• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS ONTOLOGI, EPISTIMOLOGI DAN AKSIOLOGI SAINS DAN AGAMA

73

Ayat tersebut menegaskan bahwa, kebenaran Al-Qur‘an sebagai sumber ajaran kebenaran wahyu sebagai petunjuk atas semua hal, mendapat jaminan langsung dari Allah swt, tanpa memiliki keraguan (hahiki). Berdasarkan hal tersebut namun pada faktanya, umat Islam saat ini mengalami kemunduran diberbagai bidang. Hal itu diduga disebabkan tetap eksisnya paradigma tentang dikotomi sains dan Agama.

B. ANALISIS ONTOLOGI, EPISTIMOLOGI DAN AKSIOLOGI

74

sebagai gambaran tentang esensi ilmu. Hal itu sebagaimana disebutkan Susanto,

Pembahasan tentang ontologi sebagai dasar ilmu berusaha untuk menjawab ‗apa‘ yang menurut Aristoteles merupakan the first philoshopy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda.,.... Jadi ontologi adalah the theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Ontologi menyelidiki sifat dasar apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda dimana entitas dari kategori-kategori yang logis yang berlainan (objek-objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakan ada; dalam kerangka tradisional ontologi dianggap teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada, sedangkan dalam hal pemakaiannya akhir-akhir ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada.173

Sedang term sains dapat juga bermakna, ilmu pengetahuan pada umumnya; pengetahuan sistematis tentang alam dan dunia fisik, termasuk di dalamnya botani, fisika, kimia, geologi, zoologi; ilmu pengetahuan alam; pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian dan ujicoba yang megarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dipelajari dan sebagainya.174

Sedangkan dimensi ontologi dalam sains mencakup hakikat- hakikat mengenai objek yang ada dari bidang ilmu apa yang bahas serta bagaimana ilmu tersebut dapat diteliti, dipahami, dijelaskan secara nyata, terlihat, detail, terstruktur, teratur dan terukur. Sumber dari ontologi sains adalah

173 Susanto, Filsafat Ilmu; Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistimologis,dan Aksiologis, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2016), hlm. 91

174 Susanto, Ibid., hlm.

75

kebenaran suatu objek yang diukur dengan alur logika dan akal manusia.175

Namun berbeda dengan dimensi Agama, para ilmuwan Barat mengatakan bahwa sains dan akal manusia tidak dipengaruhi oleh agama maupun wahyu. Oleh sebab itu kemajuan sains merupakan dikotomi (pemisahan) dari agama.

Hal itu sebagaimana dinyatakan Shaber Ahmed, Anas Ibnul Muttaqin dan Abdul Sattar dalam Ali Anwar Yusuf bahwa,

Orang-orang Barat mengklaim bahwa kemajuan ilmu pengetahuan yang telah diraihnya selama berabad-abad merupakan akibat langsung dari terpisahnya agama dari kehidupan praktis dengan konsep pemisahan antara gereja dan Negara.176

Klaim Barat tersebut berbeda dengan konsep ontologi sains dalam Islam. Dalam Islam hakikatnya, ilmu pengetahuan bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa, Allah swt, karena Dialah yang Maha Pendidik. Sebagai pendidik utama dan pertama Allah swt, telah memberikan berbagai potensi fitrah yang dapat dimanfaatkan untuk memakmurkan bumi dan menyelamatkan umat manusia dari kegelapan menuju jalan yang benar, terang dan jelas, yaitu siraatal mustaqiim.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat ahli dan ulama.

Menurut al-Nahlawiy dalam Munzir Hitami mengungkapkan, Bahwa asumsi dasar pendidik sejati atau Maha Pendidik itu adalah Allah yang telah menciptakan fitrah manusia dengan segala potensi dan kelebihan serta menetapkan hukum-hukum pertumbuhan, perkembangan dan

175 91Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: PT. Gramedia 2008), edisi 4,cet. 1, hlm. 1202

176 Ali Anwar Yusuf, Islam dan Sains Modern, Sentuhan Islam dari Berbagai Disiplin Ilmu, (Bandung: Pustaka Setia, 2006), cet. 1, hlm. 11

76

interaksinya, sekaligus jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuannya. 177

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, sains merupakan sebuah cahaya ilaihiah memancar sebagai ilmu pengetahuan yang dapat dikembangkan oleh akal manusia yang bersumber dari Allah swt., dan dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia.

b) Ontologi Agama

Dalam ontologi Agama terdapat sedikit perbedaan mendasar. Hal itu disebabkan karena agama bersumber dari wahyu. Dalam ajaran agama terdapat hal-hal tertentu yang tidak dapat dijelaskan, diuraikan secara detail sebagaimana aspek dalam sains. Dalam beberapa agama mengatur tentang konsep keimanan, yaitu beriman kepada yang ghaib (immateriil).

Begitu juga dalam Islam, ontologi sains dalam Islam merupakan anugerah dari yang ghaib, yaitu Allah swt dan harus diimaninya, seperti tentang hari kiamat, serta rukun iman kepada yang ghaib, yang keberadaannya tak dapat disentuh oleh akal, karena berada di luar ruang dan waktu. Sumber kebenaran dan objek dari Agama adalah wahyu (Al-Qur‘an), sedangkan alat ukur kebenarannya adalah iman (keyakinan) yang tak dapat diukur.

Walaupun iman itu tak dapat dilihat dan diukur, namun indikator- indikator keimanan itu dapat terlihat dan dapat diterima akal sehat yang berejawantah ke dalam sikap, perilaku manusia. Hal itu sesuai pendapat ahli, M. Nazir Karim mengatakan,

Akal yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, secara potensial berupaya sedemikian rupa membangun

177 Munzir Hitami, Mengonsep Kembali Pendidikan Islam, (Pekanbaru: Infinite Press, 2004), cet. 1, hlm. 24-30

77

preposisi- preposisi logis sehingga dapat membawa manusia sampai kepada pengetahuan yang utuh dalam masalah ketuhanan. Sedangkan wahyu yang diberikan kepada manusia membawa, pengkhabaran berisikan penjelasan-penjelasan yang perlu mengenai masalah ketuhanan, manusia serta kewajiban- kewajibannya kepada Tuhan178

Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa akal manusia akan membawa kepada pengetahuan yang utuh.

Dalam hal-hal tertentu, sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur‘an dapat diuji secara saintifik, seperti keberadaan planet-planet, air laut yang terpisah dan sebagainya.

Berdasarkan uraian tentang ontologi sebagai teori hakikat, maka dalam dalam aspek sains maupun Agama menjadikan keduanya saling membutuhkan. Hal itu disebabkan karena sains dan agama mesti didasari dengan teori yang kokoh dan jelas, sehingga konstruksi sains dan agama menjadi kuat, stabil dan dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dikembangkan secara sistemik.

b.3. Dimensi Epistimologi Sains dan Agama (Cara Memperoleh) a) Epistimologi Sains

Term Epistimologi berasal dari bahasa Yunani, berasal dari kata episteme, yang artinya pengetahuan, dan logos yang artinya ilmu atau teori.179

Sedangkan domain epistimologi adalah ‗bagaimana‘

sesuatu itu menjadi ada. Epistimologi berada dalam ranah proses atau cara serta batasan-batasan terhadap sesuatu yang

178 Muhammad Nazir Karim, Dialektika Teologi Islam, Analisis Pemikiran Kalam Syekh Abdurrahman Shiddiq Al-Banjari, (Bandung: Nuansa, 2004), cet. 2, hlm. 90

179 Susanto, Filsafat Ilmu; Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistimologis,dan Aksiologis, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2016), hlm. 102

78

ada. Hal itu sebagaimana diungkapkan oleh ahli, menurut Susanto, ―Epistimologi meliputi sumber, sarana dan tata cara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah)‖.180

Pada dimensi epistimologi sains, untuk memperoleh ilmu dilakukan suatu kegiatan-kegiatan ilmiah dengan berpijak bahwa, kebenaran ilmu harus dapat diukur, terstruktur, sistematis dan menjangkau akal sehat manusia. Namun kebenaran proses mendapatkan kebenaran itu mengandung subjektifitas. Karena subjek dalam memperoleh ilmu adalah manusia yang memiliki keterbatasan dan terdapat pertentangan.

Hal senada juga diungkapkan ahli filsafat pendidikan, Menurut Amril Mansur,

Pertentangan ilham dan intelek tidak lain adalah juga pertentangan antara akal budi dan hati. Akal dan budi dalam mencari kebenaran didasarkan pada hal yang tampak, kongkrit dan objektif. Sedangkan hati dalam mengambil kesimpulan didasarkan pada pertimbangan batin, imajinasi dalam yang ada pada diri subjeknya.181 Karena kemampuan manusia memiliki keterbatasan maka kebenarnnya menjadi relatif. Dengan kata lain, kebenaran akan tertumpu pada pemikiran bagaimana subjek memandang objeknya, dan subjek akan tergantung pada tujuan mencari kebenaran formilnya saja, sedangkan kebenaran materil pada suatu objek akan sangat dinamis, hal itu dikarenakan perkembangan zaman dan intensitas kebutuhan manusia.

b) Epistimologi Agma

Sedangkan Pada dimensi Epistimologi pada Agama terdapat hal-hal tertentu yang tidak dapat dijelaskan, diuraikan

180 Ibid., hlm. 103

181 Amril Mansur, Epistimologi Integratif-Interkonektif Agama dan Sains, (Jakarta: PT.

RajaGrafindo Persada, 2016), cet. 1, hlm. xiv

79

secara detail sebagaimana aspek dalam sains, namun dapat diimaninya, seperti proses mendapatkan perintah sholat dengan Isra dan mi‘raj ke langit ke tuju (sidratil muntaha) dan menjumpai Allah swt, yang keberadaannya tak dapat disentuh oleh akal, karena berada di luar ruang dan waktu. Namun dalam hal-hal tertentu, sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur‘an. Hal itu ditegaskan dalam Al-Qur‘an, sebagaimana Firman Allah swt,

َٓ١ِمهزٌٍُِّّۡ ٜٗذُ٘ َِۛٗ١ِف ََۛت ۡ٠ َس َلَ ُتََٰزِىٌۡٱ َهٌََِٰر

ٕ

Artinya: Kitab (Al Qur‘an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.182

Ayat tersebut menegaskan bahwa, kebenaran Al-Qur‘an sebagai sumber ajaran kebenaran wahyu sebagai petunjuk atas semua hal, mendapat jaminan langsung dari Allah swt, tanpa memiliki keraguan (hahiki).

Berdasarkan uraian tentang epistimologi sebagai teori proses, maka dalam dalam aspek sains maupun Agama menjadikan keduanya saling membutuhkan. Hal itu disebabkan karena sains dan agama mesti didasari dengan tata cara dan proses yang benar sehingga konstruksi sains dan agama menjadi kuat, dan dapat dipertanggungjawabkan serta dapat dikembangkan secara maksimal sehingga melahirkan ilmu-ilmu baru yang dapat memberi manfaat dan maslahat bagi peradaban umat manusia.

b.3. Dimensi Aksiologi (Manfaat) a) Aksiologi Sains

Aksiologi berasal bahasa Yunani, Axios yaitu yang berarti nilai dan logos berarti ilmu atau teori. Aksiologi berada

182 Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur‘an Tafsir Bil Hadis (Bandung:

Cordoba Internasional-Indonesia, 2013), cet. 1, hlm. 2

80

pada domain nilai atau manfaat tentang sesuatu itu. Hal itu sesuai dengan pendapat Susanto,

Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai, yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Aksiologi juga menunjukkan kaidah-kaidah apa yang harus kita perhatikan ke dalam praktis.183

Dalam dimensi aksiologi, sains sangat bermanfaat dan dapat memudahkan dalam menjalankan aktivitas dalam rangka Hablum Min Allah dan Hablummina Al-Nas.

b) Aksiologi Agama

Namun hal itu berbeda pada dimensi Aksiologi pada Agama. Dalam doktrin agama terdapat hal-hal tertentu yang tidak dapat dijelaskan, diuraikan secara detail sebagaimana aspek dalam sains, seperti manfaat tentang sholat, zakat, puasa, haji. Namun seiring dengan perkembangan ilmu aktivitas-aktivitas yang mulanya hanya ritual semata, setelah dilakukan uji analisa dan ekperimentasi serta penelitian berkelanjutan, ternyata aktivitas-aktivitas tersebut mengungkap hikmah dan manfaat yang sangat besar. Hal itu misalnya pada ibadah puasa yang dapat membuat tubuh menjadi sehat, sholat memberikan efek kepada kesehatan bagi syaraf, jantung dan sebagainya serta aktivitas-aktivitas dalam agama lainnya.

Untuk dapat menjalankan perannya sebagai abdullah (hamba Allah) serta Khalifatullah (Wakil Allah swt) dimuka bumi, dengan tugas utamanya adalah memakmurkan bumi dan menjaga keseimbangan alam semesta dan isinya. Hal itu sebagaimana Firman Allah swt dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 30,

بَٙ١ِف ُذِغۡفُ٠ َِٓ بَٙ١ِف ًَُع ۡجَرَأ ْا ٌَُٰٓٛبَل ُۖٗخَف١ٍَِخ ِض ۡسَ ۡ٤ٱ ِٟف ًِٞعبَج ِِّٟٔإ ِخَىِئٌٍٍََََِّٰٰٓۡ َهُّثَس َيبَل ۡرِإَٚ

ٍََُّْٛۡعَر َلَ بَِ ٍَُُ ۡعَأ َِِّٰٟٓٔإ َيبَل َُۖهٌَ ُطِّذَمُٔ َٚ َنِذ َّۡذِث ُخِّجَغُٔ ُٓ ۡذَٔ َٚ َءَٰٓبَِِّذٌٱ ُهِف ۡغَ٠ َٚ

ٖٓ

183 Susanto, Filsafat Ilmu; Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistimologis,dan Aksiologis, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2016), hlm. 116

81

Artinya: Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‗Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.‘ mereka berkata: ‗Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?‘ Tuhan berfirman:

‗Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (Q.S. al-Baqarah [2]: 30).184

Menurut Tafsir al-Mishbah,

Perlu dicatat, bahwa kata (ujk) khalifah pada mulanya berarti yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Atas dasar ini ada yang memahami kata khalifah di sini dalam arti menggantikan Allah dalam menegakkan kehendaknya dan menerapkan ketetapan- ketetapannya, tetapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, namun karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan. Ada lagi yang memahaminya dalam arti yang menggantikan makhluk lain dalam menghuni bumi ini.

Ayat ini menunjukan bahwa kekhalifahan terdiri dari wewenang yang dianugerahkan Allah, makhluk yang diserahi tugas yakni Adam as., dan anak cucunya, serta wilayah tempat bertugas, yakni bumi yang terhampar ini.185

Departemen Agama (Depag),Al-Qur‘an dan Terjemahnya, Op.cit., hlm. 7

185 M. Qurais Syihab, Tafsir al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur‘an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), vol. 6, hlm. 142

82

Menurut Ahmad Musthafa al Maraghi dalam al-Rasyidin dan Samsul Nizar ,

Kata khalifah memiliki dua makna. Pertama, pengganti yaitu pengganti Allahswt dalam menjalankan titahnya di muka bumi. Kedua, manusia adalah pemimpin yang kepadanya diserahi tugas untuk memimpin diri dan mendayagunakan alam semesta bagi kepentingan manusia secara keseluruhan. Salah satu aplikasi dari kekhalifahan manusia di muka bumi adalah pentingnya kemampuan untuk memahami alam semesa tempat ia hidup dan menjalankan tugasnya. Tanggung jawab moral manusia untuk mengelola dan memmfaatkan seluruh sumber yang tersedia di alam ini untuk memenuhi keperluan hidupnya. Manusia diharapkan mampu mempertahankan martabatnya sebagai khalifah Allah yang hanya tunduk kepada-Nya dan tidak akan tunduk kepada alam semesta.186

Dalam Tafsir Ilmi mengungkapkan,

Penciptaan manusia di muka bumi ini memiliki misi yang jelas dan pasti. Ada tiga misi yang bersifat given yang diemban manusia, yaitu misi utama untuk beribadah (az-Zariyat [51]:56), misi fungsional sebagai khalifah (al-Baqarah[2]:30), dan misi operasional untuk memakmurkan bumi (Hud [11]: 61)187

Sebagai khalifah manusia memiliki potensi kodrati, artinya potensi yang telah melekat pada dirinya, berupa bakat dan kecerdasan. Allah swt telah membekali itu semua sejak

186 Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Press, 2005, hlm. 17-18

187Kementerian Agama (Kemenag) Bekerjasama DenganLembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Tafsirllmi; Penciptaan Manusia Dalam Persfektif al-Qur‘an dan Sains, (Jakarta, Kemenag RI, 2012), hlm. 2

83

dalam kandungan, oleh karena itu harus dikembangkan secara baik dan benar.

Berdasarkan uraian tentang aksiologi sebagai teori nilai dan manfaat, maka dalam dalam aspek sains maupun Agama menjadikan keduanya saling membutuhkan. Hal itu disebabkan karena sains dan agama mesti didasari dengan teori yang kokoh dan jelas, sehingga konstruksi sains dan agama menjadi kuat, stabil dan dapat memberi manfaat kepada umat manusia.

Sebagai kesimpulan tentang, ontologi, epistimologi, dan aksiologi pada sains dan agama bahwa, kedua hal itu (sain dan agama) merupakan satu kesatuan yang sistemik, bila terpisah maka akan membahayakan bagi manusia dan peradaban umat manusia.

C. PENDIDIKAN ISLAM DILIHAT DARI SEGI ONTOLOGI,