• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI EKONOMI LIMBAH SAWIT BAGI PETANI RAKYAT*

ABSTRAK

Indonesia telah dikenal sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia sejak berhasil menggeser posisi Malaysia pada tahun 2006. Produksi produk utama kelapa sawit Indonesia berupa minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (KPO) pada tahun 2017 telah mencapai 37,8 juta ton. Namun dalam proses produksinya, industri minyak sawit menghasilkan limbah dalam jumlah yang sangat besar karena hanya sekitar 20 % - 22% tandan buah segar (TBS) dapat dikonversi menjadi minyak sawit. Sementara sebagian besarnya berubah menjadi limbah padat maupun cair yang awalnya hanya dianggap sebagai sampah.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan penelitian, ternyata limbah kelapa sawit masih bisa dimanfaatkan di berbagai bidang seperti ketahanan energi, peternakan, dan bahkan dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit itu sendiri. Namun petani rakyat mengalami kehilangan sebagian nilai ekonomi limbah ini karena formulasi penetapan harga TBS saat ini belum memperhitungkan komponen limbah TBS. Sehingga nilai ekonomi limbah TBS petani rakyat yang berada di PKS hanya dinikmati oleh PKS.

Ke depan perlu dilakukan penyesuaian kembali formulasi penetapan harga TBS atau melalui kemitraan antara petani dan PKS sehingga petani rakyat dapat mengaplikasikan limbah TBS untuk meningkatkan kesuburan lahan perkebunan kelapa sawit.

Keywords : limbah TBS, minyak sawit, nilai ekonomi, penetapan harga

*) Dimuat pada PASPI Monitor, Volume IV No. 31/2018

Pendahuluan

Indonesia telah dikenal sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia sejak berhasil menggeser posisi Malaysia pada tahun 2006. Sejak tahun 2006 hingga tahun 2017, produksi minyak sawit Indonesia terus mengalami pertumbuhan dan semakin mengokohkan posisi Indonesia dalam produksi minyak sawit dunia. Pertumbuhan produksi ini cukup signifikan dimana terjadi kenaikan dari 17,35 juta ton (2006) menjadi 37,8 juta ton (2017).

Pertumbuhan produksi ini didorong dengan adanya perluasan lahan perkebunan kelapa sawit dari sekitar 6,6 juta hektar menjadi sekitar 14 juta hektar pada periode yang sama (Ditjenbun 2018).

Produksi minyak sawit Indonesia yang sebagian besar dipasarkan secara ekspor ke luar negeri memberikan manfaat yang besar sebagai sumber devisa Negara. Jumlah ekspor produk utama kelapa sawit berupa minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (KPO) pada tahun 2017 telah mencapai 31,05 juta ton. Dengan jumlah ekspor yang besar tersebut, kelapa sawit telah memberikan devisa bagi Negara sebesar USD 23 Milyar. Hal inilah salah satu alasan yang menjadikan industri minyak sawit menjadi industri strategis di Indonesia.

Namun seiring perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, dilakukan berbagai penelitian tentang kelapa sawit baik produk utamanya berupa CPO dan KPO, maupun produk sampingnya atau limbah kelapa sawit.

Awalnya limbah kelapa sawit ini tidak memiliki manfaat atau nilai ekonomi kaarena hanya dianggap sebagai sampah, namun kini dengan banyaknya penelitian terkait pemanfaatan limbah kelapa sawit menjadikan limbah –

Nilai Ekonomi Limbah Sawit Bagi Petani Rakyat 2335

limbah ini bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi. Industri minyak sawit Indonesia khususnya perkebunan kelapa sawit yang luasnya telah mencapai 14 juta hektar dan banyaknya tersebar Pabrik Kelapa Sawit (PKS) menunjukkan adanya potensi yang sangat besar pemanfaatan lebih lanjut limbah kelapa sawit.

Dalam proses produksi minyak sawit di Pabrik Kelapa Sawit (PKS), hanya sekitar 20 % - 22% tandan buah segar (TBS) dapat dikonversi menjadi produk utama kelapa sawit yaitu CPO dan KPO, sedangkan sisanya akan menjadi limbah baik itu limbah cair (POME) maupun limbah padat seperti tandan kosong, dan cangkang. Dengan demikian, sebagian besar hasil pertanian kelapa sawit akan menjadi limbah di pabrik. Tidak hanya di pabrik, proses budidaya kelapa sawit di perkebunan juga menghasilkan limbah berupa limbah pelepah dan daun saat pruning dan juga batang sawit saat proses replanting dilakukan setelah kelapa sawit mencapai umur ekonomis sekitar 25 tahun.

Pemanfaatan limbah dari perkebunan kelapa sawit ini dapat memberikan manfaat bagi petani sawit rakyat yang saat ini sedang gencar melakukan proses replanting dengan bantuan dana dari BPDP Kelapa Sawit.

Potensi pemanfaatan limbah kelapa sawit ini semakin menunjukkan bahwa komoditas kelapa sawit Indonesia merupakan industri yang berkelanjutan karena memberikan manfaat yang besar secara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Oleh sebab itu, tulisan ini akan mendiskusikan ragam potensi pemanfaatan limbah kelapa sawit dan kendala petani rakyat dalam aplikasi pemanfaatan limbah kelapa sawit.

Dari Sampah Menjadi Bernilai Guna

Limbah kelapa sawit baik itu limbah cari (POME) maupun limbah padat seperti tandan kosong, serat, pelepah daun, cangkang pada awalnya hanya dianggap sebagai sampah dalam industri minyak sawit Indonesia.

Namun kini limbah – limbah tersebut telah memiliki nilai guna yang memberikan banyak manfaat secara ekonomi dan lingkungan. Salah satu potensi pemanfaatan limbah kelapa sawit yang paling dibutuhkan Indonesia adalah untuk produksi energi terbarukan demi tercapainya ketahanan energi nasional. Industri minyak sawit merupakan industri yang unik dalam kaitannya dengan produksi energi terbarukan karena dari industri minyak sawit bisa diperoleh energi terbarukan atau biofuel generasi pertama, kedua, dan ketiga. Produksi ketiga jenis energi terbarukan ini juga sifatnya joint product, sehingga peningkatan produksi salah satu generasi biofuel dapat meningkatkan produksi biofuel generasi lainnya.

Namun Masyarakat Uni Eropa (European Union Renewable Energy Directives, RED) maupun di Amerika Serikat (US Renewable Fuels Standard, RFS) lebih merekomendasikan penggunaan energi biofuel generasi kedua (second generation biofuel) seperti biomas untuk memproduksi energi berkelanjutan di dunia (Naik, et al.

2010). Hal ini karena biodiesel generasi pertama yang diproduksi dari minyak sawit (CPO) menyebabkan trade off pemanfaatan CPO untuk minyak goreng dan produksi biodiesel sehingga terjadi kenaikan harga minyak goreng sawit (Rambe 2017). Perkebunan kelapa sawit Indonesia yang telah mencapai 14 juta hektar, memiliki potensi biomassa yang besar untuk diolah menjadi biofuel

Nilai Ekonomi Limbah Sawit Bagi Petani Rakyat 2337

generasi kedua. Biomassa kelapa sawit dapat diperoleh pada saat pruning berupa pelepah daun dan batang sawit saat replanting, serta dari limbah pabrik kelapa sawit berupa tandan kosong, serat dan cangkang buah.

Biomas kebun sawit dapat diolah menjadi bioetanol sebagai produk substitusi premium fosil. Menurut KL Energy Corporation (2007), setiap ton bahan kering biomas dapat menghasilkan 150 liter etanol sehingga dengan 196,8 juta ton bahan kering, kebun kelapa sawit Indonesia akan mampu menghasilkan 29.52 juta kiloliter bioethanol. Pemanfaatan biomass kelapa sawit lainnya yaitu untuk pembangkit listrik tenaga biomass yang berpotensi menghasilkan energi listrik 4336 MW (PASPI 2018).

Potensi lainnya pemanfaatan limbah untuk ketahanan energi berupa pemanfaatan limbah POME yang melimpah di PKS sebagai media kultivasi alga penghasil biodiesel.

Biodiesel dari alga ini merupakan biofuel generasi ketiga yang tidak menghasilkan kekhawatiran trade-off food and fuel seperti halnya yang terjadi pada produksi biodiesel berbahan baku minyak kelapa sawit pada biofuel generasi pertama. Perkembangan alga jauh lebih cepat dibanding komoditas penghasil biodiesel lainnya, dimana secara umum alga memproduksi biomassa dua kali lipat selama 24 jam menjadikan alga mampu menghasilkan yield minyak terbesar yaitu 136900 hanya dengan luasan lahan 2 hektar (Hadiyanto & Azim 2012). Pada skala industri komersial, pemanenan biomassa alga yang terbaik mampu mencapai 5 gram bahan kering/L. Dan hasil minyak yang diperoleh dari alga bervariasi tergantung metode yang digunakan dalam proses ekstraksinya seperti metode mekanik yang mampu menghasilkan minyak 70% dari

alga, metode pelarut kimia yang mampu menghasilkan minyak 95% dan Supercritical Fluid Extraction yang mampu menghasilkan minyak 100% dari alga.

Selain di bidang ketahanan energi, berbagai penelitian telah membuktikan potensi pemanfaatan limbah kelapa sawit pada bidang lainnya. Salah satu pemanfaatan lainnya adalah pada sektor peternakan yaitu penggunaan limbah padat kelapa sawit menjadi pakan. Bungkil inti , ampas minyak dan limbah padat kelapa sawit sangat potensial digunakan campuran pakan ternak sehingga biaya pakan dapat dihemat dan keuntungan usaha ternak kambing dapat ditingkatkan pada skala komersial (Sianipar et al.

2003). Penggunaan limbah bungkil inti kelapa sawit merupakan sumber energi dan protein yang cukup baik untuk ternak ruminansia karena memiliki kandungan protein sekitar 16%, lemak 6%, dan serat kasar sekitar 20% (Mathius & Sinurat 2001). Pemanfaatan ini potensial dilakukan sehingga petani dapat perekonomian pedesaan sentra kelapa sawit dapat lebih berkembang.

Selain pada ternak ruminansia, pemanfaatan bungkil inti sawit sebagai ransum itik petelur hingga kadar 20 persen juga memberikan hasil yang baik (Handayani et al.

1987). Menurut Balai Penelitian Ternak, fermentasi bungkil inti sawit maupun lumpur sawit ternyata dapat meningkatkan kadar protein dari 14,19% menjadi 25,06%

dan menurunkan kadar serat kasar dari 21,70% menjadi 19,75%. Bungkil inti sawit yang belum dan sudah terfermentasi dapat digunakan sampai dengan kadar 15%

pada pakan itik,tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap penampilan pertumbuhan itik jantan sampai umur 8 minggu (Bintang et al. 1998).

Nilai Ekonomi Limbah Sawit Bagi Petani Rakyat 2339

Petani Rakyat Kehilangan Nilai Ekonomi Limbah Tidak hanya dimanfaatkan pada sektor di luar industri sawit, limbah kelapa sawit juga dapat bermanfaat bagi perkebunan kelapa sawit itu sendiri. Pasalnya tandan kosong kelapa sawit dapat digunakan kembali sebagai bahan organik bagi tanaman kelapa sawit baik secara langsung atau tidak langsung. Pemanfaatan secara langsung yaitu dengan menjadikan tandan kosong sebagai mulsa sedangkan secara tidak langsung dengan mengomposkan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai pupuk organik. Selain limbah padat kelapa sawit, limbah cair juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk dan berpengaruh pada peningkatan sifak fisik dan kimia tanah.

Menurut Widhiastuti et al. (2006), pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit dapat meningkatkan biodiversitas tumbuhan penutup tanah dan menurunkan kehadiran gulma pada perkebunan kelapa sawit. Pengembalian bahan organik kelapa sawit ini ke tanah akan menjaga kelestarian kandungan bahan organik lahan kelapa sawit demikian pula hara tanah.

Namun petani rakyat mengalami kehilangan manfaat dan nilai ekonomis sebagian limbah kelapa sawit yang diproduksinya. Petani rakyat menjual produknya berupa Tandan Buah Segar (TBS) ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

TBS yang dijual petani rakyat akan diolah untuk menghasilkan CPO dan KPO di Pabrik Kelapa Sawit, dan sebagian besar TBS yang diolah tersebut akan menjadi limbah berupa POME, tandan kosong, serat, dan cangkang.

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa saat ini produk samping pengolahan TBS tersebut telah memiliki manfaat dan nilai ekonomis yang besar jika dimanfaatkan lebih

lanjut. Dan semua hasil produk samping atau limbah ini berada dan dimiliki oleh pabrik kelapa sawit. Sehingga petani rakyat tidak dapat menggunakan limbah TBS yang diproduksinya sendiri.

Dalam penjualan TBS petani rakyat ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS), pemerintah mengeluarkan peraturan terkait harga TBS melalui Peraturan Menteri Pertanian No.

1 Tahun 2018 tentang Pedoman Pembelian Harga Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Produksi Pekebun. Dasar penetapan pedoman harga pembelian TBS ini adalah kandungan (rendemen minyak) TBS yang bervariasi dan terkait dengan umur tanaman. Secara umum semakin tua umur tanaman kelapa sawit, rendemen minyaknya semakin meningkat. Kandungan minyak setiap kilogram TBS kelompok umur tanaman muda dengan tanaman dewasa jelas berbeda. Sehingga jika harga TBS disamakan untuk setiap umur dapat over estimate atau under estimate.

Dengan demikian, harga TBS akan lebih adil jika ditetapkan berdasarkan umur tanaman dan pada level daerah. Pemerintah membentuk tim untuk penetapan harga pembelian TBS secara periodik yang disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi. Formula umum harga pembelian TBS tersebut yaitu:

H TBS = K {Hms x Rms + His x Ris}

Dengan uraian :

 H TBS : Harga TBS yang diterima oleh pekebun di tingkat pabrik, dinyatakan dalam Rp/Kg

 K : Indeks proporsi yang menunjukan bagian yang diterima oleh pekebun, dinyatakan dalam persentase (%)

Nilai Ekonomi Limbah Sawit Bagi Petani Rakyat 2341

 Hms : Harga rata-rata minyak sawit kasar (CPO) tertimbang realisasi penjualan ekspor (FOB) dan lokal masing-masing perusahaan pada periode sebelumnya, dinyatakan dalam Rp/Kg

 Rms : Rendemen minyak sawit kasar (CPO), dinyatakan dalam persentase (%)

 His : Harga rata-rata inti sawit (PK) tertimbang realisasi penjualan ekspor (FOB) dan lokal masing-masing perusahaan pada periode sebelumnya, dinyatakan dalam Rp/Kg

 Ris : Rendemen inti sawit (PK), dinyatakan dalam persentase (%)

Berdasarkan formula penetapan harga TBS yang berlaku tersebut dapat dilihat bahwa harga TBS yang ditetapkan di masing – masing daerah telah memperhitungkan persentase rendemen minyak sawit kasar (CPO) dan rendemen inti sawit (PK). Berdasarkan peraturan tersebut juga, penetapan indeks “K” sudah memasukkan nilai ekonomi cangkang. Apresiasi harus diberikan kepada pemerintah karena telah memasukkan nilai ekonomi cangkang meskipun harga cangkang tidak terlalu tinggi yaitu antara Rp500-Rp900/kg, tetapi tetap saja ada nilai yang harus diberikan pada petani. Namun sebagaimana diketahui bahwa dari total biomas TBS, komponen CPO dan PKO hanya sekitar 20-25 persen sedangkan sisanya yakni 75 persen berupa biomas tandan kosong, serat buah, bungkil inti sawit, cangkang, daging inti sawit, lumpur sawit yang makin lama makin bernilai ekonomi. Limbah TBS selain cangkang yang juga mulai memiliki nilai ekonomi belum diperhitungkan, dan dianggap tidak memiliki nilai.

Dengan formulasi demikian, petani rakyat mengalami kehilangan nilai ekonomi limbah dari TBS yang diproduksinya sendiri. Padahal limbah tersebut dapat dimanfaatkan untuk kultur teknis di perkebunan sawit rakyat yang hingga kini masih memiliki banyak permasalahan. Salah satu permasalahan utamanya yaitu rendahnya produktivitas kebun sawit rakyat. Peningkatan produktivitas ini harusnya dapat dilakukan melalui intensifikasi pertanian yaitu dengan penggunaan bibit unggul dan perbaikan kultur teknis perkebunan seperti pemanfaatan limbah sawit untuk menambah kesuburan lahan.

Dengan semakin bermanfaatnya limbah TBS tersebut, ke depan perlu dilakukan penyesuaian kembali formula penetapan harga TBS di Indonesia. Komponen nilai ekonomi limbah selain cangkang harus dimasukkan pada formulasinya sehingga petani rakyat dapat menikmati seluruh nilai ekonomi TBS yang dijualnya ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Selain itu, pemanfaatan limbah TBS yang berada di PKS dapat juga dilakukan melalui kerjasama atau kemitraan antara petani rakyat dan PKS. Melalui kemitraan tersebut, dibuat suatu kesepakatan dimana petani rakyat dapat memperoleh atau memanfaatkan sebagian limbah di PKS untuk diaplikasikan di lahan perkebunannya. Kemitraan ini selain lebih berkeadilan antara kedua belah pihak, juga berpotensi meningkatkan produktivitas perkebunan petani rakyat yang pada akhirnya juga dinikmati oleh PKS sebagai mitra kerjasamanya.

Saat ini pemerintah sedang mendorong pelaksanaan peremajaan (replanting) kelapa sawit di perkebunan sawit rakyat. Peremajaan ini dilakukan untuk memperbaiki

Nilai Ekonomi Limbah Sawit Bagi Petani Rakyat 2343

produktivitas perkebunan rakyat yang dulu banyak tidak menggunakan bibit unggul atau tersertifikasi. Pembiayaan program peremajaan ini juga dibantu oleh dana dari BPDP Kelapa Sawit. Pada tahun 2018 target peremajaan sawit rakyat yaitu 185.000 hektar. Dengan target luas lahan peremajaan tersebut, akan menghasilkan banyak biomass kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan kembali untuk mengembalikan kandungan bahan organik pada lahan kelapa sawit rakyat.

Kesimpulan

Indonesia telah memperoleh manfaat ekonomi yang besar dari produk utama kelapa sawit berupa minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (KPO). Namun dalam proses pengolahan kedua produk tersebut, industri minyak sawit Indonesia menghasilkan limbah dengan jumlah yang sangat besar dalam bentuk padat ataupun cair. Limbah ini pada awalnya dianggap tidak memiliki manfaat dan nilai eknomi, namun berbagai penelitian mengungkap banyak potensi pemanfaatan limbah – limbah tersebut. Dalam bidang ketahanan energi, pemanfaatan limbah kelapa sawit berupa biomass dapat menghasilkan 29,52 juta kiloliter bioethanol pengganti premium fosil.

Selain itu limbah kelapa sawit juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena memiliki kandungan gizi yang baik dan sesuai bagi ternak. Limbah kelapa sawit dalam bentuk padat maupun cair juga dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan organik yang menambah unsur hara, meningkatkan biodiversitas tumbuhan penutup tanah, dan menurunkan kehadiran gulma pada perkebunan kelapa sawit.

Namun dengan potensi pemanfaatan yang besar tersebut, petani rakyat kehilangan sebagian nilai ekonominya. Hal ini terjadi karena limbah Tandan Buah Segar (TBS) yang diproduksinya berada dan dimiliki oleh Pabrik Kelapa Sawit (PKS) setelah dijual. Dan berdasarkan formula penetapan harga TBS, komponen limbah TBS ini tidak dimasukkan dalam formulasi perhitungan padahal PKS menikmati nilai ekonomi limbah tersebut. Oleh sebab itu perlu dilakukan penyesuaian kembali formula penetapan harga TBS di Indonesia. Komponen nilai ekonomi limbah harus dimasukkan pada formula sehingga petani rakyat dapat menikmati seluruh nilai ekonomi TBS yang dijualnya ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Selain itu, pemanfaatan limbah TBS yang berada di PKS dapat juga dilakukan melalui kerjasama atau kemitraan antara petani rakyat dan PKS. Melalui kemitraan tersebut, dibuat suatu kesepakatan dimana petani rakyat dapat memperoleh atau memanfaatkan sebagian limbah di PKS untuk diaplikasikan di lahan perkebunannya.

PASPI Monitor, Volume 1 No. 24/2015