Tabel 4.15. Faktor Dominan yang Memengaruhi Perilaku Seksual Remaja di SMU Negeri 1 Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang
Model Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients t
Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -2.560 0.904 -2.831 0.006
Pengetahuan 0.045 0.116 0.034 0.389 0.698
Sikap 0.147 0.039 0.322 3.806 0.000
Lingkungan Sosial 0.507 0.136 0.353 3.729 0.000
Komunikasi Keluarga 0.095 0.023 0.379 4.221 0.000
Hasil analisis data menunjukkan bahwa pada variabel sikap, lingkungan sosial, dan komunikasi keluarga memberikan nilai positif terhadap perilaku seksual remaja. Nilai koefisien pada sikap, komunikasi keluarga, dan lingkungan sosial menunjukkan bahwa semakin baik sikap, lingkungan sosial, dan komunikasi keluarga maka perilaku seksual remaja juga semakin membaik. Sebaliknya jika sikap, komunikasi keluarga, dan lingkungan sosial semakin buruk, maka perilaku seksual remaja juga semakin buruk.
Berdasarkan nilai koefisien regresi, diketahui bahwa variabel lingkungan sosial merupakan variabel yang paling dominan memengaruhi perilaku seksual remaja di SMU Negeri 1 Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang, dengan nilai koefisien regresi (nilai B) = 0.507
89 5.3. Pengaruh Pengetahuan terhadap Perilaku Seksual Remaja
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada umumnya remaja sudah mengetahui tentang perilaku seksual dan pengetahuan tentang akibat dari hubungan seksual di usia remaja tanpa adanya ikatan pernikahan. Meski telah memiliki pengetahuan yang baik, namun jumlah remaja yang memiliki perilaku seksual yang tidak baik masih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan sebagian besar remaja mengatakan bahwa kehamilan yang tidak diinginkan (56,5%) merupakan salah satu risiko yang dihadapi remaja akibat perilaku seks bebas. Dari hasil jawaban remaja juga diketahui bahwa putus sekolah karena hamil (47,8%) merupakan dampak sosial yang timbul akibat melakukan hubungan seksual terutama bagi remaja putri.
Selain itu, dampak fisik yang timbul akibat hubungan seks pranikah adalah depresi (37,7%).
Sebagian dari perilaku seksual memang tidak berdampak apa-apa, terutama jika tidak ada akibat fisik atau sosial yang ditimbulkan. Tetapi pada sebagian perilaku seksual yang lain berpeluang besar memungkinkan masuknya sperma kedalam vagina, perilaku seksual tersebut dampaknya bisa cukup serius. Berkaitan dengan dampak akibat perilaku seksual diusia remaja, Sarwono (2010), menjelaskan bahwa perilaku seksual pranikah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada remaja, di antaranya: 1) Dampak psikologis seperti perasaan marah, takut, cemas, depresi,
rendah diri, bersalah dan berdosa; 2) Dampak fisik diantaranya dapat menimbulkan kehamilan tidak dikehendaki (KTD) dan aborsi, berkembangnya Penyakit Menular Seksual (PMS) di kalangan remaja dimana PMS dapat menyebabkan kemandulan dan rasa sakit kronis; dan 3) Dampak sosial yaitu dikucilkan, putus sekolah pada remaja perempuan yang hamil, dan perubahan peran menjadi ibu, belum lagi tekanan dari masyarakat yang mencela dan menolak keadaan tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kurangnya informasi tentang perilaku seksual yang diperoleh remaja menyebabkan remaja memiliki anggapan bahwa seks merupakan bagian dari cinta (56,5%), dan sebagian besar remaja beranggapan bahwa pendidikan seks sebaiknya diberikan sejak remaja (55,1%). Pada masa remaja, informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan supaya remaja tidak mendapatkan informasi yang salah dari sumber-sumber yang tidak jelas. Pemberian informasi masalah seksual menjadi penting terlebih lagi mengingat remaja berada dalam potensi seksual yang aktif, karena berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormon dan tidak cukupnya informasi mengenai aktifitas seksual mereka sendiri.Tentu saja hal tersebut akan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa remaja bila tidak didukung dengan pengetahuan dan informasi yang tepat (Glevinno, 2008).
Pada umumnya semakin baik tingkat pengetahuan seseorang biasanya akan memiliki perilaku seksualitas yang sehat, begitu pula sebaliknya karena pengetahuan yang dimiliki seseorang akan membentuk kepribadian dan berdampak pada perilaku yang dilakukan sehari-harinya. Tetapi tidak semua remaja yang memiliki
pengetahuan tentang perilaku seksual yang baik tidak pernah melakukan perilaku seksual. Hal ini bisa terjadi karena dari informasi yang didapatkan, remaja sebagian besar memperoleh informasi dari internet. Informasi yang salah tentang seksual mudah sekali didapatkan oleh remaja dan segala hal yang bersifat pornografis akan menguasai pikiran remaja yang kurang kuat dalam menahan pikiran emosinya.
Pengetahuan yang hanya setengah-setengah tidak hanya mendorong remaja untuk mencoba- coba, tetapi juga bisa menimbulkan salah persepsi, oleh karena itu perlu adanya upaya dari pihak sekolah yaitu dengan memberikan penyuluhan disertai kesempatan berkonsultasi dengan guru, konsultan psikolog di sekolah, atau guru agama.
Hasil analisis chi square diperoleh p-value = 0,092 (p-value > α (0,05)), maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan secara signifikan antara pengetahuan dengan perilaku seksual remaja. Meskipun secara statistik tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku seksual, namun berdasarkan nilai Prevalence Ratio (PR) diperoleh nilai PR sebesar 1,311 (95% CI = 0,866-3,169),
artinya bahwa remaja yang memiliki pengetahuan tidak baik berpeluang 1,311 kali berperilaku seksual tidak baik daripada remaja yang memiliki pengetahuan baik.
Tidak adanya pengaruh yang signifikan antara pengetahuan terhadap perilaku seksual remaja dikarenakan ketidaktahuan atau kurangnya pengetahuan remaja terhadap apa yang dinamakan cinta dan kasih. Seringkali para remaja beranggapan bahwa perilaku seksual remaja adalah pembuktian daripada cinta dan kasih, namun
seringkali mereka mengabaikan berbagai hal negatif yang timbul dari perbuatan itu, misalnya kehamilan pada pihak wanita, dan timbulnya penyakit menular.
Hasil penelitian Suryoputro dkk, (2006) tentang faktor-faktor yang memengaruhi perilaku seksual remaja di Jawa Tengah, diperoleh bahwa faktor yang memengaruhi perilaku seksual remaja adalah faktor internal (sikap terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi) dan faktor eksternal (kontak dengan sumber-sumber informasi, keluarga, sosial-budaya, nilai dan norma sebagai pendukung sosial untuk perilaku tertentu). Sementara dari hasil tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan (faktor internal) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku seksual remaja. Hasil yang sama juga diperoleh Media Indonesia dalam Darmasih (2011), menggunakan sebanyak 450 sampel berusia 14-24 tahun, diketahui bahwa sebesar 64% remaja mengakui secara sadar bahwa melakukan hubungan seks sebelum menikah melanggar nilai dan moral agama. Sedangkan 31% menyatakan bahwa melakukan hubungan seks sebelum menikah adalah biasa atau sudah wajar dilakukan tidak melanggar nilai dan moral agama.
Pangkahila dalam Soetjiningsih, (2006), menjelaskan bahwa pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis. Matangnya fungsi-fungsi seksual maka timbul pula dorongan-dorongan dan keinginan-keinginan untuk pemuasan seksual. Sebagian besar dari remaja biasanya sudah mengembangkan perilaku seksualnya dengan lawan jenis dalam bentuk pacaran atau percintaan. Bila ada kesempatan para remaja melakukan sentuhan fisik, mengadakan pertemuan untuk
bercumbu bahkan kadang-kadang remaja tersebut mencari kesempatan untuk melakukan hubungan seksual.