• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENEGAKAN HUKUM TERKAIT KEJAHATAN

A. Putusan Pengadilan Negeri Medan

5. Analisis Pertanggungjawaban Pidana terhadap Putusan

Berbicara mengenai pertanggungjawaban pidana, maka tidak dapat dilepaskan

dengan tindak pidana. Walaupun, di dalam pengertian tindak pidana tidak termasuk

pertanggungjawaban pidana. Tindak pidana hanya merujuk pada dilarangnya suatu

perbuatan. Suatu tindakan dapat dimasukkan dalam tindak pidana apabila memenuhi

asas legalitas dalam Pasal 1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Di dalam asas

legalitas dikatakan tidak ada hukuman tanpa suatu peraturan yang terlebih dahulu

menyebut perbuatan yang bersangkutan sebagai suatu delik dan yang memuat suatu

hukuman yang dapat dijatuhkan atas delik itu. Sedangkan, dasar dipidananya

pembuat adalah kesalahan. Ini berarti pelaku tindak pidana hanya akan dipidana

apabila ia mempunyai kesalahan dalam melakukan tindak pidana tersebut.

Pada kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan terdakwa Andreas

Ginting alias Ucok, telah terpenuhi unsur-unsur pertanggungjawaban pidana di

dalamnya. Hal yang pertama adalah adanya kesalahan. Di dalam asas kesalahan

diartikan sebagai tiada pidana tanpa perbuatan yang tidak patut yang objektif dapat

dicelakan kepada pelakunya. Hal yang harus diperhatikan adalah bahwa kesalahan

selalu hanya mengenai perbuatan yang tidak patut, melakukan sesuatu yang

seharusnya tidak dilakukan, atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan.

Apabila dilihat secara seksama, kesalahan memandang hubungan antara perbuatan

kata yang sesungguhnya merupakan perbuatan-perbuatan orang tersebut tidak hanya

tidak patut secara objektif, tetapi juga dapat dicelakan kepadanya.

Bentuk kesalahan yang terjadi pada kasus tindak pidana perdagangan orang

yang dilakukan oleh Andreas Ginting alias Ucok adalah kesengajaan (dolus). Hal

tersebut dikarenakan bahwa dikatakan sengaja apabila suatu perbuatan itu

dikehendaki (willen), akibat perbuatan itu benar-benar menjadi maksud dari

perbuatan yang dilakukan dan tindakan itu disadari atau diketahui (wetens).

Putusan Pengadilan yang mengadili terdakwa Andreas Ginting Alias Ucok,

dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum memberikan alternatif dakwaan sementara

hakim memilih Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Perdagangan Orang. Dalam hal ini hakim memilih berdasarkan fakta-fakta

yang terungkap dipersidangan. Alasan Majelis Hakim memilih untuk menjatuhkan

pidana dengan menggunakan Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang kepada terdakwa karena fakta-

fakta yang terungkap dipersidangan lebih mengarah kepada tindak pidana

perdagangan orang.177

Berdasarkan pada fakta-fakta yang terungkap dipersidangan, majelis hakim

mempertimbangkan bahwa terdakwa Andreas Ginting alias Ucok telah melanggar

Pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Perdagangan Orang karena telah terpenuhinya unsur-unsur:

177

Wawancara dengan Hakim Pengadilan Negeri Medan, Pengadilan Negeri Medan, pada tanggal 20 Juni 2014

a. Setiap orang;

b. Melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan,

atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan,

penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau

posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun

memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain;

c. Untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah Negara Republik

Indonesia.

Fakta-fakta yang terungkap dipersidangan menunjukkan bahwa kesengajaan

(dolus) yang dilakukan oleh terdakwa dalam melakukan tindak pidana perdagangan

orang adalah bahwa benar sekitar bulan November 2011 terdakwa ada mengatakan

kepada saksi Ela Juleha agar dicarikan beberapa orang untuk dijadikan pelayan di

Cafe Pesona. Setelah itu, saksi Ela Juleha menghubungi saksi Titin Sumartini alias

Entin yang berada di Suka Bumi agar mencarikan orang sesuai dengan permintaan

terdakwa. Selanjutnya, terdakwalah yang berhubungan dengan saksi Titin Sumartini

alias Entin melalui handphone dan terdakwa menjanjikan akan memberikan fee atau

bonus sebesar Rp. 1.000.000.- (satu juta rupiah) untuk setiap orang. Berdasarkan

fakta tersebut dapat dilihat adanya unsur kesengajaan yang dilakukan oleh terdakwa

yang mana terdakwa meminta dicarikan beberapa orang untuk dipekerjakan sebagai

pelayan di Cafe Pesona.

Selanjutnya setelah saksi Titin Sumartini alias Entin menemui ibu kandung

menawarkan pekerjaan kepada saksi korban Lisna Widiyanti. Saksi Titin Sumartini

alias Entin memberitahukan dan menawarkan pekerjaan bagi saksi korban Lisna

Widiyanti sebagai kasir di Restoran/Cafe Pesona di Medan dengan gaji Rp.

1.000.000.- (satu juta rupiah) perbulan. Namun, sesampainya di Medan pada tanggal

20 Desember 2011, saksi korban Lisna Widiyanti mulai bekerja sebagai waitres di

Cafe Pesona yang bertugas melayani tamu-tamu yang minum di Cafe Pesona mulai

dari pukul 22.00 Wib sampai dengan 03.00 Wib dan saksi korban disarankan

berpenampilan seksi dengan pakaian baju tanpa lengan dan celana pendek. Saksi

korban digaji dengan gaji Rp. 300.000.- (tiga ratus ribu rupiah) disamping adanya

bonus botol sebesar Rp. 2.000.- (dua ribu rupiah) per botol dari minuman yang terjual

dan uang tip dari tamu yang jumlahnya bervariasi. Selama bekerja di Cafe Pesona,

saksi korban Lisna Widiyanti belum pernah menerima gaji dari terdakwa dan yang

membeli makanan selama ini adalah uang dari saksi korban sendiri yaitu uang bonus

botol dan tip yang diberikan oleh tamu kepada saksi korban.

Berdasarkan pertimbangan tersebut bahwa dakwaan Kesatu telah terbukti dan

terpenuhi yaitu telah melanggar Pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 21 Tahun 2007

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, maka menurut Mejelis

Hakim terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak

pidana perdagangan orang.

Unsur yang kedua dari pertanggungjawaban pidana kasus Andreas Ginting

alias Ucok adalah kemampuan bertanggungjawab. Simons mengartikan kemampuan

adanya penerapan sesuatu upaya pemidanaan, baik dilihat dari sudut umumnya

maupun dari orangnya. Selanjutnya dikatakan bahwa seseorang mampu bertanggung

jawab jika jiwanya sehat, yakni apabila ia mampu untuk mengetahui atau menyadari

bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum dan ia dapat menentukan

kehendaknya sesuai dengan kesadaran tersebut.178

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan yang memutuskan perkara Andreas

Ginting selaku terdakwa tindak pidana perdagangan orang memimbang bahwa

berdasarkan hasil pemeriksaan persidangan, identitas terdakwa sebagaimana yang

telah diuraikan dalam Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum benar terdakwalah

orangnya yang sehat jasmani dan rohani serta dapat bertanggung jawab secara

hukum.

Unsur ketiga dari pertanggungjawaban pidana kasus Andreas Ginting alias

Ucok adalah alasan penghapusan pidana. Di dalam hukum pidana ada beberapa

alasan yang dijadikan dasar bagi hakim untuk tidak menjatuhkan hukuman/pidana

kepada (para) pelaku atau terdakwa yang diajukan ke pengadilan karena telah

melakukan suatu tindak pidana. Alasan-alasan tersebut dinamakan alasan penghapus

pidana. Alasan penghapus pidana adalah peraturan yang terutama ditujukan kepada

hakim. Peraturan ini menetapkan berbagai keadaan pelaku, yang telah memenuhi

perumusan delik sebagaimana yang telah diatur dalam undang-undang yang

seharusnya dipidana, akan tetapi tidak dipidana. Hakim dalam hal ini menempatkan

wewenang di dalam dirinya (dalam mengadili perkara yang konkret) sebagai penentu

178

apakah telah terdapat keadaan khusus dalam diri pelaku, seperti dirumuskan dalam

alasan penghapus pidana.179

Pada kasus tindak pidana perdagangan orang dengan terdakwa Andreas

Ginting alias Ucok, Majelis Hakim menimbang bahwa setelah mempertimbangkan

segala sesuatunya ternyata tidak didapati hal-hal yang dapat menghapuskan hukuman

terdakwa atau alasan yang dapat menghilangkan pertanggungjawaban pidana atas diri

terdakwa, karenanya terdakwa haruslah dinyatakan bersalah dan dihukum.180

6. Analisis Mengenai Gugatan Restitusi pada Putusan Pengadilan Negeri

Dokumen terkait