• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

Dalam dokumen Analisis Rasio Keuangan First Task First (Halaman 22-60)

2.1 Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan objek dari analisis terhadap laporan keuangan. Oleh karena itu, memahami latar belakang penyusunan dan penyajian laporan keuangan merupakan langkah yang sangat penting sebelum menganalisis laporan keuangan. Laporan keuangan ini dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan. Disamping itu, laporan keuangan dapat juga digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan lain yaitu laporan kepada pihak-pihak luar. Laporan keuangan menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik ekonomi, yang merupakan unsur laporan keuangan. Unsur ini dapat diklasifikasikan menjadi dua unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran kondisi keuangan dan unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran kinerja.

Dalam rangka menyusun dan menyajikan laporan keuangan khususnya untuk kepentingan ekstern, manajemen harus melihat pada dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan, yang mencakup tujuan laporan keuangan, karakteristik laporan keuangan, unsur-unsur yang membentuk laporan keuangan dan konsep modal. Laporan keuangan yang dapat digunakan adalah hasil dari proses akuntansi yang digunakan sebagai alat media komunikasi antara data

keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan, oleh karena itu akuntansi dinamakan bahasa bisnis.

Bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap suatu perusahaan tentu sangatlah penting untuk mengetahui kondisi dan perkembangan keuangan perusahaan tersebut. Informasi ini bisa diperoleh melalui laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan, yang merupakan produk dari sistem akuntansi yang nyata fungsinya sebagai penyedia jasa informasi keuangan yang relevan bagi pihak-pihak yang berkepentingan baik pihak intern maupun pihak ekstern. Melalui analisis laporan keuangan akan dapat diketahui kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya, baik jangka pendek, maupun jangka panjang, mengukur struktur modal, distribusi aktiva, likuiditas, profitabilitas, serta nilai buku per lembar saham.

Analisis laporan keuangan perlu dilakukan karena laporan keuangan yang disusun perusahaan masih bersifat umum dan ditujukan bukan hanya untuk melakukan analisis laporan keuangan diperlukan teknik atau metode yang dapat digunakan, salah satunya adalah dengan teknik analisis rasio laporan keuangan.

2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan yang pada mulanya hanyalah sebagai alat penguji dari pekerjaan bagian pembukuan, untuk selanjutnya juga digunakan sebagai dasar untuk dapat menentukan atau menilai posisi keuangan perusahaan, kemudian dengan hasil penilaian tersebut pihak – pihak yang berkepentingan membuat suatu keputusan. Maka laporan keuangan diperlukan untuk mengetahui posisi keuangan dari suatu perusahaan dan

hasil – hasil yang telah dicapai oleh perusahaan tersebut selama kurun waktu tertentu.

Menurut Bambang Riyanto (2001), Laporan keuangan memberikan informasi mengenai keadaan suatu perusahaan, dimana neraca mencerminkan nilai aktiva, utang dan modal pada suatu saat tertentu, dan laporan rugi dan laba mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama periode tertentu.

Menurut S. Munawir (2004), laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak–pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.

Menurut Budi Raharjo (2005), laporan keuangan adalah laporan pertanggungjawaban manajer/pimpinan perusahaan atas yang dipercayakan kepada pihak-pihak yang mempunyai kepentingan

(stockholders) di luar perusahaan, pemilik perusahaan, pemerintah,

kreditur dan pihak lainnya.

Menurut Miswanto dan Eko Widodo (1998), laporan keuangan merupakan media informasi yang digunakan oleh perusahaan yang bersangkutan untuk melaporkan keadaan dan posisi keuangannya kepada pihak – pihak yang berkepentingan, terutama bagi pihak kreditur, investor, dan pihak manajemen dari perusahaan itu sendiri.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan, laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap

biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan dalam bentuk laporan arus kas atau laporan arus dana, catatan dan laporan lain (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2002).

2.1.2 Tujuan Laporan Keuangan

Melakukan analisa terhadap laporan keuangan suatu perusahaan akan sangat bermanfaat bagi penganalisa untuk mengetahui keadaan perkembangan keuangan suatu perusahaan. Dengan mengadakan analisa laporan keuangan suatu perusahaan dapat segera mengetahui kelemahan dan kelebihan dari perusahaan tersebut. Tujuan laporan keuangan menurut IAI, 1996 adalah sebagai berikut.

1. Menyediakan informasi menyangkut posisi keuangan, kinerja serta posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.

2. Memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar penggunanya. Namun demikian laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam mengambil keputusan, karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dan kejadian dimasa lalu dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan.

3. Menunjukan apa yang telah dilakukan manajemen atau pertanggung -jawaban atas sumber daya yang dipercayakan kepada pengguna yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau pertanggung jawabkan. Manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan

ekonomi, keputusan ini mencakup, misalnya untuk menahan atau menjual investasi mereka dalam perusahaan, atau keputusan untuk meningkatkan atau mengganti manajemen.

2.1.3 Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan

Agar laporan keuangan lebih bermanfaat bagi pihak-pihak tertentu yang berkepentingan maka harus dilakukan analisis terlebih dahulu. Analisis laporan keuangan adalah menghubungkan angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan, termasuk hasil analisisnya dengan keputusan usaha yang akan diambil. Dari hubungan ini dapat dilakukan penilaian terhadap perusahaan yang bersangkutan, sehingga dapat ditarik kesimpulan untuk pengambilan keputusan. Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan menurut Sofyan Syafri Harahap dalam buku “Analisis Laporan

Keuangan” adalah sebagai berikut.

1. Laporan keuangan bersifat historis

Merupakan laporan atau kejadian yang telah lewat. Karenanya, laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomi.

2. Laporan keuangan bersifat umum

Disajikan untuk semua pemakai dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu saja, misalnya untuk pajak, bank dan lain-lain.

3. Proses penyusunan laporan keuangan tidak dapat luput dari penggunaan perkiraan dan berbagai pertimbangan.

4. Akuntansi hanya melaporkan informasi yang material, demikian pula penerapan prinsip akuntansi terhadap suatu fakta tertentu yang mungkin tidak dilaksanakan jika hal itu dianggap tidak material atau tidak menimbulkan pengaruh yang material terhadap kelayakan laporan keuangan.

5. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian bila terdapat beberapa kemungkinan yang tidak pasti mengenai penilaian, maka seharusnya dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil.

6. Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomis suatu peristiwa atau transaksi dari pada bentuk hukumnya

7. Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis, dan pemakai laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan.

8. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber-sumber ekonomis dan kesuksesan suatu perusahaan.

2.1.4 Karakteristik Laporan Keuangan

Laporan keuangan yang dipublikasikan oleh suatu perusahaan digunakan oleh berbagai pihak dan kepentingan, tetapi laporan keuangan itu haruslah sama akan penyajian dan menurut ketentuan yang berlaku. Dari berbagai kepentingan yang berbeda akan suatu laporan keuangan

haruslah memenuhi kebutuhan semua pihak yang berkepentingan sebagai pertimbangan di dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Informasi keuangan akan bermanfaat apabila dapat memenuhi kebutuhan setiap pemakai baik pihak ekstern maupun pihak intern. Seperti yang dikemukakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (2004) dalam buku

Standar Akuntansi Keuangan” bahwa Karakteristik Laporan Keuangan

adalah sebagai berikut. 1. Dapat dipahami

Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pemakai. 2. Relevan

Agar bermanfaat, informasi keuangan harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Dikatakan relevan, maksudnya adalah laporan keuangan tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini dan masa depan, menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka dimasa lalu. 3. Materialitas

Informasi dipandang material kalau kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai yang diambil atas dasar laporan keuangan. Materialitas tergantung pada besarnya pos atau kesalahan yang dinilai sesuai dengan situasi khusus dari kelalaian dalam mencantumkan (omission) atau kesalahan dalam

mencantumkan (misstatement) karenanya materialitas lebih merupakan suatu ambang batas atau titik pemisah dari pada suatu karakteristik kualitatif pokok yang harus dimiliki agar informasi dipandang berguna.

4. Keandalan

Agar bermanfaat, informasi juga harus andal (reliable). Informasi mempunyai kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus dan jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.

5. Dapat dibandingkan

Para pemakai laporan keuangan harus dapat memperbandingkan laporan keuangan perusahaan antar periode untuk mengindentifikasikan kecenderungan (trend) posisi keuangan dan kinerja perusahaan. Selain itu, pemakai juga harus dapat memperbandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relatif.

2.1.5 Komponen-Komponen Laporan Keuangan

Pada umumnya, laporan keuangan itu terdiri dari neraca, laporan laba-rugi, serta laporan perubahan modal. Namun dalam praktik keseharian sering diikutsertakan kelompok lain yang sifatnya membantu memperoleh

penjelasan, seperti laporan sumber dan penggunaan kas atau arus kas, laporan biaya produksi, dan lain-lain. Oleh karena itu, laporan keuangan dapat dipakai sebagai alat berkomunikasi dengan pihak-pihak berkepentingan dengan data keuangan perusahaan. Laporan keuangan terdiri dari empat laporan dasar, yaitu sebagai berikut.

a. Neraca

Neraca merupakan Laporan Keuangan yang memberikan informasi tentang posisi keuangan perusahaan baik mengenai keadaan harta,utang, dan modal pada saat tertentu dengan tujuan memberikan gambaran mengenai posisis kadaan keuangan perusahaan pada saat tertentu. Beberapa definisi Neraca dari beberapa ahli, yaitu sebagai berikut.

Menurut Munawir (2007), mendefinisikan Neraca adalah laporan sistematis tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu. Jadi tujuan neraca adalah untuk menenjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu dimana buku-buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun kalender. Sedangkan menurut Baridwan (2004), mendefinisikan Neraca adalah laporan yang menunjukkan keadaan keuangan suatu unit usaha pada tanggal tertentu.

b. Laporan Laba-Rugi

Laporan Laba Rugi menunjukkan penghasilan-penghasilan yang diperoleh perusahaan, biaya-biaya yang terjadi serta laba atau rugi

sebagai hasil dari operasi perusahaan selama periode tertentu, sehingga laporan laba rugi yang diperbandingkan menunjukkan penghasilan, biaya, laba rugi netto dari hasil operasi perusahaan dalam dua periode atau lebih. Laporan laba rugi merupakan Laporan keuangan suatu perusahaan yang dibutuhkan untuk menganalisa posisi keuangan perusahaan. Laporan ini memberikan gambaran tentang posisi keuangan dari kegiatan operasi perusahaan selama periode tertentu. Setiap perusahaan mempunyai tujuan umum dalam menjalankan aktivitasnya yaitu memperoleh laba, dari laporan laba rugi dapat menggambarkan keberhasilan atau kegagalan suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya. Dalam setiap perusahaan untuk mengetahui laba perusahaan tersebut dapat dilakukan dengan memperbandingkan pendapatan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan. Dengan adanya perbandingan tersebut perusahaan dapat mengetahui keadaan perusahaan dalam posisi untung atau rugi, jika pendapatan lebih besar dari pada biaya keluar maka perusahaan dapat dikatakan perusahaan tersebut memperoleh laba dan sebaliknya jika pendapatan lebih kecil dari pada pengeluaran maka dapat dikatakan perusahan dalam keadaan rugi.

c. Laporan Perubahan Modal

Memuat tentang saldo awal dan akhir laba ditahan dalam Neraca untuk menunjukkan suatu analisa perubahan besarnya laba selama jangka waktu tertentu. Laporan perubahan modal juga menunjukkan Transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemiliki, saldo

akumulasi rugi dan laba pada awal dan akhir periode serta perubahannya dan rekonsiliasi antara nilai tercatat dari masing-masing jenis model saham, agio dan cadangan pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan. d. Laporan arus kas

Merupakan pengganti dari laporan perubahan posisi keuangan yang menyajikan informasi mengenai sumber dan penggunaan dana perusahaan, dimana pengertian dana dapat didefinisikan sebagai modal kerja ataupun dapat didefinisikan sebagai kas. Laporan arus kas harus menyajikan kas selama periode tertentu dan klasifikasi menurut klasifikasi operasi, investasi dan pendanaan. Klasifikasi ini memberikan informasi yang memungkinkan para pengguna laporan untuk menilai pengaruh aktivitas tersebut terhadap jumlah kas. Selain itu laporan arus kas juga berfungsi untuk memperlihatkan aliran kas selama periode tertentu, serta memberikan informasi terhadap sumber-sumber kas serta penggunaan kas dari setiap kegiatan dalam periode yang dicakup.

2.2 Analisis Laporan Keuangan

Untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan keuangan suatu perusahaan perlu diadakannya analisis terhadap data keuangan yang dibuat oleh perusahaan yang bersangkutan dan data tersebut akan tercermin dalam suatu laporan keuangan. Dengan melakukan analisis pada laporan keuangan suatu perusahaan akan sangat bermanfaat bagi pengguna untuk dapat mengetahui

keadaan ataupun perkembangan keuangan dari perusahaan yang bersangkutan. Dengan melaksanakan analisis laporan keuangan maka pihak manajemen perusahaan akan dapat mengetahui keadaan keuangan yang terjadi dalam perusahaan dan juga akan diketahui hasil-hasil keuangan yang telah dicapai diwaktu-waktu yang lalu dan waktu-waktu yang sedang berjalan.

Dengan mengadakan analisis laporan keuangan tersebut dari tahun-tahun yang lalu, maka dapat diketahui kelemahan-kelemahan dari perusahaan serta hasil-hasil yang cukup dianggap baik. Dengan mengetahui kelemahan-kelemahan yang dimiliki melalui analisis laporan keuangan, maka kelemahan-kelemahan tersebut dapat diperbaiki, dan hasil-hasil yang sudah dianggap cukup baik harus dapat dipertahankan untuk waktu-waktu yang akan datang. Selain pihak pimpinan perusahaan dan pihak manajemen perusahaan, pihak kreditor dan para investor juga perlu mengetahui hasil data-data keuangan dari hasil analisis laporan keuangan. Karena mereka juga berhak untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan perusahaan tersebut, serta proses dalam pengambilan keputusan.

2.2.1 Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Menurut Sofyan Safri Harahap (2001), dalam buku “Analisa Kritis

Atas Laporan Keuangan” menyatakan bahwa menguraikan pos-pos

laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data kualitatif maupun data non kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat.

Menurut Soemarso S.R (1999), dalam buku “Akuntansi Suatu

Pengantar” menyatakan bahwa analisis Laporan Keuangan (Financial

Analysis) adalah hubungan antara suatu angka dalam laporan keuangan

dengan angka lain yang mempunyai makna atau dapat menjelaskan arah perubahan (trend) suatu fenomena.

2.2.2 Rasio-rasio Dalam Analisis Laporan Keuangan

Menurut Husnan dan Padjiastuti (2004), mengungkapkan bahwa seorang analis keuangan memerlukan ukuran tertentu, dengan menggunakan rasio yang menunjukkan hubungan antara data keuangan.

Harahap (2006) mengatakan rasio keuangan adalah angka yang diperoleh

dari hasil perbandingan dari satu pos dengan pos laporan keuangan lainnya

yang mempunyai hubungan yang relevan dan berarti. Rasio keuangan ini

hanya menyederhanakan informasi yang menggambarkan hubungan antara

pos tertentu dengan pos lainnya, dengan penyederhanaan ini maka dapat

diperoleh informasi dan penilaian kinerja perusahaan. Rasio juga

menggambarkan suatu hubungan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dengan menggunakan alat analisa berupa rasio yang dapat menjelaskan atau memberi gambaran tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan.

Dalam menganalisis kinerja sebuah perusahaan, seseorang harus menggunakan analisis rasio. Menurut Van Horne (2005), “Rasio keuangan adalah alat yang digunakan untuk menganalisis kondisi keuangan dan kinerja perusahaan.” Analisis rasio inilah yang digunakan untuk

memperkirakan kinerja perusahaan di masa mendatang dengan menggunakan data-data laporan keuangan beberapa tahun sebelumnya. Menurut Weston & Copeland (1996), rasio keuangan dibedakan

berdasarkan ruang lingkupnya, menjadi 5 bagian besar yaitu, rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas, dan rasio pasar. Berikut ini merupakan uraian dari rasio keuangan.

1. Rasio Likuiditas

Menurut Brealey (2012), rasio likuiditas (liquidity ratio) mengukur

seberapa mudah perusahaan dapat memegang kas. Likuiditas adalah

kemampuan untuk menjual aset guna mendapat kas pada waktu

singkat. Jadi, rasio likuiditas merupakan rasio yang digunakan untuk

melihat kemampuan perusahaan dalam mengubah asset menjadi kas

dalam waktu yang singkat. Rasio-rasio likuiditas antara lain adalah

sebagai berikut.

a. Modal Kerja Bersih

Modal Kerja Bersih mengukur potensi cadangan kas perusahaan

secara kasar. Aset lancar biasanya melebihi kewajiban lancar.

Modal Kerja Bersih= Aktiva Lancar - Kewajiban Lancar………(1)

Semakin besar modal kerja bersih, perusahaan memiliki aktiva

lancar yang lebih besar dibandingkan dengan kewajiban lancar.

Modal kerja bersih yang kecil akan mengarah ke tekanan dari

masalah keuangan, peningkatan pinjaman, keterlambatan

pembayaran ke kreditor dan semua itu berakibat pada menurunnya

akan mengenakan biaya bunga yang tinggi sehingga perusahaan

harus mengeluarkan banyak biaya.

b. Rasio Lancar (Current Ratio)

Rasio lancar yaitu perbandingan antara aktiva lancar dengan

kewajiban lancar yang digunakan untuk mengukur kemampuan

perusahaan dalam membayar utang yang segera harus dipenuhi

dengan aset lancer atau kemampuan perusahaan untuk melunasi

kewajiban jangka pendeknya. Semakin besar rasio ini berarti

semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam memenuhi

kewajiban jangka pendeknya.

...(2)

c. Rasio Cepat (Quick Ratio)

Rasio cepat digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan

dalam memenuhi kewajibannya tanpa memperhitungkan

persediaan yang dimiliki, karena persediaan memerlukan waktu

yang cukup lama untuk segera dijadikan uang tunai.

...(3)

Semakin besar rasio ini semakin baik. Semakin besar angka rasio

ini maka semakin baik perusahan karena mampu menutupi utang

lancarnya tanpa memperhitungkan persediaan yang dimiliki. Rasio

cepat yang kecil mengidikasikan bahwa perusahaan sangat

bergantung pada persediaan yang dimilki untuk memenuhi

d. Rasio Kas (Cash Ratio)

Cash Ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan

dalam membayar kewajiban yang harus segera dipenuhi dengan

dengan kas dan surat berharga dalam perusahaan yang dapat segera

diuangkan.

...(4)

Jika kondisi rasio kas terlalu tinggi maka menunjukkan keadaan

perusahaan yang buruk karena adanya dana yang belum digunakan

secara optimal, sebaliknya apabila rasio kas dibawah rata-rata

maka berada pada kondisi baik karena untuk membayar kewajiban

masih memerlukan waktu untuk menjual sebagian dari aktiva

lancar lainnya.

e. Rasio Kas terhadap Kewajiban Lancar

Rasio kas terhadap kewajiban lancar hanya membandingkan antara

kas dengan kewajiban lancar yang dimiliki perusahaan. Rasio ini

digunakan untuk melihat seberapa jauh kemampuan perusahaan

dalam melunasi utang jangka pendek dengan menggunakan kas

yang dimiliki.

…...(5)

Semakin besar rasio kas terhadap kewajiban lancar, maka

kemampuan perusahaan dalam melunasi utang jangka pendek

f. Rasio Operasi

Rasio operasi merupakan rasio antar biaya usaha keseluruhan (harga pokok penjualan ditambah biaya usaha) dengan penjualan bersih. Rasio operasi memperlihatkan seberapa jauh kemampuan perusahaan melunasi kewajiban lancar dengan melihat arus kas operasi yang dimiliki oleh perusahaan.

...(6)

Semakin tinggi rasio opersai yang dimiliki perusahaan maka semakin besar kemampuan perusahaan melunasi kewajiban lancar dengan menggunakan arus kas operasi.

g. Modal Kerja Bersih terhadap Aktiva

Modal Kerja Bersih terhadap Aktiva merupakan likuiditas dari

total aktiva dan posisi modal kerja (netto) (Situmorang,2007).

...(7)

Semakin besar modal kerja bersih terhadap aktiva, maka modal

kerja bersih yang dimiliki perusahaan lebih besar dibandingkan

dengan total aktiva. Hal ini menandakan bahwa perusahaan

tersebut berada dalam kondisi yang baik.

h. Arus Kas terhadap Penjualan

Arus kas terhadap penjualan membandingkan antara kas dan

investasi jangka pendek dengan pendapatan yang didapatkan

perusahaan. Rasio ini menunjukkan seberapa besar kas dan

investasi jangka pendek perusahaan dibandingkan dengan

….…(8)

i. Perioda Penagihan Piutang

Perioda penagihan piutang membandingkan antara rata-rata

piutang dengan penjualan. Rasio ini menunjukkan seberapa besar

piutang yang terjadi di dalam perusahaan dibandingkan dengan

penjualan yang didapatkan.

...(9)

Perioda penagihan piutang yang tinggi menunjukkan bahwa rata-rata piutang yang terjadi di perusahaan lebih besar dibandingkan penjualan yang didapatkan. Hal ini menandakan bahwa kemungkinan piutang yang tidak terbayarkan tinggi.

j. Jumlah Hari dalam Piutang

Jumlah hari dalam piutang membandingkan antara piutang dengan

penjualan dalam hari yang didapatkan. Rasio ini menunjukkan

seberapa besar piutang dibandingkan dengan penjualan dalam hari.

...(10)

2. Rasio Profitabilitas

Menurut Brealey (2012), rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur fokus pada laba perusahaan. Rasio profitabilitas disebut juga dengan istilah rasio rentabilitas yang mewujudkan perbandingan laba bersih dengan tingkat penjualan, total aktiva, maupun total ekuitas. Rasio-rasio Profitabilitas antara lain adalah sebagai berikut.

a. Margin Laba Kotor

Margin Laba Kotor mengukur efisiensi pengendalian harga pokok atau biaya produksinya, mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisien.Margin laba kotor menghitung perbandingan antara penjualan bersih dikurangi dengan harga pokok penjualan, yang kemudian dibagi dengan penjualan bersih.

Dalam dokumen Analisis Rasio Keuangan First Task First (Halaman 22-60)

Dokumen terkait