47

(dalam jutaan Rupiah)

Keterangan 31 Desember

2019 2018

Total Liabilitas 18.875.449 14.896.273

Ekuitas 8.981.157 7.988.976

a. Aset

Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2018

Total aset Perseroan pada tanggal 31 Desember 2019 adalah sebesar Rp27.856.606 juta yang terdiri atas aset lancar sebesar Rp2.667.127 juta dan aset tidak lancar sebesar Rp25.189.479 juta.

Aset lancar Perseroan pada tanggal 31 Desember 2019 mengalami kenaikan sebesar Rp459.790 juta atau sebesar 20,83% dibandingkan dengan 31 Desember 2018. Hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan piutang usaha pihak ketiga dari Rp820.907 juta pada tahun 2018 menjadi Rp1.346.730 juta pada tahun 2019.

Aset tidak lancar Perseroan pada tanggal 31 Desember 2019 mengalami kenaikan sebesar Rp4.511.567 juta atau sebesar 21,82% dibandingkan dengan 31 Desember 2018. Hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan asset tetap dari Rp15.980.147 juta pada tahun 2018 menjadi Rp19.648.004 juta pada tahun 2019, peningkatan aset tak berwujud sebesar Rp265.336 juta, atau 31,9% dari Rp832.382 juta di tahun 2018 menjadi Rp1.097.718 juta di tahun 2019 dan peningkatan sewa lokasi jangka panjang dari Rp2.510.235 juta pada tahun 2018 menjadi Rp2.830.788 juta pada tahun 2019. Meningkatnya aset tetap dan sewa lokasi jangka panjang disebabkan oleh meningkatnya ukuran portofolio Menara kami dari 17.437 menara pada tahun 2018 menjadi 19.319 menara pada tahun 2019 baik secara organik ataupun non organik (akuisisi) dan meningkatnya sewa lokasi dari 28.319 pada tahun 2018 menjadi 33.346 pada tahun 2019.

b. Liabilitas

Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2018

Total liabilitas Perseroan pada tanggal 31 Desember 2019 adalah sebesar Rp18.785.449 juta yang terdiri atas liabilitas jangka pendek sebesar Rp4.535.479 juta dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp14.339.970 juta.

Liabilitas jangka pendek Perseroan pada tanggal 31 Desember 2019 mengalami penurunan sebesar Rp186.257 juta atau sebesar 3,94% dibandingkan dengan 31 Desember 2018. Hal ini terutama disebabkan karena sehubungan dengan diselesaikannya utang obligasi jangka pendek.

Liabilitas jangka panjang Perseroan pada tanggal 31 Desember 2019 mengalami kenaikan sebesar Rp4.165.433 juta atau sebesar 40,94% dibandingkan dengan 31 Desember 2018. Hal ini terutama disebabkan karena peningkatan utang bank dan utang obligasi jangka panjang. Utang bank dan utang obligasi jangka panjang meningkat sebesar Rp4.130.269 juta, atau 45,42%, dari Rp9.093.063 juta pada tahun 2018 menjadi Rp13.223.332 juta pada tahun 2019.

c. Ekuitas

Ekuitas Perseroan pada tanggal 31 Desember 2019 adalah sebesar Rp8.981.157 juta mengalami kenaikan sebesar Rp992.181 juta atau sebesar 12,42% dibandingkan dengan 31 Desember 2018 sebesar Rp7.988.976 juta. Kenaikan ini terutama disebabkan karena laba bersih tahun berjalan.

48

4.3. Arus Kas

Tabel berikut memberikan informasi aliran arus kas Perseroan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 dan 2018 yang disebutkan:

(dalam jutaan Rupiah)

Keterangan 31 Desember

2019 2018

Kas neto yang diperoleh dari aktivitas operasi 3.773.901 3.616.452

Kas neto yang digunakan untuk aktivitas investasi (5.523.934) (4.291.763) Kas neto yang diperoleh dari (digunakan untuk) aktivitas pendanaan 1.438.296 (868.046)

Penurunan neto kas dan bank (311.737) (1.543.357)

Pengaruh neto perubahan kurs pada kas dan bank (31.464) 125.197

Kas dan bank awal tahun 920.884 2.339.044

Kas dan bank akhir tahun 577.683 920.884

a. Arus Kas dari Aktivitas Operasi

Pada tanggal 31 Desember 2019 kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi sebesar Rp3.773.901 juta dimana sebagian besar kas diperoleh dari penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp6.526.640 juta dan digunakan untuk pembayaran kas kepada pemasok sebesar Rp 1.052.017 juta serta digunakan untuk pembayaran pajak penghasilan dan pajak lainnya sebesar Rp 967.817 juta.

Pada tanggal 31 Desember 2018 kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi sebesar Rp3.616.452 juta dimana sebagian besar kas diperoleh dari penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp5.913.512 juta dan digunakan untuk pembayaran kas kepada pemasok sebesar Rp885.601 juta serta digunakan untuk pembayaran pajak penghasilan dan pajak lainnya sebesar Rp1.036.575 juta.

b. Arus Kas dari Aktivitas Investasi

Pada tanggal 31 Desember 2019 kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi sebesar Rp5.523.934 juta dimana sebagian besar kas digunakan untuk pengeluaran untuk akuisisi aset tetap sebesar Rp4.442.048 juta dan pembayaran sewa lokasi jangka panjang sebesar Rp806.989 juta.

Pada tanggal 31 Desember 2018 kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi sebesar Rp4.291.763 juta dimana sebagian besar kas digunakan untuk pengeluaran untuk akuisisi aset tetap sebesar Rp2.056.963 juta dan sehubungan dengan kas yang dibayarkan untuk akuisisi KIN pada tahun 2018 sebesar Rp1.365.849 juta serta pembayaran sewa lokasi jangka panjang sebesar Rp647.741 juta.

c. Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan

Pada tanggal 31 Desember 2019 kas bersih yang diperoleh dari aktivitas pendanaan sebesar Rp1.438.296 juta dimana sebagian besar kas diperoleh dari penerimaan utang bank sebesar Rp12.533.872 juta.

Pada tanggal 31 Desember 2018 kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan sebesar Rp868.046 juta dimana sebagian besar kas digunakan untuk pembayaran utang bank sebesar Rp4.311.644 juta dan pembayaran dividen sebesar Rp1.361.339 juta.

4.4. Likuiditas, solvabilitas, imbal hasil ekutias dan imbal hasil aset

Likuiditas

Likuiditas menunjukkan tingkat kemampuan Perseroan untuk memenuhi seluruh kewajiban jangka pendek yang tercermin dari rasio antara aset lancar terhadap liabilitas jangka pendek. Semakin tinggi rasio tersebut, semakin baik kemampuan Perseroan untuk memenuhi liabilitas jangka pendek.

Rasio aset lancar terhadap liabilitas jangka pendek Perseroan pada 31 Desember 2019 dan 31 Desember 2018 masing-masing adalah sebesar 58,81% dan 46,75%.

49

Peningkatan likuiditas pada 31 Desember 2019 dibandingkan likuiditas pada 31 Desember 2018 disebabkan oleh Meningkatnya aset lancar yang disebabkan oleh peningkatan piutang usaha pihak ketiga dari Rp820.907 juta pada tahun 2018 menjadi Rp1.346.730 juta pada tahun 2019, sedangkan diselesaikannya utang obligasi jangka pendek menyebabkan menurunnya liabilitas jangka pendek Perseroan.

Sumber likuiditas internal Perseroan berasal dari penerimaan kas dari pelanggan dan likuiditas eksternal berasal dari utang, baik utang bank maupun utang obligasi.

Berikut adalah sumber likuiditas yang belum digunakan oleh Perseroan pada 31 Desember 2019:

No. Nama Bank Sumber likuiditas Total fasilitas yang belum

dicairkan 1 PT Bank BTPN Tbk (Member of SMBC

Group) Fasilitas pinjaman berulang Rp170.000 juta

2 PT Bank BTPN Tbk (Member of SMBC

Group) Fasilitas perdagangan Rp100.000 juta

3 PT Bank BTPN Tbk (Member of SMBC

Group) Fasilitas pinjaman berulang Rp250.000 juta

4 The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd. Fasilitas pinjaman berulang Rp250.000 juta

5 PT Bank HSBC Indonesia Fasilitas pinjaman berulang Rp350.000 Juta

6 PT Bank HSBC Indonesia Fasilitas pinjaman berjangka Rp650.000 Juta 7 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Fasilitas pinjaman berulang Rp500.000 Juta 8 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Fasilitas pinjaman berjangka Rp1.200.000 juta 9 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Fasilitas pinjaman bergulir Rp330.000 juta 10 PT Bank BNP Paribas Indonesia Fasilitas pinjaman berulang Rp750.000 juta 11 PT Bank DBS Indonesia Fasilitas pinjaman berulang Rp 1.300.000 juta

12 JPMorgan Chase Bank, N.A, Fasilitas cerukan Rp500.000 juta

13 PT Bank Central Asia Tbk Fasilitas pinjaman money market Rp500.000 juta 14 OCBC Bank Ltd, Singapura Fasilitas pinjaman berulang AS$100.000.000

15 PT Bank Permata Tbk., Fasilitas pinjaman berulang Rp23.000 juta

16 Bank of China (Hong Kong) Limited Fasilitas pinjaman berulang AS$60.000.000

Hingga pada saat Prospektus ini diterbitkan, Perseroan memiliki modal kerja yang cukup dan belum pernah mengalami kekurangan dalam mencukupi modal kerja.

Solvabilitas

Solvabilitas merupakan kemampuan Perseroan untuk memenuhi seluruh liabilitasnya yang diukur dengan perbandingan antara jumlah liabilitas dengan jumlah ekuitas (solvabilitas ekuitas) maupun jumlah liabilitas dengan jumlah aset (solvabilitas aset). Solvabilitas ekuitas Perseroan pada 31 Desember 2019 dan 31 Desember 2018 masing-masing adalah sebesar 210,17% dan 186,46%, sedangkan solvabilitas aset Perseroan pada 31 Desember 2019 dan 31 Desember 2018 masing-masing adalah sebesar 67,76% dan 65,09%.

Imbal Hasil Ekuitas (Return On Equity)

Imbal Hasil Ekuitas menunjukkan kemampuan Perseroan untuk menghasilkan laba bersih yang diukur dengan membandingkan antara laba usaha tahun berjalan dengan jumlah ekuitas. Imbal Hasil Ekuitas Perseroan tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2019 dan 31 Desember 2018 masing-masing adalah sebesar 26,92% dan 27,67%.

Penurunan pada imbal hasil ekuitas di tahun 2019 dibandingkan dengan tahun 2018 disebabkan oleh kenaikan ekuitas sejumlah Rp992.181 juta lebih besar daripada kenaikan laba usaha tahun berjalan dengan jumlah ekuitas sejumlah Rp207.270 juta.

50

Imbal Hasil Aset (Return On Asset)

Imbal Hasil Aset menunjukkan kemampuan Perseroan untuk menghasilkan laba bersih yang diukur dengan membandingkan antara laba usaha tahun berjalan dengan jumlah aset. Imbal Hasil Aset Perseroan untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2019 dan 2018 masing-masing adalah sebesar 8,68% dan 9,66%.

Penurunan pada Imbal Hasil Aset di tahun 2019 dibandingkan dengan tahun 2018 disebabkan oleh meningkatnya total aset sebesar 21,7%, dari Rp22.885.249 juta pada tahun 2018 menjadi Rp27.856.606 juta pada tahun 2019. Peningkatan ini didorong oleh meningkatnya aset tidak lancar dari Rp20.677.912 juta pada tahun 2018 menjadi Rp25.189.479 juta pada tahun 2019 salah satunya sebagai akibat dari akuisisi 1.000 menara Indosat.