• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Pemukiman

Dalam dokumen TESIS. Oleh VERONIKA SEMBIRING /IKM (Halaman 92-101)

3.7. Metode Analisis Data

4.1.4. Pola Pemukiman

Perhatian penduduk terhadap kebutuhan-kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan papan cukup penting, rumah merupakan salah satu sarana yang tampak menonjol dalam kehidupan masyarakat, bukan saja berfungsi sebagai tempat berlindung untuk keluarga tetapi terkadang dimanfaatkan juga untuk menjadi daya tarik wisatawan. Oleh karena itu sebagian perumahan penduduk disesuaikan dengan kebutuhan pariwisata, yaitu berupa penginapan-penginapan seperti villa, dan losmen dengan kamar-kamar khsusus yang berukuran antara 2 x 2 meter sampai dengan 4 x 5 meter. Ada juga rumah yang sekaligus dipergunakan sebagai tempat berjualan atau rumah makan.

Pada garis besarnya ada tiga model rumah penduduk Desa Bandar Baru yaitu permanen, semi permanen, dan kayu / papan. Pada umumnya masyarakat yang tinggal di desa Bandar Baru bermukim di pinggiran-pinggiran jalan-jalan raya yang mudah diakses transportasinya. Selain karena kemudahan sarana transportasi masyarakat juga banyak yang bermata pencaharian sebagai pedagang. Hal ini juga mempermudah para pedagang untuk memasarkan barang dagangannya, desa Bandar Baru juga merupakan wilayah yang strategis kerena merupakan jalur yang dilalui transportasi antar kota dan antar provinsi, sehingga sangat cocok untuk menjalankan usaha.

4.2. Analisis Univariat 4.2.1. Pengetahuan

Gambaran pengetahuan responden dapat dijelaskan berdasarkan indikator-indikator pertanyaan, seperti yang terlihat lihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang Perilaku Seksual Remaja Berdasarkan Jawaban untuk Setiap Indikator Pertanyaan

Pertanyaan tentang Perilaku Seks Remaja Frekuensi Persentase Pengertian perilaku seksual.

Melakukan perilaku seksual diusia remaja.

Hubungan seksual setelah menikah

Periaku seksual yang dilakukan dengan adanya ikatan pernikahan

Penyebab remaja melakukan perilaku seksual sebelum menikah.

Pergaulan bebas

Umur ideal untuk melakukan seks bebas Karena sudah menstruasi/mimpi basah

51 Cara seseorang mengghindari seks di luar nikah.

Berteman dengan siapa saja Melakukan pergaulan bebas

Meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi

8 Risiko yang dihadapi remaja akibat perilaku seks bebas.

Cemas Penyebab terjadinya perilaku seksual dikalangan remaja.

Pengaruh lingkungan pergaulan

Perbedaan jenis kelamin pria dan wanita Modernisasi yang bersifat positif

45 Dampak sosial yang timbul akibat melakukan hubungan seksual

terutama bagi remaja putri.

Putus sekolah karena hamil Perasaan takut

Senang memiliki peran menjadi seorang ibu/ayah

33 Alasan remaja mau melakukan hubungan seksual.

Mengangap seks merupakan bagian dari cinta Menghilangkan stress

Seks pranikah merupakan suatu hal yang wajar

39 Dampak fisik yang timbul akibat hubungan seks pranikah.

Merasa berdosa

Penyakit menular seksual (PMS) Depresi

Tabel 4.1. (Lanjutan)

Pertanyaan tentang Perilaku Seks Remaja Frekuensi Persentase Pendidikan seks sebaiknya diberikan sejak:

Anak-anak

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar responden mengatakan bahwa melakukan perilaku seksual diusia remaja (66,7%) merupakan pengertian dari perilaku seksual. Responden mengatakan bahwa penyebab remaja melakukan perilaku seksual sebelum menikah adalah karena pergaulan bebas (73,9%), dan upaya yang dapat dilakukan untuk mengghindari seks diluar nikah adalah dengan meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi (73,9%). Hasil penelitian juga menunjukkan sebagian besar responden mengatakan bahwa kehamilan yang tidak diinginkan (56,5%) merupakan salah satu risiko yang dihadapi remaja akibat perilaku seks bebas.

Dari hasil jawaban responden juga juga diketahui bahwa putus sekolah karena hamil (47,8%) merupakan dampak sosial yang timbul akibat melakukan hubungan seksual terutama bagi remaja putri. Selain itu, alasan remaja mau melakukan hubungan seksual adalah karena mereka mengangap seks merupakan bagian dari cinta (56,5%), dan dampak fisik yang timbul akibat hubungan seks pranikah adalah depresi (37,7%), serta sebagian besar responden beranggapan bahwa pendidikan seks sebaiknya diberikan sejak remaja (55,1%).

Distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang perilaku seksual pada remaja dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden tentang Perilaku Seksual pada Remaja

Pengetahuan Frekuensi Persentase

Baik 38 55,1

Tidak Baik 31 44,9

Total 69 100,0

Dari hasil penelitian diketahui bahwa pada umumnya (55,1%) responden memiliki pengetahuan kurang tentang perilaku seksual. Responden yang memiliki pengetahuan tidak baik sebesar 44,9%.

4.2.2. Sikap

Gambaran sikap responden dapat dijelaskan berdasarkan indikator-indikator pernyataan, seperti yang terlihat lihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Sikap Responden terhadap Perilaku Seksual Berdasarkan Jawaban untuk Setiap Indikator Pernyataan

Pernyataan

Jawaban

SS S TS STS

f % f % f % f %

Hal yang perlu dihindari remaja jika sedang berpacaran adalah menyentuh daerah yang mudah terangsang (alat kelamin, bokong, paha, buah dada, leher, dan mulut).

35 50.7 26 37.7 1 1.4 7 10.1

Remaja melakukan ciuman, meraba daerah sensitif dan bercumbu dalam berpacaran adalah hal tidak wajar.

33 47.8 26 37.7 6 8.7 4 5.8

Remaja yang berpacaran hanya bisa melakukan aktivitas pegangan tangan, ngobrol, dan berciuman pipi.

13 18.8 38 55.1 10 14.5 8 11.6

Remaja yang hamil diluar nikah sebaiknya tidak dimarahi atau dijadikan objek kekerasan orangtua.

5 7.2 25 36.2 17 24.6 22 31.9

Seks tidak boleh dilakukan remaja sebagai ekspresi cinta yang tulus untuk pacarnya.

42 60.9 19 27.5 2 2.9 6 8.7

`Tabel 4.3. (Lanjutan)

Pernyataan

Jawaban

SS S TS STS

f % f % f % f %

Remaja harus menjaga keperjakaan/

keperawanannya sampai menikah.

56 81.2 10 14.5 1 1.4 2 2.9

Seseorang boleh berhubungan seks jika orang tersebut dan pasangannya telah resmi menikah.

52 75.4 14 20.3 2 2.9 1 1.4

Seseorang yang melakukan hubungan seks di luar nikah adalah orang yang telah berbuat suatu kesalahan melanggar norma-norma di masyarakat.

28 40.6 29 42.0 5 7.2 7 10.1

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa responden yang menjawab setuju dan sangat setuju lebih banyak daripada responden yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju. Meskipun ada beberapa responden yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju, namun jumlahnya hanya sebagian kecil. Beberapa indikator pernyataan yang sebagian besar dijawab sangat setuju oleh responden adalah sikap untuk menghindari menyentuh daerah yang mudah terangsang (alat kelamin, bokong, paha, buah dada, leher, dan mulut) pada saat berpacaran (50,7%), sikap responden terhadap melakukan ciuman, meraba daerah sensitif dan bercumbu dalam berpacaran adalah hal tidak wajar (47,8%), dan sikap responden terhadap perilaku seks yang tidak boleh dilakukan remaja sebagai ekspresi cinta yang tulus untuk pacarnya (60,9%).

Dari hasil juga diketahui jawaban responden yang sebagian besar menjawab sangat setuju, yaitu sikap responden terhadap remaja yang harus menjaga keperjakaan/ keperawanannya sampai menikah (81,2%), sikap terhadap seseorang

yang boleh berhubungan seks jika orang tersebut dan pasangannya telah resmi menikah (75,4%), dan sikap terhadap seseorang yang melakukan hubungan seks di luar nikah adalah orang yang telah berbuat suatu kesalahan melanggar norma-norma di masyarakat (40,6%).

Distribusi frekuensi sikap responden tentang perilaku seksual pada remaja dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Sikap Responden terhadap Pencegahan Perilaku Seksual Remaja

Sikap Frekuensi Persentase

Baik 59 85,5

Tidak Baik 10 14,5

Total 69 100,0

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada umumnya (85,5%) responden memiliki sikap baik terhadap perilaku seksual, artinya bahwa mayoritas responden tidak setuju terhadap remaja yang melakukan perilaku seksual. Dari hasil juga diketahui bahwa sebesar 14,5% responden memiliki sikap tidak baik. Sikap tidak baik menunjukkan bahwa responden cenderung mendukung remaja yang memiliki perilaku seksual yang buruk.

4.2.3. Lingkungan Sosial

Gambaran lingkungan sosial responden juga dapat dijelaskan berdasarkan setiap indikator pertanyaan, seperti yang terlihat lihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Lingkungan Sosial Berdasarkan Hasil Jawaban Responden untuk Setiap Indikator Pertanyaan

Pertanyaan

Jawaban Ya Tidak

f % f %

Lingkungan saya merupakan daerah atau tempat prostitusi. 60 87.0 9 13.0 Saya melihat PSK berkeliaran di lingkungan saya. 42 60.9 27 39.1 Saya pernah melihat PSK sedang berkomunikasi dengan pelangganya. 34 49.3 35 50.7 Saya terpengaruh untuk melakukan perilaku seksual berat (bercumbu,

petting, hubungan seksual) dengan pacar saya, karena lingkungan saya daerah perostitusi.

13 18.8 56 81.2

Saya melakukan hubungan seksual dengan pacar saya, kerena ingin mencoba apa yang ada lingkungan saya.

7 10.1 62 89.9

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebesar 87,% responden tinggal di Desa Bandar Baru, sehingga responden menjawab bahwa lingkungannya merupakan daerah atau tempat prostitusi. Dari hasil juga diketahui bahwa sebanyak 49,3% responden yang mengatakan pernah melihat PSK yang sedang berkomunikasi dengan pelangganya, sehingga 18,8% responen mengatakan terpengaruh untuk melakukan perilaku seksual berat dengan pacar saya karena lingkungan saya daerah prostitusi, dan sebanyak 10,1% responden mengatakan ingin melakukan hubungan seksual dengan pacarnya, kerena ingin mencoba apa yang ada lingkungannya.

Distribusi frekuensi lingkungan sosial tempat terjadinya interaksi antara responden dan lingkungannya dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6. Distribusi Frekuensi Lingkungan Sosial Tempat Terjadinya Interaksi antara Responden dan Lingkungannya

Lingkungan Sosial Frekuensi Persentase

Baik 30 43,5

Tidak Baik 39 56,5

Total 69 100.0

Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, diketahui bahwa lebih dari separuh (56,5%) responden merasa bahwa perilaku seksual yang tidak baik dapat dilihat di lingkungan mereka.

4.2.4. Komunikasi Keluarga

Gambaran komunikasi keluarga, yaitu interaksi antara orangtua dan anak dapat dijelaskan dari hasil jawaban responden untuk setiap indikator pertanyaan, seperti yang terlihat lihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7. Distribusi Frekuensi Komunikasi Keluarga Berdasarkan Hasil Jawaban Responden untuk Setiap Indikator Pertanyaan

Pernyataan

Jawaban

SS S J TP

f % f % f % f %

Saya menceritakan semua masalah saya pada orangtua saya.

27 39.1 16 23.2 22 31.9 4 5.8

Apa yang ingin saya ketahui tentang seks, saya mengungkapkannya kepada orangtua saya.

8 11.6 11 15.9 22 31.9 28 40.6

Saya bertanya kepada orangtua “mengapa tubuh saya berubah ketika menginjak masa remaja ini”.

8 11.6 24 34.8 17 24.6 20 29.0

Orangtua saya membicarakan masalah seks dengan saya.

7 10.1 17 24.6 17 24.6 28 40.6

Saya mengungkapkan kepada orangtua ketika mengalami menstruasi atau mimpi basah pertama kali.

13 18.8 13 18.8 17 24.6 26 37.7

Orangtua saya mau mendengarkan apa pendapat saya mengenai suatu masalah.

24 34.8 30 43.5 8 11.6 7 10.1

Orang tua saya mau menyetujui tentang ide-ide yang saya ungkapkan.

18 26.1 23 33.3 19 27.5 9 13.0

Orangtua saya selalu menjawab pertanyaan saya seputar masalah seks.

10 14.5 11 15.9 23 33.3 25 36.2

Orangtua saya siap mendengarkan masalah apa yang sedang saya alami.

29 42.0 29 42.0 6 8.7 5 7.2

Orangtua saya mengungkapkan tanggapan mereka tentang pacar saya

17 24.6 19 27.5 17 24.6 16 23.2

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa meskipun sebagian besar responden menjawab sering dan sangat sering pada beberapa pertanyaan, namun masih banyak juga responden yang menjawab jarang dan tidak pernah. Sebanyak 39,1% mengatakan sangat sering menceritakan semua masalah kepada orangtua, namun 40,6% mengatakan tidak pernah mengungkapan kepada orang tua tentang seks. Sebanyak 34,8% responden sering bertanya kepada orangtua tentang perubahan tubuhnya ketika menginjak masa remaja, dan hanya 24,6% mengatakan bahwa orangtua sering membicarakan masalah seks.

Masalah menstruasi atau mimpi basah pertama kali, sebagian besar (37,7%) responden tidak pernah mengetakannya kepada orangtua, namun pada prinsipnya orang tua sering mau mendengarkan apa pendapat responden mengenai suatu masalah (43,5%), dan orang tua sering menyetujui tentang ide-ide yang diungkapkan (33,3%).

Dari hasil juga diketahui bahwa 36,2% responden mengatakan bahwa orangtua tidak pernah menjawab pertanyaan seputar masalah seks, meskipun sebesar 42,0%

responden mengatakan bahwa orangtua sangat sering mendengarkan masalah apa yang sedang dialami.

Distribusi frekuensi komunikasi keluarga dalam hal masalah-masalah remaja dapat dilihat pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8. Distribusi Frekuensi Komunikasi Keluarga dalam Hal Masalah-Masalah Remaja

Komunikasi Keluarga Frekuensi Persentase

Baik 25 36,2

Tidak Baik 44 63,8

Total 69 100,0

Dari hasil penelitian diketahui bahwa interaksi antara orangtua dan anak di dalam keluarga tergolong tidak baik (63,8%).

Dalam dokumen TESIS. Oleh VERONIKA SEMBIRING /IKM (Halaman 92-101)

Dokumen terkait