• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PASAR MINYAK NABATI INDIA DAN CHINA*

ABSTRAK

Perkembangan produksi minyak sawit telah merubah pangsa konsumsi minyak nabati dunia dengan mengungguli pangsa minyak kedelai. Perubahan pangsa konsumsi tersebut tidak terlepas dari pengaruh perkembangan industri sawit di Indonesia yang mampu menghasilkan produksi minyak sawit sebesar 37.8 juta ton pada tahun 2017. Produksi minyak sawit Indonesia sebagian besar diekspor ke berbagai kawasan di dunia dengan India dan China sebagai Negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia dengan volume terbesar. Pada tahun 2017, ekspor minyak sawit Indonesia ke India mencapai 7,6 juta ton atau sebesar 24,5 persen dari total ekspor Indonesia. Pada tahun yang sama konsumsi minyak sawit di India telah mencapai 52 persen. Pertumbuhan ekonomi India dan kebijakan biofuel yang ambisius dapat menjadi peluang peningkatan eskpor minyak sawit ke India. Sementara ekspor Indonesia ke China secara rata – rata mengalami pertumbuhan 7,6 persen pertahun. Namun perang dagang China dan Amerika Serikat berakibat pada perlambatan ekonomi China patut diwaspadai oleh Indonesia karena kedua Negara merupakan Negara tujuan eskpor Indonesia.

Keywords : ekspor minyak sawit, kebijakan biofuel, pangsa konsumsi, pertumbuhan ekonomi

*) Dimuat pada PASPI Monitor, Volume IV No. 28/2018

Pendahuluan

Perkembangan revolusioner minyak sawit telah merubah pangsa konsumsi minyak nabati dunia. Pada tahun 1965, konsumsi minyak nabati dunia masih didominasi oleh minyak kedelai dengan pangsa lebih dari 50 persen. Namun seiring perkembangan produksi minyak sawit di dua produsen utama yaitu Indonesia dan Malaysia, pada tahun 2017 pangsa konsumsi minyak sawit telah mengungguli minyak kedelai dengan pangsa 42 persen.

Sementara minyak kedelai pada tahun 2017 hanya memiliki pangsa konsumsi sebesar 32 persen.

Perubahan pangsa konsumsi tersebut tidak terlepas dari pengaruh perkembangan industri sawit di Indonesia.

Perkebunan kelapa sawit Indonesia telah mengalami peningkatan yang pesat sejak tahun 1980. Awalnya luas kebun sawit Indonesia hanya 294,5 ribu hektar (1980), meningkat menjadi 14 juta hektar (2017). Dengan peningkatan luas kebun tersebut, Indonesia mampu menghasilkan produksi minyak sawit mencapai 37.8 juta ton pada tahun 2017 (Ditjenbun 2018).

Produksi minyak sawit Indonesia sebagian besar diekspor ke berbagai kawasan di dunia. Beberapa Negara yang menjadi tujuan ekspor minyak sawit Indonesia di kawasan Asia antara lain India, China, Pakistan, Bangladesh, dan lain-lain. Saat ini, India dan China masih menjadi Negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia dengan volume terbesar. Oleh sebab itu, kondisi perekonomian global dan kebijakan yang diterapkan kedua Negara tersebut terkait minyak sawit dapat menimbulkan goncangan pada industri sawit Indonesia.

Analisis Pasar Minyak Nabati India dan China 2299

Tulisan ini akan mendiskusikan perkembangan ekspor minyak sawit Indonesia berdasarkan Negara tujuan, kondisi terkini ekonomi minyak sawit Negara tujuan ekspor Indonesia khususnya India dan China dan berbagai kebijakan yang berpotensi menjadi peluang peningkatan eskpor minyak sawit di kedua Negara tersebut.

Distribusi Ekspor Minyak Sawit Indonesia Indonesia sejak tahun 2006 telah dikenal sebagai produsen terbesar minyak sawit di dunia. Ekspor Indonesia semakin besar seiring dengan pertumbuhan produksi karena dari total produksi tersebut hanya 25% - 30% yang dikonsumsi di dalam negeri. Konsumsi domestik tersebut mencakup kebutuhan untuk produksi produk – produk turunan kelapa sawit pada tiga jalur hilirisasi yaitu hilirisasi oleofood, hilirisasi oleokimia, dan hilirisasi biofuel.

Indonesia telah melakukan ekspor minyak sawit ke berbagai Negara di dunia seperti India, Uni Eropa, China, Amerika Serikat, Pakistan, Bangladesh serta negara lainnya (ROW). Secara umum volume ekspor minyak sawit Indonesia menunjukkan peningkatan yang konsisten untuk hampir semua negara-negara tujuan ekspor. Hal ini mencerminkan bahwa Indonesia tetap menjaga kesinambungan pasar ekspor tradisionalnya. Berdasarkan distribusi pasar tujuan ekspor minyak sawit Indonesia, terlihat bahwa diversifikasi negara-negara tujuan ekspor terus bertumbuh memasuki Negara – Negara berkembang seperti Pakistan dan Bangladesh (Gambar 3.1).

Pada kawasan Asia, India dan China masih menjadi Negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia.

Ekspor minyak sawit Indonesia ke India sejak tahun 2010 cukup stabil di atas angka 5 juta ton, dan pada tahun 2017 telah mencapai 7,6 juta ton. Sedangkan ekspor Indonesia ke China menunjukkan peningkatan meskipun dengan persentase yang kecil. Pada tahun 2010, ekspor Indonesia sebesar 2,6 juta ton dan meningkat menjadi 3,7 juta ton pada tahun 2017 (Database PASPI). Selain itu, Indonesia juga mulai memperluas pasar minyak sawit ke Negara – Negara berkembang seperti Pakistan dan Bangladesh.

Eskpor Indonesia ke Negara tersebut menunjukkan trend peningkatan yang cukup signifikan sejak tahun 2010.

Perluasan pemasaran ini dibutuhkan untuk menghindari ketergantungan Indonesia terhadap pasar di suatu Negara.

Gambar 3.1 Distribusi Volume Ekspor Minyak Sawit Indonesia Menurut Negara/Kawasan (Sumber : database PASPI)

Selain ekspor ke kawasan Asia, Indonesia juga melakukan ekspor minyak sawit ke Uni Eropa dan Amerika Serikat. Meskipun Uni Eropa dan Amerika Serikat sering melakukan diskriminasi terhadap minyak sawit

0%

20%

40%

60%

80%

100%

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017

Persen

Row China Europe Union India USA Pakistan+Bangladesh

Analisis Pasar Minyak Nabati India dan China 2301

namun ekspor minyak sawit Indonesia ke Uni dan Amerika juga cukup besar. Ekspor minyak sawit Indonesia ke Uni Eropa pada tahun 2017 telah mencapai 5 juta ton.

Sementara ekspor ke Amerika Serikat menunjukkan peningkatan dari awalnya 167 ribu ton (2010) menjadi 1,1 juta ton (2017). Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan selera konsumen di Amerika Serikat terhadap minyak sawit.

Kondisi Ekonomi Minyak Sawit Di India India merupakan Negara tujuan eskpor minyak sawit Indonesia dengan volume terbesar. Pada tahun 2017, ekspor minyak sawit Indonesia ke India mencapai 7,6 juta ton atau sebesar 24,5 persen dari total ekspor Indonesia.

Impor minyak sawit yang dilakukan India telah menyebabkan terjadinya perubahan pola konsumsi minyak nabati domestiknya. Awalnya konsumsi minyak nabati di India didominasi oleh rapeseed oil dengan pangsa lebih dari 90 persen. Kemudian sejak tahun 1990, konsumsi minyak sawit meningkat signifikan dan menggeser konsumsi rapeseed oil. Pada 2017, konsumsi minyak sawit India telah mencapai 52 persen. Dan justru penggunaan rapeseed oil di India semakin menurun dan kini hanya berada pada posisi ketiga setelah pangsa soybean oil (Gambar 3.2).

Gambar 3.2 Pola Konsumsi Minyak Nabati di India

Ekspor minyak sawit Indonesia ke India sejak tahun 2010 selalu berada di atas 5 juta ton. Kemudian pada tahun 2017 terjadi peningkatan sebesar 31,8 persen dari tahun 2016. Hal ini menunjukkan bahwa India merupakan pasar yang stabil bagi minyak sawit Indonesia. Namun kondisi produksi dan konsumsi minyak nabati di India sejak tahun 2000 menunjukkan terjadinya widening gap yang semakin melebar karena rata-rata pertumbuhan produksi minyak nabati domestiknya yang lebih kecil (5,27%/tahun) dibandingkan pertumbuhan konsumsi domestik (8.65 %/tahun) (PASPI 2016a).

Pertumbuhan konsumsi minyak nabati domestik India yang melebihi pertumbuhan produksinya disebabkan oleh terjadinya peningkatan konsumsi minyak nabati perkapita.

Konsumsi minyak nabati India pada tahun 2000-2010 adalah sebesar 8,9 kg per orang per tahun, dan pada tahun 2011-2016, konsumsi per kapita India telah mencapai 13,5 kg per orang per tahun. Data ini menunjukkan terjadi perkembangan konsumsi per kapita minyak nabati India dengan trend yang positif, dengan peningkatan (growth)

0%

20%

40%

60%

80%

100%

Palm Oil Soybean Oil Rapeseed Oil Sunflower Oil

Analisis Pasar Minyak Nabati India dan China 2303

sebesar 1,22% per tahun. Hal ini menjadi peluang bagi ekspor minyak sawit Indonesia yang semakin meningkat ke India untuk memenuhi selisih produksi dan konsumsinya. Dan berdasarkan World Economic Outlook April 2018, diprediksi perekonomian India mengalami pertumbuhan yang signifikan dari 6,7 persen (2017) menjadi 7,4 persen (2018). Pertumbuhan ekonomi ini dapat juga bermakna sebagai peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan eskpor karena terjadi kenaikan kapasitas produksi di India.

Selain itu, terdapat pula peluang peningkatan ekspor ke India dari sisi penyediaan energi. Pemerintah India telah merumuskan Misi Biodiesel Nasional yang ambisius untuk memenuhi 20 persen kebutuhan diesel negara tersebut. Kebijakan biodiesel dirancang dalam dua fase, dan saat ini sedang menjalani fase kedua (PASPI 2017a).

Fase I yaitu produksi biodiesel dengan bahan baku tanaman jarak pagar, dan tahap dua mulai mengarah pada komersialisasi biodiesel. Namun produksi biodiesel India menghadapi keterbatasan dalam hal bahan baku. Hal ini memberikan kesempatan bagi Industri minyak sawit Indonesia untuk memenuhi kebutuhan bahan baku produksi biodiesel India dengan menyediakan minyak sawit sebagai alternatif bahan baku.

Kondisi Ekonomi Minyak Sawit Di China

Selain India, salah satu Negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia di kawasan Asia adalah China. Ekspor minyak sawit Indonesia ke China menunjukkan trend yang semakin meningkat sejak tahun 2010 dengan rata – rata

pertumbuhan 7,6 persen per tahun. Masuknya minyak sawit ke China menyebabkan terjadinya pertumbuhan konsumsi minyak sawit di China yang bertambah signifikan dari 1 persen pada tahun 1980, menjadi 15 persen pada tahun 2017. Padahal konsumsi minyak nabati China pada awalnya didominasi oleh rapeseed oil, kemudian pada tahun 2017 pangsa rapeseed oil telah berada di bawah minyak kedelai (Gambar 3.3). Pangsa konsumsi China cenderung akan semakin meningkat seiring kerjasama bilateral yang dijalin antara Indonesia dan China yang menyepakati penambahan ekspor minyak sawit sebesar 500 ribu ton.

China merupakan salah satu produsen utama minyak kedelai. Namun produksi minyak kedelai tersebut dikonsumsi di dalam negerinya sehingga pangsa China dalam perdagangan minyak kedelai internasional sangat kecil. Konsumsi minyak nabati di China juga menunjukkan terjadinya widening gap layaknya India, dimana rata-rata pertumbuhan produksi minyak nabati domestiknya yang lebih kecil dibandingkan pertumbuhan konsumsi domestik. Pertumbuhan konsumsi domestik ini ditunjukkan dengan peningkatan konsumsi perkapita China dari awalnya 17,28 kg per orang per tahun (2010) menjadi 21.70 kg per orang per tahun (2016) atau dapat dikatakan terjadi peningkatan (growth) sebesar 6,6%

pertahun (PASPI 2016b). Tentu saja ini menjadi peluang peningkatan ekspor minyak sawit Indonesia ke China.

Analisis Pasar Minyak Nabati India dan China 2305

Gambar 3.3 Pola Konsumsi Minyak Nabati di China

Namun yang menjadi kekhawatiran adalah terjadinya perlambatan ekonomi China berdasarkan data World Economic Outlook April 2018, dimana pertumbuhan ekonomi China sedikit menurun dari 6,9 persen (2017) menjadi 6,6 persen (2018). Perlambatan ekonomi ini terjadi sebagai dampak perang dagang antara China dan Amerika Serikat akibat kebijakan proteksi yang dilakukan Donald Trump terhadap produk – produk China yaitu baja dan aluminium. Perang dagang antara China dan Amerika Serikat harus diwaspadai Indonesia karena kedua Negara merupakan Negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia.

Meskipun perang dagang dikhawatirkan berdampak pada industri sawit, namun masih terdapat peluang peningkatan ekspor minyak sawit ke China karena adanya kebijakan B-5. Pemerintah China dalam penyediaan energi domestik menetapkan adanya campuran biodiesel sebagai energi terbarukan yang ramah lingkungan dengan bahan bakar fosil yaitu solar. Pemerintah China menetapkan target produksi biodiesel 2 juta ton pada tahun 2020 dengan bahan baku seperti minyak limbah dan buah

0%

20%

40%

60%

80%

100%

Palm Oil Soybean Oil Rapeseed Oil Sunflower Oil

minyak yang memiliki semak yang tidak dapat dimakan (misalnya pohon jarak). Namun masing-masing memiliki kapasitas teknis untuk memenuhi target karena hambatan utamanya yaitu biaya produksi biodiesel yang relatif mahal dibandingkan harga solar di China. China tidak dapat memenuhi target biofuelnya dalam skenario bisnis seperti biasa. Oleh sebab itu China memilih minyak sawit dengan harga yang jauh lebih murah untuk memenuhi kebijakan B5 tersebut (PASPI 2017b).

Kesimpulan

Indonesia sejak tahun 2006 telah dikenal sebagai produsen terbesar minyak sawit di dunia. Ekspor Indonesia semakin besar seiring dengan pertumbuhan produksi karena hanya 25% - 30% produksi minyak sawit yang dikonsumsi di dalam negeri. Indonesia masih mempertahankan Negara – Negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia seperti India,China, Uni Eropa dan Amerika Serikat. Di sisi lain Indonesia juga memperluas pasar minyak sawit ke Negara – Negara berkembang seperti Pakistan dan Bangladesh. Perluasan pasar ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar di suatu Negara.

India masih menjadi Negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia dengan volume terbesar yaitu 7,6 juta ton tahun 2017. Terjadinya widening gap produksi dan konsumsi minynak nabati di India serta pertumbuhan ekonomi India dapat menjadi indikasi peluang peningkatan ekspor minyak sawit Indonesia ke India.

Sementara China juga merupakan Negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia dengan pertumbuhan volume

Analisis Pasar Minyak Nabati India dan China 2307

ekspor sebesar 7,6 persen pertahun. Namun diprediksi terjadi perlambatan ekonomi di China sebagai dampak perang dagang dengan Amerika Serikat akibat kebijakan proteksi Donald Trump. Hal ini patut diwaspadai Indonesia karena kedua Negara merupakan tujuan eskpor minyak sawit Indonesia.

PASPI Monitor, Volume 1 No. 24/2015