• Tidak ada hasil yang ditemukan

SCTV, METRO TV DAN LIGA PRIMER INDONESIA

Dalam dokumen KONSTRUKSI PSSI DI LAYAR TELEVISI (Halaman 69-89)

ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH DAN SEPAKBOLA DALAM KAJIAN MEDIA

LIPUTAN 6 SCTV, METRO TV DAN LIGA PRIMER INDONESIA

Industri televisi Indonesia, khususnya televisi swasta, sebenarnya bukanlah industri yang berumur tua. Industri ini baru berkembang pesat pada dekade 90-an.

Sebelumnya praktis industri televisi hanya dimonopoli oleh pemain tunggal: TVRI.

Baru pada awal dekade 80-an, industri televisi mendapat angin segar dengan lahirnya deregulasi ekonomi di beberapa bidang. Pada masa ini state regulation yang sebelumnya begitu kuat mengatur, tidak bisa terus menerus dipertahankan, atau setidak-tidaknya harus dikombinasikan dengan prinsip-prinsip market regulation1.

Seperti lazimnya karakteristik orde baru yang otoritarian, wilayah televise pun tidka ketinggalan dimasuki oleh kekuasaan rezim. Dengan berbagai cara industri media dibuat barrier to entry yang besar2. Pertama, dengan cara memproteksi para pemodal dalam negeri dari ekspansi modal asing. Ketika itu Soeharto menolak PP No. 20/1994 yang mengijinkan investor asing untuk memiliki 100% perusahaan di Indonesia.

Kedua, proteksi dilakukan terhadap para pemodal yang mempunyai hubungan khusus dengan Cendana. Caranya dengan menggunakan SIUPP sebagai senjata.

Akibat dari dua model proteksi ini adalah industri media yang seragam kepemilikannya, praktis ketika itu tidak ada media televisi yang secara diametral beroposisi terhadap pemerintah. Ketika itu, RCTI dimiliki oleh Bambang Trihatmojo, SCTV dimiliki oleh Henry Pribadi dan Sudwikatmono, TPI dimiliki oleh Tutut, Indosiar dimiliki oleh Salim Group (pengusaha yang begitu dekat dengan Soeharto), sedangkan ANTV dimiliki oleh Bakrie Group dan Agung Laksono (Tokoh Golkar).

Kehadiran beberapa televisi swasta pada awal 90an ternyata memiliki imbas yang besar terhadap perubahan masyarakat. Data dari PPPI3 pada 1997 menunjukkan

1 Agus Sudibyo. 2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran. Jakarta: ISAI. Hal. 13.

2 Ibid. Hal. 14.

3 Leen D’Haenens, Effendi Gazali dan Chantal Verelest. Pembuat Berita TV Memandang Lahan Serta Racikan Mereka di Masa Jaya dan Berlalunya Rezim Soeharto. Dalam Dedy N. Hidayat (Ed.). Pers Dalam “Revolusi Mei”: Runtuhnya Sebuah Hegemoni. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal.

170.

58 lonjakan besar kepemilikan pesawat televisi, dari hanya 7,6 juta pada awal 1990 menjadi 20 juta pada 1997. Perubahan besar masyarakat terkait dengan teknologi komunikasi tersebut, secara tidak langsung adalah senjata makan tuan bagi pemerintah. Hegemoni ‘ideologi’ bentukan pemerintah pelan tapi pasti mulai tergerus oleh proses demokratisasi yang terjadi di akar rumput4.

Lalu lahirlah Reformasi 1998 yang membawa angin segar bagi semua elemen pers dan penyiaran di Indonesia. Pemerintahan Habibie yang meneruskan Soeharto melahirkan deregulasi di bidang informasi dan komunikasi. Walhasil, bila selama 32 tahun era Orde Baru hanya berdiri 289 media cetak, 6 stasiun televisi dan 740 radio.

Setahun pasca reformasi jumlah media cetak melonjak menjadi 1.687 penerbitan atau bertambah 6 kali lipat5. Tidak terkecuali di industri televisi, sepanjang tahun 2000 – 2001 lahirlah 5 televisi swasta nasional, yaitu Metro TV, TV 7 (kini Trans7), Trans TV, Lativi (kini TvOne) serta Global TV. Kelahiran 5 televisi swasta baru ini juga berkaitan dengan kebijakan Gus Dur yang menghapuskan Departemen Penerangan6.

Kondisi televisi pra dan pasca reformasi 1998, hanya akan menjadi pengantar semata. Setidaknya ada kondisi sosio-politik yang amat berbeda, sehingga secara tidak langsung terjadi diferensiasi dalam produk jurnalistik. Pasca reformasi jurnalistik televisi tak lagi disetir oleh kekuatan negara, melainkan lebih condong ke arah pasar (market). Kini ada 11 televisi yang memiliki program berita tersendiri, secara kasat mata tentu ini menjadi gejala yang baik menuju semangat diversity of content.

Bab ini akan secara khusus membahas profil dua stasiun televisi swasta yang dijadikan obyek penelitian. Stasiun pertama adalah SCTV, khususnya Liputan 6, mengingat segala bentuk program berita di stasiun SCTV disajikan dalam program berita Liputan 6, mulai dari Liputan 6 Pagi, Siang, Petang, Malam dan Terkini.

Sedangkan, stasiun kedua yang diangkat adalah Metro TV. Metro TV sendiri adalah stasiun televisi khusus berita pertama di Indonesia yang berdiri sejak 1999, meski baru mulai siaran tahun 2000. Stasiun yang mengkhususkan diri pada berita ini adalah anak perusahaan dari Media Group yang dimiliki oleh Surya Paloh, seorang tokoh Golkar di masa orde baru.

4 Ibid. Hal. 171.

5 Setiap Hari Terbit Lima Media Massa Baru Pasca-Reformasi. Diakses pada 11 April 2011. Terarsip di http://www.antaranews.com/view/?i=1203045456&c=NAS&s=

6 Askurifai Baksin. Op.Cit. Hal. 26.

59 Selain kedua stasiun televisi tersebut, sebagai bagian dari obyek penelitian, Liga Primer Indonesia (LPI) juga akan dibahas lebih lanjut. Sebagai liga perjuangan, liga alternatif tentu ada beberapa poin mendasar yang membedakannya dengan liga binaan PSSI, Liga Super Indonesia (LSI).

A. LIPUTAN 6 SCTV : Aktual, Tajam Dan Terpercaya 1. Sejarah dan Dinamika

SCTV adalah stasiun televisi swasta kedua yang lahir setelah RCTI. SCTV merupakan singkatan dari Surya Citra Televisi Indonesia. “Surya” di sini bermakna Surabaya-Raya, karena memang pada awalnya SCTV bermula dari Surabaya. Sedangkan, “Citra” bermakna televisi ini berada di bawah kelompok Bimantara Citra7. Sedikit banyak, SCTV begitu identik dengan RCTI, karena sampai Agustus 1993 ia ditempelkan ke RCTI. Tidak heran bila dulu, SCTV lebih dikenal sebagai ‘adik’ RCTI8.

Berawal dari Jl. Darmo Permai, Surabaya, Agustus 1990, siaran SCTV diterima secara terbatas untuk wilayah Gerbang Kertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoardjo dan Lamongan) yang mengacu pada izin Departemen Penerangan No. 1415/RTF/K/IX/1989 dan SK No.

150/SP/DIR/TV/1990. Satu tahun kemudian, pada tahun 1991, pancaran siaran SCTV meluas hingga Bali dan sekitarnya9.

Baru pada tahun 1993, berbekal SK Menteri Penerangan No. 111/1992 SCTV melakukan siaran nasional ke seluruh Indonesia. Untuk mengantisipasi perkembangan industri televisi dan juga dengan mempertimbangkan Jakarta sebagai pusat kekuasaan maupun ekonomi, secara bertahap mulai tahun 1993 sampai dengan 1998, SCTV memindahkan basis operasi siaran nasionalnya dari Surabaya ke Jakarta. Puncaknya, pada tahun 1999, secara resmi SCTV melakukan siarannya secara nasional dari Jakarta10.

7 Tim Redaksi LP3ES. 2006. Jurnalisme Liputan 6 SCTV: Antara Peristiwa dan Ruang Publik. Jakarta:

LP3ES. Hal. 45.

8 Leen D’Haenens, Effendi Gazali dan Chantal Verelest. Op. Cit. Hal. 177.

9 “Sejarah Perusahaan”. Diakses pada 10 Februari 2011. Tearsip di http://www.sctv.co.id/company/pages.php?id=1

10 Ibid.

60 Liputan 6 SCTV sendiri mulai mengudara pada Mei 1996. Bisa jadi Liputan 6 merupakan solusi dari berpindahnya Seputar Indonesia ke RCTI atas dasar UU Penyiaran 1994. Saat itu, Seputar Indonesia yang sebelumnya disiarkan bersama oleh RCTI dan SCTV harus dibuat sendiri dalam stasiun, tanpa melibatkan lagi pihak Production House. Maka dari itu, PT Sindo Citra Media yang memproduksi Seputar Indonesia mau tidak mau harus melepas program berita ini ke salah satu televisi. Pilihan pun jatuh ke RCTI.

Melihat kondisi ini, Sumita Tobing, seorang jurnalis senior di Harian Prioritas dan TVRI, berinisiatif untuk mengajukan proposal pendirian Newsroom SCTV. Tidak lama kemudian, gayung pun bersambut, proposal tersebut disetujui oleh Pieter F. Gontha, salah satu pemilik SCTV.

Menurut Sumita Tobing, berdirinya Liputan 6 SCTV didasarkan semangat untuk mendirikan newsroom yang berpihak pada publik11. Newsroom model ini adalah antitesis dari kelaziman di era orde baru yang cenderung menjadi alat propaganda pemerintah.

Pemberian nama Liputan 6 ini, menurut Riza Primadi (mantan Pemred Divisi Pemberitaan SCTV) merujuk kepada program pemberitaan di Inggris dan Amerika, seperti Six O’clock Reports atau Seven O’clock Reports. Kebetulan juga, alokasi waktu awalnya adalah pukul 6 petang.

Pada awalnya Liputan 6 hadir 30 menit setiap hari ketika petang datang, lalu beranak pinak dengan hadirnya Liputan 6 Pagi (Agustus 1996), Liputan 6 Siang (Maret 1997) dan Liputan 6 Malam (Februari 2003). Di sela-sela jam tayang tersebut ternyata serin pula terjadi peristiwa atau masalah yang perlu untuk segera diketahui oleh publik. Maka lahirlah kemudian, Breakingnews dan Liputan 6 Terkini12.

Selain paket berita di Liputan 6, Divisi Pemberitaan SCTV mendapat alokasi 20% dari keseluruhan program SCTV. Beberapa program lain yang dikerjakan oleh jurnalis SCTV antara lain: talkshow (namanya berganti-ganti dari Di Balik Berita menjadi Topik Minggu Ini), dokumenter (dulu Visi Warta, sekarang

11 Tim Redaksi LP3ES. Op. Cit. Hal. 51

12 Iskandar Siahaan. 2006. Dalam Tim Redaksi LP3ES. Jurnalisme Liputan 6 SCTV: Antara Peristiwa dan Ruang Publik. Jakarta: LP3ES. Hal. xiv.

61 Potret), liputan parlemen (Wakil Kita), Dokudrama (Derap Hukum), Features (Kisah di Antara Kita), Kriminalitas (Buser), dan Dialog Interaktif (Klinika). Nama program bisa saja berubah, tapi substansinya tetap sama13.

Bila dirunut dari sejarahnya, Liputan 6 memang terkenal sebagai newsroom yang kritis. Pada era orde baru misalnya, Liputan 6 tercatat beberapa kali bersinggungan langsung dengan pemerintah. Suatu kejadian yang amat langka ketika itu, yang entah disadari atau tidak justru meningkatkan citra Liputan 6 di mata pemirsa. Misalnya, insiden “cabut gigi” Sarwono Kusumaatmaja di saat-saat genting reformasi tahun 1998.

Setelah insiden itu, Pemimpin Redaksi Liputan 6, Don Bosco Selamun dan Sumita Tobing diberhentikan sementara dari Liputan 6. Akan tetapi, hikmahnya pasca kejadian ini media-media lain justru semakin berani bersuara lebih keras:

meminta Soeharto mundur. Hal yang sebelumnya sangat tabu ketika itu.

Selain itu, salah satu produk jurnalisme monumental dari Liputan 6 SCTV adalah Investigasi kekerasan di STPDN, pada medio 2003. Tayangan ekslusif berjudul Siksa di Balik Tembok STPDN menampar telak wajah STPDN.

Meskipun menuai kecaman keras dari Alumni STPDN dan Depdagri, Liputan 6 tidak bergeming dan terus memberitakan. Justru apresiasi positif ditunjukkan oleh masyarakat luas. Masyarakat justru sadar bahwa ada realita yang selama ini terus-menerus ditutupi.

2. Visi dan Misi

Visi

Menjadi stasiun televisi unggulan yang memberikan kontribusi terhadap pembangunan dan pencerdasan kehidupan bangsa.

Misi

Membangun SCTV sebagai jaringan stasiun televisi swasta terkemuka di Indonesia dengan:

1. Menyediakan beragam program yang kreatif, inovatif dan berkualitas yang membangun bangsa.

13 Ibid.

2. Melaksanakan tata kelola perusahan yang baik (good corporate governance).

3. Memberikan nilai tambah kepada seluruh stakeholder.

3. Slogan & Logo

Logo 1990

Logo SCTV 2004

Sejak Januari 2005,

identitas diri sebagai stasiun televisi keluarga.

perlu adanya “politik identitas”. Suatu identitas yang menunjukkan ciri khas dari SCTV dibandingkan stasiun lainn

Dengan logo baru yang bergambar matahari terbit, SCTV ingin menampilkan wajahnya sebagai cahaya penerang yang melingkupi serta memberikan kehidupan, menjaga agar impian dan harapan bangsa tetap hidup dan masa depan yang lebih baik tetap bersinar. Sloga

“SCTV Ngetop”, diubah menjadi “

Logo dan slogan baru tersebut, digunakan sebagai simbol dan semangat serta motivasi untuk menjadikan SCTV sebagai televisi keluarga pilihan pemirsa (menjangkau umur seluruh anggota

dan yang selalu tinggal di hati pemirsa adalah sebagai berikut:

14 SCTV. Diakses pada 10 Februari 2011. Terarsip di

15 Tim Redaksi LP3ES. Op. Cit

16 Ibid.

Melaksanakan tata kelola perusahan yang baik (good corporate governance).

Memberikan nilai tambah kepada seluruh stakeholder.

Logo 1990-1993 Logo SCTV 1990–2004

Logo SCTV 2004–2005 Logo SCTV sejak 2005 Sumber: Wikipedia.Org14

Januari 2005, Manajemen SCTV memandang perlu menegaskan kembali sebagai stasiun televisi keluarga. Dalam bahasa manajemen SCTV perlu adanya “politik identitas”. Suatu identitas yang menunjukkan ciri khas dari SCTV dibandingkan stasiun lainnya.

Dengan logo baru yang bergambar matahari terbit, SCTV ingin menampilkan wajahnya sebagai cahaya penerang yang melingkupi serta memberikan kehidupan, menjaga agar impian dan harapan bangsa tetap hidup dan masa depan yang lebih baik tetap bersinar. Slogan SCTV yang dahulunya

“SCTV Ngetop”, diubah menjadi “Satu Untuk Semua” 15.

Logo dan slogan baru tersebut, digunakan sebagai simbol dan semangat serta motivasi untuk menjadikan SCTV sebagai televisi keluarga pilihan pemirsa (menjangkau umur seluruh anggota keluarga), televisi yang inovatif dan kreatif dan yang selalu tinggal di hati pemirsa16. Sedangkan, logo dari Liputan 6 SCTV adalah sebagai berikut:

SCTV. Diakses pada 10 Februari 2011. Terarsip di http://id.wikipedia.org/wiki/SCTV Op. Cit. Hal. 49.

62 Melaksanakan tata kelola perusahan yang baik (good corporate

anajemen SCTV memandang perlu menegaskan kembali Dalam bahasa manajemen SCTV perlu adanya “politik identitas”. Suatu identitas yang menunjukkan ciri khas dari

Dengan logo baru yang bergambar matahari terbit, SCTV ingin menampilkan wajahnya sebagai cahaya penerang yang melingkupi serta memberikan kehidupan, menjaga agar impian dan harapan bangsa tetap hidup n SCTV yang dahulunya

Logo dan slogan baru tersebut, digunakan sebagai simbol dan semangat serta motivasi untuk menjadikan SCTV sebagai televisi keluarga pilihan pemirsa keluarga), televisi yang inovatif dan kreatif Sedangkan, logo dari Liputan 6 SCTV

63 Logo sebelum 2008 Logo 2008 - sekarang Slogan: “Aktual, Tajam dan Terpercaya”, menurut Karni Ilyas maknanya mendalam17. Aktual yang dimaksud adalah kecepatan, artinya tim redaksi haruslah terdepan dalam mendapatkan dan mengabarkan berita. Sementara tajam adalah menyangkut daya kritis. Daya kritis yang dimaksud Karni Ilyas adalah melihat segala sesuatu secara berimbang. Dan terpercaya adalah dapat dipercaya (credible). Kepercayaan ini adalah alasan yang mendasari orang membeli koran tiap harinya atau meluangkan waktu untuk menonton berita televisi.

4. Program Berita yang Diproduksi

Program Genre Hari Waktu

Liputan 6 Pagi Hardnews Setiap hari 04.30 – 06.00 WIB Liputan 6 Siang Hardnews Setiap hari 12.00 – 12.30 WIB Liputan 6 Petang Hardnews Setiap hari 17.00 -17.30 WIB Liputan 6 Malam Hardnews Setiap hari 00.30 – 01.00 WIB Liputan 6 Terkini Hardnews Setiap hari 09.00, 11.00, 14.00, 16.00,

20.00, 22.30 WIB Liputan 6 Bandung,

Surabaya, Makassar dan Yogyakarta

Hardnews Senin – Jumat

06.00 – 06.30 WIB

Buser Hardnews

(khusus kriminal)

Rabu - Sabtu

01.00 – 01.30 WIB

Potret Menembus Batas

Dokumenter Kamis 00.00 – 00.30 WIB

17 Ibid. 81-82.

64

Barometer Dialog Rabu 22.30 – 23.30 WIB

Sigi Feature Rabu 23.30 – 24.00 WIB

Dikutip dari berbagai sumber18

5. Struktur Redaksi

Ketua Dewan Redaksi : Fofo Sariaatmadja

Kepala Liputan 6 News Center : Don Bosco Selamun

Kepala Departemen Liputan6.com

: Marthin Budi Laksono

Redaktur Eksekutif : Aribowo Suprayogi, MI Stephen Vincent

Redaktur : Arfan Yap Bano, Yus Arianto, Anri Syaiful, Agung Binarko, Syaiful Halim

Penulis : Bogi Triyadi, Zumrotul Muslimin,

Ahmad Yani Yustiawan, Rinaldo, Ahmad Salman

Grafis dan Visual : Wawan Isab R., Budi Iswara, Y. Arie Wicaksono, Rio Pangkerego, Rio Husnady

Mobile Visual : Ahmad Nur, Hasto Ajie, Ali Romdhoni, Andiyanto

Reporter : Anastasia Putri, Carlos Pardede, David Silahooij, Riko Anggara, Fira Isrofillah, Nova Rini, Indah Dian Novita, Mochamad Achir, Rahmat Supana,

18 Diolah dari liputan6.com, sctv.co.id dan id.wikipedia.org

65 Sufiani Tanjung, Zwasty Andria, Hardjuno Pramundito, Rachmalia Zuamitha, Raditiyo Wicaksono, Winny Arfiani

Alamat:

PT Surya Citra Media, Tbk. SCTV Tower - Senayan City. Jln. Asia Afrika Lot.

19 Lt.18, Jakarta 10270.

B. METRO TV: Knowledge To Elevate 1. Sejarah dan Dinamika

Metro TV adalah stasiun khusus berita pertama di Indonesia. Mengudara sejak awal 25 November 2000, awalnya Metro TV hanya mengudara 8 jam sejak sore hari dengan wilayah siaran Jakarta. Metro TV adalah salah satu anak usaha dari Media Group milik Surya Paloh.

Sebelum mendirikan Media Group, di masa orde baru Surya Paloh pernah mendirikan Harian Prioritas. Harian ini sebenarnya adalah refleksi dari pemikiran Surya Paloh yang memang kritis terhadap pemerintahan, meski ketika itu juga ia adalah tokoh Golkar. Penyajian khas dari Prioritas memang cenderung satir dan sarkastis dalam melihat fenomena aktual. Akhirnya pada 1987, Prioritas dibredel karena dianggap terlalu vokal terhadap pemerintahan19.

Kemudian Surya Paloh membeli kepemilikan Media Indonesia pada 1988 dari Teuku Yousli Syah20. Ketika itu, pembagian tugasnya adalah sebagai berikut:

Surya Paloh sebagai Direktur Utama, Teuku Yousli Syah sebagai Pemimpin Umum dan Pemimpin Perusahaan dipegang oleh Lestary Luhur. Kini, Media Indonesia adalah surat kabar harian yang memiliki oplah terbesar kedua setelah Kompas.

Waktu berjalan, pada akhir 1990-an Media Group melihat potensi kemajuan teknologi komunikasi yang ada dengan ide mendirikan stasiun televisi khusus berita. Ide itu kemudian diwujudkan dalam Metro TV, stasiun televisi

19 Gigih Sari Alam. Perpolitikan Surya Paloh dan Media Indonesia. Diakses pada 11 April 2011.

Terarsip di http://www.scribd.com/doc/12617151/Sejarah-Media-Indonesia

20 Sejarah Singkat Media Indonesia. Diakses pada 11 April 2011. Terarsip di http://www.mediaindonesia.com/read/2009/02/23/38398/11/11/Sejarah_Singkat

66 khusus berita 24 jam seperti CNN di Amerika. Setahun setelah berdiri, pada 2001 Metro TV sudah menyiarkan beritanya selama 24 jam. Di tahun 2009, Metro TV telah dapat ditangkap secara terestrial di 280 kota terbesar di Indonesia. Siaran Metro TV juga dapat ditangkap lewat televisi kabel di seluruh Indonesia. Sedangkan lewat Satelit Palapa 2, siaran Metro TV dapat dinikmati di seluruh ASEAN, Hongkong, China Selatan, India, Makau, Taiwan, Papua Nugini dan sebagian Australia dan Jepang21.

Tujuan dari didirikannya Metro TV adalah untuk menyebarkan berita dan informasi ke seluruh Indonesia. Selain secara dominan diisi oleh program berita, Metro TV juga menayangkan beragam program mengenai teknologi, kesehatan, pengetahuan umum, sejarah, seni-budaya dan lain-lain. Secara persentase, 70%

program Metro TV adalah berita yang disiarkan dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Mandarin, sedangkan 30% lainnya adalah program non-berita yang edukatif22. Kini, Metro TV menjadi tempat kerja untuk lebih dari 1200 karyawannya23.

Selanjutnya pula untuk memudahkan koordinasi berbagai informasi dan daerah. Metro TV kemudian mendirikan beberapa biro daerah yang terletak di 6 kota besar, yaitu: Biro Yogyakarta, Medan, Makassar, Pekanbaru, Surabaya dan Bandung24.

2. Visi dan Misi25

Visions:

To become a distinct Indonesian television station by ranking number one for its news, offering quality entertainment and lifestyle programming. Providing unique advertising opportunities and achieving loyalty with its viewers and advertisers.

Missions:

21 Diyah Astuti. 2009. Laporan Akhir Kuliah Kerja Komunikasi Reporter dan Camera Person di Metro TV Biro Yogyakarta. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Budaya, UII.

22 Ibid.

23 Tentang Kami. Diakses pada 11 April 2011. Terarsip di http://www.metrotvnews.com/read/about

24 Wawancara dengan Reporter Metro TV, Rory Asyari dan Pitono. Yogyakarta, 11 April 2011.

25 Tentang Kami. Op. Cit.

1. To stimulate and promote the nation's and country's advancement towards a democratic atmosphere, in order to excel in global competition, with high appreciation of moral and ethic.

2. To add a valuable presence to the television industry by

perspective, by improving the way information is presented and by offering quality entertainment alternatives.

3. To achieve a significant level of growth by developing and leveraging its assets, to increase the quality of life and the welfare

produce significant profit for its share holders.

3. Slogan & Logo

To stimulate and promote the nation's and country's advancement towards a democratic atmosphere, in order to excel in global competition, with high appreciation of moral and ethic.

To add a valuable presence to the television industry by providing a new perspective, by improving the way information is presented and by offering quality entertainment alternatives.

To achieve a significant level of growth by developing and leveraging its assets, to increase the quality of life and the welfare of its employees, and to produce significant profit for its share holders.

Logo Metro TV 2000-2010 Be Smart Be Informed

Logo Metro TV sejak 20 Mei 2010 Slogan: Knowledge to Elevate Hardnews Setiap Hari 12.00 – Hardnews &

Talkshow

Setiap Hari 18.00 –

Hardnews Setiap Jam

Hardnews Setiap Hari 00.00 – Hardnews Senin - Jumat 14.00 – Hardnews Senin - Jumat 13.30 – Tajuk rencana Setiap Hari 07.00 –

67 To stimulate and promote the nation's and country's advancement towards a democratic atmosphere, in order to excel in global competition, with high

providing a new perspective, by improving the way information is presented and by offering

To achieve a significant level of growth by developing and leveraging its of its employees, and to

Logo Metro TV sejak 20 Mei 2010 Knowledge to Elevate

68 Top 9 News Hardnews Senin - Jumat 21.00 – 21.30 WIB Metro Sports Hard &

soft-news

Setiap Hari 23.30 / 02.30 WIB

Spirit Football Hard & soft news

Setiap Sabtu 13.00 -13.30 WIB

12 Pas Hard & soft news

Setiap Ahad 13.00 – 13.30 WIB

Sumber: http://www.metrotvnews.com

Catatan: Program berita yang ditampilkan hanya sebagian. Karena 70% program Metro TV adalah berita, sedang 30% lainnya adalah program edukatif non-berita.

5. Struktur Redaksi

CEO/Presiden Media Group : Surya Paloh Presiden Direktur Metro TV : Wisnu Hadi Direktur Pemberitaan : Suryapratomo Direktur Sales & Marketing : Lestary Luhur Direktur Finansial &

Administrasi

: Ana Widjaja

Direktur Teknik : John Balonso

Editor In-Chief : Elman Saragih

Presiden Komisioner : Djafar Husin Assegaf

Komisioner : Prahastoeti Adhitama

Alamat:

Jl. Pilar Mas Raya Kav. A-D, Kedoya - Kebon Jeruk, Jakarta 11520 - Indonesia Tlp:021-58300077, Fax: 021-58300066

69 C. LIGA PRIMER INDONESIA: Change The Game!

1. Sejarah dan Dinamika26

Sebuah acara silaturahmi antara 20 klub sepakbola nasional bersama Gerakan Reformasi Sepakbola Nasional Indonesia (GRSNI) di Graha Jenggala, Jakarta 17 September 2010, melahirkan sebuah deklarasi. Deklarasi tersebut pada intinya berisi keprihatinan klub sepakbola nasional atas terpuruknya kondisi sepakbola nasional.

Klub-klub sepakbola tersebut kemudian mengambil inisiatif bersama untuk mendeklarasikan Liga Primer Indonesia (LPI) di Semarang, 24 Oktober 2010. Ada 17 perwakilan klub yang datang saat itu, yaitu: Semen Padang, PSPS Pekanbaru, PSMS Medan, Medan Chief Football, Persebaya, Arema Indonesia, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, Persis Solo, Semarang United, Maung Bandung Raya, Bogor Raya, Batavia United, Jakarta 1980, PSM Makassar, Manado United, dan Bali Dewata27.

Semangat klub dalam membangun LPI juga merupakan sebuah komitmen untuk peningkatan standar sepakbola, baik secara organisasi maupun keuangan.

Semangat klub dalam membangun LPI juga merupakan sebuah komitmen untuk peningkatan standar sepakbola, baik secara organisasi maupun keuangan.

Dalam dokumen KONSTRUKSI PSSI DI LAYAR TELEVISI (Halaman 69-89)