• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.8 Pengujian Aktivitas Antioksidan dengan Spektrofotometer UV-Visibel

3.8.5 Pembuatan larutan uji

3.8.5.4 Analisis nilai IC50

Nilai aktivitas peredaman radikal bebas yang dinyatakan dengan nilai IC50

(inhibitory concentration) didefinisikan sebagai besarnya konsentrasi senyawa uji yang dapat meredam radikal bebas sebanyak 50%. Semakin kecil nilai IC50 maka aktivitas peredaman radikal bebas semakin tinggi. Prinsip kerja dari pengukuran ini adalah adanya radikal bebas stabil yaitu DPPH yang dicampurkan dengan senyawa antioksidan yang memiliki kemampuan mendonorkan hidrogen, sehingga radikal bebas dapat diredam. Koefisien y pada persamaan ini adalah sebagai IC50, sedangkan koefisien x adalah konsentrasi dari ekstrak yang akan dicari nilainya, dimana nilai dari x yang didapat merupakan besarnya konsentrasi yang diperlukan untuk dapat meredam 50% aktivitas radikal DPPH (Al Ridho

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Karakterisasi Simplisia 4.1.1 Hasil pemeriksaan makroskopik

Hasil pemeriksaan makroskopik simplisia buah kemloko menunjukkan buah kemloko berbentuk bulat dengan diameter kira-kira 2 cm. Berwarna kuning kehijauan, berbau khas dan berasa masam (kecut) agak getir. Gambar makroskopik simplisia buah kemlokodapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 48.

4.1.2 Hasil pemeriksaan mikroskopik

Hasil pemeriksaan makroskopik simplisia buah kemloko menunjukkan terdapat jaringan parenkim, tetes minyak, jaringan gabus dan serat. Hasil mikroskopik dapat dilihat pada Lampiran 5 halaman 50.

4.1.3 Hasil karakterisasi simplisia buah kemloko

Hasil karakteristik simplisia buah kemloko dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 6 halaman 51.

Tabel 4.1 Hasil karakteristik simplisia buah kemloko (Phylanthus emblica L.)

No Pengujian Hasil Pemeriksaan (%)

1 Kadar air 8,0

2 Kadar sari larut air 23,33

3 Kadar sari larut etanol 30

4 Kadar abu total 6,66

5 Kadar abu tidak larut asam 3,33

Tabel 4.1 menunjukkan kadar air simplisia buah kemloko sebesar 8%

untukmenjaga kualitas ekstrakyaitu untukmenghindari pertumbuhan jamur dalam ekstrak (Angelina dkk., 2015).

Penetapan kadar sari larut air menyatakan jumlah zat yang tersari larut dalam air yaitu glikosida, gula, gom, protein, enzim, zat warna dan asam organik.

Penetapan kadar sari larut etanol menyatakan jumlah zat yang tersari dalam pelarut etanol seperti glikosida, antrakuinon, steroida, flavonoida, saponin dan tanin (Depkes RI, 1995). Hasil uji ini menunjukkan kadar senyawa dalam ekstrak lebih banyak terlarut dalam etanol dibandingkan dalam air. Hal ini disebabkan pelarut yang digunakan pada proses ekstraksi menggunakan pelarut organik yaitu etanol sehingga senyawa-senyawa yang tersari atau terserap lebih besar senyawa organik dibanding dengan senyawa anorganik (Angelina dkk., 2015).

Penentuan kadar abu bertujuan untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak.Prinsipnyaekstrak dipanaskan hingga senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap sampai hanya unsur mineral dan anorganik sajayang tersisa (Angelina dkk., 2015).

Besarnya kadar abu total dalam ekstrak menunjukkan bahwa ekstrak yang diperoleh mengandung mineral. Sedangkan adanya kadar abu yang tidak larut dalam asam menunjukkan adanya pasir atau pengotor lainnya yang masih ada (Angelina dkk., 2015).

4.1.4 Hasil skrining fitokimia

Uji skrining fitokimia dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung di dalam simplisia dan ekstrak buah kemloko. Hasil skrining fitokimia dapat dilihat pada Tabel 4.2 di bawah ini :

Tabel 4.2 Hasil skrining fitokimia simplisia dan ekstrak buah kemloko (Phylanthus emblica L.)

No Golongan Senyawa Kimia

Simplisia Ekstrak Keterangan

1 Alkaloid + +

Keterangan : (+) = Mengandung senyawa

Hasil di atas menunjukkan simplisia dan ekstrak buah kemloko (Phylanthus emblica L.) mengandung golongan senyawa kimia yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid/triterpenoid dan glikosida.

Suatu jenis tumbuhan dapat memiliki aktivitas antioksidan jika mengandung senyawa yang mampu menangkal radikal bebas seperti fenol, flavonoid, vitamin c dan E, katekin, karoten dan resveratrol (Saefudin dkk., 2013). Buah kemloko mengandung senyawa-senyawa fenolat, seperti geraniin, quercetin 3-β-D-glukopiranosida, kaempferol 3-β-D-glukosapiranosida, isokorilagin, quercetin, dan kaempferol. Selain itu, tanaman ini juga mengandung senyawa asam galat, asam ellagat, 1-O-galloyl-beta-D-glukosa, asam-3-etilgalat dan corilagin.

Senyawa apeganin dan asam askorbat juga pernah ditemukan dalam tanaman kemloko. Gugus hidroksil yang bersifat asam pada senyawa-senyawa fenolat

tersebut diduga sangat berperan dalam reaksi oksidasi-reduksi yang terjadi di dalam tubuh (Suzery dkk., 2017).

4.2 Hasil Identifikasi Tumbuhan

Hasil identifikasi tumbuhan dari Herbarium Medanense (MEDA) Universitas Sumatera Utara, diketahui bahwa sampel yang diteliti adalah buah kemloko (Phylanthus emblica L.) famili phyllanthaceae. Hasil identifikasi buah kemloko dapat dilihat pada Lampiran 1 halaman 46.

4.3 Hasil Ekstraksi Buah Kemloko

Hasil ekstraksi dari 600 g simplisia buah kemloko dengan menggunakan pelarut etanol 96% sebanyak 21 L, kemudian diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40-50C sampai diperoleh ekstrak kental sebanyak 309,5 g. Gambar ekstrak dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 48.

4.4 Hasil Analisis Aktivitas Antioksidan

Hasil uji aktivitas antioksidan EEBK dengan metode pemerangkapan 1.1-diphenyl-2-picrylhidrazyl (DPPH) secara spektrofotometri UV- Visibel.

4.4.1 Hasil penentuan panjang gelombang serapan maksimum

Hasil pengukuran serapan maksimum larutan DPPH 40 µg/mL dalam metanol dengan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa DPPH dalam metanol menghasilkan serapan maksimum pada panjang gelombang 515,5 nm yang telah memenuhi syarat interval panjang gelombang DPPH, dimana biasanya absorbansi DPPH dapat terukur pada panjang gelombang 515-520 nm (Marxen dkk., 2007), dan hasil pengukuran tersebut memenuhi kisaran panjang gelombang sinar tampak (400-800 nm), dimana warna yang diserap adalah warna ungu yang akan memberikan serapan pada panjang

gelombang antara 500-560 nm (Skoog dkk., 2006). Data hasil pengukuran serapan maksimum dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Kurva serapan maksimum larutan DPPH 40 µg/mL dalam metanol menggunakan spektrofotometer UV-Visibel

4.4.2 Hasil penentuan operating time

Operating time adalah waktu yang tepat untuk pembacaan serapan larutan yang diperiksa pada saat serapannya stabil pada kurva operating time. Sampel yang digunakan adalah yang berwarna sehingga dapat diketahui pada menit keberapa terjadi kestabilan (Prastiwati dkk., 2010). Lama pengukuran metode DPPH menurut beberapa literatur yang direkomendasikan selama 60 menit (Marinova dan Batchvarov, 2011). Hasil pengukuran diperoleh operating time pada menit ke-10, namun data tersebut tidak sesuai dengan literatur. Menurut Rosidah dkk. (2008), pengukuran dilakukan setelah masing-masing sampel yang telah ditambahkan DPPH lalu didiamkan selama 60 menit pada suhu ruangan. Jadi sampel tetap didiamkan sesuai dengan literatur yaitu 60 menit.

4.4.3 Hasil analisis aktivitas antioksidan sampel uji

Aktivitas antioksidan ekstrak etanol buah kemloko (EEBK) diperoleh hasil pengukuran absorbansi DPPH pada menit ke-60 dengan adanya penambahan larutanuji dengan konsentrasi 0,5 µg/mL; 1 µg/mL; 1,5 µg/mL dan 2 µg/mLyangdibandingkan dengan kontrol DPPH tanpa larutan uji. Penurunan absorbansi DPPH dan persen peredaman EEBK dan vitamin c dapat dilihat pada Lampiran 8 halaman 55.

Penurunan nilai absorbansi terjadi karena larutan uji memerangkap DPPH dan pemerangkapan terjadi karena adanya senyawa yang bereaksi sebagai penangkap radikal yang akan mereduksi DPPH membentuk DPPH-H yang tereduksi. Reaksi ini diamati dengan adanya perubahan warna DPPH dari ungu menjadi kuning ketika elektron ganjil dari radikal DPPH telah berpasangan dengan hidrogen dari senyawa penangkap radikal bebas. Keberadaan antioksidan dalam ekstrak tumbuhan akan menetralisasi radikal DPPH dengan menyumbangkan elektron kepada DPPH, menghasilkan perubahan warna dari ungu menjadi kuning atau intensitas warna ungu larutan jadi berkurang (Molyneux, 2004). Penghilangan warna akan sebanding dengan jumlah elektron yang diambil oleh DPPH sehingga dapat diukur secara spektrofotometri (Garcia dkk., 2012).

Hubungan antara konsentrasi dengan persentase perendaman radikal bebas DPPH oleh EEBK dapat dilihat pada Gambar 4.2 dan untuk vitamin c dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.2 Grafik hasil uji aktivitas antioksidan EEBK

Gambar 4.3 Grafik hasil uji aktivitas antioksidan vitamin c 4.4.4 Hasil analisis nilai IC50 (inhibitory concentration)

Nilai IC50diperoleh berdasarkan perhitungan persamaan regresi dengan cara memplot konsentrasi larutan uji dan persen peredaman DPPH sebagai parameter aktivitas antioksidan, konsentrasi sampel (µg/mL) sebagai absis (sumbu X) dan nilai % inhibisi sebagai ordinat (sumbu Y). Hasil persamaan regresi linier dan hasil analisisnilai IC50yang diperoleh dari sampel ujidan vitamin c dapat dilihat padaTabel 4.3 dan Tabel 4.4.

Konsentrasi (µg/mL)

Konsentrasi (µg/mL)

%Peredaman DPPH%Peredaman DPPH

Tabel 4.3 Hasil persamaan regresi linier dan hasil analisis IC50 yang diperoleh dari ekstrak etanol buah kemloko (EEBK) dan vitamin c

Larutan Uji Persamaan Regresi Koefisien Korelasi IC50 (µg/mL)

EEBK Y = 45,52X - 0,99 0,99807 1,12

Vitamin C Y = 11,25X + 0,04 0,99949 4,44

Tabel 4.4 Kategori nilai IC50 sebagai antioksidan

NO Kategori Konsentrasi (µg/mL)

1. Sangat kuat < 50

2. Kuat 50 – 100

3. Sedang 101 – 150

4. Lemah 151 – 200

(Sumber: Izzati dkk., 2012).

Dari Tabel 4.3 dan 4.4 di atas diketahui bahwa EEBK dan vitamin cmenunjukkan aktivitas antioksidan kategori sangat kuat dengan nilai IC50 EEBK sebesar 1,12 µg/mL, dan vitamin c sebesar 4,44 µg/mL. Menurut Molyneux (2004), menyatakan bahwa suatu zat mempunyai sifat antioksidan bila nilai IC50

kurang dari 200 µg/mL. Antioksidan berperan mencegah terjadinya kerusakan jaringan yang disebabkan radikal bebas dengan cara mengeliminir terbentuknya radikal, meredam atau meningkatkan penguraiannya (Saefudin dkk., 2013).

Kemloko atau amla (Phyllanthus emblica L.) kaya akan vitamin c dan memiliki tannin terhidrolisis dengan berat molekul rendah yang membuat amla menjadi antioksidan yang baik. Tanin dari amla seperti emblicanin-A (37%), emblicanin-B (33%),punigluconin dan pedunculagin dikabarkan memberi perlindungan terhadap radikal bebas termasuk hemolisis eritrosit darah perifer tikus (Dasaroju dan Gottumukkala, 2014).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap buah kemloko (Phyllanthus emblica L.) diperoleh kesimpulan:

a. Karakteristik simplisia buah kemloko diperoleh hasil kadar air yang memenuhi syarat, sedangkan hasil kadar sari larut air 23,33%, kadar sari larut etanol 30%, kadar abu 6,66% dan kadar abu tidak larut asam 3,33%.

b. Hasil skrining serbuk simplisia dan ekstrak menunjukkan hasil positif pada alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tanin, steroid/triterpenoida.

c. Kekuatan antioksidan ekstrak etanol buah kemloko menunjukkan kekuatan dalam kategori sangat kuat dan memiliki kekuatan antioksidan yang lebih kuat jika dibandingkan dengan vitamin c

5.2 Saran

Disarankan pada peneliti selanjutnya untuk melakukan pengujian aktivitas antibakteri dan antikanker pada buah kemloko (Phyllanthus emblica L.)

DAFTAR PUSTAKA

Angelina, M., Amelia, P.,Irsyad, M., Meilawati, L., Hanafi, M. 2015.

KARAKTERISASI EKSTRAK ETANOL HERBA

KATUMPANGANAIR (Peperomia pellucidaL. Kunth). BIOPROPAL INDUSTRI. 6(2): 53-61.

Al Ridho, E., Sari, R., Wahdaningsih, S. 2013. UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK METANOL BUAH LAKUM (Cayratia trifolia) DENGAN METODE DPPH (2,2-DIFENIL-1-PIKRILHIDRAZIL). Program Studi Farmasi Fakultas kedokteran, Universitas Tanjungpura. Halaman 5, 7.

Dachriyanus. 2004. Analisis Struktur Senyawa Organik Secara Spektroskopi.

Lembaga Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LPTIK)Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Halaman 1, 3.

Dasaroju, S. dan Gottumukkala, K. M. 2014. Current Trends in the Research of Emblica officinalis (Amla): A Pharmacological Perspective. Int. J. Pharm.

Sci. Rev. Res. 24(2): 150-159.

Depkes RI. 1995. MATERIA MEDIKA INDONESIA. Jilid Keenam. Jakarta:

Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan.Halaman 300, 302-304, 306, 334, 540, 536.

Ditjen POM Depkes RI. 1979. FARMAKOPE INDONESIA. Edisi Ketiga. Jakarta:

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 31.

Garcia, E. J., Oldoni, T. L. C., Alencar, S. M. D., Reis, A., Loguercio, A. D., Grande, R. H. M. 2012. Antioxidant Activity by DPPH Assay of Potential Solutions to be Applied on Bleached Teeth. Braz Dent J. 23(1): 23.

Izzati, N. N., Diniatik, Rahayu, W.S. 2012. AKTIVITAS ANTIOKSIDANEKSTRAK PERASAN DAUN MANGGIS(Garcinia mangostanaL.)BERDASARKAN METODE DPPH (2,2 Diphenyl-1-phycryl hydrazil). PHARMACY. 9(3): 114.

Khoiriyah, U., Pasaribu, N., Hannum, S. 2015. Distribusi Phyllanthus emblica L.

di Sumatera Utara Bagian Selatan. Biosfera. 32(2): 98 - 99.

Marinova, G., dan Batchvarov, V. 2011. EVALUATION OF THE METHODS FOR DETERMINATION OF THE FREE RADICAL SCAVENGING ACTIVITY BY DPPH. Bulgarian Journal of Agricultural Science. 17(1):

12-24.

Marjoni, M.R. 2016. Dasar-Dasar FITOKIMIA Untuk Diploma III FARMASI.

Cetakan Pertama. Penerbit: Trans Info Media Jakarta. Halaman: 6-10, 12, 13, 16, 20-24, 50, 54, 58, 59.

Marxen, K., Vanselow, K. H., Lippemeier, S., Hintze, R., Ruser, A., Hansen, U.

P. 2007. Determination of DPPH Radical Oxidation Caused by Methanolic Extracts of Some Microalgal Species by Linear Regression Analysis of Spectrophotometric Measurements. Sensors 2007. 7: 2082.

Molyneux, P. 2004. The use of the stable free radical diphenylpicryl-hydrazyl (DPPH) for estimating antioxidant activity. Songklanakarin Journal Science Technology. 26(2): 211-219.

Prastiwati, R., Rahayu, W. S., Hartanti, D. 2010. PERBANDINGAN DAYA ANTIOKSIDAN EKSTRAK METANOL DAUN TEMBAKAU (Nicotiana tabacum L.) DENGAN RUTIN TERHADAP RADIKAL BEBAS 1,1-DIPHENIL-2-PIKRILHIDRAZIL (DPPH). PHARMACY. 7(1): 5.

Ramadhan, P. 2015. Mengenal ANTIOKSIDAN. Cetakan Pertama. GRAHA ILMU Yogyakarta. Halaman 1, 2, 17, 20, 21.

Rosidah, Yam, M. F., Sadikun, A., Asmawi, M. Z. 2008. Antioxidant Potential of Gynura procumbens.Pharmaceutical Biology. 46(9): 616-625.

Saefudin, Marusin, S., Chairul. 2013. AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA ENAM JENISTUMBUHANSTERCULIACEAE. JURNAL Penelitian Hasil Hutan. 31(2): 103-109.

Sapri, Pebrianti, R., Faizal, M. 2013. UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN

EKSTRAK METANOL TUMBUHAN SINGGAH PEREMPUAN

(Loranthus sp) DENGAN METODE DPPH (2,2-Difenil-1-Pikrilhidrazil).

Prosiding Seminar Nasional Kimia. Halaman 203-210.

Skoog, D. A., Holler, F. J., Crouch, S. R. 2006. Principles of Instrumental Analysis. Edisi Keenam. USA: Thomson Brooks/ Cole. Halaman 1041.

Suzery, M., Isnaning, C.A., Cahyono, B. 2017. POTENSI EKSTRAK DAN FRAKSI BUAH KEMLOKO (Phyllanthus emblica L.) SEBAGAI SUMBER ANTIOKSIDAN. Laboratorium Kimia Organik, Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro. Halaman 167-177.

Triyati, E. 1985. SPEKTROFOTOMETER ULTRA-VIOLET DAN SINAR TAMPAK SERTA APLIKASINYA DALAM OSEANOLOGI. Pusat Penelitian Ekologi Laut, Lembaga Oseanologi Nasional – LIPI Oseana.

10(1): 39-47.

WHO. 1992. Quality control methods for medical plant materials World Health Organization. Switzerland: Geneva. Halaman 36-37.

Lampiran 1.Hasil identifikasi tumbuhan

Lampiran 2. Bagan kerja penelitian

Buah Kemloko (18 kg)

Dicuci dari pengotor sampai bersih, ditiriskan, dan ditimbang sebagai berat basah (16,029 kg) kemudian dirajang (berat setelah perajangan : 11,379 kg)

Dikeringkan dalam lemari pengering

Karakterisasi Skrining

Lampiran 3. Buah kemloko, simplisia buah kemloko, ekstrak etanol buah kemloko

Gambar 1 : Buah kemloko

Gambar 2 : Simplisia buah kemloko

Gambar 3 : Ekstrak etanol buah kemloko

Lampiran 4. Alat-alat penelitian

Gambar 4 : Spektrofotometer UV-Visibel

Lampiran 5. Hasil uji mikroskopik simplisia buah kemloko

Gambar 5 : Mikroskopik simplisia buah kemloko

Keterangan: (a) Jaringan parenkim; (b) Tetes minyak; (c) Jaringan gabus;

(d) Serat

Lampiran 6. Hasil perhitungan karakterisasi simplisia buah kemloko 6.1 Penetapan kadar air

Kadar air = Volume air (mL)

6.2 Penetapan kadar sari larut etanol

Kadar sari larut air = Berat sari air (g) Berat sampel (g) x 100

Lampiran 6. (Lanjutan)

6.3 Penetapan kadar sari larut air

Kadar sari larut etanol = Berat sari etanol (g) Berat sampel (g) x 100

6.4 Penetapan kadar abu total Kadar abu total = Berat abu (g)

Lampiran 6. (Lanjutan)

Kadar abu total = 0,1

2 x 100% = 5%

3. Berat sampel = 2 g

Berat abu = 0,2 g

Kadar abu total = 0,2

2 x 100% = 10%

Kadar abu total rata-rata = 5 + 5 + 10

3 = 6,66%

6.5 Penetapan kadar abu tidak larut asam

Kadar abu tidak larut asam = Berat abu (g)

Berat sampel (g) x 100%

1. Berat sampel = 2 g

Berat abu = 0,05 g

Kadar abu tidak larut asam = 0,05

2 x 100% = 2,5%

2. Berat sampel = 2 g

Berat abu = 0,05 g

Kadar abu tidak larut asam = 0,05

2 x 100% = 2,5%

3. Berat sampel = 2 g

Berat abu = 0,1 g

Kadar abu tidak larut asam = 0,1

2 x 100% = 5%

Kadar abu tidak larut asam rata-rata = 2,5 + 2,5 + 5

3 = 3,33%

Lampiran 7. Hasil operating time

Lampiran 8. Hasil uji aktivitas antioksidan a.Tabel hasil uji aktivitas antioksidan EEBK

Larutan Uji

Konsentrasi (µg/mL)

Absorbansi % Peredaman

I II III I II III Rata-rata

EEBK

blanko 0,971 0,971 0,971 0,00 0,00 0,00 0,00 0,5 0,759 0,759 0,759 21,83 21,83 21,83 21,83

1 0,572 0,572 0,572 41,09 41,09 41,09 41,09 1,5 0,291 0,291 0,291 70,03 70,03 70,03 70,03 2 0,100 0,100 0,100 89,70 89,70 89,70 89,70

b. Tabel hasil uji aktivitas antioksidan vitamin c

Larutan Uji

Konsentrasi (µg/mL)

Absorbansi % Peredaman

I II III I II III Rata-rata

Vitamin C

blanko 0,971 0,971 0,971 0,00 0,00 0,00 0,00 2 0,752 0,752 0,752 22,55 22,55 22,55 22,55 4 0,542 0,542 0,542 44,18 44,18 44,18 44,18 6 0,297 0,297 0,297 69,41 69,41 69,41 69,41 8 0,106 0,106 0,106 89,08 89,08 89,08 89,08

Lampiran 9. Perhitungan persen peredaman dan nilai IC50 EEBK

• Perhitungan persen peredaman EEBK 1. Tabel data absorbansi DPPH pengukuran I

NO Konsentrasi Larutan Uji (µg/mL) Absorbansi

1. 0 0,971

2. 0,5 0,759

3. 1 0,572

4. 1,5 0,291

5. 2 0,100

Keterangan : Akontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi sampel

Perhitungan % peredaman EEBK (pengukuran I) - Konsentrasi 0,5 µg/mL

Lampiran 9. (Lanjutan)

% Peredaman = 0,971−0,291

0,971 x 100%

= 70,03%

- Konsentrasi 2 µg/mL

% Peredaman = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

% Peredaman = 0,971−0,100

0,971 x 100%

= 89,70%

2. Tabel data absorbansi DPPH pengukuran II

NO Konsentrasi Larutan Uji (µg/mL) Absorbansi

1. 0 0,971

2. 0,5 0,759

3. 1 0,572

4. 1,5 0,291

5. 2 0,100

Keterangan : Akontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi sampel

Perhitungan % peredaman EEBK (pengukuran II) - Konsentrasi 0,5 µg/mL

% Peredaman = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

% Peredaman = 0,971−0,759

0,971 x 100%

Aktivitas Peredaman(%) = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

Lampiran 9. (Lanjutan)

3. Tabel data absorbansi DPPH pengukuran III

NO Konsentrasi Larutan Uji (µg/mL) Absorbansi

1. 0 0,971

2. 0,5 0,759

3. 1 0,572

4. 1,5 0,291

5. 2 0,100

Keterangan : Akontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Aktivitas Peredaman(%) = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

Lampiran 9. (Lanjutan)

Perhitungan % peredaman EEBK (pengukuran III) - Konsentrasi 0,5 µg/mL

% Peredaman = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

% Peredaman = 0,971−0,759

0,971 x 100%

= 21,83%

- Konsentrasi 1 µg/mL

% Peredaman = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

% Peredaman = 0,971−0,572

0,971 x 100%

= 41,09%

- Konsentrasi 1,5 µg/mL

% Peredaman = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

% Peredaman = 0,971−0,291

0,971 x 100%

= 70,03%

- Konsentrasi 2 µg/mL

% Peredaman = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

% Peredaman = 0,971−0,100

0,971 x 100%

= 89,70%

Lampiran 9. (Lanjutan)

• Perhitungan nilai IC50

Tabel IC50 dari EEBK

Jadi, persamaan garis untuk mendapatkan nilai IC50 adalah Y = 45,52X - 0,99 Nilai IC50 => Y = 45,52X - 0,99

50 = 45,52X - 0,99 X = 1,12 µg/mL

Lampiran 10. Perhitungan persen peredaman dan nilai IC50 vitamin c

• Perhitungan persen peredaman vitamin c 1. Tabel data absorbansi DPPH pengukuran I

NO Konsentrasi Larutan Uji (µg/mL) Absorbansi

1. 0 0,971

2. 2 0,752

3. 4 0,542

4. 6 0,297

5. 8 0,106

Keterangan : Akontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi sampel

Perhitungan % peredaman vitamin c (pengukuran I) - Konsentrasi 2 µg/mL

Lampiran 10. (Lanjutan)

% Peredaman = 0,971−0,297

0,971 x 100%

= 69,41%

- Konsentrasi 8 µg/mL

% Peredaman = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

% Peredaman = 0,971−0,106

0,971 x 100%

= 89,08%

2. Tabel data absorbansi DPPH pengukuran II

NO Konsentrasi Larutan Uji (µg/mL) Absorbansi

1. 0 0,971

2. 2 0,752

3. 4 0,542

4. 6 0,297

5. 8 0,106

Keterangan : Akontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi sampel

Perhitungan % peredaman vitamin c (pengukuran II) - Konsentrasi 2 µg/mL

% Peredaman = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

% Peredaman = 0,971−0,752

0,971 x 100%

Aktivitas Peredaman(%) = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

Lampiran 10. (Lanjutan) - Konsentrasi 4 µg/mL

% Peredaman = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

% Peredaman = 0,971−0,542

0,971 x 100%

= 44,18%

- Konsentrasi 6 µg/mL

% Peredaman = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

% Peredaman = 0,971−0,297

0,971 x 100%

= 69,41%

- Konsentrasi 8 µg/mL

% Peredaman = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

% Peredaman = 0,971−0,106

0,971 x 100%

= 89,08%

3. Tabel data absorbansi DPPH pengukuran III

NO Konsentrasi Larutan Uji (µg/mL) Absorbansi

1. 0 0,971

2. 2 0,752

3. 4 0,542

4. 6 0,297

5. 8 0,106

Aktivitas Peredaman(%) = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

Lampiran 10. (Lanjutan)

Keterangan : Akontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi sampel

Perhitungan % peredaman vitamin c (pengukuran III) - Konsentrasi 2 µg/mL

% Peredaman = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

% Peredaman = 0,971−0,752

0,971 x 100%

= 22,55%

- Konsentrasi 4 µg/mL

% Peredaman = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

% Peredaman = 0,971−0,542

0,971 x 100%

= 44,18%

- Konsentrasi 6 µg/mL

% Peredaman = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

% Peredaman = 0,971−0,297

0,971 x 100%

= 69,41%

- Konsentrasi 8 µg/mL

% Peredaman = Akontrol−Asampel

Akontrol x 100%

% Peredaman = 0,971−0,106

0,971 x 100%

= 89,08%

Lampiran 10. (Lanjutan)

• Perhitungan nilai IC50

Tabel IC50 dari vitamin c

Jadi, persamaan garis untuk mendapatkan nilai IC50 adalah Y = 11,25X + 0,04 Nilai IC50 => Y= 11,25X + 0,04

50 = 11,25X + 0,04 X = 4,44 µg/mL

Dokumen terkait