HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Analisis Location Quotient
Analisis Location Quotient (LQ) merupakan cara untuk menentukan sektor maupun subsektor yang menjadi unggulan sebagai penentu pertumbuhan ekonomi di suatu daerah. Guna menentukan sektor maupun subsektor unggulan tersebut, maka perlu dilakukan komparasi antara peranan atau kontribusi sektor maupun subsektor dalam perekonomian suatu daerah dengan peranan atau kontribusi sektor maupun subsektor sejenis dalam perekonomian daerah yang lebih tinggi tingkatannya, yaitu perekonomian provinsi atau nasional.
Dalam kajian ini untuk menentukan sektor maupun subsektor unggulan sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kendal, maka kontribusi sektor maupun subsektor dalam perekonomian Kabupaten Kendal dikomparasikan dengan kontribusi sektor maupun subsektor sejenis dalam perekonomian Provinsi Jawa Tengah. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa terdapat 3 (tiga) sektor yang secara konsisten memiliki koefisien LQ > 1 selama kurun waktu tahun 2007 – 2010, yaitu sektor pertanian, industri pengolahan, serta listrik, gas, dan air minum. Sektor listrik, gas, dan air minum merupakan sektor yang memiliki nilai rerata koefisien LQ tertinggi di Kabupaten Kendal, yaitu sebesar 1,39, diikuti oleh sektor pertanian sebesar 1,23 dan sektor industri pengolahan sebesar 1,22. Sementara itu, enam sektor lainnya memiliki nilai rerata koefisien LQ < 1. Keenam sektor tersebut berturut-turut dari LQ tertinggi ke terendah terdiri atas sektor pertambangan dan penggalian, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, sektor jasa-jasa, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, sektor bangunan, serta sektor pengangkutan dan komunikasi.
Pada Tabel 4.3 ditunjukkan secara lengkap nilai koefisien LQ dari sembilan sektor di Kabupaten Kendal.
Tabel 4.3 Nilai Koefisien Location Quotient (LQ) Sembilan Sektor di Kabupaten Kendal Tahun 2007 – 2010
No. Sektor Nilai Koefisien LQ
2007 2008 2009 2010 Rerata
1. Pertanian 1,17 1,19 1,29 1,25 1,23
2. Pertambangan dan penggalian 0,93 0,94 0,95 0,89 0,93
3. Industri pengolahan 1,26 1,21 1,18 1,22 1,22
4. Listrik, gas, dan air minum 1,44 1,43 1,36 1,33 1,39
5. Bangunan 0,50 0,51 0,51 0,50 0,51
6. Perdagangan, hotel, dan restoran 0,86 0,87 0,84 0,85 0,85
7. Pengangkutan dan komunikasi 0,50 0,52 0,51 0,52 0,51
8. Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan 0,70 0,71 0,71 0,72 0,71
9. Jasa-jasa 0,76 0,81 0,80 0,79 0,79
Sumber : Analisis Data
Apabila dianalisis dari sektor unggulan, misalnya sektor listrik, gas, dan air minum dengan LQ sebesar 1,39 artinya bahwa nilai tambah sektor listrik, gas, dan air minum di Kabupaten Kendal lebih besar 1,39 kali dibandingkan nilai tambah sektor sejenis di Provinsi Jawa Tengah. Sektor listrik, gas, dan air minum, sektor pertanian, dan sektor industri pengolahan yang memiliki nilai LQ > 1 merupakan sektor-sektor unggulan di Kabupaten Kendal sehingga perlu terus dikembangkan untuk dapat memberikan kontribusi yang semakin signifikan terhadap pertumbuhan perekonomian Kabupaten Kendal melalui peningkatan kontribusi sektor-sektor tersebut dalam pembentukan PDRB Kabupaten Kendal.
K a j i a n P o t e n s i E k o n o m i K a b u p a t e n IV - 12
Nilai koefisien LQ pada sektor pertanian dan sektor industri pengolahan di Kabupaten Kendal dapat dirinci lagi ke dalam subsektor-subsektor. Sementara pada tujuh sektor yang lain, nilai koefisien LQ tidak dapat dirinci ke dalam subsektor-subsektor karena tidak adanya ketersediaan data PDRB pada lingkup wilayah Kabupaten Kendal pada subsektor-subsektor di tujuh sektor, yaitu sektor pertambangan dan penggalian, sektor listrik, gas, dan air minum, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, dan sektor jasa-jasa.
Nilai koefisien LQ sektor pertanian di Kabupaten Kendal sebesar 1,23. Sektor pertanian terdiri atas lima subsektor, yaitu tanaman bahan makanan, tanaman perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Dari kelima subsektor tersebut, empat subsektor memiliki nilai koefisien LQ lebih besar dibandingkan sektor pertanian itu sendiri, yaitu subsektor peternakan, kehutanan, perikanan, dan tanaman perkebunan. Nilai rerata koefisien LQ subsektor-subsektor tersebut dalam kurun waktu tahun 2007 – 2010 berturut-turut sebesar 2,26, 2,26, 1,79, dan 1,59. Dengan memiliki nilai koefisien LQ > 1, maka keempat subsektor tersebut merupakan subsektor unggulan yang perlu dikembangkan lebih lanjut untuk mendorong pertumbuhan sektor pertanian dan pertumbuhan perekonomian Kabupaten Kendal. Dari keempat subsektor unggulan tersebut, subsektor peternakan dan subsektor kehutanan memiliki keunggulan yang lebih besar sehingga perlu diprioritaskan untuk dikembangkan. Sementara itu, pada sektor pertanian terdapat satu subsektor yang memiliki nilai LQ < 1, yaitu subsektor tanaman bahan makanan dengan nilai LQ sebesar 0,91.
Pada Tabel 4.4 ditunjukkan secara lengkap nilai koefisien LQ dari lima subsektor dalam sektor pertanian di Kabupaten Kendal.
Tabel 4.4 Nilai Koefisien Location Quotient (LQ) Subsektor-subsektor dalam Sektor Pertanian di Kabupaten Kendal Tahun 2007 – 2010
No. Subsektor Nilai Koefisien LQ
2007 2008 2009 2010 Rerata
1. Tanaman bahan makanan 0,84 0,87 1,01 0,94 0,91
2. Tanaman perkebunan 1,66 1,70 1,54 1,46 1,59
3. Peternakan 2,21 2,22 2,28 2,35 2,26
4. Kehutanan 2,29 2,32 2,28 2,16 2,26
5. Perikanan 1,72 1,72 1,80 1,91 1,79
Sumber : Analisis Data
Sementara itu pada sektor industri pengolahan, nilai koefisien LQ sektor industri pengolahan di Kabupaten Kendal sebesar 1,22. Sektor industri pengolahan di Kabupaten Kendal hanya berupa industri non migas. Secara nasional sektor industri non migas terdiri atas sembilan subsektor, tetapi untuk cakupan Kabupaten Kendal sektor industri non migas hanya terdiri atas delapan subsektor yaitu :
1. industri makanan, minuman, dan tembakau; 2. industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki; 3. industri barang kayu dan hasil hutan lainnya; 4. industri kertas dan barang cetakan;
5. industri pupuk, kimia, dan barang dari karet; 6. industri semen dan barang lain bukan logam; 7. industri alat angkutan, mesin, dan peralatan; dan 8. industri barang lainnya.
K a j i a n P o t e n s i E k o n o m i K a b u p a t e n IV - 14
Subsektor dalam sektor industri non migas yang tidak terdapat di Kabupaten Kendal adalah industri logam dasar besi dan baja.
Sektor industri non migas di Kabupaten Kendal memiliki nilai rata-rata koefisien LQ sebesar 1,50 dalam kurun waktu tahun 2007 – 2010. Terdapat enam subsektor dalam sektor industri non migas di Kabupaten Kendal yang memiliki nilai rata-rata koefisien LQ lebih besar 1, bahkan beberapa di antaranya memiliki nilai koefisien LQ di atas sektor industri non migas. Subsektor-subsektor yang memiliki nilai rata-rata koefisien LQ lebih besar dari 1 dapat dikatakan menjadi subsektor unggulan yang mampu berkontribusi dalam peningkatan pertumbuhan perekonomian Kabupaten Kendal. Subsektor-subsektor dalam sektor industri non migas dengan nilai rata-rata koefisien LQ lebih besar dari 1 dalam kurun waktu tahun 2007 – 2010 adalah sebagai berikut diurutkan dari subsektor yang memiliki nilai rata-rata koefisien LQ tertinggi :
1. industri semen dan barang lain bukan logam (LQ = 9,17); 2. industri barang lainnya (LQ = 3,28);
3. industri pupuk, kimia, dan barang dari karet (LQ = 2,42); 4. industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki (LQ = 1,95); 5. industri barang kayu dan hasil hutan lainnya (LQ = 1,39); dan 6. industri alat angkutan, mesin, dan peralatan (LQ = 1,23).
Sementara itu, subsektor dalam sektor industri non migas di Kabupaten Kendal yang memiliki nilai rata-rata koefisien LQ kurang dari 1 dalam kurun waktu tahun 2007 – 2010 adalah subsektor industri makanan, minuman, dan tembakau dengan LQ sebesar 0,92 serta subsektor industri kertas dan barang cetakan dengan LQ sebesar 0,42.
Pada Tabel 4.5 ditunjukkan secara lengkap nilai koefisien LQ dari delapan subsektor dalam sektor industri non migas di Kabupaten Kendal.
Tabel 4.5 Nilai Koefisien Location Quotient (LQ) Subsektor-subsektor dalam Sektor Industri Non Migas di Kabupaten Kendal Tahun 2007 – 2010
No. Subsektor Nilai Koefisien LQ
2007 2008 2009 2010 Rerata
1. Industri makanan, minuman, dan tembakau 0,92 0,92 0,87 0,96 0,92 2. Industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki 2,03 1,97 1,93 1,87 1,95
3. Industri barang kayu dan hasil hutan lainnya 1,45 1,45 1,37 1,30 1,39
4. Industri kertas dan barang cetakan 0,46 0,41 0,40 0,40 0,42 5. Industri pupuk, kimia, dan barang dari karet 2,77 2,39 2,35 2,19 2,42
6. Industri semen dan barang lain bukan logam 9,29 9,29 9,00 9,10 9,17
7. Industri alat angkutan, mesin, dan peralatan 1,46 1,15 1,16 1,14 1,23
8. Industri barang lainnya 3,31 3,23 3,22 3,35 3,28
Sumber : Analisis Data