ANALISIS BERITA LIPUTAN 6 SCTV DAN METRO TV
D. ANALISIS ORDER OF DISCOURSE
Analisis order of discourse adalah bagian dari analisis wacana Fairclough yang melihat berita dari segi intertekstualitas dan genre. Intertekstualitas adalah sebuah istilah dimana teks dan ungkapan dibentuk oleh teks yang datang sebelumnya. Sedangkan istilah genre adalah bagian dari konvensi yang
13 Abi Hasantoso, dkk. Op.Cit. Hal. 31.
183 dihubungkan dengan tindakan. Sebuah genre tidak hanya menampilkan tipe teks tertentu, tetapi juga proses produksi, distribusi dan konsumsi dari teks.
1. Genre
Dengan melihat teks-teks yang disampaikan oleh Liputan 6 SCTV dan Metro TV, dengan demikian genrenya adalah berita. Sedangkan, tipe aktivitasnya adalah hard news, yang memposisikan pembuat berita sebagai subyek dan khalayak sebagai pembaca/pemirsa. Pengertian dari hard news sendiri adalah berita yang menyangkut hal-hal penting yang langsung terkait dengan kehidupan pembaca, pendengar atau pemirsa. Karena dianggap penting, maka media segera melaporkannya. Pada koran biasanya ditampilkan di halaman depan, pada televisi dan radio pada jam prime time. Sedang pada situs portal berita, biasanya akan segera di-upload dan di-update14.
Berita pun pada dasarnya tidaklah sama antara media cetak dengan media penyiaran/elektronik. Beberapa perbedaan mendasar yang disebutkan oleh Askurifai Baksin adalah sebagai berikut15:
No
Media Cetak/Periodik Media Elektronik/Penyiaran
Radio Televisi
1. Isi pesan tercetak, dapat dibaca kapan saja dan
3. Hanya dapat menyajikan peristiwa yang telah
4. Tidak dapat menyajikan pendapat narasumber
15 Askurifai Baksin. Op.Cit. Hal. 60-61.
184 secara orisinal. (audio) secara orisinal. (audio-visual) secara
orisinal.
5. Pesan dibatasi halaman dan kolom.
Pesan dibatasi waktu. Pesan dibatasi waktu.
6. Makna berkala dibatasi oleh hari, minggu dan
8. Bahasa yang digunakan formal.
9. Kalimat dapat panjang dan terperinci.
Kalimat singkat, padat, jelas dan sederhana.
Kalimat singkat, padat, jelas dan sederhana.
Singkatnya, menurut JB Wahyudi16, dibanding karya jurnalistik cetak, film, maupun radio, karya jurnalistik televisi adalah yang paling sempurna karena dapat mengutip narasumber yang relevan secara langsung dan orisinal, dalam bentuk audio visual.
Hard news sendiri dalam berita televisi harus mencakup inti-inti 5W+1H.
Uraian kemudian dimulai dari yang terpenting menuju yang kurang penting atau yang sering diistilahkan sebagai piramida terbalik, bagian atasnya lebar semakin ke bawah semakin menyempit. Isi berita ada di bagian awal berita, sedangkan semakin ke bawah adalah sisipan-sisipan keterangan. Kalimat pertama dalam hard news yang disebus sebagai lead/teras berita harus mengandung nilai yang terpenting yang dijadikan sebagai topik bahasan berita. Di hard news pula, wartawan hanya berfungsi menyajikan fakta dan pendapat narasumber, sehingga tidak dibenarkan adanya opini pribadi17.
16 JB Wahyudi. 1996. Dasar-dasar Jurnalistik Radio dan Televisi. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Hal.
9.
17 Ibid. Hal. 45.
185 Bentuk piramida terbalik yang menjadi ciri khas dari hard news, secara otomatis membuat wartawan harus segera mengurutkan laporannya. Bagian yang paling atas merupakan ruang untuk ringkasan isi berita (summary statement). Baru setelah itu dilanjutkan dengan penjelasan. Yakni pengembangan detil-detil, fakta-fakta dan hal-hal lain18. Menurut, Friendlander dan Lee19, keuntungan dari penggunaan prinsip piramida terbalik ini adalah, pertama, para pembaca dapat segera mengetahui isi berita dengan hanya membaca lead dan beberapa paragraf awal. Kedua, memudahkan redaktur untuk memotong berita yang terlalu panjang, lewat materi berita yang tidak begitu penting di ujung bagian bawah berita.
Karakteristik khas lain dari hard news dalam berita televisi adalah sifatnya yang informatif, faktual dan aktual. Semisal, berita tentang keluarnya izin penyelenggaran LPI oleh Polri, termasuk dalam kategori berita yang memiliki nilai berita tinggi. Sehingga, harus disajikan secepatnya dengan uraian berdasarkan piramida terbalik dan mengandung unsur 5W+1H.
2. Intertektualitas
Sedangkan, intertekstualitas yang dimaksud adalah istilah dimana teks atau ungkapan dibentuk oleh teks yang hadir sebelumnya, saling menanggapi dan salah satu bagian dari teks tersebut mengantisipasi bagian lainnya.
Intertekstualitas dalam berita dapat dideteksi dari pengutipan narasumber, apakah secara langsung atau tidak langsung.
Ada beberapa berita yang bisa ditelusuri intertekstualitasnya. Pertama, berita mengenai LPI yang belum mendapatkan perijinan. Di Liputan 6 SCTV, berita ini disiarkan pada tanggal 6 Januari. Sedangkan, di Kompas berita ini juga dicetak pada 6 Januari.
Berita di Liputan 6 SCTV menyatakan bahwa:
(Voice Kapolresta Solo)Jadi ada satu persyaratan di sini yang belum dicukupi, yaitu surat rekomendasi dari induk persepakbolaan atau induk organisasi sepakbola, yaitu PSSI.
18 Septiawan Santana K. Op. Cit. Hal. 23.
19 Ibid.
186 (VO Narator)Panitia pelaksana LPI di Solo mengaku tidak bisa berbuat banyak dan menyerahkan sepenuhnya kepada penyelenggara LPI tingkat pusat di Jakarta.
(Voice Roy Saputra, Panitia Lokal LPO)Kalau persiapan dari Panpel sudah 60%
agar besok tanggal 8 penyelenggaraannya bisa lancar.
Sedangkan di Kompas Juru Bicara LPI Abi Hasantoso menyatakan bahwa:
Juru bicara LPI, Abi Hasantoso, menjelaskan, izin pertandingan memang belum dikeluarkan oleh Polresta Solo. Namun, proses perizinan masih terus berlangsung.
Panitia lokal di Solo masih menunggu jawaban dari Kapolresta Solo.
”Besok pagi (Kamis) kami ada pertemuan dengan Kapolresta Solo dan Kapolda Jawa Tengah. Pertemuan itu untuk menjelaskan tentang LPI kepada jajaran aparat keamanan,” ujar Abi.
Abi menambahi, pihak LPI optimistis kepolisian akan memberikan izin pertandingan perdana. LPI juga dimaksudkan untuk memperbaiki sepak bola nasional.
Kedua berita ini pada dasarnya berasal dari tanggal yang berbeda sama.
Akan tetapi, karena sifat siaran televisi yang aktual dan langsung, berita bisa langsung disiarkan hari itu juga. Sedangkan, Kompas harus menunggu sehari berikutnya untuk terbit, imbasnya berita pun muncul pada hari yang bersamaan.
Pada dasarnya, berita di Kompas mendahului berita di Liputan 6 SCTV. Berita di Kompas menyatakan bahwa panitia masih mengurus perizinan LPI dengan Polresta Solo. Sedangkan, berita di Liputan 6 SCTV mengkonfirmasi hal tersebut dengan kutipan wawancara dengan Kapolresta Solo yang menyatakan bahwa perizinan belum dapat dikeluarkan karena ada persyaratan yang belum dicukupi, yaitu surat rekomendasi dari yaitu PSSI.
Kedua berita ini, baik di Liputan 6 SCTV maupun Kompas memiliki karakteristik wacana yang mirip. Keduanya cenderung meninggikan posisi tawar LPI terhadap Polri atau PSSI. Caranya dengan pengambilan narasumber yang didominasi oleh pihak pro LPI. Di Liputan 6 SCTV selain Panitia Pelaksana LPI di Solo, beberapa warga juga dimintai pendapatnya tentang LPI. Sedangkan, berita di Kompas pada tanggal 6 Januari tersebut secara lebih ekstrim hanya
187 menggunakan narasumber pro LPI, seperti Panitia Pelaksana, Juru Bicara LPI dan Supporter Pasoepati yang berdemo menuntut LPI diberi izin.
Kedua, berita tersendatnya perijinan LPI akhirnya terselesaikan oleh izin yang akhirnya dikeluarkan oleh Polri. Liputan 6 SCTV dan METRO TV memberitakannya pada tanggal 6 Januari, sedangkan Jawa Pos tanggal 7 Januari.
Peristiwa ini terjadi pada hari yang sama, akan tetapi perbedaan deadline produksi berita membuat berita disiarkan pada hari yang berbeda.
Berita di Liputan 6 SCTV menyatakan bahwa:
(VO Kapolda Jawa Tengah)Kalau Jawa Tengah sudah mengantongi dari BOPI.
Tidak ada alasan untuk tidak mengijinkan. Jadi kira-kira induk organisasinya mengijinkan dan Polri akan mengeluarkan ijin keramaian dan akan mengamankan.
Terimakasih.
(VO Narator)Kepastian izin penyelenggaraan diperoleh setelah Polda Jawa Tengah melakukan koordinasi dengan Mabes Polri di Jakarta. Dalam koordinasi melalui telepon tersebut, pihak Mabes Polri sempat mempertanyakan rekomendasi dari induk olahraga sepakbola di Indonesia untuk LPI di Solo. Karena pihak PSSI pengurus cabang Solo sudah memberikan rekomendasi tersebut ke Polda Jawa Tengah. Pihak kepolisian pun menyatakan persoalan rekomendasi penyelenggaraan LPI di Solo sudah tidak ada masalah.
Berita di Metro TV menyatakan bahwa:
(VO Narator)Dalam jumpa pers di Gedung Kemenpora, Kabag Intelkam Mabes Polri, Komjen Pol. Wahyono mengakui bahwa Liga Primer Indonesia (LPI) adalah kompetisi sepak bola profesional. Dan bukan olahraga amatir yang harus mengantongi rekomendasi PSSI. Karena itu, Polri harus mengeksekusi rekomendasi Badan Olahraga Professional, seperti BOPI atas kompetisi yang diselenggarakan oleh LPI.
(VO Kabag Intelkam)Kalau yang bersifat amatir harus ada rekomendasi, tapi kalau yang bersifat professional itu harus ada ijin penyelenggaraan yang dikeluarkan oleh lembaga atau badan yang sudah ditunjuk oleh pemerintah berdasar peraturan menteri, yaitu BOPI. Manakala BOPI telah menetapkan keputusannya, memberikan perijinannya. Sudah barang tentu Polri harus memberikan ijin untuk memberikan
188 perlindungan dan pelayanan bagi masyarakat yang menyelenggarakan kegiatan ini.
Dalam bentuk implikasinya pada keramaian umum.
Sedangkan, di Jawa Pos 7 Januari dengan berita yang berjudul “Menpora-Polisi Abaikan PSSI” ditulis bahwa:
Tapi, kemarin Kadivhumas Mabes Polri Irjen Anton Bachrul Alam menegaskan bahwa izin tersebut sudah keluar. ’’Kami sudah mengeluarkan izin, tapi bukan izin penyelenggaraan,’’ katanya. Mantan Kapolda Jatim tersebut menjelaskan, dalam persoalan izin itu, kepolisian berwenang mengeluarkan izin keramaian umum. Izin tersebut dikeluarkan karena pertandingan perdana LPI itu bersinggungan dengan keramaian umum. Dari izin tersebut, polisi siap mengawal jalannya pertandingan. Untuk pengamanan, Mabes Polri memberikan kewenangan sepenuhnya ke jajaran Polda Jawa Tengah.
Perwira dengan dua bintang di pundak itu menjelaskan, izin keramaian tersebut diterbitkan setelah BOPI memberikan izin penyelenggaraan pertandingan. Anton menuturkan, pihaknya merujuk pada pasal 3 ayat 6 Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga Nomor Per-0342/Menpora/
IX/2009 tentang Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). Aturan itu berbunyi, BOPI bertugas memberikan izin penyelenggaraan pertandingan dan perlombaan olahraga profesional. Selain itu, kata dia, pertandingan perdana LPI tersebut sudah mendapat rekomendasi atau persetujuan dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Provinsi Jawa Tengah.
’’Semua rekomendasi sudah komplet. Jadi, kami sudah bisa mengeluarkan izin,’’ terang dia.
Dari berita di Liputan 6 SCTV dan Metro TV dikesankan bahwa Polri telah memberi restu kepada LPI. Ternyata ada hal-hal yang belum diberitakan dan kemudian ditulis oleh Jawapos. Hal tersebut adalah mengenaik perizinan, bahwa izin yang dikeluarkan bukanlah izin penyelenggaran LPI, melainkan izin keramaian umum. Dari segi konstruksi wacana, tentu bisa diprakirakan bahwa ada wacana yang ingin dikonstruksi oleh Liputan 6 SCTV dan Metro TV, yaitu