BAB I PENDAHULUAN 1
3.1 Deskripsi SMA Bodicitta Medan
3.1.1 Sejarah Umum
Perguruan Buddhis Bodhicitta, merupakan perguruan bercirikan Buddhis yang terdiri dari tingkat kelompok bermain (playgroup atau disingkat PG), Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
A. 1998
Pendirian Perguruan Buddhis Bodhicitta diawali pada tahun 1998, ditandai dengan gagasan Yang Mulia Bhiksu Nyanaprathama, seorang monastik dari organisasi Sangha Agung Indonesia (Sagin), yang bertekad untuk mendirikan sekolah yang mampu mengaktualkan nilai-nilai universal Buddhis dalam kehidupan nyata. Tekad ini secara tidak langsung, sebagai wujud kecintaan Bhiksu Prathama sebagai anak Bangsa Indonesia, kepada tanah air sekaligus mendukung penuh cita-cita negara yang telah digariskan para bapak bangsa (founding fathers), yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945.
Sebagai tahap awal merealisasi gagasan tersebut, Bhiksu Prathama memilih kawasan Kecamatan medan denai untuk menjadi lokasi berdirinya bangunan sekolah yang akan didirikannya.
Kawasan yang terletak di wilayah Kecamatan Medan Denai ini, selama ini penuh dengan stereotype negatif. dengan berbagai persoalan sosial kemasyarakatan, antara lain rendahnya tingkat pendidikan, tingkat putus sekolah yang tinggi.
Bhiksu Prathama merasakan prihatin atas kondisi ini dan bertekad bahwa harus ada gerakan penyadaran, dengan melalui upaya meng-edukasi masyarakat, yang salah satu caranya adalah dengan membangun sekolah.
Bhiksu Prathama kemudian memilih nama “Bodhicitta” untuk sekolah yang sedang dibangun. Berasal dari dua kata, yaitu “Bodhi” dan “Citta”. Bodhi berarti luhur atau bajik, sedangkan citta artinya pikiran. Sehingga secara harafiah, Bodhicitta dapat diartikan sebagai pikiran yang luhur atau secara bebas dapat dinyatakan sebagai sumber dimana kebajikan hadir.
B. 1999 s/d 2001
Proses pendirian sekolah ini dimulai secara intensif pada tahun 1999. Berkat dukungan seluruh masyarakat Buddhis baik Kota Medan maupun daerah-daerah lainnya – di seluruh penjuru Indonesia, Pembangunan Perguruan Buddhis Bodhicitta berhasil rampung dan seluruh unit yang berada di dalamnya (PG/TK, SD, SMP, dan SMA) mulai beroperasional secara resmi pada bulan Juli 2001.
C. 2007
Tahun 2007, terjadi perubahan pengelolaan Perguruan Buddhis Bodhicitta, yaitu dari Yayasan Metta Jaya yang selama ini juga mengelola Wihara Metta Jaya, dialihkan kepada Yayasan Pendidikan Buddhis Bodhicitta yang secara khusus
berkonsentrasi di pengelolaan lembaga pendidikan, dalam hal ini Perguruan Buddhis Bodhicitta. Perubahan ini diyakini dapat mengembangkan Perguruan Buddhis Bodhicitta secara lebih luas dan profesional.
3.1.2 Visi, Misi & Tujuan Visi
Mewujudkan sekolah yang bermanfaat bagi masyarakat bangsa dan Negara dengan menghasilkan anak didik yang berpengetahuan, bebudi luhur dan mengamalkan Buddha dharma dalam kehidupan sehari – hari.
Misi
Senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikan serta menanamkan nilai-nilai luhur kemanusian pada anak didik.
Motto
Tahu Budi, Bersyukur dan membalas budi
Tujuan
1. Siswa mampu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang baik sehingga mampu menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, baik secara lahiriah maupun batiniah.
2. Siswa mampu memperoleh kualitas pengetahuan yang maksimal melalui kegiatan pembelajaran yang aktif, kreatif, menyenangkan, serta berbobot.
3. Menciptakan mutu lulusan yang memiliki daya saing tinggi serta mampu menciptakan lapangan kerja.
4. Mengembangkan bakat dan kreativitas siswa melalui kegiatan ekstra kurikuler.
5. Membina berkembangnya budi pekerti (di zi gui) pada peserta didik.
(Website Perguruan Bodhicitta)
3.1.3 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Bodhicitta yang berada di Jalan Selam No 39-41 Medan Penelitian ini dilakukan di bulan April 2017 dengan masa waktu penelitian ± 2 bulan
3.2 Metode Penelitian
Metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin. Metodologi juga merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode (Sugiyono, 2003:11). Penelitian merupakan suatu penyelidikan yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan, juga merupakan suatu usaha yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban. Sugiyono (2003:11) menekankan bahwa hakekat penelitian dapat dipahami dengan mempelajari berbagai aspek yang mendorong penelitian untuk melakukan penelitian.Setiap orang mempunyai motivasi yang berbeda, di antaranya dipengaruhi oleh tujuan dan profesi masing-masing. Motivasi dan tujuan penelitian secara umum pada dasarnya adalah sama, yaitu bahwa penelitian merupakan refleksi dari keinginan manusia yang selalu berusaha untuk mengetahui sesuatu. Keinginan untuk
memperoleh dan mengembangkan pengetahuan merupakan kebutuhan dasar manusia yang umumnya menjadi motivasi untuk melakukan penelitian.
Jenis metode penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Nazir (1998 : 63) mengatakan metode desktiptif analisis adalah “suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran dengan tujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
Setelah dilakukan pengumpulan data dan analisis data secara kuantitatif maka selanjutnya dilakukan wawancara kepada responden mengenai Cyberbullying dan sikap remaja. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis sehingga memiliki makna.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah para siswa di SMA Bodhicitta yang merupakan SMA di Kota Medan yang mempunyai nilai akreditasi paling tinggi yaitu 99 diantara SMA sederajat. SMA Bodhicitta mengijinkan peneliti untuk meneliti murid kelas XI sebagai populasi dikarenakan siswa kelas XII sudah menyelesaikan ujian nasional dan siswa kelas X memulai proses belajar mengajarnya di siang hari sedangkan kegiatan penyebaran kuesioner dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2017 pukul 09.00 WIB. Jumlah murid kelas XI adalah 134 orang yang terbagi dalam 3 kelas.
3.3.2 Sampel
Sampel harus memenuhi unsur representatif atau mewakili dari seluruh sifat-sifat populasi. Sampel yang representatif bisa diartikan bahwa sampel tersebut mencerminkan semua unsur dalam populasi secara proporsional atau memberikan kesempatan yang sama pada semua unsur populasi untuk dipilih, sehingga dapat mewakili keadaan sebenarnya dalam keseluruhan populasi (Kriyantono, 2006: 150).
Sampel adalah sebagian populasi yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu (Nawawi, 2001:144). Pada dasarnya, sampel merupakan bagian dari populasi yang memperoleh perlakuan penelitian yang secara keseluruhan mempunyai sifat yang sama dengan populasi. Ukuran sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin dengan presisi 5% dan tingkat kepercayaan 95 %.
Keterangan:
n = jumlah sampel N = jumlah populasi
e = nilai presisi yang ditetapkan sebesar 5 % atau 0,05
Berdasarkan data yang ada maka penelitian ini memerlukan sampel sebanyak : n =
3.3.3 Teknik Penarikan Sampel
Teknik penarikan sampel adalah teknik penarikan sampel yang sesuai dengan tujuan penelitian yakni Teknik Simple Random Sampling. Simple Random Sampling adalah pengambilan anggota sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Di dalam penelitian ini, teknik ini digunakan karena populasi dalam penelitian ini bersifat homogen dengan karakteristik yang sama, yaitu anak remaja yang berusia 15-18 tahun. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara sederhana yaitu membuat gulungan-gulungan kertas kecil yang berisi nama-nama siswa, lalu diundi. Nama yang keluar akan menjadi sampel pada penelitian ini. Untuk kemudahan penelitian, maka sampel dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin dimana sampel 1 sampai dengan 41 adalah lak—laki dan sampel nomor 42 sampai dengan 100 adalah perempuan.
3.4. Teknik Penentuan Informan
Menurut pendapat Spradley dalam Faisal (1990:45), informan harus memiliki beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan yaitu : 1. Subjek yang telah lama dan intensif menyatu dengan suatu kegiatan atau medan aktivitas yang menjadi sasaran atau perhatian penelitian dan ini biasanya ditandai oleh kemampuan memberikan informasi di luar kepala tentang sesuatu yang ditanyakan. 2. Subjek masih terikat secara penuh serta aktif pada lingkungan dan kegiatan yang menjadi sasaran atau penelitian. 3. Subjek mempunyai cukup banyak waktu dan kesempatan untuk dimintai informasi. 4. Subjek yang dalam
memberikan informasi tidak cenderung diolah atau dikemas terlebih dahulu dan mereka relatif masih lugu dalam memberikan informasi.
Penentuan informan pada penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling, dimana pemilihan dilakukan secara sengaja berdasarkan kriteria ang telah ditentukan dan ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tiga teknik pengumpulan data, yaitu:
1. Penelitian Kepustakaan, yaitu bahan-bahan penelitian yang bersumber dari kepustakaan, meliputi buku-buku ilmiah, jurnal, karya tulis, dan atau surat kabar yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas.
2. Penelitian Lapangan (Field Research), melalui :
1) Kuesioner, yaitu pengumpulan data dengan melakukan survei di lokasi penelitian melalui kuesioner, yaitu pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden (Soehartono, 2004: 65). Dalam kuesioner yang dibagikan untuk setiap variabel penelitian ini berisi sejumlah pertanyaan yang telah disusun sedemikian rupa dengan menggunakan Skala Likert untuk mengukur sikap responden berdasarkan tingkat persetujuan atau ketidaksetujuan.
Untuk analisis secara kuantitatif, alternative jawaban tersebut diberi skor dari nilai 1 (satu) sampai dengan nilai 5 (lima), dimana bila :
a. Untuk kuesioner kognitif dan konatif responden digunakan kategori :
• Sangat Setuju = 4
• Setuju = 3
• Tidak Setuju = 2
• Sangat Tidak Setuju = 1
b. Untuk jenis kuesioner afektif pelaku digunakan kategori
• Sangat Senang/Suka = 4
• Senang/Suka = 3
• Tidak Senang/Suka = 2
• Sangat Senang/Suka = 1
c. Untuk jenis kuesioner afektif korban digunakan kategori
• Sangat Sedih/Takut = 4
• Sedih/Takut = 3
• Tidak Sedih/Takut = 2
• Sangat Sedih/Takut = 1
2) Wawancara : pengumpulan data dengan cara melakukan tanya jawab sebagai pelengkap data untuk menambah kemantapan data yang diperoleh.
3) Internet Research
3.5 Validitas dan Reliabilitas
Sebelum melakukan penelitian perlu dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas alat pengumpul data yang digunakan, uji validitas dan realibilitas dimaksudkan untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik dan bermutu (Sudarmanto, 2013: 56). Uji validitas dan realibilitas dilakukan terhadap alat pengumpul dan penelitian dalam hal ini adalah kuesioner. Valid artinya data-data yang diperoleh dengan menggunakan alat (instrumen) dapat menjawab tujuan penelitian sedangkan reliable artinya konsisten atau stabil.
3.5.1 Uji Validitas
Pada penelitian ini, uji validitas dilakukan dengan menggunakan metode sekali ukur (one shot method), dimana pengukuran dengan metode ini cukup dilakukan satu kali saja. Untuk uji validitas, peneliti menyebarkan kuesioner kepada 100 orang responden yaitu para siswa SMA Bodhicitta. Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan Corrected Item Total Correlation (Product Moment) dengan bantuan SPSS versi 16.0 dengan kriteria sebagai berikut:
1. Jika rhitung > rtabel maka pertanyaan dinyatakan valid 2. Jika rhitung < rtabel maka pertanyaan dinyatakan tidak valid.
Hasil pengujian validitas instrument variabel sikap remaja dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut ini :
Tabel 3.6.1
Validitas instrumen variabel sikap remaja
No Butir pertanyaan rhitung rtabel Keterangan
1 Sikap Remaja 1 0.569 0.256 Valid
25 Sikap Remaja 25 0.475 0.256 Valid
26 Sikap Remaja 26 0.314 0.256 Valid
27 Sikap Remaja 27 0.600 0.256 Valid
28 Sikap Remaja 28 0.425 0.256 Valid
29 Sikap Remaja 29 0.365 0.256 Valid
30 Sikap Remaja 30 0.343 0.256 Valid
31 Sikap Remaja 31 0.416 0.256 Valid
32 Sikap Remaja 32 0.500 0.256 Valid
33 Sikap Remaja 33 0.327 0.256 Valid
34 Sikap Remaja 34 0.376 0.256 Valid
35 Sikap Remaja 35 0.390 0.256 Valid
36 Sikap Remaja 36 0.532 0.256 Valid
37 Sikap Remaja 37 0.651 0.256 Valid
38 Sikap Remaja 38 0.380 0.256 Valid
39 Sikap Remaja 39 0.606 0.256 Valid
40 Sikap Remaja 40 0.619 0.256 Valid
3.5.2 Uji relialibilitas
Suatu kuesioner dinyatakan reliable atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan konsisten dan stabil dari waktu ke waktu. Pengujian reliabilitas dilakukan untuk mengetahui instrument pengumpul data dapat dipercaya dan tidak bersifat tendensius atau mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu (Sudarmanto, 2013: 81).
Penelitian ini menggunakan pengukuran one shot atau pengukuran sekali saja. Pengujian reliabilitas menggunakan uji statistik Cronbach Alpha. Suatu variabel dikatakan reliable jika nilai Cronbach Alpha > 0,60 melalui rumus :
r1 = [ ] [ ]
Dimana k : banyaknya butir Si2
: jumlah varian butir St2 : varian total
Tabel 3.6.2
Hasil uji reliabilitas instrument variabel
Variabel Cronbach’s
Sumber: Hasil penelitian (2017)
3.5.3 Uji Normalitas
Sebelum dilakukan analisis data, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi terhadap hasil penelitian yang meliputi uji normalitas. Adapun maksud dari uji normalitas sebaran ini adalah untuk membuktikan penyebaran data penelitian yang menjadi
pusat perhatian setelah menyebarkan berdasarkan prinsif kurva normal. Uji normalitas sebaran dianalisis dengan menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov Goodness of Fit Test. Berdasarkan analisis varians tersebut, diketahui bahwa skor skala sikap remaja, terdistribusi sesuai dengan prinsip kurva normal. Sebagai kriterianya apabila p > 0,05 sebarannya normal, sebaliknya dinyatakan apabila p <
0,05 sebarannya dinyatakan tidak normal (Sujarweni, 2014).
Tabel 3.6.3
Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Normalitas Sebaran
Variabel Rerata SB/SD K-S P Keterangan Sikap Remaja 102.10 8.537 0.553 0.920 Normal
Keterangan :
Rerata = Nilai rata-rata
K-S = Koefisien Kolmogorov-Smirnov SB = Simpangan Baku (Standart Deviasi) p = Peluang Terjadinya Kesalahan
Hasil uji normalitas menunjukkan skor Kolmogorov-Smirnov variabel sikap remaja sebesar 0.553dengan p = 0.920 (p>0,05), yang berarti variabel sikap remaja memiliki data yang berdistribusi normal.
3.6 Teknik Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif. Data yang diperoleh dari alat ukur akan diolah dengan menggunakan program SPSS 15.0 for Windows Version. Untuk mendapatkan gambaran skor
sikap remaja terhadap Cyberbullying maka data yang akan dianalisis adalah skor minimum, skor maksimum, mean, dan standar deviasi dari analisis deskriptif.
3.6.2 Analisis Tabel Tunggal
Analisis tabel tunggal merupakan suatu analisis yang dilakukan dengan membagi-bagikan variabel penelitian ke dalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi.Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisis data yang terdiri dari dua kolom, yaitu sejumlah frekuensi dan persentase untuk setiap kategori (Singarimbun, 2006: 266).
3.6.3 Analisis Deskriptif Frekuensi
Analisis deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, kejadian yan terjadi saat sekarang. Analisis deskriptif disini juga dimaksud dengan prosedur statistik yang menguji generalisasi hasil penelitian yang didasarkan atas satu variabel. Analisis deskriptif ini memiliki tujuan untuk memberikan gambaran mengenai suatu data agar data yang tersaji menjadi mudah dipahami dan informatif bagi orang yang membacanya.
BAB IV
TEMUAN PENELITIAN
4.1. Pelaksanaan Pengumpulan Data
Peneliti menempuh beberapa tahapan penelitian dalam pengumpulan data.
Tahapan tersebut sebagai berikut:
4.1.1. Langkah-langkah pengumpulan data
1. Langkah pertama dalam penelitian ini, peneliti melakukan pra penelitian pada bulan Maret 2017 dilokasi penelitian yang bertempat di Perguruan Bodhicitta, Jalan Selam No 39-41 Kemudian peneliti menyusun proposal penelitian, perbaikan proposal penelitian, kemudian dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan untuk kemudian diteruskan dengan pembuatan kuesioner.
2. Langkah kedua, studi kepustakaan. Dalam tahap penelitian ini, peneliti melanjutkan dengan studi kepustakaan di perpustakaan guna mengumpulkan buku-buku yang berhubungan dengan judul penelitian yang sedang diteliti oleh peneliti yakni: Sikap Remaja Terhadap Cyberbullying
3. Pelaksanaan pengumpulan data. Melakukan penyebaran kuesioner dalam waktu 1 hari pada tanggal 24 Mei 2017.
Wawancara. Melakukan kegiatan wawancara pada bulan 10 Juni 2017 selama 1 hari guna melengkapi penjelasan mengenai variabel yang akan diteliti. Informan wawancara adalah Bapak Budiman sebagai Wakil Kepala Sekolah Perguruan Bodhicitta Medan dan
juga beberapa siswa SMA Perguruan Bodhicitta yang merupakan korban cyberbullying dan direkomendasikan oleh Pak Budiman.
4.2 Proses Pengolahan Data Kuantitatif
Pengolahan data dilakukan setelah peneliti selesai mengumpulkan data dari 100 orang responden. Adapun tahapan pengolahan data tersebut adalah:
1. Penomoran Kuesioner
Penomoran kuesioner yaitu memberikan nomor urut kuesioner sebagai pengenal, yakni mulai dari 1-100.
2. Editing
Editing yaitu proses pengeditan jawaban responden untuk memperjelas setiap jawaban yang meragukan dan menghindari terjadinya kesilapan pengisian dalam kotak kode yang disediakan.
3. Coding
Coding yaitu proses pemindahan jawaban-jawaban responden ke kotak kode yang telah disediakan di kuesioner dalam bentuk angka (score).
4. Inventarisasi Variabel
Inventarisasi variabel yaitu data mentah yang diperoleh dan dimasukkan ke dalam lembar Fotron Cobol
5. Menyediakan Kerangka Tabel
Banyaknya kerangka tabel minimal sejumlah pertanyaan dalam bentuk kuesioner, maksimal sesuai dengan kebutuhan analisis kerangka tabel ini dilengkapi dengan nomor tabel, judul tabel, kolom vertikal dan horizontal,
kategori dan indikator, frekuensi, persen dan jumlah. Fungsi kerangka tabel ini untuk mewadahi sebaran data dalam penelitian.
6. Tabulasi Data
Tabulasi data yaitu memindahkan variabel responden dari lembar Foltron Cobol (FC) ke dalam kerangka tabel. Adapun tabel yang disajikan berbentuk tabel tunggal. Penyebaran data dalam tabel secara rinci melalui kategori, frekuensi, persentase, dan selanjutnya di analisis.
4.3.Analisis Tabel Tunggal
4.3.1. Gambaran Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah 100 orang siswa SMA Bodhicitta Medan kelas XI yang dipilih menggunakan teknik undi. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara sederhana yaitu membuat gulungan-gulungan kertas kecil yang berisi nama-nama siswa, lalu diundi. Nama yang keluar akan menjadi sampel penelitian.
Berdasarkan 100 siswa yang menjadi subjek penelitian diperoleh gambaran subjek berdasarkan jenis kelamin, jumlah media sosial yang dipunyai responden, akses penggunaan media sosial, durasi penggunaan media sosial.
1. Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 4.3.1.1 Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin F %
1 Laki-Laki 41 41.0
2 Perempuan 59 59.0
Total 100 100.0
Sumber kuesioner penelitian (2017): Gambaran responden
Siswa yang menjadi sampel penelitian ini terdiri dari 59% atau 59 perempuan, dan 21 % atau 41 laki-laki. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan simple random sampling dan terpilih 59 perempuan dari total jumlah sampel 100. Angka ini menunjukkan bahwa jumlah siswa perempuan di SMA Bodhicitta lebih banyak dibandingkan laki-aki sehingga ketika diambil secara undi maka didapatkan jumlah sampel perempuan lebih banyak dari laki-laki.
2. Gambaran Subjek Berdasarkan Jumlah Media Sosial yang dipunyai oleh responden
Tabel 4.3.1.2
Kepemilikan media sosial yang aktif
No Kepemilikan Media Sosial Yang Aktif F %
1 1-3 46 46.0
2 4-7 54 54.0
3 >7 0 0.0
Total 100 100.0
Sumber kuesioner penelitian (2017): Gambaran responden
Berdasarkan kepemilikan media sosial yang aktif, terdapat 46% atau 46 siswa yang hanya mempunyai 1 sampai dengan 3 buah media sosial aktif, 54 % atau 54 siswa mempunyai 4 sampai dengan 7 media sosial dan tidak ada sampel yang mempunyai lebih dari 7 media sosial.
Ini membuktikan siswa usisa 16-18 anak banyak menggunakan media sosial. Media sosial sudah menjadi bagian dari identitas diri dan tidak bisa dipisahkan dari remaja. Kepemilikan dan keaktifan seseorang dalam media sosial menjadi perlambang bahwa mereka eksis dalam dunia maya dan nyata. Ini juga kemudian menjadikan masyarakat Indonesia menjadi
salah satu negara pengguna media sosial terbanyak. Berdasarkan riset We Are Social dan Hotsuite yang dirilis 24 April 2017, diketahui bahwa Indonesia menempati urutan ke empat dunia pengguna Facebook teraktif Cina, India, dan Amerika (Liputan 6, 21 April 2017)
3. Gambaran Subjek Berdasarkan Akses Penggunaan Media Sosial Tabel 4.3.1.3
Akses media sosial yang aktif
No Akses ke Media Sosial F %
1 Gadget/Smartphone 78 78.0
2 Wi-fi 15 15.0
3 Warung Internet 7 7.0
Total 100 100.0
Sumber kuesioner penelitian (2017): Gambaran responden
Responden pada penelitian ini mendapatkan akses internet untuk menggunakan media sosial dari berbagai macam, seperti gadget/
smartphone 78% atau 78 anak, Wifi 15% atau 15 siswa, Warung Internet 7% atau 7 siswa.
Ini menunjukkan bahwa remaja tidak bisa lepas dari gadget dalam kehidupannya sehari-hari. Gadget sudah menjadi gaya hidup remaja karena sifat gadget sendiri adalah personal sehingga apapun konten yang kemudian diakses oleh remaja lebih cepat diketahui remaja dari juga lebih cepat kemudian untuk diresapi.
Analis Senior eMarketer Monica Peart menyatakan bahwa “ Ponsel dan koneksi broadband mobile terjangkau mendorong pertumbuhan akses internet di negara-negara yang tidak bisa mengandalkan fixed line, entah karena masalah infrastruktur atau biaya” (kominfo.go.id, 24 Nopember 2017)
3. Gambaran Subjek Berdasarkan Durasi Penggunaan Internet Per Hari
Tabel 4.3.1.4
Durasi penggunaan internet
No Durasi Penggunaan Internet F %
1 > 5 jam 78 78.0
2 2- 4 jam 20 20.0
3 < 1 jam 2 2.0
Total 100 100.0
Sumber kuesioner penelitian (2017): Gambaran responden
Siswa yang menjadi subjek dalam penelitian ini mempunyai kesempatan yang berbeda dalam penggunaan internet. 78 siswa mengakui mempunyai kesempatan lebih dari 5 jam per hari dalam menggunakan internet, 20 orang siswa mengaku mempunyai kesempatan menggunakan internet antara 2 sampai 4 jam per hari dan 2 orang mengaku hanya mempunyai kesempatan menggunakan internet kuarang dari 1 jam per hari.
Selain dari kepemilikan gadget dan peralatan lain untuk terhubung dengan internet, dari hasil elaborasi data didapat, ternyata mayoritas remaja menggunakan lebih dari 5 jam waktunya untuk online .
4.3.2 Variabel Kognitif
Pada bagian ini, data yang disajikan yakni segala sesuatu yang berhubungan dengan pengetahuan responden tentang cyberbullying, selengkapnya dari tabel 4.3.2.1 sampai dengan 4.3.2.12
Tabel 4.3.2.1
Cyberbullying merupakan satu bentuk kekerasan No Cyberbullying merupakan satu bentuk
kekerasan
Sumber kuesioner penelitian (2017): P1/FC.2
Dari tabel 4.3.2.1di atas diketahui tentang pendapat responden terkait pernyataan bahwa cyberbullyingmerupakan suatu bentuk kekerasan yang dilakukan terhadap orang lain. Sebanyak 33 orang responden (33%) menyatakan bahwa mereka sangat tidak setuju dan 59 orang responden (59%) menyatakan tidak setuju bahwa cyberbullying itu adalah suatu bentuk kekerasan. Sebanyak 7 orang responden (7%) menyatakan setuju dan 1 orang responden (1%) menyatakan sangat setuju bahwa cyberbullying itu adalah suatu bentuk kekerasan.
Dari pendapat ini sebagian besar remaja menganggap bahwa cyberbullying bukanlah kekerasan, sehingga menurut peneliti ini sangat urgent untuk disikapi.
Melalui penelusuran peneliti, pendapat yang mayoritas cyberbullying bukanlah kekerasan, menyatakan “Like” dan “comment” pada media sosial terkait status
dan capture adalah hal lumrah dan biasa. Tindakan dikatakan adalah suatu kekerasan jika mengakibatkan luka atau bekas di tubuh seseorang.
Tabel 4.3.2.2
Cyberbullying dilakukan melalui media sosial No Cyberbullying dilakukan melalui media
sosial
Sumber kuesioner penelitian (2017): P2/FC.3
Dari tabel 4.3.2.2 di atas diketahui tentang akses melakukan cyberbullying adalah melalui media sosial. Sebanyak 47 orang responden (47%) menyatakan sangat tidak setuju, sebanyak 41 orang responden (41%) menyatakan tidak setuju, sebanyak 10 orang responden (10%) menyatakan setuju dan sebanyak 2 orang responden (2%) menyatakan sangat setuju bahwa Cyberbullying dilakukan melalui media sosial.
Data di atas menunjukkan rendahnya pengetahuan responden atas cyberbullying. Bisa dianggap bahwa mayoritas responden tidak tahu jika intimidasi/kekerasan melalui media sosial itu dapat dilakukan. Patchin dan Hinduja (2012) mengungkapkan bahwa cyberbullying adalah ketika seseorang
Data di atas menunjukkan rendahnya pengetahuan responden atas cyberbullying. Bisa dianggap bahwa mayoritas responden tidak tahu jika intimidasi/kekerasan melalui media sosial itu dapat dilakukan. Patchin dan Hinduja (2012) mengungkapkan bahwa cyberbullying adalah ketika seseorang