• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Analisis Pendapatan Usahatani Padi

Biaya mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengambilan keputusan usahatani Padi . Jenis biaya yang di gunakan dalam analisis biaya yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Dimana, Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan oleh petani padi dalam melaksanakan aktivitas usahatani padi yang besarnya tidak dipengaruhi oleh besarnya produksi dan dinyatakan dalam satuan rupiah, yang tergolong dalam biaya tetap yaitu biaya penyusutan alat dan biaya pajak lahan. Sedangkan biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan oleh petani padi dalam melaksanakan aktivitas usahatani padi yang besarnya sangat mempengaruhi hasil produksi padi dan dinyatakan dalam satuan rupiah, yang

39 tergolong dalam biaya variabel adalah biaya benih, pupuk, insektisida, dan upah tenaga kerja.

Tujuan pengolahan lahan pada budidaya padi sawah adalah mengubah fisik tanah agar lapisan atas yang semula keras menjadi datar dan melumpur.

Keuntungan yang didapat yaitu gulma mati kemudian membusuk menjadi humus, lapisan bawah tanah jenuh air dan dapat menghemat air.

Tahapan pengolahan lahan sawah dimulai dari perbaikan pematang sawah dan selokan saluran irigasi serta pembersihan. Pematang sawah diupayakan agar tetap baik untuk mempermudah pengaturan irigasi sehingga tidak boros air dan mempermudah perawatan tanaman. Pembersihan seperti membersihkan sisa-sisa jerami dan rumput liar yang tumbuh agar bibit padi tidak mengalami persaingan dalam mendapatkan makanan.

Pencangkulan dilakukan dengan tujuan memperbaiki pematang sawah dan sudut-sudut petak sawah yang sukar dikerjakan dengan bajak. Pembajakan dilakukan dengan tujuan agar lahan sawah melumpur dan siap ditanami padi, pengolahan lahan yang ada di daerah penelitian dilakukan dengan menggunakan mesin traktor, pembajakan dengan mesin traktor diharapkan gumpalan-gumpalan tanah terpecah menjadi kecil-kecil kemudian dihancurkan lagi dengan garu sehingga menjadi lumpur halus yang rata.

Persiapan benih untuk penanaman padi sawah dilakukan dengan penyiapan lahan persemaian untuk padi tanam pindah yaitu dengan cara benih disemaikan terlebih dahulu, waktu persemaian sekitar 21 hari sebelum tanaman dipindahkan ke lahan sawah. Sebelum benih ditabur di lahan terlebih dahulu

40 diberi perlakuan seperti benih dijemur dibawah sinar matahari antara 2-3 jam agar benih lebih mudah menyerap air, kemudian benih direndam dalam air sehari semalam, setelah itu benih dianginkan dan kemudian karungnya di ikat kembali sehingga benih terbungkus. Simpan bungkusan karung di tempat yang teduh dan diperam sekitar 2 hari, kemudian benih siap di tabur setelah proses pemeraman selesai.

Benih saat umur 7 – 10 hari setelah tabur diberi pupuk awal sebagai perangsang pertumbuhan bibit, selanjunya pengaturan air disesuaikan dengan ketinggian benih, benih setelah berumur kurang lebih 21 hari sejak tabur , maka benih siap dipindahkan ke lahan penanaman.

Pelaksanaan tanam untuk tanam pindah yaitu benih yang sudah berumur 21 hari dicabut dari persemaian. Caranya 5-10 batang bibit kita pegang menjadi satu, kemudian kita tarik ke arah badan kita dan diusahakan batang jangan sampai putus. Penanaman dilakukan dengan membenamkan bibit dengan tangan ke dalam sawah, jarak tanam yang dipakai sesuai dengan kebiasaan setempat.

Sedangkan untuk tanam sistem tabur benih langsung dilakukan dengan cara menabur benih langsung ke lahan persawahan, namun sebelum benih ditabur memerlukan perlakuan yang sama seperti tanam pindah yaitu dilakukan juga pemeraman benih sampai berkecambah, kemudian benih yang sudah berkecambar ditabur langsung ke areal persawahan. Tanah sawah yang akan ditanami padi tabur benih langsung diupayakan dalam keadaan berlumpur, jenuh air, dan tergenang air. Penanaman benih tabur benih langsung ditunda bila hujan deras, karena apabila hujan deras maka benih yang ditabur akan ikut terbawa air dan

41 tersimpan di petakan sawah, hal tersebut merugikan petani karna mereka harus mengeluarkan kembali biaya untuk membiayai proses penaburan padinya.

Perawatan dan pemeliharaan tanaman sangat penting dalam pelaksanaan budidaya padi sawah tanam pindah dan tabur benih langsung antara lain pengaturan air di petakan, penyulaman, pemupukan, pengendalian hama serta penyakit.

Pengaturan air pada benih di sawah diusahakan dalam keadaan lembab, tanaman padi jangan sampai tergenang air karena tanaman padi dapat mati. Pada waktu benih tumbuh, sedikit demi sedikit air di alirkan ke petakan, tinggi air mengikuti pertumbuhan padi.

Perlakuan penyulaman antara petani tanam pindah dan tabur benih langsung sama saja, dimana dilakukan apabila ada tanaman padi yang mati dalam alur penanaman, penyulaman harus cepat dilakukan pada tanaman padi agar pertumbuhannya tidak ketinggalan dengan yang lain, karna apabila penyulaman terlambat maka bibit yang ditanam akan terhalang pertumbuhannya dengan bibit yang lain karna sudah ternaungi oleh tanaman padi yang lain.

Pemupukan pada tanaman padi sistem tanam pindah dan tabur benih langsung tidak jauh berbeda, karna dosis pupuk disesuaikan dengan anjuran setempat yang sesuai dengan sifat varietas padi dan lingkungannya, dosis yang terlalu rendah menyebabkan pemupukan tidak efektif, sebaliknya jika dosis terlalu berlebihan dapat mengakibatkan gagalnya usaha penanaman. Agar pertumbuhan tanaman dapat berjalan dengan baik. Pupuk yang sering digunakan petani

42 responden yang ada di Kelurahan Gantarang pada umumnya yaitu pupuk Urea, dan ZA.

Pengendalian gulma/ penyiangan pada budidaya tanam pindah dan tabur benih langsung ada 2 yaitu pengendalian secara mekanis (penyiangan) dan pengendalian kimiawi (herbisida). Petani di daerah penelitian melakukan pengendalian secara mekanis yaitu gulma dipotong menggunakan parang atau langsung dicabut dari lahan penanaman kemudian disimpan di atas petakan sawah agar gulma tersebut bisa kering dan akhirnya mati, namun ada juga petani yang menggunakan pengendalian kimiawi yaitu gulma dikendalikan dengan menggunakan herbisida setelah sawah digarap, sebelum benih disebar, atau setelah tanaman tumbuh. Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penyulaman.

Pengendalian hama yang menyerang tanaman padi tanam pindah dan tabur benih langsung yang ada di daerah penelitian yaitu pengendalian hama dan penyakitnya menggunakan pestisida. Jenis-jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi antara lain: wereng, walang sangit, tikus, penggerek batang, bercak coklat, burung, dan lain-lain.

Cara pemanenan padi berbeda-beda tergantung kebiasaan serta tingkat adopsi teknologi petani. Petani di daerah penelitian melakukan panen dengan cara memotong batang berikut malainya dengan menggunakan sabit bergerigi. Tahap selanjutnya setelah padi dipanen adalah perontokan. Perontokan padi yang dilakukan responden yaitu dengan menggunakan mesin perontok gabah.

Pasca panen padi meliputi perontokan, pembersihan, pengeringan dan penyimpanan. Petani di daerah penelitian setelah perontokan selesai, umumnya

43 petani langsung menjemur padinya sebelum dibawa kerumah. Hasil panen padi tidak langsung dijual dalam bentuk gabah, karena sebagian besar hasil panennya untuk komsumsi sendiri dan dijual dalam bentuk beras. Namun ada pula sebagian petani yang langsung menjual gabahnya kepada pedagang setelah padi tersebut selesai dirontok.

Rata-rata petani responden yang ada di Kelurahan Gantarang Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa dalam melakukan usahatani padi masing – masing petani responden mengelola 2 atau 3 lahan penanaman dimana mereka menanam tanaman padi tanam pindah dan juga tabur benih langsung. Perbedaan yang muncul disini adalah dari cara pemeliharaan dimana sistem tanam pindah lebih mudah dalam pemeliharaan karna jarak tiap tanaman teratur dan memudahkan dalam proses pemeliharaan baik pada saat pemupukan, penyiangan, penyulaman maupun pada saat pengendalian hama dan penyakit yang menyerangnya. Sebaliknya untuk tabur benih langsung pemeliharaannya agak rumit karna benih padi yang di tabur tidak teratur dan pada saat dilakukan pemupukan, penyiangan dan pengendalian hama dan penyakit banyak tanaman yang terinjak dan mati. Hal ini membuat petani melakukan penyulaman ulang terhadap tanaman yang mati.

Tanaman padi tabur benih langsung tidak dapat ditanam pada musim kemarau, karna tanaman ini sangat membutuhkan air yang banyak, dan juga sistem perakaran tanaman padi tabur benih langsung hanya berada di atas tanah dibandingkan dengan sistem tanam pindah dimana perakaran tanaman padi dibenamkan ke dalam tanah pada saat penanaman. Hal inilah yang membuat padi

44 tanam pindah lebih kuat bertahan terhadap kekurangan air walaupun dalam musim kemarau.

Tanaman padi sistem tanam pindah dan tabur benih langsung pada hakikatnya sama, namun dilihat dari segi pendapatan maka pendapatan petani padi tanam pindah lebih baik dibandingkan dengan pendapatan petani padi tabur benih langsung. Karna pada tanaman pindah benih padi sudah berbentuk bibit sebelum dipindahkan ke persemaian dan penanaman juga lebih teratur jaraknya dan hasil panen dari tanam pindah lebih bagus, sedangkan untuk tanaman padi sistem tabur benih lansung, benih yang akan ditanam langsung saja dihamburkan ke lahan persemaian, otomatis tanaman menjadi tidak teratur dan batang tanaman juga agak kecil begitupun dengan pendapatan yang di dapat petani.

Penyusutan alat yang digunakan petani responden dihitung dengan menggunakan metode garis lurus (Straight Line Method) dengan asumsi bahwa alat yang digunakan dalam usahatani menyusut dalam besaran yang sama setiap tahunnya. Secara sistematis penyusutan alat dirumuskan sebagai berikut

JA LP x

HS NPAHB

Keterangan: NPA = Nilai Penyusutan Alat (Rp/Tahun) HB = Harga Baru (Rp)

HS = Harga Sisa (Rp) JA = Jumlah Alat (Unit)

LP = Lama Pemakaian (Tahun)

45 Penerimaan usahatani padi adalah hasil perkalian dari produksi padi (Kg) yang diperoleh dengan harga jual (Rp). Sedangkan harga jual adalah nilai atau harga dari usahatani per satuan produksi, suatu usahatani padi dikatakan berhasil apabila pendapatan yang didapat petani memenuhi persyaratan untuk membayar semua sarana produksi, upah tenaga kerja atau bentuk lainnya selama melakukan proses usahatani padi.

5.2.1 Analisis Biaya Dan Pendapatan Petani Padi Tanam Pindah

Pendapatan petani tanam pindah adalah hasil yang diperoleh petani dari total penerimaan yang didapat setelah dikurangi dengan semua biaya yang dikeluarkan petani dalam proses produksi. Sedangkan biaya adalah semua pengorbanan yang dikeluarkan petani untuk membiayai proses produksi dari tanaman padi tersebut, Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

46 Tabel 8 : Rata-Rata Biaya Dan Produksi Per Hektar Usahatani Padi Tanam

Pindah Di Kelurahan Gantarang Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2015.

47 Berdasarkan tabel 8 diatas dapat dilihat bahwa penerimaan usahatani padi adalah perkalian antara produksi padi yang diperoleh dari harga jual padi. jumlah produksi adalah hasil yang di peroleh dari cabang usahatani per satuan produksi.

Suatu usahatani dikatakan berhasil apabila situasi pendapatan memenuhi persyaratan yaitu cukup untuk membayar semua sarana produksi, untuk membayar upah tenaga kerja atau bentuk lainnya selama proses produksi usahatani padi.

Penerimaan yang diperoleh petani responden tanam pindah yang ada di Kelurahan Gantarang Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa sebesar Rp. 16.485.000.00 nilai tersebut diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah produksi dan harga jual pada produksi padi per kilogram.

Biaya usahatani adalah seluruh biaya yang dikeluarkan petani dalam proses produksi dalam jangka waktu tertentu, total biaya yang dikeluarkan adalah

sebesar Rp. 9.539.368.00 yang diperoleh dari biaya variabel sebesar Rp. 8.373.725.00 dan jumlah biaya tetap sebesar Rp. 1.165.643.00

Total pendapatan yang diperoleh petani responden pada usahatani padi tanam pindah di kelurahan gantarang kecamatan tinggimoncong kabupaten gowa sebesar Rp. 6.945.632.00 yang diperoleh dari selisih total penerimaan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi.

48 5.2.2. Analisis Biaya Dan Pendapatan Petani Padi Tabur Benih Langsung Tabel 9 : Rata-Rata Biaya Dan Produksi Per Hektar Usahatani Padi tabur benih langsung

Di Kelurahan Gantarang Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa

No Uraian Jumlah (Rp) Persentase (%) Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2015.

49 Berdasarkan tabel 9 diatas dapat dilihat bahwa penerimaan usahatani padi adalah perkalian antara produksi padi yang diperoleh dari harga jual padi. jumlah produksi adalah hasil yang di peroleh dari cabang usahatani per satuan produksi.

Suatu usahatani dikatakan berhasil apabila situasi pendapatan memenuhi persyaratan yaitu cukup untuk membayar semua sarana produksi, untuk membayar upah tenaga kerja atau bentuk lainnya selama proses produksi usahatani padi.

Penerimaan yang diperoleh petani responden tabur benih langsungyang ada di Kelurahan Gantarang Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa sebesar Rp. 15.631.000.00 nilai tersebut diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah produksi dan harga jual pada produksi padi per kilogram.

Biaya usahatani adalah seluruh biaya yang dikeluarkan petani dalam proses produksi dalam jangka waktu tertentu, total biaya yang dikeluarkan adalah

sebesar Rp. 9.590.040.00 yang diperoleh dari biaya variabel sebesar Rp. 7.736.301.00 dan jumlah biaya tetap sebesar Rp. 1.853.739.00

Total pendapatan yang diperoleh petani responden pada usahatani padi tanam pindah di kelurahan gantarang kecamatan tinggimoncong kabupaten gowa sebesar Rp. 6.040.960.00 yang diperoleh dari selisih total penerimaan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi.

Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka dapat di ketahui perbandingan jumlah pendapatan antara petani padi tanam pindah dan petani padi tabur benih langsung yang ada di Kelurahan Gantarang Kecamatan Tinggioncong Kabupaten Gowa yaitu pendapatan petani padi tanam pindah 4.710 kg/ha dan pendapatan

50 petani tabur benih langsung 4.466 kg/ha. Dimana jumlah pendapatan petani padi tanam pindah lebih besar dibandingkan dengan petani padi tabur benih langsung.

Yaitu penerimaan usahatani padi tanam pindah sebesar Rp. 16.485.000/ha, dengan rata besar biaya produksi Rp 9.539.368/ha. Dengan demikian diperoleh rata-rata pendapatan usahatani padi sebesar Rp.6.945.632/ha. Sedangkan penerimaan usahatani padi tabur benih langsung sebesar Rp. 15,631,000/ha, dengan rata-rata besar biaya produksi Rp. 9.590.040/ha. Dengan demikian diperoleh rata-rata pendapatan usahatani padi sebesar Rp. 6.040.960/ha.

51 VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Usahatani padi antara petani padi tanam pindah dan tabur benih langsung secara analisis perhitungan usahatani lebih besar produksi per petani/ha petani padi tanam pindah yaitu produksinya 4.710 kg/ha per musim tanam, dimana dengan harga 3.500/kg. penerimaan usahatani sebesar Rp 16.485.000/ha, dengan rata besar biaya produksi Rp 9.539.368/ha. Dengan demikian diperoleh rata-rata pendapatan usahatani padi sebesar Rp 6.945.632/ha. Sedangkan rata-rata-rata-rata produksi untuk petani padi tabur benih langsung sebesar 4.466 kg/ha, dengan harga 3.500/kg, penerimaan usahatani sebesar Rp 15.631.000/ha, dengan rata-rata besar biaya produksi Rp 9.590.040/ha. Dengan demikian diperoleh rata-rata pendapatan usahatani padi sebesar Rp 6.040.960/ha. Dari hasil di atas dapat dilihat bahwa pendapatan yang di dapat petani tanam pindah lebih besar dibandingkan petani padi tabur benih langsung.

6.2 Saran

Petani padi tanam pindah dan tabur benih langsung memperoleh produksi yang cukup besar, namun memperoleh pendapatan yang rendah karena para petani menjual hasil produksinya saat panen raya sehingga harga penjualan ikut rendah.

Permasalahan ini muncul karena para petani meminjam modal sebelum melaksanakan usahatani padi, permasalan ini bisa diatasi dengan menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang keberhasilan petani dalam proses produksi.

52 DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2013. Monografi kelurahan gantarang

Arikunto, 2008. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.: Rineka Cipta, Jakarta

Arsyad Lincolin. 2004. Ekonomi Pembangunan. Sekolah Tinggi Ekonomi.

Yogyakarta

Assauri, Sofyan. 2006. Manajemen Produksi dan Operasi. Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta

Harini, 2008, Pengantar Makroekonomi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Hernanto , 2006, ilmu usahatani, penebar swadaya,Bandung

Kusnadi, HMA. 2006. Studi Kelayakan Bisnis. Universitas Brawijaya, Malang Kuswadi, 2007, Meningkatka Laba Melalui Pendekatan Akuntansi Keuangan Dan

Akuntansi Biaya, PT. Bumi Aksara ,Jakarta

Mubyarto 2001, Konsep Penerimaan Dan Pendapatan Usahatani, penebar swadaya, Bandung

M. Fuad, 2004. Pengantar Bisnis. Penerbit Gramedia

Mulyadi. 2007. Akuntansi Biaya, edisi ke-5. Graha Ilmu, Yogyakarta Mulyadi, 2007 . Macam-Macam Biaya, Graham Ilmu, Yogyakarta

Nilasari, Irma & Wiludjeng, Sri. 2006 Pengantar Bisnis. Graha Ilmu, Yogyakarta Purwanto, Suharyadi. 2003. Statistika Untuk Ekonomi Dan Keuangan Modern.

Salemba Empat, Jakarta

Redfiel, Robert, 2009, Masyarakat Petani Dan Kebudayaan,cv rajawali, Jakarta Simangunsong, 2000, Akuntansi Keuangan, Erlangga

Supriyono,2002 Pengumpulan Biaya Dan Penentuan Harga Pokok, BPFE, Jakarta

Suratiyah. 2002, Ilmu Usaha tani, Penebar Swadaya, Jakarta.

53 Supriyono, 2002, Akuntansi Biaya, Buku Saku,Edisi Dua, BPFE, Yogyakarta Soekartawi 2011 Analisis Usahatani, Universitas Indonesia, Jakata

Soekartawi 2006, Ilmu Usahatani Dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil, UI-pres, Jakarta

Soekartawi, 2009, Prinsip Dasar Ekonoi Pertanian, teori dan aplikasi, edisi revisi, raja grafindo,Jakarta

Soekartawi, 2001. Teori Ekonomi Produksi. Rajawali Pers, Jakarta Soekartawi, 2006, Analisis Usahatani UI Pres, Yogyakarta

Soetrisno, 2002, Paradigma Baru Pembangunan Pertanian, Kanisius Press, Yogyakarta

Sukirno, Sadono. 2000. Pengantar Teori Mikro Ekonomi. PT. Raja Grafindo, Jakarta

Tjiptono, 2002. Strategi Pemasaran, Penerbit Andi, Yogyakarta

54 Lampiran 1. Kuesioner Penelitian Tentang Analisis Pendapatan Usahatani Padi

Tanam Pindah Dan Tabur Benih Langsung Di Kelurahan Gantarang Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa

DAFTAR KUESIONER UNTUK RESPONDEN Judul Penelitian :

Analisis Pendapatan Usahatani Padi Tanam Pindah Dan Tabur Benih Langsung Di Desa Lembang Panai Kelurahan Gantarang Kecamatan

Tinggimoncong Kabupaten Gowa

Kode/No. Sampel : ………..

Nama Responden : ………..

Dusun/RT/RW : ………..

Desa/Kelurahan : ………..

Kecamatan : ………..

Kabupaten : ………..

Tgl. Wawancara : ………..

A. Identitas Responden

1. Nama Responden : ...………...

2. Umur : ..…..…….. tahun

3. Pendidikan Terakhir : TT SD / SD / SLTP / SLTA / Diploma / Sarjana 4. Pengalaman Berusahatani : ..…..……..tahun

5. Luas Lahan Usahatani : ... ha 6. Jumlah tanggungan keluarga : ..…..……..orang

55 B. Biaya dan Penerimaan

1. Jenis Sistem Tanam

No Sistem Tanam

1 Tanam Pindah Tanam Benih Langsung

2. Jenis Lahan Yang Ditanami

No Luas Lahan Yang Dikuasai Jumlah (Ha)

Milik Sewa

No Jenis Pestisida Jumlah Pestisida Harga(kg/botol) Jumlah (Rp) 1

56

5. Jenis Biaya Dalam Usahatani

No Jenis Biaya Jumlah Biaya Harga (Rp) Jumlah (Rp)

6. Jenis Peralatan Yang Di Miliki No Jenis

57 Lampiran 2. Peta Lokasi Penelitian Di Desa Lembang Panai Kelurahan Gantarang

Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa

79 Lampiran 15: Dokumentasi Penelitian Usahatani Padi Tanam Pindah Dan Tabur Benih Langsung Di Kelurahan Gantarang Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa

Gambar 1. Wawancara dengan responden petani padi

Gambar 2, wawancara dengan responden petani padi

80 Gambar 3:Bibit Padi Tanam Pindah

Gambar 4: Padi Tabur Benih Langsung

81 Gambar 5: Bibit padi tanam pindah yang sudah dipindahkan

gambar 6: Pemeliharaan tanaman padi

82

Gambar 7 : alat yang digunakan dalam budidaya

83 RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Gowa 21 Oktober 1992, tepatnya di Desa Lembang Panai Kelurahan Gantarang Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa dari Ayah Rahim dan Ibu Dombong. Penulis merupakan anak Terakhir dari tujuh bersaudara.

Penulis menyelesaikan pendidikan di SD Inpres Lembang panai pada tahun 2004, kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri Satu Tinggimoncong dan tamat pada tahun 2007. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri Satu Tinggimoncong dan tamat pada tahun 2010.

Penulis lulus seleksi dan diterima di Universitas Muhammadiyah Makassar pada tahun 2011 dengan mengambil Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian. Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah Magang di Kantor PERTANI Makassar.

Tugas akhir dalam pendidikan tinggi diselesaikan dengan menulis Skripsi yang berjudul “Analisis Pendapatan Usahatani Padi Tanam Pindah Dan Tabur Benih Langsung Di Kelurahan Gantarang Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa”.

Dokumen terkait