• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komposisi dan Struktur Vegetasi a Hutan Primer

Komposisi dan struktur vegetasi pada berbagai tipe ekosistem penting diketahui, selain dapat menggambarkan dominansi spesies terhadap spesies lain juga menunjukkan

proses regenerasi sebagai upaya eksistensi spesies di dalam suatu ekosistem. Hasil studi menunjukan bahwa komposisi hutan primer pada fase pohon di home range gajah didominasi oleh kayu tiyung (Strombosia javanica; INP=19.25%), diikuti oleh simpur

(Dillenia excelsa; INP= 12.25%) dan meluang (Dipterocarpus

humeratus;INP=11.38%). Sebagai bahan perbandingan, hutan primer di Bengkulu Utara menurut Supartono (2008:64), didominasi oleh sepalok (Santiria laevigata; INP= 24.41%). Menurut Singh (2006; di dalam Bargali et al. 2013:270) komposisi hutan berbeda dari tempat ke tempat disebabkan karena berbagai topografi seperti dataran rendah, berbukit atau pegunungan.

Selanjutnya, spesies tumbuhan pada fase tiang didominasi oleh Rhinorea lanceolata (INP=33.29%), diikuti dua spesies berikutnya Strombosia javanica (INP=20.63%) dan Dillenia excelsa (INP=17.35%). Jika Supartono (2008:64) melaporkan bahwa pada fase tiang, hutan primer di Bengkulu, didominasi oleh Syzygium sp, atau jambu hutan (INP=24.00%), maka dalam home range gajah di penelitian ini ternyata kedua jenis tersebut hanya menempati peringkat 9 dari 10 jenis dominan.

Hasil analisis juga menunjukan bahwa ada 5 jenis dominan (50%) pada fase tiang yang sama dengan fase pohon, yaitu Strombosia javanica, Dillenia excelsa, Ixonanthes icosandra, Aglaia sp, dan Dipterocarpus humeratus. Spesies tersebut menjadi generasi penerus yang akan menjadi pohon. Menurut Bargali et al. (2013:270) keberhasilan regenerasi dari spesies pepohonan dipengaruhi oleh 3 komponen utama, yaitu ketersediaan semai dan pancang, kemampuan untuk hidup dan kemampuan untuk tumbuh dan berkembang.

Spesies tumbuhan pada fase pancang didominasi oleh bandotan (Popowia bancana;INP=28.02%), balik angin (Mallotus miquelianus; INP =16.64%), dan geok (Popowia psocarpa; INP =16.62%). Dikaitkan dengan ketersediaan regenerasi untuk fase tiang, maka hanya ada 3 spesies pancang dari 10 INP tertinggi (30%) ) yang sama dengan fase tiang, yaitu Dillenia excelsa, Strombosia javanica dan Ixonanthes icosandra.

Untuk fase semai, ekosistem didominasi oleh mara (Mallotus floribundus; INP =12.41%), Strombosia javanica (INP=11.76), dan tinduran punai (Cleistanthus myrianthus; INP=11.79%). Hasil analisa menunjukan bahwa nilai-nilai INP 10 spesies terbesar pada fase semai adalah tidak berbeda jauh satu sama lain. Pada fase semai ini tercatat 5 spesies yang sama dengan fase pancang (50%); kondisi ini menunjukkan regenerasi yang baik pada fase semai. Selanjutnya, perlu untuk digarisbawahi bahwa ternyata spesies Strombosia javanica selalu ada pada fase pancang, tiang dan pohon di hutan primer.

b. Hutan Sekunder

Hutan sekunder pada fase pohon didominasi oleh Tetrameles nudiflora dengan INP=38.17%, Karidung (Glochidion arborescens; INP= 30.28%), dan Cananga odorata; INP=26.81%). Jika dikaitkan dengan hutan primer pada fase pohon, maka ke 3 spesies tersebut telah menggantikan posisi dominansi Strombosia javanica, Dillenia excelsa dan Dipterocarpus humeratus. Perubahan ini diduga kuat karena adanya aktivitas penebangan liar. Thakuri (2010:6) menyebutkan gangguan manusia terhadap hutan meliputi pengambilan bahan bakar dan makanan, pembakaran hutan, penggembalaan ternak, penebangan pohon, dan konversi hutan menjadi lahan pertanian. Menurut DeWalt et al. (2003:139), di Panama struktur ekosistem di hutan sekunder yang telah berumur 70 tahun sangat mendekati hutan yang berumur 100 tahun dan hutan tua (old-growth forest) atau hutan primer. Informasi ini menujukkan bahwa paling tidak membutuhkan waktu 70 tahun untuk proses pemulihan struktur hutan yang rusak mendekati struktur hutan primer.

Spesies pada fase tiang didominasi oleh kelandri (Bridelia monoica;INP=38.42%), Calicarpa tomentosa (INP=29.65%), Croton argyratus (25.25%). Sebagai pembanding, Syarifuddin (2008:130) melaporkan bahwa pada fase tiang, hutan di Bengku Utara didominasi oleh Mallotus paniculatus (INP=30.955%). Kelandri dan mallotus merupakan tanaman cepat tumbuh yang menjadi pionir pada hutan-hutan yang mengalami gangguan manusia. Ketika ruang dibuka oleh manusia, kemampuan kelandri berkembang sangat cepat melebihi jenis yang lainnya.

Adapun pada fase tiang, juga tercatat 5 spesies yang sama dengan fase pohon, yaitu Strombosia javanica, Dillenia excelsa, Ixonanthes icosandra, Aglaia sp, dan Dipterocarpus humeratus. Adapun regenerasi pada fase tiang menunjukkan angka 5 dari 10 spesies (50%) sama dengan spesies pada fase pohon. Atas hal ini maka dapat dikatakan bahwa proses regenerasi pada fase tiang ini berlangsung secara alami, dan komposisi jenisnya tersusun mendekati hutan primer.

Spesies tumbuhan pada fase pancang didominasi oleh Leea indica dengan INP=32.51%, Croton argyratus (29.38%) dan Dillenia excelsa (INP=24.32%). Syarifuddin (2008:130) menyebutkan jenis Parkia speciosa (INP=11.38%) adalah menjadi dominan pada fase pancang di Bengkulu Utara. Regenerasi fase pancang menunjukkan 3 jenis yang sama pada fase tiang, yaitu Croton argyratus, Dillenia excelsa dan Glochidion arborescens. Spesies Croton argyratus selalu menempati posisi 3 besar dari mulai fase tiang hingga pancang. Spesies Dillenia excelsa dan Glochidion arborescens selalu hadir mulai dari fase pohon, tiang dan pancang. Menurut Tripthi dan Khan (1992:431) di India, populasi pancang di hutan sekunder lebih banyak dibandingkan hutan primer; yaitu sejalan dengan lebih terbukanya tajuk di hutan sekunder sehingga intensitas cahaya matahari menjadi lebih tinggi dibandingkan hutan primer.

Spesies pada fase semai di hutan sekunder didominasi oleh Leea indica (INP=27.70%), Croton argyratus (INP=7.23%) dan Archidendron bubalinum (INP=6.66%). Jenis Croton argyratus selalu hadir pada fase pancang dan tiang, sedangkan jenis Leea indica selalu menempati posisi teratas pada fase pancang dan semai dalam 10 INP tertinggi. Spesies yang sama dengan fase pancang tercatat 3 jenis Leea indica, Croton argyratus dan Pterospermum javanicum (bayur).

c. Semak

Pada tipe ekosistem semak, hasil studi menunjukan munculnya satu spesies dimana sebelumnya tidak pernah ada di hutan primer maupun hutan sekunder yaitu Erythrina letosperma; spesies ini biasa disebut dadap oleh masyarakat setempat. Batang pohon dadap sering digunakan sebagai rambatan tanaman lada dan juga

tajuknya sebagai peneduh tanaman kopi. Pohon ini sebagai tanda adanya aktivitas manusia yang mengelola hutan untuk bercocok tanam dan kemudian ditinggalkan sehingga terbentuk tipe ekosistem semak. Kumar et al. (2010:439) di India, menyatakan bahwa tekanan antropogenik dan kondisi nutrien tanah menyebabkan terjadinya perubahan status regenerasi dan komposisi spesies di hutan.

Dalam ekosistem semak, tumbuhan pada fase pohon didominasi oleh Cananga odorata dengan INP=45.0%, Erythrina letosperma (INP=30.59%), Macaranga sp (INP=28.04%). Macaranga sp muncul di semak dan menjadi 3 besar INP tertinggi pada fase pohon. Macaranga merupakan tanaman pionir yang sering tumbuh di tempat terbuka. Menurut Zahrah (2002: 86) fase pohon di ekosistem semak Aras Napal Aceh didominasi oleh Garcinia parviflora (INP=87.37%), sedangkan Syarifuddin (2008:130) melaporkan jenis Shorea sp (INP=27.11%) adalah spesies dominan di hutan Simpang Tiga Bengkulu Utara. Ternyata jenis-jenis dominan pada fase pohon di semak berbeda antara satu kawasan hutan dengan kawasan hutan lainnya.

Selanjutnya spesies pada fase tiang di ekosistem semak didominasi oleh Cananga odorata (INP=57.53%), Croton argyratus (INP=29.09%) dan Ficus hispida (INP=27.10%). Adapun jenis yang sama dengan fase pohon hanyalah sebanyak 4 spesies dari 10 jenis dominan (40%); yaitu Cananga odorata, Macaranga sp., Pterospermum javanicum dan Croton argyratus. Semua hal tersebut mengindikasikan bahwa proses regenerasi tumbuhan secara alamiah terjadi pada fase ini. Jika tidak mengalami gangguan manusia maka spesies tersebut dapat diharapkan akan tumbuh menjadi pohon dominan.

Spesies tumbuhan pada fase pancang di semak didominasi oleh Piper aduncum (INP=52.40%), Leea indica (INP=30.18%) dan Bridelia monoica (INP=18.59%). Jenis- jenis yang sama dengan fase tiang sebanyak 4 jenis (40%) adalah Bridelia monoica, Glochidion arborescens, Croton argyratus dan Pterospermum javanicum. Jenis tersebut akan menjadi generasi penerus untuk menjadi fase tiang. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan regenerasi pada fase pancang di semak terus berlanjut secara alamiah, dan jika tidak diganggu oleh manusia maka suksesi ini diharapkan akan terus berlangsung.

Spesies tumbuhan pada fase semai di tipe ekosistem semak didominasi oleh Bridelia monoica (INP=9.77%), Actinodaphne borneensis (INP=7.31%), Aglaia sp (INP=3.06%)., Cleistanthus myrianthus (INP=1.53%). Syarifuddin (2008:30) melaporkan bahwa di Bengkulu Utara spesies dominan di semak adalah Angiopteris avecta (INP=15.63% ); sehingga atas hal itu kondisi INP yang relatif kecil di Pemerihan ini dapat dikatakan menunjukkan pertumbuhan fase semai di Pemerihan lebih merata di bandingkan dengan tipe semak di Bengkulu Utara. Adapun jenis yang sama dengan fase pancang terdapat 2 spesies yaitu Bridelia monoica dan Actinodaphne borneensis.

d. Kebun

Spesies tumbuhan di kebun pada fase pohon didominasi oleh Erythrina letosperma (INP=89.77%), Michelia champaca (INP=23.68%) dan Randu (Ceiba pentrandra; INP=23.08%). Spesies pada fase pohon di kebun pada umumnya dianggap bernilai ekonomi oleh masyarakat lokal. Michelia champaca, Swietenia mahagoni dan Pterospermum javanicum kayunya sangat cocok untuk pertukangan. Hasil penelitian Wijayanto (1993; di dalam Budidarsono et al. 2000:19) pada kebun damar di Lampung Barat menunjukan ada 39 spesies fase pohon; yang didominasi oleh Shorea javanica atau damar mata kucing (78% dari total spesies), Durio zibethinus atau durian (12%), Lansium domesticum atau duku (2%) dan lainnya (8%).

Keberadaan spesies asing yang pertumbuhannya adalah karena ditanam oleh masyarakat (seperti mahoni dan randu) kiranya perlu untuk dijaga agar tidak menginvasi ke dalam taman nasional yang secara ekologis akan sangat merugikan ekosistem taman nasional. Pihak taman nasional perlu waspada untuk mengontrol tanaman tersebut agar tidak meluas masuk ke dalam taman nasional.

Jika dikaitkan dengan fase pohon di hutan primer maka tidak satu pun spesies di kebun sama dengan 10 jenis dominan di hutan primer. Sedangkan pada hutan sekunder tercatat 1 spesies yang sama yaitu Cananga odorata. Spesies fase pohon di ekosistem kebun yang sama dengan di ekosistem semak tercatat 3 spesies, yaitu Erythrina letosperma, Cananga odorata dan Anthocephalus chinensis. Kondisi ini

memperlihatkan bahwa komposisi jenis vegetasi di hutan primer, hutan sekunder, semak dan kebun semakin berbeda jauh yang disebabkan oleh adanya pengaruh manusia dalam mengelola hutan.

Spesies tumbuhan pada fase tiang didominasi oleh Erythrina letosperma dengan INP=149.95%, coklat (Teobroma cacao;INP=60.32%), dan Michelia champaca (INP=17.05%). Tanaman coklat sering dirusak dan dimakan gajah, sehingga menimbulkan konflik dengan masyarakat setempat.

Spesies fase tiang yang sama dengan fase pohon sebagai calon generasi untuk fase pohon adalah Erythrina letosperma, cempaka (Michelia champaca) dan Durio zibethinus. Jenis tersebut sengaja ditanam untuk dipertahankan menjadi pohon karena dianggap bermanfaat untuk diambil kayunya (cempaka), buah (durian) dan tiang rambatan tanaman lada (dadap).

Untuk fase pancang di kebun tercatat hanya 6 spesies tumbuhan, dan didominasi oleh Coffea robusta (INP=108.46%). Teobroma cacao (INP=95.70%) dan Havea braziliensis (INP=42.88%) atau karet. Tanaman kopi, coklat, karet, durian, kayu manis (Cinnamomum burmanii) dan mangga (Mangifera odorata) merupakan hasil tanaman masyarakat pada area kebun. Menurut masyarakat tanaman tersebut nantinya akan membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka.. Jenis lainnya yang tumbuh alami adalah Calicarpa tomentosa, Alstonia scholaris dan Morinda citrifolia. Keberadaan 2 jenis pertama dipertahankan masyarakat adalah berkaitan dengan kebutuhan pemanfaatan kayunya, dan jenis terakhir dapat digunakan sebagai obat. Tanaman yang sama dengan fase tiang adalah coklat, karet, durian dan mangga yang oleh masyarakat selama ini tanaman tersebut dipertahankan dan dipelihara untuk menjadi fase tiang hingga pohon. Data sepuluh spesies dominan dapat dilihat pada Tabel 5.2.

Spesies tumbuhan pada fase semai didominasi kopi (Coffea arbica;INP=50.57%), Ceiba pentandra (INP=27.88%) dan Strombosia javanica (INP=20.56%). Berbagai jenis vegetasi pada fase semai ini bukan hanya berasal dari tanaman manusia tetapi juga diduga kuat karena pengaruh aktivitas satwa. Sebagai contoh, jenis Strombosia javanica yang merupakan spesies dominan pada fase pohon di

huan primer dan ternyata juga ada di ekosistem kebun; meskipun demikian jenis ini tidak mencapai fase pohon, tiang dan pancang di kebun.

Tabel 5.2. Sepuluh spesies dominan di hutan primer, hutan sekunder, semak dan kebun di dalam home range gajah, Resort Pemerihan-Way Haru TNBBS.

Fase Hutan Primer Hutan Sekunder Semak Kebun

Pohon Strombosia javanica Dillenia excelsa Dipterocarpus humeratus Saccopetalum horsfieldii Dysoxylum alliaceum Aglaia sp Canarium denticulatum Dipterocarpus kunstleri Eugenia sp Ixonanthes icosandra Tetrameles nudiflora Glochidion arborescens Cananga odorata Bridelia monoica Dillenia excelsa Chydenanthus excelsus Macaranga sp. Xerospermum rohronhianum Ixonanthes icosandra Diospyros macrophylla Cananga odorata Erythrina letosperma Macaranga sp. Dipterocarpus kunstleri Octomeles sumatrana Tetrameles nudiflora Crotton argyratus Anthocephalus chinensis Cidenantus excelsus Pterospermum javanicum Erythrina letosperma Michelia champaca Ceiba pentandra Durio zibetinus Terminalia citrina Swietenia mahagoni Paraserianthes falcataria Pterocimbium jeringa Anthocephalus chinensis Cananga odorata

Tiang Rhinorea lanceolata Strombosia javanica Dillenia excelsa Polyalthia grandiflora Ixonanthes icosandra Croton argyratus Aglaia sp Dipterocarpus humeratus Archidendron bubalinum Dysoxylum sp. Bridelia monoica Calicarpa tomentosa Croton argyratus Glochidion arborescens Tetrameles nudiflora Cananga odorata Ixonanthes icosandra Dilenia excelsa Ficus hispida Lagerstroemia ovalifolia Cananga odorata Crotton argyratus Ficus hispida Macaranga sp. Pterospermum javanicum Mallotus sp Dracontomelon dao Teobroma cacao Glochidion arborescens Bridelia monoica Erythrina letosperma Teobroma cacao Michelia champaca Calicarpa tomentosa Mangefera odurata Durio zibetinus Morinda citrifolia Alstonia scholaris Tectona grandis Havea braziliensis

Pancang Popowia bancana Mallotus miquelianus Popowia psocarpa Cleistanthus myrianthus Dilenia excelsa Pseuduvaria reticulata Drypetes neglecta Ixonanthes icosandra Strombosia javanica Saccopetalum horsfieldii Leea indica Croton argyratus Dillenia excelsa Glochidion arborescens Hipobathrium frustescens Pterospermum javancium Leea aequata Eugenia sp Diospyros macrophylla Aglaia sp. Piper aduncum Leea indica Bridelia monoica Glochidion arborescens Dipterocarpus littoralis Crotton argyratus Actinodaphne borneensis Mallotus paniculatus Diospyros aurea Pterospermum javanicum Coffea arbica Teobroma cacao Havea braziliensi Durio zibetinus Cinnamomum burmanii Mangifera odorata

Semai Mallotus floribundus Strombosia javanica Cleistanthus myrianthus Popowia bancana Popowia psocarpa Cryptocaria ferrea Rhinorea lanceolata Stachyphrynium borneense Saccopetalum horsfieldi Leea indica Leea indica Croton argyratus Bridelia monoica Archidendron bubalinum Cleistanthus myrianthus Litsea umbellata Mallotus miquelianus Pterospermum javanicum Saccopetalum horsfieldii Planchonia valida Actinodaphne borneensis Aglaia sp. Alangium javanicum Alstonia scholaris Anisoptera costata Bacaurea javanica Bridelia monoica Cananga odorata Claoxylon polot Cleistanthus myrianthus Coffea robusta Ceiba pentandra Strombosia javanica Cananga odorata Syzygium polyantum Vitex vinata Sterculia sp. Barringtonia gigantostaschya Crescentia cutjete Pterospermum diversifolium

Kondisi ini diduga kuat berkaitan dengan adanya preferensi jenis bagi masyarakat setempat, sehingga pada proses pengelolaan kebun jenis-jenis tersebut dihilangkan oleh mereka. Sedangkan jenis yang sama dengan fase pancang hanya kopi. Tanaman kopi

banyak tumbuh yang berasal dari tanaman induknya yang telah tua. Penyebaran benih kopi dapat terjadi oleh aktivitas satwa liar seperti musang.

2.. Indeks Nilai Penting (INP)

Dominasi spesies pada berbagai berbagai tipe ekosistem menunjukkan pola yang khas. Pada tipe kebun selalu terlihat grafik penurunan nilai yang curam pada semua fase pertumbuhan (Gambar 5.4). Sedangkan pada hutan primer terlihat grafik nilai INP yang lebih landai dibandingkan dengan hutan sekunder dan semak. Kondisi ini menunjukkan di hutan primer proses dominasi suatu spesies terhadap spesies lainnya relatif kecil. Hasil penelitian yang sama juga ditunjukkan oleh Supartono (2008:64) di Bengkulu dan Zahrah (2002:64) di Aceh, dimana selisih nilai INP antar spesies tergolong rendah di hutan primer. Curam dan landainya grafik nilai INP ini merupakan petunjuk penting dalam memahami karakteristik suatu tipe ekosistem. Semakin beranekeragam spesies dengan proporsi jumlah yang relatif seimbang pada suatu tipe ekosistem, akan menunjukan tren grafik yang semakin landai.

Pada tipe kebun, dominasi satu atau dua spesies tampak sangat dominan. Spesies dominan di kebun mempunyai INP yang berbeda jauh dengan spesies lainnya. Kelompok tanaman di ekosistem kebun cenderung tanaman monokultur. Tanaman yang menjadi dominan di kebun pada umumnya kelapa, coklat, karet, kopi atau lada. Kondisi tersebut terjadi karena berhubungan dengan persepsi pemilik lahan yang berbeda-beda dalam pengelolaan kebun mereka.

Hasil penelitian yang sama juga ditunjukkan oleh Supartono (2008:64) di Bengkulu dan Zahrah (2002:64) di Aceh yang menunjukan rentang nilai INP antar spesies tergolong rendah di hutan primer. Pada tipe kebun, dominasi satu atau dua spesies tampak sangat dominan. Spesies dominan di kebun mempunyai INP yang berbeda jauh atau sangat tinggi dibandingkan dengan spesies lainnya. Kelompok tanaman di tipe kebun cenderung tanaman monokultur. Tanaman yang menjadi dominan di kebun pada umumnya kelapa, coklat, karet, kopi atau lada. Kondisi tersebut terjadi karena berhubungan dengan persepsi pemilik lahan yang berbeda-beda dalam pengelolaan kebun mereka.

Gambar 5.4. Nilai INP sepuluh jenis dominan di Hutan Primer (HP), Hutan Sekunder (HS), semak dan kebun di dalam home range gajah, di TNBBS.