• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.2 Analisis Data Tahap Akhir

4.1.2.3 Analisis peningkatan hasil belajar kognitif siswa

Analisis peningkatan hasil belajar dilakukan untuk mengetahui efektivitas multimedia interaktif dalam meningkatkan hasil belajar kognitif siswa. Analisis peningkatan hasil belajar kognitif siswa ini dilakukan dengan menggunakan uji gain ternormalisasi. Hasil perhitungan uji gain ternormalisasi terhadap hasil pre test dan post test siswa dapat dilihat pada Tabel 4.25 berikut ini.

Tabel 4.25 Hasil uji gain ternormalisasi terhadap hasil belajar siswa

Kelompok Nilai indeks gain Kriteria peningkatan

Kelas Eksperimen 0,64 Sedang

Kelas Kontrol 0,5 Sedang

(Keterangan: Perhitungan peningkatan hasil belajar kognitif siswa ini dapat dilihat pada lampiran 29 dan 30 halaman 269 dan 270)

Tabel 4.25 di atas menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar kognitif siswa pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Nilai indeks gain dari hasil belajar siswa kelas eksperimen sebesar 0,64 sedangkan nilai indeks gain dari hasil belajar siswa kelas kontrol sebesar 0,5. Kriteria peningkatan

hasil belajar dari kedua kelas tergolong sedang karena nilai indeks gain dari kedua kelas berada di antara 0,3 sampai dengan 0,70.

4.1.2.4 Uji kesamaan dua rata-rata tingkat penguasaan konsep siswa

Data yang digunakan dalam analisis kesamaan dua rata-rata adalah data hasil post test. Sebelum dilakukan uji kesamaan dua rata-rata menggunakan uji statistik, terlebih dahulu data diuji normalitas dan homogenitasnya.

Uji normalitas data hasil post test dilakukan pada setiap tingkat penguasaan konsep siswa, yang meliputi data jawaban siswa yang tergolong paham konsep, miskonsepsi dan tidak paham konsep. Hasil uji normalitas data post test pada kelas eksperimen dapat dilihat pada Tabel 4.26 berikut ini.

Tabel 4.26 Hasil uji normalitas data post test pada kelas eksperimen

Tingkat penguasaan konsep

χ2

hitung χ2

0,95(k-3) Kriteria

Paham 7,54 7,81 Berdistribusi normal

Miskonsepsi 9,18 9,49 Berdistribusi normal

Tidak Paham 23,27 7,81 Tidak erdistribusi normal

(Keterangan: Perhitungan normalitas data post test pada kelas eksperimen dapat dilihat pada lampiran 31, 32 dan 33 halaman 271, 272 dan 273)

Sedangkan hasil uji normalitas data post test pada kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 4.27 berikut ini.

Tabel 4.27 Hasil uji normalitas data post test pada kelas kontrol

Tingkat penguasaan konsep

χ2

hitung χ2

0,95(k-3) Kriteria

Paham 2,52 7,81 Berdistribusi normal

Miskonsepsi 4,07 9,49 Berdistribusi normal

Tidak Paham 64,35 7,81 Tidak erdistribusi normal

(Keterangan: Perhitungan normalitas data post test pada kelas eksperimen dapat dilihat pada lampiran 34, 35 dan 36 halaman 274, 275 dan 276)

Berdasarkan Tabel 4.26 di atas diperoleh bahwa data jawaban siswa pada kelas eksperimen yang tergolong paham konsep dan miskonsepsi

berdistribusi normal karena masing-masing memiliki χ2

hitung sebesar 7,54 dan 9,18 dimana χ2

0,95(k-3) dari kedua data masing-masing adalah 7,81 dan 9,49 sehingga

χ2

hitung < χ2

0,95(k-3). Namun, data jawaban siswa yang tergolong tidak paham konsep

tidak berdistribusi normal karena χ2

hitung > χ2

0,95(k-3), dimana χ2

hitung sebesar 23,27 dan χ2

0,95(k-3) sebesar 7,81. Sedangkan Tabel 4.27 menunjukkan bahwa data jawaban siswa pada kelas kontrol yang tergolong paham konsep dan miskonsepsi berdistribusi normal karena masing-masing memiliki χ2

hitung sebesar 2,52 dan 4,07 dimana χ2

0,95(k-3) dari kedua data masing-masing adalah 7,81 dan 9,49 sehingga

χ2

hitung < χ2

0,95(k-3). Namun, data jawaban siswa yang tergolong tidak paham konsep

tidak berdistribusi normal karena χ2

hitung > χ2

0,95(k-3), dimana χ2

hitung sebesar 64,35 dan χ2

0,95(k-3) sebesar 7,81. Berdasarkan uraian tersebut maka uji selanjutnya pada jawaban yang tergolong paham konsep dan miskonsepsi menggunakan uji parametrik sedangkan pada jawaban yang tergolong tidak paham konsep menggunakan uji non parametrik.

Setelah dilakukan uji normalitas data post test siswa, selanjutnya dilakukan uji kesamaan dua varians (uji homogenitas). Uji kesamaan dua varians hanya dilakukan pada data-data yang berdistribusi normal yaitu data jawaban yang tergolong paham konsep dan miskonsepsi. Hasil uji kesamaan dua varians jawaban yang tergolong paham konsep dapat dilihat pada Tabel 4.28 berikut ini.

Tabel 4.28 Hasil uji kesamaan dua varians jawaban yang tergolong paham konsep

Kelompok S2 dk Fhitung F(0,05)(32;32) Kriteria

Eksperimen 252,60 32 1,02 1,80 Kedua kelompok

mempunyai varians yang sama

Kontrol 248,62 32 1,02 1,80

(Keterangan: Perhitungan uji kesamaan dua varians jawaban yang tergolong paham konsep dapat dilihat pada lampiran 37 halaman 277)

Uji kesamaan dua varians juga dilakukan pada jawaban siswa yang tergolong miskonsepsi. Hasil uji kesamaan dua varians jawaban yang tergolong miskonsepsi disajikan pada Tabel 4.29 berikut ini.

Tabel 4.29 Hasil uji kesamaan dua varians jawaban yang tergolong miskonsepsi

Kelompok S2 dk Fhitung F(0,05)(32;32) Kriteria

Eksperimen 18,98 32 1,57 1,80 Kedua kelompok

mempunyai varians yang sama

Kontrol 29,76 32 1,57 1,80

(Keterangan: Perhitungan uji kesamaan dua varians jawaban yang tergolong miskonsepsi dapat dilihat pada lampiran 38 halaman 278)

Tabel 4.28 menunjukkan bahwa data jawaban yang tergolong paham konsep memiliki Fhitung sebesar 1,02 dan F(0,05)(32;32) sebesar 1,80. Sedangkan berdasarkan Tabel 4.29 diperoleh bahwa data jawaban yang tergolong miskonsepsi memiliki Fhitung sebesar 1,57 dan F(0,05)(32;32) sebesar 1,80. Berdasarkan kedua tabel tersebut diperoleh bahwa Fhitung < F(0,05)(32;32). Oleh sebab itu, data jawaban siswa yang tergolong paham konsep dan miskonsepsi baik di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol bersifat homogen.

Uji kesamaan dua rata-rata bertujuan untuk mengetahui apakah tingkat penguasaan konsep pada kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Uji kesamaan dua rata-rata dilakukan setelah data diuji normalitas dan homogenitasnya. Data yang berdistribusi normal selanjutnya dianalisis menggunakan uji parametrik sedangkan data yang tidak berdistribusi normal dianalisis dengan menggunakan uji non parametrik. Uji kesamaan dua rata-rata pada jawaban yang tergolong paham konsep menggunakan uji satu pihak, yaitu uji pihak kanan. Hasil uji kesamaan dua rata-rata pada jawaban yang tergolong paham konsep disajikan pada Tabel 4.30 berikut ini.

Tabel 4.30 Hasil uji kesamaan dua rata-rata jawaban yang tergolong paham konsep

Kelompok Kelas X n dk thitung t(0,95)(64) Kriteria

Eksperimen XI IPA 1 61,36 33

64 4,10 1.67 H0

ditolak

Kontrol XI IPA 2 45,39 33

(Keterangan: Perhitungan uji kesamaan dua rata-rata jawaban yang tergolong paham konsep dapat dilihat pada lampiran 39 halaman 279)

Berdasarkan Tabel 4.30 di atas diperoleh bahwa besarnya thitung adalah 4,10 dan t(0,95)(64) sebesar 1,67 sehingga thitung ≥ t(0,95)(64). Dengan demikian H0 ditolak, artinya rata-rata jawaban yang tergolong paham konsep pada kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol. Uji kesamaan dua rata-rata juga dilakukan pada data jawaban yang tergolong miskonsepsi. Uji kesamaan dua rata-rata pada jawaban yang tergolong miskonsepsi menggunakan uji satu pihak, yaitu uji pihak kiri. Hasil uji kesamaan dua rata-rata jawaban yang tergolong miskonsepsi dapat dilihat pada Tabel 4.31 berikut ini.

Tabel 4.31 Hasil uji kesamaan dua rata-rata jawaban yang tergolong miskonsepsi

Kelompok Kelas X n dk thitung t(0,95)(64) Kriteria

Eksperimen XI IPA 1 11,21 33 64 - 4,89 1.67 H0 ditolak

Kontrol XI IPA 2 17,15 33

(Keterangan: Perhitungan uji kesamaan dua rata-rata jawaban yang tergolong miskonsepsi dapat dilihat pada lampiran 40 halaman 280)

Berdasarkan Tabel 4.31 di atas diperoleh bahwa besarnya thitung adalah -4,89 dan t(0,95)(64) sebesar 1,67. Kriteria pengujiannya adalah tolah H0 jika thitung

-t(0,95)(64). Dengan demikian H0 ditolak, artinya rata-rata jawaban yang tergolong miskonsepsi pada kelas eksperimen lebih rendah daripada kelas kontrol.

Data jawaban yang tergolong tidak paham konsep tidak berdistribusi normal sehingga uji kesamaan dua rata-rata pada data ini menggunakan uji

statistika non parametrik, yaitu uji Wilcoxon. Hasil uji Wilcoxon pada jawaban yang tergolong tidak paham konsep dapat dilihat pada Tabel 4.32 berikut ini.

Tabel 4.32 Hasil uji wilcoxon jawaban yang tergolong tidak paham konsep

Data Rank + Rank - μJ σJ zhitung z(0,95)(64) Kriteria

Jawaban yang tergolong tidak paham konsep 75 215 150 35 - 2,14 1,67 H0 ditolak

(Keterangan: Perhitungan uji kesamaan dua rata-rata jawaban yang tergolong miskonsepsi dapat dilihat pada lampiran 41 halaman 281)

Berdasarkan Tabel 4.32 di atas didapatkan bahwa nilai zhitung adalah -2,14 dan nilai z(0,95;64) sebesar 1,67. Kriteria pengujiannya adalah H0 ditolak jika zhitung ≤ - z(0,95;64). Dengan demikian H0 ditolak, artinya rata-rata jawaban yang tergolong tidak paham konsep pada kelas eksperimen lebih rendah daripada kelas kontrol.

4.2 Pembahasan