BAB 3. METODE PENELITIAN
3.7. Metode Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Analisis univariat
Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi yang berkaitan
2. Analisis bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat pengaruh masing-masing variabel independen dengan dependen menggunakan uji Chi-Square. Hasil uji Chi-Square yang memiliki nilai signifikan <0,25 dijadikan kandidat model dalam uji regresi logistik.
3. Analisis multivariat
Analisis multivariat dilakukan dengan menggunakan uji regresi logistik. Uji regresi logistik ganda digunakan untuk melihat pengaruh satu atau beberapa variabel independen terhadap pemanfaatan ANC dalam deteksi preeklampsia.
Dalam uji regresi logistik ganda ini digunakan metode seleksi forward stepwise (conditional). Model persamaan regresi logistik ganda yang dapat digunakan untuk peramalan probabilitas individu untuk pemanfaatan ANC dalam deteksi preeklampsia yaitu :
γi
Dimana : p = probabilitas ibu hamil yang memanfaatkan ANC
i
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian 4.1.1. Data Geografi Wilayah Penelitian
Puskesmas Pantai Cermin merupakan salah satu Puskesmas di Kabupaten Langkat yang terletak di Jalan Terusan No. 105 Desa Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura. Adapun batas-batas wilayah Puskesmas Pantai Cermin adalah sebagai berikut :
1. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Secanggang.
2. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Hinai dan Kecamatan Padang Tualang.
3. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Gebang dan Kecamatan Padang Tualang.
4. Sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka / Sumatera
Daerah wilayah kerja Puskesmas Pantai Cermin sebagian besar adalah dataran rendah dan sebagian lainnya adalah pesisir pantai yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Puskesmas Pantai Cermin memiliki luas area ± 3.796 Ha, terdiri dari 19 desa, yang terbagi menjadi 131 dusun. Adapun nama-nama desa di wilayah kerja Puskesmas Pantai Cermin adalah sebagai berikut : Desa Serapuh Asli, Desa Pematang Tengah, Desa Paya Perupuk, Desa Pekan Tanjung Pura, Desa Lalang, Desa Pantai Cermin, Desa Pekubuan, Desa Teluk Bakung, Desa Pematang Serai, Desa Baja Kuning, Desa Pulau Banyak, Desa Pematang Cengal, Desa Pematang Cengal Barat, Desa Kwala Serapuh, Desa Kwala Langkat, Desa Kwala Bubun, Desa Tapak Kuda, Desa Karya Maju, Desa Suka Maju.
4.1.2. Data Demografi Wilayah Penelitian
Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat yaitu 62.917 jiwa. Perkembangan penduduk menurut rasio jenis kelamin pada tahun 2009 yaitu jumlah laki-laki 30.810 dan jumlah perempuan 32.107.
Jenis pekerjaan penduduk wilayah kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat dikelompokkan berdasarkan atas PNS, TNI/POLRI, petani, wiraswasta, dan lain-lain. Secara terperinci jenis pekerjaan dimaksud adalah PNS ± 767 jiwa, TNI/POLRI ± 276 jiwa, petani ± 310 jiwa, karyawan ± 4.156 jiwa, dan wiraswasta ± 28.510 jiwa.
Berdasarkan tingkat pendidikan penduduk di wilayah Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat terdiri dari: belum sekolah yaitu 8.494 (13,5%), SD yaitu 15.918 (25,3%), SMP yaitu 13.275 (21,1%), SMA yaitu 9.626 (15,3%), Diploma yaitu 4.719 (7,5%), Perguruan Tinggi yaitu 3.020 (4,8%), dan tidak sekolah yaitu 7.865 (12,5%).
Berdasarkan agama yang dianut penduduk Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat mayoritas menganut agama Islam yaitu 50.267 jiwa, Kristen Protestan yaitu 6.325 jiwa, Kristen Katolik 1.292 jiwa, Buddha yaitu 3.146 jiwa dan Hindu yaitu 1.887 jiwa.
4.1.3. Fasilitas Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Cermin
Karena luasnya wilayah kerja Puskesmas Pantai Cermin maka untuk dapat menjangkau masyarakat yang tinggal di desa dan dusun yang berada jauh dari
puskesmas, Puskesmas Pantai Cermin dibantu oleh 7 Puskesmas Pembantu dan 12 Poliklinik Desa (polindes). Ketujuh pustu tersebut adalah Pustu Pematang Tengah, Pustu Pematang Serai, Pustu Pematang Cengal, Pustu K. Bubun, Pustu Tapak Kuda, Pustu Kwala Serapuh, Pustu Kwala Langkat. Sedangkan keduabelas polindes adalah sebagai berikut: Polindes Serapuh Asli, Polindes Pematang Tengah, Polindes Paya Perupuk, Polindes Teluk Bakung, Polindes Pematang Serai, Polindes Baja Kuning, Polindes Pulau Banyak, Polindes Desa Lalang, Polindes Suka Maju, Polindes Karya Maju, Polindes Pematang Cengal,. Polindes Lubuk Jaya.
Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat dalam melaksanakan kegiatannya didukung oleh berbagai fasilitas, antara lain:
1. Fasilitas Gedung Puskesmas Permanen a. Ruang Dokter Umum
b. Ruang Poliklinik Gigi c. Ruang Kepala Puskesmas d. Ruang Sanitasi
e. Ruang Rawat Inap
f. Ruang KIA, KB dan Imunisasi g. Kamar Gizi
h. Ruang Rapat
i. Ruang Laboratorium Sederhana j. Kamar UGD
k. Kamar Bersalin
l. Ruang Obat/ Apotek m. Ruang Tata Usaha
n. Ruang Pendaftaran dan Ruang Tunggu o. Kamar Mandi/ Toilet
2. Fasilitas Administrasi a. Meja
b. Kursi
c. Lemari Arsip d. Lemari Alat e. Buku Catatan f. Arsip
g. Kartu Berobat Pasien
h. Formulir Kegiatan Lapangan i. Kartu KIA/ KB
j. Buku Bendahara k. White Board 3. Fasilitas Imunisasi
Dalam peranannya sebagai wahana untuk program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat mempunyai sarana:
a. Lemari Pendingin b. Alat-alat Imunisasi
c. Vaksin seperti: BCG, DPT, Polio, Campak, Hepatitis B 4. Fasilitas Alat-alat Kesehatan
Fasilitas alat-alat kesehatan yang dimiliki Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat untuk menunjang kegiatannya dalam usaha kesehatan, dilengkapi dengan alat-alat:
a. Stetoskop b. Stetoskop Janin c. Termometer d. Tensimeter e. Timbangan Bayi f. Timbangan Dewasa g. Pengukur Tinggi Badan h. Perlengkapan Ginekology i. Perlengkapan Gigi
j. Tempat Tidur k. Lemari Peralatan
l. Lemari Obat Ginekology Bed
Jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat dapat dilihat sebagai berikut :
1. Jumlah tenaga dokter spesialis : - orang 2. Jumlah tenaga dokter umum : 4 orang
4. Jumlah tenaga perawat dan bidan : 19 orang
5. Jumlah tenaga farmasi : - orang
6. Jumlah tenaga gizi : 1 orang
7. Jumlah tenaga tehnisi medis : 1 orang
8. Jumlah tenaga sanitasi : 2 orang
9. Jumlah tenaga kesehatan masyarakat : 1 orang
4.2. Analisis Univariat 4.2.1. Identitas Responden
Identitas responden yang ditanyakan dalam penelitian ini meliputi umur, pendidikan terakhir, jumlah kehamilan, paritas, dan pendapatan. Berdasarkan hasil penelitian umur responden bahwa sebagian besar responden berumur 20-35 tahun sebanyak 70 orang (85,4%), paling sedikit berumur 20 tahun yaitu 3 orang (3,6%).
Berdasarkan pendidikan bahwa sebagian besar responden berpendidikan SMA yaitu 38 orang (46,3%), paling sedikit berpendidikan akademi yaitu 1 orang (1,2%).
Berdasarkan jumlah kehamilan, sebagian besar responden saat ini sedang hamil yang kedua yaitu 33 orang (40,2%), paling sedikit sedang hamil yang keenam yaitu 1 orang (1.2%). Berdasarkan paritas, sebagian besar responden mempunyai anak 1 orang yaitu 32 orang (39,0%), paling sedikit mempunyai anak 5 orang yaitu 1 orang (1,2%). Berdasarkan pendapatan bahwa sebagian besar responden mempunyai penghasilan kurang dari Rp.1.200.000.- yaitu 50 orang (61,0%), selebihnya mempunyai penghasilan lebih dari Rp.1.200.000.- yaitu 32 orang (39,0%).
Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.1. Distribusi Responden Berdasarkan Identitas di Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012
No Identitas Responden Jumlah (orang) Persentase (%) 1. Umur
No Identitas Responden Jumlah (orang) Persentase (%) 5. Penghasilan
< Rp.1.200.000.- 50 61,0
> Rp.1.200.000.- 32 39,0
Total 82 100,0
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 82 responden menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai pengetahuan yang baik yaitu 52 orang (63,4%), tetapi masih ditemukan sebanyak 30 orang responden (36,6%) responden yang berpengetahuan kurang baik. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.2. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan di Kabupaten Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012
No. Pengetahuan Jumlah Persentase
1. Baik 52 63,4
2. Kurang Baik 30 36,6
Jumlah 82 100,0
4.2.3. Persepsi
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai persepsi yang baik yaitu 59 orang (72,0%), dan ditemukan sebanyak 23 orang (28,0%) yang mempunyai persepsi kurang baik.
Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.3. Distribusi Responden Berdasarkan Persepsi di Kabupaten Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012
No. Persepsi Jumlah Persentase
1. Baik 59 72,0
2. Kurang Baik 23 28,0
Jumlah 82 100,0
4.2.4. Sikap
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai sikap positif yaitu 60 orang (73,2%), dari masih ditemukan sebanyak 22 responden mempunyai sikap negatif (26,8%). Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.4. Distribusi Responden Berdasarkan Sikap di Kabupaten Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012
No. Sikap Jumlah Persentase
1. Positif 60 73,2
2. Negatif 22 26,8
Jumlah 82 100,0
4.2.5. Motivasi
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai motivasi yang tinggi yaitu 54 orang (65,9%), dan masih ditemukan responden dengan motivasi rendah yaitu 28 orang (34,1%). Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.6. Distribusi Responden Berdasarkan Motivasi di Kabupaten Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012
No. Motivasi Jumlah Persentase
1. Tinggi 54 65,9
2. Rendah 28 34,1
Jumlah 82 100,0
4.2.7. Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar responden memanfaatkan pelayanan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu 52 orang (63,4%), dan masih ditemukan sebanyak 30 orang (36,6%) responden yang tidak memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.7. Distribusi Responden Berdasarkan Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia di Kabupaten Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012
No. Pemanfaatan ANC Untuk
Deteksi Dini Preeklampsia Jumlah Persentase
1. Baik 52 63,4
2. Tidak baik 30 36,6
Jumlah 82 100,0
4.3. Analisa Bivariat
Pada analisa bivariat ini dilakukan untuk menghubungkan masing-masing variabel independen dengan variabel dependen. Hasil pengolahan data disajikan pada tabel silang dan disertakan nilai dari uji chi-square.
4.3.1. Pengaruh Pengetahuan terhadap Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia
Berdasarkan hasil penelitian pengaruh pengetahuan terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia menunjukkan bahwa dari 52 responden yang berpengetahuan baik sebagian besar memanfaatkan ANC yaitu 42 orang (80,8%), sedangkan dari 30 responden yang berpengetahuan kurang baik, sebagian besar tidak memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu 20 orang (66,7%). Hasil uji statistik dengan uji Chi-Square menunjukkan ada pengaruh yang signifikan pengetahuan terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia, nilai probabilitas (p) = 0,000.
Tabel 4.8. Tabulasi Silang Pengaruh Pengetahuan terhadap Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia di Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012
Pengetahuan
Pemanfaatan ANC untuk
Deteksi Dini Preeklampsia Jumlah p
4.3.2. Pengaruh Persepsi terhadap Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia
Berdasarkan hasil penelitian pengaruh persepsi terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia menunjukkan bahwa dari 59 responden yang mempunyai persepsi baik sebagian besar memanfaatkan ANC yaitu 47 orang (79,7%), sedangkan dari 23 responden yang mempunyai persepsi kurang baik sebagian besar tidak memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu 18 orang (78,3%).
Hasil uji statistik dengan menggunakan uji Chi-Square menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara persepsi ibu hamil terhadap pemanfaatan antenatal care (ANC) untuk deteksi dini preeklampsia dengan nilai probabilitas (p)=
0,000. Ibu hamil yang mempunyai persepsi baik cenderung melakukan pemanfaatan ANC dibandingkan dengan ibu hamil dengan persepsi yang kurang baik terhadap pemanfaatan ANC.
Tabel 4.9. Tabulasi Silang Pengaruh Persepsi terhadap Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia di Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012
Persepsi
Pemanfaatan ANC untuk
Deteksi Dini Preeklampsia Jumlah p Baik Tidak baik
Jlh % Jlh % Jlh %
Baik Kurang baik
47 5
79,7 21,7
12 18
20,3 78,3
59 23
100,0
100,0 0,000 Total 52 63.4 30 36.6 82 100,0
4.3.3. Pengaruh Sikap terhadap Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia
Berdasarkan hasil penelitian pengaruh sikap terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia menunjukkan bahwa dari 60 responden yang mempunyai sikap positif sebagian besar memanfaatkan ANC yaitu 45 orang (75,0%), sedangkan dari 22 responden yang mempunyai sikap negatif sebagian besar tidak memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu 15 orang (68,2%).
Hasil uji statistik dengan menggunakan uji Chi-Square menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara sikap ibu hamil terhadap pemanfaatan antenatal care (ANC) untuk deteksi dini preeklampsia dengan nilai probabilitas (p)= 0,000.
Ibu hamil yang mempunyai sikap positif cenderung melakukan pemanfaatan ANC dibandingkan dengan ibu hamil dengan sikap yang negatif terhadap pemanfaatan ANC.
Tabel 4.10. Tabulasi Silang Pengaruh Sikap terhadap Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia di Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012
Sikap
Pemanfaatan ANC untuk
Deteksi Dini Preeklampsia Jumlah p
4.3.4. Pengaruh Motivasi terhadap Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia
Berdasarkan hasil penelitian pengaruh motivasi terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia menunjukkan bahwa dari 54 responden yang mempunyai motivasi tinggi sebagian besar memanfaatkan ANC yaitu 50 orang (92,6%), sedangkan dari 28 responden yang mempunyai motivasi rendah sebagian besar tidak memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu 26 orang (92,9%).
Hasil uji statistik dengan menggunakan uji Chi-Square menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara motivasi ibu hamil terhadap pemanfaatan antenatal care (ANC) untuk deteksi dini preeklampsia dengan nilai probabilitas (p)=
0,000. Ibu hamil yang mempunyai motivasi tinggi cenderung melakukan pemanfaatan ANC dibandingkan dengan ibu hamil dengan motivasi yang rendah dalam pemanfaatan ANC.
Tabel 4.11. Tabulasi Silang Pengaruh Motivasi terhadap Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia di Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012
Motivasi
Pemanfaatan ANC untuk
Deteksi Dini Preeklampsia Jumlah p
4.4. Analisis Multivariat
Untuk mengetahui pengaruh variabel independen (pengetahuan, persepsi, sikap, dan motivasi) dengan variabel dependen (pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia) secara bersamaan dilakukan analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda (multiple logistic regression). Untuk mencari faktor yang paling dominan terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia, melalui beberapa langkah yaitu:
1. Melakukan pemilihan variabel yang potensial dimasukkan dalam model.
Variabel yang dipilih sebagai kandidat atau yang dianggap signifikan berdasarkan hasil uji bivariat (uji chi-square).
2. Pada uji regresi logistik berganda tahap pertama dipilih nilai signifikan (p) kurang dari 0,25 (p<0,25) pada uji bivariat (uji Chi-Square). Penggunaan kemaknaan statistik 0,25 untuk memungkinkan variabel-variabel yang secara terselubung sesungguhnya penting dimasukkan ke dalam model multivariat.
3. Selanjutnya dilakukan pengujian secara bersamaan dengan metode forward stepwise (conditional) untuk mengidentifikasi faktor paling berpengaruh terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia.
Dalam penelitian ini berdasarkan analisis bivariat dengan uji chi-Square bahwa seluruh variabel independen berpengaruh signifikan terhadap Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia karena seluruh variabel mempunyai nilai probabilitas (p) lebih kecil dari 0,05 (p<0,05) yaitu pengetahuan, persepsi, sikap, dan
motivasi. Tahap selanjutnya seluruh variabel dimasukkan sebagai kandidat model untuk dilakukan analisis multivariat dengan uji regresi logistik berganda.
Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda diperoleh hasil bahwa hanya satu variabel yang berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu variabel motivasi dengan koefisien regresi=
5,091, sig.=0,000, dan nilai Exp(β)=62,500) dan nilai konstanta sebesar -2,526.
Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.12. Hasil Analisis Multivariat Uji Regresi Logistik Ganda Variabel B Sig. Exp(β) 95%CI for Exp(B) Motivasi
Constant
5,091 -2,526
0,000 62,500 27,893-246.688
Sehingga dapat dibuat model regresi logistik yaitu:
γi
Sedangkan nilai probabilitas ibu hamil melakukan pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu:
Dengan model persamaan regresi diperoleh, kita dapat membuat ramalan tentang probabilitas ibu hamil melakukan pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia sebagai berikut :
Tabel 4.13. Nilai Probabilitas Ibu Hamil Memanfaatkan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia
Faktor Motivasi Proporsi Persentase
0 1
0,9286 0,0741
92,86%
7,41%
Berdasarkan tabel di atas bahwa jika ibu hamil memiliki nilai variabel prediktor, sebagai berikut :
1. Misalnya faktor motivasi tinggi (0), maka nilai probabilitas ibu hamil memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia sebesar 92,86%.
2. Misalnya faktor motivasi rendah (1), maka nilai probabilitas ibu hamil memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia sebesar 7,41%
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1. Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia
Pemanfaatan asuhan antenatal atau antenatal care (ANC) adalah penggunaan fasilitas pelayanan yang merupakan suatu program yang terencana berupa observasi, edukasi dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk mendapatkan proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan. Salah satu yang menjadi tujuan adalah dengan dilakukan ANC dapat mendeteksi dini gangguan-gangguan yang terjadi pada masa kehamilan seperti preeklampsia (Wiknjosastro, 2005).
Berdasarkan hasil penelitian bahwa sebagian besar responden memanfaatkan pelayanan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu 52 orang (63,4%), dan masih ditemukan sebanyak 30 orang (36,6%) responden yang tidak memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia.
Penelitian Ginting (2001) yang meneliti pemanfaatan pelayanan antenatal oleh ibu hamil yang memiliki faktor resiko di Kecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan menunjukkan bahwa dari 132 responden, ada 59,8% yang memanfaatkan pelayanan antenatal sesuai standar dan 40,2% yang tidak memanfaatkan atau memanfaatkan tetapi tidak sesuai standar.
Hasil penelitian Zachri (2001) bahwa sebagian besar ibu hamil tidak memanfaatkan pelayanan rujukan ke Rumah Sakti Dr. Moch. Hoesin (RSMH)
Palembang yaitu sebesar 56%, sedangkan yang memanfaatkan pelayanan rujukan adalah 44%.
Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian ini yang diajukan tentang pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia bahwa berdasarkan pertanyaan nomor 1 diketahui ibu hamil berdasarkan trimesternya, ibu yang mengisi pada point 1a (trimester I) sebanyak 23 orang (28,0 %), yang mengisi pada point 1b (trimester II) sebanyak 42 orang (51,2%), dan yang mengisi pada point 1c (trimester III) sebanyak 17 orang (20,7%).
Penelitian Adri (2008) yang meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi cakupan program pemeriksaan kehamilan (K1 dan K4) di Puskesmas Runding Kota Subulussalam Provinsi NAD mendapatkan hasil bahwa responden yang melakukan kehamilan kategori sesuai (frekuensinya sesuai dengan umur kehamilannya) sebesar 69,4%, sedangkan 30,6% lainnya melakukan pemeriksaan kehamilan tetapi frekuensinya tidak sesuai dengan umur kehamilannya sehingga dikategorikan tidak sesuai.
Dalam penelitian ini peneliti menemukan sebanyak 36,6% responden tidak memanfaatkan pelayanan ANC untuk mendeteksi dini preeklampsia disebabkan ibu hamil tidak mengetahui kunjungan antenatal yang benar serta berbagai alasan yang membuat ibu hamil tidak melakukan pemeriksaan kehamilannya. Ibu tidak memanfaatkan pelayanan ANC untuk mendeteksi dini preeklampsia karena berdasarkan pengalaman baik dirinya maupun pengalaman ibu hamil yang lain bahwa tidak melakukan pemeriksaan kehamilan bayinya lahir dengan selamat dan tidak
mengalami gangguan (komplikasi). Mereka belum menyadari pentingnya melakukan deteksi sebagai upaya pencegahan berbagai masalah atau gangguan pada masa kehamilan seperti terjadinya peningkatan tekanan darah (hipertensi) yang dapat menyebabkan preeklampsia.
Pentingnya memanfaatkan pelayanan ANC untuk mendeteksi preeklampsia pada ibu hamil seperti terlihat dari hasil penelitian Bahari (2009), di RSUD dr.
Soetomo Surabaya mendapatkan hasil bahwa kejadian preeklampsia pada ibu bersalin sebagian besar dialami oleh ibu bersalin dengan usia <20 tahun, lebih dari setengah kejadian preeklampsia pada ibu bersalin terjadi pada ibu primipara, ibu yang tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan (ANC) pada waktu hamil, dan ada hubungan usia dan paritas terhadap kejadian preeklampsia pada ibu bersalin.
Menurut Saifuddin (2006) deteksi dini dalam pelayanan atau asuhan antenatal care (ANC) merupakan cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal agar tidak menjadi abnormal. Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat. Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan pemantauan selama kehamilannya. Ibu hamil dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal.
5.2. Pengaruh Pengetahuan terhadap Pemanfaatan ANC untuk Deteksi Dini Preeklampsia
Pengetahuan merupakan penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang
sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sampai dengan menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra pendengaran (telinga), dan penglihatan (mata) (Taufik, 2007). Pengetahuan kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) karena itu dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).
Perilaku pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia oleh ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura sebagian besar juga didasarkan oleh pengetahuan yang dimilikinya. Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji Chi-Square menunjukkan ada pengaruh yang signifikan pengetahuan terhadap pemanfaatan ANC untuk deteksi dini preeklampsia, nilai probabilitas (p) = 0,000. Dari 52 responden yang berpengetahuan baik sebagian besar memanfaatkan ANC yaitu 42 orang (80,8%), sedangkan dari 30 responden yang berpengetahuan kurang baik, sebagian besar tidak memanfaatkan ANC untuk deteksi dini preeklampsia yaitu 20 orang (66,7%). Sedangkan dari hasil uji regresi logistik, nilai pengetahuan (p=0,478), artinya secara bersama-sama variabel pengetahuan tidak berpengaruh.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ginting (2001) bahwa tidak ada hubungan bermakna antara pengetahuan ibu dengan pemanfaatan pelayanan antenatal (p=0,150). Nilai OR = 1,56 artinya ibu yang berpengetahuan biak mempunyai
peluang untuk memanfaatkan pelayanan antenatal sesuai standar 1,56 kali dibandingkan dengan ibu yang berpengetahuan kurang.
Penelitian Tanuwidjaja (1992) yang menunjukkan bahwa ibu yang pengetahuannya baik mempunyai peluang menggunakan pemanfaatan pelayanan antenatal baik 2,7 kali dibandingkan ibu yang pengetahuannya kurang. Sedangkan menurut Sadik (1996) dari responden yang pengetahuannya baik hampir 3 kali (61,0%) melakukan pemeriksaan kehamilan dengan baik daripada responden dengan pengetahuan kurang.
Penelitian Rismanto (2009) mendapatkan hasil bahwa ibu hamil dengan pengetahuan baik cenderung melakukan kunjungan antenatal empat kali (K4) lengkap (73,33%), serta 1 kali lebih besar melakukan kunjungan antenatal dibandingkan responden yang memiliki pengetahuan kurang.
Berbeda dengan hasil penelitian Ndama (2002), bahwa berdasarkan hasil analisis multivariat regresi logistik menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi pemanfaatan pelayanan antenatal adalah pengetahuan (OR 3,3161) untuk wilayah ANC tinggi, sedangkan untuk wilayah ANC rendah adalah pekerjaan ibu (OR 21,6495).
Penelitian Zachri (2001) mendapatkan hasil bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan rujukan ibu hamil risiko tinggi (p=0,000). Responden yang tidak memanfaatkan rujukan persalinan persentasenya lebih tinggi ibu yang memiliki pengetahuan rendah (67,5%) dibandingkan dengan ibu yang mempunyai pengetahuan
Menurut Nursalam (2007) bahwa pada umumnya orang yang berpengetahuan baik akan berperilaku yang baik pula sesuai dengan apa yang diketahuinya dan tahu apa manfaat yang diperoleh dari perilaku tersebut, sebaliknya orang yang berpengetahuan kurang akan berperilaku kurang baik pula karena tidak mengetahui tentang tujuan, manfaat dalam melakukan ANC.
Menurut Fisbein yang dikutip oleh Ndama (2002) bahwa adanya pengetahuan tentang manfaat suatu program kesehatan misalnya manfaat pelayanan antenatal untuk deteksi dini preeklampsia menyebabkan seorang ibu hamil mempunyai sikap
Menurut Fisbein yang dikutip oleh Ndama (2002) bahwa adanya pengetahuan tentang manfaat suatu program kesehatan misalnya manfaat pelayanan antenatal untuk deteksi dini preeklampsia menyebabkan seorang ibu hamil mempunyai sikap