• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENEGAKAN HUKUM TERKAIT KEJAHATAN

A. Putusan Pengadilan Negeri Medan

6. Analisis Mengenai Gugatan Restitusi pada Putusan

Pada putusan Pengadilan Negeri Medan No. 1554/Pid.B/2012/PN.Mdn,

Majelis hakim yang menangani perkara tindak pidana perdagangan orang dengan

terdakwa Andreas Ginting Alias Ucok, memidana terdakwa dengan pidana penjara

selama 3 tahun dan denda sebesar Rp. 120.000.000.- subsidair 2 bulan kurungan.

Serta mengabulkan tuntutan/gugatan hak restitusi yang diajukan oleh Enong Suliyani

(Ibu kandung korban) sebahagian. Dalam tuntutan/gugatan hak restitusi, Majelis

Hakim menghukum terdakwa membayar ganti kerugian kepada Enong Suliyani (Ibu

kandung korban) sebesar Rp. 64.700.000.- (enam puluh empat juta tujuh ratus ribu

rupiah).

Menurut Elisabeth Juniarti, kasus Andreas Ginting itu dijadikan test case

dalam kasus trafficking karena karena semenjak Undang-Undang Trafficking di

179

M. Hamdan, Loc.Cit.

180

sahkan dari tahun 2007, selama hampir 6 tahun dilaksanakan, tapi selama ini belum

terlihat kasus trafficking yang dipenuhi hak restitusinya. Sebelumnya, hanya ada 1

(satu) kasus trafficking yang dikabulkan gugatan restitusnya yaitu kasus trafficking

yang ada di lampung. Sehingga, Tim Advokasi mencoba mengajukan gugatan

restitusi. Dalam pengajuan gugatan hak restitusi korban Lisna ditangani oleh

beberapa instansi yaitu Yayasan Pusaka Indonesia, Pusat Kajian dan Perlindungan

Anak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Sumatera Utara, dan P2TP2A

sebagai shelter bekerja sama juga dengan Badan pemberdayaan perempuan Provinsi

Jawa Barat. Yang menjadi tuntutan antara lain mengenai gaji yang tidak dibayar,

biaya menghadirkan orang tua korban dan saksi, serta kerugian lainnya baik kerugian

materiil maupun immaterial.181

Adapun yang menjadi dasar pertimbangan Tim Advokasi Korban dalam

mengajukan gugatan restutusi terhadap terdakwa adalah:182

a. Bahwa restitusi yang dimaksud adalah ganti kerugian sebagaimana yang diatur

dalam Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Perdagangan Orang, Pasal 1 angka 13 menegaskan: restitusi adalah

pembayaran ganti kerugian yang dibebankan kepada pelaku berdasarkan putusan

pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atas kerugian materiil dan/atau

kerugian immaterial yang diderita korban atau ahli warisnya;

181

Wawancara dengan Elisabeth Juniarti, Ketua Divisi Anak dan Perempuan Yayasan Pusaka Indonesia, pada hari Selasa, 12 Agustus 2014

182

Tim Advokasi Trafficking Anak P2TP2A Provinsi Sumatera Utara, Gugatan Hak Restitusi Terhadap Anak Korban Trafficking an. Lisna Widiyanti Terdakwa Andreas Ginting No. 02/TIM ADVOKASI/X2012, Medan, 15 Oktober 2012

b. Bahwa Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Perdagangan Orang, Pasal 48 ayat (1) yaitu: “Bahwa setiap korban tindak

pidana perdagangan orang atau ahli warisnya berhak memperoleh restitusi dan

ayat (2) “Bahwa restitusi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) berupa ganti

kerugian atas :

1) Kehilangan kekayaan atau penghasilan;

2) Penderitaan;

3) Biaya untuk tindakan perawatan medis dan/atau psikologis, dan/atau

4) Kerugian lain yang diderita korban sebagai akibat perdagangan orang.

c. Bahwa di dalam penjelasan Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, Pasal 48 ayat (2), yang

dimaksud dengan kerugian lain adalah kehilangan harta milik, biaya transportasi

dasar, biaya pengacara, atau biaya lain yang berhubungan dengan proses hukum

atau kehilangan penghasilan yang dijanjikan pelaku.

d. Bahwa di dalam Undang-undang No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi

dan Korban menegaskan Pasal 7 ayat (1) berbunyi: “Korban melalui Lembaga

Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) berhak mengajukan ke pengadilan

berupa:

1) Hak atas kompensasi dan kasus pelanggaran terhadap kasus hak asasi

manusia yang berat;

2) Hak atas restitusi atau ganti kerugian yang menjadi tanggung jawab pelaku

e. Bahwa Peraturan Pemerintah RI No. 44 Tahun 2008 tentang Pemberian

Kompensasi Restitusi dan Bantuan kepada saksi dan korban, sesuai Pasal 1 ayat

(5) berbunyi: “Restitusi adalah ganti kerugian yang diberikan kepada korban atau

keluarganya oleh pelaku atau pihak ketiga, dapat berupa pengembalian harta

milik, pembayaran ganti kerugian untuk kehilangan atau penderitaan, atau

penggantian biaya untuk tindakan tertentu.

f. Bahwa berdasarkan Surat Kesepakatan antara, yaitu: 1) Komisi Nasional Anti

Kekerasan Terhadap Perempuan, 2) Mahkamah Agung Republik Indonesia, 3)

Kejaksaan Agung Republik Indonesia, 4) Kepolisian Negara Republik Indonesia,

5) Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik

Indonesia, 6) Perhimpunan Advokat Indonesia tentang Akses Keadilan Bagi

Perempuan Korban Kekerasan. Menyebutkan di dalam Pasal 2. Maksud

Kesepakatan Bersama ini untuk meningkatkan kordinasi dan kerja sama dalam

penguatan penegakan hukum, melalui pengintegrasian perspektif HAM dan

Gender dan Pasal 3 menegaskan Kesepakatan Bersama ini bertujuan tercapainya

persepsi dalam penanganan korban tindak kekerasan, tercapainya penguatan

kelembagaan dalam penanganan korban tindak kekerasan.

g. Bahwa mengingat Perjanjian Kerjasama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat

dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, tentang Penanganan Korban

Kekerasan Terhadap Anak serta Tindak Pidana Perdagangan Orang No. 359/24-

II/B/PKHPP dan No. 224/PPAKB/II/2012, di Bandung, tanggal 17 Februari

kerja sama yang dilandasi penghormatan terhadap hak asasi manusia dalam

upaya kerja sama penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak

serta tindak pidana perdagangan orang yang dialami warga Jawa Barat di

Sumatera Utara serta warga Sumatera Utara di Jawa Barat. Tujuan perjanjian

kerja sama ini adalah untuk melaksanakan upaya pencegahan, penanganan dan

perlindungan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan dan tindak pidana

perdagangan orang.

Berdasarkan regulasi tersebut, maka Tim Advokasi Korban mengajukan hak

restitusi terhadap korban an. Lisna Widiyanti dengan kerugian materiil yang dialami

korban sebesar Rp. 49.700.000.- (empat puluh Sembilan juta tujuh ratus ribu rupiah).

Selain kerugian material, korban juga mengalami kerugian immaterial. Dengan ini

korban menuntut ganti kerugian immaterial atas penderitaan psikis korban sebesar

Rp. 30.000.000.- (tiga puluh juta rupiah) atas penderitaan direnggutnya mahkota

korban secara paksa tanpa memperdulikan korban yang masih di bawah umur.

Sehingga, total kerugian korban adalah Rp. 79.700.000.-.

Menurut laporan penelitian yang dilakukan oleh Tim Peneliti Klinik Hukum

Perempuan dan Anak Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan Pusaka

Indonesia dalam Perkara Pidana Reg. No. 1554/Pid.B/2012/PN.Mdn, Majelis Hakim

dalam pertimbangan hukumnya telah menggunakan Pasal 48, Pasal 49, dan Pasal 50

Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Perdagangan Orang serta Pasal 98 jo. 197 Kitab Undang-undang Hukum Acara

mengajukan permohonan/gugatan restitusi dalam perkara pidana yang sedang

berlangsung. Restitusi yang dikabulkan oleh hakim berdasarkan Pasal 1 angka 13

Undang-undang No. 21 Tahun 2007 berupa ganti kerugian atas kehilangan harta

kekayaan atau penghasilan, penderitaan, biaya perawatan medis dan/atau psikologis

dan kerugian lain sebagai akibat tindak pidana perdagangan orang. Akibatnya,

tuntutan restitusi berupa penggantian biaya pengacara korban sebesar Rp.

15.000.000.- tidak dikabulkan. Majelis Hakim mengabulkan sebagian dari

tuntutan/gugatan restitusi yang diajukan Penasehat Hukum Korban sebesar Rp.

64.700.000.- tetapi hakim tetapi hakim tidak memberikan subsider jika terpidana

tidak bisa melaksanakan putusan restitusi maka tidak ada hukuman pengganti badan

yang harus dilaksanakan terpidana.183

Menurut Azmiati Zuliah, restitusi pada kasus tindak pidana perdagangan

orang dengan terdakwa Andreas Ginting alias Ucok tidak dilaksanakan sebagaimana

mestinya. Karena, pengajuan restitusi yang dimajukan pada saat proses di pengadilan

atas usul dari hakim dan tim pengacara mengajukan permohonan gugatan berbeda

dengan kasus di Lampung. Restitusi yang dikabulkan di Pengadilan Negeri Tanjung

Karang Lampung, berjalan karena pengajuan gugatan restitusi sudah dimasukkan

oleh Pendamping Anak saat proses di kepolisian.184

183

Tim Penulis Klinik Hukum Perempuan dan Anak Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (FH-USU) dan Pusaka Indonesia (PI-Medan), Laporan Penelitian Kajian tentang Hak Restitusi dan Perlindungan Hukum Anak dan Perempuan Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang di Sumatera Utara, hal. 92-93

184

Wawancara dengan Azmiati Zuliah, Kordinator PUSPA-PKPA (Pusat Pengaduan Anak- Pusat Kajian dan Perlindungan Anak), pada Rabu, 13 Agustus 2014

Menurut Azmiati Zuliah, terdapat 3 hal yang menyebabkan putusan restitusi

dalam perkara dengan terdakwa Andreas Ginting alias Ucok tidak berjalan, yaitu:185

1) Penjelasan Pasal 48 ayat (1) Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang menyatakan mekanisme

pengajuan restitusi dilaksanakan sejak korban melaporkan kasus yang dialaminya

kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia setempat dan ditangani oleh

penyidik bersamaan dengan penanganan tindak pidana yang dilakukan. Penuntut

umum memberitahukan kepada korban tentang haknya untuk mengajukan

restitusi selanjutnya penuntut umum menyampaikan jumlah kerugian yang

diderita korban akibat tindak pidana perdagangan orang bersamaan dengan

tuntutan. Namun, ini tidak dilakukan oleh penyidik maupun jaksa. Sementara

pengajuan dilakukan oleh tim pengacara korban pada saat proses di pengadilan

atas saran hakim, bukan pada saat proses di kepolisian;

2) Pasal 48 ayat 5 Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Perdagangan Orang menyatakan bahwa restitusi dapat dititipkan

terlebih dahulu di pengadilan. Namun, dalam kasus ini, harta yang dimiliki

Andreas Ginting tidak diketahui kepemilikannya dan itu tidak ada diupayakan

oleh jaksa untuk mengetahui dan mendapatkannya, seharusnya itu dapat

dilakukan. Namun, yang menjadi masalah jaksa tidak dapat melakukan eksekusi

harta yang dimiliki oleh pelaku karena di dalam undang-undang tidak diatur

secara tegas atau wajib. Dalam Pasal 50 ayat (3) hanya memberi kewenangan

185

jaksa untuk menyita harta kekayaan pelaku setelah ada perintah dari ketua

pengadilan bila restitusi tidak dibayar oleh pelaku, sementara harta yang akan

dieksekusi tidak ada wujudnya baik harta bergerak maupun harta tidak bergerak.

3) Pasal 50 ayat (4) Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Perdagangan Orang menyatakan jika pelaku tidak mampu

membayar restitusi, maka pelaku dikenai pidana kurungan pengganti paling lama

1 (satu) tahun. Hukuman pidana pengganti sudah tepat, tetapi dengan maksimal 1

(satu) tahun pidana kurungan pengganti dianggap terlalu ringan. Ketentuan ini

seharusnya diubah disesuaikan dengan jumlah kerugian yang diderita korban.

Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kecenderungan pihak pelaku untuk

menjalani pidana kurungan dari pada harus membayar uang restitusi karena

pidana kurungan yang tidak lama. Mungkin saja nilai restitusinya sangat besar

dan untuk menghindari itu, maka pihak terpidana akan memilih menjalankan

pidana kurungan selama 1 (satu) tahun dan kewajiban untuk membayar restitusi

secara otomatis menjadi gugur. Restitusi seharusnya tidak dapat diganti dengan

pidana kurungan karena bertentangan dengan semangat Undang-undang No. 21

Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang itu

sendiri yang ingin memberikan perlindungan kepada korban dalam bentuk ganti

rugi secara finansial. Apabila pidana pengganti diterapkan, maka korban tidak

mendapatkan ganti rugi atau kompensasi secara materiil dan/atau immaterial atas

B. Putusan Pengadilan Negeri Jayapura Nomor: 87/Pid.B/2012/PN.Jpr

Kasus eksploitasi ekonomi/seksual anak yang digunakan dalam tesis ini

diambil dari Putusan Pengadilan Negeri Jayapura Nomor: 87/Pid.B/2012/PN.Jpr.

1. Posisi kasus

Hermin Mangiwa alias Mama Mangiwa merupakan pemilik Cafe Karaoke dan

Bar Waena I Jalan Gelanggang Expo Waena Distrik Heram Kodya Jayapura. Berawal

pada hari kamis tanggal 20 Oktober 2011 di Kota Palopo. Saksi korban Deviyanti

Pudin alias Dede dan Saksi Korban Rospiani Supriadi alias Vivi didatangi oleh Meta

dan saksi Nur Devi alias Adel alias Cinta, menawarkan untuk bekerja di Jayapura

dengan mengatakan bahwa mau tidak kerja di karaokean yang gajinya lumayan.

Kemudian, saksi korban Devianti Pudin berkata bahwa korban mau. Kemudian Meta

mengenalkan saksi korban Devianti Pudin kepada Nur Devi yang kemudian

mengatakan kalau saksi korban mau ikut saja, kalau tidak juga tidak dipaksa, karena

pekerjaannya hanya mendampingi tamu saja dan tidak lebih dari itu. Lalu, nanti umur

saksi korban yang baru 15 tahun ditambah agar bisa kerja. kemudian saksi korban

mengiyakan ajakan tersebut.

Beberapa waktu kemudian saksi korban Rospiani Supriyadi alas Vivi juga

ditawari pekerjaan di Jayapura oleh Siti Nelam Cahya alias Nelam yang sebelumnya

juga setuju untuk berangkat ke Jayapura yang mengatakan bahwa nanti saksi Nur

Devi yang akan menghubunginya untuk menjelaskan mengenai pekerjaan di

Jayapura. Kemudian, Nur Devi menghubungi saksi korban Rospiani Supriyadi dan

untuk minum dan berkaroke dan akan digaji sebesar Rp. 1.500.000.- (satu juta lima

ratus ribu rupiah) sedangkan biaya ke Jayapura akan ditanggung olehnya.

Setelah korban setuju, pada hari minggu tanggal 23 Oktober 2011, saksi

korban Devianti Pudin dan Rospiani Supriyadi dan saksi Siti Nelam berangkat dari

kota Palopo menuju Jayapura. Sesampainya di Makassar karena tengah malam,

akhirnya mereka memutuskan menginap dan baru pada keesokan harinya yaitu pada

hari senin tanggal 24 Oktober 2011 pukul 10.00 WIT berangkat menuju Jayapura

menggunakan pesawat Merpati Airlines dan kemudian pada pukul 16.30 WIT tiba di

Jayapura yang ternyata sudah ditunggu oleh terdakwa Hermin Mangiwa di Bandar

Udara Sentani Jayapura lalu langsung menuju terdakwa yaitu di Cafe Karoke dan Bar

Waena I Jalan Gelanggang Expo Waena Distrik Heram Kota Jayapura. Kemudian

terdakwa meminta ketiganya untuk mengisi biodata untuk proses pembuatan KTP,

namun terdakwa dengan sengaja tidak meminta tanda pengenal ataupun tanda lulus

sekolah yang menerangkan tempat dan tanggal lahir para saksi korban sehingga

terdakwa menghiraukan kenyataan bahwa para saksi korban masih di bawah umur

dan belum memenuhi syarat untuk bekerja dan menganggap para saksi korban sudah

cukup umur.

Setelah beristirahat selama 5 (lima) hari dikarenakan ketiganya masih dalam

proses pembuatan KTP yang diurus sendiri oleh terdakwa baru kemudian pada

tanggal 29 Oktober 2011 setelah KTP terbit untuk ketiganya, baru terdakwa

mengumpulkan ketiganya di ruang tamu dan menjelaskan tentang pekerjaan yang

ketiganya untuk menandatangani surat kontrak kerja tersebut namun tidak dengan

sebelumnya mempersilahkan ketiganya untuk membaca dan memahami isi dari surat

kontrak kerja tersebut. Akhirnya dengan desakan terdakwa, ketiganya

menandatangani surat kontrak tersebut. Sebelum ketiganya menandatangani kontak

tersebut, terdakwa hanya menjelaskan bahwa adanya kontrak kerja tesebut maka

ketiganya selama tiga bulan tidak boleh keluar dari lingkungan Cafe Karaoke dan Bar

Waena Permai I.

Tanggal 29 Oktober kedua saksi korban Devianti Pudin dan Rospiani

Supriyadi dan saksi Siti Nelam Cahya mulai bekerja di Cafe Karaoke dan Bar milik

terdakwa. Selama 8 (delapan) hari bekerja dari pukul 19.00 WIT sampai dengan

pukul 01.00 WIT. Kemudian, kedua saksi korban menyadari setelah menjalani

pekerjaan yang tidak sesuai dengan yang dibayangkan yaitu bekerja sampai larut

malam dan menemani para tamu yang sering menciumi badan dan bibir serta meraba-

raba tubuh mereka berdua.

Akibat tidak tahan dengan pekerjaan tersebut, saksi korban Rospiani

Supriyadi kemudian bercerita kepada kedua orang tuanya di kampung halamannya di

Kota Palopo. Mendengar kabar tersebut kemudian orang tua saksi korban

menghubungi keluarganya di Jayapura yaitu saksi Rismawati yang adalah seorang

anggota kepolisian. Pada tanggal 5 November 2011 saksi Rismawati bersama

temannya masuk ke dalam Cafe dan meminta terdakwa untuk mengeluarkan kedua

saksi korban dan melaporkan kejadian tersebut ke Kepolisian Resort Kota Jayapura

2. Argumentasi hukum para pihak

a. Pihak Penuntut Umum

Berdasarkan surat dakwaan Penuntut Umum tertanggal 24 Februari 2012

Register Perkara No. PDM-48/JPR/Ep.2/02/202 dan berdasarkan posisi kasus pada

perkara ini, maka terdakwa telah didakwa dengan dua dakwaan. Dakwaan kesatu

bahwa perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2

ayat (1) Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Perdagangan Orang. Dakwaan kedua bahwa perbuatan terdakwa sebagaimana diatur

dan diancam pidana dalam Pasal 88 Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang

Perlindungan Anak.

Dakwaan kedua didasarkan bahwa terdakwa seharusnya sebelum menerima

saksi korban Deviyanti Pudin dan saksi korban Rospiani Supriyadi untuk bekerja,

memeriksa biodata ataupun tanda pengenal yang asli sehingga dapat mengetahui

bahwa para saksi korban masih berusia 15 (lima belas) tahun (tergolong anak di

bawah umur) sebagaimana yang diterangkan dalam Kutipan Akta Kelahiran dan

Ijazah para saksi korban yaitu:

1) Surat Kutipan Akta Kelahiran No. AL.829.0036747 yang ditandatangani oleh

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Andi Rahmat, S.Sos yang

menerangkan bahwa pada tanggal 26 Juni 1996 telah lahir di Lelong seorang

anak perempuan yang diberi nama Deviyanti dari ayah yang bernama Pudin dan

2) Surat Ijazah Tanda Lulus Sekolah Menengah Pertama dengan Nomor DN-19

D100883572 yang ditandatangani oleh Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Lamasi,

Haruna Tennan, S,Pd yang menerangkan bahwa Rospiani Supriyadi, tempat lahir

Palopo tanggal lahir 05 Oktober 1996 nama ayah Supriyadi telah lulus Ujian

Nasional tingkat SMP.

b. Pihak Penasihat Hukum

Pada Nota Pembelaan Penasihat Hukum Terdakwa tertanggal 21 Juni 2012,

dipersidangan yang pada pokoknya berpendapat bahwa salah satu unsur dalam

dakwaan kedua Pasal 88 Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan

Anak yaitu unsur anak, tidak terpenuhi karena berdasarkan fakta yang terungkap di

persidangan baik dari keterangan saksi-saksi maupun keterangan terdakwa, para saksi

korban telah mengelabuhi terdakwa bahwa mereka telah berusia 19 tahun dengan

harapan dapat diterima bekerja di tempat usaha milik terdakwa. Kalaupun ada

identitas dari para saksi korban tetapi dengan sengaja tidak ditunjukkan kepada

terdakwa. Bukan terdakwa yang dengan sengaja tidak menanyakan identitas lainnya,

tetapi para saksi korbanlah yang dengan sengaja tidak mau menunjukkan identitas

lainnya dengan harapan dapat diterima bekerja, karena kenekatan mereka melarikan

diri dari orang tua tanpa izin adalah untuk mencari pekerjaan yang telah tidak

diketahui sebelumnya dari saksi Nur Devi. Keadaan ini menjadi sulit untuk

menentukan sesungguhnya berapa sebenarnya usia para saksi korban dan sulit

menentukan apakah mereka sudah berusia dewasa atau masih di bawah umur.

sudah dewasa atau masih di bawah umur. Walaupun akhirnya terdakwa mengetahui

bahwa usia mereka baru 15 tahun, tetapi hal itu baru diketahui pada saat saksi

Rismawati datang menjelaskan, dan faktanya terdakwa mengizinkan Rismawati

membawa pulang para saksi korban tanpa meminta ganti kerugian. Hal ini

membuktikan perbuatan terdakwa bukanlah disengaja. Sehingga, unsur yang

menentukan dan memastikan para korban masih anak-anak ini masih meragukan dan

tidak terbukti secara meyakinkan karena terdakwa tidak sengaja mencari karyawan

dan terdakwa tidak dalam posisi sengaja mengabaikan usia para saksi korban.

3. Pertimbangan Hakim

Pertimbangan hakim terhadap kasus ini bahwa setelah mendengar keterangan

terdakwa di persidangan, menimbang barang bukti yang diajukan oleh Jaksa Penuntut

Umum di persidangan maupun bukti-bukti surat berupa Kutipan Akta Kelahiran dan

Surat Tanda Lulus Sekolah Menengah Pertama. Menimbang berdasarkan keterangan-

keterangan saksi-saksi dan keterangan terdakwa dan surat serta barang bukti yang

dikaitkan satu dengan yang lain makan diperoleh fakta hukum yang sesuai dengan

kasus posisi yang telah diterangkan sebelumnya. Sehingga, Majelis Hakim akan

mempertimbangkan apakah berdasarkan atas fakta-fakta hukum tersebut di atas,

terdakwa dapat dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang

didakwaan kepadanya.

Dalam menyatakan terdakwa terbukti bersalah telah melakukan suatu tindak

pidana maka perbuatan terdakwa harus memenuhi semua unsur-unsur tindak pidana

Penuntut Umum dengan dakwaan berbentuk alternatif yakni kesatu melanggar Pasal

2 ayat (1) Undang-undang 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Perdagangan Orang atau Kedua melanggar Pasal 88 Undang-undang No. 23 Tahun

2002 tentang Perlindungan Anak, maka Hakim diberi kesempatan memilih salah satu

diantara dakwaan yang sekiranya dipandang sesuai dengan fakta hukum yang

terungkap di persidangan. Karena itu, Majelis Hakim memilih untuk

mempertimbangkan dakwaan kedua melanggar Pasal 88 Undang-undang No. 23

Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang mengandung unsur-unsur yakni unsur

“Setiap Orang”, unsur “Yang Mengeksploitasi Ekonomi atau Seksual, unsur “Anak”,

dan unsur “Dengan Maksud untuk Menguntungkan Diri Sendiri atau Orang Lain”.

a. Unsur setiap orang

Bahwa yang dimaksud dengan “Setiap orang” adalah setiap subjek hukum

atau siapa saja baik laki-laki maupun perempuan yang dapat dimintai

pertanggungjawaban pidana padanya dan tidak termasuk dalam pengertian Pasal 44

Kitab Undang-undang Hukum Pidana, dimana subjek hukum tersebut diajukan ke

persidangan karena suatu tindak pidana yang didakwakan kepadanya.

b. Unsur Yang Mengeksploitasi Ekonomi atau Seksual

Bahwa yang dimaksud dengan “eksploitasi” adalah suatu upaya untuk

mengambil manfaat, tindakan dengan atau tanpa persetujuan korban yang meliputi

tidak terbatas pada pelacuran, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik

serupa perbudakan, penindasan, pemerasan, pemanfaatan fisik, seksual, organ

atau jaringan tubuh atau memanfaatkan tenaga atau kemampuan seseorang oleh pihak

lain untuk mendapatkan keuntungan baik materiil maupun immateriil.

Berdasarkan keterangan saksi-saksi, keterangan terdakwa serta dihubungkan

dengan barang bukti serta surat di persidangan diperoleh fakta hukum yang

menunjukkan bahwa ternyata terdakwa telah mempekerjakan anak-anak di bawah

umur untuk menarik perhatian pengunjung laki-laki yang kalau banyak pengunjung

maka akan menambah pemasukan bagi terdakwa selaku pemilik Cafe Karaoke dan

Bar Waena Permai I. Dengan demikian, unsur ini telah terpenuhi.

Dokumen terkait