• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengunjung, Masyarakat dan Pengelola

Pada penilaian kualitatif, menurut Avenzora (2008b:250), salah satu struktur nilai yang mudah dan umum digunakan adalah sistem skoring. Namun demikian, dalam penggunaannya sangat sering dijumpai kesalahan dan kelemahan berupa inkonsistensi struktur skor dan kelemahan penetapan indikator setiap satuan skor.

Untuk mengeliminasi hal tersebut, maka salah satu cara yang dapat dipakai adalah melengkapi Skala Likert menjadi sistem skoring yang terstruktur. Dijelaskan pula bahwa meskipun pada dasarnya Skala Likert bergerak dari skor 1 sampai dengan 5, namun sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia, maka sebaiknya skala tersebut diubah menjadi 1 sampai dengan 7. Dalam hal ini masyarakat Indonesia mengenal berbagai tingkatan untuk menyampaikan sesuatu, sehingga dikenal adanya tingkatan dalam berbahasa. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki rentang yang lebih panjang dalam memberikan suatu pemaknaan, termasuk dalam memberikan penilaian.

Riduan dan Sunarto (2011:.20) menjelaskan Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat atau pun persepsi sesorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial maupun alam. Skala Likert dibedakan dalam 5 tingkat

(1 sampai dengan 5) dengan keterangan 1 ―sangat tidak setuju‖, 2 ―tidak setuju‖, 3

―ragu-ragu‖, 4 ―setuju‖ dan 5 ―sangat setuju‖. Dalam penelitian gejala ini telah ditetapkan secara spesifik yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.

Data persepsi yang dikumpulkan pada penelitian mengikuti pola (Avenzora 2008b) adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan responden terhadap satu aspek dan elemen-elemennya, sehingga nilai skor 1 diberikan untuk pernyataan ―sangat

tidak puas‖, nilai 2 untuk pernyataan ―tidak puas‖, nilai 3 untuk pernyataan ―agak tidak puas‖, nilai 4 untuk pernyataan ―biasa saja‖, nilai 5 untuk pernyataan ―agak puas‖, nilai 6 untuk pernyataan ―puas‖ dan nilai 7 untuk pernyataan ―sangat puas‖. Pemaknaan dari setiap nilai tersebut dapat diubah sesuai dengan kebutuhan

misalnya ―setuju‖ ataupun ―baik‖ dan lainnya.

Untuk mendapatkan nilai persepsi dari skor 1 sampai skor 7, maka pada setiap kriteria untuk menilai suatu persepsi ditetapkan sejumlah indikator. Pada setiap kriteria ditetapkan 7 (tujuh) indikator dengan setiap indikator bermakna dengan nilai skor 1, sehingga bila setiap indikator terpenuhi maka diperoleh nilai persepsi maksimal (nilai skor 7) untuk kriteria bersangkutan pada elemen tertentu.

Nilai rata-rata untuk setiap aspek dan elemen yang dinilai merupakan nilai persepsi responden terhadap aspek dan elemen bersangkutan. Selanjutnya nilai persepsi tersebut diberikan deskripsi untuk menjelaskan makna dari persepsi terhadap setiap aspek dan elemen-elemennya.

Berbagai skor persepsi yang terdata adalah menunjukkan tata-nilai responden terhadap kondisi saat itu (given condition) dari setiap elemen yang terdapat dalam suatu aspek yang sedang dievaluasi. Berapapun skor yang diberikan oleh responden terhadap suatu aspek yang sedang dievaluasi adalah menggambarkan posisi dari tata nilai yang dimilikinya di dalam rentang skor yang digunakan. Proses pemetaan skor tersebut kemudian dilanjutkan dengan analisis gap, yaitu serangkaian penelaahan mengenai kesenjangan posisi skor terhadap kondisi ideal yang diinginkan (yang dalam konteks skor tergambar pada posisi skor sama dengan 7).

Untuk mengetahui keselesaran persepsi, motivasi dan preferensi antar kelompok stakeholder telah digunakan kuisioner yang bersifat close-ended. Stakeholder dibedakan menjadi 5 kelompok yaitu Masyarakat Pekon Pemerihan (Pm), Masyarakat Sumberejo (Sr), Masyarakat Way Haru (Wh), Pengelola (Pg) dan Wisatawan (Wi).

Responden masyarakat dipilih secara acak terhadap kepala keluarga di masing-masing pekon. Adapun responden pengelola terdiri dari pegawai TNBBS dan staf WWF Lampung. Sedangkan wisatawan yang diberikan kuisioner adalah pengunjung yang tergolong usia remaja hingga dewasa, baik lak-laki maupun perempuan yang sedang berkunjung di Camp Elephant Patrol.

Close ended questionaire dirancang dengan menggunakan metoda One Score-One Indicatore berskala Skala Likert yang diperluas menjadi 1-7 (Avenzora, 2008:250). Esensi dari persepsi, motivasi dan preferensi yang ditanyakan pada stakeholder disajikan pada Tabel 3.8.

Pengolahan data skor dilakukan dengan menjumlahkan frekuensi stakeholder yang memberikan jawaban pada tiap indikator. Kemudian frekuensi pada tiap indikator dikalikan dengan nilai sesuai skor yang ada, sehingga diperoleh skor indikator; kemudian skor indikator ini dijumlahkan untuk mendapatkan skor kumulatif. Lebih lanjut, dihitung selisih skor kumulatif positif dan negatif guna mengetahui apakah kelompok stakeholder mempunyai kecenderungan persepsi positif atau negatif.

Dalam penelitian ini, persepsi positif dimaknai sebagai berbagai penilaian yang diberikan stakeholder atas suatu dinamika yang dianggap baik atau sesuai

dengan keinginannya. Sedangkan persepsi negatif adalah penilaian yang buruk atau bertentangan dengan keinginannya.

Tabel 3.8. Matrik panduan pertanyaan persepsi, motivasi dan preferensi stakeholder.

Aspek Pm Sr Wh Pn Wi

Orientasi Persepsi

 Gajah v v v v v

 Ekowisata gajah v v v v v

 Dampak pada Habitat v v v v v

 Dampak pada ekonomi v v v v v

 Dampak pada sosial budaya v v v v v

Orientasi Motivasi

 Menggarap lahan v v v

 Terlibat ekowisata (pasif) v v v

 Terlibat ekowisata (aktif) v v v

 Mengelola ekowisata v v v v

 Melihat gajah secara langsung. v

 Melihat atraksi gajah jinak v

 Melihat atraksi gajah liar v

 Melihat habitat gajah v

Preferensi

 Pengelolaan gajah liar v v v v v

 Pengelolaan lahan di dalam TNBBS v v v v v

 Pengelolaan lahan di luar TNBB v v v v v

 Dukungan yang akan dilakukan v v v v v

Keterangan:

Pm = Pekon Pemerihan, SR = Pekon Sumberejo, Wh = Pekon Way Haru, Pn = Pengelola, Wi = Wisatawan.

Kemudian untuk mengetahui keselerasan diantara kelompok stakeholder digunakan pendekatan uji Chi square. Uji ini dilakukan terhadap stakeholder dengan cara pasangan kombinasi dua stakeholder atau side by side.

Uji Chi square dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut (Kusmayadi dan Sugiarto, 2000) :

χ2

hit= Σ(Oij- Eij)2

Eij

Keterangan:

Oij = nilai observasi, Eij = nilai harapan Eij = nilai ΣOi x ΣOj N = nilai total observasi N

Hipotesis yang dibangun adalah:

Ho = tidak ada perbedaan dalam memberikan skor atas kelompok stakeholder. H1 = ada perbedaan dalam memberikan skor atas kelompok stakeholder. Keputusan yang diambil adalah sebagai berikut:

1. Jika χ2hit ≤ χ2tab (0.05,k-1), maka terima Ho, artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok stakeholder

2. Jika χ2hit > X2tab(0.05,k-1), maka tolak Ho, artinya terdapat perbedaan nyata antar kelompok stakeholder atau tidak selaras.