ANALISIS MEDIASI DI PENGADILAN AGAMA SALATIGA
A. Analisis Peran dan Efektivitas Mediator Hakim
Mengenai peran dan tingkat kefektifan pemberlakuan perma ini bisa dikatakan belum begitu efektif. Seperti yang diutarakan para hakim sebagai mediator di Pengadilan Agama Salatiga, sejak diberlakukannya Perma No.1 tahun 2016 di Pengadilan Agama Salatiga belum ada peningkatan keberhasilan mediasi yang signifikan dan cenderung stagnan. Proses mediasi yang belum efektif di Pengadilan Agama Salatiga ini dikarenakan terdapat beberapa faktor penyebab ketidakefektifan mediasi yaitu faktor masyarakat yang masih rendah akan pentingnya perdamaian serta anggapan bahwa syarat mediasi itu hanya sebatas formalitas saja yang menimbulkan tingkat keberhasilan mediasi tergolong rendah. Terlebih dalam kasus perceraian yang sulit untuk didamaikan. Upaya yang dilakukan oleh hakim dalam mengatasi hambatan- hambatan para pihak belum mampu menciptakan mediasi yang efektif, hal ini dikarenakan faktor para pihak sendiri yang memang sudah tidak mau adanya perdamaian. Pernyataan dari para mediator hakim di Pengadilan Agama Salatiga dikuatkan dengan data yang penulis dapatkan dari panitera. Laporan data mediasi pada tahun 2017 adalah sebesar 215 perkara yang dimediasi, dari 215 perkara yang dimediasi tersebut yang berhasil dimediasi hanya 3 perkara. Sisanya tidak berhasil dimediasi (gagal di tengah jalan karena kurangnya iktikad baik) dan gagal saat proses mediasi sudah dilaksanakan. Sedangkan pada tahun sebelum tahun 2018 sampai bulan Agustus perkara yang dimediasi
adalah sebesar 142 perkara, dari 142 perkara tersebut belum ada satu mediasipun yang berhasil didamaikan, Artinya jika dibandingkan laporan mediasi tahun 2017, pada tahun 2018 keberhasilan mediasi mengalami penurunan. Berdasarkan teori efektifitas hukum yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto, efektif tidaknya suatu hukum ditentukan oleh 3 (tiga) unsur atau faktor. Pertama, faktor hukum itu sendiri atau subtansi hukum (legal subtance), dalam hal ini adalah Perma No.1 tahun 2016 tentang prosedur mediasi di Pengadilan. Kedua, berkaitan dengan faktor penegak hukum atau format yang mencakup unsur-unsur kelembagaan, penegakan, pelayanan, pengelolaan hukum pada umumnya, seperti badan pembentuk undang-undang, peradilan, kepolisian, kejaksaan, dan administrasi negara yang mengelola pembentukan atau pemberian pelayanan hukum dan lain sebagainya. Ketiga, faktor dari masyarakat itu sendiri, berkenaan dengan sikap-sikap dan nilai-nilai terhadap hukum, sikap tersebut berkaitan dengan sikap budaya pada umumnya, karenanya akan memberi pengaruh baik positif maupun negatif kepada tingkah laku yang berkaitan dengan hukum. Dari ketiga unsur tersebut bisa menjadi alat ukur tingkat keberhasilan mediasi di Pengadilan Agama Salatiga. Berikut adalah penguraian mengenai analisa efektifitas mediasi:
a. Faktor hukum itu sendiri (undang-undang)
Faktor hukum ini mencakup berbagai aturan formal, aturan yang hidup dalam masyarakat (the living Law) dan berbagai produk yang timbul akibat penerapan hukum. Subtansi hukum (legalsubstance) dalam hal ini adalah Perma No.1 tahun 2016. Landasan yuridis Perma No.1 Tahun 2016
Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan adalah peraturan perundang- undangan, sehingga diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat. Perma merupakan pelengkap peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi yaitu Undang-Undang tentang Mahkamah Agung
Salah satu kekuasaan dan kewenangan Mahkamah Agung yang berkaitan dengan pengawasan tidak langsung ialah membuat peraturan. Kekuasaan dan kewenangan itu diatur dalam Pasal 79 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimanan telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.
Menyebutkan bahwa; “Mahkamah Agung dapat mengatur lebih lanjut hal- hal yang diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-undang ini”.
Dimana dalam penjelasannya berbunyi, “Apabila dalam jalannya
peradilan terdapat kekurangan atau kekosongan hukum dalam suatu hal, Mahkamah Agung berwenang membuat peraturan sebagai pelengkap untuk mengisi kekurangan atau kekosongan hukum dalam jalannya
peradilan”. Dalam hal ini peraturan yang dikeluarkan oleh Mahkamah
Agung dibedakan dengan peraturan yang disusun oleh pembentukan Undang-undang. Penyelenggaraan peradilan yang dimaksudkan Undang-
undang ini hanya merupakan bagian dari hukum acara secara keseluruhan. Perma No.1 tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi efektivitas pelaksanaan mediasi di Pengadilan Agama Salatiga. Dengan ditetapkannya Perma No.1 tahun 2016 di pengadilan, telah terjadi perubahan fundametal dalam praktek mediasi di peradilan. Perma No.1 tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan memiliki kekuatan hukum mengikat dan daya paksa dalam perkara perdata bagi para pihak yang berperkara di pengadilan, dimana jika ada para pihak yang tidak menempuh mediasi maka putusan pengadilan menjadi batal demi hukum. Hal paling baru dari Perma 2016 adalah ditekankannya pada iktikad baik dari para pihak, dengan adanya iktikad baik inilah diharapkan proses mediasi akan berjalan dengan efektif dan efesien. Akibat hukum apabila tidak beriktikad baik dari penggugat maka gugatan dinyatakan tidak diterima oleh hakim pemeriksa perkara sebagaimana dijelaskan dalam pasal 22 Undang-Undang Nomor 01 Tahun 2016 tentang akibat hukum apabila para pihak tidak beriktikad baik dan juga dikenai kewajiban pembayaran biaya mediasi.
b. Faktor penegak hukum
Faktor penegak hukum berkaitan dengan bentuk atau format yang mencakup unsur-unsur kelembagaan, penegakan, pelayanan, pengelolaan hukum pada umumnya, seperti badan pembentuk undang-undang, peradilan, kepolisian, kejaksaan, dan administrasi negara yang mengelola pembentukan atau pemberian pelayanan hukum dan lain sebagainya.
Yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum, dalam hal ini adalah hakim mediator dan pelayanan hukum yang ada.
Asas kewajiban hakim untuk mendamaikan pihak-pihak yang berperkara, sangat sejalan dengan tuntunan dan ajaran Islam. Islam selalu menyuruh menyelesaikan setiap perselisihan dan persengketaan melalui pendekatan Ishlah (fa aslikhu baina akhwaikum). Karena itu, layak sekali para hakim Pengadilan Agama menyadari dan mengemban fungsi
“mendamaikan”. Sebab bagaimanapun adilnya putusan, namun akan lebih
baik dan lebih adil hasil perdamaian. Seadil-adilnya putusan yang dijatuhkan hakim, akan dianggap dan dirasa adil oleh pihak yang menang, lain halnya dengan perdamaian, hasil perdamaian yang tulus berdasarkan kesepakatan bersama dari pihak yang bersengketa, terbebas dari kualifikasi menang dan kalah. Mereka sama-sama menang dan sama-sama kalah atau win-win solution, sehingga kedua belah pihak pulih dalam suasana rukun dan persaudaraan.
Mediator memiliki peran menentukan dalam suatu proses mediasi, gagal tidaknya mediasi juga sangat ditentukan oleh peran yang ditampilkan mediator. Didalam Perma No.1 Tahun 2016 Pasal 13 ayat (1) dijelaskan bahwa setiap mediator pada asasnya wajib memiliki sertifikat mediator yang diperoleh setelah mengikuti dan dinyatakan lulus dalam pelatihan sertifikasi mediator yang diselenggarakan oleh Mahkamah Agung atau lembaga yang telah memperoleh akreditasi dari Mahkamah Agung. Namun dalam prakteknya Pengadilan Agama Salatiga masih
belum bisa memenuhi apa yang menjadi amanat dari pasal tersebut karena sebagian besar hakim yang ditunjuk sebagai mediator belum memiliki sertifikat mediator dari Mahkamah Agung atau lembaga yang telah memperoleh akreditasi dari Mahkamah Agung.
Salah satu unsur pendukung mediasi adalah kemampuan professional mediator. Keadaan mediator di Pengadilan Agama Salatiga sampai saat ini masih didominasi oleh hakim yang diberi tugas untuk menjalankan fungsi mediator berdasarkan surat penetapan ketua pengadilan dalam hal tidak ada atau terdapat keterbatasan jumlah mediator bersertifikat tanpa keterampilan yang mumpuni dalam melaksanakan tugas mediator terutama yang belum pernah mendapatkan pelatihan mediator secara profesional. Dari jumlah hakim di Pengadilan Agama Salatiga yang ditetapkan menjadi hakim mediator 7 (tujuh) orang yang telah memiliki sertifikat mediator hanya 1 (satu) orang. Hakim yang melaksanakan fungsi mediator dan telah bersertifikat paling tidak memiliki tingkat kemampuan dan keberhasilan lebih dibanding yang melaksanakan fungsi mediator namun tidak bersertifikat.
Sedangkan dalam pelayanan hukum dalam hal ini kaitannya dengan fasilitas ruang mediasi. Pengadilan Agama Salatiga hanya terdapat satu ruang yang mungkin ukurannya tidak terlalu luas tapi cukup nyaman dimana di dalamnya terdapat satu meja panjang dan kursi menyesuaikan para pihak yang akan dimediasi, dalam ruang tersebut dilakukan proses mediasi dengan waktu kurang lebih 30 menit karena harus bergantian
dengan yang lain yang sudah menunggu giliran dimediasi. Fasilitas ruang mediasi di Pengadilan Agama Salatiga yang mana hanya terdapat satu ruangan bisa dibilang kurang ideal dan tidak sebanding dengan jumlah para pihak berperkara yang akan melakukan mediasi, para pihak sering terlihat mengantri. Dari faktor tersebut bisa menjadi kendala belum optimalnya proses mediasi di Pengadilan Agama Salatiga.
c. Faktor perilaku masyarakat terhadap penegakan hukum
Kepatuhan masyarakat terhadap hukum sangat dipengaruhi ole kesadaran masyarakat terhadap hukum itu sendiri. dalam hal ini kesadaran para pihak mengenai pentingnya perdamaian atau mediasi di Pengadilan Agama Salatiga masih rendah. Ada suatu kecenderungan yang kuat dalam masyarakat untuk mematuhi hukum oleh karena rasa takut terkena sanksi apabila hukum itu dilanggar. Banyak dari para pihak yang kooperatif, namun sikap tersebut mereka lakukan agar proses mediasi cepat selesai hingga dapat dilanjutkan ke proses persidangan selanjutnya. Karena para pihak banyak yang mengikuti mediasi hanya sebagai formalitas saja. Sehingga esensi dari mediasi atau perdamaian itu tidak ada. Dalam hal mediasi di pengadilan agama kita ketahui pencari keadilan adalah umat islam, nilai-nilai islam menjadi sarat pedoman dalam kehidupan masyarakat muslim. Namun pemahaman masyarakat yang rendah terhadap upaya damai menyebabkan pelaksanaan mediasi di Pengadilan Agama Salatiga kurang efektif. Masyarakat sebagai pendukung berjalannya sistem hukum mediasi di pengadilan bersikap enggan untuk
melaksanakan mediasi. Berdasarkan apa yang didapat oleh peneliti keengganan para pihak untuk dimediasi karena permasalahan yang sudah komplek sehingga sulit untuk didamaikan. Dalam agama islam perceraian adalah perbuatan yang dibolehkan namun dibenci oleh Allah. Masyarakat (para pihak) beranggapan penyelesaian perkara dengan jalan damai dan hasilnya adalah perceraian dipandang lebih bermaslahat dan menjadi jalan terbaik bagi para pihak ketimbang terus terjadi percecokan terus-menerus yang akan menyebabkan tindak kekerasan dalam rumah tangga.
Demikian 3 (tiga) unsur utama keberhasilan mediasi menurut Soerjono Soekanto yang dijadikan penulis sebagai salah satu alat ukur penelitian ini. Konsep efektivitas sistem hukum yang telah diuraikan diatas paling tidak merupakan tawaran ide yang apabila diterapkan akan mampu menunjang kinerja lembaga peradilan di Indonesia. Efektif tidaknya penegakan hukum ini, terkait erat dengan efektif tidaknya semua unsur atau faktor tersebut dijalankan. Apabila unsur-unsur tersebut tidak berjalan efektif maka penegakan hukum akan sulit terealisasikan.
Melihat unsur-unsur dalam sistem hukum diatas tidak semua unsur memenuhi konsep sistem hukum yang dikemukakan, sehingga sulit untuk tercapai keberhasilan mediasi. Ketidak efektifan mediasi tersebut terlihat jelas dari laporan data mediasi, jumlah perkara yang masuk di Pengadilan Agama Salatiga, dan jumlah perkara yang diputus di Pengadilan Agama Salatiga.
Kemudian mengacu pada efektivitas mediasi secara kuantitatif menurut Mahmudi (2005: 92), efektivitas berfokus pada hasilnya, apabila tujuan yang
diharapkan memenuhi target maka dapat dikatakan efektif, begitupun sebaliknya. Tingakat efektifitas dihitung dari jumlah keberhasilan mediasi kemudian dibagi dengan jumlah perkara yang dimediasi dan dikalikan seratus persen (100%) untuk mengetahui jumlah persentase keberhasilannya.
Dari data yang ada pada tabel bab sebelumnya dapat dilihat perkara yang masuk di Pengadilan Agama Salatiga pada tahun 2017 adalah sebesar 1.744, dari jumlah perkara keseluruhan yang dimediasi dan keberhasilan mediasi dapat dilihat pada laporan mediasi tahun 2017, angka persentasi keberhasilannya bisa dikatakan sangat kecil, jumlah perkara yang dimediasi pada tahun 2017 sebesar 215 dan yang berhasil dimediasi hanya 3 perkara, jika dipersentasikan tingkat keberhasilan mediasi di Pengadilan Agama Salatiga pada tahun 2017 adalah jika dihitung berdasarkan rumus efektivitas, yaitu jumlah keberhasilan (3 perkara) dibagi dengan jumlah perkara yang dimediasi (215 perkara), maka hasilnya adalah sekitar 1,3 %. Sedangkan pada tahun tahun 2018 perkara yang dimediasi sampai pada bulan agustus adalah sebesar 142 perkara, dari 142 perkara tersebut yang belum ada perkara yang berhasil dimediasi, jika dipersentasikan keberhasilannya tentu saja 0%. Artinya jika dibandingkan laporan mediasi tahun 2017, pada tahun 2018 keberhasilan mediasi mengalami penurunan. Jadi dapat dikatakan tingkat keberhasilan mediasi pasca diterbitkannya PERMA No.1 tahun 2016 tetap masih sangat minim.
Penulis berkesimpulan faktor dominan penghambat tidak efektifnya mediasi di Pengadilan Agama Salatiga yaitu sebagian besar dari para pihak
berperkara yang masih rendah akan kesadaran mengenai pentingnya perdamaian. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pihak yang tidak beriktikad baik dalam proses mediasi. Padahal dalam Perma No.1 tahun 2016 sudah diatur mengenai keharusan para pihak menempuh mediasi dengan iktikad baik dan akibat hukum tidak beriktikad baik bagi para pihak, namun nampaknya peraturan tersebut tidak berdampak banyak terhadap keberhasilan mediasi. Hal ini menurut para mediator hakim dikarenakan pihak berperkara di Pengadilan Agama Salatiga yang sebagian besar adalah perkara perceraian umumnya permasalahannya sudah komplek ibarat penyakit sudah kronis, para pihak datang ke pengadilan dengan tujuan untuk bercerai dan bukan untuk didamaikan, sehinggga keberhasilan mediasi sulit diwujudkan. Beda halnya dengan perkara gono-gini (harta bersama) atau waris yang menyangkut kebendaaan umumnya berhasil dimediasi.
keberhasilan mediasi hendaknya tidak hanya dilihat dari segi kuantitatif tapi juga kualitatif. Seperti dalam mediasi perkara perceraian yang terkait dengan masalah perasaan, bukan masalah harta benda yang mudah untuk dibagi sebagai hasil kesepakatan. Jika para pihak bersepakat untuk cerai dan cerainya dilakukan dengan damai dan tanpa konflik, maka mediasinya dianggap berhasil. Dasar argumennya adalah kalau seseorang tidak jadi bercerai, maka lakukanlah dengan cara yang makruf, dan jika terjadi perceraian maka lakukanlah dengan cara yang baik. Perceraian dalam Islam adalah sesuatu yang halal namun dibenci Allah
BAB V
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diambil beberapa poin untuk dijadikan kesimpulan atas masalah yang dibahas dalam skripsi ini, antara lain yaitu:
1. Peran mediator dalam penyelesaian perkara perceraian pada Pengadilan Agama Salatiga belum maksimal dalam penyelesaian perkara perceraian, dimana dari tujuh hakim hanya ada satu yang mempunyai sertifikat, proses mediasi yang hanya dilakukan sekali dan hanya berlangsung sebentar, dan juga bisa dikarenakan karena biaya dimana mediasi dilakukan tanpa adanya biaya, jadi seakan-akan proses mediasi dilakukan hanya sebagai formalitas untuk memenuhi ketentuan perundang-undangan.
Mediasi setelah PERMA Nomor 1 tahun 2016 di Pengadilan Agama Salatiga belum begitu efektif. Ini dapat dilihat pada laporan mediasi tahun 2018 jumlah perkara yang dimediasi samapi bulan Agustus adalah sebesar 142 dan dan belum ada yang berhasil, jika dipersentase tingkat keberhasilan mediasi di Pengadilan Agama Salatiga pada tahun 2018 adalah 0%. Sedangkan pada tahun sebelumnya atau tahun 2017 perkara yang dimediasi adalah sebesar 215 perkara dan dari 215 perkara tersebut yang berhasil dimediasi sebesar 3 perkara, jika dipersentasikan keberhasilannya 1,3 %. Artinya jika dibandingkan laporan mediasi tahun 2017, pada tahun 2018
tiga faktor efektivitas hukum, yakni undang-undang, penegak hukum, dan faktor masyarakat itu sendiri tidak semuanya memenuhi klasifikasi yang terdapat dalam ketiga faktor tersebut terutama unsur penegak hukum dalam hal ini adalah mediator dan faktor dari masyarakatitu sendiri yang merupakan faktor yang paling dominan menghambat efektivitas keberhasilan mediasi. 2. Faktor-faktor penghambat keberhasilan mediasi, yaitu keinginan kuat para
pihak untuk bercerai dan tidak ada niatan untuk berdamai karena sudah terjadi konflik berkepanjangan dan sangat rumit dan para pihak tidak kunjung menemukan kesepakatan karena mengalami kekecewaan yang mendalam dirasakan salah satu pihak, kemudian karena rendahnya tingkat kesadaran dan komunikasi di antara para pihak untuk menyelesaiakan sengketanya melalui mediasi, dan juga para pihak sering menunjukkan iktikad tidak baik sperti tidak pernah hadir saat persidangan maupun saat proses mediasi.
Dari sisi mediator mediator itu sendiri seharusnya lebih professional dalam menjalankan tugasnya, melihat bahwa hanya satu hakim yang bersertifikat tentu saja sangat mempengaruhi proses mediasi karena banyaknya jumlah perkara, karena hakim pemeriksa perkara tidak bisa menjadi mediator dari perkara yang ditangani, tentu saja majelis akan menunjuk hakim lain yang tidak mempunyai sertifikat sebagai mediator yang tentu saja kemampuannya berbeda dengan yang sudah mempunyai sertifikat.
B.SARAN
Penyusun dalam melaksanakan penelitian ini banyak menemukan hal-hal yang kiranya perlu diperbaiki lebih lanjut. Oleh sebab itu, penyusun ingin memberikan saran-saran sebagaimana berikut;
1. Mahkamah Agung sebagai pengadilan tingkat tertinggi, perlu adanya tindakan lanjut dan perhatian terhadap peningkatan mediator yang kompeten dan telah lulus uji dengan mengantongi sertifikat mediator, terutama di Pengadilan Agama Salatiga yang hanya mempunyai satu hakim yang bersertifikat, mediator yang berkompeten sedikit banyak berpengaruh terhadap hasil mediasi.
2. Kepada para mediator hakim yang menangani perkara supaya berusaha semaksimal dan seprofesional mungkin untuk memberikan pencerahan kepada para pihak, karena mediasi merupakan produk islami dalam rangka penyelesaian dalam sengketa di Pengadilan. Oleh sebab itu, mediasi melalui mediator harus dilaksanakan secara optimal sebagai sebuah proses ijtihad demi mendapatkan keputusan yang dapat memenuhi rasa keadilan bagi kedua belah pihak yang bersengketa.
3. Di Pengadilan Agama Salatiga sangat diperlukan tambahan mediator, dikarenakan hanya ada satu hakim yang memiliki sertifikat mediator, maka perlu adanya tambahan mediator dari luar pengadilan atau mediator non- hakim yang lebih professional dan lebih maksimal dalam melaksanakan tugasnya.
4. Bagi masyarakat umum, khususnya pasangan suami isteri yang rentan akan perceraian perlu mengetahui, bahwa perceraian bukanlah sebagai jalan terakhir bagi masalah rumah tangga yang menimpa. Oleh sebab itulah kenapa mediasi wajib dilaksanakan dalam perkara perceraian, melainkan bertujuan untuk menghasilkan solusi lain yang malah menguntungkan masing-masing pihak. Bukankah pernikahan yang dulunya terjadi adalah karena hasil kesepakatan bersama dan dengan ridhonya Allah SWT, maka mediasi adalah jalan terbaik untuk memperoleh solusi dan kesepaatan bersama sebelum terjadinya perceraian.