BAB 4. HASIL PENELITIAN
4.4. Analisis Multivariat
Untuk mengetahui pengaruh variabel independen (pengetahuan, persepsi, sikap, dan motivasi) dengan variabel dependen (pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia) secara bersamaan dilakukan analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda (multiple logistic regression). Untuk mencari faktor yang paling dominan terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia, melalui beberapa langkah yaitu:
1. Melakukan pemilihan variabel yang potensial dimasukkan dalam model.
Variabel yang dipilih sebagai kandidat atau yang dianggap signifikan berdasarkan hasil uji bivariat (uji chi-square).
2. Pada uji regresi logistik berganda tahap pertama dipilih nilai signifikan (p) kurang dari 0,25 (p<0,25) pada uji bivariat (uji Chi-Square). Penggunaan kemaknaan statistik 0,25 untuk memungkinkan variabel-variabel yang secara terselubung sesungguhnya penting dimasukkan ke dalam model multivariat.
3. Selanjutnya dilakukan pengujian secara bersamaan dengan metode forward stepwise (conditional) untuk mengidentifikasi faktor paling berpengaruh terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia.
Dalam penelitian ini berdasarkan analisis bivariat dengan uji chi-Square bahwa seluruh variabel independen berpengaruh signifikan terhadap Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia karena seluruh variabel mempunyai nilai probabilitas (p) lebih kecil dari 0,05 (p<0,05) yaitu pengetahuan, persepsi, sikap, dan
motivasi. Tahap selanjutnya seluruh variabel dimasukkan sebagai kandidat model untuk dilakukan analisis multivariat dengan uji regresi logistik berganda.
Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda diperoleh hasil bahwa hanya satu variabel yang berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu variabel motivasi dengan koefisien regresi=
5,091, sig.=0,000, dan nilai Exp(β)=62,500) dan nilai konstanta sebesar -2,526.
Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.12. Hasil Analisis Multivariat Uji Regresi Logistik Ganda Variabel B Sig. Exp(β) 95%CI for Exp(B) Motivasi
Constant
5,091 -2,526
0,000 62,500 27,893-246.688
Sehingga dapat dibuat model regresi logistik yaitu:
γi
Sedangkan nilai probabilitas ibu hamil melakukan pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu:
Dengan model persamaan regresi diperoleh, kita dapat membuat ramalan tentang probabilitas ibu hamil melakukan pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia sebagai berikut :
Tabel 4.13. Nilai Probabilitas Ibu Hamil Memanfaatkan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia
Faktor Motivasi Proporsi Persentase
0 1
0,9286 0,0741
92,86%
7,41%
Berdasarkan tabel di atas bahwa jika ibu hamil memiliki nilai variabel prediktor, sebagai berikut :
1. Misalnya faktor motivasi tinggi (0), maka nilai probabilitas ibu hamil memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia sebesar 92,86%.
2. Misalnya faktor motivasi rendah (1), maka nilai probabilitas ibu hamil memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia sebesar 7,41%
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1. Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia
Pemanfaatan asuhan antenatal atau antenatal care (ANC) adalah penggunaan fasilitas pelayanan yang merupakan suatu program yang terencana berupa observasi, edukasi dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk mendapatkan proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan. Salah satu yang menjadi tujuan adalah dengan dilakukan ANC dapat mendeteksi dini gangguan-gangguan yang terjadi pada masa kehamilan seperti preeklampsia (Wiknjosastro, 2005).
Berdasarkan hasil penelitian bahwa sebagian besar responden memanfaatkan pelayanan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu 52 orang (63,4%), dan masih ditemukan sebanyak 30 orang (36,6%) responden yang tidak memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia.
Penelitian Ginting (2001) yang meneliti pemanfaatan pelayanan antenatal oleh ibu hamil yang memiliki faktor resiko di Kecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan menunjukkan bahwa dari 132 responden, ada 59,8% yang memanfaatkan pelayanan antenatal sesuai standar dan 40,2% yang tidak memanfaatkan atau memanfaatkan tetapi tidak sesuai standar.
Hasil penelitian Zachri (2001) bahwa sebagian besar ibu hamil tidak memanfaatkan pelayanan rujukan ke Rumah Sakti Dr. Moch. Hoesin (RSMH)
Palembang yaitu sebesar 56%, sedangkan yang memanfaatkan pelayanan rujukan adalah 44%.
Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian ini yang diajukan tentang pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia bahwa berdasarkan pertanyaan nomor 1 diketahui ibu hamil berdasarkan trimesternya, ibu yang mengisi pada point 1a (trimester I) sebanyak 23 orang (28,0 %), yang mengisi pada point 1b (trimester II) sebanyak 42 orang (51,2%), dan yang mengisi pada point 1c (trimester III) sebanyak 17 orang (20,7%).
Penelitian Adri (2008) yang meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi cakupan program pemeriksaan kehamilan (K1 dan K4) di Puskesmas Runding Kota Subulussalam Provinsi NAD mendapatkan hasil bahwa responden yang melakukan kehamilan kategori sesuai (frekuensinya sesuai dengan umur kehamilannya) sebesar 69,4%, sedangkan 30,6% lainnya melakukan pemeriksaan kehamilan tetapi frekuensinya tidak sesuai dengan umur kehamilannya sehingga dikategorikan tidak sesuai.
Dalam penelitian ini peneliti menemukan sebanyak 36,6% responden tidak memanfaatkan pelayanan ANC untuk mendeteksi dini preeklampsia disebabkan ibu hamil tidak mengetahui kunjungan antenatal yang benar serta berbagai alasan yang membuat ibu hamil tidak melakukan pemeriksaan kehamilannya. Ibu tidak memanfaatkan pelayanan ANC untuk mendeteksi dini preeklampsia karena berdasarkan pengalaman baik dirinya maupun pengalaman ibu hamil yang lain bahwa tidak melakukan pemeriksaan kehamilan bayinya lahir dengan selamat dan tidak
mengalami gangguan (komplikasi). Mereka belum menyadari pentingnya melakukan deteksi sebagai upaya pencegahan berbagai masalah atau gangguan pada masa kehamilan seperti terjadinya peningkatan tekanan darah (hipertensi) yang dapat menyebabkan preeklampsia.
Pentingnya memanfaatkan pelayanan ANC untuk mendeteksi preeklampsia pada ibu hamil seperti terlihat dari hasil penelitian Bahari (2009), di RSUD dr.
Soetomo Surabaya mendapatkan hasil bahwa kejadian preeklampsia pada ibu bersalin sebagian besar dialami oleh ibu bersalin dengan usia <20 tahun, lebih dari setengah kejadian preeklampsia pada ibu bersalin terjadi pada ibu primipara, ibu yang tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan (ANC) pada waktu hamil, dan ada hubungan usia dan paritas terhadap kejadian preeklampsia pada ibu bersalin.
Menurut Saifuddin (2006) deteksi dini dalam pelayanan atau asuhan antenatal care (ANC) merupakan cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal agar tidak menjadi abnormal. Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat. Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan pemantauan selama kehamilannya. Ibu hamil dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal.
5.2. Pengaruh Pengetahuan terhadap Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia
Pengetahuan merupakan penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang
sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sampai dengan menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra pendengaran (telinga), dan penglihatan (mata) (Taufik, 2007). Pengetahuan kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) karena itu dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).
Perilaku pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia oleh ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura sebagian besar juga didasarkan oleh pengetahuan yang dimilikinya. Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji Chi-Square menunjukkan ada pengaruh yang signifikan pengetahuan terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia, nilai probabilitas (p) = 0,000. Dari 52 responden yang berpengetahuan baik sebagian besar memanfaatkan ANC yaitu 42 orang (80,8%), sedangkan dari 30 responden yang berpengetahuan kurang baik, sebagian besar tidak memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu 20 orang (66,7%). Sedangkan dari hasil uji regresi logistik, nilai pengetahuan (p=0,478), artinya secara bersama-sama variabel pengetahuan tidak berpengaruh.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ginting (2001) bahwa tidak ada hubungan bermakna antara pengetahuan ibu dengan pemanfaatan pelayanan antenatal (p=0,150). Nilai OR = 1,56 artinya ibu yang berpengetahuan biak mempunyai
peluang untuk memanfaatkan pelayanan antenatal sesuai standar 1,56 kali dibandingkan dengan ibu yang berpengetahuan kurang.
Penelitian Tanuwidjaja (1992) yang menunjukkan bahwa ibu yang pengetahuannya baik mempunyai peluang menggunakan pemanfaatan pelayanan antenatal baik 2,7 kali dibandingkan ibu yang pengetahuannya kurang. Sedangkan menurut Sadik (1996) dari responden yang pengetahuannya baik hampir 3 kali (61,0%) melakukan pemeriksaan kehamilan dengan baik daripada responden dengan pengetahuan kurang.
Penelitian Rismanto (2009) mendapatkan hasil bahwa ibu hamil dengan pengetahuan baik cenderung melakukan kunjungan antenatal empat kali (K4) lengkap (73,33%), serta 1 kali lebih besar melakukan kunjungan antenatal dibandingkan responden yang memiliki pengetahuan kurang.
Berbeda dengan hasil penelitian Ndama (2002), bahwa berdasarkan hasil analisis multivariat regresi logistik menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi pemanfaatan pelayanan antenatal adalah pengetahuan (OR 3,3161) untuk wilayah ANC tinggi, sedangkan untuk wilayah ANC rendah adalah pekerjaan ibu (OR 21,6495).
Penelitian Zachri (2001) mendapatkan hasil bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan rujukan ibu hamil risiko tinggi (p=0,000). Responden yang tidak memanfaatkan rujukan persalinan persentasenya lebih tinggi ibu yang memiliki pengetahuan rendah (67,5%) dibandingkan dengan ibu yang mempunyai pengetahuan
Menurut Nursalam (2007) bahwa pada umumnya orang yang berpengetahuan baik akan berperilaku yang baik pula sesuai dengan apa yang diketahuinya dan tahu apa manfaat yang diperoleh dari perilaku tersebut, sebaliknya orang yang berpengetahuan kurang akan berperilaku kurang baik pula karena tidak mengetahui tentang tujuan, manfaat dalam melakukan ANC.
Menurut Fisbein yang dikutip oleh Ndama (2002) bahwa adanya pengetahuan tentang manfaat suatu program kesehatan misalnya manfaat pelayanan antenatal untuk deteksi dini preeklampsia menyebabkan seorang ibu hamil mempunyai sikap yang positif dan akan mempengaruhi ibu tersebut untuk memanfaatkan pelayanan antenatal.
Ibu hamil yang memiliki pengetahuan baik mengenai pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia merupakan dasar untuk dapat mengaplikasikannya dalam tindakan secara nyata, sedangkan ibu hamil yang memiliki pengetahuan kurang baik, dapat mempengaruhi kesehatan kehamilannya karena tidak melakukan pemeriksaan kehamilan secara benar. Salah satu gangguan kehamilan yang dapat terjadi pada masa kehamilan adalah preeklampsia.
5.3. Pengaruh Persepsi terhadap Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia
Menurut Setiadi (2003) dalam Syafrudin (2011) persepsi merupakan suatu proses yang timbul akibat adanya aktivitas (pelayanan yang diterima) yang dapat dirasakan oleh suatu objek. Mengingat bahwa persepsi setiap orang terhadap suatu
objek (pelayanan) akan berbeda-beda. Oleh karena itu persepsi memiliki sifat subjektif yang merupakan suatu rasa puas atau tidak oleh adanya pelayanan.
Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji Chi-Square menunjukkan ada pengaruh yang signifikan persepsi terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia, nilai probabilitas (p) = 0,000. Dari 59 responden yang mempunyai persepsi baik sebagian besar memanfaatkan ANC yaitu 47 orang (79,7%), sedangkan dari 23 responden yang mempunyai persepsi kurang baik sebagian besar tidak memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu 18 orang (78,3%).
Sedangkan dari hasil uji regresi logistik, nilai pengetahuan (p=0,287), artinya secara bersama-sama variabel persepsi tidak berpengaruh terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ginting (2001) bahwa ibu hamil yang menganggap bahwa hamilnya beresiko sebesar 65,6% yang memanfaatkan pelayanan antenatal sesuai standar sedangkan yang menganggap hamilnya normal hanya sebesar 58% yang memanfaatkan pelayanan antenatal sesuai standar. Nilai p= 0,290 artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara persepsi ibu dengan pemanfaatan pelayanan antenatal. Nilai OR= 1,38 artinya ibu yang mempunyai persepsi kehamilannya beresiko cenderung memanfaatkan pelayanan antenatal sesuai standar 1,38 kali dibandingkan dengan ibu yang berpersepsi hamilnya normal.
Penelitian yang dilakukan oleh Yulfar (2003) mendapatkan hasil bahwa
puskesmas dengan pemanfaatan pelayanan puskesmas (p=0,000). Dari nilai OR (Odd Ratio) dapat dijelaskan bahwa dengan persepsi yang baik terhadap petugas maupun pelayanan kesehatan yang diberikan cenderung dapat meningkatkan pemanfaatan puskesmas sebesar 4,344 kali dibandingkan yang memiliki persepsi buruk terhadap petugas maupun pelayanan yang diberikan di Puskesmas Sei Panas.
Menurut Green (1980) dalam Notoatmodjo (2007) bahwa faktor predisposing dari sebuah perilaku adanya keyakinan terhadap nilai sesuatu. Persepsi merupakan respon yang merupakan hasil dari penilaian terhadap sesuatu merupakan bagian penting juga dalam perilaku atau tindakan yang akan diambil oleh seseorang. Persepsi ibu hamil diperoleh dengan mengajukan 10 pertanyaan mengenai ANC dan pentingnya melakukan deteksi dini preeklampsia.
Menurut Notoatmodjo (2007) persepsi (perception) merupakan praktik tingkat pertama berupa pengenalan dan pemilihan berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil. Misalnya seorang ibu hamil yang mempunyai persepsi baik tentang ANC dan deteksi dini kehamilan maka akan melakukan tindakan ANC dengan pergi ke petugas kesehatan untuk memeriksa kehamilannya.
Persepsi ibu hamil terhadap pelayanan ANC yang diberikan petugas merupakan hal yang subyektif dan manusiawi dan hal ini tentukan akan bergantung pada apa dan siapa responden memberikan penilaian tersebut, baik buruknya penilaian responden tentunya berhubungan dengan pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia.
5.4. Pengaruh Sikap terhadap Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia
Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh sikap (attitude) yaitu suatu tingkat afeksi (perasaan) baik yang positif (menguntungkan) maupun yang negatif (merugikan). Sikap belum tentu merupakan tindakan atau aktivitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. Sikap merupakan potensi tingkah laku seseorang terhadap suatu keinginan yang dilakukan. Maka dapat dikatakan bahwa seorang ibu hamil yang bersikap positif terhadap ANC untuk deteksi dini preeklampsia cenderung akan memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada (Notoatmodjo, 2007).
Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji Chi-Square menunjukkan ada pengaruh yang signifikan sikap terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia, nilai probabilitas (p) = 0,000. dari 60 responden yang mempunyai sikap positif sebagian besar memanfaatkan ANC yaitu 45 orang (75,0%), sedangkan dari 22 responden yang mempunyai sikap negatif sebagian besar tidak memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu 15 orang (68,2%).
Penelitian Ginting (2001) mendapatkan hasil bahwa proporsi ibu hamil yang bersikap positif sedikit lebih besar dari ibu yang bersikap negatif dalam hal pemanfaatan pelayanan antenatal sesuai dengan standar yaitu 63,4% dan 51,3%.
Namun secara statistik tidak ada hubungan bermakna antara sikap ibu dengan pemanfaatan pelayanan antenatal (p=0,135). Nilai OR = 1,65, artinya ibu yang mempunyai sikap positif cenderung memanfaatkan pelayanan antenatal sesuai standar 1,65 kali dibandingkan dengan ibu yang bersikap negatif.
Menurut Thurstone yang dikutip Ahmadi (2007) menyatakan sikap sebagai tingkatan kecenderungan yang bersifat positif atau negatif yang berhubungan dengan obyek psikologi. Obyek psikologi di sini meliputi : simbol, kata-kata, slogan, orang, lembaga, ide dan sebagainya. Orang dikatakan memiliki sikap positif terhadap suatu obyek psikologi apabila ia suka atau memiliki sikap yang favorable, sebaliknya orang yang dikatakan memiliki sikap yang negatif terhadap obyek psikologi bila ia tidak suka atau sikap unfavorable terhadap obyek psikologi.
Berdasarkan jawaban responden yang diperoleh melalui kuesioner menunjukkan bahwa sikap ibu hamil terhadap ANC untuk pemeriksaan deteksi dini preeklampsia yaitu ibu hamil kurang mewaspadai terjadinya perubahan tekanan darah selama kehamilan, tidak mendatangi petugas kesehatan jika muncul gejala pusing, nyeri kepala, dan pandangan kabur, ibu merasa bahwa semakin tua umur kehamilan ibu tidak harus sering-sering berkunjung ke tenaga kesehatan, ibu hamil beranggapan bahwa bidan yang harus lebih aktif mendatangi ibu hamil, ibu hamil tidak mencari informasi atau tidak menanyakan hal-hal yang kurang diketahuinya tentang bahaya preeklampsia pada kehamilan.
Faktor perilaku bidan menjadi alasan sikap ibu hamil tidak memanfaatkan pelayanan ANC untuk deteksi dini preeklampsia pada bidan. Selain itu karena bidan yang bertugas selalu tidak berada di tempat tugasnya, bersikap “cerewet”, kurang terampil, tidak menghargai adat budaya setempat (sering menyalahkan adat yang tidak sesuai dengan ilmu kebidanan). Sebaliknya alasan ibu hamil yang mau memeriksakan kehamilannya, sikapnya terhadap perilaku bidan antara lain bidan
sudah berpengalaman, mengetahui letak posisi bayi, bidan berpengalaman dan terdidik, juga menyebutkan bidan tersebut ramah dengan masyarakat.
5.5. Pengaruh Motivasi terhadap Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia
Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji Chi-Square menunjukkan ada pengaruh yang signifikan motivasi terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia, nilai probabilitas (p) = 0,000. Dari 54 responden yang mempunyai motivasi tinggi sebagian besar memanfaatkan ANC yaitu 50 orang (92,6%), sedangkan dari 28 responden yang mempunyai motivasi rendah sebagian besar tidak memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu 26 orang (92,9%). Hasil uji regresi logistik ganda diperoleh hasil bahwa hanya variabel motivasi yang berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia dengan koefisien regresi= 5,091, sig.=0,000, dan nilai Exp(β)=62,500. Artinya bahwa ibu hamil dengan motivasi yang tinggi maka akan melakukan pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia sebesar 62,5 kali dibandingkan ibu hamil dengan motivasi rendah.
McDonald (1982) dalam Djamarah (2008) mengatakan bahwa motivation is a energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reactions. Motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.
Perubahan energi dalam diri seseorang itu berbentuk suatu aktivitas nyata berupa
seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengan segala upaya yang dapat ia lakukan untuk mencapainya.
Motivasi ibu hamil yang memanfaatkan ANC untuk mau memeriksakan dirinya ke pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan desa. Berdasarkan tempat pemeriksaan, tidak hanya dilakukan di tempat bidan saja (rumah bidan), tetapi juga di tempat lain seperti posyandu, dibawa ke puskesmas, bahkan kunjungan dari rumah ke rumah. Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa motivasi ibu sebagian besar dalam kategori baik artinya sebagian besar yang mendorong memeriksa kehamilan atau ibu hamil mendatangi tenaga kesehatan sebagian besar atas kemauan sendiri karena ingin kehamilannya berjalan dengan baik, ibu khawatir jika tidak melakukan pemeriksaan kehamilan ibu akan dapat terjadi gangguan kehamilan sewaktu-waktu, takut anaknya lahir cacat, ibu juga takut terjadi tekanan darah yang meningkat selama masa kehamilan yang dapat mengakibatkan terjadinya preeklampsia, serta ingin persalinan dapat berjalan dengan lancar. Sedangkan motivasi atau dorongan dari luar yang membuat ibu melakukan pemanfaatan ANC yaitu adanya dorongan dari suami, keluarga, saudara, tetangga maupun dari tenaga kesehatan.
Kelompok ibu hamil yang tidak memanfaatkan pelayanan menyebutkan karena kurangnya biaya, selama ini kehamilan berjalan lancar walaupun tidak sering melakukan pemeriksaan kesehatan, serta kurangnya motivasi atau dorongan dari luar seperti suami kurang peduli terhadap kesehatan kehamilan ibu dan bayi, kurang mendapatkan dukungan dari keluarga, saudara, tetangga maupun tidak mendapatkan informasi atau dari tenaga kesehatan.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya (Bab IV dan V) dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Ibu hamil yang memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia sebanyak 63,4%, dan ditemukan sebanyak 36,6% ibu hamil tidak memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia.
2. Pada uji Chi-Square seluruh variabel independen (pengetahuan, persepsi, sikap, motivasi) berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia dengan nilai p<0,05. Semakin baik pengetahuan, persepsi, sikap, dan motivasi ibu hamil maka akan memanfaatkan pelayanan ANC, demikian juga sebaliknya.
3. Uji regresi logistik menunjukkan bahwa variabel berpengaruh terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia adalah variabel motivasi dengan koefisien regresi= 5,091, sig.=0,000, dan nilai Exp(β)=62,500. Jika faktor motivasi tinggi (0), maka ibu hamil memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia sebesar 92,86%, dan jika motivasi rendah sebesar 7,41%.
6.2. Saran
1. Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat untuk melakukan kerjasama lintas sektor untuk peningkatan kesehatan masyarakat terutama ibu hamil dan melaksanakan kegiatan supervisi ke daerah-daerah dengan cakupan ANC yang masih rendah.
2. Kepala puskesmas pantai Cermin diharapkan membuat kebijakan dengan mengintensifkan kegiatan penjaringan bumil risiko tinggi dan melakukan evaluasi terhadap kinerja bidan di wilayah kerja Puskesmas Pantai Cermin dalam pelaksanaan pelayanan antenatal care (ANC) untuk deteksi dini preeklampsia.
3. Tenaga kesehatan di Puskesmas Pantai Cermin dan bidan desa diharapkan memberikan penyuluhan (pendidikan kesehatan) kepada setiap ibu hamil yang melakukan pemeriksaan serta memberi motivasi untuk melakukan pemeriksaan kehamilan guna mendeteksi dini gangguan-gangguan kehamilan seperti preeklampsia.
4. Disarankan kepada ibu hamil dengan motivasi rendah dan ibu hamil yang berusia di atas 35 tahun agar melakukan pemeriksaan lebih intensif dan setelah melahirkan diharapkan mengikuti program KB.
5. Peneliti selanjutnya, diharapkan untuk melakukan penelitian lanjutan mengenai pemanfaatan ANC guna mendeteksi penyakit yang menyertai kehamilan lainnya untuk melengkapi hasil penelitian yang telah ada.
DAFTAR PUSTAKA
Adri. 2008. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Cakupan Program Pemeriksaan Kehamilan (K1 dan K4) di Puskesmas Runding Kota Subulussalam Provinsi NAD. Tesis. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Ahmadi, A. 2007. Psikologi Sosial, Edisi Revisi, Cetakan Kedua, Jakarta : Rineka Cipta.
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Cetakan II, Edisi 4, Rineka Cipta Jakarta.
Bahari, J. 2009. Hubungan usia dan Paritas Terhadap Kejadian Preeklampsia Pada Ibu Bersalin. Buletin Penelitian RSUD Dr. Soetomo, Vol. 11 No. 4, Desember 2009.
Cunningham, F. Gary. 2005. Obstetri Williams, Edisi 21, Jakarta : EGC.
Daryanto, 2010. Belajar dan Mengajar, Cetakan Pertama, Bandung: Yrama Widya.
Depdiknas. 2003. Undang-Undang No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Depkes RI. 2009. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA), Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat direktorat Bina Kesehatan Ibu.
Djamarah, S.B. 2008. Psikologi Belajar. Cetakan Kedua, Edisi Kedua, Jakarta:
Rineka Cipta.
Ginting, I. 2001. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Pemanfaatan Pelayanan Antenatal Oleh Ibu Hamil Yang Memiliki Faktor Resiko di Kecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan Tahun 2001. Tesis. Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Hidayat, A.A.A. 2007. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis Data, Edisi Pertama, Jakarta : Salemba Medika.
HKFM (Himpunan Kedokteran Fetomaternal). 2010. Panduan Penatalaksanaan Kasus Obstetri, Jakarta: Himpunan Kedokteran Fetomaternal Indonesia.
Indiarti. M.T. 2009. Panduan Lengkap, Kehamilan, Persalinan dan Perawatan Bayi.
Bahagia Menyambut si Buah Hati. Cetakan X, Yogyakarta: Diglossia Media.
Jones, D.L. 2005. Setiap Wanita. Jakarta: Delapratasa Publishing.
Kemenkes RI, 2011. Profil Kesehatan Indonesia 2010. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Kusmiyati Y., Heni P.W. dan Sujiyatini. 2009. Perawatan Ibu Hamil (Asuhan Ibu
Kusmiyati Y., Heni P.W. dan Sujiyatini. 2009. Perawatan Ibu Hamil (Asuhan Ibu