• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan uraian pembahasan di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan, sebagai berikut.

1. Sebenarnya Islam tidak mengenal dikotomi (pemeisahan) esensial antara ―ilmu agama‖ dan ―ilmu umum‖. Berbagai disiplin ilmu dan perspektif intlektual yang dikembangkan dalam Islam memang mengandung hirarki tertentu, tapi hirarki itu pada akhirnya bermuara pada pengetahuan tentang ―hakikat Yang Maha Tunggal‖ yang merupakan substansi dari segenap ilmu.

Inilah yang menjadi alasan kenapa para pemikir dan ilmuwan Muslim berusaha mengintegrasikan ilmu-ilmu yang

166 Muhammad Fahmi. Konsep Pendidikan Isma‟il Raji Al-Faruqi: Relevansinya bagi Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia, Tesis. Yogyakarta: Fakultas Filsafat UGM. 2006.

68

dikembangakan peradaban-peradaban non-Muslim ke dalam hirarki ilmu pengetahuan menurut Islam. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak mengenal adanya stadium dikotomi dalam pengertian berlebihan, akan tetapi hanya membedakan jenis-jenis atasu klasifikasi sesui dengan bidang (obyek, fungsi, dan cara memperolehnya), hirarki (urutan prasyarat) dan manfaat saja.

2. Dikotomi dalam pendidikan Islam merupakan dualisme sistem pendidikan antara pendidikan agama Islam dan pendidikan umum yang memisahkan kesadaran keagamaan dan ilmu pengetahuan.

Dualisme ini, bukan hanya terletak pada dataran pemilahan tetapi memasuki ranah pemisahan. Sistem pendidikan yang dikotomik pada pendidikan Islam akan menyebabkan pecahnya peradaban Islam dan akan menafikan peradaban Islam yang kqffah (menyeluruh).

69

DIKOTOMI SAINS, AGAMA DAN PENDIDIKAN ISLAM:

TELAAH ONTOLOGI, EPISTIMOLOGI, DAN AKSIOLOGI

A. PENDAHULUAN

Dalam sejarah, hampir sebagian besar disiplin ilmu pengetahuan dari berbagai bidang muncul dan ditemukan oleh ilmuan-ilmuan muslim. Ilmu-ilmu tersebut bukan hanya bersifat ajaran agama (wahyuisme) namun ilmu-ilmu umum (sains). Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh beberapa ahli. Menurut Ehsan Mahmood dalam Baharuddin dkk, menyatakan bahwa,

Hampir sebagian besar disiplin ilmu pengetahuan, baik yang berbasis politik, ekonomi, sosial, budaya, eksak dan agama itu sendiri adalah muncul dan dihasilkan oleh para pemikir umat Islam. Sehingga, banyak ilmuan muslim yang cukup dikenal di dunia Barat sekalipun. Khawarizmi (Algorismus) dan Ibn Al-Haitam (Al- Hazen) dikenal sebagai ahli matematika dan astronomi; Ibn Rusyd (Averreos) dan Ibn Sina (Avicena) sangat dikenal sebagai ahli kedokteran; Khazini, Khurasani, Al-Razi, dan Ibn Sina adalah penyumbang terbesar terhadap ilmu fisika dan teknologi, dan lain-lain.167

Dalam sejarah tersebut dapat dilihat bahwa, konsistensi dan integritas muslim sangat dipengaruhi oleh suatu ajaran dalam Islam, dimana membaca, menelaah, meneliti menjadi metode pertama dalam memecahkan problematika kehidupan di masanya. Sebagaimana

167 Baharuddin, Dikotomi Pendidikan Islam, Historis dan Implikasinya pada Masyarakat Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2011), cet. 2, hlm. xxi

3

70

diketahui membaca adalah pintu utama ilmu dan agama, merupakan perintah Allah swt yang pertama kepada manusia. Tentu membaca yang dimaksud adalah membaca sebagaimana yang digambarkan dalam wahyu pertama Al- Qur‘an. Allah swt berfirman dalam QS. Al-Alaq [96]; 1-5,

َكٍََخ ِٞزهٌٱ َهِّث َس ُِ ۡعٱِث ۡأ َشۡلٱ ٍكٍََع ِِۡٓ َٓ ََٰغِٔ ۡلۡٱ َكٍََخ ٔ

َُ َش ۡوَ ۡ٤ٱ َهُّث َس َٚ ۡأ َشۡلٱ ٕ َُهٍَع ِٞزهٌٱ ٖ

ٍََُِمٌۡٱِث ٍَُۡ ۡعَ٠ ٌَُۡ بَِ َََٰٓغِٔ ۡلۡٱ َُهٍَع ٗ

٘

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.168 Menurut Tafsir Al-Mishbah,

Kata ( ۡأَش ۡلٱ) terambil dari kata kerja Qara‘a yang pada mulanya berarti menghimpun. Apabila anda merangkai huruf atau kata kemudian anda mengucapkan rangkaian tersebut maka anda telah menghimpunnya yakni membacanya.

Dengan demikian realisasi perintah tersebut tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis sebagai objek bacaan, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain.

Karennya dalam kamus-kamus ditemukan aneka ragam arti dari kata tersebut antara lain; menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri dan sebagainya, yang ke semuanya bermuara pada arti menghimpun.169

Berdasarkan ahli tafsir tersebut, dapat disimpulkan bahwa membaca, merenungkan, menelaah, meneliti, atau mengkaji adalah strategi di masa Rasulullah saw. Untuk membentuk masyarakat dan

168 Kementerian Agama (Kemenag), Al-Qur‘an Tafsir Bil Hadis (Bandung:

Cordoba Internasional-Indonesia, 2013) cet. 1, hlm. 597

169 M. Qurais Syihab, Tafsir Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur‘an, (Jakarta: Lentera Hati, 2012), vol. 15, hlm. 392

71

peradaban madani sehingga Islam pernah meraih kejayaan di masanya.

Dalam istilah filsafat ilmu, dimensi yang harus dipahami dalam mengungkap (ruang lingkup) suatu ilmu adalah, ontologi (Objek/hakikat), Epistimologi (proses), aksiologi (manfaat).

Berdasarkan hal itu dapat diduga bahwa kejayaan ilmu pengetahuan dan agama di masa dahulu disebabkan kuatnya pondasi ilmu (sains) dan agama, terutama pada ketiga dimensi tersebut. Namun sejarah kejayaan itu terbelenggu dengan lahirnya pemikiran tentang dikotomi ilmu dan agama. Menurut para ahli hal itu menjadi kecelakaan sejarah peradaban Islam.

Oleh karena itu upaya memisahkan (dikotomi) antara ajaran agama dan ilmu pengetahuan (sains) dianggap sebagai suatu pemikiran dan sikap kemunduran bahkan sebuah kecelakaan sejarah. Hal itu sebagaimana dinyatakan ahli, Amin Abdullah berpendapat bahwa,

―Kecelakaan sejarah umat Islam terjadi pada saat bangunan keilmuan natural science menjadi terpisah dan tidak bersentuhan sama sekali dengan ilmu-ilmu agama yang fondasi dasarnya berupa teks atau nash, yaitu Al-Qur‘an dan Hadis.‖170

Manusia secara fitrah memiliki dua dimensi yaitu, lahiriah (jasmani) dan batiniah (rohani), oleh karena itu pemenuhan kebutuhan manusia harus memiliki unsur-unsur dan nilai-nilai keseimbangan sehingga manusia mampu mengembangkan dua dimensi tersebut menjadi potensi yang maksimal. Dua dimensi tersebut menggambarkan bahwa manusia selain membututuhkan ilmu juga membutuhkan agama.

Perkembangan sains (ilmu) dan tekhnologi yang sangat cepat seperti saat ini, mengharuskan manusia memiliki upaya untuk mengimbanginya. Hal itu sangat penting, sebab jika manusia hanya menguasai sains dan tekhnologi tanpa diimbangi agama maka akan menjadi sekularistik, menjadi manusia penyembah materi (kebendaan).

Sedangkan agama menghendaki selain manusia mengimani yang terlihat manusia juga diwajibkan mengimani yang tak terlihat (ghaib),

170 M. Amin Abdullah, dkk., Islamic Studies dalam Paradigma Integrasi-Interkoneksi (Yogyakarta: Suka-Press, 2007), hlm. 27.

72

sebagaimana disebutkan dalam enam rukun iman (Allah swt, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, takdir). Tentang manusia hanya menguasai sains dan tekhnologi tanpa diimbangi agama maka akan menjadi sekularistik, menjadi manusia penyembah materi (kebendaan). Hal itu sesuai dengan pendapat M. Nazir,

Dewasa ini, filsafat ilmu masih didominasi oleh pola fikir barat yang sekularistik. Sedangkan sebagaian besar ilmuwan muslim mengkonsumsi ilmu pengetahuan dan teknologi buah pemikiran dari filsafat ilmu yang sekularistik itu, bahkan sebagaian mencernanya nyaris tanpa saringan dan pertimbangan nilai-nilai Islam. Sementara itu umat Islam memerlukan spesial drive untuk mengejar ketertinggalannya di bidang ilmu (sains) dan teknologi modern, dan karenanya tidak diragukan lagi bahwa sains dan teknologi mutlak diperlukan untuk menggalakkan perkembangan yang dinamis- antisipatif dalam membangun peradaban umat Islammasa depan.171

Selain dari wahyu Ajaran Islam yang saat ini ada bersumber dari masa lalu yang saat itu belum bersentuhan dengan kemajuan sains dan tekhnologi seperti saat ini, tetap relevan, walaupun dalam aspek imateriil (rohani) ajaran tersebut telah memasuki ranah kebenaran yang bersumber dari wahyu (Allah swt). Dengannya Islam dan umatnya yang berpegang pada sebuah ajaran yang bersumber dari Al-Qur‘an dengan nilai kebenaran dari wahyu tersebut tetap kokoh sebagai sebagai ajaran dan Islam yang aktual. Sehingga umat Islampun menjadi lebih maju dari umat agama lain. Sebagaimana Firman Allah swt,

َٓ١ِمهزٌٍُِّّۡ ٜٗذُ٘ َِۛٗ١ِف ََۛت ۡ٠ َس َلَ ُتََٰزِىٌۡٱ َهٌََِٰر

ٕ

Artinya: Kitab (Al Qur‘an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.172

171 M. Nazir Karim, Membangun Ilmu dengan Paradigma Islam, (Pekanbaru: Suska Press, 2004), cet. 2, hlm. 1

172 Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur‘an Tafsir Bil Hadis (Bandung:

Cordoba Internasional-Indonesia, 2013), cet. 1, hlm. 2

73

Ayat tersebut menegaskan bahwa, kebenaran Al-Qur‘an sebagai sumber ajaran kebenaran wahyu sebagai petunjuk atas semua hal, mendapat jaminan langsung dari Allah swt, tanpa memiliki keraguan (hahiki). Berdasarkan hal tersebut namun pada faktanya, umat Islam saat ini mengalami kemunduran diberbagai bidang. Hal itu diduga disebabkan tetap eksisnya paradigma tentang dikotomi sains dan Agama.

B. ANALISIS ONTOLOGI, EPISTIMOLOGI DAN AKSIOLOGI