pendistribusian sayuran organik kepada agen dilakukan rutin empat kali setiap minggunya, yaitu pada hari Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat dengan menggunakan mobil box dan mini truk.
Selain memasarkan sayuran organik yang diproduksinya kepada agen, YBSB juga memasarkan sayuran organiknya langsung kepada konsumen akhir. YBSB memiliki toko sayuran organis milik sendiri yang berada didepan kebun produksi, sehingga yang dimaksud dengan konsumen akhir YBSB adalah warga di lingkungan sekitar YBSB dan pengunjung yang datang berkunjung ke kebun produksi YBSB. YBSB membuka toko sayuran organik sendiri selain bertujuan untuk menjual sayuran yang tidak dapat diterima agen, tetapi juga bertujuan agar seluruh lapisan masyarakat dapat mengkonsumsi sayuran organik. Selama ini sayuran organik identik dengan harga yang sangat mahal dan hanya dapat dikonsumsi oleh masyarakat tertentu yaitu masyarakat kalangan menengah ke atas. Dengan menjual sayuran organik di toko sayuran sendiri yang berada didepan kebun produksi YBSB serta dengan harga yang tidak terlalu tinggi, YBSB berharap masyarakat dengan kalangan menengah ke bawah juga dapat mengkonsumsi sayuran organik.
ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI SAYURAN
ORGANIK
Keragaan Usahatani Sayuran Organik
Keragaan usahatani sayuran organik di Yayasan Bina Sarana Bakti (YBSB) dilihat dari penggunaan input-input produksi yang digunakan serta proses kegiatan usahatani yang dilakukan. Pada proses kegiatan usahatani wortel, bayam hijau, caisin, selada cos, dan brokoli memiliki tahapan yang sama, namun terdapat perlakuan yang berbeda pada beberapa tahapannya.
Penggunaan Input Produksi
Pada kegiatan budidaya wortel, bayam hijau, caisin, selada cos, dan brokoli organik di YBSB input produksi yang pada umumnya digunakan terdiri dari benih atau bibit, pupuk, naungan atau atap, kemasan, alat-alat pertanian dan pengemasan, serta tenaga kerja. Adapun penggunaan input produksi tersebut pada masing-masing komoditi dijabarkan sebagai berikut:
1. Wortel
Benih yang digunakan pada budidaya wortel organik menggunakan benih produksi YBSB sendiri. YBSB menggunakan benih lokal untuk membudidayakan wortel organik dikarenakan benih varietas tersebut dapat tumbuh optimal karena sudah sesuai dengan tanah, iklim, dan lingkungan di YBSB. Benih yang digunakan YBSB dalam membudidayakan wortel organik dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 Benih wortel varietas lokal YBSB
Penggunaan benih yang digunakan banyaknya disesuaikan dengan luas lahan dan pola tanam yang digunakan. Jumlah pemakaian benih wortel untuk lahan seluas 1000 m2 pada tahun 2012 yaitu sebanyak satu kilogram. Benih yang digunakan merupakan benih yang dihasilkan sendiri oleh YBSB sehingga untuk mengetahui harga benih, digunakan harga benih wortel YBSB yang berlaku di pasar yaitu sebesar Rp300 000.00 per kilogram.
Pada budidaya wortel organik, pupuk yang digunakan oleh YBSB hanya pupuk progresif yang berasal dari hasil panen yang tersedia di bedengan, serasah daun dan rumput hasil tebasan yang kemudian bahan-bahan tersebut ditumpuk dan diamkan selama kurang lebih enam bulan. Pupuk progresif tersebut digunakan sebagai pupuk dasar. YBSB tidak menggunakan pupuk organik yang berupa pupuk kandang ayam dan pupuk kandang kambing kandang pada saat pengolahan lahan maupun pupuk cair pada saat pemupukan susulan. Hal tersebut karena pada pola pergiliran tanaman wortel ditanam setelah sayuran jenis daun atau buah yang menggunakan pupuk organik saat budidayanya, sehingga masih terdapat residu kandungan pupuk organik dari penanaman sayuran jenis daun atau buah sebelumnya. Berdasarkan hasil wawancara, pemberian kembali pupuk organik pada tanaman wortel akan menyebabkan umbi wortel menjadi kecil dan berbulu. Hal tersebut dikarenakan pemberian pupuk-pupuk tersebut bukan memicu pertumbuhan pada umbi melainkan memicu pertumbuhan pada daun.
Sama halnya dengan pupuk, YBSB tidak menggunakan pestisida nabati atau pestisida organik pada proses budidaya wortel organik. Hal tersebut dikarenakan wortel jarang sekali terkena hama, sedangkan penyakit yang menyerang wortel dapat dikendalikan melalui kegiatan pemeliharaan seperti penjarangan, penyiraman, dan juga pergiliran tanaman.
Tenaga kerja manusia digunakan untuk setiap proses kegiatan budidaya mulai dari pengolahan tanah sampai panen dan pasca panen. Tenaga kerja manusia yang digunakan seluruhnya berasal dari tenaga kerja luar keluarga (TKLK). TKLK merupakan tenaga kerja yang diberi upah untuk tenaga yang dikeluarkan sesuai dengan jumlah hari kerja yang dikontribusikan. Tenaga kerja dalam budidaya wortel organik terdiri dari tenaga kerja pria dan tenaga kerja wanita. Satuan tenaga kerja untuk pria disebut dengan HKP, sedangkan satuan tenaga kerja untuk wanita disebut dengan HKW. Jam kerja buruh tani di YBSB dimulai pukul 07.00 hingga pukul 12.00, lalu dimulai kembali pukul 13.00 hingga pukul 16.00 atau selama 8 jam yang setara dengan 1 HOK standar. Meskipun jumlah jam kerja antara pria dan wanita sama, namun terdapat perbedaan upah antara keduanya. Upah tenaga kerja pria sebesar Rp25 000.00 per HOK, sedangkan upah tenaga kerja wanita sebesar Rp20 000 per HOK. Perbedaan upah tersebut dilakukan karena hasil pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kerja pria dan wanita dalam 1 HKP dan 1 HKW berbeda. Untuk menyetarakan antara HKP dan HKW maka perhitungan dilakukan dengan mengkonversikan HKW menjadi HKP dengan mengacu pada standar pada umumnya bahwa 1 HKP setara dengan 0,8 HKW. Perhitungan HOK tersebut berlaku sama terhadap empat sayuran yang diteliti lainnya.
Penggunaan tenaga kerja pada budidaya wortel organik dimulai dari penanaman hingga kegiatan pasca panen sebesar 168.52 HOK/1000 m2 pada tahun 2012. Pada budidaya wortel organik tenaga kerja pria pada umumnya berperan pada tahap penyiapan lahan, penanaman, dan penyiraman, sedangkan tenaga kerja wanita lebih banyak berperan pada tahap pemeliharaan seperti penjarangan dan pembersihan gulma, tahap pemanenan, dan tahap pasca panen dikarenakan pada tahap-tahap budidaya tersebut membutuhkan keuletan dan termasuk pekerjaan yang lebih ringan dibandingkan dengan pekerjaan pada tahapan budidaya lainnya.
Peralatan yang digunakan dalam kegiatan budidaya wortel diantaranya adalah garpu besar, garpu kecil, pisau, gembor, tebasan, cangkul, lori, karung, serta alat-alat yang digunakan pada tahap pasca panen yaitu kontainer, timbangan 5 kilogram, timbangan 150 kilogram, cut bag sealer, dan plastik kemasan. Garpu besar, garpu kecil, dan cangkul digunakan untuk menggali dan membalikkan tanah pada saat penyiapan lahan. Gembor berfungsi untuk menyiram air pada tahap penyiraman. Tebasan digunakan untuk meratakan rumput di sekeliling bedengan yang dilakukan pada tahap penyiapan lahan. Karung digunakan untuk menaruh wortel yang dipanen dan juga untuk mencuci wortel agar bersih dari tanah sebelum dilakukan proses pengemasan. Lori digunakan untuk membawa hasil panen ke tempat pencucian wortel dan ke bagian pemasaran untuk dilakukan proses pengemasan. Pada tahap pasca panen, kontainer digunakan untuk meletakkan wortel yang telah dikemas, timbangan 150 kilogram untuk menimbang hasil panen dari kebun sebelum dilakukan pengemasan, sedangkan timbangan 5 kilogram digunakan pada saat
wortel dikemas, dimana setiap kemasan wortel ditimbang sampai memiliki berat bersih sebesar 500 gram atau 0.5 kilogram. Cut bag sealer berfungsi untuk mengikat wortel yang sudah dikemas. Plastik kemasan untuk mengemas wortel berupa plastik bening berukuran 20 cm x 25 cm dan sticker. Jumlah plastik kemasan yang digunakan untuk mengemas wortel yaitu 2 161.00 lembar/1000 m2.
Besarnya nilai penyusutan peralatan untuk wortel per tahun sebesar Rp470 777.00. Pada perhitungan tersebut, peralatan yang dihitung nilai penyusutannya adalah garpu besar, garpu kecil, gembor, tebasan, cangkul, lori, kontainer, timbangan 5 kilogram, timbangan 150 kilogram, dan cut bag sealer. Sedangkan karung tidak dihitung sebagai biaya penyusutan karena karung hanya dapat digunakan selama kurang lebih 6 bulan, sementara plastik kemasan termasuk ke dalam biaya tunai dengan biaya Rp450.00 per lembar. Biaya kemasan tersebut terdiri dari biaya plastik bening dan sticker. Pada perhitungan usahatani, biaya penyusutan termasuk ke dalam biaya diperhitungkan.
2. Bayam Hijau
Sama halnya dengan wortel, benih bayam hijau yang digunakan untuk budidaya bayam hijau organik menggunakan benih lokal produksi YBSB sendiri. Hal tersebut disebabkan benih lokal YBSB kualitasnya sudah baik dan sudah sesuai dengan tanah, iklim, dan lingkungan di YBSB. Penggunaan benih yang digunakan banyaknya disesuaikan dengan luas lahan dan pola tanam yang digunakan. Jumlah pemakaian benih bayam hijau untuk lahan seluas 1000 m2pada tahun 2012 yaitu sebanyak satu kilogram. Benih yang digunakan merupakan benih yang dihasilkan sendiri oleh YBSB, sehingga harga benih yang digunakan merupakan harga benih bayam hijau YBSB yang berlaku di pasar yaitu sebesar Rp150 000.00 per kilogram.
Berbeda dengan budidaya wortel, bayam hijau menggunakan pupuk pada tahapan budidayanya. Pupuk yang digunakan dalam budidaya bayam hijau organik adalah pupuk organik yang dapat berasal dari pupuk kandang, pupuk kompos dedaunan, dan pupuk cair. Pupuk kandang yang digunakan merupakan kombinasi dari pupuk kandang ayam, pupuk kandang kambing, sekam padi, dan jerami atau rumput. Alasan YBSB menggunakan lebih dari satu jenis pupuk kandang adalah untuk memperkaya unsur hara di dalam tanah sehingga diharapkan kandungan-kandungan hara yang ada didalam tanah dapat terpenuhi. Pupuk kompos dedaunan diperoleh dari sisa-sisa sayuran atau dedaunan sisa panen yang kemudian dikumpulkan dan didiamkan selama kurang lebih dua bulan. Sedangkan pupuk cair yang digunakan YBSB merupakan air hasil rembesan saat proses pematangan pupuk kandang. Jumlah pemakaian pupuk kandang pada budidaya bayam hijau untuk lahan seluas 1000 m2 pada tahun 2012 yaitu sebanyak 3 000 kilogram, sedangkan pupuk cair yang digunakan setiap 1000 m2 pada tahun 2012 sebanyak 300.00 liter.
YBSB memperoleh pupuk kandang ayam dan pupuk kambing dengan membeli kepada peternak ayam dan kambing, sedangkan jerami atau rumput diperoleh dengan menebas rumput yang ada di kebun YBSB. Pupuk kandang ayam dibeli dengan harga Rp8 000.00 per karung sudah termasuk biaya angkut, sedangkan pupuk kambing dibeli dengan harga Rp5 000.00 per karung
sudah termasuk biaya angkut. Setiap karung pupuk kandang tersebut memiliki isi kurang lebih 30 kilogram. Pupuk kandang yang dibeli YBSB masih dalam keadaan segar, sehingga sebelum digunakan harus terlebih dimatangkan melalui proses pematangan pupuk kandang. Proses pematangan pupuk kandang dilakukan dengan cara menumpuk pupuk kandang, pupuk kambing, dan jerami atau rumput selama kurang lebih 3 bulan, dan kemudian dilakukan penyiraman rutin. Dengan demikian, biaya pupuk kandang yang dikeluarkan YBSB sebesar Rp350.00 per kilogram. Biaya tersebut didalamnya telah memperhitungkan biaya membeli pupuk kandang ayam, pupuk kandang kambing, serta upah tenaga kerja yang dikeluarkan selama proses pematangan pupuk kandang. Pupuk cair yang digunakan YBSB merupakan air hasil rembesan dalam proses pematangan pupuk kandang, sehingga yang diperhitungkan adalah upah tenaga kerja pada saat pemberian pupuk susulan saat budidaya berlangsung. Sama halnya dengan pupuk cair, YBSB tidak mengeluarkan biaya untuk membeli pupuk kompos dedaunan dikarenakan pupuk tersebut diperoleh di kebun YBSB sendiri dan merupakan sisa-sisa tanaman hasil panen yang berada di lahan, sehingga yang diperhitungkan hanya upah tenaga kerja pada saat pemupukan dasar dilakukan.
Sama halnya dengan wortel, YBSB tidak menggunakan pestisida nabati atau pestisida organik pada proses budidaya bayam hijau organik. Hal tersebut dikarenakan bayam hijau jarang terkena hama, sedangkan penyakit yang menyerang bayam hijau dapat dikendalikan melalui kegiatan pemeliharaan seperti penjarangan, penyiraman, dan juga pergiliran tanaman.
Pada budidaya bayam hijau, YBSB menggunakan naungan pada saat musim hujan. Naungan tersebut berfungsi sebagai penahan air hujan agar tidak langsung jatuh mengenai daun. Hal tersebut dikarenakan bayam hijau memiliki daun dan batang yang sangat lembut dan mudah rusak sehingga apabila tidak menggunakan naungan saat curah hujan tinggi, maka bayam hijau dapat rusak dan tidak layak untuk dipanen. Setiap bedengan bayam hijau membutuhkan satu naungan, dimana naungan tersebut terbuat dari bambu, plastik ultraviolet, serta pengikat antar bambu dan plastik ultraviolet berupa kawat.
(a) (b)
Gambar 7 menunjukkan pemakaian naungan pada sayuran organik di
2 m
3 cm
YBSB dan rincian gambar bambu. Pada satu buah naungan, bambu yang digunakan adalah bambu yang sudah di belah terlebih dahulu yakni sebanyak 7 batang dengan ukuran 3 cm x 200 cm setiap batangnya dan 3 batang bambu dengan ukuran kurang lebih 3 cm x 300 cm setiap batangnya. Plastik ultraviolet yang digunakan untuk satu naungan berukuran kurang lebih 1,5 m x 10 m, sedangkan kawat yang digunakan untuk satu buah naungan sepanjang 3 m.
YBSB memperoleh bambu, plastik, dan kawat yang digunakan untuk membuat naungan dengan cara membeli. Bambu kecil yang dibutuhkan untuk membuat naungan sebanyak 97.00 batang pada tahun 2012. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli satu batang bambu utuh sebesar Rp7 500.00. Satu batang bambu utuh dapat dibelah menjadi 20 batang bambu kecil sehingga harga bambu kecil sebesar Rp375.00/batang. Plastik ultraviolet yang dibutuhkan untuk membuat naungan sebanyak kurang lebih 97.10 m pada tahun 2012 dan biaya yang dikeluarkan untuk membeli plastik ultraviolet sebesar Rp1 500.00/meter. Sedangkan kawat yang dibutuhkan untuk membuat naungan sebanyak 29.13 m pada tahun 2012 dan biaya untuk membeli kawat sebesar Rp1 000.00/meter. Harga tersebut seluruhnya sudah termasuk biaya angkut. Bambu, plastik ultraviolet, dan kawat dapat digunakan hingga tiga kali menanam sehingga biaya penggunaan bambu, plastik ultraviolet, dan kawat dibagi tiga untuk setiap kali menanam bayam hijau.
Tenaga kerja yang digunakan pada budidaya bayam hijau organik dimulai dari penanaman hingga kegiatan pasca panen sebesar 85.08 HOK/1000 m2 pada tahun 2012. Pada budidaya bayam hijau organik tenaga kerja pria pada umumnya tidak jauh berbeda dengan wortel, dimana tenaga kerja pria berperan pada tahap penyiapan lahan, pembuatan dan pemasangan naungan, penanaman, penyiraman, dan pemupukan susulan, sedangkan tenaga kerja wanita lebih banyak berperan pada tahap pemeliharaan seperti pembersihan gulma, pemanenan, dan tahap pasca panen dikarenakan pada tahap-tahap budidaya tersebut membutuhkan keuletan dan termasuk pekerjaan yang lebih ringan dibandingkan dengan pekerjaan pada tahapan budidaya lainnya.
Peralatan yang digunakan dalam kegiatan budidaya bayam hijau pada umunya sama dengan wortel yakni garpu besar, garpu kecil, gembor, tebasan, cangkul dan lori, namun pada budidaya bayam hijau tidak membutuhkan karung, karena hasil panen langsung dimasukkan ke dalam kontainer. Alat-alat yang digunakan pada tahap pasca panen diantaranya kontainer, timbangan 5 kilogram, timbangan 15 kilogram, impulse sealer, dan plastik kemasan. Garpu besar, garpu kecil, dan cangkul digunakan untuk menggali dan membalikkan tanah pada saat penyiapan lahan. Gembor berfungsi untuk menyiram air pada tahap penyiraman. Tebasan digunakan untuk meratakan rumput di sekeliling bedengan yang dilakukan pada tahap penyiapan lahan. Lori digunakan untuk membawa hasil panen ke bagian pemasaran untuk dilakukan proses pengemasan. Pada tahap pasca panen, kontainer digunakan untuk meletakkan bayam hijau yang telah dikemas, timbangan 15 kilogram untuk menimbang hasil panen dari kebun sebelum dilakukan pengemasan, sedangkan timbangan 5 kilogram digunakan pada saat bayam hijau dikemas, dimana setiap kemasan bayam hijau ditimbang sampai memiliki berat bersih sebesar 200 gram atau 0.2 kilogram. Impulse sealer berfungsi untuk menutup kemasan. Plastik kemasan
untuk mengemas bayam hijau berupa plastik bening berukuran 25 cm x 50 cm dan sticker. Jumlah plastik kemasan yang digunakan untuk mengemas bayam hijau sebanyak 2 803.00 lembar/1000 m2.
Besarnya nilai penyusutan peralatan untuk bayam hijau per tahun sebesar Rp146 554.00. Pada perhitungan tersebut, peralatan yang dihitung nilai penyusutannya adalah garpu besar, garpu kecil, gembor, tebasan, cangkul, lori, kontainer, timbangan 5 kilogram, timbangan 15 kilogram, dan impulse sealer. Plastik kemasan termasuk ke dalam biaya tunai dengan biaya Rp450.00 per lembar. Biaya kemasan tersebut terdiri dari biaya plastik bening dan sticker. Pada perhitungan usahatani, biaya penyusutan termasuk ke dalam biaya diperhitungkan.
3. Caisin
Benih caisin yang digunakan untuk budidaya caisin organik menggunakan benih lokal hasil produksi YBSB sendiri, sama halnya dengan wortel dan bayam hijau. YBSB sudah mampu memenuhi kebutuhan benih untuk caisin, sehingga benih yang digunakan adalah benih lokal YBSB karena kualitasnya sudah baik dan sudah sesuai dengan tanah, iklim, dan lingkungan di YBSB. Penggunaan benih yang digunakan banyaknya disesuaikan dengan luas lahan dan pola tanam yang digunakan. Jumlah pemakaian benih caisin untuk lahan seluas 1000 m2 yaitu kurang lebih sebanyak 0.08 kilogram. Berbeda dengan wortel dan bayam hijau yang benihnya dapat langsung disebar atau ditanam di lahan, benih caisin harus terlebih dahulu disemai. Hal tersebut dikarenakan benih caisin belum tahan terhadap suhu, kelembapan tanah, cuaca, dan lain-lain apabila langsung disebar dilahan, sehingga harus disemai terlebih dahulu sampai menjadi bibit agar dapat tumbuh dengan optimal. Benih caisin yang digunakan YBSB dalam membudidayakan caisin organik dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8 Benih caisin varietas lokal YBSB
Bibit caisin yang digunakan untuk lahan seluas 1000 m2 yaitu sebanyak 25 000 tanaman. Harga bibit per tanaman caisin sebesar Rp60.00, dimana harga bibit tersebut didalamnya sudah termasuk biaya membeli benih caisin dengan harga Rp350 000.00 per kilogram dan upah tenaga kerja yang dikeluarkan selama proses persemaian sampai bibit siap dipindah ke lahan.
Caisin menggunakan pupuk pada tahapan budidayanya, sama halnya dengan bayam hijau. Jumlah pemakaian pupuk kandang pada budidaya caisin untuk lahan seluas 1000 m2 pada tahun 2012 yaitu sebanyak 5 000 kilogram, sedangkan pupuk cair yang digunakan setiap 1000 m2 pada tahun 2012 sebanyak 300.00 liter. Biaya untuk membeli pupuk kandang yang dikeluarkan YBSB sebesar Rp350.00 per kilogram, sedangkan biaya pupuk cair yang diperhitungkan adalah upah tenaga kerja pada saat pemberian pupuk susulan saat budidaya berlangsung saja. Hal tersebut dikarenakan pupuk cair yang digunakan YBSB merupakan air hasil rembesan dalam proses pematangan pupuk kandang. Sama halnya dengan pupuk cair, YBSB tidak mengeluarkan biaya untuk membeli pupuk kompos dedaunan dikarenakan pupuk tersebut diperoleh di kebun YBSB sendiri dan merupakan sisa-sisa tanaman hasil panen yang berada di lahan, sehingga yang diperhitungkan hanya upah tenaga kerja pada saat pemupukan dasar dilakukan.
Sama halnya dengan wortel dan bayam hijau, YBSB tidak menggunakan pestisida nabati atau pestisida organik pada proses budidaya caisin organik. Hal tersebut dikarenakan hama yang terdapat pada caisin masih dapat dikendalikan melalui kegiatan pemeliharaan, pola tumpang sari, dan juga rotasi tanaman. YBSB pada dasarnya sangat jarang untuk menggunakan pestisida nabati hampir pada semua jenis sayuran yang dibudidayakannya, hal tersebut dikarenakan apabila menggunakan pestisida nabati sayuran menjadi pahit.
Pada budidaya caisin, YBSB juga menggunakan naungan pada saat musim hujan. Hal tersebut dikarenakan caisin memiliki daun dan batang yang sangat lembut dan mudah rusak sehingga apabila tidak menggunakan naungan saat curah hujan tinggi caisin dapat rusak dan tidak layak untuk dipanen, sama halnya dengan bayam hijau. Bahan-bahan untuk membuat naungan pada caisin pada dasarnya sama dengan bayam hijau, yaitu terdiri dari bambu, plastik ultraviolet, serta pengikat antar bambu dan plastik ultraviolet berupa kawat. Bambu kecil yang dibutuhkan untuk membuat naungan sebanyak 184.00 batang. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli satu batang bambu utuh sebesar Rp7 500.00. Satu batang bambu utuh dapat dibelah menjadi 20 batang bambu kecil sehingga harga bambu kecil sebesar Rp375.00/batang. Plastik ultraviolet yang dibutuhkan untuk membuat naungan sebanyak kurang lebih 184.00 m dan biaya yang dikeluarkan untuk membeli plastik ultraviolet sebesar Rp1 500.00/meter. Sedangkan kawat yang dibutuhkan untuk membuat naungan sebanyak 55.17 m dan biaya untuk membeli kawat sebesar Rp1 000.00/meter. Harga tersebut seluruhnya sudah termasuk biaya angkut. Bambu, plastik ultraviolet, dan kawat dapat digunakan hingga tiga kali menanam sehingga biaya penggunaan bambu, plastik ultraviolet, dan kawat dibagi tiga untuk setiap kali menanam caisin.
Tenaga kerja yang digunakan pada budidaya caisin dimulai dari penanaman hingga kegiatan pasca panen sebesar 100.24 HOK/1000 m2 pada tahun 2012. Pada budidaya caisin tenaga kerja pria pada umumnya sama dengan bayam hijau, dimana tenaga kerja pria berperan pada tahap penyiapan lahan, pembuatan dan pemasangan naungan, penanaman, penyiraman, dan pemupukan susulan, sedangkan tenaga kerja wanita lebih banyak berperan pada tahap pemeliharaan seperti pembersihan gulma, pemanenan, dan tahap pasca panen dikarenakan pada tahap-tahap budidaya tersebut membutuhkan
keuletan dan termasuk pekerjaan yang lebih ringan dibandingkan dengan pekerjaan pada tahapan budidaya lainnya.
Peralatan yang digunakan dalam kegiatan budidaya caisin pada umumnya sama dengan bayam yakni alat cetak soil block, garpu besar, garpu kecil, pisau, gembor, tebasan, cangkul dan lori. Alat-alat yang digunakan pada tahap pasca panen diantaranya kontainer, timbangan 5 kilogram, timbangan 15 kilogram,
impulse sealer, dan plastik kemasan. Alat cetak soil block berfungsi sebagai pencetak media persemaian benih yang berupa tanah. Pada satu buah alat tersebut terdiri dari 4 block dengan ukuran 5 cm x 5 cm untuk masing-masing
block. YBSB menggunakan alat cetak soil block agar memudahkan dan