• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Permukiman 1 Pola Permukiman

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 29-34)

Pola permukiman yang terbentuk di KAMM, membentuk kantong-kantong permukiman mengikuti kontur tanah yang mayoritas berbukit dan bergelombang.

Pusat-pusat permukiman berjarak antara 2 sampai 3 km ke lahan-lahan pertanian hortikultura. Jarak tersebut mengakibatkan para petani kesulitan membawa hasil panen ke rumah masing-masing karena sebagian masih harus ditempuh dengan berjalan kaki karena kontur tanah yang cukup miring menyulitkan permukaan tanah sulit untuk dibentuk menjadi badan jalan kendaraan. Akibat ketersediaan pembentukan badan jalan ini membuat pola pembentukan permukiman menjadi linier sepanjang jalan. Adanya pola permukiman yang mengikuti sistem jaringan jalan yang memanjang mengikuti kontur tanah, membuat kebutuhan infrastruktur menjadi mahal. Satuan-satuan permukiman yang hampir tidak terbentuk sebagai kluster-kluster permukiman membutuhkan jalan penghubung yang cukup panjang mengikuti jaringan jalan yang terbentuk di lereng-lereng bukit.

Akibat lahan datar sangat terbatas yang dapat dijadikan untuk lahan permukiman, akhirnya masyarakat cenderung membangun permukiman di daerah-daerah dengan kemiringan tanah di atas 30 % sehingga sangat rawan terhadap bahaya longsor dan erosi. Dalam studi ini seluruh lahan untuk permukiman

direkomendasikan didaerah datar dan dibawah kemiringan 30%. Kondisi permukiman masyarakat masih mayoritas semi permanen (lantai semen, dinding bata dan papan, atap genteng).

4.1.5.2 Analisis standar pelayanan minimum (SPM) permukiman di KAMM Untuk menentukan standar pelayanan minimum kawasan permukiman perdesaan di KAMM yang meliputi kebutuhan untuk perumahan dan sarana serta fasilitas umum, harus mempertimbangkan faktor-faktor kehidupan sosial manusianya, faktor alamnya dan perhitungan/peraturan bangunan, dan setara dengan perkotaan. Standar pelayanan minimum (SPM) permukiman di KAMM mengacu kepada Pedoman Perencanaan Lingkungan Pemukiman Kota, Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya, (1983).

Standar pelayanan minimum kebutuhan ruang/orang dihitung dengan rumus:

U = L. Per orang T.p

U = Kebutuhan udara segar/org/jam dalam satuan m3 Tp = Tinggi plafond dalam satuan m

L. per orang = luas lantai per orang.

Bila kebutuhan udara segar per orang per jam 15 m3 dengan pergantian udara di dalam ruang sebanyak-banyaknya 2 kali perjam dan tinggi plafond rata-rata 2,5 m, maka:

Luas lantai per orang : U = 15 m3 = 6 m2 T.p 2,5 m

1. Analisis kebutuhan untuk lahan perumahan:

Jika jumlah jiwa terdiri dari 4 orang (bapak, ibu, 2 anak), maka kebutuhan luas lantai minimum:

Luas lantai utama = 4 x 6 m2 = 24 m2.

Luas lantai pelayanan diambil 50%:

109 50% x 24 m2 = 12 m2

36 m2

Bila building coverage 50% maka luas kaveling lahan perumahan minimum untuk keluarga petani penggarapo = 100 x 36 m2 = 72 m2.

2. Analisis kebutuhan untuk lahan sarana pendidikan di KAMM

Dalam merencanakan sarana pendidikan harus senantiasa bertitik tolak dari tujuan-tujuan pendidikan yang akan dicapai. Sarana pendidikan yang berupa ruang belajar haruslah memungkinkan siswa untuk dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan serta sikap secara optimal.

(1) Kebutuhan lahan untuk Taman Kanak-kanak (TK).

Untuk menentukan kebutuhan lahan TK perlu dihitung:

a. Berapa jumlah anak usia sekolah TK yang ada dalam lingkungan permukiman di KAMM.

b. Berapa unit ruang belajar yang sudah tersedia dan berapa daya tampungnya.

c. Berapa proyeksi anak usia TK pada 5 tahun yang akan datang.

Dengan demikian dapat dihitung berapa jumlah anak usia TK yang memerlukan sekolah TK, dengan rumus:

A = (Up 5 – Us ) x a%

(2) Kebutuhan lahan untuk Sekolah Dasar (SD).

Rumus yang digunakan untuk menentukan kebutuhan lahan SD adalah:

Dt = (Dp 5 – Ds) x d%

(3) Kebutuhan lahan untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

Rumus yang digunakan untuk menentukan kebutuhan lahan SLTP adalah:

Lsdt = (Lsd 5 – Lsds) x p%

(4) Kebutuhan lahan untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).

Rumus yang digunakan untuk menentukan kebutuhan lahan SLTA adalah:

Lsls = (Lslp 5 – Lslps) x a%

3. Analisis kebutuhan untuk lahan sarana kesehatan di KAMM

Sarana kesehatan ini bukan saja penting untuk kesehatan masyarakat melainkan berfungsi juga untuk mengendalikan perkembangan/pertumbuhan pendidik. Kebutuhan lahan yang dihitung adalah untuk Balai Pengobatan (BP), Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak, Puskesmas, Rumah Sakit, Tempat Praktek Dokter, dan Apotik.

4. Analisis kebutuhan untuk lahan sarana perniagaan dan industri di KAMM Sarana perniagaan dan industri ini merupakan unsur karya dalam perencanaan, disamping sebagai fasilitas perbelanjaan dan industri juga merupakan fasilitas kerja bagi kelompok yang yang lain (sebagai mata pencaharian). Kebutuhan lahan yang dihitung adalah untuk warung, pertokoan, pusat perbelanjaan kawasan, pusat perbelanjaan dan niaga kawasan, dan Industri.

5. Analisis kebutuhan untuk lahan sarana pemerintahan dan pelayanan umum di KAMM

Yang dimaksud dengan sarana-sarana tersebut adalah kantor-kantor administrasi pemerintahan, seperti kantor camat, kantor kepala desa, kantor polisi, kantor pos, telepon, PLN, PAM, dan lain-lain yang berhubungan dengan pemerintahan. Kebutuhan lahan yang dihitung adalah untuk kantor-kantor pemerintahan dan pelayanan umum.

6. Analisis kebutuhan untuk lahan sarana kebudayaan dan rekreasi di KAMM Yang dimaksud dengan sarana-sarana ini, adalah bangunan yang dipergunakan untuk aktifitas-aktifitas kebudayaan dan atau rekreasi seperti:

gedung-gedung pertemuan, gedung serbaguna, bioskop, dan lain-lain. Kebutuhan lahan yang dihitung adalah untuk sarana kebudayaan dan rekreasi.

111 7. Analisis kebutuhan untuk lahan sarana peribadatan di KAMM

Yang dimaksud dengan sarana peribadatan ini, jenis, macam dan besaran sangat tergantung dari kondisi setempat. Kebutuhan lahan yang dihitung adalah untuk sarana peribadatan.

8. Analisis kebutuhan untuk lahan sarana olah raga dan ruang terbuka hijau (RTH) di KAMM

Sarana-sarana ini disamping fungsi utamanya sebagai taman, tempat main anak-anak dan lapangan olah raga juga akan memberikan kesegaran pada kawasan permukiman (cahaya dan udara segar), dapat juga menetralisir polusi udara sebagai paru-paru agropolis. Kebutuhan lahan yang dihitung adalah untuk sarana olah raga dan ruang terbuka hijau, yaitu taman, taman dan lapangan olah raga, jalur hijau, dan kuburan.

4.1.5.3 Analisis standar pelayanan minimum (SPM) infrastruktur on-farm di KAMM

Untuk menentukan standar pelayanan minimum infrastruktur on-farm di KAMM yang meliputi kebutuhan untuk jaringan irigasi, jalan usahatani, gudang saprodi, dan tempat pengumpulan hasil sementara (TPHS) di wilayah on-farm agribusiness, menggunakan asumsi perencanaan dengan mempertimbangkan faktor-faktor kehidupan sosial manusia, faktor alam, faktor pencapaian, dan faktor pelayanan.

Hasil analisis kebutuhan infrastruktur on-farm untuk lahan seluas 30 ha (luas efektif untuk lahan usahatani 80% = 24 ha) adalah sebagai berikut:

(1) Jalan usahatani lebar 3 meter = 600 m!

(2) Jalan setapak lebar 0.9 meter = 1.797 m!

(3) Saluran irigasi sekunder = 400 m!

(4) Saluran irigasi tersier = 1.200 m!

(5) Tempat pengumpulan hasil sementara (TPHS) = 3 unit

Hasil analisis standar pelayanan minimum (SPM) untuk kawasan permukiman disajikan pada Lampiran 4, sedangkan kondisi permukiman penduduk di KAMM disajikan pada Gambar 35.

Gambar 35 Kondisi permukiman di Kawasan Agropolitan Merapi-Merbabu.

4.2 Analisis Kinerja Kawasan Agropolitan Merapi-Merbabu

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 29-34)