• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENEGAKAN HUKUM TERKAIT KEJAHATAN

A. Putusan Pengadilan Negeri Medan

3. Pertimbangan hakim

Dalam pertimbangan hakim, bahwa dari keterangan masing-masing saksi

dikaitkan satu dengan yang lain dengan adanya barang bukti, dihubungkan dengan

keterangan terdakwa, maka didapati fakta-fakta hukum sebagaimana sesuai dengan

posisi kasus di atas dan dakwaan yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum.

Bahwa dari fakta-fakta hukum tersebut diatas, apakah dengan demikian perbuatan

terdakwa telah memenuhi unsur-unsur sebagaimana didakwakan kepadanya yaitu

Kesatu melanggar Pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 21 Tahun 2007, atau Kedua

melanggar Pasal 82 Undang-undang No. 23 Tahun 2002.

Dikarenakan dakwaan Jaksa Penuntut Umum bersifal alternatif maka kepada

Majelis Hakim diberikan kewenangan untuk memilih salah satu dari Dakwaan itu

Pertama atau Kedua sesuai dengan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan, dan

apabila salah satu dari dakwaan itu telah terbukti dan terpenuhi maka untuk dakwaan

yang lainnya tidak perlu dipertimbangkan lagi. Maka berdasarkan fakta-fakta yang

terungkap dipersidangan Majelis Hakim akan mempertimbangkan Dakwaan Pertama,

melanggar Pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 21 Tahun 2007 yang unsur-unsurnya:

b. Melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan,

atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan,

penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau

posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun

memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain;

c. Untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah Negara Republik

Indonesia.

1) Unsur Setiap Orang

Menurut ketentuan Pasal 1 ayat (4) Undang-Undang No. 21 Tahun 2007,

pengertian Setiap Orang adalah Orang perseorangan atau korporasi yang melakukan

tindak pidana perdagangan orang. Orang perseorangan dalam hal ini dimaksudkan

adalah orang sebagai subjek hukum yang dapat dipertanggungjawabkan menurut

hukum. Dari hasil pemeriksaan dipersidangan, identitas terdakwa sebagaimana

diuraikan dalam Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum benar terdakwalah orangnya

yang sehat jasmani dan rohani serta dapat bertanggungjawab secara hukum. Apakah

benar terdakwa dapat dipersalahkan telah melakukan perbuatan sebagaimana

didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum masih akan dipertimbangkan pada unsur

selanjutnya.

2) Unsur Melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman,

pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan

kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan

manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali

atas orang lain

Unsur kedua ini adalah bersifat alternatif yang terdiri dari beberapa elemen

atau anasir, dimana salah satu dari elemen/anasir tersebut telah terbukti maka unsur

ini dianggap telah terbukti dan terpenuhi. Dari fakta-fakta tersebut di atas menurut

Majelis Hakim unsur ini telah terbukti dan terpenuhi.

3) Unsur Untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah Negara Republik

Indonesia

Yang dimaksud dengan Eksploitasi menurut ketentuan Pasal 1 angka 7

Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 adalah Tindakan dengan atau tanpa persetujuan

korban yang meliputi tetapi tidak terbatas pada pelacuran, kerja atau pelayanan paksa,

perbudakan atau praktik serupa perbudakan, penindasan, pemerasan, pemanfaatan

fisik, seksual, organ reproduksi atau secara melawan hukum memindahkan atau

mentranplantasi organ dan/atau jaringan tubuh atau memanfaatkan tenaga atau

kemampuan seseorang oleh pihak lain untuk mendapatkan keuntungan baik materiil

maupun immaterial. Dari pertimbangan pada unsur kedua tersebut di atas

dihubungkan dengan pengertian Eksploitasi sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 1

angka 7 Undang-undang No. 21 Tahun 2007, perbuatan yang dilakukan oleh

terdakwa sebagaimana diuraikan di atas, dapat dikategorikan telah melakukan

tindakan Secara melawan hukum memanfaatkan tenaga atau kemapuan seseorang

untuk mendapatkan keuntungan baik materiil maupun immaterial, sehingga dengan

pertimbangan tersebut di atas karena unsur-unsur dari dakwaan Kesatu melanggar

pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 21 Tahun 2007 telah terbukti dan terpenuhi,

maka menurut pendapat Majelis Hakim terdakwa telah terbukti secara syah dan

meyakinkan bersalah melakukan “Tindak pidana perdagangan orang” oleh

karenannya Majelis Hakim tidak sependapat dengan Penasehat Hukum terdakwa,

yang menyatakan bahwa terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah

melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum, dan

meminta agar terdakwa dibebaskan dari segala dakwaan (Vrijspraak) atau setidak-

tidaknya melepaskan terdakwa dari segala tuntutan hukum.

Dengan adanya perdamaian antara terdakwa dengan saksi korban dan

keluarganya tidak dapat dijadikan alasan untuk menghilangkan pertanggungjawaban

pidana atas diri terdakwa, walaupun ternyata perdamaian tersebut disangkal oleh

saksi korban dan keluarganya dipersidangan.

Bahwa dikarena dakwaan Kesatu telah terbukti dan terpenuhi maka untuk

Dakwaan Kedua tidak perlu dipertimbangkan lagi. Setelah mempertimbangkan segala

sesuatunya ternyata tidak ada didapati hal-hal yang dapat menghapuskan hukuman

terdakwa atau alasan yang dapat menghilangkan pertanggungjawaban pidana atas diri

terdakwa, karenanya terdakwa haruslah dinyatakan bersalah dan dihukum.

Sebelum menjatuhkan hukuman terlebih dahulu perlu dipertimbangkan hal

yang memberatkan dan hal yang meringankan atas diri terdakwa sebagai berikut:

Hal yang meringankan:

b. Perbuatan terdakwa tidak mendukung Program Pemerintah dalam Pemberantasan

Tindak Pidana Perdagangan Orang;

c. Perbuatan terdakwa telah membuat penderitaan dan rasa malu bagi korban dan

keluarganya.

Hal yang meringankan

a. Terdakwa sudah mengakui terus terang perbuatannya sehingga tidak mempersulit

pemeriksaan di pengadilan;

b. Terdakwa belum pernah dihukum, mengaku bersalah dan menyesali

perbuatannya;

c. Terdakwa sudah berkeluarga dan mempunyai tanggungan seorang istri dan

seorang anak.

Tentang tuntutan hak restitusi/pembayaran ganti kerugian, Ibu kandung

korban Lisna Widiyanti yaitu Saksi Enong Suliyani atas dasar Surat Kuasa yang

diberikan kepada: 1. Muslim Harahap, SH,MH, 2. Azmiati Zuliah, SH,MH, 3. Rina

Melati Sitompul,SH dan 4.Elisabeth, SH masing-masing Tim Advokasi Trafiking

Anak P2TP2A Provinsi Sumatera Utara, tertanggal 6 September 2012, telah

mengajukan dan menyerahkan Gugatan Hak Restitusi dipersidangan tertanggal 16

Oktober 2012.

Adapun Tuntutan Hak Restitusi yang diajukan oleh Ibu kandung korban atas

dasar Pasal 1 angka 13, pasal 48, pasal 49, pasal 50 Undang-undang No. 21 Tahun

2007, Peratura Pemerintah RI No. 44 Tahun 2008 dan Aturan-aturan lain yang

sebesar Rp 49.700.000,- (Empat puluh Sembilan juta tujuh ratus ribu rupiah) dengan

perincian sebagaimana diuraikan dalam Gugatan Hak Restitusi tertanggal 15 Oktober

2012, serta Kerugian Immateril yaitu Penderitaan Psikis yang dialami korban sebesar

Rp 30.000.000,- (Tiga puluh juta rupiah), jadi jumlah seluruhnya menjadi Rp

79.700.000,- ( Tujuh puluh Sembilan juta tujuh ratus ribu rupiah).

Berpedoman kepada ketentuan pasal 48 ayat (2) Undang-Undang No. 21

Tahun 2007 dihubungkan dengan bukti-bukti surat yang diajukan oleh Kuasa Ibu

kandung korban, Majelis Hakim berpendapat besarnya ganti kerugian yang

dimohonkan oleh Kuasa Ibu kandung korban tersebut, baik kerugian materil maupun

kerugian immaterial cukup beralasan dan patut untuk dikabulkan, kecuali mengenai

Biaya untuk Advokat/pendampingan kepentingan hukum korban di Kepolisian,

Kejaksaan dan Pengadilan sebesar Rp 15.000.000,- (Lima belas juta rupiah) tidak

dapat dikabulkan, karena menurut pendapat Majelis Hakim hal tersebut tidak

merupakan kewajiban hukum bagi setiap korban tindak pidana perdagangan orang

untuk didampingi oleh Advokat dan sebagai Tim Advokasi Trafiking Anak P2TP2

Propinsi Sumatera Utara mempunyai rasa tanggung jawab secara moral untuk

melindungi dan mendampingi korban tindak pidana perdagangan orang.

Berdasarkan pertimbangan di atas Majelis Hakim berpendapat Gugatan

Restitusi yang diajukan oleh Ibu kandung saksi korban Lisna Widiyanti, patut untuk

dikabulkan sebahagian yaitu berupa ganti kerugian materil dan immaterial sebesar

(Rp 49.700.000,- dikurangi Rp 15.000.000,-) ditambah Rp 30.000.000,- sama dengan

Dokumen terkait