• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Shift-Share Klasik

Dalam dokumen BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (Halaman 62-73)

HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Analisis Shift-Share

4.1 Analisis Shift-Share Klasik

Analisis ini menjelaskan pengaruh-pengaruh yang menyebabkan perubahan

PDRB pada masing-masing subsektor maupun totalnya di Kabupaten Kendal (Dij) yang

dipecah atau diurai atas 3 komponen; yaitu :

1. pengaruh pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Tengah (Nij), yaitu seberapa besar

pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Tengah berpengaruh (positif atau negatif) terhadap pertumbuhan PDRB subsektor di Kabupaten Kendal;

2. pengaruh bauran industri Provinsi Jawa Tengah (Mij), yaitu seberapa besar

pertumbuhan PDRB subsektor dan pertumbuhan total PDRB di Provinsi Jawa Tengah berpengaruh terhadap pertumbuhan PDRB subsektor di Kabupaten Kendal;

3. pengaruh keunggulan kompetitif (Cij), yaitu seberapa besar pertumbuhan PDRB

subsektor di Kabupaten Kendal dan pertumbuhan PDRB subsektor yang sama di Provinsi Jawa Tengah berpengaruh terhadap pertumbuhan PDRB subsektor di Kabupaten Kendal.

Hasil analisis Shift-Share Klasik menunjukkan bahwa pertumbuhan PDRB

Kabupaten Kendal selama periode tahun 2007 – 2010 yaitu rata-rata sebesar Rp 265.327,98 juta/tahun dipengaruhi oleh pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Tengah

sebesar Rp 275.561,39 juta/tahun, bauran industri sebesar minus Rp 4.375,93 juta/tahun, dan keunggulan kompetitif sebesar minus Rp 5.857,49 juta/tahun.

Pengaruh pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Tengah terhadap pertumbuhan PDRB subsektor di Kabupaten Kendal bernilai positif, hal ini berarti bahwa pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Tengah memberikan kontribusi positif terhadap tumbuhnya PDRB seluruh subsektor di Kabupaten Kendal. Sektor industri pengolahan merupakan sektor di Kabupaten Kendal yang memperoleh manfaat terbesar dari pengaruh pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Tengah yaitu mencapai Rp 109.207,53 juta/tahun. Sektor berikutnya yang memiliki pertumbuhan besar akibat pengaruh pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Tengah adalah sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran, masing-masing mengalami pertumbuhan sebesar Rp 65.466,12 juta/tahun dan Rp 50.056,10 juta/tahun. Sektor di Kabupaten Kendal yang mengalami pertumbuhan paling kecil akibat pengaruh pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Tengah adalah sektor pertambangan dan penggalian, yaitu sebesar Rp 2.834,19 juta/tahun. Kecilnya pertumbuhan PDRB dari sektor pertambangan dan penggalian disebabkan oleh terbatasnya jenis dan jumlah barang tambang dan galian di Kabupaten Kendal sehingga pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Tengah kurang mampu mendorong tumbuhnya PDRB dari sektor ini. Barang galian di Kabupaten Kendal umumnya berupa barang galian C dan itupun jumlahnya relatif terbatas.

K a j i a n P o t e n s i E k o n o m i K a b u p a t e n IV - 18

Pada sektor industri pengolahan di Kabupaten Kendal, subsektor industri makanan, minuman, dan tembakau merupakan subsektor yang mengalami pertumbuhan

terbesar akibat pengaruh pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Tengah, yaitu mencapai Rp 38.268,01 juta/tahun. Subsektor berikutnya yang memiliki pertumbuhan besar adalah

subsektor industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki serta subsektor industri semen dan

barang lain bukan logam, masing-masing sebesar Rp 24.024,99 juta/tahun dan Rp 20.418,36 juta/tahun. Subsektor pada sektor industri pengolahan yang memiliki

pertumbuhan terkecil adalah subsektor industri kertas dan barang cetakan, yaitu sebesar Rp 418,05 juta/tahun.

Pada sektor pertanian di Kabupaten Kendal, subsektor tanaman bahan makanan merupakan subsektor yang mengalami pertumbuhan terbesar akibat pengaruh pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Tengah, yaitu mencapai Rp 34.311,62 juta/tahun. Subsektor berikutnya yang memiliki pertumbuhan besar adalah subsektor peternakan dengan pertumbuhan sebesar Rp 15.610,32 juta/tahun, disusul subsektor tanaman perkebunan sebesar Rp 7.931,35 juta/tahun, subsektor perikanan sebesar Rp 5.497,27, dan terakhir subsektor kehutanan sebesar Rp 2.115,54 juta/tahun.

Pengaruh bauran industri terhadap pertumbuhan PDRB subsektor di Kabupaten Kendal bernilai negatif, hal ini berarti bahwa pertumbuhan PDRB subsektor di Provinsi Jawa Tengah lebih kecil dibandingkan pertumbuhan total PDRB Provinsi Jawa Tengah sehingga memberikan kontribusi negatif terhadap pertumbuhan PDRB subsektor sejenis di Kabupaten Kendal berupa penurunan PDRB pada subsektor tersebut. Pertumbuhan PDRB subsektor yang lebih kecil dibandingkan pertumbuhan total PDRB menandakan

bahwa pertumbuhan subsektor lebih lambat dibandingkan pertumbuhan total PDRB. Subsektor yang demikian kurang menguntungkan dalam struktur perekonomian.

Sektor dan subsektor di Kabupaten Kendal ada yang memiliki bauran industri bernilai positif, ada pula yang bernilai negatif. Pada Tabel 4.6 berikut ditunjukkan bauran industri pada masing-masing sektor di Kabupaten Kendal.

Tabel 4.6 Bauran Industri pada Masing-masing Sektor di Kabupaten Kendal pada Tahun 2007 – 2010

No. Sektor Nilai

Bauran Industri Urutan Nilai Bauran Industri dari Terbesar ke Terkecil

1. Pertanian Negatif (-) 9

2. Pertambangan dan penggalian Negatif (-) 7

3. Industri pengolahan Positif (+) 1

4. Listrik, gas, dan air minum Positif (+) 6

5. Bangunan Positif (+) 3

6. Perdagangan, hotel, dan restoran Positif (+) 2

7. Pengangkutan dan komunikasi Positif (+) 5

8. Keuangan, persewaan, dan jasa

perusahaan Positif (+) 4

9. Jasa-jasa Negatif (-) 8

Sumber : Analisis Data

Berdasarkan Tabel 4.6 terdapat enam sektor di Kabupaten Kendal yang memiliki nilai bauran industri yang positif. Sektor-sektor tersebut jika diurutkan dari yang memiliki nilai bauran industri terbesar ke terkecil yaitu sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, sektor bangunan, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, sektor pengangkutan dan komunikasi, serta sektor listrik, gas, dan air minum. Keenam sektor di Kabupaten Kendal tersebut memiliki bauran industri bernilai positif karena sektor yang sama di Provinsi Jawa Tengah mengalami pertumbuhan lebih besar dibandingkan total PDRB Provinsi Jawa Tengah sehingga mendorong pertumbuhan PDRB sektor sejenis di Kabupaten Kendal.

K a j i a n P o t e n s i E k o n o m i K a b u p a t e n IV - 20

Sementara itu, tiga sektor di Kabupaten Kendal yang memiliki bauran industri bernilai negatif, yaitu sektor pertanian, sektor jasa-jasa, dan sektor pertambangan dan penggalian. Ketiga sektor di Kabupaten Kendal tersebut memiliki bauran industri bernilai negatif karena sektor yang sama di Provinsi Jawa Tengah mengalami pertumbuhan lebih lambat dibandingkan total PDRB Provinsi Jawa Tengah sehingga tidak mampu mendorong pertumbuhan PDRB sektor sejenis di Kabupaten Kendal, justru berakibat pada penurunan PDRB sektor sejenis di Kabupaten Kendal.

Pada Tabel 4.7 berikut ditunjukkan bauran industri pada masing-masing subsektor pada sektor pertanian di Kabupaten Kendal.

Tabel 4.7 Bauran Industri pada Masing-masing Subsektor pada Sektor Pertanian di Kabupaten Kendal pada Tahun 2007 – 2010

No. Subsektor Nilai

Bauran Industri Urutan Nilai Bauran Industri dari Terbesar ke Terkecil

1. Tanaman bahan makanan Negatif (-) 5

2. Tanaman perkebunan Negatif (-) 4

3. Peternakan Negatif (-) 2

4. Kehutanan Negatif (-) 1

5. Perikanan Negatif (-) 3

Sumber : Analisis Data

Sektor pertanian di Kabupaten Kendal memiliki bauran industri yang bernilai negatif. Demikian pula pada seluruh subsektor dalam sektor pertanian di Kabupaten Kendal, memiliki bauran industri yang bernilai negatif, sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4.7. Keenam subsektor dalam sektor pertanian di Kabupaten Kendal memiliki bauran industri bernilai negatif karena subsektor yang sama di Provinsi Jawa Tengah mengalami pertumbuhan lebih lambat dibandingkan total PDRB Provinsi Jawa Tengah sehingga tidak mampu mendorong pertumbuhan PDRB sektor sejenis di Kabupaten Kendal, justru berakibat pada penurunan PDRB sektor sejenis di Kabupaten Kendal.

Pada Tabel 4.8 berikut ditunjukkan bauran industri pada masing-masing subsektor pada sektor industri pengolahan di Kabupaten Kendal.

Tabel 4.8 Bauran Industri pada Masing-masing Subsektor pada Sektor Industri Pengolahan di Kabupaten Kendal pada Tahun 2007 – 2010

No. Subsektor Nilai

Bauran Industri Urutan Nilai Bauran Industri dari Terbesar ke Terkecil

1. Industri makanan, minuman, dan tembakau Positif (+) 1 2. Industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki Negatif (-) 8 3. Industri barang kayu dan hasil hutan

lainnya

Positif (+) 4

4. Industri kertas dan barang cetakan Positif (+) 5

5. Industri pupuk, kimia, dan barang dari karet Positif (+) 2 6. Industri semen dan barang lain bukan

logam Positif (+) 6

7. Industri alat angkutan, mesin, dan

peralatan Positif (+) 3

8. Industri barang lainnya Negatif (-) 7

Sumber : Analisis Data

Bauran industri pada sektor industri pengolahan di Kabupaten Kendal bernilai positif. Namun demikian, setelah dirinci per subsektor, terdapat subsektor yang memiliki nilai bauran industri yang positif dan terdapat pula subsektor yang memiliki nilai bauran industri yang negatif, sebagaiman ditunjukkan pada Tabel 4.8. Dari delapan subsektor dalam sektor industri pengolahan di Kabupaten Kendal, enam subsektor di antaranya memiliki nilai bauran industri yang positif dimana subsektor industri makanan, minuman, dan tembakau memiliki nilai bauran industri yang terbesar, disusul oleh subsektor industri pupuk, kimia, dan barang dari karet, subsektor alat angkutan, mesin, dan peralatan, subsektor industri barang kayu dan hasil hutan lainnya, subsektor industri kertas dan barang cetakan, serta subsektor industri semen dan barang lain bukan logam. Sementara itu, dua subsektor lainnya memiliki nilai bauran industri yang negatif, yaitu subsektor industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki serta subsektor industri barang lainnya.

K a j i a n P o t e n s i E k o n o m i K a b u p a t e n IV - 22

Pengaruh keunggulan kompetitif terhadap pertumbuhan PDRB subsektor di Kabupaten Kendal bernilai negatif, hal ini berarti bahwa sebagian subsektor di Kabupaten Kendal tumbuh lebih lambat dibandingkan subsektor yang sama di Provinsi Jawa Tengah. Subsektor maupun sektor yang memiliki pertumbuhan lebih lambat dibandingkan subsektor maupun sektor yang sama di level yang lebih tinggi, maka dikatakan bahwa produk dari subsektor maupun sektor tersebut tidak memiliki keunggulan kompetitif atau tidak memiliki daya saing untuk berkompetisi di level yang lebih tinggi. Pada Tabel 4.9 berikut ditunjukkan bauran industri pada masing-masing sektor di Kabupaten Kendal.

Tabel 4.9 Keunggulan Kompetitif Masing-masing Sektor di Kabupaten Kendal pada Tahun 2007 – 2010

No. Sektor Nilai Keunggulan Kompetitif Urutan Nilai Keunggulan Kompetitif dari Terbesar ke Terkecil Keterangan

1. Pertanian Positif (+) 1 Memiliki keunggulan

kompetitif

2. Pertambangan dan penggalian Negatif (-) 6 Tidak memiliki

keunggulan kompetitif

3. Industri pengolahan Negatif (-) 9 Tidak memiliki

keunggulan kompetitif

4. Listrik, gas, dan air minum Negatif (-) 7 Tidak memiliki

keunggulan kompetitif

5. Bangunan Negatif (-) 5 Tidak memiliki

keunggulan kompetitif 6. Perdagangan, hotel, dan

restoran Negatif (-) 8 keunggulan kompetitif Tidak memiliki

7. Pengangkutan dan komunikasi Positif (+) 3 Memiliki keunggulan kompetitif

8. Keuangan, persewaan, dan

jasa perusahaan Positif (+) 4 Memiliki keunggulan kompetitif

9. Jasa-jasa Positif (+) 2 Memiliki keunggulan

kompetitif Sumber : Analisis Data

Berdasarkan Tabel 4.9 dapat dilihat bahwa terdapat empat sektor di Kabupaten Kendal yang memiliki keunggulan kompetitif. Sektor pertanian merupakan sektor di Kabupaten Kendal yang memiliki keunggulan kompetitif terbesar, diikuti oleh sektor jasa-jasa, sektor pengangkutan dan komunikasi, serta sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan. Sementara itu, kelima sektor lainnya tidak memiliki keunggulan kompetitif karena pertumbuhan PDRB sektor tersebut lebih lambat dibandingkan pertumbuhan PDRB sektor yang sama di tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Keunggulan kompetitif pada masing-masing subsektor dalam sektor pertanian di Kabupaten Kendal ditunjukkan pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10 Keunggulan Kompetitif Masing-masing Subsektor pada Sektor Pertanian di Kabupaten Kendal pada Tahun 2007 – 2010

No. Subsektor Nilai Keunggulan Kompetitif Urutan Nilai Keunggulan Kompetitif dari Terbesar ke Terkecil Keterangan

1. Tanaman bahan makanan Positif (+) 1 Memiliki keunggulan

kompetitif

2. Tanaman perkebunan Negatif (-) 5 Tidak memiliki

keunggulan kompetitif

3. Peternakan Positif (+) 2 Memiliki keunggulan

kompetitif

4. Kehutanan Negatif (-) 4 Tidak memiliki

keunggulan kompetitif

5. Perikanan Positif (+) 3 Memiliki keunggulan

kompetitif Sumber : Analisis Data

Tabel 4.10 menunjukkan bahwa subsektor tanaman bahan makanan merupakan subsektor di Kabupaten Kendal yang memiliki keunggulan kompetitif tertinggi dibandingkan subsektor-subsektor lainnya dalam sektor pertanian. Subsektor lainnya yang memiliki keunggulan kompetitif adalah subsektor peternakan dan subsektor perikanan. Sementara itu, subsektor tanaman perkebunan dan subsektor kehutanan tidak memiliki keunggulan

K a j i a n P o t e n s i E k o n o m i K a b u p a t e n IV - 24

kompetitif dikarenakan pertumbuhan PDRB subsektor tersebut lebih lambat dibandingkan pertumbuhan PDRB subsektor yang sama di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Hal tersebut menunjukkan terdapat kabupaten/kota lain di Provinsi Jawa Tengah yang lebih unggul dalam mengembangkan subsektor tanaman perkebunan dan subsektor kehutanan.

Keunggulan kompetitif pada masing-masing subsektor dalam sektor industri pengolahan di Kabupaten Kendal ditunjukkan pada Tabel 4.11.

Tabel 4.11 Keunggulan Kompetitif Masing-masing Subsektor pada Sektor Industri Pengolahan di Kabupaten Kendal pada Tahun 2007 – 2010

No. Subsektor Nilai Keunggulan Kompetitif Urutan Nilai Keunggulan Kompetitif dari Terbesar ke Terkecil Keterangan

1. Industri makanan, minuman,

dan tembakau Positif (+) 1 Memiliki keunggulan kompetitif

2. Industri tekstil, barang kulit,

dan alas kaki Negatif (-) 7 keunggulan kompetitif Tidak memiliki 3. Industri barang kayu dan hasil

hutan lainnya

Negatif (-) 6 Tidak memiliki

keunggulan kompetitif 4. Industri kertas dan barang

cetakan Negatif (-) 3 keunggulan kompetitif Tidak memiliki

5. Industri pupuk, kimia, dan

barang dari karet Negatif (-) 8 keunggulan kompetitif Tidak memiliki 6. Industri semen dan barang lain

bukan logam

Negatif (-) 4 Tidak memiliki

keunggulan kompetitif 7. Industri alat angkutan, mesin,

dan peralatan Negatif (-) 5 keunggulan kompetitif Tidak memiliki

8. Industri barang lainnya Positif (+) 2 Memiliki keunggulan

kompetitif Sumber : Analisis Data

Sektor industri pengolahan di Kabupaten Kendal secara umum tidak memiliki keunggulan kompetitif. Namun, jika dirinci per subsektor, terdapat dua subsektor dalam sektor industri pengolahan di Kabupaten Kendal yang memiliki keunggulan kompetitif, yaitu subsektor industri makanan, minuman, dan tembakau serta subsektor industri barang lainnya. Tabel 4.11 menunjukkan bahwa subsektor industri makanan, minuman, dan tembakau merupakan subsektor di Kabupaten Kendal yang memiliki keunggulan kompetitif tertinggi dibandingkan subsektor-subsektor lainnya dalam sektor industri pengolahan.

Hasil analisis Shift-Share Klasik sektor dan subsektor perekonomian di Kabupaten Kendal disajikan secara lengkap pada Tabel 4.12.

Tabel 4.12 Hasil Analisis Shift-Share Klasik terhadap Sektor dan Subsektor Perekonomian di Kabupaten Kendal Tahun 2007 – 2010 (dalam Rp juta)

No. Sektor dan Subsektor Pertumbuhan Regional (Nij) Bauran Industri (Mij) Keunggulan Kompetitif (Cij) Pertumbuhan (Dij) 1. Pertanian 65.466,12 -28.325,21 25.337,77 62.478,67 a. Tanaman bahan makanan 34.311,62 -14.126,83 25.474,89 45.659,68 b. Tanaman perkebunan 7.931,35 -6.183,33 -6.499,12 -4.751,09 c. Peternakan 15.610,32 -1.574,20 5.543,21 19.579,34 d. Kehutanan 2.115,54 -1.023,15 -926,44 165,94 e. Perikanan 5.497,27 -4.470,90 3.162,41 4.188,78 2. Pertambangan dan penggalian 2.834,19 -31,15 -828,81 1.974,23 3. Industri pengolahan 109.207,53 18.858,03 -28.243,70 99.821,85

(i) Industri migas - - - -

(ii) Industri non migas 109.207,53 36.822,36 -46.208,04 99.821,85 a. Industri makanan, minuman, dan tembakau 38.268,01 17.411,13 10.346,99 66.026,14 b. Industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki

24.024,99 -4.842,63 -13.105,82 6.076,54

c. Industri barang kayu dan hasil hutan lainnya

K a j i a n P o t e n s i E k o n o m i K a b u p a t e n IV - 26

No. Sektor dan Subsektor Pertumbuhan Regional (Nij) Bauran Industri (Mij) Keunggulan Kompetitif (Cij) Pertumbuhan (Dij) d. Industri kertas dan barang cetakan 418,05 222,81 -405,02 235,84 e. Industri pupuk, kimia, dan barang dari karet 10.113,61 11.240,39 -16.233,03 5.120,97 f. Industri semen dan barang lain bukan logam

20.418,36 117,53 -3.577,13 16.958,76

g. Industri logam dasar besi dan baja - - - - h. Industri alat angkutan, mesin, dan peralatan 2.688,58 3.712,93 -4.719,36 1.682,14 i. Industri barang lainnya 966,31 -557,11 45,67 454,87

4. Listrik, gas, dan air

minum 3.243,54 512,15 -1.839,48 1.916,22 5. Bangunan 8.071,39 1.772,41 -230,84 9.612,96 6. Perdagangan, hotel, dan restoran 50.056,10 1.803,03 -6.125,65 45.733,48 7. Pengangkutan dan komunikasi 7.279,87 1.651,49 849,27 9.780,63 8. Keuangan,

persewaan, dan jasa perusahaan

7.308,33 1.770,89 724,81 9.804,03

9. Jasa-jasa 22.094,32 -2.387,57 4.499,15 24.205,91 Jumlah 275.561,39 -4.375,93 -5.857,49 265.327,98 Sumber : Analisis Data

Dalam dokumen BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (Halaman 62-73)

Dokumen terkait