KONSTRUKSI PSSI DI LAYAR TELEVISI
(Analisis Wacana Kritis Pemberitaan
dan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS
KONSTRUKSI PSSI DI LAYAR TELEVISI
(Analisis Wacana Kritis Pemberitaan Konflik Liga Primer Indonesia (LPI) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)
di Pemberitaan SCTV dan Metro TV)
SKRIPSI
Disusun Oleh :
MUHAMMAD ZULFI IFANI 06/195310/SP/21465
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA
2011
KONSTRUKSI PSSI DI LAYAR TELEVISI
Liga Primer Indonesia (LPI)
i
KONSTRUKSI PSSI DI LAYAR TELEVISI
(Analisis Wacana Kritis Pemberitaan Konflik Liga Primer Indonesia (LPI) dan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) di Pemberitaan SCTV dan MetroTV)
SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Spesialisasi Ilmu Komunikasi
Disusun Oleh : Muhammad Zulfi Ifani
06/195310/SP/21465
Disetujui oleh:
Dosen Pembimbing
Wisnu Martha Adiputra, S.IP., M.Si.
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA
2011
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertanggungjawabkan dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Pada hari : Rabu Tanggal : 1 Juni 2011 Pukul : 11.00 – 12.15
Tempat : Ruang Sidang Jurusan Ilmu Komunikasi
Tim Penguji:
Penguji Utama/ Dosen Pembimbing ___________________________
Wisnu Martha Adiputra, S.IP., M.Si.
Penguji Samping I ___________________________
I Gusti Ngurah Putra, MA.
Penguji Samping II ___________________________
Drs. Kuskridho Ambardi, MA., Ph.D.
iii
HALAMAN PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
N a m a : Muhammad Zulfi Ifani No. Mahasiswa : 06/195310/SP/21465
Angkatan : 2006
Jurusan : Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, UGM
Judul skripsi:
KONSTRUKSI PSSI DI LAYAR TELEVISI
(Analisis Wacana Kritis Pemberitaan Konflik Liga Primer Indonesia (LPI) dan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) di Liputan 6 SCTV dan MetroTV)
Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi saya tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh pihak lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah itu dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Pernyataan ini saya buat dengan penuh tanggung jawab dan saya bersedia menerima sanksi apabila kemudian hari diketahui tidak benar.
Yogyakarta, 10 Oktober 2011
Yang membuat pernyataan Muhammad Zulfi Ifani
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?" (QS. Al Baqarah 214)
“Kita Manusia ini, hidup di dunia hanya sekali, untuk bertaruh:
Sesudah mati akan mendapat kebahagiaan atau kesengsaraan.”
(KH. Ahmad Dahlan)
"Sesuatu yang tidak kamu jaga dengan benar, cepat atau lambat pasti akan menghilang dari hidupmu." (MZI)
Untuk Bapak dan Mamak:
Terimakasih telah menjadi orang tua terhebat di dunia
Untuk Kakak dan Adik:
Lewati batas kemampuan diri kita, pasti bisa!
Dan untuk semua yang telah berperan mendewasakan saya.
Skripsi ini adalah bukti bahwa saya terus meningkatan diri.
v
UCAPAN TERIMA KASIH
Tidak terasa waktu terus berlalu, dan ternyata butuh waktu 1½ tahun untuk menyelesaikan tugas akhir ini. 5 tahun sudah saya tinggal di Jogja untuk menyelesaikan gelar sarjana. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah memberikan waktu dan kesempatan hingga hamba-Nya ini dapat menyelesaikan skripsi ini. Tak lupa pula, sholawat serta salam kepada junjungan kita semua Nabi Besar Muhammad SAW.
Ucapan terimakasih, penulis haturkan kepada:
1. Cak Drs. Budhy Komarul Zaman, M.A., selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada. Sekaligus segenap dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM, Mas Nunung, Mas Shulhan, Mas Wawan, Mas Budi Ir, Mas Budi Sayoga, Bang Abrar, Mas Widodo, Mbak Rajiyem, Mbak Yayuk, dan seluruh dosen/asisten dosen.
2. Mas Wisnu Martha Adiputra, selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak membantu penyelesaian skripsi ini. Tidak lupa juga Mas Wawan Kurniawan KY dan Bang Ana Nadhya Abrar, dosen pembimbing skripsi terdahulu yang telah memberitahu saya arti kerja keras dan fokus demi skripsi.
3. Kedua orang tercinta, ayahanda Tahrir Adnan, Ibunda Robikah, serta kakak- adikku Zulfa Hananiawati dan Kaukab Rahmaputra. “Ternyata skripsi memang berat dan butuh ekstra fokus agar bisa selesai pada waktunya.”
4. Sahabat-sahabat saya selama 4 tahun terakhir, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, baik di Komisariat UGM dan di Cabang Bulaksumur-Karangmalang. Immawan Ari Hendra, Yusro, Wahyu, Wisda, Ozy, Fauzan, Priyo, Ulum, Faris (terus berproses!), Malik, Irfa, Chanief, Irawan, Shony, dan Cahyo. Immawati Intarti, Qolbi, Luluk, Lya, Imi, Ana, Dimi, Davina, Yuar, Hening,. Dan immawan/ti lain yang tidak bisa saya sebut satu persatu. “Terimakasih atas kebersamaannya selama ini.
Kemanapun kita pergi setelah dari kampus, jangan pernah lupakan ikatan ini...”
vi 5. Keluarga Besar Muhammadiyah di mana pun berada. Pak Amien Rais (sosok idola bagi saya), Buya Syafi’i Ma’arif, Ust. Yunahar Ilyas, Ust. Fathurrahman Kamal, Ust. Muhsin Hariyanto (logika-logika anda mengagumkan), Ust. Abdul Kholiq (semangat yang luar biasa di usia senja), Mas Adi Acep (semangat dan inspirasinya luar biasa!),
6. Keluarga Besar Pondok Pesantren (atau Padepokan) Budi Mulia, khususnya santri Angkatan X (2007-2010). Salam erat buat Mang Udin, Mas Imam Kabir, Mas Hendro, Mas Badik, Bang Zul, Mas Ardian, Mas Muzrin, Mas Agus, Mas Adib, Mas Bagus, Mas Andrian, Mas Imam Mus, Afsal, Ganjar, Miftah, Iko, Nunung, Kris, Alfian, Furqi, Cahyadi (Selamat menikah!), dan Afi. “Untuk sebuah kebersamaan, ternyata 3 tahun adalah waktu yang terlalu singkat.”
7. Kawan-kawan seperjuangan di Komunikasi UGM, khususnya angkatan 2006.
Kurnia Dhani (thanks buat kebersamaanya di Eagle Awards), Adrian Jonathan (calon professor film), Iim (segera pulang ke Jogja, boy. Selesaikan skripsi baru kembali ke Jakarta lagi), Koyah (bingung antara jadi artis India atau dosen-kah?), Fathur (artis dan akademisi multitalent), Mayang (tempat berdiskusi tentang Komunikasi dan Islam), Bang Dendi (salah satu kakak terbaik yang pernah kukenal. Ayo Bang, segera lulus!), Mas Danang (segera lulus juga mas!), Mbak Ratih (6 bulan bersama untuk Multikulturalisme), dan kawan-kawan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
8. Rekan-rekan di Keluarga Remaja Islam Magelang (Karisma), organisasi tempat saya mengabdi di Magelang selama 7 tahun terakhir. Terimakasih buat Afeb, Safari, Wigati, Avis, Mbak Uzi, Mbak Sittati, Mas Fais, Radian, Deva, Apit, Emi, dan kawan-kawan lain. “Kalian semua mengajari saya akan arti amanah dan berjuang, baik dalam kondisi banyak maupun sedikit. QS Muhammad:7 adalah spirit yang tidak akan pernah padam.”
9. Tim KKN Unit 97 tahun 2009 di Sambelia, Lombok Timur, NTB. Tim KKN yang luar biasa, yang rela backpacking selama 2 hari dari Jogja sampai ke Sambelia. Terimakasih kepada Mas Shulhan (our greatest DPL), Frenkie (Pak
vii Kormanit), Gempil, Kiting, Gareng, Bayu, Adel, Akbar, Henry, Ipung, Memy (penduduk lokal), Paul (yang akhirnya dapat pacar dari lokasi KKN), Tatang, Theyeng, Reta, Ria, Laras, Meuthia (Sukses buat Asal Usul-nya), Anne, Ayik, Ita, dan Mbak Tiwi. “KKN Wisata yang kita gagas memang benar-benar wisata. Pantai-pantai di Lombok memang luar biasa indah!”
10. Segenap keluarga besar Eagle Awards Metro TV 2011. Keluarga besar yang memang penuh talenta luar biasa. Para panitia Eka, Mas Agus, Mas Jastis, Mas Fajar. Kawan-kawan finalis lainnya: Belo dengan Mutiara Pesisir Pantai-nya, Afif dan Muthe dengan Presiden Republik Abu-abu-nya, Jamal dan Bang Ayi dengan Garamku Tak Asin Lagi, lalu Robert dan David dengan Hutanku Sekolahku. Para tutor, Bang Lianto, Bang John Bosco, Mas Sastha Sunu, Mas Abduh Aziz, dll.
Juga keluarga besar subyek kami, Bapa Sico Ximenes beserta keluarga besar di Naibonat. 3 bulan bersama terasa amat sebentar untuk berkarya. Karena memang berkarya sebenarnya adalah selepas masa karantina Eagle Awards.
11. Kawan-kawan almamater sekolah di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam (khususnya MTs angkatan 2003 – Himsastra 731), SMA Negeri I Magelang, SD Muhammadiyah Kupang. Juga kawan-kawan satu almamater organisasi di OSIS SMA N I Magelang, Dewan Islam Sekolah, Jurnalistik Sibema, Jaringan Rohis As-Shofwah Magelang, Pelajar Islam Indonesia, BPPM Balairung, Jamaah Muslim Fisipol, dan Jamaah Shalahuddin.
12. Dan semua kerabat, rekan, handai taulan yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu saya menyelesaikan gelar sarjana. Terimakasih!
Obrigado! Jazakallah khoir!
viii
DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Halaman Pengesahan ii
Halaman Pernyataan iii
Halaman Persembahan iv
Ucapan Terimakasih v
Daftar Isi vii
Daftar Bagan, Gambar dan Tabel xi
BAB I
Pendahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 4
C. Tujuan Penelitian 5
D. Manfaat Penelitian 5
E. Kerangka Pemikiran
1. Jurnalisme Televisi 6
2. Proses Penyiaran Berita Televisi 9
3. Media dan Konstruksi Berita 11
4. Pendekatan Ekonomi-Politik Media 16
F. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian 19
2. Obyek Penelitian 20
3. Analisis Data 21
BAB II
Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough
dan Sepakbola Dalam Kajian Media 25
ix
A. Wacana, Ideologi dan Hegemoni dalam Berita 25
1. Wacana 25
2. Ideologi 28
3. Hegemoni 29
4. Berita dalam Belenggu Wacana, Ideologi dan Hegemoni 31
B. Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough 34
1. Biografi Norman Fairclough 34
2. Model Analisis Wacana Norman Fairclough 36
3. Perbandingan Model Analisis Wacana 40
C. Sepakbola dalam Kajian Media 42
1. Sejarah Sepakbola 42
2. Sepakbola Indonesia: Jalan Perlawanan dan Kontroversi 44
3. Sepakbola dan Industri Media 50
4. Pemberitaan Sepakbola di Indonesia 54
BAB III
Liputan SCTV, Metro TV dan Liga Primer Indonesia 57
A. Liputan 6 SCTV : Aktual, Tajam Dan Terpercaya 59
1. Sejarah dan Dinamika 59
2. Visi dan Misi 61
3. Slogan dan Logo 62
4. Program Berita yang Diproduksi 59
5. Struktur Redaksi 60
B. Metro TV: Knowledge to Elevate 65
1. Sejarah dan Dinamika 65
2. Visi dan Misi 66
3. Slogan dan Logo 67
4. Program Berita yang Diproduksi 67
5. Struktur Redaksi 68
x
C. Liga Primer Indonesia: Change The Game! 69
1. Sejarah dan Dinamika 69
2. Klub-klub Peserta 70
3. Masa Depan LPI 76
BAB IV
Analisis Berita Liputan 6 SCTV dan Metro TV 77
A. Analisis Teks 82
1. Liputan 6 SCTV 82
2. Metro TV 141
B. Analisis Praktik Diskursif (Discourse Practice) 174
1. Liputan 6 SCTV 174
2. Metro TV 177
C. Analisis Praktik Sosiokultural (Sociocultural Practice) 180
D. Analisis Order of Discourse 182
1. Genre 183
2. Intertekstualitas 185
BAB V
Penutup 192
A. Kesimpulan: Ketika PSSI Jadi Musuh Bersama 193
B. Saran: Media Adalah Bagian dari Resolusi Konflik 205
Daftar Pustaka 207
xi
DAFTAR BAGAN, GAMBAR & TABEL
Bagan 01. Proses Penyiaran Berita 9
Bagan 02. Pemberitaan Model McQuail 11
Bagan 03. Hubungan Antara Bahasa, Realitas Dan Budaya 13 Bagan 04. Skema Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough 21
Bagan 05. Berita Sebagai Konstruksi Realitas 32
Bagan 06. Penjabaran Kerangka Analisis Norman Fairclough 38
Bagan 07. Survey Menonton Olahraga 52
Gambar 01. Logo SCTV 62
Gambar 02. Logo Liputan 6 SCTV 63
Gambar 03. Logo Metro TV 67
Tabel 01. Nilai Berita 6
Tabel 02. Perbedaan Jurnalisme Cetak dan Penyiaran 8
Tabel 03. Unsur-unsur dalam Analisis Teks 22
Tabel 04. Kerangka Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough 24, 37
Tabel 05. Perbandingan Model Kerangka Analisis 41
Tabel 06. Prestasi PSSI di Turnamen 48
Tabel 07. Liga Sepakbola di Layar Televisi 52
Tabel 08. Program Berita Olahraga di Layar Televisi 55
Tabel 09. Program Berita di SCTV 63
Tabel 10. Program Berita di Metro TV 67
Tabel 11. Klub-klub Peserta LPI 71
Tabel 12. Daftar Berita tentang LPI di Liputan 6 SCTV 77
Tabel 13. Daftar Berita tentang LPI di Metro TV 80
Tabel 14. Kesimpulan Analisis Berita di SCTV 194
Tabel 14. Kesimpulan Analisis Berita di Metro TV 199
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Penghujung tahun 2010 lalu ditandai dengan euforia besar-besaran masyarakat atas sepakbola nasional. Langkah Timnas Indonesia di Piala AFF yang begitu gagah, meski akhirnya tumbang di partai final membuat masyarakat begitu antusias memperhatikan jejak langkah persepakbolaan Indonesia. Di antara euforia itu, ada langkah monumental lainnya dengan hadirnya Liga Primer Indonesia (LPI) sebagai liga alternatif disamping Liga Super Indonesia (Indonesian Super League, ISL) yang diselenggarakan oleh PSSI.
Sayang, LPI yang diharapkan menjadi lokomotif liga perubahan dengan slogannya Change The Game! justru harus berhadapan vis-a-vis dengan PSSI yang dipimpin oleh Nurdin Halid. Tokoh yang terakhir ini bisa jadi merupakan musuh nomor satu masyarakat Indonesia saat ini. Berbagai kritik, hujatan sampai cemoohan ditujukan padanya dengan satu tujuan: mundur dari kursi Ketua Umum PSSI. Namun, semua itu baginya hanya angin lalu. Seperti dikutip DetikSport.com1, "Saya tidak akan mundur karena tekanan. Saya tidak akan mundur karena menghargai demokrasi dan tatanan PSSI. Jika kita gagal juara, itu very very unlucky,”
Ada berbagai alasan yang bisa dirangkum mengapa berbagai suara kelompok masyarakat memintanya untuk mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI.
Pertama, adalah statusnya sebagai mantan narapidana korupsi. Status ini sempat digugat oleh FIFA, akan tetapi tidak dihiraukan oleh PSSI. Bahkan selama beberapa tahun ia sempat memimpin PSSI dari balik jeruji penjara. Kedua, prestasi Timnas dan Liga Indonesia cenderung stagnan dalam keterpurukan sejak dipimpin oleh Nurdin (dari 17 November 2003 – saat ini). Timnas tetap terpuruk di pentas internasional, sedang penyelenggaraan liga kacau balau. Ketiga, berbagai saran dan kritik yang selama ini ditujukan kepada PSSI sebagian besar tidak pernah
1 Hargai Demokrasi, Nurdin Halid Tolak Mundur. Diakses pada 25 April 2011. Terarsip di
http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2010/12/29/232000/1535546/76/hargai-demokrasi-nurdin- halid-tolak-mundur
2 diperhatikan, semisal tujuh butir rekomendasi Kongres Sepakbola Nasional di Malang 30-31 Maret 2010. Padahal salah satu butir paling penting dari rekomendasinya adalah reformasi dan restrukturisasi organisasi. Maknanya sangat jelas, harus ada perubahan kepemimpinan di tubuh PSSI. Sayang, poin yang amat penting ini berlalu saja tanpa implementasi.
Berbagai lini media digunakan untuk menekan Nurdin Halid dan jajaran PSSInya. Kritik di media cetak maupun elektronik sudah dikerahkan. Di jejaring sosial Facebook, tidak terhitung lagi ada berapa grup yang menamakan diri
“Nurdin Halid Turun” bahkan di twitter topik #NurdinTurun sempat jadi world trending topic. Berbagai bukti ini menjelaskan betapa Nurdin Halid beserta jajarannya telah jadi musuh di negeri sendiri.
Angin perubahan non-struktural lalu muncul dari Arifin Panigoro, seorang konglomerat yang juga menggemari sepakbola. Sebelumnya, bersama Grup Bisnis Medco Foundation, Arifin Panigoro sejak tahun 2005 sudah bekerjasama dengan PSSI dengan menyelenggarakan Liga Medco U-16 dan U-17. Kekecewaan terhadap penyelenggaraan Liga Super Indonesia (Indonesian Super League, ISL) oleh PSSI menjadi hulu bergulirnya Liga Primer Indonesia. ISL dianggap tidak pernah berkembang ke arah profesional, khususnya dalam pendanaan. Sudah sejak lama penyelenggaraan klub di ISL menggunakan dana APBD yang jumlahnya bisa mencapai puluhan miliar. Hal ini jelas bertentangan dengan Permendagri No.
58/2005 tentang pengelolaan keuangan. Dimana daerah dilarang menggunakan APBD untuk kegiatan sepak bola profesional. Faktanya, hampir semua klub di ISL masih bergantung pada APBD. Semisal, Persija Jakarta pada musim 2010 yang diberi dana mencapai 40 miliar dari Pemda DKI, belum termasuk belasan klub ISL lainnya.
Tidak selesai di masalah APBD, perangkat pertandingan ISL pun juga amburadul. Kerap kali wasit berat sebelah dalam memutuskan, penonton pun tidak bisa diatur sehingga kerusuhan sering terjadi. Terakhir, ada kerusuhan antar suporter Persib vs Arema FC (Minggu, 23/01/2011). Carut marut itulah yang membuat kubu Arifin Panigoro bulat untuk menyelenggarakan kompetisi alternatif di luar ISL.
3 Akan tetapi, bukan berarti LPI berjalan dengan mudah. PSSI dengan berbagai cara menentang keberadaan LPI. Pertama, dengan cara memberi sanksi semua pihak yang terlibat di dalam LPI, pemain, wasit, pelatih, agen, dan pengurus klub tanpa terkecuali. Pemain asing misalnya, akan dicabut ijin bermainnya, pemain lokal ditutup peluangnya untuk timnas dan pelatih pun akan dicabut lisensinya. Kedua, klub-klub ISL yang memutuskan berlaga di LPI pun didegradasi ke divisi I (divisi kasta ketiga di bawah ISL dan divisi utama), sampai saat ini ada tiga klub ISL yang resmi bermain ke LPI yaitu Persebaya (1927), Persema Malang dan Persibo Bojonegoro. Dan ketiga, PSSI menggunakan peringatan resmi dari FIFA untuk menekan LPI. Menurut PSSI, FIFA yang akan memberikan hukuman bila LPI terus diselenggarakan. Resiko terberatnya adalah Timnas Indonesia akan dilarang mengikuti agenda sepakbola internasional.
“Perang” antara Penyelenggara LPI vs PSSI inilah yang kemudian menjadi headline di berbagai media. Sesuai dengan dogma klasik dunia pemberitaan “bad news is good news”, media lalu mengambil keuntungan dari kontroversi ini untuk meningkatkan audiens. Tentu tidak sebatas keuntungan ekonomi semata. Lebih jauh dari itu, media punya peran yang strategis untuk membentuk wacana di tengah masyarakat. Wacana yang dimaksud, diyakini bukan sekedar komunikasi murni tetapi merupakan strategi dalam berkomunikasi. Artinya, wacana tidak lagi digunakan untuk mencapai kebenaran semata, melainkan lebih dari itu untuk merebut kekuasaan.
Selain itu, harus diingat kembali bahwa setiap usaha dari media untuk menceritakan kembali sebuah realitas dalam media adalah usaha untuk mengkonstruksi realitas. Dengan demikian, isi media tidak lain bukanlah realitas itu sendiri, melainkan adalah realitas yang telah dikonstruksikan (constructed reality) dalam bentuk wacana2.
Dari pengamatan sekilas yang peneliti lihat misalnya, pemberitaan mengenai LPI tidak merata diangkat oleh televisi. Tidak semua televisi melihat LPI sebagai kejadian yang harus diberitakan (memiliki nilai berita). Fokus pada dua stasiun televisi berita, MetroTV dan TvOne, memperlihatkan hal yang
2 Ibnu Hamad. 2004. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta: Granit. Hal. 11-12.
4 kontras. MetroTV amat gencar memberitakan dan memberikan opini mengenai LPI. Terlihat sekali pemihakan yang dilakukan oleh MetroTV. Bisa jadi ini membenarkan pendapat umum bahwa Metro TV memang kritis terhadap apa saja yang berbau pemerintahan dan status-quo.
Sedangkan TvOne, berbalik 180º, nyaris tidak memberitakan LPI. Secara sederhana, ini memperlihatkan bagaimana ekonomi-politik pemberitaan masuk sampai ke ranah sepakbola sekalipun. Hal yang mencengangkan, nilai-nilai sportifitas yang seharusnya menjadi spirit dari olahraga, justru dikalahkan oleh politisasi kepentingan.
Oleh karena itu, peneliti merasa perlu untuk mendalami kontroversi yang makin memanas ini, khususnya di layar televisi – bukan di media cetak. Dan pada penelitian ini, stasiun televisi yang dipilih adalah MetroTV dan Liputan 6 SCTV.
Dari hasil penelusuran cuplikan berita, MetroTV & Liputan 6 SCTV ternyata cukup intens memberitakan. Gencarnya pemberitaan ini tentu tidak terlepas dari indikasi misi khusus MetroTV & Liputan 6 SCTV atas peristiwa ini.
Penelitian ini akan menggunakan analisis wacana kritis yang dikembangkan oleh Norman Fairclough. Mengutip pernyataan Deddy N. Hidayat3, analisis ini akan mempelajari bagaimana kekuasaan disalahgunakan atau bagaimana dominasi serta ketidakadilan dijalankan dan direproduksi melalui teks. Termasuk di dalamnya nanti akan dipelajari pula bagaimana produksi wacana berlangsung dan relasi kuasa apa saja yang ada di belakangnya.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
“Bagaimana Liputan 6 SCTV dan Metro TV Mengkonstruksikan Pemberitaan Konflik Liga Primer Indonesia (LPI) dan PSSI pada Bulan Januari 2011?”
3 Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKIS. Hal. xiii.
5 C. TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui konstruksi pemberitaan yang diwacanakan oleh MetroTV dan Liputan 6 SCTV tentang konflik LPI dan PSSI.
2. Mengetahui latarbelakang dari konstruksi tertentu pada pemberitaan Liputan 6 SCTV dan Metro TV tentang LPI.
3. Mengkaji secara kritis, bahwa netralitas media terhadap suatu debat publik tidak akan pernah terjadi.
D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Akademis
Secara akademis, penelitian skripsi ini diharapkan dapat memperkaya penelitian berbasis metode analisis wacana kritis, khususnya metode yang dikembangkan oleh Norman Fairclough. Selain itu, perspektif ekonomi-politik media juga akan diangkat untuk melihat bagaimana produksi pesan media di tengah arus besar determinasi ekonomi-politik media.
2. Manfaat Praktis
Sedangkan secara praktis penelitian ini memberikan pemahaman baru mengenai bagaimana melihat lebih dalam terhadap siaran media televisi. Bahwa media akan secara sengaja memiliki pendekatan tertentu terhadap isu-isu besar yang berpotensi kontroversial.
E. KERANGKA PEMIKIRAN 1. Jurnalisme Televisi
Jurnalisme atau jurnalistik berasal dari kata journal, artinya catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari, yang bisa juga diartikan sebagai surat kabar.
Dari akar kata itu, McDougall4 mendefinisikan jurnalisme sebagai kegiatan menghimpun berita, mencari fakta dan melaporkan peristiwa. Dalam konteks makro, jurnalisme adalah hal yang amat penting bagi negara demokratis manapun.
4 Hikmat Kusumaningrat & Purnama Kusumaningrat. 2006. Jurnalistik: Teori dan Praktik. Bandung:
Remaja Rosdakarya. Hal. 15.
6 Definisi jurnalisme lain, menurut A. Muis5 tidak jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan unsur media massa, penulisan berita dan waktu tertentu (aktualitas). Seorang jurnalis memiliki dua tugas pokok: pertama, melaporkan berita dan kedua, membuat interpretasi dan memberikan pendapat yang didasarkan pada beritanya.
Seperti lazimnya definisi-definisi lainnya, definisi jurnalisme amat beragam.
Fraser Bond6 menyatakan bahwa perbedaan itu muncul karena adanya pandangan yang berbeda. Bagi yang suka mengolok-olok, jurnalistik tidaklah lebih dari suatu usaha dagang berita. Sedangkan bagi mereka yang idealis, jurnalisme adalah tanggungjawab dan previlege (hak pribadi) yang mulia. Kedua pendapat bertetantangan ini sebenarnya menghendaki adanya kebebasan dalam jurnalisme.
Yang pertama berbunyi, “berikanlah kepada publik apa yang dikehendakinya”.
Sedang yang kedua berbunyi, “berikanlah kepada publik kebenaran yang harus dimilikinya”.
Jurnalisme yang bertumpu pada berita, tentunya berujung pada pemahaman bahwa tidak semua peristiwa bisa dan pantas untuk diberitakan. Ada kriteria- kriteria khusus yang dapat digunakan untuk mengukur nilai berita. Kriteria nilai berita misalnya dirumuskan oleh Hariss, Leiter dan Johnson7:
Nilai Berita Keterangan
Konflik Peristiwa yang berhubungan dengan pertentangan antar manusia, bangsa dan negara perlu dilaporkan kepada khalayak.
Dengan begitu khalayak akan dapat mengambil sikap.
Kemajuan Peristiwa tentang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi senantiasa perlu dilaporkan kepada khalayak. Dengan demikian khalayak mengetahui kemajuan peradaban manusia.
Penting Peristiwa yang penting bagi khalayak dalam kehidupan sehari- hari perlu segera dilaporkan kepada khalayak.
Dekat Peristiwa yang memiliki kedekatan emosi dan jarak geografis
5 Askurifai Baksin. 2006. Jurnalistik Televisi: Teori dan Praktik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Hal. 47.
6 Ibid. Hal. 48.
7 Ana Nadhya Abrar. 2005. Penulisan Berita. Yogyakarta: Univ. Atma Jaya Yogyakarta. Hal. 3-5
7 dengan khalayak perlu segera dilaporkan. Makin dekat satu lokasi peristiwa dengan tempat khalayak, informasinya akan makin disukai khalayak.
Aktual Peristiwa yang baru saja terjadi perlu segera dilaporkan kepada khalayak. Ukuran aktual sebuah surat kabar biasanya sampai 2 hari. Artinya, peristiwa yang terjadi 2 hari lalu masih aktual untuk diberitakan hari ini.
Unik Peristiwa yang unik, jarang/tidak pernah terjadi, perlu segera diberitakan kepada khalayak. (Misal, gajah bermain bola.) Manusiawi Peristiwa yang bisa menyentuh emosi khalayak, seperti bisa
membuat menangis, terharu, tertawa, dsb, perlu segera dilaporkan. Sehingga khalayak dapat tergerak dan meningkatkan sense kemanusiaannya.
Berpengaruh Peristiwa yaang berpengaruh terhadap kehidupan orang banyak perlu segera dilaporkan kepada khalayak. (Misal, kenaikan harga beras dan pupuk)
Jurnalisme adalah satu kesatuan. Hanya saja, penerapannya dalam karya terbentang dari media cetak sampai elektronik. Di layar televisi, ada perbedaan yang signifikan bila dibandingkan dengan media cetak. Utamanya sifatnya yang
“segera”, menjadikan televisi mampu mendekatkan peristiwa dan tempat kejadian dengan para khalayaknya8. Bencana Merapi beberapa waktu lalu misalnya, laporan berita dari televisi begitu ditunggu karena sifatnya yang audio-visual.
Santana menambahkan bahwa pada surat kabar sebagian isi berita disusun oleh wartawan lalu diteruskan oleh editor. Sedangkan pada televisi, para editor akan menentukan kemana saja wartawannya akan dikirimkan. Oleh beberapa akademisi, hal ini menyebabkan berita televisi dinilai kurang memiliki orisinalitas9.
Adapun beberapa poin perbedaan antara jurnalisme cetak dan penyiaran adalah sebagai berikut10:
8 Askurifai Baksin. Op.Cit. Hal. 59-60.
9 Septiawan K. Santana. 2005. Jurnalisme Kontemporer. Jakarta: Yayasan Obor. Hal. 114.
10 Askurifai Baksin. Op.Cit. Hal. 60-61.
8 No
Media Cetak/Periodik
Media Elektronik/Penyiaran
Radio Televisi
1. Isi pesan tercetak, dapat dibaca kapan saja dan dimana saja.
Isi pesan audio, hanya dapat didengar sekilas sewaktu siaran.
Isi pesan audio-visual, hanya dapat didengar dan dilihat sekilas sewaktu siaran.
2. Isi pesan dapat dibaca berulang-ulang.
Isi pesan tidak dapat diulang.
Isi pesan tidak dapat diulang.
3. Hanya dapat
menyajikan peristiwa yang telah terjadi.
Dapat menyajikan peristiwa yang sedang terjadi.
Dapat menyajikan peristiwa yang sedang terjadi.
4. Tidak dapat menyajikan pendapat narasumber secara orisinal.
Dapat menyajikan pendapat narasumber (audio) secara orisinal.
Dapat menyajikan pendapat narasumber (audio-visual) secara orisinal.
5. Pesan dibatasi halaman dan kolom.
Pesan dibatasi waktu. Pesan dibatasi waktu.
6. Makna berkala dibatasi oleh hari, minggu dan bulan.
Makna berkala dibatasi oleh detik, menit dan jam.
Makna berkala dibatasi oleh detik, menit dan jam.
7. Distribusi melalui transportasi darat/laut/udara.
Distribusi melalui pemancaran/transmisi.
Distribusi melalui pemancaran/transmisi.
8. Bahasa yang digunakan formal.
Bahasa yang digunakan formal dan non formal (bahasa tutur).
Bahasa yang digunakan formal dan non formal (bahasa tutur).
9. Kalimat dapat panjang dan terperinci.
Kalimat singkat, padat, jelas dan sederhana.
Kalimat singkat, padat, jelas dan sederhana.
9 Ashadi Siregar11 pada akhirnya merekomendasikan bahwa jurnalisme televisi secara teknis perlu menyesuaikan diri dengan karakter medianya. Dari sini sudah terformat kaidah kerja mendasar yaitu menjadikan fakta sosial sebagai tontonan.
Karenanya karakter yang khas dari jurnalisme televisi adalah memungut fakta sosial yang "ditulis" dengan kamera, dan menulis narasi kata untuk telinga.
2. Proses Penyiaran Berita Televisi
Proses suatu peristiwa dari sebuah realitas hingga menjadi sebuah berita, merupakan proses yang panjang. Proses itu bermula dari redaktur yang menugaskan reporter untuk meliput, kemudian reporter mencari dan mengumpulkan hal-hal yang diperlukan. Setelah materi terhimpun, masuklah ke proses penulisan dan penyuntingan (editing). Saat prosesi penyuntingan dilakukan, materi berita juga akan diperkaya dengan data-data lain12.
Gambaran dari proses tersebut, menurut Setyobudi adalah sebagai berikut13: Bagian produksi Post Production Tape Library ON AIR
Bagian Pemberitaan (news department)
Field Production Editing
Pada dasarnya, menurut Weiner14 hakikat dari proses penyiaran berita televisi, dalam hal ini jurnalisme, adalah keseluruhan proses dari mulai pengumpulan fakta, penulisan, penyuntingan sampai penyiaran berita. Pada tahap pengumpulan fakta, lazimnya ada empat metode yang dapat digunakan. Yaitu:
observasi, wawancara, konferensi pers dan rilis pers. Fakta yang dikumpulkan lalu ditulis ke dalam berita.
11 Ashadi Siregar. Trend Jurnalisme Televisi. Disampaikan pada Seminar Dialog Liputan 6 SCTV.
Yogyakarta, 5 April 1997.
12 Hikmat Kusumaningrat & Purnama Kusumaningrat. Op.Cit. Hal. 71.
13 Ciptono Setyobudi. 2006. Teknologi Broadcasting TV. Yogyakarta: Graha Ilmu. Hal. 43.
14 Ana Nadhya Abrar. Op.Cit. Hal. 1.
10 Kemudian, berita menurut Charnley adalah laporan teratur yang berisikan fakta atau opini yang menarik dan penting bagi sejumlah besar orang15. Sebagai sebuah produk, berita bahkan merupakan pusat dari segala aktivitas jurnalisme itu sendiri16.
Pada proses penulisan berita ini ada dua unsur yang sangat penting, yaitu batas pemberitaan dan layak berita17. Batas pemberitaan yang dimaksud adalah aturan-aturan yang membatasi dimana suatu berita boleh atau tidak untuk diberitakan. Di Indonesia, ada tiga batasan yang digunakan, yaitu UU, kode etik jurnalistik dan code of conduct yang dimiliki oleh media. Batasan bukan berarti mengekang kebebasan media, akan tetapi justru karena itu media tetap eksis sebagai kekuatan keempat dari negara (fourth estate).
Sedangkan, layak berita yang dimaksud adalah gabungan antara nilai berita dan tujuan berita. Nilai berita merupakan titik awal untuk meliput sebuah berita.
Lalu, tujuan berita menjadi filter yang menentukan apakah suatu peristiwa yang memiliki nilai berita, pantas atau tidak untuk diberitakan. Pada proses layak berita ini, wartawan menyerahkan berita yang telah ditulisnya kepada redaktur. Redaktur- lah yang memberi keputusan disiarkan atau tidak. Fungsi redaktur untuk menyelaraskan suatu berita dengan tujuan media inilah yang disebut dengan gatekeeping model.
Kurt Lewin yang pertama memperkenalkan istilah ini menyatakan bahwa fungsi gatekeeper tidak ubahnya seorang ibu atau istri yang menentukan makanan apa yang layak untuk disajikan. Gatekeeper posisinya amat strategis karena dapat mengkontrol pengetahuan masyarakat, dengan cara mendorong suatu sisi pemberitaan dan menghilangkan sisi yang lainnya18.
Runtutan penjelasan ini senada dengan model pemberitaan yang digambarkan oleh McQuail19:
15 Hikmat Kusumaningrat & Purnama Kusumaningrat. Op.Cit. Hal. 39.
16 Dennis McQuail. 1994. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Erlangga. Hal. 189.
17 Ana Nadhya Abrar. Op.Cit. Hal. 19.
18 “Gatekeeping”. Diakses pada 28 Januari 2011. Terarsip di
http://www.utwente.nl/cw/theorieenoverzicht/Theory%20clusters/Media%2C%20Culture%20and%20Society/
gatekeeping.doc/
19 Dennis McQuail. 1994. Op.Cit. Hal. 194.
11 Peristiwa Kriteria Berita
(Nilai Berita)
Laporan Berita (Penulisan Berita)
Minat Berita (Proses Gatekeeping)
3. Media dan Konstruksi Berita
Analisis wacana kritis yang dikembangkan di dunia Ilmu Komunikasi, berasal dari pemahaman akan paradigma kritis. Paradigma ini terutama bersumber dari pemikiran yang berkembang di Frankfurt School. Ketika madzhab ini berkembang di Frankfurt, di Jerman tengah berlangsung propaganda besar-besaran akan kehebatan Hitler. Media lalu menjadi alat pemerintah untuk mengontrol publik, menjadi sarana pemerintah untuk mengobarkan semangat perang. Dari sinilah lalu muncul pemikiran bahwa media bukanlah entitas yang netral, tetapi bisa dikuasai oleh kelompok dominan20.
Paradigma yang dimaksudkan di sini adalah sebuah cara pandang fundamental tentang pokok persoalan dalam suatu cabang ilmu pengetahuan. Ia membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, apa yang harus dijawab dan aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang diperoleh21. Atau menurut Servaes, paradigma adalah frame of meaning. Selain paradigma, biasa dikenal juga istilah yang serupa seperti pendekatan, perspektif, metode atau teori22.
Paradigma ini meyakini bahwa media adalah sarana dari kelompok dominan untuk mengontrol dan bahkan memarjinalkan kelompok yang tidak dominan. Di sini, ada beberapa pertanyaan mendasar tentang media dalam kerangka berpikir paradigma kritis:
1. Siapa yang mengontrol media?
2. Kenapa ia mengontrol?
3. Keuntungan apa yang bisa diambil dari kontrol tersebut?
4. Kelompok mana yang tidak dominan dan menjadi obyek dari pengontrolan?
20 Eriyanto. Op.Cit. Hal. 23.
21 St. Guntur Narwaya. 2006. Matinya Ilmu Komunikasi. Yogyakarta: Resist Book. Halaman 93.
22 Engkus Kuswarno. “Perubahan Paradigma Penelitian Komunikasi”. Dalam Deddy Mulyana dan Solatun (ed). Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya. Halaman 414.
12 Dominasi dalam hal ini menurut Ben Agger23 sifatnya adalah struktural.
Yakni, kehidupan masyarakat sehari-hari dipengaruhi oleh institusi sosial yang lebih makro seperti ekonomi, politik, budaya, diskursus, gender dan ras. Nantinya, paradigma kritis mengantar masyarakat untuk mengungkap dan memahami akar global dan rasional dari dominasi yang mereka alami selama ini. Dan memang ciri utama dari paradigma kritis adalah sikapnya yang selalu curiga dan mempertanyakan kondisi masyarakat dewasa ini.
Sindhunata menambahkan bahwa aliran ini tidak bisa dilepaskan dari keprihatinan akan akumulasi dan kapitalisme modal yang besar, yang makin hari makin mempengaruhi kehidupan bermasyarakat24. Modal inilah yang kini menggerakkan dan menentukan masyarakat.
Pemahaman akan paradigma kritis ini kemudian masuk ke berita sebagai produk dari media. Berita yang dimaknai sebagai “hasil rekonstruksi tertulis dari realitas sosial yang terdapat dalam kehidupan25”, lalu dilihat secara kritis. Realitas tidak serta merta dilihat sebagai seperangkat fakta, melainkan hasil dari pandangan tertentu dari pembentukan realitas26. Prinsipnya utamanya adalah setiap hasil dari proses rekonstruksi realitas adalah realitas yang telah dikonstruksikan (constructed reality), dalam bentuk cerita atau wacana yang bermakna27.
Oleh karena itu, menurut Stuart Hall, paradigma kritis tidak hanya mengubah pandangan mengenai realitas yang dipadangi alamiah semata. Tetapi juga berargumentasi bahwa media adalah kunci utama dari pertarungan kekuasaan tersebut28.
Dalam proses pembentukan realitas tersebut, Hall lalu menggaris bawahi 2 titik tekan utama. Pertama, adalah bahasa. Sebagaimana yang dipahami oleh strukturalis, bahasa merupakan sistem penandaan. Suatu realitas dapat ditandakan
23 Ben Agger. 2008. Teori Sosial Kritis: Kritik, Penerapan dan Implikasinya. Yogyakarta: Kreasi Wacana. Hal. 8.
24 Eriyanto. Op. Cit. Halaman 24.
25 Ana Nadhya Abrar. Op.Cit. Hal. 2.
26 Ibid. Halaman 29.
27 Ibnu Hamad. Op.Cit. Hal. 11-12.
28 Eriyanto. Op. Cit. Halaman 24.
13 secara berbeda pada peristiwa yang sama. Menurut Christian & Christian29 hubungan antara bahasa, realitas dan budaya adalah sebagai berikut:
Language
Reality creates Creates Creates reality
Culture
Kedua, yaitu politik penandaan. Yakni bagaimana praktik sosial dalam membentuk makna, mengontrol dan menentukan makna. Ideologi bermain amat penting di sini. Sehingga, pengertian dari realitas nantinya tergantung pada bagaimana sesuatu tersebut ditandakan dan dimaknai30.
Sedangkan, Hamad31 berbeda pendapat dengan Stuart Hall. Menurutnya, ada tiga tindakan yang biasa digunakan oleh media untuk melakukan konstruksi realitas, yaitu:
1. Dalam hal pilihan kata (symbol).
Sekalipun media dianggap hanya melaporkan peristiwa (realitas). Akan tetapi, pilihan simbol tetap berada pada wilayah media dan wartawan.
Semisal, kutipan tertentu yang diambil dari tokoh tertentu. Kutipan itu tentu hanya bagian kecil dari pembicaraannya yang panjang.
2. Dalam melakukan pembingkaian (framing).
Atas nama kaidah jurnalistik, seringkali peristiwa yang panjang, lebar dan rumit coba disederhanakan melalu mekanisme framing fakta-fakta dalam bentuk berita sehingga layak terbit/tayang. Caranya adalah dengan mengemas realitas ke dalam sebuah struktur (yang dipengaruhi oleh berbagai kepentingan ekonomi, politik dan sosial) sehingga sebuah isu punya makna.
29 Ibid. Hal. 13.
30 Ibid. Halaman 29-31.
31 Ibnu Hamad. Op.Cit. Hal. 17-25.
14 3. Melakukan fungsi agenda setting
Dalam hal ini justru ketika media memberikan tempat pada suatu peristiwa, maka peristiwa tersebut akan diperhatikan oleh masyarakat. Semakin besar tempatnya, semakin besar pula perhatian yang akan didapatkan.
Bila paradigma pluralis (sering juga disebut positivis, empiris atau liberal) menganggap bahwa wartawan dan media adalah entitas yang otonom, dan berita yang dihasilkan pun menggambarkan realitas yang ada di lapangan. Penyebutan paradigma pluralis berasal dari pemahaman jurnalisme di Amerika Serikat yang pendekatan behavioris. Di sini masyarakat dianggap sebagai entitas yang plural, yang memiliki berbagai kepentingan. Kepentingan-kepentingan yang berbeda tersebut akan ditampilkan apa adanya di media. Berbagai kepentingan tersebut akan menemukan sendiri titik ekuilibriumnya/mencapai konsensus tanpa harus diarahkan dan dipaksa.
Sebaliknya, paradigma kritis justru mempertanyakan posisi media dan wartawan dalam keseluruhan struktur sosial dan kekuatan sosial yang ada dalam masyarakat. Perbedaan tersebut selengkapnya dijelaskan oleh Eriyanto32 pada bagan di bawah ini:
PLURALIS KRITIS
FAKTA Ada fakta real yang diatur oleh kaidah-
kaidah tertentu yang berlaku universal.
Fakta merupakan hasil dari proses pertarungan antara kekuatan ekonomi, politik dan sosial yang ada dalam masyarakat.
Berita adalah cermin dan refleksi dari kenyataan. Oleh karena itu, berita haruslah sama dan sebangun dengan fakta yang hendak diliput.
Berita tidak mungkin merupakan cermiin dan refleksi dari realitas. Karena berita yang terbentuk hanya cerminan dari kepentingan kekuatan dominan.
POSISI MEDIA Media adalah sarana yang bebas dan
netral tempat semua kelompok
Media hanya dikuasai oleh kelompok dominan dan menjadi sarana untuk
32 Eriyanto. Op.Cit. Hal. 32-33.
15 masyarakat saling berdiskusi yang tidak
dominan.
memojokkan kelompok lain.
Media menggambarkan diskusi apa yang ada dalam masyarakat.
Media hanya dimanfaatkan dan menjadi alat kelompok dominan.
POSISI WARTAWAN Nilai dan ideologi wartawan di luar
proses peliputan berita.
Nilai dan ideologi wartawan tidak dapat dipisahkan dari proses peliputan dan pelaporan suatu peristiwa.
Wartawan berperan sebagai pelapor. Wartawan berperan sebagai partisipan dari kelompok yang ada dalam masyarakat.
Tujuan peliputan dan penulisan berita:
ekplanasi dan menjelaskan apa adanya memburukkan kelompok.
Tujuan peliputan dan penulisan berita:
pemihakan kelompok sendiri dan atau pihak lain.
Penjaga gerbang (gate keeping). Sensor diri.
Landasan etis. Landasan ideologis.
Profesionalisme sebagai keuntungan. Profesionalisme sebagai kontrol.
Wartawan sebagai bagian dari tim untuk mencari kebenaran.
Sebagai pekerja yang mempunyai posisi berbeda dalam kelas sosial.
HASIL LIPUTAN
Liputan dua sisi, dua pihak dan kredibel. Mencerminkan ideologi wartawan dan kepentingan sosial, ekonomi atau politik tertentu.
Obyektif, menyingkirkan opini dan pandangan subyektif dari pemberitaan.
Tidak obyektif karena wartawan adalah bagian dari kelompok/struktur sosial tertentu yang lebih besar.
Menggunakan bahasa yang tidak menimbulkan penafsiran yang beraneka.
Bahasa menunjukkan bagaimana kelompok sendiri diunggulkan dan memarjinalkan kelompok lain.
16 4. Pendekatan Ekonomi-Politik Media
Sudah jamak diketahui pendekatan ekonomi-politik media sangat berpengaruh terhadap media. Pendekatan ekonomi misalnya, diyakini adalah faktor penting dalam praktik dan teks media. Media dalam sudut pandang ekonomi adalah lembaga profit-making. Hal itu dicapai dengan cara menjual para khalayak ke pengiklan, media harus memproduksi program sebaik dan semenarik mungkin.
Pendekatan ekonomi pula menegaskan bahwa pola kepemilikan amat berpengaruh terhadap media itu sendiri33.
Raymond Williams34 menyatakan bahwa karakter komersial dari televisi dapat dilihat dari beberapa level: Pertama, saat televisi memproduksi program tertentu yang disesuaikan dengan pasar. Kedua, saat televisi jadi saluran iklan.
Ketiga, saat televisi dijadikan alat pembentukan nilai budaya dan politik oleh masyarakat kapitalis yang dominan.
Selain sisi ekonomi, sebagai lembaga profit-making. Media juga menjalankan fungsi ideologis. Hal ini dibenarkan oleh premis teori marxis yang melihat media sebagai “kelas yang mengatur” dalam sistem kapitalisme modern. Media bukanlah sebatas medium lalu lintas pesan antar unsur-unsur sosial dalam suatu masyarakat, melainkan jauh lebih dari itu media merupakan alat penundukan dan pemaksaan konsensus oleh kelompok yang dominan35. Oleh karena itu, penting untuk melihat media tidak hanya dari pendekatan ekonomi semata, namun juga pendekatan politik.
Vincent Mosco kemudian mendefinisikan pendekatan ekonomi politik dalam dua pengertian, sempit dan luas. Pengertian sempit, dimaknai sebagai kajian relasi sosial, khususnya relasi kekuasaan yang bersama-sama membentuk produksi, distribusi dan konsumsi sumber daya termasuk sumber daya komunikasi. Sedang dalam pengertian luas, pendekatan ini mengkaji kontrol dan pertahanan kehidupan sosial36.
33 Norman Fairclough. Op. Cit. Hal. 44-45.
34 Ibid.
35 Agus Sudibyo. 2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta: LKIS. Hal. 1-2.
36 Citra Antasari. Pendekatan Politik Ekonomi: Pengaruh Terhadap Kebijakan Redaksional. Dalam Hermin Indah Wahyuni (ed). 2010. Komunikasi dan Dunia Penelitian Kualitatif. Yogyakarta:
FISIPOL UGM. Halaman 28.
17 Lebih lanjut, Mosco37 melihat bahwa pendekatan ekonomi politik merupakan perspektif yang paling utama dalam riset komunikasi dan dianggap sebagai pendekatan yang paling menyeluruh. Pendekatan ini dimulai dengan kajian historis melalui pandangan kritis dari ekonomi politik sebagai pendekatan umum dengan analisis sosial yang dilengkapi pendekatan ekonomi politik yang berkaitan dengan kajian kebijakan dan budaya.
Pendekatan ekonomi politik dalam media nantinya akan mengarahkan kita kepada dua model ekonomi politik media, yaitu liberal dan kritis38. Model liberal lahir sebagai kritik atas merkantilisme dinilai tidak efisien dan tidak produktif. Ia melihat iklan dan pemodal sebagai instrumen professional dalam media. Kedua pihak ini dianggap memahami kerja media dan memberikan kontribusi bagi kelangsungan industri media. Sebaliknya, bagi model kritis, yang lahir sebagai kritik terhadap model liberal, iklan dan pemodal justru melakukan dominasi dan pemaksaan atas media. Sehingga, media kehilangan kebebasan dan independensinya.
Pendekatan ekonomi-politik sendiri berkembang sejak abad ke-18 sebagai respon dari akselerasi kapitalisme. Beberapa poin mendasar yang mendirikan pendekatan ekonomi-politik adalah sebagai berikut39:
1. Kritik utamanya ditujukan kepada kecenderungan determisme ekonomi, yang melihat faktor-faktor ekonomi sebagai satu-satunya faktor yang menentukan dinamika masyarakat modern.
2. Keyakinan para ekonom neoklasik harus dikritik, karena mereka menganggap pasar akan menyedikan kompetisi yang stabil dan sempurna. Realitanya, kondisi ekuilibrium hanyalah mitos. Yang lazim terjadi kemudian adalah dominasi dan monopoli.
3. Negara bukanlah lembaga pengatur yang obyektif dan mandiri. Justru di bawah kendali kapitalisme, baik domestik maupun global, negara
37 Novi Kurnia. 2008. Posisi dan Resistensi: Ekonomi Politik Perfilman Indonesia. Yogyakarta:
Fisipol, UGM. Hal. 35.
38 Iswandi Syahputra. 2006. Jurnalisme Infotainment: Kancah Baru Jurnalistik dalam Televisi.
Yogyakarta: Pilar Media. Hal. 96-97.
39 Agus Sudibyo. Op.Cit. Hal. 6-7
18 seringkali subyektif dengan melakukan intervensi yang bias kepentingan pasar.
Mosco40 menambahkan tiga karakter dasar pendekatan ekonomi-politik media, yaitu realis, inklusif dan kritis. Realis yang dimaksud adalah pendekatan ekonomi-politik tidak tergantung pada teori abstrak atau deskripsi empiris.
Karakter inklusif bermakna bahwa kehidupan sosial tidak dapat dirangkum dalam satu teori apa pun. Sehingga pendekatan ini amat terbuka bagi debat multi perspektif dan lintas disiplin. Kemudian karakter kritis bermakna pendekatan ini peka terhadap segala bentuk ketimpangan dan ketidakadilan.
Adapun beberapa varian pendekatan ekonomi-politik media adalah sebagai berikut41:
Varian Tokoh Penjelasan
Instrumentalis Edward S. Herman &
Noam Chomsky
Media dipandang sebagai alat dominasi kelas. Kelas dominan menggunakan kekuatan ekonomi untuk memastikan bahwa arus informasi publik sesuai dengan misi dan tujuan mereka.
Strukturalis Michael Schudson Media dipandang sebagai sesuatu yang monolitik, statis dan determinan.
Konstruktivis Peter Golding &
Graham Murdock
Media dengan strukturnya dipandang sebagai sesuatu hal yang belum sempurna dan terus dinamis bergerak. Ini merupakan jalan tengah antara varian instrumentalis dengan strukturalis.
Pemberitaan sebagai produk dari media adalah hal yang amat penting dalam pendekatan ekonomi-politik. Ideologi suatu media sebagai basis bertindak, tidak hanya dapat dilihat dari isi media (media content) tersebut, melainkan yang paling penting justru latar belakang pendiri institusi media tersebut42. Hal ini dengan
40 Ibid. Hal. 6-7.
41 Ibid. Halaman 11-12.
42 Citra Antasari. Op. Cit. Halaman 26.
19 mudah dilihat dari pemberitaan ANTV dan TvOne dalam kasus Lumpur Lapindo (atau Lumpur Sidoarjo) misalnya.
Pendapat mengenai latar belakang pendiri institusi media di atas, kurang lebih senada dengan pendapat dari Oliver Boyd-Barret43. Menurutnya, pendekatan ekonomi politik dalam masyarakat mempunyai signifikansi kritis yang biasanya dihubungkan dengan kepemilikan dan kontrol media yang mengaitkan industri media dengan elit politik, ekonomi dan sosial.
Pada akhirnya, seperti yang ditulis oleh Croteau dan Hoyness44 bahwa proses penulisan pesan pada media terlalu banyak diintervensi oleh berbagai kepentingan. Realitanya, produksi pesan di media justru diarahkan oleh individu- individu yang memiliki keputusan dan penafsiran tertentu.
F. METODOLOGI PENELITIAN 1. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis. Analisis wacana kritis mengkombinasikan tradisi analisis tekstual dengan konteks masyarakat yang lebih luas. Dalam metode ini, bahasa dilihat sebagai proses dialektika dengan struktur sosial sehingga analisis akan dipusatkan pada bagaimana bahasa terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu. Pemakaian bahasa, menurut Foucault dianggap sebagai bentuk praktik sosial daripada aktivitas individu.
Implikasinya wacana dianggap sebagai bentuk dari tindakan, adanya hubungan timbal balik antara wacana dan struktur sosial.
Penelitian berbasis analisis wacana kritis ini berpijak pada gagasan Marx yang memandang masyarakat sebagai sistem kelas. Masyarakat dipandang sebagai sebuah dominasi dan media menjadi bagian dari sistem dominasi tersebut.
Sehingga, dipercaya media adalah alat dari kelompok dominan untuk memanipulasi dan mengukuhkan kehadirannya sembari memarjinalkan kelompok yang tidak dominan.
Analisis wacana kritis pada dasarnya merupakan titik puncak dari publikasi Fairclough Language and Power (1989) yang melihat analisis wacana
43 Novi Kurnia. Op.Cit. Hal. 36.
44 David Croteau & William Hoyness. 2003. Media Society. California: Pine Forge Press. Hal. 76.
20 sebagai integrasi antara: (a)analisis teks, (b) analisis proses dari produksi, konsumsi dan distribusi teks, dan (c) analisis sosio-kultural dari peristiwa diskursif45.
Dalam penelitian, analisis wacana kritis memiliki fokus penelitian untuk mencari nilai-nilai yang dianggap menjembatani wartawan dengan peristiwa sehingga terbentuklah sebuah berita. Hal ini berbeda dengan paradigma positivis- empiris yang mengharuskan adanya obyektifitas dan kenetralan, sehingga analisa diarahkan untuk mencari adanya atau tidaknya bias dalam meneliti sebuah pemberitaan.
Tujuan dari analisis wacana kritis adalah mengkritisi ideologi yang melatarbelakangi sebuah wacana dengan jalan menelanjangi asumsi-asumsi kebenaran yang seringkali sudah menjadi common sense di masyarakat46.
2. Obyek Penelitian
Objek dari penelitian ini adalah liputan berita langsung (hard news) yang disiarkan oleh Liputan 6 SCTV dan MetroTV pada bulan Januari 2011. Waktu tersebut dipilih karena pemberitaan konflik Liga Primer Indonesia vs PSSI sedang ramai diangkat ke ranah publik.
Sedangkan, pemilihan kedua stasiun televisi ini karena citranya yang menonjol dalam pemberitaan. Liputan 6 SCTV merupakan simbol dari stasiun televisi yang kritis di akhir era orde baru. Sedangkan, Metro TV di masa kini adalah stasiun televisi khusus berita yang terkenal kritis dalam menangggapi berbagai realita sosial.
Sebenarnya, masih ada Tv One yang juga merupakan stasiun televisi khusus berita 24 jam seperti Metro TV. Akan tetapi, dalam tema konflik LPI vs PSSI, Tv One sejak awal sudah melakukan konstruksi wacana. Caranya dengan tidak memberitakan LPI sama sekali.
45 Norman Fairclough. Ibid. Hal. 23.
46 Rigakittyndya Tiamono. Dalam Narendra, Pitra (ed.). 2008. Metodologi Riset Komunikasi.
Yogyakarta: BPPI & PKMBP. Hal. 140.
21 3. Analisis Data
Analisis data yang diperoleh nantinya akan menggunakan model analisis yang dikembangkan oleh Norman Fairclough. Model ini menghubungkan analisis teks pada level mikro dengan konteks sosial yang lebih besar lagi, seringkali mode ini disebut juga sebagai model perubahan sosial (social change).
Titik perhatian utama dari Fairclough adalah melihat bahasa sebagai praktik kekuasaaan. Untuk melihat bagaimana pengguna bahasa membawa nilai tertentu, dibutuhkan analisis yang menyeluruh. Melihat bahasa dalam perspektif ini membawa konsekuensi tertentu. Bahasa secara sosial dan historis adalah bentuk tindakan, dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial. Oleh karena itu, analisis harus dipusatkan pada bagaimana bahasa itu terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks tertentu47.
Fairclough kemudian membagi analisis ini ke dalam dua level yaitu:
communicative events dan order of discourse. Tahapan communicative events menitikberatkan pada analisis teks yang dipertajam dengan paparan discourse practice dan sociocultural practice sebagai konteks peristiwa pemberitaan yang ditampilkan.
Pada saat melakukan analisis, ketiga tahapan ini akan dilakukan secara bersama- sama.
Sedangkan level selanjutnya order of discourse, meliputi analisis intertekstualitas dan genre. Pemahaman Fairclough tentang analisis wacana kritis setidaknya bisa dirangkum ke dalam bagan seperti ini:
Sumber: Eriyanto48
47 Eriyanto. Op.Cit. Hal. 7.
48 Ibid. Hal. 288.
PRAKTEK SOSIAL
PRAKTEK DISKURSIF TEKS
22 1) Analisis Communicative Events
i. Analisis Teks
Analisis teks menurut Fairclough tidak hanya melihat bagaimana suatu teks digambarkan, tapi juga bagaimana hubungan antar teks didefinisikan. Hubungan tersebut dapat dilihat lewat unsur:
representasi, relasi, intertekstualitas dan identitas.
Unsur Yang Ingin Dilihat
Representasi Bagaimana peristiwa, orang, kelompok, keadaan atau apapun ditampilkan dan digambarkan dalam teks.
Representasi dapat dilihat melalui representasi anak kalimat, kombinasi antar anak kalimat dan rangkaian antar kalimat.
Relasi Bagaimana hubungan antar wartawan, khalayak dan partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam teks.
Relasi akan dilihat dari pola hubungan antara tiga aktor (wartawan, khalayak media dan partisipan publik) ditampilkan dalam teks.
Identitas Bagaimana identitas wartawan, khalayak dan partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam teks.
Identitas dapat dilihat dari bagaimana identitas wartawan ditampilkan dan dikonstruksi dalam teks pemberitaan.
Sumber: Eriyanto49 ii. Analisis Discourse Practice
Analisis discourse practice dilakukan pada level pembuatan teks (text processing). Fairclough melihat bagaimana produksi dan konsumsi teks. Yang dilihat adalah sisi wartawan, hubungan antar wartawan dan struktur organisasi dan praktik kerja/rutinitas kerja.
49 Ibid. Hal. 289.
23 iii. Analisis Sociocultural Practice
Analisis sociocultural practice dilakukan pada level social (social analysis). Tahapan ini didasarkan pada asumsi bahwa konteks sosial yang ada di luar media mempengaruhi wacana yang muncul dalam media. Analisis ini memang tidak berkaitan langsung dengan produksi teks media, akan tetapi ia menentukan bagaimana teks diproduksi dan dipahami.
Fairclough lalu membagi analisis tahap ini ke tiga level: Analisis ini terdiri dari tiga level: situasional, institusional dan sosial50.
Proses analisis dibagi ke dalam tiga tahap yaitu analisis deskriptif, dimana berita dianalisis secara tekstual. Analisis interpretatif, dimana berita diinterpretasikan dengan mengacu dengan praktik wacana yang dilakukan. Analisis teks dilakukan dengan menghubungkan dengan bagaimana proses produksi berita. Ketiga, analisis eksplanasi sebagai penjelasan dan penafsiran tahap kedua.
2) Analisis Order of Discourse
Analisis ini akan dilihat dari segi intertekstualitas dan genre.
Intertekstualitas yang dimaksud di sini adalah istilah dimana teks atau ungkapan dibentuk oleh teks yang hadir sebelumnya, saling menanggapi dan salah satu bagian dari teks tersebut mengantisipasi bagian lainnya. Intertekstualitas dalam berita dapat dideteksi dari pengutipan narasumber, apakah secara langsung atau tidak langsung.
Sedangkan, genre merupakan cara penggunaan bahasa yang biasanya disesuaikan dengan lingkup praktek sosialnya. Atau mengutip Bakhtin, adalah bagian dari konvensi yang disesuaikan dengan tindakan51. Tahapan terakhir ini menegaskan bahwa wacana media adalah suatu bidang yang kompleks. Apa yang muncul dari teks media sesungguhnya adalah bagian akhir dari suatu proses yang kompleks
50 Ibid. Hal. 322.
51 Ibid. Hal. 313.
24 dengan kekuatan, regulasi dan negosiasi yang menghasilkan fakta tertentu. Adapun kerangka analisa dapat digambarkan sebagai berikut:
Tingkatan Metode
Teks Critical linguistics
Discourse Practice (News Room) Wawancara mendalam Sociocultural Practice (Sejarah) Studi/penelusuran pustaka
Sumber: Eriyanto52
52 Ibid. Hal. 326.
25
BAB II
ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH DAN SEPAKBOLA DALAM KAJIAN MEDIA
Setelah memahami latar belakang konflik antara Penyelenggara LPI dan PSSI yang menjadi bahan pemberitaan di berbagai media. Penelitian ini akan memahami lebih lanjut tentang posisi media yang memiliki peran strategis untuk membentuk wacana di tengah masyarakat. Karena harus diingat kembali bahwa setiap usaha dari media untuk menceritakan kembali sebuah realitas adalah usaha untuk mengkonstruksi realitas itu sendiri. Dengan demikian, isi media tidak lain bukanlah realitas itu sendiri, melainkan adalah realitas yang telah dikonstruksikan (constructed reality) dalam bentuk wacana .
Wacana sebagai suatu bentuk konstruksi atas realita sosiologis membutuhkan alat atau cara untuk disebarkan. Alat tersebut adalah biasa dikenal sebagai hegemoni.
Nantinya bersama ideologi, wacana dan hegemoni adalah satu mata rantai konsep yang tidak dapat dipisahkan.
Setelah, mata rantai wacana - ideologi - hegemoni dijelaskan, akan dijelaskan pula secara lebih detail metode penelitian yang digunakan, yaitu, analisis wacana kritis milik Norman Fairclough. Di antara beberapa model analisis wacana lain, Jorgensen dan Philips1 menyebut model Fairclough adalah model yang paling canggih. Dalam hal ini, dikarenakan perkembangannya yang amat cepat di bidang komunikasi, budaya dan masyarakat. Selain itu, oleh beberapa pihak model kritis Fairclough diidentikkan dengan model perubahan sosial.
A. WACANA, IDEOLOGI DAN HEGEMONI DALAM BERITA
1. Wacana
Wacana yang kita pahami selama ini seringkali salah diartikan. Seringkali wacana terlalu remeh diartikan, senada dengan dengan kritik dari Golding & Ferguson2
1 Marianne W. Jorgensen & Louise J. Philips. 2007. Analisis Wacana Teori dan Metode. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. Hal. 162.
2 Deddy N. Hidayat. Dalam Eriyanto. Op. Cit. Hal. x.
26 yang menyatakan bahwa misi wacana yang seharunya adalah “changing the world”
turun kasta hanya menjadi “changing the word”.
Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Hal itu harus dirunut kembali pada makna wacana (discourse) yang seharusnya. Karena makna suatu ungkapan bahasa merupakan pokok persoalan yang mendasar dalam filsafat bahasa.
Wacana berasal dari bahasa latin “discursus” yang berarti lari kian-kemari (dis – dari, dalam arah yang berbeda dan currere -lari)3. James Lull menyatakan bahwa wacana dalam arti sederhana adalah cara obyek atau ide diperbincangkan secara terbuka kepada publik sehingga menimbulkan pemahaman tertentu yang tersebar luas4.
Cakupan wacana amatlah luas, sebuah tulisan adalah wacana (merujuk pada definisi di Websters), sebuah pidato pun juga wacana. Norman Fairclough sendiri memaknai wacana sebagai5:
Pertama, 'wacana' dalam pengertian abstrak, sebagai kategori yang menunjuk elemen luas semiotik (sebagai lawan dan dalam hubungannya dengan lainnya, non-semiotika, unsur-unsur) dari kehidupan sosial (bahasa, tapi juga visual semiosis, 'bahasa tubuh' dll ). Pada makna ini, Fairclough akhirnya lebih suka menggunakan istilah “semiosis”.
Kedua, 'wacana' sebagai kategori untuk menunjuk cara-cara tertentu yang mewakili aspek-aspek tertentu dari kehidupan sosial. Misalnya, untuk membedakan wacana politik yang berbeda, yang mewakili untuk masalah ketimpangan, merugikan, kemiskinan, pengecualian sosial, dengan cara yang berbeda.
Alex Sobur6 lalu membuat klasifikasi tersendiri terhadap wacana, yaitu wacana tulis, teks dan konteks:
3 Alex Sobur. 2001. Analisis Teks Media. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hal. 9.
4 Ibid. Hal. 11.
5 Norman Fairclough. Diakses pada 16 Februari 2011. Terarsip di http://www.ling.lancs.ac.uk/staff/norman/critdiscanalysis.doc
6 Alex Sobur. Op.Cit. Hal. 50-60.
27 a. Wacana Tulis
Dalam wacana tulis tersimpan pemahaman bahwa tulisan dapat membawa pikiran pembacanya ke dalam bentuk tertentu tanpa haru menggunakan bahasa lisan. Paul Ricoeur memberi contoh bahwa lewat tulisan, tercipta kemungkinan penerusan tata aturan ke ruang dan waktu yang berbeda tanpa distorsi yang berarti. Dalam konteks wacana, dengan tulisan dimungkinkan suatu negara menjajah negara lain melalui penataan politis jarak jauh.
b. Teks
Teks adalah seperangkat tanda yang ditransmisikan dari seorang pengirim kepada seorang penerima melalui medium tertentu dengan kode tertentu.
Bagi Roland Barthes, teks sendiri adalah suatu obyek kenikmatan. Di sini, ada hubungan erat antara tulisan dengan teks. Bila tulisan adalah bentuk fiksasi dari bahasa lisan, maka teks adalah kelanjutannya: bentuk fiksasi dari wacana lisan.
c. Konteks
Guy Cook menyebutkan bahwa ada 3 hal sentral dalam memahami wacana:
teks, konteks dan wacana. Di sini, konteks bermakna semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi penggunaan bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi dimana teks tersebut diproduksi, fungsi yang dimaksudkan, dsb.
Pada titik inti wacana, Foucault7 menegaskan bahwa wacana adalah alat kuasa pengetahuan. Wacana tertentu akan menghasilkan kebenaran dan pengetahuan tertentu yang menimbulkan efek kuasa. Karena kebenaran tidaklah datang dari langit, melainkan juga diproduksi. Cara menyebarkan wacana untuk kuasa pengetahuan itulah yang sering dikenal sebagai hegemoni. Bersama ideologi, wacana dan hegemoni adalah kesatuan konsep yang tidak dapat dipisahkan.
7 Eriyanto. Op.Cit. Hal. 66-67.