BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Landasan Teori
2.2.2. Analisis Laporan Keuangan
pengeluaran kas suatu perusahaan selama satu periode, untuk mencapai tujuan ini, aliran kas diklasifikasikan dalam tiga kelompok yang berbeda yaitu penerimaan dan pengeluaran kas yang berasal dari kegiatan investasi, pembelanjaan (financing), dan kegiatan usaha. 5. Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas dan laporan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen. Catatan atas laporan keuangan juga mencakup informasi yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan dalam PSAK serta pengungkapan-pengungkapan lain yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar (SAK, 2009: 1.13).
2.2.2. Analisis Laporan Keuangan
2.2.2.1. Pengertian Analisis Laporan Keuangan
Menurut Asuti (2004: 29), analisis laporan keuangan merupakan segala sesuatu yang menyangkut penggunaan informasi akuntansi untuk membuat keputusan bisnis dan investasi.
Analisis keuangan dirancang bagi pengusaha, investor dan kreditor dimana keharusan memahami bagaimana mengartikan serta menganalisis laporan keuangan. Laporan keuangan melaporkan posisi keuangan perusahaan pada suatu waktu tertentu maupun selama beberapa periode yang lalu.
Analisis laporan keuangan (financial statement analysis) adalah aplikasi dari alat dan teknik analitis untuk laporan keuangan bertujuan umum dan data-data yang berkaitan untuk menghasilkan estimasi dan kesimpulan yang bermanfaat dalam analisis bisnis (Wild, dkk, 2005: 3). 2.2.2.2. Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Menurut Harahap (2009: 195), analisis laporan keuangan yang dilakukan dimaksudkan untuk menambah informasi yang ada dalam laporan keuangan. Secara lengkap kegunaan analisa laporan keuangan dikemukakan sebagai berikut:
a. Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam daripada yang terdapat dalam laporaan keuangan biasa.
b. Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata (eksplisit) dari suatu laporan keuangan atau yang berada dibalik laporan keuangan (implisit)
c. Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
d. Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen intern laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari luar perusahaan.
e. Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-model dan teori-teori yang terdapat dilapangan seperti untuk prediksi, peningkatan (rating).
22
f. Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh pengambil keputusan.
g. Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut kriteria tertentu yang sudah dikenal dalam dunia bisnis.
h. Dapat membandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain dengan periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau standar ideal.
i. Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami perusahaan, baik posisi keuangan, hasil usaha, struktur keuangan, dan sebagainya.
j. Bisa juga memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan dimasa yang akan datang.
2.2.2.3. Metode Analisis Laporan Keuangan
Menurut Sawir (2005: 45), tehnik analisis laporan keuangan ada dua yaitu Analisis Horizontal (perbandingan laporan keuangan) dan Analisis Vertikal (per komponen).
Analisis horizontal adalah analisis dengan cara membandingkan neraca dan laporan laba rugi beberapa tahun terahkir secara berurutan. Maksudnya memperoleh gambaran mengenai perubahan-perubahan yang terjadi baik dalam neraca maupun laporan laba rugi, sehingga dapat diperoleh gambaran selama beberapa tahun terakhir apakah terjadi penaikan atau penurunan.
Analisis vertikal adalah analisis yang dilakukan dengan jalan menghitung proporsi pos-pos dalam neraca dengan suatu jumlah tertentu dari neraca atau proporsi dari unsur-unsur tertentu laporan laba rugi dengan jumlah tertentu dari laporan laba rugi.
2.2.3. Rasio Keuangan
2.2.3.1. Pengertian Rasio Keuangan
Menurut Harahap (2009: 297), rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan. Misalnya antara hutang dan modal, antara kas dan total asset, antara harga pokok produksi dengan total penjualan, dan sebagainya. Rasio keuangan sangat penting dalam melakukan analisa terhadap kondisi keuangan perusahaan. 2.2.3.2. Jenis-Jenis Rasio Keuangan
Menurut Lukviarman (2006: 22), jenis-jenis rasio keuangan ada 4, yaitu sebagai berikut:
a. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas akan menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan berjangka waktu pendek, tepat pada waktunya (Lukviarman, 2006: 24).
Istilah likuiditas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban keuangannya dalam jangka waktu pendek atau yang segera harus dibayar. Alat pemenuhan kewajiban
24
keuangan jangka pendek ini barasal dari unsur-unsur aktiva yang bersifat likuid, yakni aktiva lancar dengan perputaran kurang dari satu tahun, karena lebih mudah dicairkan daripada aktiva tetap yang perputarannya lebih dari satu tahun (Moeljadi, 2006: 48).
Menurut Lukviarman (2006: 24-25), rasio likuiditas terdiri atas: 1) Current Ratio
Current Ratio menunjukkan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajiban-kewajiban lancar. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan kewajiban lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya.
2) Acid Test Ratio
Rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang lebih likuid (kecuali persediaan) dalam menutupi kewajiban lancar.
b. Rasio Leverage
Menurut Lukviarman (2006: 30-32), rasio leverage merupakan rasio yang digunakan untuk menilai:
1) Cara perusahaan didalam membiayai sejumlah aktiva yang dimilikinya.
2) Kemampuan perusahaan di dalam membayar beban tetap disebabkan pemakaian sumber pembiayaan yang tidak berasal dai modal pemilik (seperti bunga obligasi dan bunga pinjaman).
Menurut Likviarman (2006: 30-32), rasio leverage terdiri dari: 1) Debt Ratio
Merupakan ukuran seberapa besar aktiva yang dimiliki oleh perusahaan dibelanjai dengan hutang (pinjaman).
2) Debt to Equity Ratio
Rasio ini menunjukkan perbandingan antara total hutang dengan total modal sendiri. Rasio ini menggambarkan sampai sejauh mana modal sendiri dapat menutupi hutang-hutang kepada pihak luar.
3) Time Interest Earned Ratio
Time interest earned adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban tetapnya, didalam membayar bunga dari sejumlah laba sebelum bunga dan pajak (EBIT). Atau dari pengertian lain dapat diartikan bahwa rasio ini mengukur sampai seberapa jauh laba dapat berkurang, tanpa perusahaan mengalami kesulitan keuangan karena tidak mampu membayar bunga.
4) Fixed Charge Coverage
Fixed Charge Coverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan paresahaan menutupi beban tetapnya, termasuk pembayaran deviden saham preferen, biaya bunga, angsuran pinjaman, dan sewa.
26
c. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk menunjukkan sejauh mana efisiensi perusahaan di dalam menggunakan aktiva yang dimiliknya untuk memperoleh penjualan. Hal ini berhubungan dengan tujuan manajemen keuangan didalam menentukan seberapa besar efisiensi investasi pada berbagai aktiva, yang menunjukkan bagaimana sumber daya telah dimanfaatkan secara optimal (Lukviarman, 2006: 26).
Menurut Lukviarman (2006: 27), rasio aktivitas terdiri atas : 1) Total Assets Turnover
Total assets turnover menunjukkan kemampuan total aktiva untuk berputar sela satu tahun untuk menghasilkan penjualan yang dapat dihitung dengan cara membagi penjualan bersih dengan total aktiva.
2) Inventory Turnover
Perputaran persediaan merupakan rasio untuk mengukur efektivitas atau efisiensi pengelolaan investasi ke dalam persediaan yang dilakukan perusahaan dan tergambar dari jangka waktu perputaran persediaan selam satu tahun.
3) Account Receivable Turnover
Dengan account receivable turnover dapat diketahui jumlah waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan piutang selam satu tahun yang dapat dihitung dengan cara membagi penjualan kredit dengan
piutang. Dengan menganggap seluruh penjualan sebagai penjualan kredit.
d. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan di dalam memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri (Lukviarman, 2006: 33).
Rasio profitabilitas terdiri atas dua jenis yaitu rasio yang menunjukkan profitabilitas dalam kaitannya dengan penjualan dan yang berkaitan dengan investasi
1) Profitabilitas dalam kaitannya dengan penjualan. Rasio ini bermanfaat untuk mengetahui kemampuan manajemen perusahaan di dalam mengendalikan berbagai beban yang berhubungan dengan penjualan.
a. Gross Profit Margin
Gross profit Margin menunjukkan kemampuan penjualan dalam menghasilkan laba kotor.
b. Net profit Margin
Net Profit Margin menunjukkan kemampuan penjualan dalam menghasilkan laba bersih setelah pajak.
c. Operating Profit Margin
Operating Profit Margin menggambarkan beban-beban operasional perusahaan serta harga pokok penjualan.
2) Profitabilitas dalam kaitannya dengan investasi. Rasio ini digunakan untuk menilai atau mengukur tingkat keuntungan perusahaan dalam
28
hubungannya dengan dana yang diinvestasikan di dalam rangka menghasilkan keuntungan tersebut.
a. Return on Investment
Return on Investment menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari sejumlah aktiva yang digunakan.
b. Return on Equity
Return on Equity merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan memperolah laba, atas sejumlah investasi yang dilakukan oleh pemegang saham.
2.2.3.3. Kegunaan Analisis Rasio
Analisis rasio seperti halnya alat-alat analisis yang lain adalah “future oriented “. Oleh karena itu penganalisa harus mampu untuk menyesuaikan faktor-faktor yang ada pada periode atau waktu itu dengan faktor-faktor dimasa yang akan datang yang mungkin akan mempengaruhi posisi keuangan atau hasil operasi perusahaan yang bersangkutan. Dengan demikian kegunaan atau manfaat suatu angka rasio sepertinya tergantung kepada kemampuan atau kecerdasan penganalisa dan mengunterprestasikan data yang bersangkutan (Munawir, 2002: 64). 2.2.3.4. Keterbatasan Rasio Keuangan
Menurut Harahap (2009: 298), analis laporan keuangan memiliki beberapa keterbatasan yang diharuskan untk diketahui dalam penggunaan dalam perhitungan. Keterbatasan tersebut antara lain:
1. Kesulitan dalam rasio yang tepat yang dapat digunakan untuk kepentingan pemakainya.
2. Keterbatasan yang dimiliki akuntansi atau laporan keuangan juga menjaga keterbatasan teknik seperti:
a.Bahan perhitungan rasio atau laporan keuangan itu hanya mengandung taksiran dan judgment yang dapat dinilai bias atau subyektif.
b.Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dan rasio adalah nilai perolehan (cost) bukan harga pasar.
c.Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak pada angka rasio.
d. Metode pencatatan yang tergambar dalam standar akuntansi bisa diterapkan berbeda oleh perusahaan yang berbeda.
3. Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia maka akan menimbulkan kesulitan dalam menghitung rasio.
4. Sulit jika ada data yang sesuai tidak sinkron.
5. Jika dua perusahaan dibandingkan bisa saja teknik dan standar akuntansi yang dipakai tidak sama. Oleh karenanya jika dilakukan perbandingan bisa terjadi kesalahan.
2.2.3.5. Keunggulan Rasio Keuangan
Analisa rasio memiliki keunggulan dibanding teknik analisis lainnya, keunggulan tersebut adalah :
30
1. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan.
2. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit.
3. Mengetahui posisi keuangan ditengah industri lain.
4. Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan keputusan dan model prediksi (Z-score).
5. Menstandarisir size perusahaan.
6. Lebih mudah memperbandingkan perusahaan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau ”time series”. 7. Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi di
masa yang akan datang (Harahap, 2009 : 298).