• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN HISTORIS ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN Islamisasi ilmu pengetahuan pertama kali dilontarkan oleh

109

bersumber dari keimanan/wahyu yang bersifat metafisis tidak begitu saja dapat dihubungkan dengan sains yang lebih bercorak empiris dan merupakan produk akal dan intelektual manusia. Menurut Hanna Djumhana, dalam upaya tersebut terasa tidak adanya mata rantai (missing link) antara keduanya, oleh karena itu yang dapat menghubungkannya harus lebih bercorak falsafi/metafisis serta didukung oleh sikap islami dari para cendekiawan Muslim mengenai status sains terhadap agama, yang sementara ia sebut sebagai fondasi falsafi dan sikap islami, yakni memberikan landasan filsafat yang bercorak islami kepada sains dan harus pula didukung oleh sikap islami para ilmuan dengan mengakui bahwa Al-Quran sebagai firman Allah swt. mengandung kebenaran paripurna yang senantiasa dicari sepanjang masa oleh sains. 247

Ringkasnya, islamisasi sains berarti upaya membangun paradigma keilmuan yang berlandaskan nilai-nilai ajaran Islam yang hakiki, baik pada ontologis, epistemologis maupun aspek aksiologisnya.

Dan ini bukan sesuatu yang mudah, dan menuntukesatuan visi dan misi dari para intelektual Muslim dalam rangka mewujudkan hal tersebut.

Untuk hal ini, gagasan Al-Attas mengenai islamisasi ilmu yang didahului dengan islamisasi bahasa, adalah salah satu upaya ke arah tertciptanya kesamaan persepsi dalam penggunaan konsep-konsep kunci dan kosa kata dasar yang bersifat fundamental dalam Islam.

C. TINJAUAN HISTORIS ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN

110

International Institute of Islamic Thought. Lembaga ini berkedudukan di Philadelphia yang kemudian pindah ke Hemdon, Virginia. Namun demikian di Malaysia terdapat versi lain, yaitu bahwa pencetus pertama ide Islamisasi Ilmu pengetahuan adalah Syed Naquib al-Attas yang dengan dukungan Perdana Menteri ketika itu Anwar Ibrahim mendirikan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) yang berkedudukan di Kuala Lumpur.248

Meskipun ide islamisasi ilmu pengetahuan muncul dan dihubungkan dengan kedua tokoh di atas, tapi secara substantif ide teersebut telah muncul abad ke-19, yaitu ketika Syah Waliyallah dan Sir Sayyid Ahmad Khan yang mendirikan Universitas Aligarth. Kedua tokoh ini mempelopori kebangkitan pemikiran dan pengetahuan yang berorientasi kepada Islam dan sekaligus bercorak modern.

Dalam gerakan pemikirannya mereka menolak untuk kembali kepada tradisi lama dan juga menentang penetrasi dan dominasi Barat yang menghegemoni masyarakat muslim. Kebangkitan pemikiran yang dipelopori oleh Ahmad Khan di India diilhami oleh kekalahan umat Islam India dalam menentang kekuasaan kolonial Inggris pada tahun 1857-1858, yang menimbulkan sikap antipati dan isolasi umat Islam.

Dalam pandangannya, sikap ini tidaklah memberikan manfaat bagi umat Islam. Untuk itu ia berinisiatif untuk mengadakan pembaharuan pemikiran dengan berpikiran ilmiah untuk menghadapi dominasi Barat.

Gerakan pemikiran di atas dilanjutkan oleh Mohammad Abduh dan Rasyid Ridlo dari Mesir. Mereka secara tegas menolak kembali kepada tradisi-tradisi pada masa lalu yang dibarengi kesediaan mereka untuk mengadopsi ilmu pengetahuan Barat.

Pada awalnya pemikiran al-Faruqi terletak pada dua hal yaitu Arabisme dan Islam. Dalam studinya tentang Arab, ia menyusun sebuah tulisan terdiri dari 4 jilid yaitu : ―On Arabism: Urubah and Religion‖.

Pada perjalanan berikutnya ia lebih menfokuskan kepada studi tentang

248 M. Dawam Rahardjo, ―Strategi Islamisasi Pengetahuan‖, dalam Gagasan dan Perdebatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Moeflih Hasbullah, ed. (Jakarta: Pustaka Cidesindo, t.t.), hlm. xii-xiii

111

Islam melalui diskursus ilmiah dan akademis serta gerakan advokasi politik dalam melihat pentingnya Islam.249

Pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an ia lebih gencar mempresentasikan Islam sebagai agama nalar dan ilmiah, maju dan par execellent. Ia menjadi seorang aktivis Islam yang menempatkan Islam sebagai acuan utama, yaitu sebagai ideologi yang lengkap dan menyeluruh. Dalam pandangan al-Faruqi, salah satu kesalahan fatal umat Islam adalah menganggap ilmu itu terbelah dua, yaitu ilmu-ilmu sekuler (profane) dan ilmu-ilmu agama Islam. Ide islamisasi ilmu pengetahuan yang dicetuskan al-Faruqi dituangkan dalam risalah berjudul The Islamization of Knowledge yang diterbitkan oleh IIIT. Ide tersebut menjadi terkenal ketika seminar pertama mengenai islamisasi ilmu pengetahuan dilaksanakan di Islamabad, Pakistan pada Januari 1982.250

Pada program pendahuluan dari risalah di atas, al-Faruqi menulis bahwa IIIT menawarkan kepada cendekiawan muslin seluruh dunia hadiah yang abadi dan unik yang telah dipersembahkan dalam dekade pertama abad ke 15 Hijriyah. Al-Faruqi menegaskan bahwa tidak seorang umat Islam yang memikirkan pentingnya islamisasi ilmu pengetahuan, memahami syarat-syaratnya dan mendiskusikan langkah- langkah yang diperlukan. Dengan kondisi di atas Al-Faruqi berusaha mengingatkan dunia Islam akan suatu konflik antara ilmu pengetahuan dalam pandangan Barat dan Islam, yaitu dengan merencanakan suatu yang dapat menghindari terjadinya konflik tersebut, serta menggalak- kan kembali pendidikan Islam sebagaimana yang diharapkan.251

Tokoh lainnya yang menggagas islamisasi ilmu pengetahuan adalah Syed Naquib al-Attas. Ia lahir pada tanggal 5 September 1931 di Bogor, Jawa Barat. Bila dilacak silsilahnya, ia termasuk keluarga Ba‘Alawi di

249 Syed M. Naquib al-Attas, Islam and Scularism, Angkatan Muda Belia Islam Malaysia, ABIM, Kuala Lumpur, 1978, hal. 43-44

250 Syed M. Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, Muslim Youth Movement of Malaysia, Kualalumpur, 1980, hal. 155-156.

251Wan Mohammad Nor Wan Daud, Filsafat Pendidikan Islam, Syed M. Naquib Al- Attas, terj. Hamid Fahmi, (Bandung: MIzan, 2003), hlm. 394

112

Hadramaut dengan silsilah yang sampai kepada Imam Husein, cucu Rasulullah SAW. Ibunya adalah Syarifah Raquan al ‗Aidrus, berasal dari Bogor, Jawa Barat yang merupakan ningrat Sunda di Singapura.

Dari pihak bapak, kakek Syed Muhammad Naquib al-Attas yang bernama Syed Abdullah ibn Muhsin ibn Muhammad Al-Attas adalah seorang wali yang pengaruhnya tidak hanya terasa di negeri Arab tapi juga di luar negeri Arab. Syed Naquib adalah anak kedua dari tiga bersaudara, yang petama bernama Syed Husein seorang Sosiolog dan mantan Rektor Universitas Malaya dan adiknya adalah Syed Zaid, seornag insinyur dan mantan dosen Institute Teknologi MARA.

Pendidikannya dijalani dari Sekolah Dasar di Johor Malaysia, setelah itu pada masa pendudukan Jepang ia kembali ke Jawa dan meneruskan pendidikannya di Madrasah Al Urwat al Wusta Sukabumi.

Setelah Perang Dunia II pada tahun 1946, ia kembali ke Johor untuk merampungkan pendidikannya di English College di Bukit Zahrah School. Setelah menamatkan sekolah menengah tahun 1951, al-Attas mendaftar di resimen Melayu sebagai sebagai kader dengan nomor 6676. Al-Attas dipilih oleh Jenderal Sir Gerald Templer, yang ketika itu menjabat British High Commissioner di Malaya untuk menjalani pendidikan militer, pertama di Eton Hall, Chater, Wales, kemudian di Royal Military Academy, Sadhrust, Inggris (1952-1955). Selama di Inggris, dia berusaha memahami aspek-aspek yang mempengaruhi semangat dan gaya hidup masyarakat Inggris. Selain mengikuti pendidikan militer, Al-Attas juga sering pergi ke negera-negera Eropa lainnya (terutama Spanyol) dan Afrika Utara untuk mengunjungi tempat-tempat yang terkenal dengan tradisi intelektual, seni dan gaya bangunan keislaman lainnya.

Kegiatan intelektual Al-Attas dimulai di Universitas Malaya pada pertengahan 1960-an dan telah dapat membangkitkan kesadaran baru akan pentingnya peranan Islam dalam sejarah, nasionalisme dan kebudayaan Melayu. Ia telah berhasil menumbuhkan kesadaran baru tentang peranan Islam kepada para mahasiswa dan masyarakat umum.

Di samping itu ia mengkritisi metodologi berbagai displin ilmu, filsafat,

113

kebudayaan dan politik yang telah terbaratkan. Ide-ide tersebut terlukiskan dalam karya-karyanya yang antara lain The Origin of the Malaya Syair (1968), Prelimenary Statement on the Islamization of the Malay-Indonesian Archepelago (1969)

Dalam hal ini, al-Attas bukan berarti antipati terhadap pemikiran Barat. Dalam pengembangan disiplin-disiplin keilmuan tidak hanya didasarkan kepada ajaran- ajaran Islam, tetapi harus dianalisis dengan filsafat Yunani dan Yahudi-Kristen serta tradisi-tradisi klasik, abad pertengahan 252

Persahabatan antara al-Faruqi dengan Al-Attas dapat ditelusuri dari awal 1960-an. Sebagai Pendiri Direktur IBKKM (Institut Bahasa, Kesusasteraan, dan Kebudayaan Melayu) pada Universitas Kebangsaan Malaysia, pada tahun 1974 Al-Attas mengundang Al-Faruqi ke Malaysia untuk memberikan kuliah dan memperkenalkan al-Faruqi kepada para ilmuwan di Malaysia. Pada saat itu al-Faruqi mendengarkan langsung proyek Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer yang ketika itu Al-Faruqi belum menyadari elemen- elemen dari proyek tersebut serta implikasi dari proyek tersebut. Kegiatan itu dilaksanakan ketika diadakan makan malam di rumah kediaman Anwar Ibrahim yang dihadiri oleh tokoh-tokoh senior ABIM. Dalam berbagai kesempatan berdiskusi antara Al-Attas dengan Al- Faruqi di Malaysia dan Philadelphia telah mempengaruhi aktivitas intelektual Al-Faruqi secara positif dan mendasar, khususnya dalam AMMS (Association of Muslim Social Scientis). Faruqi sebagai Presiden AMMS mengundang Al-Attas untuk menjadi salah satu pembicara pada simposium tentang

―Islam dan Pembangunan‖ yang diadakan di Philadelphia pada tanggal 22-24 Apil 1976. Seminggu setelah simposium itu Al-Faruqi berkirim surat kepada Al-Attas untuk berterima kasih atas sumbangan pemikiran dalam simposisium tersebut.253

252 Syed M. Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, Muslim Youth Movement of Malaysia, Kualalumpur, 1980, hal. 155-156.

253Wan Daud, Filsafat ,394

114