• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Perasaan (Afektif) Remaja tentang Cyberbullying… 139

BAB IV TEMUAN PENELITIAN

5.2 Analisis Perasaan (Afektif) Remaja tentang Cyberbullying… 139

Aspek perasaan (afektif) sering kali menjadi faktor utama yang mempengaruhi reaksi kita terhadap orang lain (Forgas, 2008: 204). Hal ini dapat

dibuktikan ketika kita merasa kasihan terhadap seseorang yang menjadi korban pemukulan meskipun tidak diketahui sebab-musabab kejadian tersebut.

Meskipun aspek perasaan merupakan hal yang sangat alami terjadi, pada keadaan jangka panjang, aspek rasional dapat mempengaruhi reaksi seseorang.

Bower (dalam Forgas, 2008: 205) menyebutkan bahwa afektif dan kognitif saling terkait dalam jaringan representasi mental manusia. Oleh karena itu, dalam pembentukan persepsi, kedua aspek ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Clore dan Schnall (dalam Semin dan Smith, 2008: 214) menyebutkan bahwa reaksi afektif dapat menjadi data bagi diri seseorang dalam menilai dirinya.

Perasaan kasihan yang muncul ketika menyaksikan tindakan kekerasan terhadap orang lain, biasanya juga menimbulkan perasaan yang tidak ingin melakukan kekerasan terhadap orang lain.

Namun afektif dan kognitif memiliki kaitan satu sama lain. Emosi yang muncul terhadap satu tindakan haruslah dideskripsikan sehingga menjadi sebuah pemahaman yang komprehensif. Pada fase remaja, seyogyanya pengetahuan tersebut dibentuk oleh institusi seperti sekolah dan keluarga. Dengan demikian maka emosi yang terbangun dapat dibentuk menjadi sikap diri yang berdampak positif bagi dirinya.

Hal inilah yang tergambar dari hasil penelitian ini. Penelitian ini mengungkap bahwa siswa mempunyai kecenderungan untuk menjadi pelaku Cyberbullying karena mereka merasa senang jika dapat mengejek temannya melalui media sosial. Mereka juga merasa terhibur jika ada foto teman dan musuhnya mendapat komentar yang jelek dari orang lain. Siswa merasa juga suka

dapat mengintimidasi temannya. Mereka juga bangga ketika ada teman mereka yang sedih atau takut ketika diintimidasi oleh mereka melalui media sosial.

Siswa yang menjadi korban Cyberbullying merasa sangat sedih ketika mereka mendapat intimidasi dan ejekan melalui media sosial. Mereka juga merasa malu ketika ada foto mereka yang kurang baik tersebar dan dikomentari jelek melalui media sosial. Siswa-siswa ini rata-rata tidak merasa takut untuk mengadukan perlakuan Cyberbullying yang terjadi pada mereka atau teman mereka.

Remaja yang diteliti umumnya merasa kasihan terhadap korban Cyberbullying. Tetapi di sisi lain, sebagian dari mereka juga merasa senang terhadap perilaku Cyberbullying jika korbannya adalah orang yang tidak disukai.

Ketidakkonsistenan afeksi tersebut tidak terlepas dari aspek kognitif yang rendah.

Sebagaimana sudah dipaparkan dalam bab sebelumnya, aspek pengetahuan remaja tentang Cyberbullying cukup rendah. Hal ini merupakan indikasi bahwa dalam lingkungannya (sekolah, keluarga) atau di dunia maya, remaja tidak mendapatkan pengetahuan tentang Cyberbullying.

Cyberbullying harusnya dapat dideskripsikan kepada remaja. Konsistensi dari aspek afektif dan kognitif inilah yang dapat membangun sikap mental remaja yang pada akhirnya menjadi persepsinya terhadap perilaku Cyberbullying.

Chang (dalam Bowler dkk, 2015: 1276) memaparkan bahwa karakteristik yang unik dari Cyberbullying adalah semakin banyaknya orang yang dapat menyaksikan perilaku pembulian. Dalam dunia maya, remaja yang tidak dibekali

dengan pengetahuan tentang Cyberbullying dapat terjerat dalam aktivitas tersebut meskipun awalnya ia tidak terkait dengan masalah tersebut.

Rasa kasihan terhadap korban, namun tanpa dilengkapi dengan aspek kognitif tentang penangangan korban hanya akan membuat seseorang menjadi penonton semata. Sementara jika korban adalah orang yang tidak disukai, bisa saja remaja yang merasa mendapat kesempatan untuk mengekspresikan ketidaksukaannya justru berubah menjadi pelaku pembulian.

5. 3. Analisis Perilaku (Konatif) Remaja dalam Bertindak terhadap Cyberbullying

Aspek terakhir dari perilaku adalah konatif. Konatif merupakan ekspresi pengetahuan dan emosi yang ditunjukkan dengan perilaku aktif terhadap perlakuan Cyberbullying. Mascolo dan Fischer (dalam Lerner, 2015: 7) menyebutkan bahwa apa yang ada di dalam pikiran merupakan hal yang berada di balik aksi. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan apapun yang dilakukan oleh manusia merupakan manifestasi apa yang ada di dalam pikirannya. Ketika seorang remaja bertindak, baik sebagai pelaku ataupun mencegah perlakuan Cyberbullying tidak terlepas dari kognitif dan afektifnya terhadap tindakan tersebut.

Perubahan karakter media baru banyak mempengaruhi perilaku manusia saat ini. Di media konvensional, pembaca atau penonton hanya dimungkinkan terpengaruh secara kognitif dan afektif. Semisal tayangan kekerasan pada anak, bisa jadi mempengaruhi pengetahuan dan emosinya. Namun untuk

mengaplikasikannya, anak harus kembali ke dunia nyata, di mana kemungkinan apa yang ia ketahui dari media, tidak relevan dengan dunia nyata.

Berbeda dengan internet. Masyarakat bisa belajar sekaligus mengaplikasikan apa yang ia pelajari di internet. Dalam hal Cyberbullying, remaja melihat dan mempelajari perilaku perundungan di dunia maya. Tidak berhenti sampai di situ, ia dapat menjadi pelaku atau mencegah tindakan tersebut.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa banyak melihat Cyberbullying melalui media sosial. Banyak komentar negatif diberikan pada selebritis melalui media sosial namun tidak pernah dibalas atau dilaporkan oleh selebritis tersebut ke pihak berwajib. Ini menjadikan satu pengetahuan pada siswa bahwa memberikan komentar atau melakukan perundungan pada orang lain melalui media sosial adalah hal yang biasa/sah dan tidak akan terkena yang namanya hukuman.

Berdasarkan hasil penelitian di dapat data bahwa siswa tidak merasa takut untuk melaporkan tindakan Cyberbullying yang terjadi pada mereka dan temannya karena dari pengetahuan yang mereka dapat di media sosial bahwa mengejek dan menghina orang lain melalui media sosial ada hal yang biasa dan tidak akan ada hukumannya maka mereka malas untuk mengadukannya. Mereka hanya mendiamkan saja jika ada teman mereka yang mengejek mereka. Tindakan yang akan mereka lakukan hanya sekedar mengkonfrontasi pelaku dan jika tidak berhenti, maka mereka hanya memblokir akun dari si pelaku.

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan

Berdasarkan penyajian dan analisis data yang telah dilakukan sesuai dengan langkah-langkah yang dituntut dan telah dilaksanakan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Pengetahuan siswa dan guru SMA Bodhicitta terhadap cyberbullying sangat rendah. Sebagian besar siswa tidak mengetahui bentuk-bentuk cyberbullying, efek cyberbullying, bagaimana tindakan antisipasinya bahkan adanya hukum tertulis terkait tindakan cyberbullying yang mereka lakukan terhadap orang lain. Bercermin pada sosialisasi efek media sosial yang hanya pernah dilakukan satu kali di sekolah, menunjukkan tingkat pengetahuan sekolah dalam hal ini guru-guru juga sangat minim sehingga tidak akan mampu melakukan pengawasan terhadap tindakan ini.

2. Gambaran perasaan atau emosi remaja di Kota Medan terkait cyberbullying berdasarkan hasil perhitungan analisis deskriptif frekuentif menunjukkan bahwa sebagai pelaku, siswa mempunyai kecenderungan untuk merasa senang atau terhibur jika dapat melakukan intimidasi melalui media sosial kepada teman atau musuhnya. Sejalan dengan itu siswa yang menjadi korban cyberbullying merasa takut, tidak suka dan sedih namun juga takut untuk mengadukan intimidasi yang terjadi pada mereka atau temannya. Kurangnya pengetahuan siswa tentang cyberbullying menjadi pemicu rasa terhibur dan bahkan apatis terhadap tindakan intimidasi ini.

3. Kecenderungan perilaku remaja di Kota Medan dalam bertindak terhadap cyberbullying

Dari hasil perhitungan analisis deskriptif frekuentif, untuk aspek konatif pelaku diketahui bahwa responden mempunyai kecenderungan yang tinggi untuk melakukan tindakan cyberbullying. Berdasarkan pengalaman yang mereka dapat kita melakukan aktifitas online di media sosial, mereka tahu bahwa mengejek dan menghina orang lain melalui media sosial adalah hal yang biasa, dan kemudian menjadi trend serta tidak akan ada hukumannya maka mereka kemudian mencontoh untuk ikut menjadi trendsetter.

Responden yang mengaku jadi korban berdasarkan hasil perhitungan analisis deskriptif frekuentif, enggan untuk mengadukan tindakan cyberbullying yang dialaminya karena tidak adanya luka fisik yang terjadi akibat intimidasi tersebut.

6.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan yang telah peneliti peroleh selama melakukan penelitian, maka peneliti mengajukan sejumlah saran sebagai berikut:

1. Saran dalam kaitan akademis

Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan yang telah peneliti peroleh selama melakukan penelitian, peneliti mengajukan saran agar pihak Magister Ilmu Komunikasi FISIP USU lebih mengembangkan berbagai penelitian terkait dengan aktivitas media sosial terlebih efek media tersebut bagi remaja.. Mahasiswa sepatutnya dibekali mengenai keilmuan

baik itu secara teori maupun praktis mengenai kegiatan komunikasi media baru.

2. Saran dalam kaitan teoritis

Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan yang telah peneliti peroleh selama melakukan penelitian, peneliti merasa perlu untuk terus melakukan kajian lebih lanjut terutama terkait dengan masalah cyberbullying pada remaja yang merupakan generasi penerus.

3. Saran dalam kaitan praktis

Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan yang telah peneliti peroleh selama melakukan penelitian, peneliti mengajukan saran kepada pihak SMA Bodhicitta untuk lebih sering melakukan sosialisasi efek media sosial kepada para siswa karena banyak siswa yang tidak mengetahui apa akibat dari intimidasi melalui media sosial yang mereka alami. Jika terus terjadi maka akan mengganggu perkembangan mental siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Adhim.M.F 2006. Positive Parenting. Cara-cara Islami Mengembangkan Karakter Positif pada Anak-Anak. Bandung;PT Mizan Pustaka

Arikunto. S. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. (Edisi Revisi).

Jakarta: Rineka Cipta

Atkinson. 1999. Pengantar Psikologi. Jakarta: Penerbit Erlangga

Azwar, S. 2003. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar.

Yogyakarta

Bowler, Leanne, dkk. 2015. “From Cyberbullying to Well-Being: A Narrative-Based Participatory Approach to Values-Oriented Design for Social Media dalam Journal of The Association for Information Science and Technology.

Vol. 66, Issue 6, pp. 1274-1293.

Brack, K.,& Caltabiano, N. 2014. Cyberbullying and Self Esteem in Australian Adults. Cyberpsychology: Journal of Psychosocial Research on Cyberspace, 8(2), article 7. http://dx.doi.org/10.5817.CP2014-2-7 diunduh 13 Agustus 2016

Chatib, Munif. 2009. Sekolahnya Manusia. Sekolah Berbasis Multiple Intelligence Di Indonesia. Bandung: Penerbit Kaifa.

Effendy, Onong Uchjana. 2006. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek- cet 6.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Shutz, Emily. dkk. 2014. Cyberbullying: An Exploration of Bystander Behaviour and Motivation. Journal Cyberpsychology: Journal of Psychosocial Research on Cyberspace, 8(2), article 7. http://dx.doi.org/10.5817.CP2014-2-7 diunduh 13 Agustus 2016

Faisal, Sanapiah. 1990. Penelitian Kualitatif (Dasar-Dasar dan Aplikasi).

Malang: Ya3 Malang

Forgas, Joseph, P, dan Fitness, Julie. 2008. Social Relationship, Cognitive, Affective, and Motivational Processes, New York: Psychology Press.

Gerungen .2000. Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama

Guba, Egon.1990. The Paradigm Dialouge. London: Sage Publication

Jimerson, S. R., Swearer, S.M, & Espelage, D.L. 2010. Handbook Of Bullying In School; An International Perspective. New York: Routledge

Kartikasari, Fani. 2009. Mindset Revolution For Smart Teens. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Kartono, Kartini. 1995. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung:

Mandar Maju

Lerner, Richard. M. 2015. Handbook of Child Psychology and Developmental Science, 7th Edition. Wiley

Mappiare, Andi. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.

Mar’at . 1982. Sikap Manusia Perubahan Serta Pengukurannya. Jakarta: Ghalia Indonesia

McKeown, M. 2008. The Truth About Innovasion. Pearson/Prentice Hall

McQuail, Denis. 2011. Teori Komunikasi Massa McQuail. Buk I,Ed 6. Jakarta:

Salemba Humanika.

Nabi, R. L. dan Oliver, M. B. 2009. The SAGE Handbook of Media Process and Effect. California: Sage.

Nasrullah, Rulli. 2015. Media Sosial. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Nawawi. Hadari . 2002 . Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Neuman,W. L. 1997. Social Research Methods; Qualitative and Quantitative Approach, 3rd Edition. Boston: Pearson Education Inc.

Newman& Newman. 2008. Development Through Life : A Psychosocial Approach. New York: Mc. Graw Hill. Inc.

Patchin, J.W., Hinduja, S. 2011. Cyberbullying and Self Esteem. Journal of School Health. Vol 80

Patchin, J.W., Hinduja, S. 2012. Cyberbullying Prevention And Response Expert Perspective. New York

Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Metode Penelitian Komunikasi: Dilengkapi Dengan Contoh Analistik Statistik. Bandung : PT Remaja Rosdikarya.

Rogers, E. M. 1986. Communication Technology The New Media in Society. New York: The Free Press.

Rothstein, P.R. (1990). Educational Psychology. New York: Mc. Graw Hill Inc.

Satalina, D. Kecenderungan Perilaku Cyberbullying ditinjau dari Tipe Kepribadian Ekstrovert dan Introvert. Laporan Penelitian. Malang:

Fakultas Psikologi UMM

Sarwono, Sarlito.W. 2006. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajagradindo Perkasa Semin, Gün, R, dan Smith, Eliot, R. 2008. Embodied Grounding, Social, ognitive,

Affective, and Neuroscientific Approaches. Cambridge: Cambridge University Press.

Singarimbun, Masri & Sofian Effendi. 2006. Metode Penelitian Survei. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia.

Slavin, R.E. 2006. Educational Psychology. Theory and Practice. 8th ed. Boston:

Pearson Education Inc.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D Cet 16.

Bandung: Alfabeta.

---. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D.

Bandung: Alfabeta.

Walgito, Bimo. 1991. Psikologi Sosial; Suatu Pengantar. Yogyakarta: Andi offset

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Pengajuan Izin Penelitian 2. Surat Izin Penelitian

3. Kuesioner Penelitian 4. Tabel Foltron Cobol

5. Hasi Uji Validitas, Reabilitas dan Normalitas 6. Hasil Analisis Data Tunggal

7. Hasil Analisis Deskriptif Frekuensi 8. Gambar Informan

9. Struktur Organisasi Perguruan Bodhicitta 10. Daftar Riwayat Hidup

ANGKET PENGARUH CYBERBULLYING TERHADAP SIKAP SISWA A. Data Responden

Nama : Email : B. Pendahuluan

Tujuan penyampaian angket ini adalah untuk mendaptkan gambaran data atau informasi tentang sejauh mana cyberbullying mempengaruhi sikap siswa.

Informasi yang diberikan sangat berguna dalam mengantisipasi perkembangan cyberbullying, khususnya bagi perkembangan sikap siswa. Anda diminta untuk mengemukakan pendapat anda dengan jujur mengenai permasalahan cyberbullying yang anda alami di sekolah. Informasi yang anda berikan akan menjadi rahasia dan hanya akan dipergunakan untuk perkembangan penelitian ini.

C. Lingkari Pernyataan yang benar di bawah ini:

Gambaran Responden 1. Jenis Kelamin :

a. Laki-Laki b. Perempuan

2. Jumlah Media Sosial yang dipunya : a. 1-3

b. 4-7 c. > 7

3. aksen Aktif ke Media Sosial a. Gadget/Smartphone b. Wi-fi

c. Warung Internet

4. Durasi Penggunaan Internet Per Hari a. >5 jam

b. 2-4 jam c. <1jam

D. Petunjuk Mengerjakan Angket

Pernyataan di bawah ini menggambarkan sikap siswa setelah diterpa oleh cyberbullying. Dalam menjawab setiap butir pernyataan berilah tanda (V) pada pililhan jawaban di bawah :

SS : Berarti anda sangat setuju dengan pernyataan angket tersebut (1) S : Berarti anda setuju dengan pernyataan angket tersebut (2) TS : Berarti anda tidak setuju dengan pernyataan angket tersebut (3) STS : Berarti anda sangat tidak setuju dengan pernyataan angket tersebut(4)

NO :

NO. Pernyataan Skala Penilaian SS S TS STS A. KOGNITIF

1 Saya mengetahui apa yang dimaksud dengan cyberbullying

2 Cyberbulying disebarkan melalui media sosial

3 Memberikan komentar buruk seseorang melalui media sosial merupakan salah satu bentuk cyberbullying

4 Mengirim dan menyebar tulisan, foto, atau video buruk seseorang yang tidak saya sukai termasuk cyberbullying

5 Menceritakan kabar bohong tentang seseorang melalui media sosial termasuk cyberbullying

6 Mengancam orang melalui media sosial merupakan cyberbullying

7 Menyebarkan informasi rahasia seseorang melalui media sosial merupakan cyberbullying

8 Terus menerus mengikuti perkembangan seseorang melalui media sosial merupakan cyberbullying

9 Melakukan cyberbullying merupakan salah satu bentuk pembunuhan karakter manusia 10 Cyberbullying harus dicegah karena

mengganggu perkembangan sosial seseorang

11 Cyberbullying tidak perlu dicegah karena bukan merupakan suatu kejahatan

12 Perlu ada perlindungan hukum terhadap korban cyberbullying.

B. AFEKTIF

13 Saya senang memberikan komentar buruk seseorang melalui media sosial

14 Saya senang mengirim dan menyebar tulisan, foto, atau video buruk seseorang yang tidak saya sukai

15 Saya senang melihat foto buruk seseorang yang tidak saya sukai tersebar di media sosial

16 Saya senang ketika melihat teman saya sedih karena rumor jeleknya tersebar melalui media sosial

17 Saya senang ketika teman saya takut karena mendapat ancaman melalui media sosial

18 Saya takut mengadukan perlakuan cyberbullying yang terjadi pada saya

19 Saya takut mengadukan perlakukan cyberbullying yang terjadi pada teman saya 20 Saya sedih ketika mendapatkan komentar

buruk seseorang melalui media sosial 21 Saya sedih ketika tulisan, foto, atau video

buruk saya tersebar melalui media sosial 22 Saya sedih ketika informasi rahasia saya

tersebar melalui media sosial

23 Saya sedih ketika kabar bohong tentang saya tersebar melalui media sosial

24 Saya takut ketika mendapat ancaman melalui media sosial

25 Saya puas ketika musuh mendapat postingan negatif di media sosial

26 Saya merasa puas dapat mengintimidasi teman saya melalui media sosial

27 Saya bangga dapat mengintimidasi melalui media sosial

C. KONATIF

28 Saya akan memberikan komentar buruk kepada musuh saya melalui media sosial 29 Saya akan memberikan komentar candaan

pada postingan foto jelek teman saya melalui media sosial

30 Saya berniat ikut memberikan komentar buruk kepada teman melalui media sosial 31 Saya berniat memposting foto jelek teman

saya

32 Saya berniat membalas komentar buruk seseorang melalui media sosial

33 Saya berniat mengirim dan menyebar tulisan, foto, atau video buruk seseorang yang tidak saya sukai

34 Saya berniat menyebarkan informasi rahasia seseorang melalui media sosial 35 Saya berniat menceritakan kabar bohong

tentang seseorang melalui media sosial 36 Saya akan mengancam orang melalui

media sosial

37 Saya akan memblokir atau meng-unfollow teman yang melakukan bully pada saya melalui media sosial

38 Saya akan mengkonfrontir teman saya yang melakukan cyberbullying pada saya 39 Saya akan mengadukan tindakan

cyberbullying kepada orang dewasa (guru/orang tua)

40 Saya akan menolong korban cyberbullying

Rangkuman Uji Validitas

No Item Pertanyaan

Corrected Item-Total Correlation ( r Hitung)

r Tabel

1. 0.569 0.256

2. 0.526 0.256

3. 0.651 0.256

4. 0.380 0.256

5. 0.606 0.256

6. 0.619 0.256

7. 0.550 0.256

8. 0.559 0.256

9. 0.329 0.256

10. 0.448 0.256

11. 0.562 0.256

12. 0.579 0.256

13. 0.635 0.256

14. 0.383 0.256

15. 0.535 0.256

16. 0.512 0.256

17. 0.479 0.256

18. 0.350 0.256

19. 0.327 0.256

20. 0.447 0.256

21. 0.424 0.256

22. 0.421 0.256

23. 0.502 0.256

24. 0.368 0.256

25. 0.475 0.256

26. 0.314 0.256

27. 0.600 0.256

28. 0.425 0.256

29. 0.365 0.256

30. 0.343 0.256

31. 0.416 0.256

32. 0.500 0.256

33. 0.327 0.256

34. 0.376 0.256

35. 0.390 0.256

36. 0.532 0.256

37. 0.651 0.256

38. 0.380 0.256

39. 0.606 0.256

40. 0.619 0.256

RELIABILITY /VARIABLES=VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VA R00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00018 VAR00019 VAR00020 VAR00021 VAR00022 VAR00023 VAR00024 VAR00025 VAR00026 VAR00027 VAR00028 VAR00029 VAR00030 VAR00031 VAR00032 VAR00033 VAR00034 VAR00035 VAR00036 VAR00037 VAR00038 VAR00039 VAR00040 /SCALE('SIKAP REMAJA') ALL /MODEL=ALPHA /STATISTICS=SCALE /SUMMARY=TOTAL.

Reliability

Notes

Output Created 22-Aug-2017 03:28:25

Comments

Input Active Dataset DataSet0

Filter <none>

Weight <none>

Split File <none>

N of Rows in Working Data File

100

Matrix Input

Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing.

Cases Used Statistics are based on all cases with valid data for all variables in the procedure.

Syntax RELIABILITY

/VARIABLES=VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00018 VAR00019 VAR00020 VAR00021 VAR00022 VAR00023 VAR00024 VAR00025 VAR00026 VAR00027

VAR00028 VAR00029 VAR00030 VAR00031 VAR00032 VAR00033 VAR00034 VAR00035 VAR00036 VAR00037 VAR00038 VAR00039 VAR00040

/SCALE('SIKAP REMAJA') ALL /MODEL=ALPHA

/STATISTICS=SCALE /SUMMARY=TOTAL.

Resources Processor Time 0:00:00.016

Elapsed Time 0:00:00.013

[DataSet0]

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

VAR00004 114.58 226.852 .380 .925

VAR00031 114.57 225.884 .416 .925

VAR00032 113.99 226.071 .500 .924

VAR00033 114.42 227.579 .327 .926

VAR00034 114.35 227.220 .376 .925

VAR00035 114.22 225.325 .390 .925

VAR00036 114.03 225.120 .532 .924

VAR00037 114.66 222.429 .651 .923

VAR00038 114.58 226.852 .380 .925

VAR00039 114.75 221.967 .606 .923

VAR00040 114.63 223.225 .619 .923

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items

117.34 236.388 15.375 40

FOTO INFORMAN

1. Informan 1

Nama : Budiman

Pekerjaan : Wakil Kepala Sekolah SMA Bodhicitta

2. Informan 2

Nama : Harnando Wijaya

Jabatan : Ketua OSIS SMA Bodhicitta

3. Informan 3

Nama : Jackson Teddy Kelas : 10 IPS 1

Struktur Organisasi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Rehia Karenina Isabella Barus Tempat/ Tanggal Lahir : Medan/ 01 Iktober 1977

Agama : Protestan

Alamat : Jl Sei Serayu No. 31 Medan Nama Ayah : Rusli P. Barus

Nama Ibu : Rita.M.Sebayang

Nama Suami : Erwin E.S. Tarigan

Jumlah Saudara : Anak pertama dari empat bersaudara

PENDIDIKAN:

1. SD Immanuel Medan Lulus Tahun 1990 2. SMP Immanuel Medan Lulus Tahun 1993 3. SMA Negeri 4 Medan Lulus Tahun 1996

4. Sarjana Ilmu Komunikasi, FISIP USU Medan Lulus Tahun 2000 5. Magister Studi Pembangunan, FISIP USU Medan Lulus Tahun 2008 Pekerjaan :

Staff Pengajar di Universitas Medan Area fakultas Imu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Komunikasi, 2007- sekarang.