IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Analisis Lingkungan Internal
4.3.1. Aspek Pasar dan Pemasaran
Pangsa pasar yang dimiliki oleh restoran Pizza Hut Padjajaran saat ini adalah sekitar 18% dari seluruh penduduk Kota Bogor, sedangkan pelanggan lainnya sebagian besar adalah pengunjung yang datang dari luar Kota Bogor. Pangsa pasar yang berhasil diraih oleh restoran Pizza Hut Padjajaran ini dirasakan masih kurang dan perlu ditingkatkan lagi, sehingga restoran Pizza Hut Padjajaran terus melakukan perbaikan internal dalam diri perusahaan. Pada dasarnya masalah untuk meningkatkan pangsa pasar yang dialami oleh restoran Pizza Hut Padjajaran adalah dikarenakan oleh adanya restoran pizza pesaing yang berlokasi tidak begitu jauh dari Pizza Hut Padjajaran, dan juga disebabkan oleh keberadaan restoran Pizza Hut lainnya di beberapa lokasi berbeda di Kota Bogor yang menyebabkan Pizza Hut Padjajaran harus berbagi pangsa pasar dengan restoran Pizza Hut lainnya di Kota Bogor. Untuk itu restoran Pizza Hut Padjajaran perlu memaksimalkan strategi pemasarannya, secara khusus lewat strategi terhadap bauran pemasarannya, meliputi strategi produk, strategi promosi, strategi distribusi, dan strategi Sumber Daya Manusia. Untuk strategi harga bisa digunakan dalam menghadapi persaingan dengan restoran pizza lainnya. Namun, untuk bersaing dengan sesama restoran Pizza Hut lainnya strategi harga tidak bisa digunakan karena sistem waralaba yang digunakan oleh Pizza Hut menyebabkan harga dari semua jenis produk ditentukan sama dari Pizza Hut pusat. Terkait dengan strategi produk, walaupun sistem waralaba yang digunakan menyebabkan semua jenis produk yang dimiliki oleh restoran Pizza Hut adalah sama, Pizza Hut
35
dapat membangun keunggulan dari produknya dengan membuat pizza yang benar-benar sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh Pizza Hut pusat, baik dari segi rasa, penyajian, dan kualitas produk. Dan untuk itu diperlukan komitmen dari karyawan untuk melaksanakan tanggung jawabnya masing-masing, sehingga dalam hal ini sangat diperlukan penerapan strategi Sumber Daya Manusia secara tepat. Strategi promosi Pizza Hut Padajajaran dilakukan dengan memanfaatkan citra restoran Pizza Hut Padjajaran sebagai restoran pizza yang pertama kali hadir di Kota Bogor setelah Pizza Hut di Internusa Plaza mengalami kebakaran, selain itu juga dengan membuat brosur, flyer, billboard, dan yang sangat diharapkan adalah adanya word of mouth promotion yang positif dari pelanggan yang merasa puas setelah makan di Pizza Hut Padjajaran, Bogor.
4.3.2. Aspek Manajemen
Sistem manajemen restoran Pizza Hut sudah cukup tertata rapi. Presiden Direktur bertanggung jawab memimpin, mengendalikan, mengembangkan dan mengawasi kinerja dan produktivitas restoran Pizza Hut di seluruh Indonesia. Dalam menjalankan perusahaan, Presiden Direktur didukung oleh fungsi accounting, information system, marketing, training, human resources, dan operation. Dibawah Presiden Direktur adalah District Manager (DM) yang memimpin dan mengawasi 20-30 restoran. DM memimpin dengan berbagai macam fungsi dan bisnis dari marketing hingga memikirkan pengembalian modal usaha. Di bawah DM adalah seorang Area Manager (AM) yang memimpin dan mengawasi 3-6 restoran. AM mendorong orang lain untuk menjalankan bisnis dalam jumlah dan situasi ang berbeda-beda. Di bawah AM adalah seorang Restaurant Manager (RM).
Setiap gerai restoran Pizza Hut di Indonesia dipimpin oleh seorang Restaurant Manager (RM). RM memiliki tanggung jawab menyeluruh terhadap pengelolaan usaha dan pengawasan terhadap kegiatan produksi. RM mengelola usaha dengan pengaturan yang seimbang dalam memimpin orang (karyawan), memperhatikan kepuasan customers,
memantau penjualan, serta mengelola pendapatan. Di bawah RM ada Assistant Restaurant Manager (ARM) yang bertanggung jawab membantu RM dalam mengelola restoran.seorang ARM memiliki kemampuan dalam teknik penerimaan karyawan, teknik perencanaan, dan teknik kemampuan pelatihan. Dibawah ARM ada Shift Leader (SL) yang bertanggung jawab untuk mengontrol secara langsung kegiatan produksi di lapangan. Seorang SL memiliki kemampuan, teknikpengelolaan produk, teknik memanajemen SDM (Sumber Daya Manusia) yang dalam hal ini adalah karyawan yang ada di bawahnya, teknik pengelolaan uang yang dalam hal ini adalah uang pembayaran di kasir, dan teknik berorganisasi. Di bawah SL ada Server yang bertugas untuk melayani semua kebutuhan pelanggan yang datang berkunjung, Cooker yang bertugas untuk membuat makanan sesuai dengan pesanan, Bar Man yang bertugas untuk membuat minuman dan dessert, Order Taker yang bertugas untuk menerima dan mengkoordinir pesanan lewat telepon, Steward yang bertugas untuk menjalankan dishwasing untuk membersihkan perkakas yang kotor, Delivery Man yang bertugas untuk menyampaikan pesan antar ke alamat yang diminta oleh pelanggan, dan Cashier yang bertanggung jawab dalam pengelolaan pembayaran dan hasil pembayaran.
Dengan adanya struktur manajerial dan deskripsi tugas yang sangat jelas pada restoran Pizza Hut membuat pemberian komando lebih jelas, sehingga tingkat pengawasan terhadap proses operasi dan pelaksanaan usaha dapat terkoordinasi dengan cukup baik. Pelaksanaan setiap fungsi dengan tepat akan sangat berpengaruh bagi pengembangan usaha. Apabila setiap fungsi dapat melakukan tugasnya masing-masing dengan baik dan berkoordinasi dengan baik pula dengan fungsi lainnya, maka perusahaan bisa terus mengembangkan usahanya.
4.3.3. Aspek Sumber Daya Manusia
Restoran Pizza Hut Padjajaran 29 saat ini memiliki jumlah karyawan sekitar 57 orang. Terdiri atas 1 orang restaurant manager, 2 orang assistant restaurant manager, 3 orang shift leader, 4 orang cashier, 17
37
orang server, 14 orang cooker, 3 orang bar man, 3 orang steward, 2 orang order taker, dan 8 orang delivery man.
Karyawan dibedakan menjadi karyawan fulltimer, karyawan kontrak, dan karyawan partimer. Untuk karyawan dibedakan berdasarkan golongan, mulai dari golongan I, II, III, IV, V, VA dan VB. Pembayaran gaji untuk karyawan fulltimer dikirimkan lewat rekening tabungan setiap akhir bulan, dengan jumlah sesuai dengan golongan masing-masing. Pembayaran gaji untuk karyawan kontrak dikirimkan lewat rekening tabungan setiap akhir bulan, dengan jumlah sesuai dengan jumlah hari kerja masing-masing. Pembayaran gaji untuk karyawan partimer dihitung per hari masuk, dikumulatifkan dan dibayarkan pada akhir bulan. Jam kerja karyawan terdiri atas lima shift, dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Pembagian shift kerja karyawan restoran Pizza Hut Padjajaran
Shift Masuk Keluar Istirahat
A 07.00 16.00 14.00 C 10.00 19.00 15.00 C” 11.00 20.00 15.00
D 12.00 21.00 15.00/16.00
F 14.00 23.00 16.00 Sumber: Restoran Pizza Hut Padjajaran, Bogor 2005
Setiap karyawan mendapatkan fasilitas pakaian seragam, musholla, makan siang, dan ongkos pulang bagi yang masuk shift F.
Restoran Pizza Hut selalu mengadakan pelatihan rutin setiap tiga bulan sekali untuk meningkatkan produktifitas dan kemampuan karyawan dalam menghasilkan produk dan memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Selain itu karyawan yang lebih senior (jam kerja lebih banyak) memiliki tanggung jawab untuk membimbing dan memberikan pelatihan di lapangan kepada karyawan yang tergolong masih baru.
Walaupun menggunakan sistem waralaba, Pizza Hut Padjajaran memiliki kebebasan untuk mencari dan merekrut tenaga kerjanya sendiri, kecuali untuk pemilihan shift leader dan manajer ditentukan dari Pizza Hut pusat. Kebebasan restoran dalam merekrut, memilih, dan melatih
karyawan tanpa harus terikat dengan pusat bisa menjadi peluang yang dapat digunakan oleh restoran untuk mengembangkan usahanya. Apabila restoran benar-benar memperhatikan kualitas SDM mulai dari perekrutan sampai pelatihan, maka kualitas proses produksi dapat semakin ditingkatkan, sehingga kualitas restoran di benak konsumen menjadi semakin baik.
4.3.4. Aspek Keuangan
Kondisi keuangan Pizza Hut Padajaran saat ini masih dapat dikatakan baik, meskipun volume penjualan masih fluktuatif. Perusahaaan belum pernah mengalami kerugian finansial, hal ini ditunjukkan oleh rasio keuntungan dan biayanya selalu di atas satu. Persentase perubahan nilai penjualan bersih restoran Pizza Hut Padjajaran dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Persentase Perubahan Nilai Penjualan Bersih restoran Pizza Hut Padjajaran Bogor, tahun 2001-2005
Tahun Food Net Sales Beverage Net Sales Grand Total
2001-2002 -7,2 % -9,7 % -7,6 %
2002-2003 16 % 8,2 % 15 %
2003-2004 1,1 % 3 % 1,4 %
2004-2005 3,9 % 23 % 6,4 %
Sumber: Restoran Pizza Hut Padjajaran Bogor, 2005
Pengelolaan keuangan restoran Pizza Hut Padjajaran telah menggunakan sistem akuntansi terkomputerisasi. Laporan penghitungan penjualan kotor dilakukan oleh kasir setiap hari, dibantu dengan komputer yang telah terprogram untuk menghitung total penjualan makanan dan minuman secara otomatis. Data penjualan makanan dan minuman diperoleh dari hasil penginputan pesananan ke dalam komputer. Data biaya pengeluaran dikelola dengan menggunakan program Microsoft Excel.
Keadaan keuangan restoran yang cukup baik dan terus menghasilkan keuntungan menjadi kekuatan bagi restoran, karena dengan demikian restoran tetap memiliki modal yang cukup bagi pelaksanaan dan pengembangan produksinya, sehingga proses produksi dapat terus
39
berlangsung tanpa adanya kendala hambatan keuangan. Sistem yang terkomputerisasi dalam pengelolaan keuangan juga sangat membantu dalam memperkecil resiko kesalahan dalam pengelolaan keuangan restoran.
4.3.5. Aspek Operasional
Untuk lancarnya proses produksi dan operasi, Pizza Hut Padjajaran telah menjalin kontrak kerja sama dengan beberapa perusahaan pemasok untuk penyediaan bahan baku produk serta inventori-inventori pendukung lainnya. Pemasok melakukan pengiriman rutin setiap minggu sesuai dengan pemesanan yang dilakukan oleh restoran sehari sebelum pengiriman. Penggunaan bahan baku dan inventori-inventori pendukung dilakukan dengan menggunakan sistem first in first out untuk menjaga agar tidak ada barang yang terbuang karena telah habis masa pakainya. Barang-barang dan bahan baku yang harus disimpan pada suhu ruangan disimpan di dry storage, sedangkan barang dan bahan yang harus disimpan di bawah suhu ruangan disimpan di frozen storage. Setiap pengambilan bahan baku dan barang-barang dari gudang dilakukan pencatatan, sehingga diperoleh pembukuan mengenai barang-barang yang telah digunakan, untuk mempermudah pengelolaan pemesanan ke pemasok.
Kerja sama yang terjalin baik dan terorganisir secara rapi dengan pemasok ini mengurangi resiko hambatan pada proses produksi akibat adanya kekurangan bahan baku. Dengan demikian restoran menjadi lebih efektif dalam melakukan usahanya.
Keterangan mengenai proses produksi secara lengkap telah dibahas dalam sub bab Analisis Bauran Pemasaran pada poin Proses Produksi.