TINJAUAN UMUM ADVOKASI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK SERTA TEORI PERAN
B. Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak
Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelanataran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dala lingkup rumah tangga. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (Suharso, 2009: 240) kata kekerasan diartikan sebagai perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan kerugian fisik maupun non fisik.
Zaitunah Subbhan (2006: 6-7) dalam bukunya dari beberapa sumber makna kekerasan terhadap perempuan, antara lain:
1. Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan yang
melanggar, menghambat, meniadakan kenikmatan, dan pengabaian hak asasi perempuan atas dasar gender. Tindakan tersebut mengakibatkan (dapat mengakibatkan) kerugian dan penderitaan terhadap perempuan dalam hidupnya, baik secara fisik, psikis, maupun seksual. Termasuk didalamnya ancaman, paksaan, atau perampasan
kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik dalam
bernegara (Kantor Menteri Negara PP.RAN PKTP, Tahun 2001-2004);
2. Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan
berdasarkan pembedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kesengsaraan dan penderitaan perempuan secara fisik, seksual, atau psikologis. Termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik dalam kehidupan publik maupun kehidupan pribadi (lihat pasal 2 Deklarasi PBB tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan);
3. Kekerasan maupun kehidupan perempuan adalah sebuah
tindakan sosial, dimana pelaku-pelakunya hrus
memepertanggungjawabkan tindakanya kepada masyarakat (Lee Ann Hoff, 1994: 5-9);
4. Kekerasan terhadap perempuan adalah perilaku yang
muncul sebagai akibat adanya bayangan tentang peran identitas berdasarkan jenis kelamin, dan berkaitan dengan bayangan mengenai kekuasaan yang dapat dimilikinya. Kekerasan terdiri atas tindakan memaksakan kekuatan fisik dan kekuasaan pihak lain. Biasanya diikuti dengan tujuan untuk mengontrol, memperlemah, bahkan menyakiti pihak lain. Tindakan kekerasan terhadap perempuan meliputi
beberapa fenomena, baik hukum, etika, kesehatan, budaya, politik, maupun moral (Hentietta Moore, 1994: 66).
Sedangkan kekerasan terhadap anak adalah perbuatan menimbulkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak secara fisik maupun emosional, istilah kekerasan terhadap anak meliputi berbagai macam bentuk tingkah laku, dari tindakan ancaman fisik secara langsung oleh orangtua atau orang dewasa lainnya sampai kepada penelantaraan kebutuhan-kebutuhan dasar anak (Richaed J. Gelles, 2004: 1).
Barker (1987: 23) mendefinisikan kekerasan terhadap anak adalah tindakan melukai yang berulang-ulang secara fisik dan emosional terhadap anak yang ketergantungan, melalui desakan hasrat, hukuman badan yanbg tidak terkendali, gegradasi dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual, biasanya dilakukan para orang tua atau pihak lain yang seharusnya merawat anak.
2. Bentuk-Bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak.
Secara umum kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang pernah terjadi adalah kekerasan terhadap istri, perkosaan, kekerasan dalam pacaran, pelecehan seksual, kekerasan dalam keluarga, dan perdagangan perempuan dan anak (Rifka Annisa, tt:11).
Adapun betuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan diantaranya meliputi hal-hal sebagai berikut:
a) Kekerasan fisik berupa pemukulan, tamparan, pejambaan
dan segala tidakan yang menyerang fisik atau menyebabkan luka fisik perempuan.
b) Kekerasan psikologis berupa umpatan, ejekan, cemoohan,
dan segala tindakan yang mengakibatkan tekanan psikologis termasuk ancaman dan pengekangan yang berakibat pada gangguan mental dan jiwa seperti adanya trauma, hilangnya kepercayaan diri, dan berbagai akibat negatif lainnya.
c) Kekerasan seksual berupa perkosaan, pelecehan seksual,
hingga pemaksaan hubungan seksual dalam perkawinan (marital rape) maupun incent.
d) Ekonomi berupa tidak diberikanya nafkah bagi perempuan yang berstatus ibu rumah tanggga untuk kebutuhan hidup sehari-hari, dilarang bekerja, dipaksa untuk bekerja, dieksploitasi secara ekonomi (Rifka Annisa, tt:6-7).
Dalam undang-Undang No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), kekerasan dalam rumah tangga dapat terwujud :
a) Kekerasan fisik yaitu perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat (pasal 6);
b) Kekerasan psikis yaitu perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilanya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang (Pasal 7);
c) Kekerasan seksual yaitu yang meliputi pemaksaan
hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut dan/atau pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk komersial dan/atau tujuan tertentu (Pasal 8);
d) Setiap orang yang menelantarkan orang dalam lingkup
rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Dalam hal ini juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak didalam atau diluar rumah korban berada dibawah kendali orang tersebut (Pasal 9).
Menurut Suharto (1997: 365-366) klasifikasi kekerasan terhadap anak (child abuse) dibagi menjadi empat bentuk, yaitu kekerasan secara fisik (physical abuse), kekerasan secara psikologis (psychological abuse), kekerasan secara seksual (sexual
abuse), dan kekerasan sosial (sosial abuse). Keempat bentuk kekerasaan terhadap anak dijelaskan sebagai berikut:
1. Kekerasan secara fisik adalah penyiksaan, pemukulan, dan
penganiayaan terhadap anak, dengan atau tanpa
menggunakan benda-benda tertentu, yang menimbulkan luka-luka fisik atau kematian anak. Bentuk luka dapat berupa lecet atau memar akibat persentuhan atau kekerasan benda tumpul.
2. Kekerasan anak secara psikis meliputi penghardikan,
penyampaian kata-kata kasar dan kotor, memperlihatkan buku, gambar, dan film pornografi pada anak. Anak yang mendapatkan perlakuan ini umumnya menunjukan gejala perilaku maladaftif, seperti menarik diri, pemalu, menangis jika didekati, takut keluar rumah dan takut bertemu dengan orang lain.
3. Kekerasan anak secara seksual dapat berupa perlakuan
pra-kontak seksual antara anak dengan orang yang lebih besar, maupun perlakuan kontak seksual secara langsung antara anak dengan orang dewasa (incent, perkosaan, eksploitasi seksual).
4. Kekerasan anak secara sosial, dapat mencakup penelantaran
anak dan eksploitasi anak. Penelantaran anak adalah sikap dan perlakuan orang tua yang tidak memberikan perhatian
yang layak terhadap proses tumbuh kembang anak. Misalnya, anak dikucilan, diasingkan dari keluarga, atau tidak diberikan pendidikan dan perawatan kesehatan yang
layak. Eksploitasi anak menunjukan pada sikap
diskriminatif atau perlakuan sewenag-wenang terhadap anak yang keluarga atau masyarakat (Abu Huraerah, 2012: 47-48).
3. Sebab-Sebab Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak.
Kekerasan terhadap perempuan sebenarnya sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sejarah kehidupan manusia. Karena keterbatasan wawasan akan makna dan norma kehidupan, maka kekerasan dianggap sebagai suatu yang biasa terjadi. Bahkan menjadi bagian dari kehidupan sosial budaya masyarakat. Namun demikian tindak kekerasan yang terjadi terhadap perempuan tidak
terjadi begitu saja, tapi ada beberapa faktor yang
melatarbelakanginya, antara lain:
a) Budaya patriarki. Budaya ini menyakini bahwa laki-laki adalah superior dan perempuan adalah interior sehingga laki-laki dibenarkan untuk menguasai dan mengontrol perempuan.
b) Interpretasi yang keliru atas ajaran agama. Sering ajaran agamayang menempatkan laki-laki sebagai pemimpin
diinterpretasikan sebagai pembolehan mengontrol dan menguasai istrinya.
c) Pengaruh role model. Anak laki-laki yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang ayahnya suka memukul/kasar kepada ibunya, cenderung akan meniru pola tersebut kepada pasanganya kelak (Elli N Hasbianto, 1999: 193-194).
Sedangkan faktor-faktor lain penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh PSW IAIN Sumatra Utara Kota Medan adalah sebagai berikut :
1. Fakta bahwa laki-laki dan perempuan tidak diposisikan
setara dalam masyarakat.
2. Masyarakat masih membesarkan anak lelaki dengan didikan
yang bertumpukan pada kekuatan fisik, yaitu untuk menumbuhkan keyakinan bahwa mereka harus kuat dan berani serta tidak toleran.
3. Budaya mengkondisikan perempuan dan istri tergantung
keada suami, khususnya secara ekonomi.
4. Persepsi tentang kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga
yang dianggap harus ditutup karena termasukwilayah privat suami istri dan bukan sebagai persoalan sosial.
5. Pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama tentang
penghormatan pada posisi suami, tentang aturan mendidik istri, dan tentang ajaran kepatuhan istri kepada suami.
6. Kondisi kepribadian dan psikologis suami yang tidak stabil dan tidak benar, diantaranya :
a) Komunikasi yang tersumbat, artinya suami dalam
menyelesaikan masalah tidak didasari dengan asas keterbukaan sehingga menimbulkan kecurigaan dan kadang-kadang terjadi kebohongan terhadap istri.
b) Suami memepunyai wanita idaman lain (WIL)
c) Suami mempunyai tabiat atau sifat yang emosional, labil, stress maupun frustasi.
d) Suami tidak percaya diri.
e) Suami mempunyai masalah dengan alkohol dan
obat-obatan.
f) Kekerasan sebagai sumber daya untuk
menyelesaikan masalah (pola kebiasaan turunan keluarga atau orang tua) (Fathul Djannah, 2003: 20-21).
Terjadi kekerasan terhadap anak juga disebabkan berbagai faktor yang mempengaruhi. Faktor-faktor yang memengaruhinya demikian kompleks, yang disebabkan oleh faktor internal yang berasal dari anak itu sendiri maupun faktor eksternal yang berasal dari kondidi keluarga dan masyarakat, seperti :
1. Anak mengalami cacat tubuh, retardasi mental, gangguan tingkah laku, autisme, anak terlalu lugu, memiliki
tempramen lemah, ketidaktahuan anak akan hak-haknya, anak terlau bergantung pada orang dewasa.
2. Kemiskinan keluarga, orang tua mengganggur, penghasilan
tidak cukup, banyak anak.
3. Keluarga tunggal atau keluarga pecah (broken home),
misalnya perceraian, ketiadaanketiadaan ibu untuk jangka panjang atau keluarga tanpa ayah dan ibu tidak mampu memenuhi kebutuhan anak secara ekonomi.
4. Keluarga yang belum matang secara psikologis,
ketidaktahuan mendidik anak, harapan orangtua yang tidak realistis, anak yang tidak diinginkan (unwanted child), anak yang lahir diluar nikah.
5. Penyakit parah atau gangguan mental pada salah satu atau kedua orangtua, misalnya tidak mampu merawat dan mengasuh anak karena gangguan emosional dan depresi.
6. Sejarah penelantaraan anak. Orangtua yang semasa kecilnya
mengalami perlakuan salah cenderung memperlakukan salh anak-anaknya.
7. Kondisi lingkungan sosial yang buruk, permukiman kumuh,
tergusurnya tempat bermain anak, sikap acuh tak acuh terhadap tindakan eksploitasi, pandangan terhadap nilai anak yang terlalu rendah, meningkatnya faham ekonomi
upah, lemahnya perangkat hukum, tidak adanya mekanisme kontrol sosial yang stabil (Suharto, 1997: 366-367).
Sementara itu, Rusmil (2004: 60) menjelaskan bahwa penyebab atau resiko terjadinya kekerasan dan penelantaraan terhadap anak dibagi ke dalam tiga faktor, yaitu: faktor orangtua/keluarga, faktor lingkungan sosial/komunitas, dan faktor anak sendiri.
Moore dan Parton sebagaimana dikutip Fentini Nugroho (1992: 41) mengungkapkan ada orang yang berpendapat bahwa kekerasan terhadap anak lebih disebabkan oleh faktor individual dan ada juga yang menganggap bahwa faktor struktur sosial yang lebih penting.
Sedangkan Richard J. Gelles (2004: 4-6) mengemukakan bahwa kekerasan terhadap anak terjadi akibat kombinasi dari berbagai faktor: personal, sosial, dan kultural. Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan ke dalam empat kategori utama, yaitu: pewarisan kekerasan antar generasi (intergenerational transmission of violence), stres sosial (sosial stress), isolasi sosial dan keterlibatan masyarakat bawah (sosial isolation and low community involvement), dan struktur keluarga (family structure).
Kekerasan terhadap perempuan dan anak mempunyai dampak yang ditimbulkan bagi dirinya korban, orang lain, ataupun pelaku, diantarnya ;
1. Dampak positif, meskipun kekerasan terhadap perempuan
termasuk dalam tindakan kriminalitas, tetapi ada dampak positif yang ditimbulkan, diantaranya korban kekerasan bisa mengendalikan kesadaranya untuk lebih membuka mata terhadap bentuk-bentuk kekerasan yang dialami. Selain itu, masyarakat juga bisa melihat akibatnya, sehingga bisa mengambil pelajaran.
2. Dampak negatif, akan mengalami dampak jangka panjang
dan jangka pendek. Dampak jangka panjang bisa dilihat dari segi fisik dan psikologi. Dari segi fisik, biasanya korban mengalami luka-luka akibat kekerasan yang dilakukan oleh suami. Dari segi psikologi, biasanya korban merasa sangat marah, jengkel, merasa bersalah, malu, dan terhina. Gangguan emosi biasanya menyebabkan terjadinya kesulitan tidur (insomnia) dan kehilangan nafsu makan (lost apetite), cemas, depresi berat.
Dampak jangka panjang kekerasan terhadap perempuan bila korban tidak mendapatkan penanganan atau bantuan konsultasi psikologi yang memadahi, korban dapat mempunyai persepsi negatif terhadap laki-laki selain itu,
juga bisa menyebabkan kematian, gangguan kesehatan fisik.
Bila perempuan sebagai istri, dan korban kekerasan dalam rumah tangga biasanya mengasuh anaknya sendirian dan biasanya hanya hidup dengan sedikit materi bahkan biasanya tidak ada sama sekali sehingga menjadi problem moral dan sosial tersendiri bagi masyarakat dan lingkungan.
Anak-anak korban kekerasan dalam rumah tangga biasanya tumbuh dalam suasana psikologis tidak aman sehingga cenderung akan melakukan tindakan-tindakan berlawanan dengan norma susila dan keagamaan, misalnya pencurian, permpokan, penipuan, sebagi jalan terakhir mempertahakan kehidupan mereka.
YKAI (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia)
menyimpulkan bahwa kekerasan dapat menyebabkan anak kehilangan hal-hal yang paling mendasar dalam kehidupanya dan pada giliranya berdampak sangat serius pada kehidupan anak dikemudian hari, antara lain :
1. Cacat tubuh permanen
2. Kegagalan belajar
3. Gangguan emosional bahkan dapat menjurus pada
gangguan kepribadian
4. Konsep diri yang buruk dan ketidakmampuan untuk
5. Pasif dan menarik dirin dari lingkungan, takut membina hubungan yang baru dengan orang lain
6. Agresif dan kadang-kadang melakukan tindakan kriminal
7. Menjadi penganiaya ketika dewasa
8. Menggunakan obat-obatan atau alkohol
9. Kematian (suharto, 1997: 367-368).
Sedangkan Richard J. Gelles (2004: 6-7) menjelakan bahwa konsekensi dari tindakan kekerasan dan penelantaran anak dapat menimbulkan kerusakan dan akibat yang lebih luas. Luka-luka fisik seperti menar-memar, goresan-goresan, dan luka bakar hingga merusak otak, cacat permanen, dan kematian. Efek psikologis pada anak korban kekerasan dan penganiayaan bisa seumur hidup, seperti rasa harga diri rendah, ketidakmampuan berhubungan dengan teman sebaya, masa masa perhatian tereduksi, dan gangguan belajar. Dalam beberapa kasus, kekerasan dapat mengakibatkan gangguan-gangguan kejiwaan, seperti depresi, kecemasan berlebihan, atau gangguan identitas disosiatif dan juga bertambahnya risiko bunuh diri.
5. Perlindungan Terhadap Korban Dan Sanksi Hukum Pelaku
Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak
Dalam UU No. 23 tahun 2004 memberikan penegasan dan perlindungan terhadap korban serta sanksi hukum terhadap pelaku
kekerasan. Hal ini senagimana ditegaskan dalam pasal 10 yang menyatakan bahwa korban kekerasan berhak mendaptkan :
a. Perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dengan kebutuhan medis;
b. Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis:
c. Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan
korban;
d. Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada
setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
e. Pelayanan bimbingan rohani.
Sanksi hukum terhadap pelaku kekerasan terhadap perempuan diantaranya pidana, yaitu pengenaan penderitaaan atau nestapa oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan kepada orang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang (Zuhairini, 2011 :78).
Dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) tidak
mengenal istilah kekerasan, KUHP menggunakan istilah
penganiayaan yang merupakan jenis perilaku yang menggunakan kekerasan seperti yang diatur dalam pasal 351-355 KUHP, sedangkan pasal 356 ayat (1) mengatur tentang tambahan hukuman
sepertiga jika penganiayaan itu dilakukan terhadap ibunya, bapaknya yang sah, isteri/suaminya. Pasal 89 KUHP menyebutkan
bahwa yang dinamakan melakukan kekerasan adalah “membuat orang menjadi pingsan atau tak berdaya lagi(lemah)” adapun pasal -pasal yang diterapkan bagi pelaku kekerasan diantaranya dapat dilihat senbagai berikut :
1. Pasal 285, pasal 286, pasal 288, pasal 289, pasal 290, pasal 291, pasal 293, pasal 295, pasal 296 dan pasal 297 Bab XIV KUHP tentang kejahatan kesusilaan;
2. Pasal 328, pasal 330, pasal 332, pasal 333, pasal 335, pasal 336 Bab XVIII KUHP tentang kejahatan terhadap kemerdekaan orang;
3. Pasal 328, pasal 339, pasal 340, pasal 347 Bab XIX KUHP
tentang kejahatan terhadap nyawa;
4. Pasal 351, pasal 352, pasal 354, pasal 355, pasal 356 Bab XX KUHP tentang penganiayaan;
5. Pasal 368 BAB XXIII KUHP tentang pemerasan dan
pengancaman.
Dalam UU No. 23 Tahun 2004 sanksi hukum terhadap pelaku kekerasan dalam rumah tangga diantaranya termaktub pada pasal 44, yaitu:
“(1)setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan
dimaksud pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 15.000.000. (lima belas juta rupiah). (2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 mengakibatkan korban mendapat jatuh sakit atau luka berat, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp. 30.000.000. (tiga puluh juta rupiah).(3) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 mengakibatkan matinya korban, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15(lima belas tahun) atau denga paling banyak Rp. 45.000.000. (empat puluh lima juta rupiah). (4) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan oleh suami terhadap istri atau sebaliknya yang tidak
menimbulkan penyakit atau halangan untuk
menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling
banyak Rp. 5.000.000. (lima juta rupiah)”.
Dalam hal pemaksaan hubungan seksual terhadap oranf yang menetap dalam lingkunga rumah tangga, pasal 46 menjelaskan sebagai berikut :
“setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan
seksual sebagimana dimaksud pasal 8 huruf a dipidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak Rp. 36.000.000. (tiga puluh
enam juta rupiah)”.
Terhadap orang yang melakukan pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkungan rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu, pasal 47 memberikan ancaman sebagai berikut:
“setiap orang yang memaksa orang yang menetap dalam rumah tangganya untuk melakukan hubungan seksual sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling sedikit Rp. 12.000.000. (dua belas juta rupiah) atau denda paling
banyak Rp. 300.000.000. (tiga ratus juta rupiah)”.
Begitu pula orang yang lalai dari tanggung jawabnya atau menelantarkan orang lain yang menjadi tanggung jawab dalam rumah tangganya, maka akan mendapatkan sanksi hukum dipidana paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling sedikit Rp. 15.000.000. (lima belas juta rupiah) sebagaimana tertera dalampasal 49 UU No. 23 Tahun 2004.
Melihat beberapa pasal yang telah dikutip di atas, sanksi hukum terhadap pelaku kekerasan dalam rumah tangga ternyata sudah cukup berat, namun kenyataanya kekerasan terus membawa korban, baik yang diungkapkan maupun yang tidak. Hal ini harus menjadi pekerjaan bersama untuk menjaga dan menjadikan tatanan masyarakat yang lebih harmonis dan berkeadilan.
6. Menanggulangi Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak
Beberapa langkah yang bisa diterapkan dalam rangka menanggulangi kekerasan dalam rumah tangga, diantaranya sebagaimana dikemukakan Zuhriani (2011: 93-96) sebagai berikut :
a. Pre-Emptif
Pengertian pre-emtif adalah menduduki lebih dahulu atau memiliki lebih dahulu (Jhon M. Echol dan Hasan Shadiliy, 1992: 443). Maka maksud dari tahap ini adalah kepemilikan terhadap berbagai tindakan yang menyangkut kekerasan terhadap perempuan dan anak mulai dari penyusunan kebijakan, pelaksanaan dan tindak lanjutnya.
Langkah pre-emtif ini menjadi signifikan karena ditetapkanya UU No. 23 tahun 2004 merupakan bagian penting dari upaya mencegah dan menghapus tindak kekerasan terhadap perempuan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam pasal 4 bahwa tujuan ditetapkanya
undang-undang tersebut adalah “mencegah segala bentuk
kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga, melindungi korbang kekerasan dalam rumah tangga, menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, memelihara kerukunan rumah tangga yang harmonis dan
sejahtera”.
b. Preventif
Pengertian kata preventif adalah tindakan
pencegahaan (Jhon M. Echols dan Hasan Sadiliy, 1992: 446). Maksud dari tahap ini adalah berbagai tindakan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Pada tahap ini langkah-langkah yang bisa dilakukan diantaranya:
1) Memberikan penyuluhan tentang kasus kekerasan
terhadap perempuan dan anak kepada masyarakat, hal ini dilakukan agar masyarakat mengetahui bahwa melakukan tindakan kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga maupun perempuan dan anak pada umumnya merupakan tindakan yang bertentangan dengan hukum dan akan mendapatkan sanksi.
2) Memberikan penyuluhan tentang kekerasan terhadap
oleh guru atau para pendidik. Penyuluhan ini dilakukan dengan maksud agar siswa mengetahui bahwa diri mereka terlindungi oleh hukum, yaitu yang diatur dalam UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002, serta UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga No. 23 tahun 2004.
3) Ceramah atau penyuluhan ini dilakukan agar para
siswa mengetahui bahwa jika ada anggota keluarga atau rumah tangganya melakukan tindak kekerasan maka perbuatan tersebut merupakan tindakan melawan hukum dan mendapat sanksi.
c. Represif
Represif adalah melakukan tindakan-tindakan
menindak (Jhon M. Echols dan Hassan Sadiliy, 1992: 476). Langkah represif ini dalam aplikasinya adalah tindakan-tindakan yang dilakukan guna menindak pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pada tahap ini biasanya dilakukan oleh kepoloisian, Bapermas, ataupun lembaga lain yang terkait dengan upaya yang telah ditetapkan oleh undang-undang.