KOMODITAS PROSPEK
4.2.3 Analisis Permodalan
Permodalan adalah sumberdaya utama pengembangan perekonomian. Tanpa modal tidak akan ada investasi, dan tanpa investasi tidak akan ada pertumbuhan ekonomi. Menurut De Soto, negara-negara barat mampu memproduksi modal bagi pengembangan ekonominya, sedangkan negara-negara berkembang termasuk Indonesia tidak mampu memproduksi modal sehingga kekayaan tidak terbentuk.
Aset petani berupa lahan dan rumah seharusnya bisa digunakan oleh petani di Indonesia sebagai sumber permodalan, apalagi aset tersebut dapat di dorong untuk mendapat legalisasi kepemilikan (property right), yang mempunyai kejelasan tentang nama pemilik aset, alamatnya, nilai moneter asetnya dan sebagainya, sehingga dengan demikian bisa dikonversikan menjadi modal. Permodalan di bidang pengembangan usahatani (agribisnis), peranan permodalan merupakan energi yang dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan hasil pertanian.
Hal yang perlu disadari diantaranya adalah sangat sulitnya petani mendapatkan modal kerja, akibat akses petani yang tidak terbuka terhadap sistem keuangan yang begitu sulit untuk ditembus dengan berbagai persyaratan-persyaratan birokrasi dan perbankan yang cukup rumit seperti harus adanya agunan dan kelayakan usaha.
Sistem permodalan usahatani di KAMM terdiri dari empat jenis permodalan, yaitu : (1) Modal sendiri; (2) Pinjaman modal dari perbankan; (3) Pinjaman modal dari tengkulak; dan (4) Pinjaman modal berupa lahan dengan bagi hasil. Dari keempat jenis permodalan ini, para petani menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing, antara lain :
(1) Petani dengan modal sendiri : yaitu dengan mengandalkan biaya yang ada pada petani baik dana tunai maupun biaya barter hasil pertanian ataupun tabungan yang dimiliki petani sebagai hasil saving dari pendapatan sebelumnya. Dari jumlah petani di KAMM sebesar 95.664 jiwa atau 23.948 KK, jumlah petani yang mampu mengembangkan usahatani dengan modal sendiri adalah 57,02 %.
(2) Petani dengan pinjaman modal dari Perbankan : yaitu dengan skim kredit yang dapat membantu petani dalam mendapatkan modal usahatani.
Sebenarnya pihak perbankan pun tahu bahwa keluarga tani merupakan pasar
151 yang sangat potensial bagi penyaluran modal perbankan yang saat ini tersendat akibat sektor riil yang kurang berjalan, sehingga Pemerintah menggulirkan skim kredit yaitu Kredit Usaha Tani (KUT), dengan jumlah petani yang telah mendapat modal pinjaman kredit adalah sebesar 5.842 petani (24,39 %) yang tergabung dalam 455 kelompok, baik dari bank pemerintah maupun swasta. Jumlah petani yang mendapat pinjaman kredit usaha tani (KUT) dari perbankan dapat dilihat pada Tabel 35.
Tabel 35 Jumlah petani yang mendapat kredit usaha tani (KUT) tahun 2007 di KAMM
No Sumber Pinjaman Jumlah
kelompok Jumlah
petani Rata2 pinjaman
(Rp juta) Lama pengembalian
1 Pemkab Magelang 6 46 1.5 12 bulan
2 KUD Sawangan 34 480 3 6 bulan
3 BMT Bima Kab. Maglng 282 3.778 2,76 5 bulan
4 Bank BRI Ngablak 19 189 5,4 6 bulan
5 BPR BKK Sawangan 9 85 3,72 6 bulan
6 Bank BRI Sawangan 62 721 5,8 6 bulan
7 Bank BRI Pakis 19 218 5,5 6 bulan
8 Bank Bapas Ngablak 1 20 2,5 12 bulan
9 BPR BKK Ngablak 24 325 2,46 6 bulan
Pinjaman modal melalui skim kredit yang baru digulirkan pemerintah yaitu kredit ketahanan pangan dan energi (KKP-E) dan kredit usaha rakyat (KUR), diharapkan dapat membantu petani dalam mendapatkan modal usahatani dengan berbagai kemudahan-kemudahan seperti proses yang lebih cepat dan tanpa agunan. Menurut Pusat Pembiayaan Deptan (2007), kredit ketahanan pangan dan energi (KKP-E) adalah kredit tanpa agunan melalui skim kredit bersubsidi untuk petani. KKP-E merupakan kredit investasi dan atau modal kerja yang diberikan oleh bank pelaksana kepada petani melalui kelompok tani atau koperasi. Pola penyalurannya executing, sumber dana 100 % dari perbankan dan resiko ditanggung oleh perbankan. Suku bunga yang dibayar petani peserta KKP-E adalah sebesar suku bunga komersial dikurangi subsidi
yang dibayar oleh pemerintah. Suku bunga bersubsidi yang dibayar oleh petani hortikultura sebesar 7 % per tahun, dengan jangka waktu kredit disesuaikan dengan siklus usahatani, paling lama 5 tahun. Plafon kredit per debitur petani maksimum Rp 25 juta. Skim kredit berikutnya adalah kredit usaha rakyat (KUR), yaitu kredit modal kerja usaha produktif, dimana para petani atau kelompok dapat meminjam modal melalui skim kredit pola penjaminan untuk sektor pertanian. KUR merupakan kredit modal kerja dan atau kredit investasi yang diberikan oleh perbankan kepada usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi (UMKM-K) yang memiliki usaha produktif yang didukung dengan program penjaminan (agunan). Plafon kredit maksimum Rp 500 juta/nasabah dengan suku bunga 16 % efektif per tahun.
Namun dalam realisasi pinjaman modal baik melalui KKP-E maupun KUR kepada para petani di KAMM masih belum menggembirakan karena berbagai kendala antara lain karena informasi yang belum sampai ke tingkat petani.
(3) Pinjaman modal dari tengkulak, merupakan pinjaman modal usahatani dari pengusaha atau tengkulak kepada petani dengan berbagai persyaratan dan ketentuan yang cenderung memberatkan petani, seperti bunga yang tinggi dan harus menjual hasil panen kepada tengkulak dengan harga sepihak. Walaupun persyaratan pinjaman modal dari tengkulak ini cukup memberatkan para petani, namun karena proses penyalurannya yang begitu cepat dan tidak berbelit-belit serta azas yang dibangun adalah saling percaya, maka pinjaman modal melalui tengkulak ini tetap menjadi incaran para petani. Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa ada 4.285 petani (17,89 %) yang tergabung dalam 400 kelompok telah mendapatkan pinjaman modal dari tengkulak, dengan besar pinjaman modal antara Rp 500.000 sampai dengan Rp 4.000.000,- per petani.
(4) Pinjaman modal dengan sistem bagi hasil, yaitu pemilik lahan memberikan lahannya kepada petani penggarap dengan sistem bagi hasil pada saat panen tiba. Pola bagi hasil ini terjadi akibat adanya interaksi antara masyarakat yang pada umumnya non petani namun memiliki lahan yang cukup luas dengan para buruh tani yang mempunyai lahan pertanian sangat terbatas sehingga membutuhkan tambahan luas lahan untuk pertanian. Porsi bagi hasil biasanya
153 adalah kesepakatan antara pemilikm lahan dengan petani penggarap, n amun dari hasil pendataan di lapangan pola bagi hasil ini mereka sepakati 50 % : 50
%. Jumlah petani yang melakukan pinjaman modal dengan sistem bagi hasil masih sangat terbatas, yaitu sekitar 168 petani (0,70 %).
Hasil analisis permodalan ini, memperlihatkan bahwa jumlah petani yang masih membutuhkan bantuan permodalan adalah sebesar 42,98 %, dan 21,72 % diantaranya adalah petani cabai (2.235 KK) dengan besar modal Rp 9.184.000,-/petani, dan besar bunga modal sebesar Rp 321.440,-/0,5 ha.
Total permodalan yang dibutuhkan oleh petani cabai adalah 2.235 KK x Rp.
9.184.000,- = Rp 20.526.240.000,- Pinjaman modal untuk petani cabai ini diharapkan dapat dikucurkan melalui perbankan dengan bunga subsidi tanpa agunan.
Komposisi permodalan petani di KAMM yang meliputi : modal sendiri, pinjaman modal dari bank, pinjaman modal dari tengkulak, dan pinjaman dari sistem bagi hasil disajikan pada Gambar 51.
57,02
24,39
17,89
0,70 0
10 20 30 40 50 60
Modal sendiri Pinjaman modal dari bank
Pinjaman modal dari tengkulak
Pinjaman dari sistem bagi hasil Jenis Pinjaman
Jumlah Petani (%)
Gambar 51 Komposisi permodalan petani di KAMM.