Dilihat dari proses penciptaanya, Al-Quran menyatakan proses penciptaan manusia dalam dua tahapan yang berbeda, yaitu : Pertama, disebut dengan tahapan primordial. Dalam hal ini manusia pertama Adam AS diciptakan dari tanah (min tiin, min turob, min shal, min hamaain masnun), yang kemudian dibentuk oleh Allah dengan seindah-indahnya, kemudian Allah meniupkan ruh dari-Nya ke dalam diri manusia. Sebagaimana tersebut dalam Surat al-An‘aam ayat 2, Surat Al-Hijr ayat 26, 28, 29, al-Mukminun ayat 12, surat Ar-Ruum ayat 20, dan Ar-Rahman ayat 4.
Kedua, disebut dengan tahapan biologi. Dalam proses ini manusia diciptakan dari inti sari tanah yang dijadikan air mani (nutfah) yang tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nutfah itudijadikan darah beku (‗alaqah) yang menggantung dalam rahim.
Darah beku tersebut kemudian dijadikan-Nya segumpal daging (mudghah) dan kemudian dibalut dengan tulang belulang lalu kepadanya ditiupkan ruh. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Mukminun ayat 12-14 :
ٖٓ١ِغ ِِّٓ ٖخٍٍَََُٰع ِِٓ َََٰٓغِٔ ۡلۡٱ بَٕۡمٍََخ ۡذَمٌَ َٚ
ٖٓ١ِىهِ ٖسا َشَل ِٟف ٗخَف ۡطُٔ ٍَََُٰٕٗۡعَج هُُث ٕٔ
بَٕ ۡمٍََخ هُُث ٖٔ
ُٗ ََٰٔۡؤَشَٔأ هُُث ب ّٗ ۡذٌَ َََُٰظِعٌۡٱ بَٔ َۡٛغَىَف ب ََّٰٗظِع َخَغ ۡعٌُّۡٱ بَٕۡمٍََخَف ٗخَغ ۡعُِ َخَمٍََعٌۡٱ بَٕۡمٍََخَف ٗخَمٍََع َخَف ۡطٌُّٕٱ َٓ١ِمٍِ ََٰخ ٌۡٱ َُٓغ ۡدَأ ُ هللَّٱ َن َسبَجَزَف َۚشَخاَء بًمٍَۡخ
ٔٗ
Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu
26
Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik (QS. Al-Mukminun : 12-14)
Berdasarkan proses penciptaan itu, manusia merupakan rangkaian utuh antara komponen materi dan immateri. Komponen materi berasal dari tanah, dan komponen immateri adalah ruh yang ditiupkan oleh Allah SWT. Kesatuan ini memberi makna bahwa di satu sisi manusia sama dengan dunia di luar dirinya (fana), dan di sisi lain mendakan bahwa manusia itu mampu mengatasi dunia sekitarnya, termasuk dirinya sebagai jasmani (baqa‘).75
Menurut Harun Nasution, unsur materi manusia mempunyai daya fisik, seperti mendengar, melihat merasa, meraba, mencium dan daya gerak. Sementara itu unsur immateri mempunyai dua daya, yaitu daya berfikir yang disebut akal dan daya rasa yng berpusat di kalbu.76
Untuk membangun daya fisik perlu dibina melalui latihan-latihan keterampilan dan panca indera. Sedangkan untuk mengembangkan daya akal dapat dipertajam melalui proses penalaran dan berfikir. Sedangkan untuk mengembangkan daya rasa dapat dipertajam melalui ibadah, karena intisari ibadah dalam Islam ialah mendekatkan diri kepada Allah SWT.
D. TUGAS MANUSIA SEBAGAI ABDULLAH DAN
KHALIFATULLAH
Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa tujuan manusia diciptakan adalah sebagai hamba Allah, sebagaiman firman Allah:
ُِْٚذُجۡعَ١ٌِ هلَِإ َظِٔ ۡلۡٱ َٚ هٓ ِجٌۡٱ ُذۡمٍََخ بَِ َٚ
٘ٙ
Artinya: ―dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.‖ (Q.S
75 Ramayulis & Samsul Nizar, Filsafat, ibid, hal. 57
76 Harun Nasution, Islam Rasional, Bandung : Mizan, 1995, hal. 37
27
Ad-dzariyat: 56)77
Menurut al-Qurtubi, liya‘budun dimaknai dengan liyuwahhidun dalam arti meng-Esa-kan Allah.78 Al-Qurtubi juga mengutip pernyataan
‗Ali Radiyallahu ‗anh, ayat ini menunjukkan perintah untuk beribadah kepada Allah bagi umat manusia. Serta mengutip pernyataan Mujahid bahwa ayat ini menunjukkan agar jin dan khususnya manusia lebih mengenal Allah.79
Dan tujuan manusia diciptakan adalah sebagai wakil Allah atau khalifah Allah80 di bumi dalam Q.S Al-baqarah ayat 30:
بَٙ١ِف ُذِغۡفُ٠ َِٓ بَٙ١ِف ًَُع ۡجَرَأ ْا ٌَُٰٓٛبَل ُۖٗخَف١ٍَِخ ِض ۡسَ ۡ٤ٱ ِٟف ًِٞعبَج ِِّٟٔإ ِخَىِئٌٍٍََََِّٰٰٓۡ َهُّثَس َيبَل ۡرِإَٚ
ٍََُّْٛۡعَر َلَ بَِ ٍَُُ ۡعَأ َِِّٰٟٓٔإ َيبَل َُۖهٌَ ُطِّذَمُٔ َٚ َنِذ َّۡذِث ُخِّجَغُٔ ُٓ ۡذَٔ َٚ َءَٰٓبَِِّذٌٱ ُهِف ۡغَ٠ َٚ
ٖٓ
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa
77 Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahan, hlm. 756.
78Ibn ‗Abd Allah Muhammad b. Ahmad al-Ansari al-Qurtubi. Tafsir al- Qurtubi (Kairo:
Durus al-Sha‘b, t.t.), 55.
‗ 35Ibid
80 Kata khalifah berasal dari fiil madhi Khalafa yang berarti mengganti dan melanjutkan.
Jadi khalifah yaitu proses penggantian antara satu individu dengan individu yang lain. Sebagai seorang khalifah ia berfungsi menggantikan orang lain dan menempati tempat serta kedudukan-Nya. Ia menggantikan orang lain menggantikan kedudukann kepemimpinannya atau kekuasaanya.
Lihat Ramayulis, op. Cit, hlm. 9
Menurut Ahmad Musthafa Al Marghi, kata khalifah dalam ayat ini memiliki dua makna.
Pertama, pengganti yaitu pengganti Allah SWT dalam menjalankan titahnya di muka bumi. Kedua, manusia adalah pemimpin yang kepadanya diserahi tugas untuk memimpin diri dan mendayagunakan alam semesta bagi kepentingan manusia secara keseluruhan. Salah satu aplikasi dari kekhalifahan manusia di muka bumi adalah pentingnya kemampuan untuk memahami alam semesta tempat ia hidup dan menjalankan tugasnya. Tanggung jawab moral manusia untuk mengelola dan memmfaatkan seluruh sumber yang tersedia di alam ini untuk memenuhi keperluan hidupnya. Manusia diharapkan mampu mempertahankan martabatnya sebagai Khalifah Allah yang hanya tunduk kepada-Nya dan tidak akan tunduk kepada alam semesta.Lihat Dr. Al-Rasyidin & Dr.
H. Samsul Nizar, M.A., opcit, hal: 17-18
28
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.(Q.S Albaqarah: 30)81
Menurut Achmadi, tujuan diciptakannya manusia terbagi menjadi tiga bagian, yaitu
a. Tujuan utama penciptaan manusia adalah agar manusia beribadah kepada Allah.
b. Manusia diciptakan untuk diperankan sebagai wakil Allah di muka bumi.
c. Manusia diciptakan untuk membentuk masyarakat manusia yang saling kenal mengenal, hormat menghormati, dan tolong menolong antara satu dengan yang lainnya.82
Tujuan diciptakannya manusia ialah sebagai hamba Allah, inilah tujuan utamanya. Sebagai hamba Allah manusia memiliki tugas untuk beribadah, di mana ibadah di sini mengandung dua pengertian, yaitu pengertian khusus dan pengertian umum. Dalam pengertian khusus ibadah adalah melaksanakan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara hamba dan Tuhannya yang tata caranya diatur secara terperinci di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, sedang ibadah dalam arti luas adalah aktivitas yang titik tolaknya ikhlas dan ditujukan untuk mencapai ridha Allah berupa amal shaleh.83
Dengan melihat tujuan diciptakannya manusia yaitu sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi maka fungsi penciptaan manusia yaitu: untuk mengemban amanah/tugas keagamaan, untuk mengabdi/beribadah, sebagai khalifah/pengelola di muka bumi, untuk
81 Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahan, hlm. 6.
82 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme Teosentris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), cet. I, hlm. 61 -63.
83 Muslim Ibrahim, Pendidika Agama Islam Untuk Mahasiswa, (Yogyakarta: Erlangga, 1990), hlm. 60.
29
menjalankan amar ma‘ruf nahi munkar.84 Mewujudkan persatuan dan kesatuan, tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, menegakan keadilan dalam masyarakat, bertanggung jawab terhadap amar ma‘ruf nahi munkar dan berlaku baik terhadap golongan masyarakt yang lemah.85
Konsep abdullah dan khalifah, meski keduanya memiliki perbedaan, namun bukan berarti bertentangan, karena kedua konsep tersebut berada pada pemikiran yang sama yaitu sebagai tugas dan fungsi penciptaan manusia. Tugas dan fungsi manusia ialah bahwa, pertama, manusia sebagai khalifah dalam pengertian wakil atau pengganti yang diberi kekuasaan dan sebagai hamba Allah, pada dasarnya mengandung implikasi moral sehingga mendasarkan seluruh kehidupannya di atas nilai-nilai dan aturan-aturan ketuhanan. 86 Sebagaiman diungkapkan Tedi Priatna, seorang manusia harus dapat melaksanakan kode etik moralitas dalam mengendalikan nafsu hewaninya, sehingga ia bisa semakin dekat kepada Yang Maha Kuasa.87 Kedua, manusia juga harus mengaktualisasikan segala kemampuan yang telah diberikan oleh Allah dalm rangka pemeliharaan bumi, mengembangkan kehidupannya, mengelola sumber daya alam untuk kemakmuran umat manusia. Menurut Musya Asy‘arie, tugas ini diemban manusia karena ia dipandang mempunyai kemampuan konseptual dengan watak keharusan eksperimen yang berkesinambungan sampai menunjukan kemakmuran, kesejahteraan hidup di muka bumi. 88
Dan menurut kalangan para ahli, setidaknya ada empat tujuan
84 Choiruddin Hadhiri, Klasifikasi Kandungan al-Qur‟an, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), cet. XII, hlm. 81.
85 Muhaimin, Suti‟ ah dkk, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: PT Rosdakarya, 2002) hlm 24.
86 Al-Rasyidin & H. Samsul Nizar, opcit, hal: 17-18
87 Tedi Priatna, Reaktualisasi Paradigma Pendidikan Islam; Ikhtiar Mewujudkan Pendidikan Bernialai Ilahiah dan Insaniah di Indonesia (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), hlm. 94,
88 Musa Asy‘ari, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam AlQur‟an (Yogyakarta:
LESFI, 1992), hlm. 43.
30
penciptaan manusia. Pertama, untuk mengabdikan diri kepada Allah (QS; adzariat; 56 dan al-An`am; 56). Kedua, adalah untuk menjadi khalifah dimuka bumi (QS. Al-Baqarah:30), ketiga, adalah untuk mendapatkan ridha Allah (Q.S. At-taubah: 100). Keempat adalah untuk meraih kebahagiaan hidup dunia akhirat (Q.S; AlBaqarah : 201-202).
Dari ke-empat tujuan tersebut kemudian diringkas lagi menjadi dua tujuan utama yaitu; mengabdi kepada Allah dan menjadi KhalifaNya di muka bumi.89
Dalam pandangan berbeda, manusia memiliki tugas sebagai;
Abdullah, khalifatullah dan imarah (al-ardh). Dalam hal ini tugas manusia sebagai abdun yaitu spritualitas yang harus senantiasa menjadi dasar kehidupan seperti beriman, beribadah, dan hal-hal yang berhubungan dengan ketuhanan.90 Sedangkan khalifah artinya mengaktualisasikan sifat-siafat mulia yang Allah miliki dan telah Allah transfer kepada manusia saat ditiupkan ruh seperti sabar, toleransi, memberikan kenyamanan, tolong-menolong dan sifat mahmudah lainnya.91 Dan ‗imarah al-ardhi artinya mengelola Sumber Daya Alam seperti memiliki kemampuan untuk memanfaatkan dan melestarikan alam, memakmurkan kehidupan dengan mengelola alam dengan baik sesuai keilmuannya seperti pertanian, perkebunan, industri, pengembangan teknologi dan sebagainya.92
Tugas manusia sebagai abdun berbicara tentang pengamalan islamic studies, sebagai khalifah pengamalan sikap yang baik pada diri sendiri dan orang lain atau sosial humaniora dan sebagai ‗imarah fil
‗ardh pengelolaan bumi dan memajukannya dengan ilmu-ilmu natural sains. Tiga tugas manusia tersebut harus menyatu tanpa kuarang satu pun agar tidak terjadi kepicangan. Bila tidak konsisten terhadap tiga aspek tersebut maka peradaban akan mundur dan peran sebagai manusia
89 Ahmad Janan Asifuddin, Mengungkit Pilar-Pilar Pendidikan Islam, Yogyakarta:
SUKaA Press, 2010), hlm. 54-57.
90 Rudi Ahmad Suryadi, Rekonstruksi Pendidikan Islam Sebuah Penafsiran Qurani, Op.
Cit. hlm. 70
91 Ibid, hlm. 80
92 Ibid, hlm. 87
31
akan gagal. Maka ketika ada pertanyaan tentang kemunduran pendidikan Islam saat ini, maka jawabannya adalah kaum Muslim tidak konsisten terhadap fungsinya sesuai sitem Ilahiyah tadi. Hal yang nyata terabaikan saat ini oleh mayoritas umat Islam adalah fungsinya sebagai
‗imarah fil ardi yaitu kurangnya gairah ummat Islam dalam memajukan peradaban fisik seperti ketertinggalannya dalam sains dan teknologi.
Yang saat ini diambil alih orang kafir dalam hal ini orang Barat (orientaslis). Namun kaum orientalispun dalam kemunduran karena keringnya mereka dari nilai-nilai spritual dan nilai ilahiyah (khalifah) maka bagi orang kafir pun terjadi kepincangan. Oleh sebab itu, kemaujuan pendidikan Islam pun harus konsisten pada tiga tugas manusia tersebut tanpa mengabaikan satu dengan yang lainnya.
Keterpaduan tiga fungsi manusia tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Imarah al-ardh Khalifah
abdun abdun
Fungsi abdun menjadi dasar melaksanakan tugas manusia sebagai khalifah dan imarah al-ardh. Dan tiga tugas tersebut menyatu dalam satu system dan tidak boleh dipisahkan agar menjadi utuh.
Dengan begiu tujuan pendidikan pun akan tercapai yaitu menjadi manusia yang yang paripurna, ahsanu taqwim, insanul kamil, muslim kaffah dan rahmatan lil alamin.
Inti dari tugas dan fungsi manusia dapt disimpulkan bahwa manusia sebagai Abdullah, yaitu pengabdian kepada tuhan dan pengembangan dan aktulisasi sifat-sifat tuhan. Adapun tugas dan fungsi manusia sebagai khlafitaullah, yaitu mengelola dan menjaga bumi, pengembangan ilmu-sains dan penataaan kehidupan sosial.
32
E. IMPLIKASI HAKIKAT MANUSIA TERHADAP KONSEP