• Tidak ada hasil yang ditemukan

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH KABUPATEN KENDAL

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

Alamat : Jl Soekarno -Hatta No. 191 Telp. (0294) 381225 Kendal Kode Pos : 51311

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i DAFTAR TABEL ... ii DAFTAR GAMBAR ... iv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... I – 1 B. Tujuan dan Manfaat ... I – 5 1. Tujuan ... I – 5 2. Manfaat ... I – 6 C. Ruang Lingkup Kajian ... I – 6 1. Lingkup Wilayah Kajian ... I – 6 2. Lingkup Substansi Kajian ... I – 6 D. Sistematika Penulisan ... I – 6 BAB II LANDASAN TEORI DAN METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

A. Landasan Teori ... II – 1 B. Kerangka Pikir ... II – 8 C. Definisi Operasional Variabel ... II – 9 D. Metodologi Kajian ... II – 11 BAB III GAMBARAN UMUM KABUPATEN KENDAL

A. Kondisi Geografis ... III – 1 B. Kondisi Demografis ... III – 3 C. Kondisi Perekonomian ... III – 7 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Proporsi PDRB ... IV – 3 B. Analisis Pertumbuhan PDRB ... IV – 7 C. Analisis Location Quotient ... IV – 10 D. Analisis Shift - Share ... IV – 15 E. Analisis Tipologi Klassen ... IV – 35 F. Matriks Analisis ... IV – 39 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... V – 1 B. Saran ... V – 4 DAFTAR PUSTAKA

(3)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Paradigma Lama dan Paradigm Baru ... II – 4 Tabel 2.2 Klasifikasi Pertumbuhan Ekonomi menrurut Tipologi Klassen ... II – 18 Tabel 3.1 Banyaknya Kelurahan/Desa, Dukuh, Rukun Warga (RW) dan

Rukun Tetangga (RT) Kabupaten Kendal tahun 2010 ... III – 2 Tabel 3.2 Banyaknya Penduduk Kabupaten Kendal Dirinci Menurut

Jenis Kelamin Tahun 2006 – 2011 ... III – 3 Tabel 3.3 Banyaknya Pencari Kerja Kabupaten Kendal Tahun 2006 – 2011 ... III – 5 Tabel 3.4 PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku

Kabupaten Kendal Tahun 2007 – 2011 ... III – 11 Tabel 3.5 PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan

Kabupaten Kendal Tahun 2007 – 2011 ... III – 12 Table 3.6 Pertumbuhan Sektoral Ekonomi Kabupaten Kendal

Tahun 2006 – 2011 ... III – 13 Table 4.1. Proporsi Nilai Output Sektor dan Subsektor Perekonomian terhadap

PDRB Kabupaten Kendal Tahun 2007 – 2010 ... IV – 5

Tabel 4.2 Perbandingan Pertumbuhan Nilai Output Sektor-sektor

Perekonomian di Kendal dan Jawa Tengah dalam Kurun Waktu

Tahun 2007 – 2010 ... IV – 9 Tabel 4.3 Nilai Koefisien Location Quotient (LQ) Sembilan Sektor di Kabupaten

Kendal Tahun 2007 – 2010 ... IV – 11

Tabel 4.4 Nilai Koefisien Location Quotient (LQ) Subsektor-subsektor dalam

Sektor Pertanian di Kabupaten Kendal Tahun 2007 – 2010 ... IV – 13 Tabel 4.5 Nilai Koefisien Location Quotient (LQ) Subsektor-subsektor

dalam Sektor Industri Non Migas di Kabupaten Kendal

Tahun 2007 – 2010 ... IV – 15

Tabel 4.6 Bauran Industri pada Masing-masing Sektor di Kabupaten Kendal pada Tahun 2007 – 2010 ... IV – 19

Tabel 4.7 Bauran Industri pada Masing-masing Subsektor pada Sektor Pertanian di Kabupaten Kendal pada Tahun 2007 – 2010 ... IV – 20

(4)

Tabel 4.8 Bauran Industri pada Masing-masing Subsektor pada Sektor Industri

Pengolahan di Kabupaten Kendal pada Tahun 2007 – 2010 ... IV – 21

Tabel 4.9 Keunggulan Kompetitif Masing-masing Sektor di Kabupaten Kendal pada Tahun 2007 – 2010 ... IV – 22

Tabel 4.10 Keunggulan Kompetitif Masing-masing Subsektor pada Sektor

Pertanian di Kabupaten Kendal pada Tahun 2007 – 2010 ... IV – 23 Tabel 4.11 Keunggulan Kompetitif Masing-masing Subsektor pada Sektor Industri

Pengolahan di Kabupaten Kendal pada Tahun 2007 – 2010 ... IV – 24 Tabel 4.12 Hasil Analisis Shift-Share Klasik terhadap Sektor dan Subsektor

Perekonomian di Kabupaten Kendal Tahun 2007 – 2010

(dalam Rp juta) ... IV – 25

Tabel 4.13 Hasil Analisis Shift-Share Modifikasi Esteban-Marquillas terhadap

Sektor dan Subsektor Perekonomian di Kabupaten Kendal Tahun 2007 – 2010 (dalam Rp juta) ... IV – 27

Tabel 4.14 Keunggulan Kompetitif dan Spesialisasi Masing-masing Sektor di

Kabupaten Kendal pada Tahun 2007 – 2010 (dalam Rp juta) ... IV – 29 Tabel 4.15 Keunggulan Kompetitif dan Spesialisasi Masing-masing Sektor pada

Sektor Pertanian dan Sektor Industri Pengolahan di Kabupaten Kendal

pada Tahun 2007 – 2010 (dalam Rp juta) ... IV – 31 Tabel 4.16 Pertumbuhan dan Kontribusi PDRB Sektor maupun Subsektor di

Kabupaten Kendal dan Provinsi Jawa Tengah pada Periode

Tahun 2007 – 2010 (dalam %) ... IV – 34 Tabel 4.17 Klasifikasi Sektor Perekonomian di Kabupaten Kendal Berdasarkan

Analisis Tipologi Klassen ... IV – 35 Tabel 4.18 Klasifikasi Subsektor Perekonomian di Kabupaten Kendal

Berdasarkan Analisis Tipologi Klassen ... IV – 36 Table 4.19 Matriks Hasil Analisis Location Quotient (LQ), Shift-Share Modifikasi

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Model Kerangka Pikir Teoritis ... II – 9 Gambar 3.1. Kabupaten Kendal ... III –1 Gambar 3.2. Grafik PDRB Per Kapita Kabupaten Kendal Atas Dasar

Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun 2007 – 2010 ... III – 15 Gambar 4.1 Proporsi Nilai Output Sektor dan Subsektor Perekonomian

terhadap PDRB Kabupaten Kendal Tahun 2007 – 2010 ... IV – 6 Gambar 4.2 Proporsi Nilai Output Subsektor-subsektor dalam Sektor Pertanian

terhadap PDRB Kabupaten Kendal Tahun 2007 – 2010 ... IV – 6 Gambar 4.3 Proporsi Nilai Output Subsektor-subsektor dalam Sektor Industri

Pengolahan terhadap PDRB Kabupaten Kendal Tahun

2007 – 2010 ... IV – 7

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Usaha pertumbuhan ekonomi pada umumnya merupakan fokus pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi erat kaitannya dengan peningkatan produksi barang dan jasa, yang pada tingkat nasional antara lain diukur melalui Produk Domestik Bruto (PDB) dan pada tingkat daerah baik Propinsi, Kabupaten maupun Kota diukur melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Pertumbuhan ekonomi daerah merupakan proses kenaikan pendapatan per kapita daerah dalam jangka panjang., Perekonomian suatu daerah dikatakan mengalami pertumbuhan apabila tingkat kegiatan perekonomian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dicapai lebih tinggi dari waktu tahun sebelumnya (Arsyad, 1999). Faktor utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi daerah adalah adanya permintaan barang dan jasa dari luar daerah, sehingga sumber daya lokal akan dapat menghasilkan kekayaan daerah sekaligus dapat menciptakan peluang kerja di daerah. Artinya sumber daya lokal baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang dimiliki daerah merupakan kunci dalam perekonomian suatu daerah sehingga sumber daya yang ada merupakan potensi ekonomis yang dapat dikembangkan secara optimal agar dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang merupakan tujuan dari pembangunan ekonomi daerah.

Pembangunan ekonomi daerah melibatkan multisektor dan pelaku pembangunan, sehingga diperlukan kerjasama dan koordinasi diantara

(7)

semua pihak yang berkepentingan. Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan dengan sektor swasta untuk menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi dalam wilayah tersebut. (Arsyad, 1999 : 108).

Kebijakan-kebijakan pembangunan daerah yang berlandaskan pada upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja secara optimal dari segi jumlah, produktivitas dan efisien sangat menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi daerah. Penentuan kebijakan harus memperhitungkan kondisi internal serta perkembangan eksternal. Perbedaan kondisi internal dan eksternal hanyalah pada jangkauan wilayah, dimana kondisi internal meliputi wilayah daerah/regional, sedangkan kondisi eksternal meliputi wilayah nasional.

Sejak era reformasi tahun 1998 terjadi pergeseran paradigma dalam sistim penyelenggaraan pemerintahan dari pola sentralisasi menjadi pola desentralisasi atau disebut otonomi daerah. Hal ini mengandung makna, beralihnya sebagian besar proses pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan dari pusat ke daerah (Armida, 2000). Pelaksanaan otonomi daerah membawa implikasi mendasar terhadap keberadaan tugas, fungsi dan tanggung jawab antara lain dibidang ekonomi yang meliputi implikasi terhadap pertumbuhan ekonomi dan pemerataan antar daerah serta pencarian sumber-sumber pembiayaan untuk pembangunan dengan cara menggali potensi yang dimiliki oleh daerah. Oleh sebab itu pembangunan ekonomi

(8)

daerah sangat ditentukan oleh kebijakan daerah itu sendiri dalam menentukan sektor- sektor yang diprioritaskan untuk pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut.

John Glasson (1990) mengatakan bahwa kemakmuran suatu wilayah berbeda dengan wilayah lainnya. Perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan pada struktur ekonominya dan faktor ini merupakan faktor utama. Perubahan wilayah kepada kondisi yang lebih makmur tergantung pada usaha-usaha di daerah tersebut dalam menghasilkan barang dan jasa, serta usaha-usaha pembangunan yang diperlukan. Oleh sebab itu maka kegiatan basis mempunyai peranan penggerak utama (prime mover role) dalam pertumbuhan ekonomi suatu daerah, dimana setiap perubahan mempunyai efek multiplier terhadap perekonomian regional.

Berdasarkan teori basis ekonomi, faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan akan barang dan jasa dari luar daerah (Arsyad,1999). Pertumbuhan industri-industri yang menggunakan sumberdaya lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan baku untuk di ekspor akan menghasilkan kekayaan daerah dan menciptakan peluang kerja (job creation). Pelaksanaan pembangunan daerah memerlukan perencanaan dan strategi yang tepat karena setiap daerah mempunyai keadaan yang berbeda, mempunyai karakteristik tersendiri, laju pertumbuhan ekonomi maupun potensi yang berbeda pula.

Kabupaten Kendal adalah salah satu wilayah Kabupaten di Jawa Tengah dengan luas wilayah keseluruhan sekitar 1.002,23 km2 atau 100.223 hektar. Letak Kabupaten Kendal berbatasan langsung dengan Kota Semarang berjarak kurang lebih 31 km. Selain itu, posisinya yang berada di jalur pantura memberikan keuntungan dalam perkembangan pembangunan daerah di Kabupaten Kendal.

(9)

Jumlah penduduk Kabupaten Kendal sampai dengan pertengahan tahun 2011 mencapai 1.078.510 jiwa yang terdiri dari laki-laki 537.303 jiwa (49,82%) dan perempuan 541.207 jiwa (50,18%).

Pada tahun 2007 Kabupaten Kendal mempunyai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp. 7.696.533,20 dan pada tahun 2010 sebesar Rp. 10.776.650,88 atau berada pada urutan 7 di Provinsi Jawa Tengah. Sedangkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan pada tahun 2007 adalah sebesar Rp. 4.624.628,16 dan pada tahun 2010 sebesar

Rp. 5.392.965,71.Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kendal dalam kurun waktu

2007-2010 berfluktuasi pada kisaran 4,30 hingga 5,95 persen. Kabupaten Kendal pada periode 2007-2010 mengalami percepatan dengan laju pertumbuhan ekonomi yang selalu tumbuh dari tahun ke tahun, meskipun pada tahun 2008 sempat turun dibanding tahun 2007.

Tingkat kesejahteraan masyarakat secara umum bisa ditunjukkan oleh meningkatnya tingkat pendapatan perkapita suatu wilayah. PDRB perkapita penduduk Kabupaten Kendal dalam kurun 2007-2010 naik dari Rp. 8,65 Juta menjadi Rp. 11,97 Juta berdasarkan atas harga berlaku atau rata-rata meningkat sebesar 9,59 persen per tahun. Kenaikan itu bukan nilai riil, kenaikan yang terjadi lebih disebabkan oleh pengaruh kenaikan tingkat harga barang dan jasa atau inflasi. Kenyataan tersebut tercermin dari nilai PDRB per kapita atas dasar harga konstan, dimana dalam kurun waktu yang sama perolehannya naik dari Rp. 5,20 juta menjadi Rp. 5,99 Juta atau naik rata – rata sebesar 3,80 persen pertahun.

(10)

Guna meningkatkan pendapatan daerah pada dewasa ini masing-masing daerah dituntut harus mampu berusaha sendiri untuk meningkatkan pendapatannya, maka penggalian potensi ekonomi daerah dan penggunaan potensi yang tepat adalah jalan terbaik, karena tanpa memperhitungkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah maka pengembangan pembangunan dan pendapatan daerah tidak akan mencapai hasil yang optimal atau sesuai dengan yang diharapkan. Potensi ekonomi daerah merupakan kemampuan ekonomi yang ada di daerah yang mungkin dan layak dikembangkan sehingga akan terus berkembang menjadi sumber kehidupan rakyat setempat bahkan dapat menolong perekonomian daerah secara keseluruhan untuk berkembang dengan sendirinya dan berkesinambungan (Soeparmoko, 2002).

Kajian mengenai potensi ekonomi berupa sektor-sektor unggulan sangat diperlukan untuk perencanaan pengembangan pembangunan yang akan datang terutama dalam pelaksanaan otonomi daerah. Dari uraian tersebut maka diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui potensi serta identifikasi sektor-sektor ekonomi daerah Kabupaten Kendal sebagai pedoman dalam merumuskan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di era otonomi daerah.

B. Tujuan dan Manfaat Kajian 1. Tujuan

Kajian ini bertujuan bertujuan untuk menganalisis potensi ekonomi dan mengidentifikasi sektor-sektor ekonomi di Kabupaten Kendal dengan cara : a. Mengetahui sektor-sektor basis/unggulan di Kabupaten Kendal.

(11)

b. Mengidentifikasi dan menganalisis kinerja sektor-sektor ekonomi terutama untuk mengetahui sektor-sektor yang mempunyai daya saing kompetitif dan spesialisasi.

c. Menentukan prioritas sektor basis guna pengembangan pembangunan di Kabupaten Kendal.

2. Manfaat

Hasil kajian ini diharapkan menjadi sumber informasi dan pedoman bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Kendal untuk :

a. Membuat perencanaan kebijakan pembangunan ekonomi daerah berdasarkan potensi ekonominya.

b. Bahan informasi untuk dipertimbangkan tentang kinerja masing-masing sektor. C. Ruang Lingkup Kajian

1. Lingkup Wilayah Kajian.

Lingkup wilayah kegiatan kajian ini mencakup seluruh wilayah administrasi Pemerintah Daerah Kabupaten Kendal.

2. Lingkup Substansi Kajian.

Lingkup substansi kegiatan kajian ini adalah identifikasi potensi ekonomi Kabupaten Kendal secara umum.

D. Sistematika Penulisan

Sistematika Laporan Pendahuluan adalah sebagai berikut :

1. Bab I Pendahuluan, memuat latar belakang, tujuan dan manfaat kajian, ruang kajian dan sistematika Laporan Akhir Kajian Potensi Ekonomi Kabupaten Kendal.

(12)

2. Bab II Landasan Teori dan Metode Pelaksanaan Pekerjaan, memuat landasan teori, kerangka pikir, definisi operasional variable dan metodologi kajian.

3. Bab III Gambaran Umum Kabupaten Kendal, memuat gambaran kondisi Kabupaten Kendal yang terdiri dari gambaran geografis, demografis, kondisi pertanian, kondisi sarana prasarana, kondisi perdangan dan industry serta kondisi perekonomian.

4. Bab IV Hasil dan Pembahasan.

(13)

BAB II

LANDASAN TEORI DAN

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

A. Landasan Teori

Landasan teori digunakan untuk memberikan acuan dalam memecahkan permasalahan dalam penelitian khususnya pada kajian potensi ekonomi Kabupaten Kendal. Landasan teori merupakan penjabaran dari tinjauan pustaka yang diperoleh dari berbagai literatur yang sesuai dengan penelitian ini.

1. Teori Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output riil. Todaro (1997:112) mengatakan bahwa proses pertumbuhan ekonomi mempunyai kaitan erat dengan perubahan struktural dan sektoral yang tinggi. Beberapa perubahan komponen utama struktural ini mencakup pergeseran secara perlahan-lahan aktivitas pertanian ke sektor non pertanian dan dari sektor industri ke sektor jasa. Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan atau berkembang apabila tingkat kegiatan ekonomi pada tahun tersebut lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Menurut Boediono (1985), pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output perkapita dalam jangka panjang. Disini, proses mendapat penekanan karena mengandung unsur dinamis. Beberapa ahli ekonomi pembangunan menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya diukur dengan pertambahan PDB dan

(14)

kepuasan dan kebahagiaan, dengan rasa aman dan tenteram yang dirasakan masyarakat luas (Lincolyn, 1999).

Di sisi lain Hoover (1977), menerangkan bahwa teori pertumbuhan regional berbasis ekspor merupakan beberapa aktivitas disuatu daerah adalah basic, dengan kata lain pertumbuhannya menimbulkan serta menentukan pembangunan menyeluruh daerah tersebut. Sedangkan aktivitas-aktivitas lain (non-basic) merupakan konsekuensi dari pembangunan menyeluruhnya. Begitu juga menurut Bendavid-Val (1991) yang menyatakan bahwa semua pertumbuhan regional ditentukan oleh sektor basic, sedangkan sektor non-basic hanyalah yang mencakup aktivitas pendukung, seperti perdagangan, jasa-jasa perseorangan, produksi input untuk produk-produk di sektor basic, melayani industri-industri di sektor basic maupun pekerja-pekerja beserta keluarganya di sektor basic, atau menurut Bachrul (2004), dikatakan bahwa kegiatan-kegiatan basis adalah kegiatan yang mengekspor barang dan jasa diluar batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan, sedangkan kegiatan bukan basis adalah kegiatan yang menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh orang yang bertempat tinggal dalam batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan. Menurut model ini multiplier basis ekonomi dihitung menurut banyaknya tenaga kerja yang dipekerjakan.

2. Teori Perubahan Struktur

Teori perubahan struktural menitikberatkan pada mekanisme transformasi ekonomi yang dialami oleh negara sedang berkembang yang semula lebih bersifat subsisten dan menitikberatkan pada sektor pertanian menuju ke struktur perekonomian yang lebih modern dan sangat didominasi oleh sektor industri dan

(15)

jasa (Todaro, 1999). Transformasi struktural perekonomian dengan sendirinya akan menjadi suatu kenyataan dan perekonomian itupun pada akhirnya pasti beralih dari perekonomian pertanian tradisional yang berpusat di pedesaan menjadi sebuah perekonomian industri modern yang berorientasi kepada pola kehidupan perkotaan. Proses transformasi struktural dari pertanian ke industri di Indonesia berlangsung secara tidak merata dilihat dari dimensi regional (Kuncoro, 1996:33-41).

Glasson (1990:63) mendefinisikan kegiatan sektor basis adalah kegiatan sektor ekonomi yang mengekspor barang/jasa ke tempat lain di luar batas-batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan. Artinya bahwa sektor ini dalam aktivitasnya mampu memenuhi kebutuhan daerah sendiri maupun daerah lain atau disebut juga sektor ini sebagai sektor unggulan. Sementara sektor non basis adalah kegiatan sektor ekonomi yang hanya menyediakan barang/jasa yang dibutuhkan masyarakat yang bertempat tinggal dalam batas-batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan, atau disebut juga dengan sektor non unggulan.

3. Paradigma Baru Teori Pembangunan Ekonomi Daerah

Pembangunan ekonomi daerah bertujuan untuk meningkatkan kesempatan kerja baik dari segi jumlah maupun jenisnya bagi masyarakat daerah. Bertambah banyaknya kegiatan basis dalam suatu daerah akan menambah arus pendapatan kedalam daerah yang bersangkutan, menambah permintaan barang dan jasa sehingga akan menimbulkan kenaikan volume kegiatan. Sebaliknya berkurangnya kegiatan basis akan mengurangi pendapatan suatu daerah dan turunnya permintaan terhadap barang dan jasa dan akan menurunkan volume kegiatan (Richardson, 1977). Oleh karena itu suatu daerah yang dapat mengelola dengan

(16)

baik sumber daya yang dimilikinya akan mampu tumbuh dan berkembang dengan pesat.

Dalam konteks pembangunan ekonomi daerah terdapat paradigma baru teori pembangunan ekonomi daerah seperti yang disajikan dalam tabel berikut ini:

Tabel 2.1

Paradigma Lama dan Paradigma Baru

KOMPONEN KONSEP LAMA KONSEP BARU

Kesempatan

Kerja Semakin banyak perusahaan = semakin banyak peluang Perusahaan harus mengembangkan pekerjaan

yang cocok dengan kondisi penduduk daerah

Unggulan

Pembangunan Pengembangan dari sektor ekonomi Pengembangan lembaga- lembaga ekonomi baru

Aset-Aset Lokal Keunggulkan komparatif di

dasarkan pada aset fisik Keunggulan kompetitif di dasarkan pada kualitas

lingkungan Sumber daya

Pengetahuan Ketersediaan angkatan kerja Pengetahuan sebagai pembangkit ekonomi

Sumber : Blakely (1994:62)

4. Analisis Sektor Unggulan

Kegiatan basis mempunyai peranan penggerak pertama (Prime mover role) dimana setiap perubahan mempunyai efek multiplier terhadap perekonomian regional. Berdasarkan teori-teori ekonomi yang ada, perbandingan peranan suatu sektor di Kabupaten Kendal pada periode tertentu dengan sektor yang sama pada tingkat Jawa Tengah, apabila hasilnya lebih dari satu maka dapat dikatakan sebagai sektor unggulan. Keunggulkan komparatif daerah dapat diukur dengan Location

Quotient (LQ) di mana dalam menentukan sektor unggulan yang dimiliki oleh daerah

adalah dengan cara membandingkan setiap sektor ekonomi di Kabupaten Kendal dengan peranan sektor ekonomi yang sama pada tingkat propinsi Jawa Tengah. Metode Location Quotient (LQ) adalah salah satu tehnik pengukuran yang paling

(17)

terkenal dari model basis ekonomi untuk menentukan sektor basis atau non basis (Prasetyo, 2001 : 41-53; Lincolyn, 1997: 290).

5. Potensi Ekonomi

Potensi ekonomi daerah merupakan kemampuan ekonomi yang ada di daerah yang mungkin dan layak dikembangkan sehingga akan terus berkembang menjadi sumber kehidupan rakyat setempat bahkan dapat menolong perekonomian daerah secara keseluruhan untuk berkembang dengan sendirinya dan berkesinambungan (Soeparmoko, 2002). Dalam menggerakkan seluruh perekonomian daerah secara bersama-sama, sebagaian besar negara ataupun daerah mengalami keterbatasan sumber daya, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya finansial maupun sumber daya lainnya. Oleh karena itu perlu diketahui potensi ekonomi yang dapat diketahui antara lain dengan melihat dari sektor-sektor dalam perekonomian yang mampu sebagai penggerak utama untuk memacu laju pembangunan di suatu negara atau daerah.

Selanjutnya Sihono (2001) mengatakan bahwa sektor ekonomi potensial yang ada di suatu daerah merupakan sektor yang memiliki kemampuan produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan sektor yang sama di daerah lain, dengan demikian produk dan jasa dari sektor ekonomi potensial tersebut di samping dapat mencukupi kebutuhan sendiri, selebihnya dapat dijual ke luar daerah sehingga daerah memperoleh pendapatan masuk. Pendapatan masuk tersebut akan mendorong pemanfaatan sumber daya lokal dan menggerakkan sektor ekonomi potensial yang sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya sektor ekonomi yang tidak potensial, sehingga perekonomian secara keseluruhan akan

(18)

berkembang yang pada akhirnya masing-masing sektor ekonomi merupakan pasar bagi sektor lain. Kondisi tersebut dapat menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

6. Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses dimana Pemerintah Daerah dan masyarakat mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada, dengan menjalin pola-pola kemitraan antara Pemerintah Daerah dan pihak swasta guna penciptaan lapangan kerja, serta dapat merangsang pertumbuhan ekonomi di daerah bersangkutan (Soeparmoko, 2002).

Laju pertumbuhan ekonomi daerah (PDRB) merupakan proses output per kapita dalam jangka panjang. Penekanan pada proses karena mengandung arti dinamis yaitu perubahan atau perkembangan. Pertumbuhan ekonomi berjalan secara bergulir dan selama pertumbuhan dapat meningkatkan pendapatan maka akan terjadi kenaikan tabungan, akumulasi kapital yang akan menyebabkan kenaikan permintaan tenaga kerja yang dapat menyerap pertumbuhan penduduk.

Ukuran-ukuran mengenai keterkaitan ekonomi pada dasarnya

menggambarkan hubungan antara perekonomian daerah dengan lingkungan sekitarnya. Analisis shift share merupakan teknik yang sangat berguna dalam menganalisis perubahan stuktur ekonomi daerah dibanding perekonomian nasional. Analisis ini memberikan data tentang kinerja perekonomian dalam 3 bidang yang berhubungan satu sama lain yaitu:

(19)

a) Pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan cara menganalisis perubahan pengerjaan agregat secara sektoral dibandingkan dengan perubahan sektor yang sama diperekonomian yang dijadikan acuan.

b) Pergeseran proposional mengukur perubahan relatif, pertumbuhan atau penurunan, pada daerah dibandingkan dengan perekonomian yang lebih besar dijadikan acuan. Pengukuran ini memungkinkan kita untuk mengetahui apakah perekonomian daerah terkonsentrasi pada industri-industri lebih cepat ketimbang perekonomian yang dijadikan acuan

c) Pergeseran diferensial membantu kita dalam menentukan seberapa jauh daya saing industri daerah (lokal) dengan perekonomian yang dijadikan acuan. Oleh karena itu, jika pergeseran diferensial dari suatu industri adalah positif, maka industri tersebut lebih tinggi daya saingnya ketimbang industri yang sama pada perekonomian yang dijadikan acuan. (Lincolin Arsyad,2004).

Untuk itu pengembangan sektor-sektor ekonomi yang potensial dan memiliki keunggulan memerlukan perhatian yang khusus, sehingga nantinya akan memberikan sumbangan yang besar terhadap kemajuan perekonomian daerah. Mengacu pada teori basis ekonomi, maka sektor unggulan dikenal dengan istilah sektor basis yang digunakan untuk mengidentifikasi pendapatan yang disumbangkan oleh sektor unggulan dalam sistem perekonomian daerah.

7. Perubahan Struktur Perekonomian

Sektor perekonomian akan mengalami pergeseran dalam jangka panjang sehingga akan mengakibatkan terjadinya perubahan struktur perekonomian. Akibatnya adalah akan terjadi perpindahan alokasi pendapatan dan tenaga kerja

(20)

dari sektor yang produktifitasnya rendah ke sektor yang produktifitasnya tinggi. Hal ini pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkat pendapatan masyarakat dari tiap-tiap sektor perekonomian. Peningkatan pendapatan per kapita dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi memungkinkan perekonomian akan bergeser dari sektor pertanian ke sektor industri.

B. Kerangka Pikir

Potensi ekonomi yang dimiliki suatu daerah dapat diketahui dari besarnya PDRB yang dihasilkan, pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita. Dari PDRB akan dapat diketahui output yang dihasilkan tiap sektor serta digunakan untuk menentukan sektor basis dan sektor yang mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialisasi. Dari pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita dapat diketahui tipologi daerah. Untuk menentukan sektor basis dalam perencanaan pengembangan pembangunan daerah digunakan pengaruh variabel keunggulan kompetitif, spesialisasi dan pertumbuhan ekonomi persektor terhadap sektor basis yang signifikan dan disesuaikan dengan tipologi daerah yang bersangkutan.

Perencanaan pembangunan suatu daerah haruslah disesuaikan dengan potensi yang dimiliki daerah bersangkutan dan inilah kunci keberhasilan program pengembangan pembangunan daerah. Perencanaan pembangunan itu harus mempertimbangkan sumber daya yang dapat dikembangkan tidak hanya sektor basis akan tetapi juga mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialisasi sehingga mampu bersaing dengan daerah lain sekitarnya. Variabel lain yang perlu dipertimbangkan adalah tipologi daerah itu sendiri. Dari uraian diatas maka dapatlah disusun suatu skema sebagai berikut :

(21)

Gambar 2.1 Model Kerangka Pikir Teoritis

C. Definisi Operasional Variabel 1. Potensi Ekonomi

Merupakan kemampuan ekonomi yang dimiliki daerah yang mungkin atau layak dikembangkan sehingga akan terus berkembang menjadi sumber penghidupan rakyat setempat bahkan dapat menolong perekonomian daerah secara keseluruhan untuk berkembang dengan sendirinya dan berkesinambungan (Soeparmoko, 2002).

2. Produk Domestik Regional Bruto ( PDRB )

Merupakan indikator untuk mengetahui kondisi perekonomian suatu wilayah, yang dapat dilihat berdasarkan harga berlaku atau atas dasar harga konstan. PDRB dimaksudkan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha POTENSI EKONOMI KAB. KENDAL BELUM OPTIMAL SEKTOR POTENSIAL DALAM PENGEMBGN WILAYAH PENGEMBGN POTENSI EKONOMI DAERAH PEMBANGUNAN & TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI WILAYAH PENENTUAN SEKTOR DGN KEUNGGULAN KOMPETITIF & SPESIALISASI (Shift-Share) PENENTUAN SEKTOR BASIS (METODE LQ) TIPOLOGI DAERAH PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH

(22)

yang ada dalam suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu biasanya satu tahun. PDRB yang terpakai dalam penelitian ini adalah PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000.

3. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan yang dimaksudkan adalah pertumbuhan PDRB rata-rata sejak tahun 2007–2010 yang dihitung dengan menggunakan rumus :

 Untuk pertumbuhan menurut lapangan usaha digunakan  ( E*ij - Eij ) / Eij

 Untuk pertumbuhan PDRB digunakan  ( E*j - Ej ) / Ej.

Dimana : E = Output

i = Lapangan usaha ( sektor ) j = Kabupaten / Kota

* adalah tahun terakhir 4. Pendapatan Perkapita

Merupakan perkiraan pendapatan perorangan yang dihasilkan dari PDRB pertahun dibagi dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun atau dengan kata lain pendapatan perkapita merupakan hasil bagi pendapatan regional dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.

5. Sektor – Sektor Ekonomi

Terdapat sembilan sektor ekonomi di masing-masing Kabupaten/Kota. Adapun sektor - sektor perekonomian yang dimaksud adalah :

- Pertanian

- Penggalian

(23)

- Listrik dan Air Minum

- Bangunan

- Perdagangan, Hotel dan Restoran

- Angkutan dan Komunikasi

- Keuangan Perusahaan dan Jasa Perusahaan

- Jasa – jasa

6. Kegiatan Ekonomi

Dalam perekonomian regional terdapat kegiatan-kegiatan ekonomi yang digolongkan kedalam 2 bagian yakni : Kegiatan basis /unggulan dan kegiatan non basis.

D. Metodologi Kajian

Penelitian kepustakaan yang dilakukan untuk memperoleh landasan teori yang dapat mendukung penulisan ini dan materi berupa data serta informasi yang berkenaan dengan permasalahan penelitian.

Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif dimana keduanya dapat digabungkan. Adapun sumber data yang digunakan adalah memanfaatkan sumber data sekunder yang dipublikasikan oleh berbagai instansi atau lembaga terkait antara lain :

1. Bappeda Propinsi Jawa Tengah;

2. Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Tengah; 3. Bappeda Kabupaten Kendal;

(24)

Dari data sekunder yang dibutuhkan kemudian diolah dengan formulasi yang dipakai sebagai landasan teorinya. Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Analisis Location Quotient (LQ)

Analisis Location Quotient (LQ) merupakan cara untuk menentukan sektor maupun subsektor yang menjadi unggulan sebagai penentu pertumbuhan ekonomi. Arsyad (1999:140-141) menjelaskan bahwa teknik Location Quotient (LQ) dapat membagi kegiatan ekonomi suatu daerah menjadi dua golongan yaitu :

1. kegiatan industri yang melayani pasar di daerah itu sendiri maupun di luar daerah yang bersangkutan yang dinamakan industry basic;

2. kegiatan ekonomi atau industri yang melayani pasar di daerah tersebut yang dinamakan industry nonbasic (industri lokal).

Analisis ini merupakan cara untuk menentukan sektor maupun subsektor yang menjadi unggulan sebagai penentu pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kendal dari sisi kontribusi terhadap PDRB dibandingkan dengan kontribusi sektor dan subsektor ekonomi yang sama Propinsi Jawa Tengah. Mengacu pada model pendekatan Location Quotient (LQ) (Blakely, 1994:93) dapat disajikan dalam persamaan :

Di mana vi = Pendapatan dari industri di Kab/Kota

vt = Pendapatan total Kab/Kota

Vi = Pendapatan dari industri sejenis di Provinsi

(25)

Kriteria untuk menentukan nilai LQ ini adalah : 1. LQ suatu sektor > 1 dikatakan sektor unggulan; 2. LQ suatu sektor < 1 dikatakan sektor bukan unggulan;

3. LQ suatu sektor = 1 dikatakan setingkat sektor tingkat propinsi.

Semakin tinggi nilai LQ suatu sektor, semakin tinggi pula competitive

advantage daerah yang bersangkutan dalam mengembangkan sektor tersebut.

Metode LQ adalah suatu suatu indikator sederhana yang menunjukkan kekuatan akan besar kecilnya suatu sektor dalam suatu daerah dibandingkan dengan peranan sektor yang sama di daerah lain. Arsyad (1999 : 141) keunggulan dari metode LQ ini secara cepat dapat mengetahui sektor-sektor yang menjadi unggulan suatu perekonomian daerah sehingga dapat menunjukkan kekuatan tentang besar kecilnya peranan suatu sektor dalam suatu daerah secara komparatif dengan sektor yang sama di daerah lain. Penggunaan LQ ini sangat sederhana dan banyak digunakan dalam analisis sektor-sektor basis dalam suatu daerah. Namun teknik ini mempunyai suatu kelemahan karena berasumsi bahwa permintaan disetiap daerah adalah identik dengan pola permintaan nasional, bahwa produktivitas tiap tenaga kerja disetiap daerah sektor regional adalah sama dengan produktivitas tiap tenaga kerja dalam industri nasional, dan bahwa perekonomian nasional merupakan suatu perekonomian tertutup. Sehingga perlu disadari bahwa: [i] Selera atau pola konsumsi dan anggota masyarakat itu berbeda–beda baik antar daerah maupun dalam suatu daerah. [ii] Tingkat konsumsi rata-rata untuk suatu jenis barang untuk setiap daerah berbeda. [iii] Bahan keperluan industri berbeda antar daerah.

(26)

Walaupun teori ini mengandung kelemahan, namun sudah banyak studi empirik yang dilakukan dalam rangka usaha memisahkan sektor-sektor basis – bukan basis. Disamping mempunyai kelemahan, metode ini juga mempunyai dua kebaikan penting, pertama ia memperhitungkan ekspor tidak langsung dan ekspor langsung. Kedua metode ini tidak mahal dan dapat diterapkan pada data historik untuk mengetahui trend (Prasetyo, 2001)

2. Analisis Shift – Share

Pada dasarnya analisis Shif-Share membahas hubungan antara pertumbuhan wilayah dan struktur ekonomi wilayah, untuk mengetahui perubahan struktur perekonomian dan pertumbuhan ekonomi di daerah dibandingkan dengan perekonomian daerah yang lebih tinggi. Menurut Bendavid - Val (1983), Hoover (1984) (Lihat Prasetyo, 1993: 44) tehnik ini menggambarkan performance (kinerja) sektor-sektor di suatu wilayah dibandingkan kinerja sektor-sektor perekonomian nasional. Dengan demikian dapat ditemukan adanya shift (pergeseran) hasil pembangunan perekonomian daerah, apakah daerah itu memperoleh kemajuan lebih lambat atau lebih cepat dari kemajuan nasional. Lincolyn Arsyad (1997: 290) dan Latif Adam (1994) mengemukakan bahwa analisis shift-share merupakan teknik yang sangat berguna dalam menganalisis perubahan struktur ekonomi daerah dibandingkan dengan perekonomian nasional.

Analisis Shift-Share digunakan untuk mengetahui perubahan struktur ekonomi daerah Kabupaten Kendal dibandingkan dengan regional Jawa Tengah. Teknik analisis ini dikembangkan oleh Creamer (Soepono, 1993:43-53) yang membagi pertumbuhan sebagai perubahan (D) suatu variabel wilayah, seperti

(27)

kesempatan kerja, nilai tambah, pendapatan suatu output, selama kurun waktu tertentu menjadi pengaruh-pengaruh pertumbuhan nasional (N), bauran industri (M) dan keunggulan kompetitif (C), untuk menganalisis sektor i di wilayah j dirumuskan secara matematika sebagai berikut :

Dij = Nij + Mij + Cij

Arsyad (1999:139-140) menjelaskan bahwa analisis Shift-Share ini dapat memberikan data tentang kinerja perekonomian dalam tiga bidang yang saling berhubungan yaitu :

1. pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan cara menganalisis perubahan pengerjaan aggregat secara sektoral dibandingkan dengan perubahan pada sektor yang sama di perekonomian yang dijadikan acuan;

2. pergeseran proporsional (proportional shift), mengukur perubahan relatif, pertumbuhan atau penurunan pada daerah dibandingkan dengan perekonomian yang lebih besar yang dijadikan acuan;

3. Pergeseran diferensial (differential shift) membantu dalam menentukan seberapa jauh daya saing industri daerah (lokal) dengan perekonomian yang dijadikan acuan.

Alat analisis Shift-Share yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis seberapa jauh kinerja perekonomian terhadap sektor maupun sub sektor unggulan di Kabupaten Kendal yang ditinjau dari aspek pengaruh pertumbuhan, bauran industri, nilai kompetitif, dan alokasinya. Model analisis Shift –

share yang digunakan dalam penelitian ini mengikuti notasi yang dikemukakan oleh

(28)

Dij = Rij + Mij + Cij ………..……… (2.1)

Dij = Y*ij - Yij …..…………....……… (2.2)

Rij = Yij - rR ………..……… (2.3)

Mij = Yij ( riR - rR ) ...………..……… (2.4)

Cij = Yij ( rij + riR ) …….……..……… (2.5)

Di mana rij , riR dan rR mewakili laju pertumbuhan wilayah dan laju pertumbuhan

regional yang masing-masing didefinisikan sebagai berikut:

rij = [( Y*ij - Y ij ) / Y ij ] .…..……… (2.6)

riR = [( Y*iR - Y iR ) / Y iR ] .………..…(2.7)

rR = [( Y*R - YR ) / YR ] .…..……….…(2.8)

Selanjutnya dari modifikasi Esteban – Marquillas (E-M) yang memperhitungkan pengaruh alokasi dengan rumus sebagai berikut :

Y’ij = Yj ( YiR - YR ) ……....……… (2.9)

C’ij = Y’ij ( rij - riR ) ………..……….……… (2.10)

Aij = (Y ij – Y’ ij ) ( rij - riR ) ………….……… (2.11)

Dij = Y ij (rR) + Yij (riR - r R) + Y’ij (rij - r iR) + (Yij - Y’ij) (rij - riR) ……(2.12)

Modifikasi Arcelus membedakan pengaruh pertumbuhan perekonomian daerah dengan rumus sebagai berikut :

Kij = Y’ ij (rj - r R) + (Yij - Y’ij) (rj - rR) ………..…(2.13)

Komponen bauran industri regional dengan rumus :

KIij = Y’ ij . {(rij - rj) - (riR - rR)} + (Yij - Y’ij) . {(rij – rj) - (riR - rR)}……(2.14)

Keterangan :

(29)

Rij = Perubahan pertumbuhan PDRB sektor i di Jawa Tengah

Mij = Perubahan pertumbuhan PDRB sektor i di Kabupaten/Kota yang

dipengaruhi bauran industri regional

Cij = Keunggulan kompetitif sektor i yang dipengaruhi laju pertumbuhan

Kabupaten/Kota

Yij = PDRB sektor i Kabupaten/Kota pada tahun awal analisis

Y*ij= PDRB sektor i Kabupaten/Kota pada tahun akhir analisis

YR = Total PDRB Jawa Tengah pada tahun (t)

riR = Laju pertumbuhan sektor i PDRB Jawa Tengah

rR = Laju pertumbuhan PDRB Jawa Tengah

rij = Laju pertumbuhan Sektor i PDRB Kabupaten Kendal

rj = Laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Kendal

Aij = Tingkat spesialisasi Kabupaten Kendal masing-masing sektor

Y’ij = PDRB Kabupaten Kendal apabila laju pertumbuhan disamakan dengan laju

pertumbuhan Jawa Tengah

C’ij = Keunggulan kompetitif sektor i yang dipengaruhi laju pertumbuhan Jawa

Tengah

Kij = Prestasi sektor i yang diipengaruhi selisih pertumbuhan Kabupaten/Kota dan

Propinsi

KIij = Prestasi sektor i yang diipengaruhi bauran industri Kota dan Propinsi

3. Analisis Klassen Typology

Karakteristik tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi daerah dapat diketahui dengan menggunakan alat analisis tipologi Klassen. Sjafrizal (1997:27-28)

(30)

menjelaskan bahwa dengan menggunakan alat analisis ini dapat diperoleh empat karakteristik pertumbuhan masing-masing daerah yaitu daerah maju dan bertumbuh cepat (rapid growth region), daerah maju tetapi tertekan (retarded region), daerah sedang bertumbuh (growing region), dan daerah relatif tertinggal (relatively

backward region). Penyajian secara matrik dari alat analisis Tipologi Klassen oleh

Sjafrizal (1997;30) sebagai berikut :

Tabel 2.2

Klasifikasi Pertumbuhan Ekonomi menurut Tipologi Klassen PDRB Per kapita (y)

Laju Pertumbuhan (r)

y1 > y y1 < y

r1 > r Daerah maju dan

bertumbuh cepat Daerah sedang bertumbuh

r1 < r Daerah maju tetapi

tertekan Daerah relatif tertinggal

Sumber : Sjafrizal, Pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional WIBB, 1997

Keterangan :

r1 = laju pertumbuhan PDRB Kabupaten/Kota

r = laju pertumbuhan total PDRB Propinsi

y1 = Pendapatan per kapita Kabupaten/Kota

y = Pendapatan per kapita Propinsi

Kuncoro (1996:33-41) menggunakan alat analisis ini untuk menunjukkan kinerja pertumbuhan ekonomi 27 propinsi di Indonesia yaitu dengan cara membandingkan antara rasio pendapatan per kapita dan rasio pertumbuhan di mana masing-masing propinsi di Indonesia diklasifikasikan ke dalam empat kelompok, yaitu (a) low growth, high income, (b) high growth, high income, (c) high

(31)

growth, low income, (d) low growth, low income. Kriteria yang digunakan untuk

membagi daerah adalah sebagai berikut:

[i] Daerah cepat maju dan cepat tumbuh (High growth and high income) adalah laju pertumbuhan PDRB dan pendapatan perkapita lebih tinggi dari rata – rata pertumbuhan dan pendapatan perkapita rata- rata nasional.

[ii] Daerah maju tapi tertekan. (high income but low growth) yaitu daerah yang relatif maju, tapi dalam beberapa tahun terakhir laju pertumbuhan menurun akibat tertekannya kegiatan utama daerah yang bersangkutan. Daerah ini merupakan daerah yang telah maju tapi dimasa mendatang pertumbuhannya tidak akan begitu cepat walaupun potensi pengembangan yang dimiliki pada dasarnya sangat besar. Daerah ini mempunyai pendapatan perkapita lebih tinggi tapi tingkat pertumbuhan ekonominya lebih rendah dibandingkan rata- rata nasional. [iii] Daerah berkembang cepat (high growth but low income) adalah daerah yang

dapat berkembang cepat dengan potensi pengembangan yang dimiliki sangat besar tapi belum diolah sepenuhnya secara baik. Tingkat pertumbuhan ekonomi daerah sangat tinggi, namun tingkat pendapatan perkapita yang mencerminkan dari tahap pembangunan yang telah dicapai sebenarnya masih relatif rendah. Daerah ini memiliki tingkat pertumbuhan tinggi tetapi tingkat pendapatan perkapita lebih rendah dibandingkan dengan rata- rata nasional.

[iv] Daerah relatif tertinggal (low growth and low income) adalah daerah yang masih mempunyai tingkat pertumbuhan dan pendapatan perkapita lebih rendah dari pada rata-rata nasional.

(32)

BAB III

GAMBARAN UMUM KABUPATEN KENDAL

A. Kondisi Geografis 1. Geografis

Gambar 3.1 Kabupaten Kendal

Kabupaten Kendal adalah salah satu wilayah Kabupaten di Jawa Tengah. Batas wilayah Kabupaten Kendal secara administratif adalah sebagai berikut sebelah utara adalah Laut Jawa dan sebelah selatan adalah Kabupaten Semarang dan Temanggung. Sementara batas sebelah timur adalah Kota Semarang dan sebelah barat adalah Kabupaten Batang.

Kabupaten Kendal berbatasan langsung dengan Kota Semarang berjarak kurang lebih 31 km. Posisi Kabupaten Kendal yang berada di jalur pantura juga memberikan keuntungan dalam perkembangan pembangunan daerah di Kabupaten Kendal. Secara geografis Kabupaten Kendal terletak pada posisi 109º 40’-110º 18’ Bujur Timur dan 6º 32’-7º 24’ Lintang Selatan dengan luas wilayah keseluruhan sekitar 1.002,23 km2 atau 100.223 hektar.

(33)

Topografi Kabupaten Kendal terbagi sebagai berikut : daerah pegunungan yang terletak di bagian paling selatan dengan ketinggian antara 0 sampai dengan

2.579 m dpl dengan suhu berkisar 25 C. Kemudian daerah perbukitan sebelah

tengah dan dataran rendah serta pantai disebelah utara dengan ketinggian antara

0 s/d 10 m dpl dan suhu berkisar 27 C (Kendal Dalam Angka 2010)

2. Pemerintahan

a. Administrasi Pemerintahan.

Sistem Pemerintahan Kabupaten Kendal menganut Undang-undang Nomor: 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, termasuk Undang-Undang yang mengatur perubahannya. Hirarki pemerintah Kabupaten Kendal secara administratif terbagi kedalam 20 Kecamatan, yang terbagi lagi kedalam 286 Desa/Kelurahan, kemudian dikelompokkan lagi kedalam 1.487 RW dan 6.327 RT. Berikut data selengkapnya mengenai administrasi pemerintah Kabupaten Kendal :

Tabel 3.1 Banyaknya Kelurahan/Desa, Dukuh, Rukun Warga (RW) Dan

Rukun Tetangga (RT) Kabupaten Kendal Tahun 2010

No. KECAMATAN KEL/DESA DUKUH RW RT

1 Plantungan 12 55 61 248 2 Sukorejo 18 79 82 440 3 Pageruyung 14 75 75 271 4 Patean 14 85 85 327 5 Singorojo 13 68 89 345 6 Limbangan 16 64 74 238 7 Boja 18 97 112 458 8 Kaliwungu 9 33 67 282 9 Brangsong 12 44 76 255 10 Pegandon 12 47 58 210 11 Ngampel 12 44 55 220 12 Gemuh 16 50 78 314 13 Ringinarum 12 41 55 344 14 Weleri 16 49 98 407 15 Rowosari 16 72 84 344

(34)

16 Kangkung 15 45 60 334 17 Cepiring 15 40 52 320 18 Patebon 18 77 83 419 19 Kota Kendal 20 51 82 345 20 Kaliwungu Selatan 8 58 60 254 286 1.139 1.487 6.375

Sumber: Kendal Dalam Angka 2010

B. Kondisi Demografis 1. Demografi

Jumlah penduduk di Kabupaten Kendal dari tahun ketahun terus meningkat. Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kendal sampai dengan pertengahan tahun 2011 data jumlah penduduk di Kabupaten Kendal telah mencapai 1.078.510 jiwa yang terdiri dari laki-laki 537.303 jiwa (49,82%) dan perempuan 541.207 jiwa (50,18%). Dengan membandingkan banyaknya penduduk laki-laki dan penduduk perempuan, maka diketahui bahwa sex ratio penduduk Kabupaten Kendal pertengahan tahun 2011 sebesar 993 per 1000. Dalam lima tahun terakhir, peningkatan jumlah penduduk paling tinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu meningkat 11,5% dari jumlah penduduk ditahun 2007. Data penduduk Kabupaten Kendal selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3.2 Banyaknya Penduduk Kabupaten Kendal

Dirinci Menurut Jenis Kelamin Tahun 2006 – 2011 PENDUDUK T A H U N 2006 2007 2008 2009 2010 2011 a. Laki-laki 453.719 462.612 520.589 527.224 535.279 537.303 b. Perempuan 464.776 474.808 524.514 531.269 539.661 541.207 JUMLAH 918.495 937.420 1.045.10 3 1.058.493 1.074.940 1.078.510 Kepadatan/Km2 916 935 1.043 1.056 1.061 1.066

(35)

Dengan memperhatikan jumlah penduduk pada tabel diatas, maka dapat dilihat hingga pertengahan tahun 2011 jumlah penduduk di Kabupaten Kendal hanya mengalami sedikit peningkatan yaitu 0,33% yakni dari jumlah 1.058.491.074.940 jiwa di tahun 2010 meningkat menjadi 1.078.510 jiwa pada tahun 2011. Jumlah penduduk yang terus meningkat dengan luasan wilayah yang tetap membuat tingkat kepadatan penduduk juga terus naik. Pada pertengahan tahun 2011 kepadatan rata-rata 1.066 jiwa/km².

Jumlah penduduk kelompok umur pada usia produktif yaitu dari 15-64 tahun adalah 721.218 jiwa. Jumlah penduduk kelompok umur 0-14 tahun sebanyak 220.787 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk kelompok 65 tahun keatas berjumlah 76.786 jiwa. Dilihat dari piramida penduduk Kabupaten Kendal maka kelompok umur usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif. 2. Ketenagakerjaan.

Pekerjaan merupakan pokok penghidupan masyarakat. Setiap orang yang telah menyelesaikan pendidikannya berusaha untuk mencari nafkah dengan mencari pekerjaan pada orang lain. Minimnya lapangan pekerjaan yang tersedia, membuat jumlah pencari kerja tinggi. Ditambah lagi dengan dengan peningkatan jumlah penduduk usia produktif, membuat persaingan semakin ketat yang akhirnya meningkatkan angka pengangguran.

Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertran) Kabupaten Kendal mencatat bahwa jumlah pencari kerja di Kabupaten Kendal sampai akhir tahun 2010 tercatat sebanyak 5.625 orang, sedikit naik dari tahun 2009 yaitu sebanyak 5.162 orang. Dalam lima tahun terakhir, jumlah pencari kerja tertinggi

(36)

pada tahun 2008 yaitu 10.747 orang. Pada pertangahan tahun 2011 ini, jumlah pencari kerja tercatat sebanyak 1.496 orang.

Dari tingkat pendidikannya sebagian besar pencari kerja di Kabupaten Kendal dari tahun ke tahun adalah berpendidikan SLTA, sekitar 55% dari total pencari kerja. Sementara yang berpendidikan kurang dari SLTA (SD dan SMP) sebanyak 31% dan perguruan tinggi (Sarmud/Diploma/Sarjana) hanya 14%.

Menurut kelompok umur, jumlah pencari kerja di Kabupaten Kendal sebagian besar berumur 20-29 tahun yang mencapai 2.230 orang pada akhir tahun 2010, sementara hingga pertengahan tahun 2011 mencapai 700 orang atau 46,8% dari seluruh jumlah pencari kerja. Sedangkan yang berumur 30-44 tahun sebanyak 261 orang atau 35,8% dan kelompok umur pencari kerja termuda adalah yang berumur dari 15 tahun sampai dengan yang berumur 19 tahun tercatat ada sebanyak 535 orang atau 17,4. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa usia produktif pencari kerja adalah pada kisaran umur 20 tahun sampai dengan 44 tahun. Data pencari kerja selengkapnya sebagai berikut:

Tabel 3.3 Banyaknya Pencari Kerja

Kabupaten Kendal Tahun 2006- 2011

PENCARI KERJA TAHUN

2

006

2007 2008 2009 2010 2011 1) Menurut Jenis Kelamin

- Laki-laki 2.374 3.276 5.690 3.079 2.912 1.005 - Perempuan 2.371 3.312 5.057 2.083 2.713 491 2) Menurut pendidikan - SD/Sederajat 233 262 219 28 55 12 - SMP/Sederajat 689 842 614 479 533 449 - SMA/Sederajat 2.213 2.252 6.088 2.496 2.700 820 - Akademi/Sederajat 695 886 2.755 1.395 1.466 144 - S1 / Sederajat 904 1.092 1.071 764 871 71 - S2 / Sederajat 1 0 0 4 0 0

(37)

3) Menurut Umur

- <19 tahun 787 1.574 2.224 1.177 1.929 535

- 20 - 29 tahun 1.099 1.471 4.053 2.497 2.230 700

- 30 - 44 tahun 2.859 3.543 4.777 1.459 1.466 261

- >45 0 0 0 0 0 0

Sumber : Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kendal 2011 Minimnya lapangan kerja didalam negeri membuat sebagian masyarakat memilih untuk bekerja di luar negeri. Dalam 5 tahun terakhir jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri paling tinggi ditahun 2009 yaitu sebanyak 7.234 orang. Namun jumlah tersebut sedikit turun ditahun 2010 menjadi 6.966 orang dan pada pertengahan tahun 2011 jumlah TKI sebanyak 3.917 orang.

Program transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah memberikan pilihan bagi masyarakat yang ingin berusaha mencari penghidupan yang lebih layak di daerah lain. Selama tahun 2010, pemerintah Kabupaten Kendal melalui Dinsosnakertrans melaksanakan program pengembangan wilayah transmigrasi melalui kegiatan-kegiatan antara lain penguatan SDM pemerintah daerah dan masyarakat transmigrasi perbatasan di 15 lokasi, peningkatan kerjasama antar wilayah, antar pelaku dan antar sektor dalam rangka pengembangan kawasan, penyediaan dan pengelolaan prasarana dan sarana sosial ekonomi di kawasan transmigrasi, pengerahan dan fasilitasi perpindahan serta penempatan transmigrasi untuk memenuhi SDM, penjajagan lokasi transmigran untuk penempatan tahun 2011, serta pelatihan transmigrasi regional.

Masalah ketenagakerjaan tidak berhenti pada penciptaan lapangan pekerjaan namun juga menjaga agar tenaga kerja terlindungi hak-haknya. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menjadi ancaman bagi para pekerja. Kasus

(38)

namun jumlah tenaga kerja yang di PHK berbeda-beda. Pada tahun 2008, jumlah tenaga kerja yang di PHK paling tinggi yaitu mencapai 772 orang. Pada tahun 2009 dan 2010 jumlah tenaga kerja yang di PHK sebanyak 750 orang dan 67 orang. Sedangkan hingga pertengahan tahun 2011 ini, tenaga kerja yang diPHK mencapai 57 orang tenaga kerja. Selain masalah PHK, para tenaga kerja juga masih menghadapi minimnya upah yang diterima. Menurut data Dinsosnakertran, rata-rata kebutuhan layak hidup di Kabupaten Kendal adalah Rp 878.650 namun rata-rata upah minimum kabupaten hanya Rp 843.750 atau masih dibawah kebutuhan layak hidup.

C. Kondisi Perekonomian 1 PDRB

1.1 Pertanian

Sektor Pertanian merupakan sektor andalan kabupaten kendal, sektor ini memberikan sumbangan yang cukup besar dalam pembentukan PDRB kabupaten kendal yaitu menduduki peringkat kedua setelah sektor industri pengolahan. Sektor Pertanian terbagi menjadi lima sub sektor yaitu sub sektor tanaman bahan makanan, tanaman perkebunan, peternakan, kehutanan dan sub sektor Perikanan.

Sektor pertanian tahun 2010 mengalami penurunan terjadi pada sub sektor tanaman perkebunan yaitu dari 132,7 Milyar di tahun 2010 menjadi 144, 1 Milyar di tahun 2009. laju Pertumbuhan sub sektor tanaman bahan makanan juga mengalami penurunan dibanding tahun 2009 yang mengalami kenaikan. Hal ini

(39)

disebabkan karena adanya musim yang kurang baik sehingga produksi di kedua sub sektor tersebut menurun.

Sub sektor Peternakan dan hasil – hasilnya pada tahun 2010 mempunyai nilai tambah sebesar 316,02 Milyar, meningkat bila dibandingkan capaian di tahun 2009 senilai 289,76 milyar. Komoditas sub sektor peternakan yang potensial di Kabupaten Kendal antara lain sapi potong, kambing, dan ayam. Sub sektor peternakan di tahun 2010.

Sub sektor Kehutanan di tahun 2010 menghasilkan nilai PDRB sebesar 39,2 milyar. Peran subsektor ini terhadap PDRB kendal sangat kecil.

Laju pertumbuhan sub sektor Perikanan di tahun 2010 mengalami kenaikan dengan nilai tambah sebesar Rp. 105,9 milyar. Nilai ini lebih besar dibanding pada tahun 2009 sebesar Rp. 101,2 milyar. Peningkatan produksi di tahun 2010 terjadi baik pada perikanan darat maupun perikanan laut.

1.2 Pertambangan Dan Penggalian

Sampai dengan tahun 2010 di Kabupaten Kendal sektor Pertambangan dan penggalian yang sudah memberikan kontribusi terhadap pembentukan PDRB hanya sub sector penggalian. Kontribusi sector Pertambangan dan penggalian terhadap pembentukan PDRB dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 juga relative kecil.

1.3 Industri Pengolahan

Nilai PDRB sektor industri pengolahan atas dasar harga konstan tahun 2010 sebesar Rp 2,15 triliun meningkat dibanding tahun 2009 dengan nilai

(40)

Rp. 1,96 triliun. Peningkatan ini terjadi di semua kelompok industri. Diantara sub kelomppok industri yang ada kelompok industri makanan, minuman dan tembakau mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 804,451 M. Sedangkan pertumbuhan terendah terjadi pada kelompok industri kertas dan barang cetakan.

1.4 Listrik, Gas dan Air Minum

Dalam suatu perekonomian sektor ini merupakan sektor penunjang dari seluruh kegiatan ekonomi, dan sebagai infrastruktur yang mendorong proses produksi maupun kebutuhan primer masyarakat. Produksi listrik sebagian besar dihasilkan oleh PLN, sedangkan sebagian besar produksi air bersih dihasilkan oleh PDAM. Produksi listrik menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Nilai tambah yang dihasilkan pada tahun 2010 sebesar Rp. 61 milyar

1.5 Bangunan

Pembangunan sarana dan prasarana fisik yang terus dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Kendal selama tahun 2010 memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan sektor ini. Pada tahun 2010 dengan nilai tambah sebesar Rp. 159,8 milyar.

1.6 Perdagangan, Hotel dan restoran

Sub sektor perdagangan mempunyai peran sebagai penghubung kegiatan konsumn dan produsen yang menghasilkan barang dan jasa.

(41)

Perkembangan sektor-sektor ekonomi lainnya secara langsung memberikan dampak terhadap perkembangan sektor perdagangan, hotel, restoran.

Laju pertumbuhan sector perdagangan, hotel, restoran di Kabupaten Kendal pada tahun 2010 mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp. 980,8 Milyar pada tahun 2010 dan Rp. 915 M pada tahun 2009.

1.7 Pengangkutan dan Komunikasi

Percepatan pembangunan disertai peran sector transportasi dan komunikasi yang memadai, dapat menjadikan sektor ini sebagai indikator kemajuan suatu daerah. Pada tahun 2010 Sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami peningkatan dari 134,4 M pada tahun 2009 menjadi Rp. 146,3 milyar pada tahun 2010

1.8 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

Seiring dengan meningkatnya aktivitas perekonomian di Kabupaten Kendal baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya maka kebutuhan akan peranan dari sector keuangan, persewaan dan jasa perusahaan akan semakin meningkat.

1.9 Jasa – Jasa

Nilai PDRB atas dasar harga konstan untuk sector jasa-jasa tahun 2010 senilai Rp. 434,9 milyar.

(42)

Tabel 3.4 PDRB Menurut lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Kendal Tahun 2007-2010 (dalam jutaan rupiah)

Lapangan Usaha 2007 2008 2009* 2010**

(1) (3) (4) (5) (6)

1. PERTANIAN 1.916.343,80 2.124.245,05 2.567.264,89 2.816.797,65 1.1 tanaman bahan makanan 933.375,99 1.044.392,83 1.384.868,47 1.500.092,50 1.2 Tanaman Perkebunan 188.623,58 219.405,70 226.562,08 219.279,20 1.3 Peternakan & hasil -

hasilnya 501.828,36 550.486,32 620.614,91 730.051,41 1.4 Kehutanan 82 011,44 83.960,04 89.437,09 98.171,97 1.5 Perikanan 210.504,43 226.000,15 245.782,35 269.202,57 2. PERTAMBANGAN & 92.427,28 105.295,92 116.460,71 123.034,34 PENGGALIAN 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 2.728.472,51 3.076.225,13 3.178.947,84 3.647.977,66 3.1 Industri makanan, minuman dan tembakau 946.930,21 1.121.362,79 1.150.971,45 1.424.446,62

3.2 Industri barang dari kulit dan alas kaki

541.613,18 595.114,87 603.229,71 654.673,46

3.3 Ind.Barang Kayu & hasil hutan lainnya

328.098,99 368.409,52 380.405,00 410.741,25

3.4 Ind Kertas dan barang cetakan

11.052,70 12.394,76 12.743,83 13.754,09

3.5 Ind. Pupuk,Kimia dan barang dari karet

254.100,55 272.688,99 282.933,59 313.329,33

3.6 Ind. Semen dan barang lain bukan logam

562.473,90 616.361,18 653.553,19 725.899,02

3.7 Ind Logam dasar besi dan baja

0,00 0,00 0,00 0,00

3.8 Ind Alat angkutan, mesin dan peralatan

60.788,96 64.879,66 69.091,74 76.158,12

3.9 Ind Barang lainnya 23.414,03 25.013,35 26.039,34 28.975,76

4. LISTRIK, GAS & AIR MINUM

131.818,72 147.737,10 154.441,04 171.903,02 5. BANGUNAN 285.025,89 311.125,50 357.305,91 393.978,13 6. PERDAGANGAN,

HOTEL & RESTORAN

1.333.509,26 1.497.257,88 1.615.590,05 1.826.072,30 7. PENGANGKUTAN &

KOMUNIKASI

253.537,11 293.682,01 319.369,40 364.701,30 8. KEUANGAN,

PERSEWAAN & JASA PERUSAHAAN

218.784,82 251.547,90 289.696,92 322.961,61

9. JASA – JASA 736.614,32 866.723,22 956.783,13 1.109.224,85 PDRB 7.696,533,70 8.673.839,70 9.555.859,89 10.776.650,88 Catatan: *) angka di perbaikai ; **) Angka sementara

(43)

Tabel 3.5 PDRB Menurut lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Kendal Tahun 2007-2010 (dalam jutaan rupiah)

Lapangan Usaha 2007 2008 2009* 2010**

(1) (3) (4) (5) (6)

1. PERTANIAN 1.082.393,63 1.124.042,62 1.271.019,25 1.257.186,85 1.1 tanaman bahan makanan 544.078,20 576.158,38 697.856,00 663.393,55 1.2 Tanaman Perkebunan 147.158,43 149.689,14 144.083,62 132.680,46 1.3 Peternakan & hasil -

hasilnya 258.817,21 264.371,54 289.764,01 316.017,49 1.4 Kehutanan 38.789,86 36.927,15 38.067,80 39.215,41 1.5 Perikanan 93.549,92 96.896,41 101.247,81 105.879,93 2. PERTAMBANGAN & 48.050,97 49.920,30 53.220,39 53.782,87 PENGGALIAN 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 1.859.317,25 1.927.188,77 1.959.314,05 2.152.289,72 3.1 Industri makanan, minuman dan tembakau 615.881,05 669.398,95 677.889,18 804.451,03

3.2 Industri barang dari kulit dan alas kaki

429.165,01 430.076,82 431.046,08 447.248,36

3.3 Ind.Barang Kayu & hasil hutan lainnya

217.066,93 218.870,25 223.239,45 231.079,51

3.4 Ind Kertas dan barang cetakan

7.220,30 7.502,15 7.596,60 7.915,50

3.5 Ind. Pupuk,Kimia dan barang dari karet

177.451,17 179.440,14 181.895,80 192.649,73

3.6 Ind. Semen dan barang lain bukan logam

348.720,06 357.766,66 371.414,62 398.795,69

3.7 Ind Logam dasar besi dan baja

0,00 0,00 0,00 0,00

3.8 Ind Alat angkutan, mesin dan peralatan

46.687,44 47.153,31 48.925,21 51.677,59

3.9 Ind Barang lainnya 17.125,28 16.980,49 17.307,11 18.472,31

4. LISTRIK, GAS & AIR MINUM

56.192,13 57.989,49 58.547,48 61.850,52 5. BANGUNAN 132.000,26 139.957,57 151.985,06 159.796,42 6. PERDAGANGAN,

HOTEL & RESTORAN

846.226,79 877.481,56 915.639,26 980.811,09 7. PENGANGKUTAN &

KOMUNIKASI

118.060,40 127.686,52 134.411,98 146.336,37 8. KEUANGAN,

PERSEWAAN & JASA PERUSAHAAN

117.828,73 127.187,48 137.501,24 146.035,65

9. JASA - JASA 364.558,01 389.877,37 408.594,48 434.876,22 PDRB 4.624.628,16 4.821.331,68 5.090.233,18 5.392.965,71 Catatan: *) angka di perbaikai ; **) Angka sementara

(44)

2 Perrtumbuhan Ekonomi

Keberhasilan pembangunan ekonomi pada era otonomi merupakan salah satu cita-cita masyarakat Kabupaten Kendal. Keberhasilan pembangunan ekonomi tercermin dari meningkatnya pertumbuhan ekonomi, berkurangnya angka kemiskinan dan pengangguran. Dalam menganalisis pertumbuhan ekonomi kita harus hari-hati karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi bukan merupakan jaminan peningkatan kesejahteraan masyarakat.hal ini mungkin terjadi apabila pola pembangunan ekonomi difokuskan pada peningkatan nilai tambah semata namun kurang memperhatikan penyerapan tenaga kerja. Dengan tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi diharapkan produktifitas dan pendapatan masyarakat akan meningkat melalui penciptaan lapangan pekerjaan dan kesempatan berusaha.

Berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan, laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kendal tahun 2010 sebesar Rp. 5,392 Milyar mengalami percepatan dibanding tahun sebelumnya.

Selengkapnya pertumbuhan sektoral ekonomi Kabupaten Kendal dalam kurun 2007-2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3.6 pertumbuhan sektoral ekonomi Kabupaten Kendal 2007-2010

Sektor 2007 2008 2009* 2010** 1. Pertanian 0,27 3,85 13,08 -1,09 2. Pertambangan/Penggalian 13,27 3,89 6,61 1,06 3. Industri Pengolahan 5,86 3,65 1,67 9,85 4. Listrik/Gas/Air Bersih 16,77 3,20 0,96 5,64 5. Konstruksi 2,71 6,03 8,59 5,14 6. Perdagangan/Hotel/Restoran 4,52 3,69 4,35 7,12 7. Transportasi/ Komunikasi 11,04 8,15 5,27 8,87 8. Keu/persewaan/jasa pershn 5,06 7,94 8,11 6,21 9. Jasa-jasa 3,91 6,95 4,80 6,43 PDRB 4,30 4,25 5,58 5,95

(45)

Dalam kurun waktu 2007-2010 kondisi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kendal berfluktuasi pada kisaran 4,30 hingga 5,95 persen. Laju pertumbuhan tinggi terjadi pada tahun 2010 (5,95 persen), sedang yang terendah terjadi pada tahun 2008 (4,25 persen). Sejak tahun 2007-2010, perekonomian Kabupaten Kendal mengalami percepatan dengan laju pertumbuhan ekonomi yang selalu tumbuh dari tahun ketahun. Meskipun pada tahun 2008 sempat mengalami penurunan dibanding tahun 2007.

3 PDRB Perkapita

Tingkat kesejahteraan masyarakat secara umum bisa ditunjukkan oleh meningkatnya tingkat pendapatan perkapita suatu wilayah. Semakin tinggi tingkat perolehan pendapatan perkapita menunjukkan semakin tinggi pula tingkat kesejahterannnya. Sebaliknya penurunan pada tingkat perkapita menunjukkan tingkat kesejahteraan yang semakin menurun. Dengan asumsi bahwa pendapatan faktor dan transfer yang mengalir keluar sama dengan yang masuk, maka pendapatan perkapita dapat ditunjukkan melalui tingkat PDRB perkapita.

PDRB perkapita penduduk Kabupaten Kendal dalam kurun 2007-2010 naik dari Rp. 8,65 Juta menjadi Rp. 11,97 Juta berdasarkan atas harga berlaku atau rata-rata meningkat sebesar 9,59 persen per tahun. Akan tetapi bila ditelaah lebih lanjut, kenaikan itu bukan nilai riil. Kenaikan yang terjadi lebih disebabkan oleh pengaruh kenaikan tingkat harga barang dan jasa atau inflasi. Kenyataan tersebut tercermin dari nilai PDRB per kapita atas dasar harga konstan, dimana dalam kurun waktu yang sama perolehannya naik dari Rp. 5,20 juta menjadi Rp. 5,99 Juta atau naik rata – rata sebesar 3,80 persen pertahun.

(46)

Gambar 3.2 Grafik PDRB Per Kapita kabupaten Kendal Atas dasar harga Berlaku dan Harga Konstan tahun 2007-2010

(47)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan tahun 2000 yang dirinci menurut lapangan usaha. PDRB merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi perekonomian suatu wilayah pada periode tertentu. PDRB pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah, atau jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi dalam suatu wilayah.

PDRB yang digunakan dalam analisis kondisi perekonomian suatu wilayah adalah PDRB atas dasar harga konstan. PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar. Dengan demikian, PDRB atas dasar harga konstan dapat digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.

Dalam penelitian ini, untuk mengetahui kondisi perekonomian Kabupaten Kendal maka digunakan beberapa alat analisis, yaitu Location Quotient (LQ), Shift-Share (SS), dan Tipologi Klassen. Ketiga alat analisis tersebut bekerja dengan menggunakan data PDRB. Guna mengamati kondisi perekonomian Kabupaten Kendal dari perspektif ketiga alat analisis tersebut, maka digunakan PDRB dari wilayah dengan tingkat yang lebih tinggi sebagai komparasi, dalam hal ini digunakan PDRB Provinsi Jawa Tengah.

Struktur perekonomian yang akan dikaji didasarkan pada 9 (sembilan) sektor perekonomian, yaitu :

Gambar

Tabel 2.1   Paradigma Lama dan Paradigm Baru   .............................................
Gambar 2.1 Model Kerangka Pikir Teoritis
Gambar 3.1 Kabupaten Kendal
Tabel 3.2   Banyaknya Penduduk Kabupaten Kendal                 Dirinci Menurut Jenis Kelamin
+7

Referensi

Dokumen terkait

Gambut di areal penelitian merupakan gambut sangat dalam dengan ketebalan bervariasi mulai dari 7,2 meter sampai lebih dari 10 meter sehingga merupakan

Metode yang akan digunakan oleh peneliti metode Numbered Head Together (NHT) yang merupakan model pembelajaran yang bersifat berkelompok dengan Discovery Learning

Peserta didik melaporkan hasil rancangan motor listrik sederhana dan jadwal proyek di depan kelas yang akan dilakukan dengan meminta salah satu perwakilan kelompok untuk

Menurut Cannon, et al (2009) efektivitas bergantung pada sebaik apa medium tersebut sesuai dengan sebuah strategi pemasaran yaitu, pada tujuan promosi, pasar target yang

tabel yang menghubungkan entitas – entitasnya. Pada database Pengembangan Sistem informasi Diagnosis Penyakit THT Pada Manusia Dengan Metode Forward Chaining ini

Oleh karena itu dalam rangka menyeleksi dari 3.750 koperasi wanita yang telah dibentuk pada tahun 2009 maka dibutuhkan penilaian kinerja koperasi wanita agar

Merancang pesan dalam strategi komunikasi pemasaran merupakan cara Java Videotron menyampaikan karakteristik dari produk yang ditawarkan kepada konsumen yang sesuai

a) Apakah dengan merek Toyota yang dikenal sebagai produk mobil berkualitas memberikan penjualan signifikan yang tinggi terhadap angka penjualan New Avanza. b) Apakah karena