• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN 1. Metode Penelitian

Dalam dokumen KONSTRUKSI PSSI DI LAYAR TELEVISI (Halaman 31-37)

Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis. Analisis wacana kritis mengkombinasikan tradisi analisis tekstual dengan konteks masyarakat yang lebih luas. Dalam metode ini, bahasa dilihat sebagai proses dialektika dengan struktur sosial sehingga analisis akan dipusatkan pada bagaimana bahasa terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu. Pemakaian bahasa, menurut Foucault dianggap sebagai bentuk praktik sosial daripada aktivitas individu.

Implikasinya wacana dianggap sebagai bentuk dari tindakan, adanya hubungan timbal balik antara wacana dan struktur sosial.

Penelitian berbasis analisis wacana kritis ini berpijak pada gagasan Marx yang memandang masyarakat sebagai sistem kelas. Masyarakat dipandang sebagai sebuah dominasi dan media menjadi bagian dari sistem dominasi tersebut.

Sehingga, dipercaya media adalah alat dari kelompok dominan untuk memanipulasi dan mengukuhkan kehadirannya sembari memarjinalkan kelompok yang tidak dominan.

Analisis wacana kritis pada dasarnya merupakan titik puncak dari publikasi Fairclough Language and Power (1989) yang melihat analisis wacana

43 Novi Kurnia. Op.Cit. Hal. 36.

44 David Croteau & William Hoyness. 2003. Media Society. California: Pine Forge Press. Hal. 76.

20 sebagai integrasi antara: (a)analisis teks, (b) analisis proses dari produksi, konsumsi dan distribusi teks, dan (c) analisis sosio-kultural dari peristiwa diskursif45.

Dalam penelitian, analisis wacana kritis memiliki fokus penelitian untuk mencari nilai-nilai yang dianggap menjembatani wartawan dengan peristiwa sehingga terbentuklah sebuah berita. Hal ini berbeda dengan paradigma positivis-empiris yang mengharuskan adanya obyektifitas dan kenetralan, sehingga analisa diarahkan untuk mencari adanya atau tidaknya bias dalam meneliti sebuah pemberitaan.

Tujuan dari analisis wacana kritis adalah mengkritisi ideologi yang melatarbelakangi sebuah wacana dengan jalan menelanjangi asumsi-asumsi kebenaran yang seringkali sudah menjadi common sense di masyarakat46.

2. Obyek Penelitian

Objek dari penelitian ini adalah liputan berita langsung (hard news) yang disiarkan oleh Liputan 6 SCTV dan MetroTV pada bulan Januari 2011. Waktu tersebut dipilih karena pemberitaan konflik Liga Primer Indonesia vs PSSI sedang ramai diangkat ke ranah publik.

Sedangkan, pemilihan kedua stasiun televisi ini karena citranya yang menonjol dalam pemberitaan. Liputan 6 SCTV merupakan simbol dari stasiun televisi yang kritis di akhir era orde baru. Sedangkan, Metro TV di masa kini adalah stasiun televisi khusus berita yang terkenal kritis dalam menangggapi berbagai realita sosial.

Sebenarnya, masih ada Tv One yang juga merupakan stasiun televisi khusus berita 24 jam seperti Metro TV. Akan tetapi, dalam tema konflik LPI vs PSSI, Tv One sejak awal sudah melakukan konstruksi wacana. Caranya dengan tidak memberitakan LPI sama sekali.

45 Norman Fairclough. Ibid. Hal. 23.

46 Rigakittyndya Tiamono. Dalam Narendra, Pitra (ed.). 2008. Metodologi Riset Komunikasi.

Yogyakarta: BPPI & PKMBP. Hal. 140.

21 3. Analisis Data

Analisis data yang diperoleh nantinya akan menggunakan model analisis yang dikembangkan oleh Norman Fairclough. Model ini menghubungkan analisis teks pada level mikro dengan konteks sosial yang lebih besar lagi, seringkali mode ini disebut juga sebagai model perubahan sosial (social change).

Titik perhatian utama dari Fairclough adalah melihat bahasa sebagai praktik kekuasaaan. Untuk melihat bagaimana pengguna bahasa membawa nilai tertentu, dibutuhkan analisis yang menyeluruh. Melihat bahasa dalam perspektif ini membawa konsekuensi tertentu. Bahasa secara sosial dan historis adalah bentuk tindakan, dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial. Oleh karena itu, analisis harus dipusatkan pada bagaimana bahasa itu terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks tertentu47.

Fairclough kemudian membagi analisis ini ke dalam dua level yaitu:

communicative events dan order of discourse. Tahapan communicative events menitikberatkan pada analisis teks yang dipertajam dengan paparan discourse practice dan sociocultural practice sebagai konteks peristiwa pemberitaan yang ditampilkan.

Pada saat melakukan analisis, ketiga tahapan ini akan dilakukan secara bersama-sama.

Sedangkan level selanjutnya order of discourse, meliputi analisis intertekstualitas dan genre. Pemahaman Fairclough tentang analisis wacana kritis setidaknya bisa dirangkum ke dalam bagan seperti ini:

Sumber: Eriyanto48

47 Eriyanto. Op.Cit. Hal. 7.

48 Ibid. Hal. 288.

PRAKTEK SOSIAL

PRAKTEK DISKURSIF TEKS

22 1) Analisis Communicative Events

i. Analisis Teks

Analisis teks menurut Fairclough tidak hanya melihat bagaimana suatu teks digambarkan, tapi juga bagaimana hubungan antar teks didefinisikan. Hubungan tersebut dapat dilihat lewat unsur:

representasi, relasi, intertekstualitas dan identitas.

Unsur Yang Ingin Dilihat

Representasi Bagaimana peristiwa, orang, kelompok, keadaan atau apapun ditampilkan dan digambarkan dalam teks.

Representasi dapat dilihat melalui representasi anak kalimat, kombinasi antar anak kalimat dan rangkaian antar kalimat.

Relasi Bagaimana hubungan antar wartawan, khalayak dan partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam teks.

Relasi akan dilihat dari pola hubungan antara tiga aktor (wartawan, khalayak media dan partisipan publik) ditampilkan dalam teks.

Identitas Bagaimana identitas wartawan, khalayak dan partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam teks.

Identitas dapat dilihat dari bagaimana identitas wartawan ditampilkan dan dikonstruksi dalam teks pemberitaan.

Sumber: Eriyanto49 ii. Analisis Discourse Practice

Analisis discourse practice dilakukan pada level pembuatan teks (text processing). Fairclough melihat bagaimana produksi dan konsumsi teks. Yang dilihat adalah sisi wartawan, hubungan antar wartawan dan struktur organisasi dan praktik kerja/rutinitas kerja.

49 Ibid. Hal. 289.

23 iii. Analisis Sociocultural Practice

Analisis sociocultural practice dilakukan pada level social (social analysis). Tahapan ini didasarkan pada asumsi bahwa konteks sosial yang ada di luar media mempengaruhi wacana yang muncul dalam media. Analisis ini memang tidak berkaitan langsung dengan produksi teks media, akan tetapi ia menentukan bagaimana teks diproduksi dan dipahami.

Fairclough lalu membagi analisis tahap ini ke tiga level: Analisis ini terdiri dari tiga level: situasional, institusional dan sosial50.

Proses analisis dibagi ke dalam tiga tahap yaitu analisis deskriptif, dimana berita dianalisis secara tekstual. Analisis interpretatif, dimana berita diinterpretasikan dengan mengacu dengan praktik wacana yang dilakukan. Analisis teks dilakukan dengan menghubungkan dengan bagaimana proses produksi berita. Ketiga, analisis eksplanasi sebagai penjelasan dan penafsiran tahap kedua.

2) Analisis Order of Discourse

Analisis ini akan dilihat dari segi intertekstualitas dan genre.

Intertekstualitas yang dimaksud di sini adalah istilah dimana teks atau ungkapan dibentuk oleh teks yang hadir sebelumnya, saling menanggapi dan salah satu bagian dari teks tersebut mengantisipasi bagian lainnya. Intertekstualitas dalam berita dapat dideteksi dari pengutipan narasumber, apakah secara langsung atau tidak langsung.

Sedangkan, genre merupakan cara penggunaan bahasa yang biasanya disesuaikan dengan lingkup praktek sosialnya. Atau mengutip Bakhtin, adalah bagian dari konvensi yang disesuaikan dengan tindakan51. Tahapan terakhir ini menegaskan bahwa wacana media adalah suatu bidang yang kompleks. Apa yang muncul dari teks media sesungguhnya adalah bagian akhir dari suatu proses yang kompleks

50 Ibid. Hal. 322.

51 Ibid. Hal. 313.

24 dengan kekuatan, regulasi dan negosiasi yang menghasilkan fakta tertentu. Adapun kerangka analisa dapat digambarkan sebagai berikut:

Tingkatan Metode

Teks Critical linguistics

Discourse Practice (News Room) Wawancara mendalam Sociocultural Practice (Sejarah) Studi/penelusuran pustaka

Sumber: Eriyanto52

52 Ibid. Hal. 326.

25

BAB II

ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH

Dalam dokumen KONSTRUKSI PSSI DI LAYAR TELEVISI (Halaman 31-37)