• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISI LAIN PERLUASAN MANDATORI BIODIESEL KE SEKTOR NON-PSO*

ABSTRAK

Sejak mandatori biodiesel mulai diterapkan di Indonesia dengan dikeluarkannya Permen ESDM No. 32 Tahun 2008, realisasinya belum mencapai target blending rate yang ditetapkan pemerintah. Kemudian pada awal September 2018, pemerintah melakukan perluasan penerapan mandatori biodiesel ke sektor non-PSO yang memiliki banyak manfaat bagi Indonesia. Perluasan ini akan menghasilkan penghematan impor solar sekitar 10 juta KL pada tahun 2019 dan akan meningkat seiring dengan peningkatan blending rate mandatori biodiesel menjadi 30 persen (B-30) mulai awal tahun 2020. Selain itu perluasan mandatori biodiesel juga memberikan manfaat ganda pada lingkungan yaitu : 1) pengurangan emisi CO2 secara langsung dari penggunaan biodiesel berbahan baku minyak sawit; dan 2) peran biologis tanaman kelapa sawit dalam penyerapan CO2. Implementasi mandatori biodiesel memang belum mencapai target karena adanya ketidaksesuaian antara target kebijakan mandatori biodiesel dengan mekanisme pasar bahan bakar fosil di Indonesia. Subsidi solar seharusnya dicabut pemerintah, dan dialihkan kepada biodiesel sehingga harga biodiesel lebih murah dan konsumen mau beralih menggunakan biodiesel.

Keywords : blending rate, harga biodiesel, pengurangan emisi, subsidi solar

*) Dimuat pada PASPI Monitor, Volume IV No. 39/2018

Pendahuluan

Sejarah mandatori biodiesel di Indonesia telah dimulai sejak dikeluarkannya Permen ESDM No. 32 Tahun 2008 yang mewajibkan pemanfaatan bahan bakar nabati secara bertahap hingga tahun 2025 di sektor rumah tangga, transportasi, dan industri. Kemudian peraturan ini telah beberapa kali mengalami perubahan hingga dikeluarkannya Peraturan Menteri ESDM No. 12 Tahun 2015 yang meningkatkan batasan blending rate menjadi 30 persen yang akan berlaku awal tahun 2020 untuk sektor PSO dan non-PSO. Mandatori biodiesel ini diharapkan dapat memperluas penyerapan minyak kelapa sawit mentah (CPO) di dalam negeri dan menjadi bagian solusi ketahanan energi Indonesia.

Namun sejak awal penerapannya, realisasi mandatori biodiesel masih belum mampu mencapai target blending rate yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, implementasi mandatori biodiesel ini masih berfokus pada sektor PSO yang dijual melalui Pertamina. Hingga pada 1 September 2018, pemerintah melakukan perluasan mandatori biodiesel ke sektor non-PSO yang memiliki potensi besar meningkatkan penyerapan CPO di dalam negeri. Perluasan ini mendukung komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada tahun 2030 sesuai Undang-Undang No. 16 Tahun 2016. Hal ini karena penggunaan biodiesel minyak sawit mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga mencapai 62 persen (European Commission 2012).

Pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) dari penggunaan biodiesel merupakan salah satu dampak positif kebijakan mandatori biodiesel di Indonesia. Selama

Sisi Lain Perluasan Mandatori Biodiesel ke Sektor Non-PSO 2441

ini, kebijakan mandatori biodiesel hanya dilihat dari sisi ketahanan energi berupa substitusi impor solar yang membebani devisa negara. Padahal mandatori biodiesel juga memiliki dampak positif terhadap lingkungan. Oleh sebab itu, tulisan ini akan mendiskusikan tentang penggunaan biodiesel sebagai substitusi bahan bakar fosil, dan sisi lain manfaat implementasi perluasan mandatori biodiesel ke sektor non-PSO.

Biodiesel Sebagai Substitusi Bahan Bakar Fosil Sejak tahun 2006, Indonesia telah menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia dan pada tahun yang sama Indonesia juga menjadi net importer Bahan Bakar Minyak (BBM) termasuk solar. Bahkan menurut Siregar (2018), saat ini produksi minyak fosil Indonesia hanya 800 ribu barel per hari (1 barel = 115,63 liter) atau setara 92,5 juta liter per hari, sedangkan kebutuhan Nasional sebesar 1,5 juta barel per hari atau setara 173,4 juta liter per hari. Hal ini berarti terjadi defisit antara produksi dan kebutuhan energi Indonesia sebesar 80,9 juta liter per hari atau 700 ribu barel per hari. Apabila untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut pemerintah selalu mengambil kebijakan impor BBM, maka akan membebani devisa negara sebesar 49 juta USD per hari (jika dihitung menggunakan harga BBM 70 USD per barel dan 1 USD = Rp.14.900,-) atau setara dengan Rp.730,1 milyar per hari.

Kebijakan mandatori biodiesel menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil. Indonesia yang menjadi produsen terbesar minyak sawit di dunia mulai melakukan hilirisasi untuk menghasilkan bioenergi berupa biodiesel

pengganti atau substitusi bahan bakar solar. Realisasi kebijakan mandatori biodiesel di Indonesia hingga tahun 2017 telah berhasil menghemat solar secara akumulasi sebesar 7.78 juta ton dan menghasilkan akumulasi penghematan devisa Negara sebesar Rp 38,88 Triliun.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, kebutuhan solar Indonesia akan terus mengalami peningkatan hingga mencapai 79,28 juta kL pada tahun 2025 (Tabel 14.1).

Adanya kebijakan mandatori biodiesel yang telah mengalami perluasan implementasinya kesektor non-PSO pada awal September 2018 akan menghasilkan penghematan impor solar sekitar 10 juta KL pada tahun 2019. Penghematan impor solar ini akan meningkat seiring dengan peningkatan blending rate mandatori biodiesel menjadi 30 persen (B-30) mulai awal tahun 2020.

Tabel 14.1 Proyeksi kebutuhan solar dan biodiesel Indonesia (juta kL)

Sisi Lain Perluasan Mandatori Biodiesel ke Sektor Non-PSO 2443

Implementasi mandatori biodiesel berupa target blending rate belum sesuai dengan apa yang diharapkan pemerintah. Hal ini terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara target kebijakan mandatori biodiesel dengan mekanisme pasar bahan bakar fosil di Indonesia. Di satu sisi, Indonesia menginginkan penggantian bahan bakar solar dengan biodiesel sawit, namun di sisi lain Indonesia memberlakukan subsidi terhadap bahan bakar solar sehingga harga solar tetap lebih murah bagi konsumen.

Seharusnya, subsidi untuk bahan bakar solar dicabut pemerintah, dan dialihkan kepada biodiesel sehingga harga biodiesel lebih murah dan konsumen mau beralih menggunakan biodiesel.

Kebijakan mandatori biodiesel ini memang tidak terlepas dari harga minyak mentah dunia. Menurut Yahya et al. 2006, ketika harga minyak mentah dunia sekitar USD38/bbl, produksi biodiesel tidak menguntungkan bahkan ketika harga CPO USD200/ton. Ketika harga minyak mentah USD70/bbl, biodiesel menguntungkan jika harga CPO sekitar USD450/ton. Selain itu menurut Sugiyono 2005, ketika harga minyak mentah sebesar USD40/barel, teknologi transportasi berbasis minyak solar dan bensin ternyata masih tetap lebih ekonomis dibanding dengan penggunaan biodiesel. Biodiesel dapat bersaing dengan bahan bakar minyak fosil pada saat harga minyak mentah di atas USD55 /barel. Dengan demikian keberhasilan mandatori biodiesel tidak hanya terkait jumlah produksi biodiesel di dalam negeri, namun juga keterkaitannya terhadap harga minyak mentah dunia dan kebijakan subsidi harga bahan bakar di Indonesia.

Selain biodiesel, hilirisasi minyak sawit sebagai sumber bioenergi juga dapat menghasilkan biopremium,

biogas, dan bahkan bioavtur. Berdasarkan data dari USDA (2017), kebutuhan bahan bakar fosil Indonesia hingga tahun 2025 menunjukkan trend yang semakin meningkat (Tabel 14.2). Kondisi Indonesia yang sejak tahun 2006 telah menjadi net importer bahan bakar fosil menyebabkan peningkatan kebutuhan bahan bakar ini akan terus membebani devisa negara. Untuk mengatasi hal tersebut, hilirisasi minyak sawit didorong untuk menghasilkan bioenergi lainnya selain biodiesel yang ditargetkan akan dimulai sebelum tahun 2020.

Tabel 14.2 Proyeksi Kebutuhan Bahan Bakar Fosil

Produksi bioenergi berupa bioethanol sebagai pengganti premium/gasoline dapat dilakukan dengan mengolah CPO ataupun biomassa kebun sawit. Menurut pengalaman KL Energy Corporation (2007) setiap ton bahan kering biomas dapat menghasilkan 150 liter etanol.

Hal ini berarti dengan produksi biomas kebun sawit Indonesia sebesar 176 juta ton per tahun, dapat menghasilkan 26 juta kilo liter etanol setiap tahun atau hampir 60 persen dari kebutuhan premium di Indonesia

Sisi Lain Perluasan Mandatori Biodiesel ke Sektor Non-PSO 2445

(PASPI 2018). Minyak sawit yang melimpah di Indonesia juga dapat diolah untuk menghasilkan bioavtur sebagai pengganti bahan bakar fosil pada pesawat. Selain itu, limbah cair kelapa sawit (POME) juga sudah dimanfaatkan untuk menghasilkan biolistrik untuk kebutuhan listrik pedesaan di sekitar kebun. PKS di Indonesia membangun tanki biogas untuk menghasilkan biogas methan dan selanjutnya digunakan untuk menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg).

Sisi Lain Perluasan Mandatori Biodiesel Perluasan mandatori biodiesel ke sektor non-PSO yang dimulai awal September 2018 akan menghasilkan banyak dampak positif bagi Indonesia. Namun perluasan kebijakan mandatori biodiesel ini tidak hanya dimaknai sebagai bagian solusi penghematan impor solar dan kontribusinya pada ketahanan energi nasional melalui produksi energi terbarukan, tetapi perluasan ini harus dilihat dari sudut pandang yang lebih luas dan komprehensif. Karena pada dasarnya, kebijakan mandatori biodiesel ditujukan pada tiga hal pokok yakni: (1) Membangun ketahanan/kedaulatan energi (energy security) khususnya mengurangi ketergantungan pada energi fosil (fosil fuel), (2) Mitigasi perubahan lingkungan global (global climate change mitigation) melalui pengurangan emisi gas rumah kaca dari konsumsi solar fosil yang merupakan penyumbang terbesar dalam terjadinya pemanasan global (global warming) dan (3) Pembangunan pedesaan (rural development) sebagai basis produksi bahan baku biodiesel Indonesia yaitu minyak kelapa sawit.

Sisi lain yang sering terlupakan dari perluasan mandatori biodiesel ini yaitu manfaatnya bagi lingkungan.

Manfaat lingkungan penggunaan biodiesel yang sering dibahas hanya manfaatnya pada pengurangan emisi gas rumah gaca (GRK). Hal ini memang telah banyak dibuktikan dalam berbagai penelitian seperti hasil penelitian Siregar et al. (2013) yang menyebutkan bahwa produksi biodiesel dari CPO (crude palm oil) dapat menurunkan emisi sebesar 49,27 % dibandingkan dengan bahan bakar fosil/BBM. Bahkan menurut European Commission (2012), pengurangan emisi mampu mencapai 62 persen. Dan hal ini juga didukung hasil penelitian Mathews and Ardyanto (2015), yang menyebutkan penggunaan biodiesel sawit sebagai pengganti diesel dapat menurunkan GRK di atas 60 persen.

Selain pengurangan emisi GRK, manfaat lingkungan dari perluasan mandatori biodiesel harus dinilai dari sudut pandang yang lebih luas. Produksi biodiesel Indonesia yang berasal dari minyak sawit memberikan kontribusi besar pada lingkungan melalui aktivitas biologis tanaman kelapa sawit (Gambar 1). Perkebunan kelapa sawit di Indonesia memiliki luasan sekitar 14 juta hektar berkontribusi pada penyerapan karbondioksida (CO2) dalam jumlah yang besar dari atmosfer. Karbondioksida ini dibutuhkan tumbuhan termasuk kelapa sawit untuk menghasilkan zat yang dibutuhkan tumbuhan melalui proses fotosintesis. Proses ini menggunakan energi matahari dan tumbuhan akan mengeluarkan oksigen ke atmosfer yang penting bagi kehidupan organisme lain termasuk manusia.

Sisi Lain Perluasan Mandatori Biodiesel ke Sektor Non-PSO 2447

Gambar 14.1 Aktivitas biologis tanaman kelapa sawit sebagai penghasil bioenergi

Proses biologis pada tanaman kelapa sawit untuk menghasilkan minyak sawit dan biomas yang dapat digunakan sebagai sumber bahan baku bioenergi (salah satunya biodiesel) menggunakan energi matahari.

Sehingga produksi biodiesel dari minyak sawit pada dasarnya bersumber dari energi matahari. Energi matahari ini merupakan sumber energi terbarukan karena akan tersedia secara terus menerus. Dengan demikian proses biologis tanaman kelapa sawit hingga dihasilkan biodiesel, membentuk siklus berulang secara alamiah dan hal ini merupakan suatu proses yang berkelanjutan (sustainable).

Dengan sudut pandang yang lebih luas ini, dapat dilihat bahwa perluasan mandatori biodiesel yang dilakukan pemerintah memberikan manfaat ganda dalam kaitannya pada pengurangan gas rumah kaca terutama karbondioksida (CO2). Manfaat pertama berupa

pengurangan emisi CO2 secara langsung dari penggunaan biodiesel berbahan baku minyak sawit, dan manfaat kedua yaitu peran biologis tanaman kelapa sawit dalam penyerapan CO2. Kesadaran terhadap manfaat ganda mandatori biodiesel ini seharusnya dapat dipahami seluruh masyarakat terutama LSM anti-sawit sehingga seluruh elemen masyarakat dapat mendukung implementasi kebijakan mandatori biodiesel sesuai yang ditargetkan pemerintah.

Kesimpulan

Sejak tahun 2006, Indonesia telah menjadi net importer Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan defisit antara produksi dan kebutuhan energi Indonesia sebesar 80,9 juta liter per hari atau 700 ribu barel per hari yang membebani devisa negara sebesar 49 juta USD per hari atau setara dengan Rp.730,1 milyar per hari. Kebijakan mandatori biodiesel sebagai salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil mengalami perluasan implementasi ke sektor non-PSO pada awal September 2018. Perluasan ini akan menghasilkan penghematan impor solar sekitar 10 juta KL pada tahun 2019 dan akan meningkat seiring dengan peningkatan blending rate mandatori biodiesel menjadi 30 persen (B-30) mulai awal tahun 2020. Implementasi mandatori biodiesel memang belum mencapai target karena adanya ketidaksesuaian antara target kebijakan mandatori biodiesel dengan mekanisme pasar bahan bakar fosil di Indonesia. Subsidi solar seharusnya dicabut pemerintah, dan dialihkan kepada biodiesel sehingga

Sisi Lain Perluasan Mandatori Biodiesel ke Sektor Non-PSO 2449

harga biodiesel lebih murah dan konsumen mau beralih menggunakan biodiesel.

Selain manfaat penghematan impor solar dan devisa negara, perluasan mandatori biodiesel ke sektor non-PSO juga memiliki manfaat dari sudut pandang yang lebih luas.

Perluasan mandatori biodiesel memberikan manfaat memberikan manfaat ganda bagi lingkungan dalam kaitannya pada pengurangan gas rumah kaca terutama karbondioksida (CO2). Manfaat pertama berupa pengurangan emisi CO2 secara langsung dari penggunaan biodiesel berbahan baku minyak sawit, dan manfaat kedua yaitu peran biologis tanaman kelapa sawit dalam penyerapan CO2.

PASPI Monitor, Volume 1 No. 24/2015

KONTRIBUSI INDUSTRI SAWIT PADA SDGs :