ABSTRAK
SDGs 2016-2030 sebagai platform yang menggantikan Millenium Development Goals (MDGs) 2000-2015, menekankan inklusifitas dalam pencapaian 17 tujuannya yang salah satunya Hidup Sehat Untuk Semua (SDGs-3). Industri sawit berkontribusi pada pencapaian tujuan SDGs- 3 tersebut karena sebagian besar hasil utama kelapa sawit diolah untuk menghasilkan bahan pangan seperti minyak goreng sawit. Minyak goreng sawit memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan jenis minyak nabati lainnya karena memiliki harga yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Selain harganya yang terjangkau, minyak sawit merupakan minyak nabati yang sehat karena mengandung banyak vitamin A dan vitamin E yang sangat bermanfaat bagi tubuh, dan bahkan memiliki komposisi asam lemak esensial yang mirip dengan Air Susu Ibu (ASI). Industri sawit juga memiliki kontribusi dalam peningkatan akses masyarakat pedesaan terhadap kesehatan melalui peningkatan pendapatan masyarakat pedesaan. Peningkatan akses ini juga didukung dengan didirikannya berbagai sarana melalui perusahaan perkebunan kelapa sawit yang menyalurkan CSR. CSR perusahaan perkebunan sawit memang sebagian besar ditujukan pada pendidikan dan pelatihan (32 persen), namun tidak sedikit CSR dari perusahaan – perusahaan tersebut yang ditujukan untuk pelayanan kesehatan yaitu 13 persen. Hal ini menjadi bukti bahwa industri sawit juga berperan penting dalam menjamin tercapainya Hidup Sehat Untuk Semua (SDGs – 3).
Keywords : bahan pangan, CSR perusahaan, minyak nabati, minyak goreng sawit, pelayanan kesehatan
*) Dimuat pada PASPI Monitor, Volume IV No. 40/2018
Pendahuluan
Sustainable Development Goals (SDGs) telah disepakati oleh negara – negara anggota PBB sebagai platform baru pembangunan di dunia. Platform SDGs ini dirumuskan untuk mencapai 17 tujuan dan 169 target yang diharapkan dapat dicapai pembangunan selama 2016-2030. Ke-17 tujuan yang dimaksud merupakan harmonisasi 3 aspek dalam pembangunan yaitu aspek ekonomi, aspek sosial, dan aspek lingkungan. Harmonisasi ini sering kita sebut sebagai 3-P yaitu profit (aspek ekonomi), people (aspek sosial), dan planet (aspek lingkungan).
SDGs 2016-2030 sebagai platform yang menggantikan Millenium Development Goals (MDGs) 2000-2015, menekankan inklusifitas dalam pencapaian 17 tujuannya.
SDGs ini memiliki penekanan aspek global partnership yang berarti bahwa SDGs global diwujudkan melalui kontribusi seluruh masyarakat (beserta kegiatannya) dunia. Kontribusi setiap negara, setiap industri, setiap sektor, seluruh komunitas global. Prinsip ini mengkoreksi praktek polarisasi selama ini antara negara maju Vs negara berkembang, antara ekonomi Vs lingkungan dan seterusnya terkait kelestarian kesejahteraan masyarakat di dunia. Dunia baru yang dibentuk oleh globalisasi pada setiap aspek dan berada pada satu ekosistem planet bumi, sehingga masing-masing menempatkan diri bagian dari solusi, dari, oleh dan untuk mewujudkan SDGs.
Indonesia yang memiliki industri strategis nasional yaitu industri sawit dapat memposisikannya sebagai bagian dari upaya – upaya pencapaian tujuan SDGs.
Inklusifitas yang tercipta pada industri sawit Indonesia sesuai dengan platform SDGs yang menekankan
Kontribusi Industri Sawit Pada SDGs: Hidup Sehat Untuk Semua (SDGs3) 2453
inklusifitas dalam pencapaian tujuannya yang salah satunya Hidup Sehat Untuk Semua (SDGs-3). Industri sawit berkontribusi pada pencapaian tujuan SDGs- 3 tersebut karena sebagian besar hasil utama kelapa sawit diolah untuk menghasilkan bahan pangan seperti minyak goreng sawit. Minyak goreng sawit ini memiliki kandungan vitamin dan asam lemak yang penting bagi tubuh manusia sehingga menjadi pilihan minyak nabati yang sehat.
Minyak goreng sawit ini tidak hanya menjadi konsumsi masyarakat dalam negeri, tetapi juga masyarakat dunia dapat menikmati minyak sawit sebagai minyak nabati sehat. Oleh sebab itu, tulisan ini akan mendiskusikan kontribusi industri sawit dalam pencapaian tujuan SDGs yaitu Hidup Sehat Untuk Semua (SDGs-3).
Industri Sawit Sebagai Penyedia Bahan Pangan Minyak
Indonesia telah dikenal sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia sejak tahun 2006. Pada tahun 2014, jumlah produksi Indonesia berupa minyak sawit (CPO) dan minyak inti sawit (CPKO) telah mencapai 34,6 juta ton. Jumlah produksi ini terus mengalami peningkatan hingga pada tahun 2018 estimasi produksi CPO dan CPKO Indonesia sudah mencapai 48,2 juta ton (Tabel 15.1).
Sebagian besar hasil produksi tersebut memang masih ditujukan untuk pasar ekspor barupa bahan mentah ataupun hasil olahan. Namun proporsi ekspor bahan mentah menunjukkan penurunan seiring dengan semakin berkembangnya hilirisasi minyak sawit di dalam negeri.
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa penggunaan produksi CPO dan CPKO di dalam negeri belum mencapai 30 persen dari total produksi. Namun sebagian besar
penggunaan dalam negeri digunakan untuk produksi bahan pangan. Hasil hilirisasi minyak sawit berupa bahan pangan seperti minyak goreng sawit telah menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Minyak goreng sawit memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan jenis minyak nabati lainnya seperti minyak kelapa, karena memiliki harga yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Harga minyak goreng sawit yang lebih murah dibandingkan minyak nabati jenis lainnya diperoleh dari tingginya produktivitas kelapa sawit yaitu sekitar 4,2 ton/ha, sehingga dengan input lahan yang sama dapat dihasilkan minyak sawit sekitar 8 kali lebih banyak dari pada minyak nabati lainnya.
Tabel 15.1 Perkembangan Industri Sawit Indonesia Tahun 2014 - 2018
8,250 24.3% 8,309 23.2% 11,320 29.8% 11,05
6 25.6% 13,08
Kontribusi Industri Sawit Pada SDGs: Hidup Sehat Untuk Semua (SDGs3) 2455
Selain harganya yang terjangkau, minyak sawit merupakan minyak nabati yang sehat karena mengandung banyak vitamin A dan vitamin E yang sangat bermanfaat bagi tubuh (PASPI 2018). Minyak sawit juga memiliki komposisi asam lemak esensial yang mirip dengan Air Susu Ibu (ASI) yaitu oleat (C18 : 1), linoleat (C18 : 2) dan linolenat (C18 : 3) pada Tabel 15.2. Minyak sawit mengandung asam lemak esensial oleat sebesar 36,3 persen, sementara Air Susu Ibu juga mengandung asam lemak esensial oleat sebesar 36,5 persen. Asam lemak esensial linoleat minyak sawit sebesar 8,3 persen, dan sedikit lebih rendah dari kandungan asam linoleat Air Susu Ibu sebesar 9,5. Demikian juga asam lemak linolenat minyak sawit sebesar 0,5 persen dan kandungan asam linolenat Air Susu Ibu sebesar 1,4 persen.
Kelebihan minyak sawit sebagai bahan pangan yang sehat dan terjangkau menyebabkan banyak pihak yang mencoba menghambat industri sawit berkembang dengan melakukan berbagai bentuk kampanye negatif. Isu kesehatan menjadi salah satu topik yang digunakan LSM anti sawit dengan menyatakan bahwa minyak sawit merupakan minyak nabati tidak sehat karena mengandung kolesterol, asam lemak trans, dan bisa memicu kanker.
Dampaknya sebagian masyarakat menghindari konsumsi makanan-makanan yang berminyak karena takut kolesterol padahal hal ini hanyalah mitos belaka. Mitos ini terbentuk karena kampanye negatif American Soybean Association (ASA) awal tahun 1980 yang menuduh minyak sawit mengandung kolesterol. Tuduhan ini dimaksudkan untuk menghambat masuknya minyak sawit ke pasar domestiknya karena dianggap mengancam pasar minyak kedelai di seluruh dunia. Namun tuduhan tersebut tidak pernah terbukti oleh riset-riset ahli gizi dan kesehatan di berbagai Negara karena kolesterol hanya dihasilkan oleh hewan dan manusia, sedangkan tanaman tidak memiliki kemampuan menghasilkan kolesterol (Calloway and Kurtz, 1956; USDA, 1979; Life Science Research Office, 1985;
Cottrell, 1991; Muhchtadi, 1998; Muhilal, 1998; Hariyadi, 2010; Giriwono dan Andarwulan 2016).
Tabel 15.2 Perbandingan Komposisi Asam Lemak Minyak Sawit dan Air Susu Ibu (Persen)
Jenis Asam Lemak Minyak Sawit Air Susu Ibu
<C14 : 0 1,2 13,5
C16 : 0 49,3 32,2
C18 : 0 4,1 6,9
C18 : 1 36,3 36,5
C18 : 2 8,3 9,5
C18 : 3 0,5 1,4
C20 : 0 0,3 -
Sumber : Muhilal (1998)
Kontribusi Industri Sawit Pada SDGs: Hidup Sehat Untuk Semua (SDGs3) 2457
Kolesterol merupakan suatu lemak yang sebetulnya sangat penting untuk kesehatan tubuh. Namun jika kadarnya terlalu tinggi dan tidak seimbang, itu yang tidak menyehatkan. Ada tiga fraksi lemak yang menentukan kualitas kolesterol dalam tubuh, yakni kolesterol jahat atau LDL (low density lipoprotein), kolesterol baik atau HDL (high density lipoprotein) dan asam lemak (trigliserida).
Konsumsi minyak sawit dapat menurunkan LDL sebesar 21 persen dan menurunkan trigliserida 14 persen serta menaikkan HDL sebanyak 24 persen (Mien et al. 1989).
Dengan demikian, mengkonsumsi minyak sawit justru menurunkan kolesterol jahat dan sekaligus meningkatkan kolesterol baik sehingga bagus bagi kesehatan tubuh.
Minyak sawit juga dituduh dapat menyebabkan kanker yang merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti karena mampu menghilangkan nyawa manusia setiap tahunnya. Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa kandungan zat antioksidan seperti karoten (Vitamin A), tokoferol dan tokotrienol (Vitamin E) dari minyak sawit dapat menurunkan dan menekan perkembangan sel kanker serta mencegah berbagai penyakit degeneratif lainnya (PASPI 2017).
Berbagai bukti empiris tersebut menunjukkan bahwa industri sawit melalui salah satu produk turunannya berkontribusi pada pencapaian tujuan SDGs. Kampanye – kampanye negatif yang ditujukan terhadap minyak sawit telah dapat dibantahkan secara ilmiah. Hal ini semakin mengokohkan posisi minyak sawit sebagai pilihan minyak nabati yang sehat dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat di Indonesia maupun masyarakat dunia.
Peningkatan Akses Pada Kesehatan
Selain menyediakan bahan pangan sehat, industri sawit juga memiliki kontribusi dalam peningkatan akses masyarakat pedesaan terhadap kesehatan. Telah dibahas sebelumnya bahwa industri sawit berkontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat pedesaan baik secara langsung dengan bertani sawit, maupun tidak langsung karena adanya efek multiplier dari industri sawit.
Perkembangan perkebunan kelapa sawit baik oleh perusahaan swasta, BUMN maupun UKM (petani, supplier) menciptakan kesempatan kerja baru di kawasan pedesaan.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, jumlah karyawan yang bekerja pada perusahaan perkebunan kelapa sawit meningkat dari 718 ribu orang (2000) menjadi 3,8 juta orang (2017). Dengan demikian jumlah tenaga kerja yang terserap secara langsung adalah sekitar 2 juta orang tahun 2000 meningkat menjadi sekitar 8,9 juta orang tahun 2017 (Tabel 15.3). Supriadi (2013) menyebutkan bahwa pembangunan perkebunan kelapa sawit tersebut telah menimbulkan mobilitas penduduk yang tinggi sehingga daerah-daerah sekitar pembangunan perkebunan muncul pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di pedesaan. Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pada peningkatan akses masyarakat pedesaan terhadap kebutuhan sehari-hari dan juga akses pada kesehatan.