• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengolahan Hasil

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 55-62)

3) Total Pendapatan dan R/C Ratio

4.2.2.3 Analisis Pengolahan Hasil

Komponen pengolahan hasil pertanian dari semula produk primer menjadi produk olahan (baik dalam bentuk intermediate product maupun final product), menjadi sangat penting karena dapat menghasilkan, antara lain:

(1) meningkatkan nilai tambah (added value);

(2) meningkatkan kualitas hasil;

(3) meningkatkan penyerapan tenaga kerja;

(4) meningkatkan keterampilan produsen; dan (5) meningkatkan pendapatan produsen.

Namun disisi lain komponen pengolahan hasil ini membutuhkan keterampilan, teknologi dan peralatan, energi listrik, sarana bangunan yang memadai, sarana air bersih, sarana pembuangan limbah, termasuk merubah budaya masyarakat yang selama ini masih terbatas dalam mengkonsumsi produk olahan hortikultura. Jenis produk hortikultura di KAMM yang kebanyakan dikonsumsi dalam bentuk segar seperti kubis, kentang, cabai disajikan pada Gambar 41.

Gambar 41 Produk hortikultura yang kebanyakan dikonsumsi dalam bentuk segar.

(1) Meningkatkan nilai tambah (added value)

Komoditi pertanian hortikultura seperti : bawang daun, bawang merah, bawang putih, wortel, kentang, kubis, sawi, kacang panjang, ketimun, labu siam, kangkung, bayam, terong, buncis, cabai, dan tomat, secara umum memang banyak dikonsumsi dalam bentuk segar (fresh). Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa petani yang mempunyai sense of business (kemampuan memanfaatkan business bidang pertanian) yang melaksanakan kegiatan pengolahan hasil pertanian masih relatif belum banyak.

Bagi pengusaha yang berskala besar kegiatan pengolahan hasil dijadikan kegiatan utama dalam mata rantai bisnisnya, dan dilakukan sampai pada tahap final product. Hal ini disebabkan karena dengan pengolahan yang baik maka nilai tambah barang pertanian menjadi meningkat karena barang tersebut bisa bertahan lebih lama dan mampu menerobos pasar, baik pasar domestik maupun pasar luar negeri. Disisi lain, khususnya petani yang dengan segala keterbatasan yang dimiliki seringkali kurang memperhatikan aspek pengolahan hasil ini. Masih banyak ditemui hasil pertanian ytang langsung dijual (tidak melalui pengolahan hasil yang dilakukan sendiri). Contoh dari hal tersebut, jenis komoditi wortel langsung dijual dalam bentuk kotor bercampur tanah tanpa dicuci, sortasi, grading, maupun packeging karena mereka ingin mendapatkan uang dalam waktu yang singkat dalam bentuk kontan untuk keperluan yang mendesak. Akibat tidak adanya proses pengolahan hasil ini, maka nilai tambah hasil pertanian menjadi rendah.

Proses pengolahan hasil jenis komoditi hortikultura, dilakukan dalam dua kategori, pertama: intermadiate product, yaitu untuk jenis komoditi sayur-sayuran yang memang biasanya dikonsumsi dalam bentuk segar (fresh). Pengolahan hanya dilakukan berupa kegiatan sortasi (pemisahan terhadap produk kualitas A, B, C), dan grading (pembersihan terhadap kotoran-kotoran dan daun-daun tua dan akar-akaran, serta packaging (pengemasan/pengepakan). Packaging yang dilakukan di KAMM masih sangat sederhana, hanya dengan memasukkan produk hortikultura ke dalam keranjang besar dan karung besar untuk dikirim ke pasar-pasar tradisional atau pasar induk. Packaging dalam bentuk kemasan plastik untuk konsumsi supermarket tidak dilakukan sendiri oleh petani, tetapi dilakukan oleh

135 pedagang pengumpul di tempat-tempat packing house milik pedagang pengumpul, sehingga nilai tambah tersebut tidak dimiliki oleh petani. Kedua : final product, yaitu untuk jenis komoditi buah dan biji-bijian maupun umbi-umbian, sebagian sudah diolah sampai pada tahap final product.

Dari hasil pengamatan lapangan serta melalui indepth interview yang dilakukan di KAMM, ada sekitar sepuluh jenis produk hortikultura dan tanaman pangan yang telah dilakukan pengolahannya, yaitu : (1) cabai segar menjadi cabai giling serbuk dan saos cabai; (2) ketela pohon menjadi slondok; (3) wortel menjadi kripik wortel dan serbuk wortel; (4) kobis bunga menjadi kripik kobis bunga; (5) kentang menjadi kripik kentang; (6) brokoli menjadi kripik brokoli; (7) buncis menjadi kripik buncis; (8) salak menjadi kripik salak; (9) kacang panjang menjadi kripik kacang panjang; dan (10) buah nangka menjadi kripik nangka.

Dalam studi ini, analisis nilai tambah (added value) atas pengolahan hasil dilakukan terhadap komoditas unggulan cabai merah menjadi cabai giling serbuk secara tradisional dalam skala industri rumah tangga (home industri). Kondisi pengolahan yang dilaksanakan para petani cabai merah di lokasi studi adalah melalui dua alternatif. Alternatif pertama, apabila pada saat panen raya harga cabai merah masih tetap bagus sekitar 15 % di atas BEP sehingga petani masih mendapatkan keuntungan yang wajar apabila menjual cabai merah dalam bentuk segar (produk primer), maka petani disarankan tidak perlu melakukan pengolahan hasil menjadi cabai giling serbuk dalam partai besar (perbandingannya 20 % diolah dan 80 % lagi dijual dalam bentuk segar). Alternatif kedua, apabila pada saat panen raya cabai merah menimbulkan fluktuasi harga di bawah BEP, maka para petani melakukan proses pengolahan cabai merah menjadi cabai giling serbuk dengan perbandingan 40 % jual segar: 60 % diolah menjadi cabai giling serbuk. Kondisi penjualan produk segar dalam bobot 40 % ini dilakukan para petani karena mereka membutuhkan dana tunai dan cepat untuk menutupi kebutuhan rumah tangga. Diantara produk cabai segar 60 % yang mau diolah tersebut, sebagian disimpan dalam bentuk stok bahan baku yang masih bersifat intermediate product. Tujuan penyimpanan bahan baku ini adalah agar pada saat musim paceklik cabai merah bahan baku ini dapat diolah secara bertahap sesuai kebutuhan pasar. Proses pengolahan stok bahan baku dalam bentuk intermediate

product dilakukan dengan menyimpannya dalam sebuah wadah yang terdiri dari drum plastik ukuran 500 liter, dengan susunan bahan baku terdiri dari lapisan bawah pertama garam setebal 10 cm, lapisan kedua cabai merah yang telah disortasi, cuci, dan dikeringkan dengan ketebalan 30 cm, lapisan ketiga dan seterusnya berulang seperti lapisan sebelumnya sampai drum plastik penuh dan permukaan drum ditutup rapat sampai kedap udara. Kondisi penyimpanan stok bahan baku cabai merah dengan cara seperti ini tetap dalam kondisi baik, higienis, tidak berjamur, tidak merubah warna cabai, tidak membusuk, dan dapat bertahan selama setahun. Proses pengolahan cabai segar menjadi cabai giling serbuk, dilakukan dengan proses dan tahapan sebagaimana disajikan pada Gambar 42.

Gambar 42 Proses pengolahan cabai merah menjadi cabai giling serbuk.

Hasil analisis pengolahan cabai merah segar menjadi cabai giling serbuk dilakukan para pengrajin dengan bobot produksi dalam sekali pengolahan adalah 110 kg cabai segar (saat disortasi 10 % terbuang yang terdiri dari tangkai dan cabai jelek) yang dikerjakan oleh 5 orang dalam ukuran 1 hari kerja. Bobot/hasil bersih pengolahan cabai giling serbuk ini sebesar 10 % dari komoditas segar (100 kg cabai merah segar menjadi 10 kg cabai giling serbuk). Nilai tambah yang dapat diperoleh 1 keluarga pengrajin dalam 1 bulan (8 kali pengolahan) disajikan pada Tabel 30.

Dari hasil analisis terhadap proses pengolahan cabai merah segar menjadi cabai giling segar, dalam 1 bulan dengan 8 kali proses pengolahan 1 keluarga pengrajin dapat memperoleh nilai tambah sebesar Rp. 4.403.440,- yang dianggap memadai untuk biaya hidup sebuah rumah tangga petani di wilayah perdesaan.

137 Nilai tambah Rp. 4.403.440,- ini bisa didapat dengan kondisi apabila harga produk cabai merah segar maksimal 15 % diatas BEP produksi, dan hasil pengolahan cabai giling serbuk dijual oleh para pengrajin kepada pedagang pengumpul. Namun apabila para pengrajin dapat menjualnya langsung kepada pedagang besar/distributor di sub-terminal agribisnis maka nilai tambah bisa didapat para pengrajin dengan kenaikan sekitar 11,60 % lagi atau menjadi Rp 4.914.239,- dalam sebulan. Namun sebaliknya apabila harga cabai merah segar pada saat panen jauh di atas BEP produksi (di atas 50 %), maka para petani tidak melakukan pengolahan hasil karena akan merugi, dan hasil panen cabai merah segar akan dijual dalam bentuk produk primer secara keseluruhan karena akan mendapatkan keuntungan yang cukup besar, melebihi hasil penjualan dalam bentuk produk olahan cabai giling serbuk.

Tabel 30 Nilai tambah (added value) yang dapat diperoleh 1 keluarga pengrajin dari hasil pengolahan cabai merah segar menjadi cabai giling serbuk Proses Pengolahan Jumlah

Proses Bobot Nilai (Rp)

Bobot (kg)

Hrg Jual

(Rp) Nilai (Rp)

Biaya Pengolahan 3.596.560

Cabai Merah Segar 8 kali 880 kg 3.212 2.826.560

Tenaga Kerja 40 OH 600.000

Biaya Gas & Alat 120.000

Biaya Kemasan 50.000

Cabai Giling Segar 10 % 80 100.000 8.000.000

Pendapatan 4.403.440

BEP Pengolahan 4.087

% Added Value 122,43 %

RC/Ratio 2,22

(2) Meningkatkan kualitas hasil

Salah satu tujuan dari pengolahan hasil pertanian adalah meningkatkan kualitas hasil. Adanya kualitas hasil yang lebih baik, maka nilai barang menjadi lebih tinggi dan keinginan konsumen menjadi terpenuhi. Perbedaan kualitas bukan saja menyebabkan adanya perbedaan segmentasi pasar tetapi juga mempengaruhi harga barang itu sendiri. Kualitas barang yang rendah akan menyebabkan harga

yang rendah juga dan bahkan perbedaan harga karena perbedaan kualitas ini juga relatif besar.

(3) Penyerapan Tenaga Kerja

Bila saat pasca panen tiba biasanya petani langsung menjual hasil panennya tanpa diolah terlebih dahulu, bahkan seringkali terjadi hasil tanaman yang sudah siap panen langsung diborongkan kepada pedagang pengumpul dalam keadaan masih terhampar di lahan pertanian, sehingga pekerja yang memanen hasil pertanian bukan lagi dilakukan sendiri oleh petani. Tindakan seperti ini akan menghilangkan kesempatan orang lain yang ingin bekerja pada kegiatan pengolahan yang semestinya bisa dilakukan. Sebaliknya bila proses pengolahan hasil itu dilakukan, maka akan banyak tenaga kerja yang terserap. Penyerapan tenaga hari kerja setara pria (HKSP) maupun tenaga hari kerja setara wanita (HKSW) pada saat pengolahan untuk komoditi cabai merah untuk sekali pengolahan dengan bobot 110 kg, disajikan pada Tabel 31.

Tabel 31 Penyerapan tenaga hari kerja setara pria (HKSP) dan tenaga hari kerja setara wanita (HKSW) untuk komoditi cabai merah sebesar 110 kg di KAMM

Kegiatan Pengolahan Cabai

Giling Serbuk Jumlah TK (HKSP) Jumlah TK (HKSW) Sortasi sampai membelah cabai 1

Rebus sampai kukus 1

Giling dan saring 1 1

Pengemasan dan pemasaran 1

Total 3 2

Hasil analisis penyerapan tenaga kerja untuk sekali pengolahan dengan bobot 110 kg cabai merah segar membutuhkan 3 HKSP dan 2 HKSW. Hal ini berarti untuk 1 bulan dengan 8 kali pengolahan dapat menyerap 24 HKSP dan 16 HKSW (Total 40 orang/bulan) dengan upah rata-rata Rp 15.000,-/hari.

(4) Meningkatkan Keterampilan

Adanya keterampilan mengolah hasil komoditi pertanian hortikultura, maka akan terjadi peningkatan keterampilan secara kumulatif sehingga pada akhirnya

139 juga akan memperoleh hasil penerimaan usahatani yang lebih besar. Peningkatan keterampilan para petani di KAMM dilakukan melalui bimbingan baik langsung maupun tidak langsung. Bimbingan secara langsung dilakukan melalui Pusat-Pusat Pelatihan seperti P4S (Pusat-Pusat Pelatihan dan Pengembangan Perdesaan Swadaya) yang ada di KAMM, ataupun mendatangi secara langsung ke rumah-rumah petani oleh kader-kader penyuluh swakarsa. Bimbingan secara tidak langsung dilakukan melalui penyediaan booklet/leaflet penyuluhan, media cetak (koran) dan media elektronik antara lain RRI.

Hasil penelitian ini (melalui penyebaran kuisioner dan indepth interview kepada pejabat terkait di Pemerintahan Kabupaten Magelang), pelatihan-pelatihan bidang pertanian yang telah pernah dilakukan antara lain adalah :

- Pelatihan budidaya, yang meliputi topik agrotecknopark, antara lain : pengelolaan lahan pertanian, tata cara pengolahan pupuk organik, metoda pertanian dengan teknologi screenhouse, persemaian, perawatan tanaman, pengendalian hama terpadu (PHT), dan pasca panen.

- Pelatihan pengolahan hasil, yang meliputi topik industri kreatif, antara lain:

pembuatan cabai giling serbuk, pembuatan saus tomat, pembuatan sambal, pembuatan kripik sayur dan buah, pembuatan slondok, pembuatan dodol buah, pembuatan kripik kentang, pembuatan sirup buah, dan pelatihan sortasi- grading dan pembuatan peralatan packaging.

- Pelatihan bidang manajemen dan pemasaran: manajemen kewirausahaan, kelembagaan usahatani, sales promotion, dan manajemen pemasaran. Kegiatan pelatihan bidang pertanian di KAMM disajikan pada Gambar 43.

Gambar 43 Pelatihan bidang pertanian di KAMM.

(5) Meningkatkan Pendapatan Produsen

Dengan adanya proses pengolahan hasil dari semula cabai merah segar (dengan BEP Produksi Rp 3.212), diolah menjadi cabai giling serbuk (dengan BEP Pengolahan Rp 4.087), dapat meningkatkan pendapatan petani selaku produsen dan pengrajin sampai 27,24%. Bagi masyarakat petani yang bertindak sebagai pekerja maka telah dapat meningkatkan pendapatan melalui penerimaan gaji harian pengolahan cabai giling serbuk.

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 55-62)