• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN HASIL PENELITIAN

B. Analisis Peran dan Kinerja KPI Kota Salatiga

Menurut Richard M. Steers, 1995: 47 suatu peran dalam organisasi atau lembaga dapat diukur keberhasilannya melalui beberapa indikator diantaranya :

11) Efektivitas keseluruhan, yaitu sejauhmana organisasi atau lembaga melaksanakan seluruh tugas pokoknya atau mencapai semua sasarannya. Keefektivitasan KPI dalam melaksanakan tugas pokoknya belum mencapai sasaran karena dari hasil wawancara penulis kepada korban masih banyak yang belum mengenal adanya KPI Kota Salatiga, serta kurangnya sosialisasi tentang UU PKDRT yang dilakukan hanya 12 kali dalam kurun waktu tahun 2010-2015 dengan peserta 328 orang.

12) Produktivitas, yaitu kuantitas atau volume dari produk atau jasa yang dihasilkan organisasi/ lembaga. KPI Kota Salatiga menghasilkan jasa pendampingan terhadap korban kekerasan terhadap perempuan dan anak sejumlah 22 dalam kurun waktu 2010-2015, sedangkan PPA Polres Salatiga sebagai lembaga yang berwajib berhasil menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sejumlah 129 kasus. Hal ini dapat dilihat bahwa KPI Kota Salatiga belum produktifitas dalam menghasilkan produk dan jasa sebagai organisasi yang mewakili perempuan.

13) Efisiensi, yaitu sesuatu yang mencerminkan perbandingan antara beberapa aspek unit terhadap biaya untuk menghasilkan prestasi tersebut. Dalam menghasilkan prestasi (mengadvokasi) KPI Kota Salatiga kesulitan dalam hal anggaran/biaya agar bisa menunjang aktivitas organisasi, karena dari pemerintah daerah kurang mendukung dalam pembiayaan, dari segi internal organisasi kurang

kesadaran pengurus untuk membayar uang pangkal dan uang iuran yang sudah menjadi ketentuan organisasi (hasil wawancara tanggal, 3 September 2016 dengan sekretaris cabang KPI Kota Salatiga). 14) Pertumbuhan, yaitu penambahan/reorganisasi dalam hal-hal seperti

tenaga kerja/pengurus, serta fasilitas yang ada dalam organisasi. Penulis menganalisis pertumbuhan KPI Kota Salatiga dalam mereorganisasi kepengurusan belum sesuai dengan tugas dan tanggung jawab KPI, meskipun setiap tiga tahun sekali melaksanakan Konferensi cabang (konfercab) sesuai pasal 26 Anggaran Rumah Tangga KPI Kota Salatiga, tetapi sistem kaderisasi berjenjang tidak berjalan.

15) Semangat kerja, yaitu kecenderungan anggota organisasi/lembaga berusaha lebih keras mencapai tujuan dan sasaran organisasi yang meliputi perasaan terikat, kebersamaan tujuan, dan perasaan memiliki. Pengurus KPI Kota Salatiga dalam mewujudakan semangat kerja masih minim, ini terbukti dari hasil penanganan

korban kekerasan terhadap perempuan dan anak yang

penyelesaianya secara ligitasi, KPI Kota Salatiga dalam

mendampingi korban tidak sampai selesai.

16) Kepuasan, yaitu kompensasi atau timbal balik positif yang dirasakan seseorang atas peranan atau pekerjaannya dalam organisasi/lembaga. Kepuasan dari hasil dari KPI Kota Salatiga menurut beberapa tokoh masyarakat di Salatiga diantaranya belum memuasakan karena “KPI

kota Salatiga kurang sosialisasi, agar lebih dikenal oleh masayarakat terkhusus masayarakat Kota Salatiga, masih banyak perempuan dan anak yang membutuhkan penanganan oleh organisasi seperti KPI

Kota Salatiga” (hasil wawancara tanggal, 4 September 2016 oleh

Usna Unisa aktivis perempuan di Kota Salatiga). Seorang korban

juga menyatakan bahwa “KPI Kota Salatiga dalam mendampingi korban harus dikawal sampai keluarnya suatu putusan”.

17) Penerimaan tujuan organisasi, yaitu diterimanya tujuan-tujuan organisasi/ lembaga oleh setiap pribadi dan oleh unit-unit dalam organisasi. Kepercayaan mereka bahwa tujuan organisasi tersebut adalah benar dan layak. Dari tujuan KPI Kota Salatiga tertuang ke dalam visi dan misi yang termuat di anggaran dasar pasal 9 dan 10, menurut Tiara seorang aktifis perempuan melihat tujuan dari KPI Kota Salatiga sangat relevan karena didalammnya sesuai dengan nama jati dirinya KPI yaitu Koalisis Perempuan Indonesia (hasil wawancara 4 September 2016).

18) Keterpaduan, konflik-konflik, kekompakan, yaitu dimensi berkutub dua. Yang dimaksud kutub keterpaduan adalah fakta bahwa para anggota organisasi saling menyukai satu sama lain, bekerja sama dengan baik, berkomunikasi sepenuhnya dan secara terbuka, dan mengkoordinasikan usaha kerja mereka. Pada kutub yang lain terdapat organisasi penuh pertengkaran baik dalam bentuk kata-kata maupun secara fisik, koordinasi yang buruk, dan berkomunikasi

yang tidak efektif. Menurut Sekretaris Cabang KPI Kota Salatiga melewati kutub lain dimana organisasi harus melewati fase sulit dalam menjalani proses organisasi, hal ini yang membuat KPI Kota Salatiga kekurangan SDM dalam melaksanakan tujuan.

19) Keluwesan adaptasi, yaitu kemampuan organisasi untuk mengubah standar operasi prosedur (SOP) guna menyesuaikan diri terhadap perubahan. Dalam hal ini KPI Kota Salatiga belum mempunyai kemampuan tersebut hal ini dapat dilihat dari sosialisasi UUPKDRT diwilayah Kota Salatiga sangat minim, karena dari sekian banyak masyarakat kota salatiga, KPI Kota Salatiga hanya 328 orang selama tahun 2010-2015 yang diberi sosialisasi tentang UUPKDRT.

20) Penilaian oleh pihak luar, yaitu penilaian mengenai organisasi atau unit organisasi oleh mereka (individu atau organisasi) dalam lingkungannya, yaitu pihak-pihak dengan siapa organisasi ini berhubungan. Penilaian menurut lembaga pengiat perempuan seperti LSKAR, Bapermas, PPA Polres Salatiga, Pusat Studi Gender UKSW, dan masyarakat Kota Salatiga menilai :

a. KPI Kota Salatiga belum mendorong jalannya monitoring

kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dan kasus-kasu lain. Monitoring ini perlu di launcing ke publik untuk membangun kesadaran bersama.

b. Belum sepenuhnya membangun kesadaran bersama bahwa

keluarga, tetapi merupakan pelanggaran serius terhadap Hak Asasi Manusia. Hal ini harus di promosikan kepada masyarakat yang diintegrasikan dalam kurikulum sekolah, training, rekrutmen pegawai dan pejabat publik.

c. KPI Kota Salatiga dalam Penanggulangan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak hanya ikut-ikutan dalam meramaikan jalannya proses tanpa ada tindak lanjut dalam mendampingi korban.

d. Kurangnya sosialisasi terus menerus tentang Undang-Undang

PKDRT sampai masyarakat paling bawah serta

memperkenalkan diri bahwa KPI Kota Salatiga siap membantu dalam penanganan kasus kekerasan.

e. Dalam mengadvokasi pengurus KPI kota Salatiga masih

mempunyai hubungan emosional (keluarga, teman, dan tetangga) dengan korban.

Dari data diatas penulis menganalisis bahwa, KPI Kota Salatiga sangat minim berperan dalam mengadvokasi korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. Terbukti dari sepuluh indikator keberhasilan peran diatas yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Hasil analisis penulis tersebut ternyata diakui oleh Sekertaris Cabang Kota Salatiga bahwa faktor yang mempengaruhi/hambatan kinerja KPI Kota Salatiga diantaranya ;

1. Kurangnya peran pemerintah daerah dalam mendukung biaya (anggaran). Hal ini mengakibatkan minimnya informasi yang didapatkan karena terkendala oleh biaya, baik melalui sosialisasi atau papan informasi, baliho, spanduk, dan sejenisnya.

2. Keterbatasan sumberdaya (SDM), belum tersedianya rumah aman

(shelter), terbatasnya upaya penyelesaian yang dilakukan oleh KPI Kota Salatiga dalam menangani kasus korban kekerasan terhadap perempuan dan anak.

3. Minimnya informasi tentang keberadaan KPI Kota Salatiga, seperti adanya spanduk, baleho, dan sejenisnya dalam memperkenalkan KPI Kota Salatiga kepada masyarakat khususnya kota Salatiga.

4. Sarana dan prasarana yang belum berfungsi secara efektif untuk mendukung aktivitas KPI kota Salatiga dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Salatiga.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis dari Bab I sampai Bab IV maka dapat diambil kesimplan, sebagai berikut:

KPI Kota Salatiga dalam mengadvokasi perempuan dan anak korban KDRT masih sangat minim perannya terbukti dari beberapa indikator keberhasilan peran suatu organisasi, dari kesepuluh indikator keberhasilan peran suatu organisasi hasilnya menurut penulis minus.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti merumuskan beberapa saran yang dapat dijadikan bahan masukan dalam mengurangi jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak korban KDRT, yaitu:

1. Untuk KPI Kota Salatiga diharapkan dapat ikut berperan aktif dalam memberikan penyuluhan, sosialisasi ke berbagai lapisan masyarakat, dengan cara membuat panflet, baleho, spanduk dan sejenisnya agar KPI Kota Salatiga dikenal oleh masyarakat Kota Salatiga.

2. Dalam melakukan pendampingan KPI Kota Salatiga diharapkan

mendampingi sampai selesai.

3. Dalam reorganisasi KPI Kota Salatiga diharapkan tetap mejalankan sistem kaderisasi berjenjang demi terwujudnya organisasi yang ideal.

Dokumen terkait