4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Minyak Sawit Kasar
Analisis minyak sawit kasar dari sampel dilakukan untuk beberapa tujuan, yaitu: (1) membuktikan kebenaran adanya tanaman sawit hasil persilangan antara Elaeis guineensis dan E. Oleifera pada PTPN XIII yang memiliki kandungan - karoten di atas rata-rata tanaman sawit umumnya; dan (2) memberikan indikasi mengenai potensi kelebihan minyak sawit merah yang dapat dihasilkan dari tanaman sawit hasil persilangan tersebut. Potensi tersebut bila kemudian ditemukan maka akan digunakan sebagai unsur kekuatan dalam penyusunan strategi kebijakan pengembangan industri MSM di Indonesia.
Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Kantor Cabang Unit Usaha Mariat - Pematang Siantar bulan November 2007, dari 9 pokok kandidat ortet yang dianalisis, semuanya menunjukkan kandungan -karoten yang tinggi pada minyaknya. Hasil analisis minyak pada tanaman sawit persilangan yang dilaksanakan oleh PPKS dapat dilihat pada Tabel 5. Dari data analisis tersebut, dapat dilihat bahwa kandungan terendah -karoten adalah 1.062 ppm dan yang tertinggi 4.485 ppm.
Selama kurun waktu sampai saat penelitian dilakukan, perlu dipastikan apakah tanaman sawit pada PTPN XIII mengalami penurunan kandungan - karoten atau tidak. Terutama karena diduga kondisi tanaman-tanaman hasil persilangan dengan tahun tanam 1988 tersebut dalam kondisi yang kurang terawat. Dengan jumlah pohon sekitar 200 pokok dalam luas areal sekitar 2 ha, buah sawit dari tanaman persilangan tersebut selama ini masih digunakan dan diproses bersama dengan buah sawit biasa dalam proses produksi CPO secara rutin dan tidak dirawat secara khusus.
Pada tahapan penelitian ini, digunakan 18 sampel buah sawit yang diperoleh dari Kebun Gunung Emas - PTPN XIII, Pontianak. Delapan belas sampel yang digunakan tersebut merupakan buah sawit dari tanaman sawit hasil persilangan E. guneensis dan E. oleifera dengan karakteristik penampakan yang relatif berbeda antar sampel. Sebagaimana telah disebutkan, tahapan ini salah satunya dilakukan untuk memvalidasi hasil analisis PPKS Balai Penelitian Marihat tahun 2007. Dengan demikian, pemilihan sampel diprioritaskan untuk sampel-sampel yang
telah dianalisis sebelumnya oleh PPKS Balai Penelitian Marihat. Selain itu, pemilihan sampel penelitian juga didasarkan pada faktor ketersediaan buah di lapangan. Sebagaimana telah disebutkan, kondisi tanaman-tanaman sampel tidak terawat dan buahnya masih digunakan untuk produksi CPO secara rutin sehingga ketersediannya menjadi semakin terbatas.
Tabel 5 Hasil analisis kandungan -karoten pada minyak tanaman sawit persilangan di Kebun Gunung Emas PTPN XIII (diolah dari Laporan Kunjungan Dinas PPKS Balai Penelitian Marihat tanggal 6 November 2007)
No No. Baris/Pohon Kandungan β-karoten (ppm)
1 6/10 1.317 ± 57a 2 4/13 4.418 ± 1006c 3 2/15 1.648 ± 11a 4 12/7 1.062 ± 11a 5 14/17 3.203 ± 990b 6 2/19 1.502 ± 17a 7 12/15 4.485 ± 538c 8 4/17 4.159 ± 274bc 9 2/10 1.198 ± 41a
Keterangan: data ± standar deviasi (n=2)
Nilai tanpa disertai huruf yang sama terbukti berbeda nyata (p ≤ 0,05) berdasarkan uji Duncan
Dari sembilan sampel yang pernah dianalisis sebelumnya oleh PPKS Balai Penelitian Marihat tahun 2007 (Tabel 5), hanya tiga sampel (sampel no. 1, 7 dan 8) yang dapat diambil kembali untuk diuji. Kondisi tanaman-tanaman sawit lain di lapangan ada yang sudah dalam kondisi mati dan ada sebagian yang buahnya tidak tampak tumbuh kembali. Dengan demikian, pada penelitian ini digunakan tiga sampel yang pernah diuji oleh PPKS Balai Penelitian Marihat ditambah dengan lima belas sampel buah dari tanaman kelapa sawit persilangan E. guineensis dan E. oleifera yang belum pernah dianalisis sebelumnya. Delapan
33
belas sampel yang digunakan dalam tahap analisis pertama ini dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 8. Penampakan buah sawit persilangan E. guineensis dan E. oleifera yang dijadikan sampel produksi minyak sawit kasar
Sampel diterima dalam kondisi sudah terpisah dari tandan, sehingga segera setelah dibersihkan dan ditimbang, buah sawit disterilisasi. Sterilisasi dilakukan dengan memanaskan buah menggunakan uap dan merupakan proses yang penting karena menentukan tingkat efisiensi dan eketivitas proses produksi minyak sawit lebih lanjutnya. Secara umum, semakin tinggi waktu sterilisasi yang diaplikasikan maka tingkat rendemen minyak yang terekstrak akan semakin tinggi (Owolarafe et al. 2008).
Penghilangan tahap sterilisasi pada proses ekstraksi minyak dari buah sawit diharapkan dapat mempertahankan kandungan -karoten, namun rendemen ekstraksi minyak akan menjadi sangat rendah. Hal tersebut dikarenakan struktur dan massa buah sawit yang sangat berserat sehingga minyak yang tersimpan di ruang-ruang kosong serabut buah sulit dikeluarkan karena tidak ada panas yang diaplikasikan untuk melunakan jaringan materi yang menahan minyak di dalam struktur buah (Owolarafe et al. 2007). Penggunaan kelapa sawit sebagai bahan baku minyak sawit merah pada skala industri tetap harus memperhatikan faktor efisiensi, yang terutama dipengaruhi oleh nilai rendemen ekstraksi minyak. Oleh karena itu, pengggunaan panas sepanjang proses ekstraksi minyak tidak dapat dihindarkan.
Pada penelitian, sterilisasi dilakukan pada suhu 121°C selama 20 menit. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Fauzi dan Sarmidi (2010), sterilisasi pada 121°C selama 20 menit mampu mempertahankan retensi kandungan -karoten pada minyak sawit sampai waktu 3 bulan penyimpanan dengan masih memberikan rendemen ekstraksi minyak yang optimum. Walaupun Andi (1994) menyimpulkan bahwa pemanasan buah pada suhu 60°C akan memberikan retensi kandungan -karoten yang optimum, namun studi Fauzi dan Sarmidi (2010) serta Siew et al. (1992) menunjukan bahwa penggunaan suhu 121°C dibandingkan 60°C tidak menunjukan perbedaan pada retensi kandungan -karoten pada minyak.
Selain itu, pemilihan parameter proses sterilisasi yang sama dengan penelitian Fauzi dan Sarmidi (2010) tersebut dilakukan untuk dapat membandingkan kandungan -karoten pada minyak yang dihasilkan dari jenis sawit yang berbeda. Fauzi dan Sarmidi (2010) menggunakan buah kelapa sawit
35
dari tanaman sawit Elais guineensis varietas tenera yang memiliki kandungan - karoten cukup tinggi, yaitu mencapai kisaran 1000 – 1600 ppm.
Setelah sterilisasi, buah sawit utuh tanpa diiris dikempa menggunakan hydraulic press. Menurut Andi (1994), kondisi buah yang terbaik adalah buah utuh karena memberikan nilai asam lemak bebas yang lebih rendah dan kandungan karotenoid yang lebih tinggi.
Industri-industri sawit sekarang ini umumnya menggunakan screw press sebagai alat ekstraksi mekanik minyak dari buah kelapa sawit. Menurut Owolarafe et al. (2002), bila dibandingkan dengan hydraulic press yang dioperasikan dengan tangan secara manual, sistem screw press memiliki efisiensi sampai 89,1% lebih tinggi dan secara keseluruhan lebih ekonomis. Namun karena harga alatnya yang lebih mahal, umumnya industri sawit skala kecil masih menggunakan hydraulic press (Baryeh 2001). Selain itu, dalam pengoperasiannya, screw press menggunakan suhu yang cukup tinggi (85 - 90°C) dengan waktu pengempaan 6 – 10 menit, sehingga dikhawatirkan akan mengurangi retensi -karoten dalam minyak yang dihasilkan. Selain itu, jumlah sampel yang terbatas dalam penelitian ini tidak memungkinkan penggunaan screw press pada tahapan produksi minyak. Jumlah sampel yang tersedia tidak mencukupi kapasitas minimum untuk operasionalisasi screw press yang tersedia.
Minyak dari jaringan daging buah kelapa sawit akan keluar pada proses pengempaan disebabkan adanya tekanan mekanik yang diberikan. Campuran yang dihasilkan dari proses pengempaan kemudian dikumpulkan dalam wadah kaca yang telah dilapisi dengan aluminium foil untuk menghindari kontak dengan cahaya dan ditutup segera mungkin untuk menghindari degradasi -karoten lebih lanjut. Campuran minyak kasar dari proses pengempaan atau sludge umunya terdiri dari 66% minyak, 24% air, dan 10% padatan non-minyak.
Untuk memperoleh fraksi minyaknya saja, yang kemudian disebut sebagai minyak kasar, sludge berbentuk puree tersebut lalu disentrifugasi. Sentrifugasi dilakukan pada kecepatan rotasi 4000 rpm selama 20 menit (Fauzi & Sarmidi 2010). Pemisahan menggunakan prinsip sentrifugasi akan memisahkan komponen-komponen campuran produk pengempaan berdasarkan berat jenisnya dengan prinsip gravitasi. Fraksi minyak akan berada di lapisan bagian atas sementara lapisan bagian bawah merupakan lapisan non-minyak. Sentrifugasi
pada penelitian ini digunakan menggunakan sentrifuse merk Kokusan H – 103N Series. Fraksi minyak yang dihasilkan dari salah satu sampel dapat dilihat pada Gambar 10.
Setelah dipisahkan, fraksi minyak hasil sentrifugasi dikumpulkan dalam wadah gelas tertutup rapat, ditimbang dan kemudian disimpan dalam lemari pendingin. Sampel disimpan dalam kondisi penyimpanan yang sesuai untuk meminimalisasi kerusakan -karoten.
Gambar 9. Fraksi minyak hasil sentrifugasi dari salah satu sampel buah sawit persilangan E.guineensis dan E. oleifera